Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah Mahabbah Rabi’ah al Adawiyah

Perkuliahan.com Rabiah adalawiyah merupakan seorah zahidah yang sangat terkenal dengan konsep mahabbah / cinta. Sufi perempuan basrah ini melajang sampai akhir hayatnya dikarenakan mahabbahnya pada Allah telah menutup cinta kepada makhluk. dalam makalah ini akan dijelaskan lebih lanjut mengenai siapa Rabiah Adawiyah yang sangat masyhur dalam dunia sufi.

makah ini dengan judul ” Mahabah Rabiah Al Adawiyah “

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.      Latar Belakang

Konsep cinta para sufi yang telah menempati posisi yang sangat tinggi dalam hal ketaatan dalam bentuk yang lebih subtansial yaitu ketaatan dengan didasari rasa cinta. hal ini yang menjadikan ibadah dan pendekatan diri seorang sufi melebihi penghambaan hamba pada umunya terutama bagi kalangan hamba yang mendekati Tuhan dengan jalan Syariat.

sebenarnya para sufi yang telah melakukan pendekatan diri pada Allah dengan jalan tersendiri ini merupakan satu konsep pendekatan yang melibatkan unsur kholik dan makhluk, dan diantara yang tergabung dalam konsep ini seperti wihdatul wujud, hulul dan sebagainya. namun ada dikalangan sufi yang sangat menarik dalam hal pendekatan dengan sang kholik yaitu dengan konsep cinta. hal ini yang telah dilakukan oleh seorang sufi suci dari Basrah, yaitu Rabiah Al Adawiyyah.

  1. 2.      Rumusan Masalah

Dari latar belakang dan pembatasan masalah diatas, sehingga dapat dirumuskan beberapa masalah :

  1. Bagaimana Riwayat Hidup Rabiah Al-Adawiyah?
  1. Bagaimana Pengertian dan Batasan tentang al-Mahabbah?
  2. Bagaimana Mahabbah Menurut Rabi`ah?
    1. 3.      Tujuan masalah
  1. Bagaimana Pengaruh Mahabbah Rabiah Al-Adawiyah Dalam Pengembangan Tasawuf?
  2. Bagaimana Konsep al-Ittihad dalam teorinya Abu Yazid al-Bustami?

Tujuan dalam penulisan makalah ini untuk mengetahui :

  1. Riwayat Hidup Rabiah Al-Adawiyah
  1. Pengertian dan Batasan tentang al-Mahabbah
  2. Mahabbah Menurut Rabi`ah
  1. Pengaruh Mahabbah Rabiah Al-Adawiyah Dalam Pengembangan Tasawuf
  2. Konsep al-Ittihad dalam teorinya Abu Yazid al-Bustami

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    RABI`AH AL-`ADAWIYYAH (AL-MAHABBAH)

 

  1. 1.      Riwayat Hidup Rabi`Ah Al-`Adawiyyah

Rabi`ah al-`Adawiyyah diperkirakan lahir pada tahun 95 H/713 M dan wafat 185 H/801 M. Menurut Ibrahim Zaki Khursyid dkk., bersamaan dengan Hasan Bashri mengawali halaqah atau majlis ta`limnya. Nama panjang beliau Ummul Khayr binti Ismail Rabi’al al-Adawiyyah al-Basriyyah.Beliau dilahirkan di suatu perkampungan di luar Bashrah (Irak). Kedua orang tuanya dari keluarga fakir dan sudah meninggal saat Rabi`ah muda. Dikisahkan kota Bashrah telah cukup lama dikuasai oleh pasukan Islam pada masa Khalifah `Umar bin al Khattab (memerintah 634 – 644 M). Sudah lama Bashrah merupakan kota pelabuhan yang ramai dan makmur di Teluk Persia. Karena Bashrah merupakan tempat pertemuan beberapa ras dan suku bangsa. Oleh karena itu, terdapatlah akulturasi dan perbenturan banyak aliran pemikiran dan keyakinan.

  1. 2.      Pengertian dan Beberapa Batasan tentang al-Mahabbah (al-Hubb)

Secara bahasa al-mahabbah diartikan mayl al-thab` ilaa al-syay’ al-laadzdz atau suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang melezatkan/ mengenakkan.  Berikut pengertian al-mahabbah dari para tokoh, antara lain:

  • Menurut al-Qusyayri al-mahabbah/al-hubb diambil dari kata habab (gelembung air) yang selalu di atas air, karena cinta merupakan puncak segalanya dalam hati. Juga merupakan sesuatu yang melambung di atas air ketika hujan turun. Di atas cinta ini hati terasa mendidih dan semakin meluap saat haus serta berkobar kerinduannya untuk bertemu kekasihnya. Di samping itu, al-hubb diambil dari al-habb, sebagai bentuk jamak kata al-habbah (biji). Sedang biji hati, sebagai sesuatu yang berada dan menetap dalam hati, sehingga al-habb (biji-bijian) dinamakan al-hubb (cinta), karena yang dimaksud adalah tempatnya.
  • Menurut al-Hujwiri al-mahabbah/al-hubb terambil dari kata al-hibbah, merupakan benih-benih yang jatuh ke bumi di padang pasir. Kata ini ditujukan kepada benih-benih di padang pasir tersebut (al-hibb), karena cinta itu sebagai sumber kehidupan sebagaimana benih-benih itu merupakan asal mula tanaman.
  •  Menurut asy-Syibli cinta itu dinamakan al-mahabbah, karena ia menghapus dari hati, segala sesuatu kecuali yang dicintainya.
  • Menurut Ibn Abd al-Shamad, juga dikutip oleh al-Kalabadzi, cinta itu mendatangkan kebutaan dan ketulian; cinta membutakan segalanya, kecuali terhadap Yang Dicintai, sehingga orang itu tidak melihat apapun kecuali Dia.
  • Menurut ulama salaf, kecintaan seseorang kepada Allah itu suatu kondisi yang dirasakan hatinya, yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sementara.
  • Menurut Harun Nasution: Al-Mahabbah adalah cinta dan yang dimaksud ialah cinta kepada Tuhan. Pengertian yang diberikan kepada mahabbah antara lain, yang berikut:
  1. Memeluk kepatuhan pada Tuhan dan membenci sikap melawan  padaNya.
  2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
    1. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari diri yang dikasihi”.
  • Menurut Asmaran AS dalam Pengantar Studi Tasawuf:
    Sesungguhnya mahabbah itu bersumber dari iman. Karena itu, dari imanlah orang dapat mencintai Allah sebagai cinta tingkat pertama, kemudian baru cintanya kepada sesuatu yang lain. Dengan demikian, berarti orang yang mencintai Allah, tidak akan mengorbankan hukum Allah karena kepentingan pribadinya. Dan sebagai konsekuensi dari cintanya kepada Allah, ia juga mencintai rasul-Nya, dan juga harus mencintai seluruh makhluk-Nya. Asmaran As membagi al-mahabbah menjadi 3 (tiga) tingkatan
  1. Cinta orang banyak (biasa), yakni mereka yang sudah kenal pada Tuhan dengan zikr, suka menyebut nama-nama Allah dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Tuhan. Senantiasa memuji Tuhan.
  2. Cinta para mutahaqqiqin, yaitu mereka yang sudah kenal pada Tuhan, pada kebesaranNya, pada kekuasaanNya, pada ilmuNya dan lain sebagainya. Cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dengan Tuhan. Dengan demikian ia dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Ia mengadakan dialog dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta yang kedua ini membuat orangnya sanggup menghilangkan kehendak dan sifat-sifatnya sendiri, sedangkan hatinya penuh dengan perasaan cinta pada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya.
  3. Cinta para siddiqin dan ’arifin, yaitu mereka yang kenal betul pada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk ke dalam diri yang mencintai .

Dari pandangan para tokoh sufi tentang pengertian mahabbah bahwa  cinta itu kecenderungan hati. Artinya, hati cenderung kepada Tuhan dan apa yang berhubungan dengan-Nya tanpa dipaksa. Tokoh lain menambahkan, cinta itu penyesuaian, yaitu kepatuhan atas apa yang diperintahkan oleh Tuhan, menjauhkan apa yang dilarang oleh-Nya dan puas dengan apa yang ditetapkan dan diatur oleh-Nya.

  1. 3.      Mahabbah Menurut Rabi`ah

Rabi`ah dinilai orang pertama yang menyatakan doktrin cinta tanpa pamrih kepada Allah atau pelopor agama cinta (mahabbah). Di dalam sejarah perkembangan tasawuf, hal ini merupakan konsepsi baru di kalangan para sufi kala itu. Karena itulah ia disebut ” The Mother Of The Grand Master ” / Ibu para sufi besar. Pada suatu waktu Rabi`ah ditanya pendapatnya tentang batasan konsepsi cinta. Rabi`ah menjawab: Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan.Cinta muncul dari keazalian (azl) dan menuju keabadian (abad), Ada 2 (dua) batasan cinta yang sering dinyatakan Rabi`ah.
1.   Sebagai ekspresi cinta hamba kepada Allah, maka cinta itu harus menutup

selain Sang Kekasih atau Yang Dicinta. Dengan kata lain, maka :

  1. dia harus memalingkan punggungnya dari dunia dan segala daya tariknya.
  2. dia harus memisahkan dirinya sesama makhluk ciptaan Allah, supaya dia tak bisa menarik dari Sang Pencipta.
  3. dia harus bangkit dari semua keinginan nafsu duniawi dan tidak memberikan peluang adanya kesenangan dan kesengsaraan. Karena kesenangan dan kesengasaraan dikhawa-tirkan mengganggu perenungan pada Yang Maha Suci.

2. Kadar cinta kepada Allah itu harus tidak ada pamrih apapun. Artinya, seseorang tidak dibenarkan mengharapkan balasan dari Allah, baik ganjaran (pahala) maupun pembebasan hukuman, Dan melalui jalan cinta inilah, jiwa yang mencintai akhirnya mampu menyatu dengan Yang Dicintai dan di dalam kehendak-Nya itulah akan ditemui kedamaian.

Rabi`ah menyatakan 2 (dua) macam pembagian cinta, sebagai puncak tasawufnya dan dinilai telah mencapai tingkatan tertinggi dalam tahap cinta. Pembagian cinta tersebut, lariknya adalah: Aku mencintai-Mu dengan dua cinta Cinta yang timbul dari kerinduan hatiku dan cinta dari anugrah-Mu, Adapun cinta dari kerinduanku Menenggelamkan hati berzikir pada-Mu daripada selain Kamu, Adapun cinta yang dari anugrah-Mu Adalah anugrah-Mu membukakan tabir sehingga aku melihat wajah-Mu Tidak ada puji untuk ini dan untuk itu bagikuAkan tetapi dari-Mu segala puji baik untuk ini dan untuk itu”.(hamka : hal tasawuf Rabiah pada dasarnya ekstrim rohaniyah, maka dalam pembagian cinta, Rabi`ah-lah orang yang merintis untuk membelokkan ajaran Islam ke arah mistik yang ekstrim rohaniyah. Dialah pelopor yang memperkenalkan cita ajaran mistik dalam Islam. Dimaksud, terbukanya tabir penyekat alam ghaib, sehingga sang sufi akan bisa menyaksikan dan mengalami serta berhubungan langsung dengan dunia ghaib dan zat Allah.

Cinta Rabi`ah tidak muncul begitu saja, tanpa suatu proses. Dalam penelusuran Muhammad Atiyah Khamis, dulu Rabi`ah mencintai Allah sebagaimana lazimnya kebanyakan umat Islam, yaitu didorong karena mengharapkan surga Allah dan sebaliknya takut akan neraka-Nya. Ini ternyata jelas melalui pertanyaan doa Rabi`ah kepada Allah, yaitu … “O, Tuhan, apakah Engkau akan membakar hamba-Mu di dalam neraka, yang hatinya terpaut pada-Mu, dan lidahnya selalu menyebut-Mu, dan hamba yang senantiasa takwa pada-Mu.

Sesudah Rabi`ah menyadari bahwa landasan cinta seperti itu dianggap cinta yang masih sempit, Rabi`ah meningkatkan motivasi dirinya sehingga dia sampai luluh dalam cinta Ilahi. Artinya, dia mencintai Allah karena memang Allah patut untuk dicintai, bukan karena ketakutan terhadap neraka ataupun disebabkan mengharapkan surga-Nya. Terus ada peningkatan lagi. Dia justru minta dibakar api neraka, jika menyembah Allah karena takut neraka dan sekaligus mengharamkan surga, kalau dia mengharapkan surga. Atas dasar cinta dalam penyembahan Allah, dia berkata, limpahkanlah ganjaran yang lebih baik. Dia minta diberi kesempatan melihat wajah Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia, hingga merasa bahagia berada dekat dengan Allah pada hari kebangkitan. mengharap keridlaan Allah saja. “Wahai, Tuhan! Apabika aku beribadah kepada-Mu hanya karena takut kepada neraka-Mu maka bakarlah aku di neraka-Mu. Dan apabila aku beribadah kepada-Mu hanya menginginkan surga-Mu maka keluarkanlah aku dari surga-Mu. Tetapi, jika aku beribadah kepada-Mu hanya untuk-Mu semata, berikanlah kepadaku keindahan-Mu yang abadi “. Begitu tingginya kadar kecintaan Rabi`ah kepada Allah hingga pada gilirannya, dia menilai tidur itu tidak saja sebagai bagian dari rangkaian mata rantai ibadahnya, akan tetapi juga sekaligus sebagai musuhnya yang telah menyebabkan berkurangnya ibadah. Bahkan dalam solatnya selama 30 tahun ia selalu berdoa ” Tenggelamkanlah aku didalam kecintaanMu supaya tidak suatupunyang dapat memalingkan aku dariMu “. Begitu terpusatnya cinta Rabi`ah kepada Allah, pada gilirannya cinta bagi Rabi`ah adalah fanaa’ kepada Allah, hanya tertuju kepada-Nya. Cinta bagi Rabi`ah itu tenggelam dalam renungan mengenai Allah dan berpaling daripada segala makhluk, hingga tidak ada lagi dalam jiwanya perasaan marah atau benci terhadap musuh.Tujuan akir tasawufnya adalah penyatuan denganNya.

Tasawuf di tangan Rabi`ah telah menimbulkan revolusi rohani. Islam sebagai agama yang cinta iman dan amal shaleh, oleh Rabi`ah dengan 2 (dua) macam cintanya diubah menjadi cinta rindu, berzikir pada Allah, melupakan semuanya, dengan segala konsekuensinya. Tujuan hidup mencari akhirat dinilai sebagai tabir menyesatkan yang wajib dilenyapkan. Harapan surga dan takut neraka dihina sebagai pedagang mencari laba dan ganti rugi. Padahal cinta Islam adalah agar zikir, pikir untuk amal dengan etos kerja tinggi untuk membangun dunia (Q. S. Al-Baqarah: 126), diganti jadi zikir dan merenung. Zikir sebagai pengendalian diri secara bertanggung jawab digeser jadi wasilah atau sarana meditasi, menyongsong terbukanya tabir ghaib dan anugerah fanaa` fi Allah.

Menurut Ibrahim Hilal Konsep cinta Ilahi-nya Rabi`ah sangat jauh dari spirit al-Qur’an karena anggapan bahwa puncak kenikmatan tertinggi adalah penyaksian zat Yang Maha Esa serta berkomunikasi langsung dengan-Nya. Orientasi cinta Ilahi akan membuahkan perenungan tentang penyaksian zat Yang Maha Tinggi, dengan konsekuensi, antara lain, pengabaian janji dan ancaman Allah. Ini akan mengakibatkan stagnasi (kemandegan) kehidupan duniawi manusia, terhentinya proses dinamika pemikiran manusia dan kegagalan seluruh kegiatan pengajaran dan ilmu.

  1. 4.      Pengaruh Konsep Mahabbah Rabiah Al-Adawiyah Dalam Pengembangan Tasawuf.

Pengaruh Rabî‘ah al-‘Adawiyyah dalam pengembangan tasawuf sangat signifikan sekali karena ia telah memberikan corak yang baru dalam bertasawuf. Setidak-tidaknya ada tiga kontribusi Rabî‘ah al-‘Adawiyyah dalam dunia tasawuf. Pertama, ia berhasil mentransformasikan konsep al-khawf dan al-rajâ’ dari Hasan al-Bashrî kepada mahabbah (cinta). Jadi, ia menyembah Allah swt bukan semata-mata karena takut kepada api neraka dan mengharap surga tapi ia menyembah-Nya karena cinta. Kedua, ia memberikan corak baru dalam dunia tasawuf. Walaupun, ia sangat menderita dalam hidupnya tetapi ia mampu menjadi seorang yang “kuat” dalam bertasawuf. Ketiga, dalam hal gender, ia mengubah pandangan para sejarah bahwa seorang wanita mampu untuk menjadi seorang sufi. Konsep mahabbah yang dikemukakan oleh Rabî‘ah al-‘Adawiyyah sangat istimewa sekali karena ia memberikan contoh yang sangat menarik sekali kepada kita dan relevan sepanjang masa bagaimana kita menyembah Allah swt dengan penuh ketulusan. Jadi, pada saat ini umat Islam harus belajar dari seorang sufi wanita ini bagaimana menyembah Allah swt tanpa harus takut akan neraka dan mengharap surga serta meraih kesenangan dunia semata, tetapi menyembah Allah swt dengan penuh ketulusan mahabbah (cinta). Berikut Puisi-puisi Sufi Rabiah al-Adawiyah.

Alangkah sedihnya perasaan dimabuk cinta

Hatinya menggelepar menahan dahaga rindu

Cinta digenggam walau apapun terjadi

Tatkala terputus, ia sambung seperti mula

Lika-liku cinta, terkadang bertemu surge

Menikmati pertemuan indah dan abadi

Tapi tak jarang bertemu neraka

Dalam pertarungan yang tiada berpantai.


Aku mencintai-Mu dengan dua cinta

Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu

Cinta karena diriku, adalah keadaan senantiasa mengingat-Mu

Cinta karena diri-Mu, adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir

Hingga Engkau ku lihat

Baik untuk ini maupun untuk itu

Pujian bukanlah bagiku

Bagi-Mu pujian untuk semua itu

 

Bekalku memang masih sedikit

Sedang aku belum melihat tujuanku

Apakah aku meratapi nasibku

Karena bekalku yang masih kurang

Atau karena jauh di jalan yang ‘kan kutempuh

Apakah Engkau akan membakarku

O, tujuan hidupku

Di mana lagi tumpuan harapanku pada-Mu

Kepada siapa lagi aku mengadu?


  1. B.     AL-BUSTAMI (AL-ITTIHAD)

 

Konsep al-Ittihad dalam teorinya Abu Yazid al-Bustami

Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Taifur bin Isa Surusyan, juga dikenal dengan Bayazid. Beliau dikenal sebagai salah seorang sufi kenamaan Persia abad ke-III dari Bistam wilayah Qum. Konsep al-Ittihad dalam teorinya Abu Yazid al-Bustami adalah sebagai berikut:

  1. Al-Fana’ dan al-Baqa’

Keadaanfana’- baqa’ danittihad sebagaimana yang dialami oleh Abu Yazid dalam pengalaman tasawwufnya, merupakan tiga aspek dalam suatu pengalaman sufi yang tejadi setelah tercapainya makamma’rifat. Dan hal ini tidak banyak sufi yang mencapai tataran demikian, bahkan kalaupun ada maka tidak akan pernah lepas dari dijumpainya pro- kontradari kalangan umat Islam sendiri, terutama dari kalangan mutakallimun, karena perjalanan para sufi pada maqam yang setelah mencapai tingkatan ma’rifat.

Dalam perspektif sufi hal ini sangat penting, karena salah satu inti tasawuf adalah perasaan hilangnya seluruh sifat kemanusiaan yang kmudian diganti dengan sifat-sifat ketuhanan. Kondisi ini tercapai dengan sebuah keyakinan bahwa seluruh sifat kemakhlukan manusia merupakan baying semu yang tidak tetap, sedangkan sifat-sifat tuhan adalah permanen, yang diproses melalui penghilangan kepribadian dan perasaan terhadap semua yang ada disekitarnya terlebih dahulu. Dengan hilangnya semua perasaan dan kehendak pada sesuatu itu, akan hilang pula berbagai keinginan untuk memiliki benda duniawi.

Seorang sufi yang hendak bersatu dengan tuhan;ittihad terlebih dahulu harus melalui dengan dua keadaan yang tidak dapat dipisahkan, yaitu keadaanfana’, yakni, kesirnaan-peleburan; penghancuran perasaan atau kesadaran seseorang tentang dirinya dan makhluk lain disekitarnya, dan baqa’, tetap, kekal, yakni tetap dalam kebajikan dan kekal dalam sifat ketuhanan.

Fana’-baqa’ merupakan pengetahuan atau pengalaman yang tidak bisa diperoleh melalui pemikiran, tetapi diberikan oleh Tuhan melalaui penerangan yang merupakan rahasia tuhan. Dikatakan demikian karena perjalanan ini diidentikan dengan hancurnya sifat jiwa, atau sirnanya sifat- sifat tercela, maka barang siapa fana’ dari sifat tercela, maka pada dirinya akan muncul sifat-sifat terpuji.

Fana’ dan baqa’ merupakan sesuatu yang kembar, karena ia terjadi

Dalam waktu yang bersamaan, sehingga jika terjadi fana’, dimana pada waktu kesadaran dengan diri dan alam sekelilingnya telah hilang maka bersamaan dengan itu ia mengalami baqa’, yaitu munculnya kesadaran akan kehadirannya disisi Tuhan.

Fana’ di kalangan sufi merupakan kejadian yang temporal, tidak berlangsung secara terus menerus, seandainya kejadian ini berlangsung secara terus-menerus niscaya akan merusak ibadah lain yang justru merupakan hal yang dapat mengantar keadaannya kepada tingkatan demikian, maka dapat dikatakan bahwa hal ini akan bertentangan dengan ajaran syar’i yang merupakan pantangan pula bagi pelaku sufi.

Abu Yazid dikenal sebagai seorang sufi yang sangat memperhatikan syariat dan ajaran agama, meskipun beliau hampir selalu dalam keadaan “mabuk”hingga saat shalat tiba, ketika waktu shalat telah tiba, beliau kembali kepada kesadaran, seusai melaksanakan shalatnya, apabila di kehendaki ia kembali kepadafana’.

Dengan demikian seorang sufi tidak meninggalkan syariat agama, bahkan ketaatan menjalankan seluruh ajaran akan senantiasa di upayakan semaksimal mungkin dalam rangka memenuhi standar untuk menjaga kesucian jiwanya dari sifat-sifat tercela yang akan mengganggu kebersihan jiwanya.

b. Al-Ittihad

Ittihad adalah paham yang dipopulerkan Abu Yazid al-Bustami. Ittihad sendiri memiliki arti “bergabung menjadi satu”, sehingga paham ini berarti seorang sufi dapat bersatu dengan Allah setelah terlebih dahulu melebur dalam sandaran rohani dan jasmani (fana) untuk kemudian dalam keadaan baqa, bersatu dengan Allah. Dalam paham ini, seorang untuk mencapai Ittihad harus melalui beberapa tingkatan yaitu fana dan baqa’. Fana merupakan peleburan sifat-sifat buruk manusia agar menjadi baik. Pada saat ini, manusia mampu menghilangkan semua kesenangan dunia sehingga yang ada dalam hatinya hanya Allah (baqa). Inilah inti ittihad, “diam pada kesadara ilahi“.

Keadaan ini merupakan suatu tingkatan dalam tasawuf, dimana seorang sufi merasakan dirinya telah bersatu dengan Tuhan, saat yang mencintai dan yang dicintai telah menyatu, sehingga salah satu dari mereka dapat memanggil yang lain dengan kata “hai aku”.

Ittihad tidak muncul dengan begitu saja, tetapi harus setelah menenpuh tingkatanfana’- baqa’ yang dapat ditempuh dengan menyadari keadaan dirinya sebagai individu yang terpisah dari Tuhannya, dilanjutkan dengan memperjuangkan tersingkapnya pembatas yang menghalangi pandangan mata hatinya, dengan mengikis sifat-sifat tercela, yang dilakukan secara terus manarus.

Setelah Abu Yazid mengalamike-fana’an, dengan sirnanya segala sesuatu yang selain Allah dari pandangannya, saat itu dia tidak lagi menyaksikan selain hakikat yang satu, yaitu Allah. Bahkan dia tidak lagi melihat dirinya sendiri karena dirinya telah terlebur dalam Dia yang disaksikannya. Dalam keadaan yang seperti ini terjadi penyatuan dengan Yang Maha Benar. Kondisi seperti itu telah menghilangkan batas antara sufi dengan Tuhan, antara yang mencintai dan yang dicintai. Pada saat seperti ini sufi dapat melihat dan merasakan rahasia Tuhan. Ketika sufi telah menyatu dengan Tuhan, sering terjadi pertukaran peran antara sufi dengan Tuhan. Saat itu sufi tidak lagi berbicara atas namanya, melainkan atas nama Tuhan, atau Tuhan berbicara melalui mulut sufi, yang keluar dari mulutnya ungkapan-ungkapan yang kedengarannya ganjil, sebagaimana yang pernah diungkapkan Abu Yazid; pada suatu ketika aku dinaikkan kehadirat Tuhan dan ia berkata “Abu Yazid, makhluk-Ku ingin melihat engkau”, aku menjawab “kekasihku aku tidak ingin melihat mereka, tetapi jika itu kehendak-Mu, hiaslah aku dengan keesaan-Mu, sehingga jika makhluk-Mu melihat aku, mereka akan berkata ‘telah kami lihat engkau’, tetapi yang mereka lihat sebenarnya adalah Engkau, karena ketika itu aku tidak ada disana”.ketika terjadi ittihad secara utuh, Abu Yazid mengatakan dalam syatahatnya : “Tuhan berkata ; semua mereka kecuali engakau adalah makhluk-Ku”, akupun berkata, “Aku adalah Engkau, Engaku adalah aku adalah Engkau”, maka pemilahanpun terputus, kata menjadi satu, bahkan seluruhnya menjadi satu. Dia berkata, “Hai engkau”, aku dengan perantara-Nya menjawab, “Hai aku”. Dia berkata, “Engkau yang satu”. Aku menjawab, “Akulah yang satu”. Dia selanjutnya berkata, “Engkau adalah engaku”. Aku menjawab, “Aku adalah aku”. Kata aku yang diucapkan Abu Yazid bukanlah sebagai gambaran diri Abu Yazid tetapi sebagai gambaran Tuhan, karena saat itu Abu Yazid telah bersatu dengan Tuhan, dengan kata lain, dalam ittihad Abu Yazid berbicara dengan nama Tuhan atau lebih tepat lagi, Tuhan berbicara melalui lidah Abu Yazid.

Dalam peristiwa lain, Abu Yazid dikunjungi seseorang, kemudian ia bertanya : “Siapa yang engkau cari ?”, jawabnya, jawabnya, “Abu Yazid”, Abu Yazid mengatakan : “Pergilah, di rumah ini tak ada kecuali Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Tinggi”.

Dengan ucapan-ucapan yang telah dikemukakan, Abu Yazid terlihat telah bersatu dengan Tuhan. Sehingga dia tidak sadar akan diri dan lingkungannya karena yang ada saat itu hanya Allah semata. Sebenarnya Abu Yazid tetap mengakui adanya wujud, Tuhan dan Makhluk, hanya saja dia merasakan kebersatuan antara keduanya, sedangkan masing-masing masih tetap dalam esensinya, Tuhan tetap Tuhan, makhluk tetap makhluk. Ketika terjadinyaittihad, yang dimaksud bersatu adalah dalam arti ruhani, bukan hakekat jazad.

 

 

Ittihad terjadi dengan perantara fana’-baqa’ sebagaimana telah

dikemukakan, digambarkan sebagai jiwa yang kehilangan semua hasrat, perhatian dan menjadikan diri sebagai obyek Tuhan, dengan cinta di dalam batin, pikiran sifat-sifat kebaikan yang menimbulkan kekaguman dalam dirinya. Sebagaimana diceritakan bahwa Abu Yazid pernah mengatakan

“Aku tidak heran terhadap cintaku pada-Mu, karena aku hanyalah hamba yang hina, tetapi aku heran terhadap cinta-Mu padaku, karena Engkau Raya Yang Maha Kuasa”. Dia juga menyatakan, “Manusia bertaubat dari dosa-dosa mereka, tetapi aku taubat dari ucapanku “Tidak ada Tuhan selain Allah”, karena dalam hal ini aku memakai alat dan huruf, sedangkan Tuhan tidak dapat dijangkau dengan alat dan huruf”.

Semakin larutnya dalam ittihad, di suatu pagi setelah shalat shubuh, Abu Yazid pernah melafalkan kalimat sampai orang lain menganggapnya orang gila dan menjauhinya dengan kalimat, “Sesungguhnya aku adalah Allah, tiada Tuhan selain aku, maka sembahlah aku, maha suci aku, maha suci aku, maha besar aku”.

Ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan oleh Abu Yazid diatas tidak dapat dilihat secara harfiah, tetapi harus dipandang sebagai ungkapan seorang sufi yang sedang dalam keadaanfana’, seluruh pikiran, kehendak dan tindakannya telahbaqa’ dalam Tuhan. Pada dasarnya semua wujud, selain wujud Tuhan adalahfana’, atau segala sesuatu selain Tuhan, dipandang dari keberadaan dirinya, sudah tidak adafana’. Dengan demikian satu-satunya wujud yang ada hanyalah wujud Tuhan.

Dalam pengalaman tasawuf, keadaanfana’ para sufi berbeda antara satu dengan yang lain. Ada yang kembali kepada keadaan normal sehingga dia tetap menganggap dualitas antara Tuhan dan alam, tetapi ada pula yang betul-betul merasakanfana’ yang kemudian mengantarkan bersatu dengan Tuhan, sehingga tidak ada perbedaan antara Tuhan, dengan alam, atau sebaliknya.

Meskipun Abu Yazid di pandang sebagai tokoh terpandang dalam bidangnya, ternyata juga mendapat kritik, sebagai contoh adalah al-Thusi, yang memaparkan bahwait tihad sebagaimana yang di lakukan oleh Abu Yazid, yang diawali oleh keadaanfana’, patut diwaspadai bahaya-bahaya yang akan di timbulkannya, karena menurutnya, sifat-sifat kemanusiaan tidak mungkin sirna dari manusia.

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. a.      Kesimpulan

Dari uraian diatas, makalh dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Cinta kepada Allah dan Rasul adalah cinta rasional (hubbun `aqliyyun) atau taat, bukan cinta emosional berlebihan (laa `aathifiyyun).
  • Konsepsi al-Mahabbah yang digagas oleh Rabi`ah, pada satu sisi sangat mendorong motivasi umat dalam ibadah untuk selalu lillaahi ta`ala, dengan menyeimbangkan hablum minallah dan mestinya jangan sampai mengurangi interaksi habulum minnnas.
  • Ittihad sendiri memiliki arti “bergabung menjadi satu”, sehingga paham ini berarti seorang sufi dapat bersatu dengan Allah setelah terlebih dahulu melebur dalam sandaran rohani dan jasmani (fana) untuk kemudian dalam keadaan baqa, bersatu dengan Allah.

 

  1. b.      Kritik dan Saran

          Alhamdulillah rabbil ‘alamin. makalah yang kami susun, tapi penulis menyadari masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan makalah berikutnya.

          Dan akhirnya makalah dapat terselesaikan, semoga dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. Amien.

 

 

AFTAR PUSTAKA

 

  • Abu Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, 1985, Madkhal ila al-Tasawwuf al-Islam, Terj. Ahmad Rafi’ Usman, Pustaka: Bandung
  • Abu Bakar al-Kalbadzi, 1969, al-Ta’arruf li Madzhab Ahl al-Tasawwuf, Maktabah al- Kulliyah al-Azhariyyah: Kairo.
  • Harun Nasution, 1973, Falsafah dan Mistisme Dalam Islam, Bulan Bintang: Jakarta
  • Konsep al- Hulul Mansur al-Hallaj & al-Ittihat al-Bustami oleh MujibZunun@lmisri diakses dari   http//id Wikipedia_konsep tasawuf-org//.
  • Syarah Binti Muhsin ibn Abdullah ibn Jalawi, 1991, Nadzariyyah al-Ittishal ‘ind al- Shufiyyah fi al-dhau’ al-Islam, Dar al-Manarah: Jeddah.
  • Team Penyusun, 1994, Ensiklopedia Islam, Ensiklopedi Islam, Jilid I, Ikhtiar Baru Van Hoeve: Jakarta.