Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Wacana Seputar Pendidikan Islam dalam Pendidikan Islam

Wacana Seputar Pendidikan Islam dalam
Pendidikan Islam

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Wacana Seputar Pendidikan Islam dalam

Bidang  postingan  :  Pendidikan Islam,tujuan dari pendidikan Islam, tujuan pendidikan dalam  islam, tujuan pi,

Perkuliahan.com, dalam upaya menambah wacana dan  khasanah keilmuan pendidikan, terutama dalam Pendidikan Islam maka perkuliahan.com berusaha untuk berkontribusi dalam mewujudkanya. Melalui makalah dan artikel ringan diharapkan  bisa sedikit memberi warna dunia pendidikan, walaupun dalam postingan perkuliahan.com belum bisa diketegorikan sebagai wacana / artikel ilmiah atau sebagai makalah pendidikan, namun hidup harus optimis dan selalu melakukan hal yang paling mudah dan terbisa saat ini. (lagi pengen meramaikan Google dan  Yahoo he)

Serial postingan perkuliahan.com kali ini mengangkat beberapa materi yang terkait dan berkesinambungan dalam dimensi pendidikan Islam, diantaranya beberapa wacana kecil tentang, Pengertian Pendidikan Islam, Dasar Filosofis Pendidikan Islam,Tujuan  Pendidikan Islam, Metode Pendidikan Islam, Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam, Evaluasi Pendidikan Islam, Sosial Keagamaan, Dimensi Sosial Keagamaan, Peran Sosial Keagamaan dalam Pendidik Islam, Aplikasi  Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam, Pendidikan Islam dalam Perspektif  Sosial Keagamaan.

Selanjutnya memposting juga  mengenai hubungan strategis dalam keilmuan yang mendukung  yaitu wacana tentang, Hakekat Manusia dalam Perspektif Islam,  Kedudukan Manusia dalam Konteks Pendidikan Islam

 

Wacana Seputar Pendidikan Islam dalam

Oleh : Mizanto, S.Pd.I

( Universitas Sains Al-Qur’an ( UNSIQ ) Jawa Tengah di Wonosobo )

 

Islam merupakan suatu kumpulan konsep-konsep syari’at yang bersifat ilahiyyat (ketuhanan) namun disisi lain Islam merupakan ajaran yang bersifat integral, komprehensif dan universal bagi kehidupan manusia, dan bahkan bagi seluruh alam. Islam memuat berbagai pedoman dan aspek kehidupan, dalam Islam tidak hanya membahas persoalan ubudiyah (ibadah) yang bersifat khusus seperti Shalat, Puasa dan sejenisnya saja, tetapi lebih jauh  menyangkut berbagai kajian universal seperti sains, tekhnologi, kode etik sosial dan lain-lain, yang semua itu merupakan alat penting bagi  manusia sebagai penunjuk arah kehidupan, yang tujuanya semata-mata untuk kemaslahatan  umat manusia.

Peran Islam dalam membebaskan manusia dan membangun peradaban telah diakui oleh sejarah dunia,bahkan dikatakan oleh Prof. Dr. Charles Adam (Pengamat Asing non-Muslim dari Mc-Gill University) yang dikutip oleh Abdurahman Mas’ud, menjelaskan bahwa pada saat-saat perang dunia I sampai perang dunia II Islam telah terbukti berjasa sebagai penggerak utama umat manusia di benua Asia dan Afrika untuk merebut kemerdekaanya dari kaum kolonialis, selanjutnya Abdurahman Mas’ud menggambarkan tentang betapa besar  jasa Islam dalam mengantarkan Indonesia menuju kemerdekaan.[1]  Namun yang menjadi permasalahan kenapa saat ini Islam  justru mengalami kemunduran dalam persaingan global, dan ruh-ruh Islam tak lagi membara dalam memotivasi pembangunan segala bidang.

Mencermati tentang asas Islam yang begitu peduli terhadap hubungan sosial bisa dirujuk dari sumber pokok ajaran Islam yaitu  Al-Qur’an dan Al-Hadits, yang mana kedua sumber pokok ajaran Islam tersebut banyak sekali menjelaskan dan memberi garis-garis kehidupan yang bernuansakan sosial, dengan begitu bisa disimpulkan bahwa Islam begitu peduli dengan hubungan sosial dan  kemanusiaan. Al-Qur’an pertama kali juga berbicara tentang perintah membaca “iqra’” (bacalah), dalam tafsir-tafsir kontemporer istilah iqra’ diterjemahkan dengan pengertian  yang lebih luas, yaitu perintah untuk membaca dalam pengertian “kontekstual”, karena membaca disitu tidak hanya diartikan membaca dengan hanya mengenal kata-kata atau huruf-huruf saja, melainkan juga membaca dalam arti yang lebih luas yaitu membaca lingkungan dan situasi sekitar.“Ajaran Iqra  adalah satu seruan pencerahan intelektual yang telah terbukti dalam sejarah mampu mengubah peradaban manusia dari masa kegelapan.”[2]

Pemahaman terhadap  konteks “pembacaan”, dalam menyikapi pendidikan dijabarkan pula oleh Listiyono Santoso, dalam pengantar buku “Pendidikan Berbasis Realitas Sosial”, beliau mengatakan bahwa “pelajaran membaca misalnya, tidak hanya diarahkan pada pengenalan-pengenalan atas huruf-huruf, melainkan juga pengenalan juga atas dunia yang dilanda masalah.”[3] Dari analogi “pembacaan” tersebut menandakan bahwa Islam mengharapkan kepada seluruh manusia khususnya umat Islam untuk  lebih peka dan tanggap  terhadap lingkungan dan alam sekitar.

Banyak Ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan secara detail tentang konsep kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat, bahkan kalau dipahami lebih dalam sebenarnya hampir semua motif yang terkandung dalam syariat Islam mengandung makna dan dimensi sosial, misalkan yang berkaitan dengan ibadah yang sifatnya  ilahiyyat, yaitu ibadah yang berdimensikan ketuhanan, atau dikatakan juga sebagai ibadah vertikal seperti Sholat, Puasa, Zakat dan Haji,  ibadah-ibadah  ini kalau dilihat sepintas seakan-akan merupakan ibadah/pengabdian makhluk (hamba) kepada sang kholik (Sang Pencipta), padahal kalau diamati dan dipahami lebih lanjut maka ibadah-ibadah tersebut mempunyai nilai dan aspek sosial yang tinggi didalamnya.

Sumber utama hukum  Islam tersebut (Al-Qur’an) dalam konteks landasan hukum kehidupan menjadi sumber hukum yang  universal, yaitu sumber hukum yang bersifat umum dan untuk semua makhluk dijagat raya, sehingga penafsir-penafsir kontemporer yang mampu membaca pesan-pesan Al-Qur’an dan Hadits secara cerdas sangat dibutuhkan untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan umat dizaman ini. Terlebih dalam ranah pendidikan seharusnya pendidikan khususnya pendidikan Islam harus mengadopsi  konsep dasar ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh) sehingga nilai-nilai Islam yang tersalurkan lewat wahyu Tuhan bisa aplikatif dalam segala aspek kehidupan.

Akhir-akhir ini banyak konsep pendidikan alternatif  baik yang bersifat teoritis maupun idealis yang memberi tawaran untuk memperbaiki sistem pendidikan dewasa ini yang lebih condong kepada konsep kapitalis, misalkan konsep pendidikan Paulo Freire dan YB Mangunwijaya, dengan konsep “pendidikan yang mencerdaskan dan membebaskan”, yang terkenal dengan gagasan  problem possing education (Pendidikan hadap masalah)[4]. Sedangkan dalam Islam sebenarnya gagasan pendidikan humanis, membebaskan dan mencerahkan telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam mendidik umat, yang menjadikan citra Islam sebagai agama damai dimuka bumi, hal ini diakui oleh semua kalangan bahkan para ilmuwan non-muslim,  namun kenapa sampai sekarang pendidikan Islam sendiri belum bisa menjadi spirit dan motorik ke arah sana?

Kalau dicermati lebih kritis, sebenarnya problematika mendasar pendidikan di Indonesia saat sebenarnya  lebih banyak  pada  dataran sistemik dan filosofik yang pada akhirnya menimbulkan salah pemahaman untuk membangun pendidikan yang sesuai dengan budaya Indonesia, karakter Indonesia dan masa depan Indonesia. Sebagaimana harapan yang dilontarkan oleh Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi, bahwa sistem pendidikan Islam diharapkan tidak saja sebagai penyangga nilai-nilai, tetapi sekaligus sebagai penyeru pikiran-pikiran produktif dan berkolaborasi dengan kebutuhan zaman.[5] Namun tampaknya gambaran ideal tersebut hanya menjadi sebuah utopia hampa, kalau sistem kebijakan pendidikan di Indonesia belum mau dan mampu berbenah ke arah sana, padahal  yang diharapkan dari orientasi pendidikan adalah pendidikan manusia seutuhnya mulai yang sangat dasar/penting yaitu tentang akhlak dan moral, sampai yang menyangkut tentang skill dan keahlian.

Orientasi-orientasi tersebut dimaksud untuk menjawab berbagai kritik mengenai gagalnya pendidikan agama di Indonesia dari beberapa sudut pandang, dengan demikian perlu dicari formula yang tepat untuk menata konsep pendidikan Islam saat ini juga, diantaranya yang perlu diperhatikan mengenai pendidikan agama (Islam) harus diarahkan menjadi bentuk pendidikan yang berkeadaban, yaitu pendidikan agama yang mampu menumbuhkan kesadaran keberagamaan peserta  didik yang berisi berbagai hal mendasar seperti kesadaran akan Tuhan, komitmen moral, rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial.

Khoiruddin, menyunting ungkapan Yusuf Qardawi “Kalau melihat realistas kekinian bahwa lemahnya pemahaman umat Islam terhadap ajaran agamanya, sangaat berakibat pada lemahnya iman dan lemahnya moral.”[6] Padahal seharusnya Islam menjadi ruh yang bisa menjadi motivasi atau bisa katakan sebagai “teologi pembebasan” dalam ranah pendidikan, tapi kenapa seakan pendidikan Islam kehilangan tuahnya?, apanya yang salah dengan pendidikan Islam?, terlebih problematika dan hubungan sosial keagamaan akhir-akhir ini menjadi sorotan tajam dari berbagai pihak, diantaranya tiadanya keharmonisan hubungan antar pemeluk agama di Indonesia, padahal seharusnya pendidikan keagamaan menjadi problem solving atas permasalahan dan hubungan keagamaan tersebut.

Hubungan sosial keagamaan dalam masyarakat mejemuk dan plural seperti Indonesia membutuhkan pembinaan secara serius, sebagaimana dikatakan Dadang Kahmad  “ Disatu sisi agama dipandang oleh pemeluknya sebagai sumber moral dan nilai, sementara di sisi lain dianggap sebagai sumber konflik.[7] Walaupun Abdurahman Mas’ud  menjelaskan tentang betapa kuatnya sistem keagamaan di negara-negara maju, yang terbukti bahwa agama menjadi spirit kenegaraan. Seperti halnya Jepang dengan agama Shinto yang memberikan pelajaran etos kerja sejak restorasi Meiji 1868, sedang Amerika dengan  kuatnya Prostestan telah melahirkan sistem kenegaraan misalkan syarat menjadi presiden Amerika harus dari WASP (White, Anglo Saxon, Protestan).  Kemudian Korea Selatan sebagai negara industri baru yang disegani, dengan bangga mengedepankan Budaisme sebagai etika kerja.[8] Dari sini bisa dilihat seperti apa kondisi hubungan sosial dan kegamaan di Indonesia, apakah menjadi semangat kebersamaan dalam pembangunan atau justru menjadi masalah dan penghambat pembangunan.

Membicarakan topik pendidikan tak bisa terlepas dari membicarakan kebijakan dan prinsip pendidikan yang diadopsi dalam dan oleh suatu negara, karena kebijakan inilah yang nantinya mempengaruhi dan mengarahkan kemana arah dan  laju pendidikan ini bermuara, kebijakan terkait pula dengan “ideologi,” karena ideologi yang dianut oleh suatu negara sangat menentukan dan mengarah pada kebijakan-kebijakan strategis yang dijalankan oleh suatu negara.

Kebijakan-kebijakan di negara Indonesia terutama mengenai sektor pendidikan telah diatur dalam perundang-undangan tersendiri, secara global pendidikan telah disebutkan dalam UUD 45, tapi sejak tahun 1989 indonesia mempunyai undang-undang tersendiri yang mengatur tentang pendidikan,  yaitu UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) yang sampai sekarang telah mengalami perubahan dan penggantian, sampai skripsi ini disusun  yang berlaku yaitu UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003.

UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003 merupakan landasan sistem pendidikan di Indonesia yang diharapkan sebagai landasan dan motivasi membangun sistem pendidikan kearah kemajuan. Undang-undang Sisdiknas ini secara legal merupakan amanat dan kepanjangan dari UUD 1945 pasal 31 ayat 2 yang mengamanatkan kepada pemerintah Republik Indonesia untuk “mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional yang diatur dengan undang-undang”[9] namun pada kenyataan UU Sisdiknas 2003 ini dilaksanakan hanya  setengah-setengah, seperti terkait anggaran pendidikan yang tidak dijalankan sesuai amanat konstitusi. Dan setumpuk permasalahn terkait UU Sisdiknas,  yang seharusnya UU Sisdiknas menjadi problem solving permasalahn pendidikan di Indonesia, malah justru menimbulkan masalah tersendiri, seperi permasalahan  sosial dan agama.

Mengenai hubungan sosial keagamaan di Indonesia yang selalu menimbulkan konflik antar elemen dan golongan keagamaan menjadi tema menarik untuk dikaji, diantaranya  untuk mengiyakan atau menolak pendapat Dadang Kahmad diatas yang mengatakan bahwa agama merupakan sumber konflik. Jika diusut terkait hubungan keagamaan dalam konstitusi  pendidikan ini bisa ditemukan pada konsep dan sistem pengajaran agama yang telah di jelaskan dalam UU Ssidiknas 2003, detailnya pada pasal 30 ayat 2 dari UU Sisdiknas no 20 Tahun 2003, yang bunyinya “Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/atau menjadi ahli ilmu agama.[10] Pasal ini menjadi gerbang untuk mengukur dan mengembalikan eksistensi pendidikan keagamaan sesuai dengan tujuan pendidikan agama di negri ini, yang pada kenyataan saat ini  undang-undang tersebut masih belum aplikatif.

Elaborasi yang tepat antara Pendidikan Agama dan  dukungan dari konstitusi  (UU Sisdiknas tahun 2003) yang signifikan, telah memberi warna tersendiri, terutama dalam pendidikan keagamaan di Indonesia, yang mana keduanya diharapkan  menyatu dan saling menguatkan, karena pendidikan Islam pada dataran yang sistemik tersebut membutuhkan proses yang tidak sederhana untuk menyatukan berbagai  komponen yang menguatkan, tapi kenyataan dilapangan tak seindah dalam teori dan imajinasi, dari sini menimbulkan pertanyaan, apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia.

Selain yang disebutkan diatas mengenai landasan  konstitusi dalam pendidikan Islam, membutuhkan juga landasan filosofis yang kuat dan matang sebagai dasar pijakan untuk merenovasi sistem pendidikan di Indonesia, sekaligus dibutuhkan orang-orang yang  peduli dan mampu merumuskan kebijakan-kebijakan pendidikan yang sistematis dan visioner,  terlebih yang paling utama harus bebas dari the dark political/ monopoli politik gelap, Padahal saat ini sulit menjumpai kebijakan yang benar-benar murni tanpa ada campur tangan kepentingan elit tertentu, dan di Indonesia tampaknya untuk mewujudkan hal ini tidak semudah seperti yang diharapkan.

Ada ungkapan yang menarik sekaligus kritik dari Al-Faruqi yang dikatakan ulang oleh M. Sirozi, mengenai sistem pendidikan di Indonesia “Untuk bangkit menjadi bangsa bermartabat dan mampu berkompetensi dengan bangsa-bangsa lain umat Islam perlu segera men-dekrontruksi sistem pendidikan dualistik warisan kolonial, lalu mengkontruk sistem pendidikan baru yang benar-benar sesuai dengan paradigma dan tujuan pendidikan Islam.”[11] Sistem kebijakan pendidikan yang diadopsi masih bernuansakan sistem kolonial yang banyak juga didominasi oleh kepentingan-kepentingan pribadi atau kelompok yang kurang bisa dipertanggung jawabkan secara moral, padahal idealnya suatu sistem kebijakan publik harus mencerminkan akuntabilitas dan bebas dari sentuhan kepentingan politik kotor.

Surya Fermana mengungkapkan, untuk menerapkan kebijakan publik harus menerapkan dan membaca kebijakan tersebut dari arah nilai keadilan dan kesamaan fundamental yang setara.[12]  Padahal kalau melihat realitas  sistem kebijakan di Indonesia maka akan sangat terasa adanya pertentangan antara idealita dan realita, karena kebijakan publik dibuat oleh sistem  kekuasaan, sedangkan kekuasaan cenderung diskriminatif/bahkan sering dikatakan bahwa Power tends to corrupt (kekuasaan cenderung korup).

Bismillah untuk memulai penyusunan skripsi ini dan penutup kalimat dari latar belakang masalah  ini dengan motivasi merujuk pada Al-Qur’an yang menjadi petunjuk untuk menjadi solusi pada permasalahan umat dengan berpegangan pada Ayat Qur’an Surat Al Isra’

Artinya :  Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar, (QS. Al-Isra’ : 9)[13]

 



[1] Prof.H.Abdurahman Mas’ud,Ph.D,  Antologi,Studi Agama dan Pendidikan, CV.Aneka Ilmu, Semarang, 2004, hal. 166

[2] Ibid, hal. 69

[3] Listiyono Santoso, Sebuah Pengantar Editor dalam  buku  “Pendidikan Berbasis Realitas Sosial, yang    ditulis Firdaus M. Yunus, Logung Pustaka, Yogyakarta, cetakan ketiga, hal.xiii

[4] Ibid. hal.xiii

[5] Dr. Imam Tholkhah dan Ahmad Barizi, MA, Membuka Jendela Pendidikan, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004.hal 4

[6]  Khoiruddin, Membangun Sistem Masyarakat Islam,  Elsaq, Yogyakarta, Jurnal Populis, Edisi No.III/2003.

[7] Dr. H. Dadang Kahmad, Sosiologi Agama, PT.Remaja Rosdakarya, Bandung, 2002,  hal. 147.

[8] Abdurahman Mas’ud, Op.Cit.hal.166

[9] Dr. Hj. Binti Maunah , M.Pd.I,Perbandingan Pendidikan Islam,  Teras, Yogyakarta, 2011, hal.125-126

[10] Redaksi Penerbit, UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003, Beserta penjelasanya, Fermana, Bandung, 2006, Hal.81

[11] Muhammad Sirozi, MA,Ph.D,  Agenda Strategis Pendidikan Islam, AK Group, Yogyakarta,  2004, hal.115

[12] Surya Fermana, Kebijakan Publik, Sebuah Tinjauan Filosofis, Arus Media, Yogyakarta 2009, hal.108

[13] H. Zaini Dahlan,  Qur’an Karim dan Terjemahan Artinya, UII Press, Yogyakarta, 1999, hal.498.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*