Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Tingkat Pendidikan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar

makalah Tingkat Pendidikan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar/ dan pengaruh keagamaan siswa

under arsip:  Perkuliahan.com.

Judul postingan :CTingkat Pendidikan Orang Tua terhadap perilaku keagamaan siswa

Bidang  postingan  : fTingkat Pendidikan Orang Tua terhadap perilaku keagamaan siswa. next post  makalah pendidikan islam

……………. : arsip data perkuliahan.com edisi 88:

Tingkat Pendidikan Orang Tua terhadap perilaku keagamaan siswa /  Prestasi Belajar. ini merupakan makalah yang dirilis dari skripsi teman dalam kajian  pendidikan dan kajian lapangan dalam penelitian pendidikan, dalam beberapa pencarian dari tulisan dalam perkuliahan.com ini diantaranya . hubungan prestasi belajar dan pendidikan orang tua, korelasi keagamaan siswa dan pendidikan orang tua, pendidikan orang tua dan prestasi belajar siswa.

1. Pengertian Orang Tua
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk utama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Sejak seorang anak lahir, ibunyalah yang selalu ada disampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai dan biasanya, seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila itu menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal anak, yang mula-mula menjadi temannya dan mula-mula dipercayainya. Apapun yang dilakukan ibu dapat dimanfaatkannya, kecuali apabila ia ditinggalkan. Dengan memahami segala sesuatu yang terkandung di dalam hati anaknya, juga jika anak telah mulai agak besar, disertai kasih sayang, dapatlah ibu mengambil hati anaknya untuk selama-lamanya.
Pengaruh ayah terhadap anaknya besar pula. Di mata anaknya ia seorang yang tertinggi gengsinya dan terpandai diantara orang-orang yang dikenalnya. Cara ayah melakukan pekerjaannya sehari-hari berpengaruh pada cara pekerjaan anaknya. Ayah merupakan penolong utama, lebih-lebih bagi anak yang agak besar, baik laki-laki maupun perempuan, bila mau mendekati dan dapat memahami hati anaknya.
Pada dasarnya kenyataan-kenyataan yang dikemukakan di atas itu berlaku dalam kehidupan keluarga atau rumah tangga dengan yang bagaimanapun juga keadaannya. Hal itu menunjukkan ciri-ciri dari watak rasa tanggung jawab dari setiap orang tua atas kehidupan anak-anak mereka untuk masa kini dan masa mendatang, bahkan para orang tua umumnya merasa bertanggung jawab atas segala dari kelangsungan hidup anak-anaknya. Karenanya tidaklah diragukan bahwa tanggung jawab pendidikan secara mendasar terpikul kepada orang tua. Apakah tanggung jawab pendidikan itu diakuinya secara sadar atau tidak, diterima dengan sepenuh hatinya atau tidak, hal itu adalah merupakan “fitrah” yang telah dikodratkan Allah SWT, kepada setiap orang tua. Mereka tidak bisa mengelakkan tanggung jawab itu karena telah menjadi amanah Allah SWT yang dibebankan kepada mereka.
Di tilik dari hubungan dan tanggung jawab orang tua kepada anak, maka tanggung jawab pendidikan itu pada dasarnya tidak bisa dipikulkan kepada orang lain, sebab guru dan pemimpin umat umpamanya, dalam memikul tanggung jawab pendidikan yang dipikul oleh pra pendidik selain orang tua adalah merupakan pelimpahan dari tanggung jawab orang tua yang karena satu dan lain hal tidak mungkin melaksanakan pendidikan anaknya secara sempurna.

2. Pengertian Pendidikan
Dalam kajian dan pemikiran pendidikan ada dua istilah dalam dunia pendidikan yaitu pedagogi dan pedagogik. Pedagogi berarti “pendidikan” sedangkan pedagogik berarti “ilmu pendidikan”.
Pedagogik atau ilmu pendidikan ialah yang menyelidiki, yang merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Istilah ini berasal dari kata “pedagogia” (Yunani) yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan yang sering digunakan istilah pedagogos adalah seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke danau dari sekolah. Pedagogos berasal dari kata paedos (anak) dan gogos (saya membimbing, memimpin).
Berkataan pedagogos yang pada mulanya berarti pelayan, kemudian dirubah menjadi pekerjaan mulia. Karena pengertian pedagog berasal (dari pedagogos) berarti seorang yang tugasnya, membimbing anak di dalam pertumbuhannya ke daerah berdiri sendiri dan bertanggung jawab.
Dalam pengertian yang sederhana atau umum makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dan mengembangkan potensi-potensi pembawaan baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dan kebudayaan.
Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan pembentukan ketrampilan saja, namun diperluas sehingga mencakup usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu sehingga tercapai pola hidup pribadi dan sosial yang memuaskan. Pendidikan bukan semata-mata sebagai sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ke tingkat kedewasaan.
Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka dapat penulis cermati lagi mengenai potensi manusia yaitu berupa intelektual, ketrampilan dan etika moral yang terpuji. Potensi ini berjalan dengan tingkat pendidikan seseorang.
Dalam memahami tingkatan pendidikan berarti terkait pula tingkat perkembangna intelektual, ketrampilan dan kepribadian. Semakin tinggi tingkat pendidikan seorang dalam penalaran pola berfikirnya, semakin canggih ketrampilan tehnologinya dan semakin arif kepribadiannya. Tingkat pendidikan hampir sebanding dengan tingkat kedewasaan dalam arti besarnya tanggung jawab. Jadi tingkat pendidikan orang tua mengandung arti kemampuan dan tanggung jawab.

3. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan dalam arti mikro (sempit) ialah membantu (secara sadar) perkembangan jasmani dan rohani peserta didik, fungsi pendidikan secara makro (luas) ialah sebagai berikut :
a. Pengembangan pribadi
b. Pengembangan warga negara
c. Pengembangan kebudayaan
d. Pengembangan bangsa
Menurut Shipman sebagaimana dikutip Marwan Saridjo, bahwa fungsi pendidikan itu ada 3 macam sebagai berikut :
a. Sosialisasi.
b. Pembelajaran (Schooling), dan
c. Pendidikan (Education).
Sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan melakukan bimbingan dan pengarahan agar siswa-siswinya dapat menyatakan diri dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Dengan demikian pendidikan adalah wahana untuk integrasi siswa ke dalam nilai-nilai nasional yang dominan.
Sebagai wahana pembelajaran berarti mempersiapkan siswa agar setelah lulus dapat menduduki sosial ekonomi tertentu. Jadi disini pendidikan berfungsi membekali para siswa berbagai kompetensi sesuai dengan profesi yang dibutuhkan oleh dunia pemakai para lulusan.
Sebagai pendidikan yang berfungsi menciptakan kelumpok elit yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar bagi kelanjutan program pembangunan. Kelompok elit inilah sebagai kualitas unggul dari hasil proses pendidikan.
Dari ketiga fungsi tersebut tergantung pula pada keberhasilan tingkatan-tingkatan pendidikan. Oleh karena itu hal yang terpenting adalah bagaimana memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk mengikuti program pendidikan dan selalu ada upaya peningkatan mutu. Karena mutu inilah yang menjadi tuntutan bagi lembaga pendidikan para lulusan sekolah, apalagi sekolah dasar.

4. Tingkatan Pendidikan
Istilah pendidikan dalam hal pembahasan ini, seperti dengan istilah jenjang pendidikan, sebagaimana oleh Fuad Ihsan, bahwa jenjang pendidikan di Indonesia, yaitu :
a. Pendidikan Dasar
Pendidikan dasar adalah pendidikan yang memberikan pengetahuan dan ketrampilan, menumbuhkan sikap dasar yang diperlukan dalam masyarakat, serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan dasar pada prinsipnya merupakan pendidikan yang memberikan bekal dasar bagi perkembangan kehidupan, baik untuk pribadi maupun untuk masyarakat. Pendidikan ini dapat berupa pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah, yang dapat merupakan pendidikan biasa ataupun pendidikan luar biasa.
b. Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah adalah pendidikan yang mempersipkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial budaya serta alam sekitar, serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi.
c. Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi ialah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki tingkat kemampuan tinggi yang bersifat akademik atau profesional, sehingga dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dalam rangka pembangunan nasional dan meningkatkan kesejahteraan manusia.
Dalam kenyataan diantara ketiga jenjang masih ada sub-subnya lagi, yaitu secara rinci dapat penulis kemukakan sebagai berikut :
a. Pendidikan Dasar
1) Sekolah Dasar, Madrasah Ibtidaiyyah.
2) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Madrasah Tsanawiyah
b. Pendidikan Menengah meliputi :
1) Sekolah Menengah Umum (SMU), Madrasah Aliyah (MA).
2) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terdiri dari SMK Ekonomi dan SMK Tehnik.
c. Pendidikan Tinggi terdiri dari :
1) Diplima 1 (D1)
2) Diploma 2 (D2)
3) Diploma 3 (D3)
4) Strata 1 (S1)
5) Strata 2 (S2)
6) Strata 3 (S3)
Demikian struktur pendidikan yang ada di Indonesia.

5. Faktor-faktor Pendidikan
Dalam kegiatan pendidikan tidak dapat lepas dari faktor pendidikan yang dapat membentuk interaksi dan saling mempengaruhi dalam proses berlangsungnya pendidikan, namun dari faktor-faktor pendidikan sebagai pemeran untuk merakit dan menggerakkan sampai pada akhir suatu proses pendidikan adalah faktor pendidikan atau guru.
Adapun faktor-faktornya adalah :
a. Faktor Tujuan
Tujuan adalah batas cita-cita yang ingin dicapai dalam suatu usaha, dan juga merupakan arah yang hendaka dituju, oleh karena itu untuk mempermudah dan memperlancar arah suatu usaha itu dan tindakan yang cita-citakan diperlukan adanya tujuan yang jelas.
Demikian pula dalam masalah pendidikan, agar pendidikan itu berjalan dengan baik maka sebelum pendidikan itu berlangsung atau terlaksana perlu dirumuskan terlebih dahulu tujuan yang hendak dicapainya, sebab tanpa adanya rumusan tujuan yang hendak dicapai, usaha itu tidak ada artinya apa-apa, dan sekaligus sebagai acuan dasar dalam menentukan langkah selanjutnya menuju tercapainya tujuan dalam kegiatan pendidikan.
Tujuan pendidikan suatu bangsa satu sama lain berbeda, perbedaan itu tergantung dari pandangan hidupnya masing-masing bangsa, sebagaimana tujuan pendidikan bangsa Indonesia disesuaikan dengan landasan falsafah hidup bangsa, yaitu Pancasila.
Tujuan pendidikan ditekankan untuk membangun dan membentuk manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsanya, oleh karena itu adanya penanaman sifat tanggung jawab serta penanaman jiwa Pancasila sangat diperlukan sekali.
Berangkat dari uraian ini, maka tanggung jawab pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah dan masyarakat, ketiganya merupakan satu totalitas yang saling mendukung terhadap tercapainya tujuan pendidikan.
Keluarga merupakan peletak dasar pendidikan kepribadian bagi anak, sedang sekolah berfungsi sebagai penerus pendidikan dalam keluarga dan masyarakat sebagai pelindung dan pengawas dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik.
b. Faktor Peserta Didik
Dalam pendidikan tradisional, peserta didik dipandang sebagai organisme yang pasif, hanya penerima informasi dari orang dewasa. Dengan demikian cepatnya perubahan sosial dan penemuan teknologi, maka komunikasi antar manusia berkembang dengan cepat. Peserta didik dalam usia dan tingkatan kelas yang sama bisa memiliki profil materi pengetahuan yang berbeda-beda. Hal ini tergantung kepada konteks yang mendorong perkembangan seseorang, ada 4 konteks yang dapat disebutkan yaitu :
1) Lingkungan dimana peserta belajar secara kebetulan dan kadang-kadang disini mereka belajar tidak terprogram.
2) Lingkungan belajar dimana peserta didik belajar secara sengaja dan dikehendaki.
3) Sekolah dimana peserta didik belajar mengikuti program yang ditetapkan.
4) Lingkungan pendidikan optimal, dimana peserta didik dapat belajar dengan aktif (CBSA) sekaligus menghayati nilai-nilai.
c. Faktor Pendidik
Pendidik yaitu orang yang melaksanakan pendidikan (subyek pendidikan). Dialah sebagai pihak yang mendidik, pihak yang memberikan anjuran norma-norma bermacam-macam pengetahuan dan kecakapan, pihak yang turut membantu anak. Maka mendidik anak adalah tugas suci yang luhur dan membutuhkan tanggung jawab yang besar.
Dalam hal ini pendidik adalah seorang guru yaitu suatu profesi yang tugasnya meliputi: mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti mengembangkan nilai-nilai hidup, mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan melatih adalah mengembangkan ketrampilan-ketrampilan pada murid: seorang pendidik harus mempunyai dan memiliki kesadaran tentang kemuliaan dalam tugas yang diembannya baik dari segi agama, bangsa dan negara.
Di dalam melaksanakan pendidikan atau mendidik seorang pendidik dituntut untuk menguasai pengetahuan-pengetahuan lain yang mendukung keberhasilan di dalam melaksanakan tugas-tugasnya, oleh karena itu seorang pendidik disyaratkan menguasai pengetahuan sebagai berikut :
1) Ilmu pengetahuan teoritis dan ilmu sejarah pendidikan.
2) Ilmu pendidikan psikologis (psikologi umum, psikologi anak, psikologi pendidikan).
3) Pengetahuan tentang kurikulum.
4) Pengetahuan tentang metode mengajar.
5) Pengetahuan tentang dasar dan tujuan pendidikan.
6) Pengetahuan tentang moral, nilai-nilai dan norma-norma.
Pada umumnya faktor pendidik atau guru adalah salah satu faktor yang dapat menentukan berhasil tidaknya tujuan yang hendak dicapai, karena kedudukan guru dalam proses mobilisator terhadap faktor-faktor yang lain, jika faktor penggeraknya menguasai persyaratan pengetahuan akan dapat terwujud jika tidak, maka tidak berhasillah pendidikan itu.
Dalam konsep Islam. Seorang guru haruslah bukan hanya sekedar tenaga pengajar, tetapi sekaligus adalah pendidik. Karena itu, dalam Islam, seorang dapat menjadi guru bukan hanya karena ia telah memenuhi kualifikasi kelilmuan dan akademis saja, tetapi lebih penting pula membentuk watak dan pribadi anak didiknya dengan akhlak dan ajaran-ajaran Islam.
d. Faktor Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar anak baik berupa benda-benda atau peristiwa-peristiwa yang terjadi, maupun kondisi masyarakat terutama yang dapat memberi pengaruh kuat kepada anak, yaitu lingkungan dimana proses pendidikan berlangsung dan lingkungan dimana anak-anak bergaul sehari-harinya.
Lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting terhadap berhasil atau tidaknya pendidikan, karena perkembangan jiwa anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia hidup. Lingkungan dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif terhadap perkembangan jiwa anak, dalam sikapnya, akhlaknya maupun perasaan agamanya dalam perkembangan berikutnya. Situasi lingkungan mempengaruhi proses dan hasil pendidikan, situasi lingkungan ini meliputi lingkungan fisis, lingkungan teknis, dan lingkungan sosio-kultural.
e. Faktor Isi/ Materi Pendidikan
Yang termasuk dalam isi/ materi pendidikan adalah segala sesuatu yang oleh pendidik langsung diberikan kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dalam usaha pendidikan yang diselenggarakan di keluarga, sekolah dan di masyarakat, ada sayrat utama dalam pemilihan beban/ materi pendidikan, yaitu :
1) Materi harus sesuai dengan tujuan pendidikan.
2) Materi harus sesuai dengan peserta didik.
f. Faktor Metode Pendidikan
Peristiwa pendidikan ditandai dengan adanya interaksi edukatif. Agar interaksi ini dapat berlangsung secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan, maka disamping dibutuhkan pemilihan bahan atau materi pendidikan yang tepat, perlu dipilih metode yang tepat pula. Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Untuk menentukan apakah sebuah metode dapat disebut baik diperlukan patokan (kriteria) yang bersumber dari beberapa faktor. Faktor utama yang menentukan adalah tujuan yang ingin dicapai.
Dilihat dari faktor-faktor tersebut di atas, dalam sebuah rumah tangga, orang tua dapat berfungsi sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Hal ini akan semakin efektif apabila orang tua memiliki pendidikan yang cukup tinggi, alokasi waktu cukup, dan fasilitas yang memadai.
Pengetahuan tentang pendidikan juga bermanfat bagi upaya-upaya meningkatkan mutu atau prestasi belajar. Alasannya adalah semua faktor ikut menentukan hasil dari proses pendidikan. Jadi hakekatnya tidak ada yang paling penting, tetapi yang ada adalah peran masing-masing yang berbeda.

……………………..

makalah Tingkat Pendidikan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar/ dan pengaruh keagamaan siswa

under arsip:  Perkuliahan.com.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*