Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

MAKALAH IBNU SABI’IN Kesatuan Mutlak, Pluralisme, ittihad

 under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan :MAKALAH IBNU SABI’IN Kesatuan Mutlak, Pluralisme, ittihad

Bidang  postingan  : makalah FILSAFAT

……

berikut postingan Perkulihan.com.   MAKALAH IBNU SABI’IN Kesatuan Mutlak, Pluralisme, ittihad yang di share dari  makalah ketika kuliah dahulu dENGAN  referemsi berbagai sumber, semoga bermanfaat

IBNU SABI’IN

(Kesatuan Mutlak, Pluralisme, ittihad)

 

1. Sejarah Hidup

Nama lengkap Ibnu Sabi’in adalah ‘Abdul Haqq Ibrahim Muhammad bin Nasr, seorang sufi yang juga filosof dari Andalusia. Ia terkenanal di Eropa karena jawabannya atas pernyataan Frederik H. penguasa Sicilia. Ia dipanggil Ibnu Sabbi’in dan digelari Quthbuddin Terkadang dikenal pula dengan Abu Muhammad ia dilahirkan tahun 614 H (1217-1218 M) DI KAWASAN Murcia. Ia memunyai asala usul Arab dan mempelajari bahasa Aarab dan sastra pada kelompok gurunya dan mempelajari ilmu-ilmu Agama dari mahdzab Maliki, ilmu-ilmu logika dan filsafat. Diantara guru-gurunya adalajh Ibn Dihaq yang terkenal dengan Ibnu Al-Mir’ah (meninggal tahun 611 H), penyarah karya Al-Juwaini, Al-Irsyad. Karena Ibnu Sabi’in lahir tahun 614 H, sementara Ibn Dihaqq meninggal tahun 611 H, jelaslah bahwa Ibnu Sabi’in menjadi Murid Ibn Dihaqq hanya melalui kajiannya terhadap karya-karya tokoh tersebut.

Begitu juga dalam hal hubungannya dengan dua gurunya yang lain, yaitu al-Yuni (meninggal tahun 622 H) dan Al-Hurani (meninggal tahun 538 H) yang keduanya ahli tentang huruf maupun nama. Menurut salah seorang murid Ibnu Sabi’in yang mensyarah kitab Risalah Al-Abd hubungan antara Ibnu Sabi’in dan gurunya tersebut lebih banyak terjalin melalui kitab daripada langsung.

Ibnu Sabi’in meninggalkan karya sebanyak empat puluh satu buah yang menguraikan tasawuf secara teoritis maupun praktis, dengan cara ringkas maupun panjang.

Karya-karya itu menggambarkan bahwa pengetahuan Ibnu Sabi’in cukup luas dan beragam. Dia mengenal berbagai aliran filsafat Yunani dan hermetititsme, Persia, dan India. Disamping itu dia juga banyak menelaah karya filosof Islam dari dunia Islam bagian timur, seperti Al-Farabi dan Ibnu Sina, dan ilosof Islam bagian barat seperti Ibnu Bjah, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd. Bahkan dia begitu meguasai kandungan Risalah Ikhwan Asy-Shofa secara terperinci, mengetahui aliran Asy’ariyyah, disamping itu juga beliau menguasai aliran fiqih

2. Sikap Kritis Ibnu Sab’in Kepada Para Filosof Pendahulu

Ibnu Sab’in memiliki tradisi kepustakaan ilmiyah yang sangat luas dan bermacam-macam. Dia adalah teosof yang berhasil mempelajari secara kritis terhadap tradisi filsafat dari semua penjuru peradaban. Dia mempelajari aliran-aliran filsafat Yunani, filsafat Timur kuno seperti Hermesian, filsafat Persia dan India, aliran-aliran filsafat Islam bagian Timur seperti al-Farabi dan Ibn Sina, aliran-aliran filsafat Islam bagian Barat seperti Ibnu Bajah, Ibnu Thufeil dan Ibnu Rusyd, mempelajari secara mendalam Rasa’il Ihwan al-Shafa, mengetahui secara detail aliran teologi khususnya al-Asy’ariyah, dan tidak ketinggalan dimensi tasawuf juga dia kuasai dengan baik.

Meskipun Ibnu Sab’in mengadopsi filsafat para pendahulunya, dia tidak kehilangan daya kritisnya. Dia mengkritisi Ibnu Rusyd sebagai intelektual dan filsuf yang tidak orisinil, taklid buta atas filsafat Aristoteles, dan sejatinya dia hanya sedikit ilmu yang dimilikinya. Akan tetapi menurut Abdurahman Badawi bahwa yang dimaksud dengan perkataan Ibnu Sab’in bahwa hanya sedikit ilmu yang miliki Ibnu Rusyd, bahwa Ibnu Rusyd miskin dengan ilmu hakikat dan penyingkapan sufistik. Sementara ilmu yang lainnya, Ibnu Rusyd sangat luas dan tidak bisa diragukan lagi.

Dia mengkritik al-Farabi sebagai filosof yang dalam beberapa pernyataan filosofisnya kontradiktiv dan kacau. Dia menilai bahwa pendapat-pendapat al-Farabi sering bertentangan antara pendapat yang ada pada salah satu karyanya dengan karya yang lain, seperti dalam permasalahan kekalnya jiwa. Akan tetapi dia sangat respek terhadap al-Farabi. Dia menilai al-Farabi adalah filsuf Islam yang paling faham ilmu para pendahulu, tidak ada yang lainnya.

Dia telah mengkritik pedas Ibnu Sina, yang dia katakan sebagai, “palsu, sofis, banyak dentaman, sedikit faidah”. Dan dia juga mengkeritik dengan tidak kalah pedasnya pada al-Ghazali bahwa Ghazali adalah “lidah tanpa penjelasan, suara tanpa ungkapan, seorang yang paradok, kebingungan yang mengiris hati. Satu saat seorang sufi, saat yang lain sebagai seorang filosof, ketiga, seorang Asy’ariyyah, kelima, seorang ahli fiqh. Dan pencapaiannya terhadap ilmu para pendahulu sangat lemah, lebih lemah daripada jahitan jejaring laba-laba dan memasuki dunia tasawuf pun dalam keadaan darurat atau ‘genting’ sehingga tidak bisa dicapai.” Namun, Ibnu Sab’in mengapresiasi al-Ghazali sebagai ulama yang memiliki banyak pengikut.

Dan masih banyak lagi keritik pedas yang dialamatkan kepada para filsuf Islam dan Yunani, lebih-lebih keritik yang tidak kenal ampun dialamatkan juga kepada musuh bebuyutannya, yaitu ulama fiqh. Kritik bisa muncul setelah betul-betul menguasai dan memahami sesuatu yang dia kritik, untuk kemudia dia berusaha mengusung nalar dan filsafat baru.

3. Ajaran Tasawuf Ibnu Sabi’in

a. Kesatuan mutlak / Wihdatul al-Mutlaqah

Ibnu Sabi’in adalah seorang penggagas sebuah paham dalam kalangan tasawuf filosofis yang dikenal denan paham kesatuan mutlak. Gagasan esensisal pahamnya sederhana saja, yaitu wujud ialah satu ialah wujud Allah semata, wujud lainnya itu wujud yang satu itu sendiri. Dengan demikan wujud kenyataanya hanya satu persoalan yang tetap. Paham ini lebih dikenal dengan sebutan paham kesatuan mutlak.

Hal ini karena paham ini berbeda dari paham-paham tasawuf yang memberi ruang lingkup pada pendapat-pendapat tentang hal yang mungkin dan suatu bentuk kesatuan mutlak atau kesatuan murni atau menguasai; menurutterminologi Ibnu Sabi’in itu sendiri. Hampir tidak mungkin mendiskripsikan kesatuan itu sendiri dalam hal ini karena para pengikutnya terlalu berlebihan dalam memutlakanya, dank arena gagasan ini dikenal komsepdi manusia. Dalam paham ini Ibnu Sabi’in menempatkan ketuhanan pada tempat pertama. Wujud Allah menurutnya adalah asal segala yang ada pada masa lalu, masa kini, maupun masa depan.

Sementara wujud materi yang tampak justru dirujukkan pada wujud bercorak spiritual dan bukan material. Ibnu Sabi’in terkadang menyerukan wujud yang nisbi alias sempit berada dalam lingkaran. Perbedaaan sebab keduanya pada hakikatnya adalah satu. Ringkasnya menurut Ibnu Sabi’in, wjud hanyalah satu, tidak ada dua apalagi banyak. Pendapat Ibnu Sabi’in tentang kesatuan mutlak tersebut merupakan dasar dari paham. Khususnya tentang para pencapai kesatuan mutlak ataupun pengakraban dengan Allah. Pencapai kesatuan mutlak menurut Ibnu Sabi’in adalah individu yang paling sempurna dimiliki seorang faqih, teolog, filosof maupun sufi. Inilah pribadi yang melebihi mereka semua. Dengan pengetahuannya yang khusus yaitu ilmu pencapaian yang menjadi pintu gerbang kenabian, sesosok nabi yang dari segi hakikat rohaninya justru bersatu dengan nabi. Yang mengendalikan semesta dan segala sesuatu yang didasarkan kepadanya. dari teks ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud pencapaian kesatuan mutlak adalah dirinya sendiri.

Ibnu Sabi’in juga mengembangkan pahamnya tentang kesatuan mutlak ke berbagai bidang bahasa filosofis. Misalnya menurutnya jiwa dan akal budi tidak memiliki wujud sendiri. Dan moral pun menurutnya ditandai kesatuan mutlak. Bahkan, kebijakan kelezatan dan kebahagiaan terletak pada realisasi dari kesatuan ini.

Dari segi hakikat wujudnya, tidak ada berpedaan kebajikan dengan kejahatan sebab wujud itu masalah yang satu. Ibnu Sabi’in pun berpendapat bahwa para pencapai kesatuan mutlak adalah kebahagiaan itu sendiri, kebijakan itu sendiri, dan kedermawanan itu sendiri. Yang menarik dari Ibnu Sabi’in adalah bahwa latihan-latihan rohaniah praktis yang bisa mengantar pada moral luhur. Tunduk di bawah konsepsinya tentang wujud. Sementara tingkatan dan keadaan yang merupakan buah dari dzikir juga akan keluar dari ruang lingkup kesatuan mutlak tersebut. Begitu pun halnya dengan hidup, menyendiri maupun mengisolasi, puasa dan do’a, bahkan juga mendengar, semua itu mengantar seseorang penempuh jalan ataupun musafir sufi ke suatu keadaan sirna, dan tambahan lagi merealisasi kesatuan mutlak baginya.

“Allah faqad!” (Allah saja), begitulah ungkapan yang berulang kali diucapkan Ibn Sab’in di setiap lembaran yang ada pada salah satu karya, al-Alwah, dan ini adalah premis mayor dalam pandangannnya yang berkaitan dengan wahdah al-mutlaq. Ibn Sab’in adalah pendiri trend wahdah al-Mutlaq dalam menjelaskan entitas wujud. Landasar berfikirnya cukup simpel, yaitu bahwa wujud adalah satu, hanya wujud Allah saja, sementara wujud semua maujud adalah wujud dari entitas wujud yang satu, tidak ada tambahan apa-apa, dan wujud di sini pada hakikatnya adalah premis yang satu dan yang tetap.

Wujud Allah adalah sumber bagi entitas yang ada dan entitas yang akan ada, wujud materi yang bisa dilihat dikembalikan pada wujud mutlak yang bersifat ruhy (immateri/spiritual). Dari sini, Ibn Sab’in memaknai wujud adalah wujud yang bersifat immateri, bukan materi.

Wujud, menurut Ibnu Sab’in, adalah esa, dia adalah satu premis yang di dalamnya mencakup semua sesuatu yang ada, al-haq (sang kebenaran) yang bersama semua sesuatu, di dalam pengetahuan-Nya atas segala sesuatu ada di masa azali dan kekal, ilmu-Nya adalah esensi-Nya… dan dia berkata, “Segala sesuatu yang bisa dicapai oleh akal dan panca indera adalah wujud dan gradasi. Akal adalah gradasi, panca indera adalah gradasi, sementara gradasi adalah musnah dan wujud adalah tetap. Dan yang tetap adalah haq (benar), dan yang musnah adalah illusi dan menipu.

Wahdah al-mutlaqah yang diusung Ibnu Sab’in menentang semua sufi yang berbicara tentang tauhid. Pandangan mereka kaum sufi yang telah membedakan antara tauhid dzat Tuhan, tauhid sifat-sifat Tuhan dan tauhid al-af’al (pekerjaan Tuhan), justru jika diletakkan dalam pandangan Ibnu Sab’in, semuanya itu adalah illusi belaka. Seperti yang telah dikatakannya, “khithabu Allah bi lisani nurihi” (wawasan tentang Allah dengan cahaya lisan-Nya).

Merambah pada dimensi filosofis yang lain, Ibnu Sab’in berpendapat bahwa jiwa dan akal, sebuah misal, tidak ada wujud kedua entitasnya, akan tetapi kedua wujud itu dari wujud yang satu. Keduanya tidak keluar dari kerangka wujud yang satu. Moralitas pun, menurut Ibnu Sab’in, berwarna-warni sesuai dengan warna-warni wahdah al-mutlaqah. Kebaikan, kenikmatan dan kebahagiyaan masuk dalam investigasi dengan yang esa. Kebaikan dan keburukan tidak ada perbedaan sama sekali, jika keduanya ditinjau dari segi hakikat wujud, karena wujud adalah entitas yang esa, dia adalah kebaikan mutlak. Jadi penilaian hitam-putih, benar-salah, dan baik-buruk menjadi absurd. Dan Ibnu Sab’in mengganti “La Ilaha Illa Allah” (tidak ada Tuhan selain Allah) dengan “La Maujuda Illa Allah” (tidak ada maujud selain Allah).

Dalam mengusung wahdah al-mutlaqah, bukan sebatas dengan menggunakan pemikiran rasio dan intuisi an sich, akan tetapi diperkuat dengan argumentasi ayat-ayat al-Quran sebagai pijakannya, seperti firman Allah “Huwa al-Awwalu wa al-Akhiru wa al-Dzhahiru wa al-Bathinu” (Dia (Allah) adalah awwal dan akhir, dzhahir dan bathin), (al-Hadyd: 3). Dan “Kullu syaiin halikun illah wajhah” (Segala sesuatu akan rusak (tidak kekal) kecuali esensi-Nya), (al-Qhashas: 88),

 

b. Tidak ada Pluralisme dalam wujud

 

Manusia berada di dalam alam. Dan semua alam (pluralisme) adalah penyerupaanya. Sementara entitas yang menyerupai dengan sesamanya adalah satu. Maka alam dan manusia adalah satu. Kemudian di dalam pembahasan relasi antara Allah, alam semesta, dan manusia, yang dipersepsikan sebagai entitas-entitas yang mandiri dan berbeda oleh para filsuf, sementara oleh Ibnu Sab’in dipersepsikan sebagai entitas yang satu atau manunggal. Karena wujud adalah Esa. Dan semua dualisme dan pluralisme di dalam wujud adalah tidak tepat dan illusi, maka tidak ada yang kekal segala sesuatu kecuali wujud mutlak yang meliputi semua entitas, di mana entitas esensi bagi semua maujud dan entitas-entitas lain adalah Allah. Dan al-Haq adalah sebab bagi segala yang maujud.

Akhirnya sang pencari kebenaran sejati sudah tidak menoleh pada bilangan, uraian-uraian, nama-nama, perdebatan, celaan, cemoohan, sikap ingin menang dan mengalahkan. Karena orang-orang yang sudah sampai kepada level atau tingkatan ini, berpandangan bahwa entitas yang mengetahui (al-‘alim) dan entitas yang diketahui (al-ma’lum) adalah satu, serta entitas yang mempersepsi dan entitas yang dipersepsikan adalah satu. Jadi pluralisme disini dalam satu pembahahasan yang bertolak.

 

c. Ittihad

Orang yang membenci Ibnu Sab’iin berpendapat bahwa Konsepsi ittihad yang di yakini ibnu sab’iin telah mengantar pada kematianya yang misterius, dikatakan meninggalnya beliau dengan bunuh diri, karena karena didorong oleh cinta yang tidak bisa dibendung untuk segera bersatu dengan Tuhan (ittihad). Pendapat ini tidak sesuai dengan pengetahuan kita tentang ittihad, di mana para asketis yang beraliran itthad tetap memperkukuh kehidupannya, dengan tanpa “perlu” untuk bunuh diri. Ibnu Sab’in wafat dengan bunuh diri. Selain itu, terkait kematianya banyak sekali pendapat, ada yang mengtakan bahwa meninggalnya akibat diracun dan sebagainya, namun yang pasti bahwa kematianya tidak wajar.

 

Karena menurut Ibnu Sab’in kesatuan eksistensi adalah kriteria bagi eksistensi pemahaman, pemeriksaan terhadap berbagai fenomena yang ada akan bertentangan dengan kesatuan tersebut, sehingga akan berarti postulasi dari ide Tuhan yang unggul dan terpisah dari ciptaannya . Dalam konsep Ibnu Sab’in tentang kesatuan eksistensi mutlak, berikut ini yang Ibn al-‘Arabi, pemisahan Allah dari ciptaan-Nya tidak dapat diterima. Dia menyajikan ‘intelek’ dan ‘diri’ sebagai alat yang membawa kita ke ilahi. Dalam teori ini, Ibnu Sab’in kritis terhadap pendahulunya yang memandang pikiran atau intelek sebagai tidak lebih dari sarana untuk perolehan pengetahuan; ia memandang akal sebagai asal ilahi. pertahanan-Nya dari teori ini didasarkan pada hadis Nabi (tradisi) bahwa “hal pertama yang Allah ciptakan adalah akal.

Allah kemudian mengatakan itu untuk maju yang dilakukannya, dan kemudian mengatakan itu pergi yang juga melakukan.” Ibnu Sab’in upaya untuk menunjukkan kemungkinan intelek menghubungi ilahi didasarkan pada hubungan ini, yaitu bahwa akal adalah ciptaan ilahi dan dengan demikian pikiran dapat secara langsung dan tanpa berkomunikasi mediasi dengan asal-usulnya. Upaya filsuf ‘untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi pengetahuan melalui melakukan kontak dengan intelek aktif adalah usaha kurang ambisius dibandingkan dengan para Sufi, yang membuat kesatuan dengan Tuhan masalah utama mereka.

 

III. PENUTUP

 

Teosof kita, Ibnu Sab’in semasa hidupnya dimarginalkan oleh masyarakat yang ada di tanah air dan hampir semua negara (daulah) menampik kehadirannya. Marginalisasi adalah ongkos bagi Ibnu Sab’in dalam mempertahankan kebenaran. Tidak berlebihan juga dikatakan bahwa di dunia ini, tidak ada yang geratis, kebenaran dan kemajuan niscaya meminta ongkos mahal. Karena marginalisasi, sebagai ongkos, tetap lebih mahal sebuah kebenaran dan kemajuan yang sedang diperjuangkan.

 

Dari kesimpulan konsep penyatuan mutlak/ wihdatul al mutlaqah, dan ittihad dalam teori Ibnu Sab’in adalah diri, seperti akal, adalah ciptaan ilahi. Jalan yang mengarah ke penyatuan dengan Tuhan, maka, didasarkan pada penemuan diri atau, lebih tepatnya, penemuan rahasia yang Allah telah dipercayakan kepada kita. Penyatuan dengan Tuhan dengan demikian pengalaman internal yang tidak mengikuti rekening filsuf ‘. Untuk sementara para filsuf melihat jalan kepada Tuhan sebagai masalah bukti, Ibnu Sab’in melihat seperti jalan sebagai masalah pengalaman didasarkan pada penemuan tertentu di mana kebenaran menjadi jelas, sehingga sufi merasa bahwa Tuhan lebih dekat dengan baginya daripada urat nadi sendiri nya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV. DAFTAR PUSTAKA

 

alislamnet-tarbiyah07.blogspot.com inggris islama

Abdul Qodir al-Jaibuni. Koreksi Terhadap Tasawuf. Gema Insani Press. Jakarta. 1996. aanchoto.com

Abu Bakar Aceh. Sejarah Filsafat Islam. Solo. 1982.

Dr. Abdul al-Qadir Mahmud, al-Falsafah al-Sufiyyah Fi al-Islam, Dar el-Fikr al-Arabi Hawasli Abdullah. Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokohnya. Al-Ikhlas

uged.wordpress.com uged

www.scribd.com

under arsip:  Perkulihan.com.

MAKALAH IBNU SABI’IN Kesatuan Mutlak, Pluralisme, ittihad