Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Tujuan Pendidikan akhlak

Tujuan Pendidikan akhlak

Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : ideologi  Pesantren
data post: Perkuliahan.com. edition of : 192
dengan mengerti tentang pengertian pendidikan akhlak itu seperti apa maka akan mempermudah pelajaran dan pengertian tentang pendidikan akhlak secara umu.

Setiap sesuatu pasti ada tujuanya. Secara umum akhlak dalam Islam memiliki tujuan akhir yaitu menggapai suatu kebahagiaan di dunia dan di akhirat yang diridhoi Allah SWT serta disenangi sesama makhluk.

dalam hal ini ada beberapa tujuan yang dasar dari pendidikan akhklak, dari beberapa tujuan pendidikan akhlak ini tentunya berdasarkan tujuan yanglebih subtansial dan esensial, sebagaimana tujuan hidup dan tujuan pendidikan menurut Islam

diantara tujuan-tujuan pendidikan Islam itu ialah:

1. Untuk menciptakan manusia dalam meraih kebahagiaan dunia dan akhirat yaitu kebahagiaan yang menyeluruh bagi kesempurnaan jiwa individunya maupun dalam menciptakan kebahagiaan, kemajuan, kekuatan bagi masyarakat seluruhnya.

2. Untuk membentuk manusia bermoral, sopan santun, baik ucapan ataupun tingkah laku dan berakhlak tinggi.

3. Untuk membentuk daya manusia yang sanggup bertindak kepada kebaikan tanpa berpikir-pikir dan ditimbang-timbang.

4. Untuk membentuk manusia yang gemar melakukan perbuatan terpuji dan baik serta menghindari yang tercela atau buruk.

Pembentukan Pendidikan Akhlak Bagi Siswa

Pembentukan pendidikan akhlak bagi siswa yaitu dengan berakhlak serta membiasakan anak-anak kepada tingkah laku yang baik sejak kecil hal itu preode yang sangat penting bagi perkembangan moralitas anak. Para filosof Islam sepakat bahwa sangatlah penting pembentukan pendidikan moralitas bagi anak, sehingga haruslah menjadi perhatian serius. Sebagaimana pepatah lama mengatakan bahwa pendidikan di waktu kecil ibarat melukis di atas batu pendidikan di waktu besar ibarat melukis di atas air.

Pembentukan akhlak yang paling utama adalah ditanamkan diwaktu kecil, maka apabila seorang anak dibiarkan melakukan sesuatu yang kurang baik dan kemudian telah menjadi kebiasaannya maka ia akan sukar meluruskannya. Artinya bahwa pendidikan akhlak atau budi pekerti yang luhur wajib dimulai di rumah, dalam keluarga, atau disekolah dan jangan dibiarkan anak-anak hidup tanpa pendidikan, bimbingan, petunjuk, bahkan sejak kecil hendaklah dididik dengan penuh arif, sehingga ia tidak terbiasa dengan adat kebiasaan yang tidak baik.

Setiap orang bisa mendapatkan akhlaq yang mulia, hal ini dapat dilakukan dengan cara membiasakan, bersungguh-sungguh, dan melatih dirinya. Maka, ia dapat menjadi orang yang berakhlaq mulia dengan beberapa perkara, di antaranya:[27]

  1. Hendaklah ia mengamati dan menelaah kitab Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya
  2. Bersahabat dengan orang yang kita kenal akan akhlaknya yang baik
  3. Hendaklah ia memperhatikan akibat buruk dari berakhlak tercela
  4. Hendaklah ia selalu menghadirkan gambaran akhlak mulia Rasulullah.

Selain yang diatas, ada lagi proses pembentukan akhlak bagi siswa yang itu bisa dilakukan dengan dua[28]cara diantaranya :

1. Pembentukan Berdimensi Insani

Pembentukan kepribadian berdimensi insani ini biasanya bisa bersifat ummi yaitu pendidikan lewat at-Tarbiyah Qabl al-Wiladah, at-Tarbiyah ma’a al-Ghayr serta at-Tarbiyah al-Nafs. Bisa juga bersifat ummah yaitu mendidik lewat metode memberi teladan yang baik bagi siswa, memperhatikan pergaulannya sesama teman selalu memberi bimbingan dan nasihat kepada anak atau siswa.

2. Pembentukan Berdimensi samawi

Yaitu mendidik dengan cara serta nilai-nilai yang penuh dengan ke-islaman lebih-lebih kepada Tuhannya, misalnya membangun dan memupuk sentralitas, ketakwaan, dan membangun keteladanan dan kebiasaan yang baik.

Akhlak sebagai salah satu nilai tertinggi dalam agama dan harus diwujudkan dalam sebuah system. Pendidik/pembina pertama dan utama adalah orang tua, kemudian guru. Sikap si anak terhadap agama dalam membentuk moral dan akhlak dibentuk pertama kali di rumah melalui pengalaman yang didapatnya dengan orang tuanya, kemudian disempurnakan atau diperbaiki oleh guru di sekolah, terutama guru yang disayanginya. Kalau guru agama dapat membuat dirinya disayangi muridnya, maka pembinaan sikap positif terhadap agama akan mudah terjadi. Akan tetapi apabila guru agama tidak disukai anak, akan sukar sekali bagi guru untuk membina sikap positif anak terhadap agama. Orang tua maupun guru agama akan disenangi oleh anak didiknya, apabila mereka dapat memahami perkembangan jiwa dan kebutuhan-kebutuhannya, lalu melaksanakan pendidikan agama itu dengan cara yang sesuai dengan umur anak.[29]

 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*