Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Kedudukan Manusia dalam Konteks Pendidikan Islam

Kedudukan Manusia dalam Konteks Pendidikan Islam

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Kedudukan Manusia dalam Konteks Pendidikan Islam

Bidang  postingan  :  Pendidikan Islam,

Perkuliahan.com, dalam upaya menambah wacana dan  khasanah keilmuan pendidikan, terutama dalam Pendidikan Islam maka perkuliahan.com berusaha untuk berkontribusi dalam mewujudkanya. Melalui makalah dan artikel ringan diharapkan  bisa sedikit memberi warna dunia pendidikan, walaupun dalam postingan perkuliahan.com belum bisa diketegorikan sebagai wacana / artikel ilmiah atau sebagai makalah pendidikan, namun hidup harus optimis dan selalu melakukan hal yang paling mudah dan terbisa saat ini. (lagi pengen meramaikan Google dan  Yahoo he)

Serial postingan perkuliahan.com kali ini mengangkat beberapa materi yang terkait dan berkesinambungan dalam dimensi pendidikan Islam, diantaranya beberapa wacana kecil tentang, Pengertian Pendidikan Islam, Dasar Filosofis Pendidikan Islam,Tujuan  Pendidikan Islam, Metode Pendidikan Islam, Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam, Evaluasi Pendidikan Islam, Sosial Keagamaan, Dimensi Sosial Keagamaan, Peran Sosial Keagamaan dalam Pendidik Islam, Aplikasi  Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam, Pendidikan Islam dalam Perspektif  Sosial Keagamaan.

Selanjutnya memposting juga  mengenai hubungan strategis dalam keilmuan yang mendukung  yaitu wacana tentang, Hakekat Manusia dalam Perspektif Islam,  Kedudukan Manusia dalam Konteks Pendidikan Islam


Kedudukan Manusia dalam Konteks Pendidikan Islam

Oleh : Mizanto, S.Pd.I

( Universitas Sains Al-Qur’an ( UNSIQ ) Jawa Tengah di Wonosobo )

 

“Pendidikan adalah proses pembentukan manusia untuk memperoleh kemampuan menyesuaikan diri dengan realitas.”[1] Demikian perkataan singkat tapi mempunyai arti luas dari Muhammad Miftah Basyuni (Mantan Menteri Agama RI) mengenai gambaran umum tentang pendidikan. Kesadaran individu untuk memahami problematikan dan dinamika sosial membutuhkan proses pendidikan, baik pendidikan secara khusus maupun secara alamiah menjadi pembelajaran mendasar dalam kehidupan seseorang untuk menjalani kehidupanya. Konsep Pendidikan Islam yang selalu menekankan secara mendasar tentang nilai-nilai Islam yang  tiada lain untuk mencerdaskan dan mengasah kepekaan individu terhadap diri sendiri,tuhan dan lingkungan sosialnya.

Islam sangat memperhatikan  proses pendidikan dan pencerdasan insting kemanusian tersebut secara penuh , ini terbukti dari banyaknya ayat-ayat yang menggariskan tentang hubungan sosial dan kemanusiaan, walaupun kenyataan umat manusia belum sepenuhnya menjiwai ayat-ayat Al-Qur’an dan ranah sosial. Hal ini menjadi tanggung jawab umat Islam untuk menerjemahkan dan mengaplikasikan secara cerdas ajaran Islam tersebut, karena dalam masa-masa setelah tumbangnya masa kejayaan Islam (ketika menjadi kiblat ilmu pengetahuan modern saat itu), paska keemasan Islam tersebut seakan-akan Islam menjadi terpinggirkan dan terasing dari kajian Ilmiah populer terkait sains dan tekhnologi. Walaupun pada akhirnya dunia modern mengakui kemukjizatan dan keajaiban Al-Qur’an dengan penemuan dan pengkajian ayat-ayat yang begitu nyata dan terbukti selaras dengan ilmu dan pengetahuan modern.

Prinsipnya apa yang diharapkan dari proses pendidikan Islam tiada lain harapan kepada pribadi individu setiap muslim untuk bisa menjadi cermin dan perwujudkan dari  Islam itu sendiri,  karena selama ini  orang-orang non-muslim melihat Islam bukan dari segi sejarah  dan dasar-dasarnya (Al-Qur’an dan Hadits) secara obyektif tapi mereka melihat dari segi praktis, apa yang orang muslim ucap, dan apa yang orang muslim perbuat dengan pandangan yang skeptis. Sehingga Pendidikan Islam sebagi poros penggerak dan ujung tombak  untuk kembali dan terus membangun generasi-generasi muslim yang cerdas secara sosial dan intelektual, karena dengan cerdas sosial dia akan mampu melihat dan menerjemahkan secara cerdas dan tepat  potensi-potensi dalam diri dan lingkunganya.

Sebagai gambaran umum ketika melihat posisi pendidikan Islam jika dibandingkan dengan konsep pendidikan ideologis lainya, misalkan disebutkan misalkan aliran konservatisme, kaum konservatisme sekular barangkali paling  terwakili oleh para teoritis pendidikan kontemporer serta para kritisi pendidikan masa kini seperti Arthur Bestor dan Hyman Rickover[2]. Mereka tidak musti menolak aspek-aspek rohaniah dalam pendidikan, namun mereka cenderung untuk lebih memakai pendekatan utilitarian (asas manfaat) dan pendekatan praktis dalam soal persekolahan, jika dibanding dengan mereka yang lebih condong ke arah agama, pandangan ini tentunya ketika dilihat dari kacamata yang lebih obyektif, maka pilihan asas manfaat sebagaimana pilihan Arthur Bestor, maka akan berubah posisi pilihan jika agama memberi tawaran lain, yang tentunya lebih punya asa manfaat yang lebih fundamental dalam pendidikan, misalkan jika asas pendidikan Islam bisa sepenuhnya menjadi sistem yang bisa memberikan bukti riil terhadap pembangunan jiwa manusia.

Jika diamati kembali misalkan  argumen atas pilihan Arthur Bestor tersebut dengan ungkapan yang lebih pragmatis, karena kepedulian utama kaum konservatisme sekuler adalah terhadap peran sekolah dalam melestarikan dan menyalurkan lembaga-lembaga  serta proses-proses sosial yang mapan, dan mereka ingin menumbuhkembangkan jenis informasi serta keterampilan yang diperlukan agar menjamin keberhasilan individu dalam hidupnya di masyarakat sekular yang ada sekarang[3]. Maka alasan-alasan untuk menduakan pendidikan agama menjadi sesuatu yang salah, jikalau pendidikan Islam telah benar-benar menerapkan konsep dan paradigma  dasar pendidikan itu sendiri, sebagaimana kalau tiadanya pandangan dikotomik terhadap ilmu, inilah yang menjadi tantangan umat Islam bersama dalam merekonstruksi pendidikan yang lebih baik di masa depan.

Nilai-nilai dalam pendidikan Islam yang  mencangkup nilai-nilai sebagimana nilai dasar dalam Islam secara keseluruhan, sehingga pernyataan diatas  ketika memaparkan antara pendidikan Islam dan Islam sebagai agama yang merupakan integralitas yang berpadu. Al-Qur’an dan Hadits sebagai landasan Pendidikan Islam mempunyai sumber–sumber nilai yang komprehensif dan integral, dari sinilah mengapa pendidikan Islam bisa dijadikan sumber inspirasi atau nilai–nilai bagi model kehidupan manusia dalam bentuk apapun, karena terdapat nilai  murni yang diilhami wahyu (Al-Qur’an-Hadits) nilai–nilai itulah yang membedakan Pendidikan Islam dengan pendidikan lain (sekuler), sehingga prinsip-prinsip yang terkandung dalam pendidikan Islam juga sama dengan prinsip dasar Islam, yang memfungsikan akalnya secara baik,benar dan kreatif.[4]

Adapun nilai–nilai pendidikan Islam dengan mengeksplorasi Al Qur’an dan Hadits sebagai dasar Pendidikan Islam dikaitkan dengan konteks pembahasan interaksi sosial keagamaan yang menjadi acuan misi pendidikan Islam  dalam struktur masyarakat yang heterogen. Diantaranya pemahaman yang lebih sensitif dan kritis dari prinsip dan nilai pendidikan Islam terhadap situasi sosial diantaranya pengembangan pemahaman untuk menyikapi problematika sosial keagamaan yang sedang terjadi, sebagaimana perumusan pendidikan Islam dalam Konferensi Internasionaldi Makkah pada tahun 1997 sebagaimana yang dikutip Azyumardi Azra (2000:57)  yang kesimpulanya bahwa pendidikan bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh secara seimbang melalui latihan jiwa, intelek,diri manusia yang rasional,perasaan dan indera.”[5]

Posisi manusia dalam menjalani kehidupan takan bisa berjalan lurus dan mudah tanpa peta kehidupan yang pasti dan benar. Itulah gambaran posisi manusia dalam kehidupan yang sangat  membutuhkan petunjuk-petunjuk wahyu yang nyata melampaui akal.  Upaya yang serius untuk memahami pendidikan Islam dan juga mencermati aspek-aspek strategis yang tak bisa dipisahkan dari prinsip pendidikan Islam dalam membentuk pribadi mulia.

 


[1] Muhammad  Miftah Basyuni, Kata Sambutan dalam buku  Kyai Multitalenta, Sebuah Oase Spiritual KH.M.Tholhah Hasan, penulis Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA dkk.Al-Ghazali Center,Jakarta, 2006, hal.vii.

[2]  Wiliam F.O’neill, Op.Cit. hal 335.

[3] Ibid, hal.335

[4] Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Ma’arif, Mencari Autentisitas dalam Kegalauan,PSAP Muhammadiyah, Jakarta, 2004.hal.60

[5] Dr.Ahmad Arifi, MA,Op.Cit.  hal. 38

Kedudukan Manusia dalam Konteks Pendidikan Islam

under arsip:  Perkulihan.com.

Aplikasi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

makalah / artikel Aplikasi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Makalah /artikel Aplikasi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

Bidang  postingan  : Aplikasi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

Perkuliahan.com, dalam upaya menambah wacana dan  khasanah keilmuan pendidikan, terutama dalam Pendidikan Islam maka perkuliahan.com berusaha untuk berkontribusi dalam mewujudkanya. Melalui makalah dan artikel ringan diharapkan  bisa sedikit memberi warna dunia pendidikan, walaupun dalam postingan perkuliahan.com belum bisa diketegorikan sebagai wacana / artikel Continue reading