Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Prestasi Belajar Bidang Studi Akidah Akhlak

under arsip:  Perkulihan.com.
Judul Artikel /makalah :  makalah tentang Prestasi Belajar Siswa materi akidah akhlak
Bidang  artikel /makalah  : tugas makalah  pendidikan, makalah evaluasi belajar siswa tentang akidah akhlak.

Prestasi Belajar Bidang Studi Akidah Akhlak

oleh : HIMATUL ALIYAH

  1. Pengertian Prestasi Belajar Aqidah Akhlak

Baban Sarbana dan Dian Diana mengemukakan bahwa :

“Prestasi adalah pemanfaatan secara optimal kemampuan kita untuk melebihi rata-rata”.[1] Dalam kamus bahasa Indonesia prestasi berarti “hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan)”.[2]

 

Sementara itu Anas Sudijono mengemukakan :

“Prestasi belajar adalah pencapaian anak didik terhadap materi yang telah mereka terima dalam proses pendidikan dalam jangka waktu terentu”.[3]

 

Disebutkan dalam kurikulum pendidikan dasar berciri khas Agama Islam disebutkan bahwa mata pelajaran Aqidah Akhlak merupakan program minimal yang dialokasikan satu jam pelajaran seminggu dan diorganisasikan ke dalam catur wulan.[4]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar mata pelajaran aqidah akhlak adalah hasil maksimal yang telah diperoleh berupa nilai melalui proses pendidikan dan pengalaman khusus mata pelajaran aqidah akhlak.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Masalah prestasi belajar anak memang komplek, artinya bahwa prestasi belajar itu tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang dan sebaiknya jangan terlampau cepat mengatakan bahwa bila anak menampilkan prestasi yang buruk di sekolah, ia adalah kurang mampu mengikuti pelajaran, atau ia adalah anak yang bodoh. Banyak faktor yang mempengaruhi prestasi di sekolah. Faktor-faktor tersebut dapat berasal dari si anak sendiri, tetapi dapat pula berasal dari luar diri 2€nak.

Dari sekian banyak faktor tersebut, orang tua dalam banyak hal menempati peranan yang cukup penting. Hal ini sebenarnya dapat dimengerti, karena orang tua merupakan tokoh yang penting dalam kehidupan seorang anak. Jadi tidaklah mengherankan apabila orang tua memberikan pengaruh yang luas pula terhadap diri anak, yaitu terutama dalam perkembangan kepribadian atau akidah si anak.

Jamaludin berpendapat, bahwa kondisi-kondisi tertentu sekolah menentukan performa akademik siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut diidentifikasi oleh Jamaludin, ada dua belas. Sembilan dari dua belas karakter tersebut secara langsung berhubungan dengan siswa dan kelas.

Adapun dua belas karakter yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, yaitu :

  1. Guru

Guru merupakan elemen yang terpenting dalam sebuah system pendidikan. Ia merupakan ujung tombak. Proses belajar siswa sangat dipengaruhi oleh bagaimana siswa memandang guru mereka. Kepribadian guru seperti memberi perhatian, hangat, dan suportif (memberi semangat), diyakini bisa memberi motivasi yang pada gilirannya meningkatkan prestasi siswa.

  1. Harapan yang tinggi

Harapan atau keyakinan tidak harus datang dari diri sendiri tapi juga orang lain, dari harapan-harapan, do’a-do’a dan keyakinan orang lain baik orang tua, teman, guru atau siapa saja. Secara psikologis seseorang akan melakukan apa yang orang lain harapkan untuk ia lakukan.

Karenanya, tantangannya adalah bagaimana sekolah menemukan keseimbangan; menguak potensi siswa tanpa secara berlebihan memacu mereka sehingga mereka justru merasa khawatir mengalami kegagalan. Dengan menetapkan standar sebuah prestasi yang bisa mereka capai sesuai dengan kemampuan mereka, kemungkinan besar semua siswa dapat meraih kesuksesan dan sekaligus pengakuan terhadap prestasi mereka.

  1. Melibatkan siswa

Upaya melibatkan siswa telah menjadi fenomena yang cukup berkembang dalam dunia pendidikan akhir-akhir ini. Siswa akan belajar efektif bila kurikulum dikembangkan secara gradual berdasarkan kebutuhan dan kepentingan siswa. Karena siswa yang memiliki masalah dengan perilakunya merasa tersisihkan jika kurikulum yang diajarkan kepada mereka tidak di desain sesuai dengan kebutuhan mereka. Terlebih lagi jika peraturan-peraturan sekolah tidak disusun fair dan efektif dengan melibatkan mereka.

Adalah penting melibatkan siswa dalam proses pembuatan keputusan seperti dalam penyusunan kurikulum, peraturan dan hal-hal yang berkenaan dengan desain materi pembelajaran.

  1. Peer-Group

Hubungan yang baik dengan sesama teman mempengaruhi capaian akademik siswa melalui stimulasi dan kondisi belajar yang exlusif yang mendorong siswa untuk bisa dilakukan. Kelompok belajar yang lebih luas akan membentuk suatu mekanisme dan standar perilaku yang mempengaruhi kehidupan kelas atau sekolah. Peer-group secara signifikan mengurangi atau bahkan menghilangkan sifat nakal atau masalah anti-sosial lainnya di sekolah.  Siswa yang berpartisipasi dalam kelonpok yang bersifat kooperatif kemungkinan lebih bisa menerima dan bersifat positif terhadap sesma mereka, lebih bisa saling mendorong terhadap satu sama lain dan mengembangkan perilaku toleran sesama anggota yang kebetulan berasal dari ras atau agama lain.

  1. Kondisi sosial kelas

Setting sosial sangat penting untuk membentuk anak menjadi manusia sempurna. Karenanya aturan-aturan dan norma-norma yang melingkupi interaksi sosial di dalam kelas, seperti kerjasama, menghargai orang lain dan bentuk-bentuk partisipasi positif kelompok merupakan faktor-faktor yang sangat mempengaruhi prestasi akademik.

  1. Keterlibatan orang tua

Peran orang tua dalam pembentukan motivasi dan penguasaan diri anak sejak dini memberikan modal dasar bagi kesuksesan anak di sekolah. Argumentasinya adalah bahwa kualitas hubungan orang tua anak membentuk sikap otonom yang sehat, kompetensi, dan hubungan dengan lingkungan sekitar pada diri anak. Aspek-aspek positif pengembangan diri di atas mendukung internalisasi tujuan dan nilai-nilai masyarakat seperti yang digambarkan di atas.

Peran orang tua terdiri dari tiga jenjang. Pertama, orang tua dapat mendukung perkembangan intelektual dan kesuksesan akademik anak dengan memberi mereka kesempatan-kesempatan dan akses ke sumber-sumber pendidikan seperti jenis sekolah yang dimasuki anak atau akses ke perpustakaan dan televisi pendidikan. Kedua, orang tua dapat membentuk perkembangan kognitif anak dan pencapaian akademik secara langsung dengan cara terlibat langsung dalam aktifitas pendidikan mereka. Ketiga, orang tua membimbing anak mengerjakan pekerjaan rumah, membacakan buku-buku tertentu kepada mereka dan memainkan permainan yang berhubungan dengan pendidikan dan mengajarkan anak norma-norma dalam berhubungan dengan orang dewasa dan teman sebaya yang relevan dengan suasana kelas.

  1. Kesehatan dan kondisi sekolah

Sesungguhnya kesehatan dan belajar ibarat dua sisi mata uang. Kesehatan tidak hanya memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan kebugaran fisik tetapi juga kesempatan untuk meraih model kehidupan yang akan membawa mereka ke kehidupan yang menyenangkan dan produktif. Kesehatan sekolah terdiri dari aspek psikis dan fisik. Aspek psikis berkenaan dengan hubungan-hubungan interpersonal yang hangat dan positif dalam komunitas sekolah, belajar secara bersama, kesempatan yang sama. Aspek fisik menyangkut olah raga yang teratur yang bisa meningkatkan kebugaran tubuh dan fungsi kognitif yang pada gilirannya meningkatkan performance akademik siswa. Melihat hal tersebut maka kesehatan sekolah hendaknya tidak hanya sekedar menjadi perhatian tetapi juga menjadi bagian penting yang dimasukkan ke dalam kurikulum.

  1. Single sex class

Secara rata-rata siswa laki-laki mencapai nilai lebih tinggi dibandingkan siswa perempuan dalam pengetahuan umum, cara berpikir mekanis dan rotasi mental. Semantara itu siswa perempuan melebihi siswa laki-laki dalam bidang penguasaan bahasa dan kecepatan persepsi. Perbedaan prestasi belajar antara siswa laki-laki dan perempuan mempengaruhi beberapa pendidik. Khususnya kaum feminis, untuk menganjurkan kelas dengan kelamin tunggal (single sex classes) tanpa mencampurkan laki-laki dan perempuan. Alasannya sejauh ini pencampuran siswa laki-laki dan perempuan telah gagal memberikan manfaat kepada siswa laki-laki dan perempuan secara seimbang. Sebaliknya, system inÿÿpadaÿÿenyataannya menjadi alat mempertegas privilege laki-laki. Siswa laki-laki diberikan perhatian yang lebih ketimbang perempuan yang pada akhirnya mendominasi diskusi dan interaksi dalam kelas. Di bagian lain single sex class diyakini bisa memberikan perhatian dan keleluasaan yang memadai bagi perempuan untuk berekpresi dan pada gilirannya secara signifikan meningkatkan prestasi mereka. Cara lain yaitu dengan memisahkan siswa menurut jenis kelamin dalam satu semester lain. Hasilnya, guru dan siswa memandang single sex class memiliki keuntungan-keuntungan educational, seperti peningkatan harga diri (self-esteem), disiplin, dan akademis baik bagi siswa laki-laki maupun perempuan.[5]

 

Dari keduabelas faktor-faktor tersebut merupakan elemen terpenting. Guru merupakan ujung tombak dalam proses belajar mengajar yang mempengaruhi bagaimana siswa memandang guru mereka. Harapan yang tinggi, merupakan harapan-harapan seseorang yang akan melakukan apa saja yang orang lain harapkan, seperti orang tua, teman, guru atau siapa saja. Melibatkan siswa, ini berarti siswa di lingkungan pendidikan dilibatkan untuk membuat keputusan dalam penyusunan kurikulum, peraturan dan hal yang berkenaan dengan materi pembelajaran. Keempat, Peer-Group. Kelompok belajar yang lebih luas akan membentuk suatu mekanisme dan siswa yang berpartisipasi dalam kelompok yang bersifat kreatif positif terhadap sesama mereka. Kondisi sosial kelas, kerjasama dan menghargai orang lain adalah faktor yang mempengaruhi prestasi akademik. Keterlibatan orang tua. Peran dan motivasi orang tua adalah modal dasar bagi kesuksesan anak di sekolah. Tiga peran orang tua ada jenjang, pertama sebagai pendukung perkembangan intelektual dan kesuksesan akademik. Kedua, orang tua membentuk perkembangan kognitif anak dan pencapaian akademik secara langsung dengan terlibat langsung dalam aktifitas pendidikan anak. Ketiga, orang tua membimbing anak mengerjakan pekerjaan rumah, membacakan buku-buku yang ada hubungannya dengan mata pelajaran. Kesehatan dan kodisi sekolah, kesehatan sekolah yaitu berkaitan dengan aspek psikis yaitu menyangkut interpersonal yang hangat dan positif dan fisik yaitu menyangkut raga yang teratur yang dapat meningkatkan kebugaran, dan Single sex class, perbedaan jenis kelamin yaitu antara laki-laki dan perempuan dalam pengetahuan. Siswa laki-laki mencapai nilai lebih tinggi dibandingkan siswa perempuan dalam pengetahuan umum.

Utami munandar menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar sebagai berikut[6] :

1)      Kecerdasan

Anak yang memiliki kecerdasan yang relatif lebih tinggi tentu lebih mudah menangkap dan mencerna pelajaran-pelajaran yang diberikan di sekolah daripada anak yang memiliki kecerdasan yang lebih rendah.

2)      Kepribadian si anak

Sikap anak yang pasif, rendah diri, mempunyai kecenderungan agresif dan lain-lain dapat merupakan faktor yang menghambat anak dalam menampilkan prestasi yang diharapkan. Anak seperti ini biasanya dikarakteristikkan sebagai anak yang mempunyai konsep serta harga diri yang kurang baik dan juga tampak kurang ada rasa aman dalam dirinya untuk dapat berprestasi dengan baik.

3)      Motivasi atau hasrat untuk berprestasi

Kurangnya hasrat untuk berprestasi pada anak dapat disebabkan oleh berbagai hal, antara lain; ketidakpuasan terhadap prestasi yang diperoleh, kurangnya rangsangan dari pihak sekolah ataupun orang tua ataupun guru yang terlalu menekankan pada kegiatan intelektual dan kurang memperhatikan pentingnya kegiatan sosial dan juga perkembangan emosi anak.

4)      Lingkungan si anak

  1. lingkungan sekolah

-  guru, tidak jarang di dengar bahwa seorang anak menampilkan prestasi yang rendah karena ia tidak senang dengan sikap ataupun tingkahlaku gurunya. Oleh karena itu sebaiknya seorang guru harus dapat menciptakan suasana yang dapat ikut meninggalkan gairah untuk belajar dan berprestasi dari murid-muridnya.

- Teman-teman, sering juga dilihat anak-anak yang mudah terpengaruh oleh teman-temannya. Di sekolah ia tidak mendengarkan pelajaran yang diberikan oleh guru tetapi sibuk bermain atau memperhatikan teman-temannya. Adanya rasa kurang sesuai dengan teman-temannya di sekolah dapat pula menyebabkan anak enggan ke sekolah, dan ini tentu saja mengakibatkan anak enggan belajar.

-  Situasi belajar, hal ini dapat mempengaruhi prestasi sekolah anak. Misalnya, bagiamana keadaan ruangan yang digunakan untuk tempat belajar, apakah memenuhi syarat agar anak dapat belajar dengan baik. Sebenarnya situasi belajar ini tidak saja di sekolah yang harus diperhatikan, tetapi juga bagaimana situasi belajar di rumah.

  1. lingkungan rumah

Disini termasuk bagaimana hubungan yang terjalin antara anak dengan orang tuanya ataupun dengan saudara-saudaranya. Bagaimana sikap, perhatian, serta minat orang tua terhadap sekolah. Juga bagaimana status sosial ekonomi orang tua. Ada anak-anak yang tak dapat menampilkan prestasi yang baik karena kurangnya waktu untuk belajar. Hal ini disebabkan karena anak harus membantu orang tuanya mencari nafkah.

  1. sikap masyarakat sekitar terhadap sekolah

Apabila masyarakat di sekitar nak itu tidak menganggap bahwa sekolah adalah merupakan suatu hal yang penting, maka hal ini akan mempengaruhi keinginan untuk menampilkan prestasi yang baik di sekolah.

Faktor-faktor tersebut di atas saling berkaitan dalam mempengaruhi prestasi sekolah anak. Oleh karena itu sering dijumpai anak-anak yang sebenarnya cerdas tetapi prestasi sekolahnya buruk. Dengan perkataan lain, anak-anak tersebut tidak menampilkan prestasi sesuai dengan potensi yang dimiliki.

Dalam hal ini Abu Ahmadi berpendapat bahwa prestasi belajar dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu:

  1. Faktor jasmaniah, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh.
  2. Faktor psikologis, baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh, yang teridir atas :
    1. faktor intelektif, yang meliputi :
    2. faktor potensial yaitu kecerdasan dan bakat
    3. faktor kecakapan nyata yaitu prestasi yang dimiliki
    4. faktor non intelektif, yaitu unsure-unsur kepribadian tertentu seperti sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan, motivasi, emosi penyesuaian diri.
    5. Faktor kematangan fisik maupun psikis, yang tergolong faktor eksternal :
      1. Faktor sosial yang terdiri

1)      lingkungan keluarga;

2)      lingkungan sekolah;

3)      lingkungan masyarakat;

4)      lingkungan kelompok.

  1. Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian.
  2. Faktor lingkungan fisik seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim.
  3. Faktor lingkungan spiritual atau keamanan.[7]

 

Pendapat yang hampir sama juga dkemukakan oleh Muhibbin Syah bahwa secara global faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah sebagai berikut :

  1. Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/ kondisi jasmani dan rohani siswa
  2. faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa
  3. faktor pendekatan belajar, yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan-kegiatan pembalajaran materi-materi pelajaran.[8]

Berbagai faktor diperlukan guna mendukung tampilnya prestasi yang sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh anak. Salah satu diantaranya adalah faktor orang tua seperti disebutkan sebelumnya. Hubungan yang serasi dalam keluarga baik antara orang tua dengan anak maupun anggota keluarga lainnya, juga bimbingan serta dorongan orang tua senantiasa dibutuhkan oleh anak terutama bila anak menghadapi berbagai masalah atau kesulitan di sekolah. Dengan demikian dalam hal ini sebaiknya orang tua dapat ikut serta menciptakan iklim berprestasi bagi anak sehingga anak dapat menampilkan prestasi sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh anak itu sendiri.

  1. Usaha-usaha meningkatkan prestasi belajar

Setiap guru maupun orang tua patut diakui bahwa mereka mempunyai iktikad atau maksud yang baik bagi anak didiknya. Bukanlah hal yang mustahil bila kadang-kadang sikap orang tua yang demikian ini dilandasi oleh adanya rasa tanggung jawab yang besar dari orang tua terhadap masa depan anaknya.

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa bila anak tidak dilatih untuk mencapai prestasi sebaik mungkin, maka hal ini dapat membawa anak pada berbagai kesulitan setelah terjun ke masyarakat di kelak kemudian hari. Sehingga bila ditinjau dari sudut orang tua, sikap yang demikian adalah mungkin tidak buruk. Namun bagaimanapun juga hal ini kurang menempatkan anak pada tempat yang sebenarnya. Oleh karena itu bila meninjau kegagalan anak dari sudut si anak itu sendiri, dari apa yang dirasakan oleh anak. Dengan melihatnya dari sudut pandang anak berarti telah menempatkan anak pada proporsi yang sebanarnya yaitu menghargai anak sebagai individu yang uni yang memiliki kemampuan, minat serta pribadi sendiri.

Setiap usaha pasti akan menghasilkan suatu perubahan, sebagaimana firman Allah dalam surat Ar Ra’du ayat 11, yang berbunyi :

 

 

 

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” (Q.S. Ar Ra’d : 11)[9]

Jadi pada dasarnya manusia itu bisa mengubah keadaan yang buruk ke arah yang lebih baik asal mau berusaha. Demikian juga halnya dalam prestasi. seorang siswa dapat berprestasi jika mau berusaha agar mendapatkan nilai yang baik.

Prestasi belajar di sekolah tergantung kepada bagaimana usaha individu untuk dapat meraihnya. Prestasi belajar apabila sudah teraih berarti upaya dalam belajar berhasil atau secara keseluruhan materi telah dipahami dan dikuasai.

Begitu juga dengan mereka yang belum pernah meraih prestasi maka mereka belum sepenuhnya memahami dan menguasai materi yang dipelajari. Untuk meningkatkan prestasi belajar, maka penulis akan menguraikan bagaimana usaha untuk meningkatkan prestasi belajar.

  1. Peningkatan gizi

Peningkatan gizi dimaksudkan bahwa apabila anak mendapatkan gizi yang baik, maka kesehatan akan terjaga. Disamping itu dengan makanan yang bergizi maka kesehatan badanpun akan terjaga. Sehingga kondisi fisik secara umum yaitu panca inderanya dapat menjalankan fungsinya secara baik

 

  1. Motivasi belajar

Motivasi belajar penting bagi siswa dan guru. Bagi siswa pentingnya motivasi belajar adalah sebagai berikut :

1)     Menyadarkan kedudukan pada awal belajar, proses dan hasil akhir;

2)     Menginformasikan tentang kekuatan usaha belajar, yang dibandingkan dengan teman sebaya; sebagai ilustrasi, jika terbukti usaha belajar seorang siswa belum memadai, maka ia berusaha setekun temannya yang belajar dan berhasil.

3)     Mengarahkan kegiatan belajar

4)     Membesarkan semangat belajar

5)     Menyadarkan tentang adanya perjalanan belajar dan kemudian bekerja (disela-selanya adalah istirahat dan bermain) yang berkesinambungan; individu dilatih untuk menggunakan kekuatannya sedemikian rupa sehingga dapat berhasil.[10]

Motivasi belajar juga penting diketahui oleh seorang guru. Pengetahuan dan pemahaman tentang motiasi belajar pada siswa bermanfaat bagi guru, manfaat itu sebagai berikut :

1)      Membangkitkan, meningkatkan dan memelihara semangat siswa untuk belajar sampai berhasil, membangkitkan, bila siswa tak bersemangat, meningkatkan bila semangat belajarnya timbul tenggelam, memelihara, bila semangatnya telah kuat untuk mencapai tujuan belajar. Dalam hal ini pujian, dorongan, atau pemicu semangat dapat digunakan untuk mengobarkan semangat belajar.

2)      Mengetahui dan memahami motivasi belajar siswa di kelas bermacam-ragam; ada yang acuk tak acuh, ada yang tidak memusatkan perhatian, ada yang bermain, disamping yang bersemangat untuk belajar.

3)      Meningkatkan dan menyadarkan guru untuk memilih satu diantara peran seperti sebagai penasihat, fasilitator, instruktur, teman diskusi, penyemangat, pemberi hadiah, atau pendidik.

4)      Memberi peluang guru untuk unjuk kerja rekayasa pedagogis.[11]

  1. Mengembangkan kreatifitas dan bakat anak

Harus diakui bahwa setiap orang berbeda dalam macam kreatifitas dan bakatnya. Memang dalam mengembangkan kreatifitas anak tidak hanya mendukung secara moril tetapi juga perlu adanya sarana agar anak dapat berkembang kreatifitasnya. Tetapi jika itu mendukung dan untuk pencapaian suatu prestasi tidak ada salahnya dukungan secara materiil diberikan. Begitu juga halnya dengan bakat, jika memang anak mempunyai bakat yang baik maka perlu adanya dukungan dari orang tua, guru dan masyarakat untuk tercapaianya suatu prestasi.

Sebagai pendidik, baik orang tua maupun guru, bertanggung jawab terhadap kesejahteraan jiwa anak. Jika orang tua bertanggung jawab terhadap kesejahteraan fisik dan mental anak di rumah, maka di lingkungan sekolah guru terutama bertugas merangsan dan membina perkembangan intelektual anak serta membina pertumbuhan sikap-sikap dan nilai-nilai dalam diri anak.

Dikatakan oleh S.C. Utami Munandar bahwa :

“Orang tua dan guru saling melengkapi dalam pembinaan anak dan diharapkan ada saling pengertian dan kerjasama yang erat antara keduanya, dalam usaha mencapai tujuan bersama yaitu kesejahteraan jiwa anak.”

 

Bagi guru yang akan membina anak berbakat perlu memperoleh informasi dan pengalaman mengenai keberbakatan, tentang apa yang diartikan dengan keberbakatan, bagaimana ciri-ciri anak berbakat, dan dengan cara-cara apa saja kebutuhan pendidikan anak berbakat dapat terpenuhi.

Bagi orang tua hendaklah dapat mengusahakan suatu lingkungan yang kaya akan rangsangan mental dan suatu suasana dimana anak merasa tertarik dan tertantang untuk mewujudkan bakat-bakat dan kreatifitasnya. Kondisi tersebut akan tercipta manakala orang tua menunjukkan minat terhadap hobi tertentu, untuk membaca dan menyediakan cukup bahan bacaan yang bervariasi. Kemudian menyempatkan diri untuk mendiskusikan dengan anak bacaan tertentu atau masalah-masalah yang terjadi. Disamping itu orang tua harus bisa menciptakan lingkungan rumah dimana orang tua berperan serta dalam kegiatan intelektual, atau dalam permainan yang meningkatkan daya pikir anak.

Dan yang lebih penting lagi bahwa orang tua harus memberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk memuaskan rasa ingin tahunya dengan menjajaki macam-macam bidang, namun jangan memaksakan minat-minat tertentu

  1. Bimbingan belajar

Belajar merupakan kegiatan pengajaran di sekolah, maka wajiblah murid-murid dibimbing agar mencapai tujuan belajarnya. Begitu juga dalam keluarga, orangtua dibutuhkan peranannya untuk membimbing anaknya agar dapat mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan belajarnya.

Tujuan bimbingan belajar secara umum adalah membantu anak agar mendapat penyesuaian yang baik di dalam situasi belajar, sehingga anak dapat belajar dengan efisien sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, dan mencapai perkembangan yang optimal.

Fungsi utama dari bimbingan belajar adalah membantu murid dalam masalah-masalah pribadi dan sosial yang berhubungan dengan pendidikan dan pengajaran atau penempatan dan juga menjadi perantara dari siswa dalam hubungannya dengan para guru dan administrasi

  1. Melatih kedisiplinan

Menurut Abu Ahmadi bahwa kebiasaan belajar yang baik, disiplin diri, harus disepagi mungkin kita tanamkan, karena kedua hal ini secara mutlak harus dimiliki anak-anak kita. Kebutuan untuk berprestasi tinggi (n-achievement) harus selekas mungkin kita tanamkan pada diri anak-anak dengan jalan meng-ekspose mereka pada standar pof-excellence”.[12]

Dari pendapat diatas, usaha-usaha yang harus dilakukan disamping memberi motivasi, bimbingan juga membiasakan diri berdisiplin dan menanamkan sedini mungkin karena itu mutlak harus dimiliki oleh anak untuk meraih prestasi.

  1. 2.      Perilaku Siswa
    1. Pengertian Perilaku Siswa

Perilaku merupakan sifat-sifat yang terdapat dalam perbuatan. Hal ini  tentu berhubungan langsung dengan akidah yang dimiliki oleh si anak. Poerwadarminta dalam kamusnya menyebutkan bahwa perilaku adalah perbuatan, tingkah laku, perangai.[13]

Secara bahasa (etimologi) pengertian perilaku berarti Akhlak.[14] Perilaku atau akhlak ini terjadi melalui konsep atau seperangkat pengertian tentang apa dan bagaimana sebaiknya perilaku itu harus terwujud. Konsep atau seperangkat itu disusun oleh manusia di dalam sistem idenya. Sistem ide ini adalah hasil proses (penjabaran) daripada kaidah-kaidah yang dihayati dan dirumuskan sebelumnya (norma yang bersifat normatif dan norma yang bersifat deskriptif). Kaidah atau norma merupakan ketentuan yang timbul dari sistem nilai yang terdapat pada Al Qur’an dan Sunnah yang telah dirumuskan melalui wahyu Ilahi maupun yang disusun oleh manusia sebagai kesimpulan dari hukum-hukum yang terdapat dalam alam semesta yang diciptakan Allah SWT.

  1. Sumber tata nilai perilaku

Sebagaimana diketahui bahwa manusia adalah makhluk ketiga dimensi, yaitu makhluk individu, makhluk Tuhan, dan makhluk sosial. Dengan demikian, maka sumber nilai perilaku manusia juga tidak dapat terlepas dari ketiga dimensi tersebut.

Sebagai makhluk individu, manusia terdiri dari unsur jasmani dan rohani, yang keduanya tidak dapat dipisahkan. Sebagai pribadi manusia bertanggung jawab kepada dirinya baik jasmani maupun rohani. Yang hal itu dapat diwujudkan dalam bentuk upaya penjagaan dirinya dari segala hal yang dapat merugikan dirinya. Disamping itu juga perlu upaya pembinaan kualitas dirinya, sehingga ia akan memiliki suberdaya yang maksimal.

Sebagai makhluk Tuhan, manusia berkewajiban untuk menjalankan segala perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Karena manusia telah diciptakan dengna segala keunikan dan kesempurnaan, yang hal itu adalah merupakan karunia Tuhan, maka manusia berkewajiban untuk bersyukur kepada-Nya yang diwujudkan dengan sikap Taqwa, tawakkal, dzikir dan segala perilaku yang merupakan wujud dari pengabdian manusia kepada Sang penciptanya”.[15]

Dalam kehidupannya di dunia, pada kenyataannya manusia tidak dapat berdiri sendiri dan memenuhi kebutuhannya sendiri. Oleh karenanya manusia membutuhkan orang lain yang akan memantunya dalam rangka memenuhi kebutuhan dan aktifitas yang diperlukannya. Oleh karena ia disebut sebagai makhluk sosial, yang bertanggung jawan terhadap lingkungan sosialnya.

Dari ketiga hal di atas, maka dapat di ketahui bahwa sumber perilaku adalah :

1.   Hati Nurani Individu

Manusia memiliki hati nurani yang menjadi sumber murni dari segala bentuk perilaku yang diperbuatnya. Dengan hati nurani inilah manusia measakan sesal atas segala perbuatan yang dilakukan, karna hati nurani dapat dijadikan alat  selesai terhadap tingkah laku yang di perbuat akibat dorongan-dorangan dari luar yang mempengaruhi dirinya.

  1. Lingkungan

Dalam mempengaruhi kehidupanya di dunia, manusia tidak dapat lepas dari pengaruh lingkungan yang ada di sekelilingnya. Lingkungan inilah yang akan dapat membentuk manusia sehingga ia memiliki perilaku yang beragam, kualitas yang beragam, serta karekteryang beragam. Dalam melakukan interaksi sosial manusia dituntut untuk mengikuti norma yang ada pada lingkungan soaialnya. Karena jika tidak demikian ia dikucilkanoleh masyarakatnya. Disinilah letak peran lingkungan dalam bentuk perilaku kehidupan manusia. Dari sini pula dapat di buktikan, bahwa manusia tidak pula dapat di buktikan, bahwa manusia tidak dapat lepas dari lingkungannya, meskipun secara vegetatif ia dapat hidup sendiri.

  1. Agama

Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan, yang bertanggung jawab terhadap penciptanNya. Pertanggungjawaban  manusia kepada Tuhannya diwujudkan dalam tindakan yang harus berstandarkan syariat agama yang merupakan wujud hukum ilahi, yang menjadi aturan dasar dan sumber perilaku kehidupan manusia di muka bumi.

Menurut Arifin, dalam pandangan Islam, sejak lahir manusia telah memiliki naluri ketuhanan yang di sebut juga fithrah. Yang mana karena pengaruh lingkungannya, manusia dapat bertentangan dengan fithrahnya. Untuk itu manusia dituntut untuk senantiasa berpegang pada fithrahnya.[16]

Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa manusia sejak lahir mempunyai naluri ketuhanan yaitu dengan memiliki potensi yang dapat dibimbing menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa sebagaimana pada saat mereka lahir dalam keadaan suci.

  1. Macam-macam Perilaku dalam Islam

Sebagai makhluk Tuhan, manusia berkewajiban untuk menjalankan segala perintah dan meninggalkan larangannya. Karena  manusia telah di ciptakan dengan segala keunikan dan kesempurnaan, yang hal itu adalah merupakan karunia Tuhan, maka manusia berkewajiban untuk bersyukur kepada-Nya yang diwujudkan dengan sikap Taqwa, tawakkal dzikir dan segala perilaku yang merupakan wujud dari pengbdian manusia kepada sang penciptanya.

Adapun macam-macam perilaku dalam Islam antara lain sebagai berikut :

  1. Shalat

Shalat dalam ajaran Islam mempunyai kedudukan yang sangat penting, terlihat dari pernyataan-pernyataan dalam Al Qur’an dan Sunnah, yang antara lain sebagai berikut :

1)      Shalat dinilai sebagai tiang agama

2)      Shalat merupakan kewajiban yang paling pertama diturunkan kepada nabi, yaitu dalam peristiwa isra’ mi’raj

3)      Shalat merupakan kewajiban universal, yang telah diwajibkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad Saw

4)      Shalat merupakan wasiat terakhir Nabi Muhammad saw

5)      Shalat merupakan ciri penting dari orang yang takwa

6)      Shalat merupakan ciri dari orang berbahagia

7)      shalat mempunyai peranan untuk menjauhkan diri dari pekerjaan jahat dan mungkar[17]

Dari pendapat tersebut dapat diketahui bahwa, shalat disamping merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman juga sangat berpengaruh kepada perilaku bagi yang melaksanakan. Shalat akan mempengaruhi perilaku seseorang dalam kehidupannya. Sebab dengan melakukan shalat membuktikan bahwa dirinya taat kepada perintah-Nya. Sehingga tata cara berperilakupun akan tercermin apabila benar-benar telah melakukan shalat.

Sebagai bukti, bahwa orang yang melaksanakan shalat dibandingkan mereka yang tidak melaksanakan shalat dapat dilihat dalam sikap dan berperilaku. Bagi yang melaksanakan shalat paling tidak akan mendapat pertolongan dari Allah SWT. baik dihidarkan dari segala musibah, bencana dan sebagainya. Dan tentu saja bagi yang meninggalkan shalat, pertanda mereka menjauh dari Allah. Oleh karena jika tidak melaksanakan perintah-Nya, maka Allah tidak akan menolongnya, memberi petunjuk jalan dan sebagainya.

  1. Puasa

Pelaksanaan ibadah puasa merupakan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah. Oleh karena itu merupakan pertanggungjawaban langsung kepada Allah SWT atau ibadah yang menyangkut aspek hablum minallah. Meskipun demikian kalau dilihat dari kegiatan peribadatan lainnya yang berhubungan dengan puasa seperti niat, sikap mental dan perilaku tertentu, shalat sunnat tarawih, membaca dan mempelajari Al Qur’an, yang umumnya dilakukan bersama-sama, maka puasa juga mempunyai akibat yang berhubungan antara manusia dengan manusia lain.

Dilihat dari fungsinya, puasa sangat berpengaruh pada kehidupan pribadi manusia. Karena dengan puasa mendorong seseorang akan melatih dirinya dengan mengekang hawa nafsu jasmaniah, timbulnya simpati rasa kebersamaan, semangat untuk menolong orang lain dan memajukan masyarakat sekitarnya, sehingga terhindar dari suatu perasaan penderitaan yang dilambangkan oleh perasaan lapar dan dahaga, ikut merasakan bagaimana kehidupan fakir miskin yang serba kekurangan.

Bagi umat Islam kegiatan puasa sesuai apa yang telah disyariatkan oleh Allah SWT dalam syariat Islam. Karena tujuan puasa adalah untuk meningkatkan ketaqwaan. Hal ini tercantum dalam Al Qur’an sebagaimana firman Allah :

 

 

 

 

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah : 183)[18]

 

Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa puasa merupakan kewajiban bagi orang yang beriman sebagaimana yang dilakukan orang beriman sebelumnya. Maka jelas bahwa puasa akan berpengaruh kepada kehidupan pribadi. Oleh karenanya akan berpengaruh pula dalam berperilaku dalam kehidupan beragama.

  1. Tolong menolong sesama

Tolong menolong sesama sangat dianjurkan dalam Islam, karena dengan tolong menolong akan meringankan beban. Apabila sejak dini anak dibiasakan hidup saling tolong menolong, maka pada masa dewasanya akan terbiasa hidup saling tolong menolong. Hal ini sesuai dengan perintah Allah dalam Al Qur’an Surat Al Maidah ayat 2 yang berbunyi :

 

 

 

 

Artinya : “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

 

Dari ayat tersebut di atas dapat diketahui bahwa tolong menolong hendaknya dalam hal kebajikan dan takwa tetapi jangan tolong menolong untuk berbuat dosa dan pelanggaran.

  1. Menghormati kepada sesama

Rasa hormat menghormati kepada sesama sangat dianjurkan dalam Islam sebab dengan menaruh rasa hormat kepada sesama berarti membentuk rasa cinta, saling tolong menolong dan mementingkan orang lain termasuk menghilangkan sifat dengki. Hal ini tentunya akan menjamin kebagiaan hidup karena hal tersebut merupakan pekerjaan yang paling disukai Allah setelah pekerjaan lainnya. Bahkan merupakan salah satu jalan mendapatkan ampunan dan menuju surga.



[1] Baban Sarbaba dan Dian Diana, Ampuh Menjadi Cerdas Tanpa Batas (Jakarta, PT. Elexmedia Komputinda Kelompok Gramedia, 2002) hlm. 26-27.

[2] Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum bahasa Indonesia (Jakarta, Balai Pustaka, 2002) Cet. XVII hlm. 768.

[3] Anas Sudijono, Tehnik Evaluasi Pendidikan (Jakarta, UD. Rama, 1986) hlm. 30.

[4] Departemen Agama RI, Kurikulum Pendidikan Dasar Berciri Khas Agama Islam (Jakarta, Dirjen. Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1995) hlm. 46

[5] Jamaludin, Pembelajaran yang Efektif -Faktor-faktor yang mempengaruhi Prestasi Siswa, (Semarang, CV. Mekar Jaya, 2003) Cet. 3 halaman 35

[6] Utami Munandar, SC., Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Petunjuk Bagi para Guru dan Orang Tua, (Jakarta: PT. Gramedia1985)  hlm. 18- 20

[7] Abu Ahmadi,dan Drs. Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta, Rineka Cipta, 1991) halaman 130-130

[8] Muhibbin Syah, PsikologiPendidikan Dengan Pendekatan Baru, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 2000) Cet. V halaman 132.

[9] Departemen Agama RI., Al Qur’an dan Terjemahnya (Semarang, CV ASY-SYIFA’, 1992) halaman 370

[10] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta, Rineka Cipta, 2002) Cet II halaman 85

[11] Ibid., halaman 86

[12] Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan (Jakarta, Rineka Cipta, 1991) halaman 99

[13] Poerwadarminta, W.J.S., Op Cit., halaman 554.

[14] Abu Ahmadi dan Noor Salimi, Dasar-dasar Pendidikan Agama Islam (Jakarta, Bumi Aksara, 1994) Cet. 2, halaman 198

[15] Amin Syukur, H.M., MA., Pengantar Studi Islam, (Semarang, Duta Grafika & Yayasan Study Iqra’, 1993) halaman 128.

[16] Arifin, H.M., Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama (Jakarta, Bulan Bintang, 1978) halaman 27.

[17] Drs. H. Abu Ahmadi dan Drs. Noor Salimi, Op Cit., hlm. 149-150

[18] Depag. RI., Op Cit., halaman 44