Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Contoh Proposal Skripsi Tarbiyah, PAI

Contoh Proposal Skripsi Tarbiyah / Contoh Proposal Skripsi Tarbiyah, PAI
Under arsip: Perkuliahan.com.
Post title : Contoh Proposal Skripsi Tarbiyah
Post Category : Contoh Proposal Skripsi Tarbiyah/ Contoh Proposal Skripsi Tarbiyah PAI. Contoh Proposal  Penelitian Skripsi Tarbiyah.
next post : contoh judul skripsi Bahasa Inggris 
data post: Perkuliahan.com. edition of : 148

Mungkin Sobat perkuliahan.com ada yang lagi pusing sekaligus berdebar-debar,  mungkin karena baru lari-larian malahan dompetnya ketinggalan dipasar. Oppss.. maaf bukan itu yang akan kita bahas!  Dalam kuliah umum dan bebas kali ini Perkuliahan.com. akan share tentang pengajuan judul skripsi. Hebat kan saya tahu kedatangan sobat mampir ke Perkuliahan.com.ini??

Lagi lagi-saya tak lagi membahas tentang hebat atau tidak, tapi yang jelas perkuliahan.dom akan berbagi tentang “ Proposal Pengajuan judul  Skripsi”  mahasiswa tingkat akhir sudah pasti dihadapkan pada tugas besar, yaitu menyusun skripsi. Dalam menyusun skripsi memang ribet, tapi pesan saya, hadapi dengan enjoy and be fun!

Berikut Prosedur menulis dan menyusu skripi :

  1. Pengajuan Judul

Pengajuan judul harus benar-benar diperhatikan, soalnya nanti kalau asal-asalan milih judul dan tidak mempertimbangkan kesulitan dan kendala tentang judul dan skripsi yang akan kita garap nanti repot sendiri. Untuk pertimbangan tentang pengajuan judul mungkin bisa sobat lihat di postingan perkuliahan.com sebelumnya di “ Contoh Surat Pengajuan Judul Skripsi”

  1. Pengajuan Proposal Skripsi

Setelah judul skripsi yang kita ajukan sudah di Acc.  Oleh kaprodi biasanya, maka tahap selanjutnya adalah penulisan / penyusunan proposal.

Penyusunan proposal disini juga sangat menentukan dan terkait dengan prosedur lainya, baik relecansi dengan judul maupun dengan penelitian skripsi yang akan kita garap nanti. Jadi proposal skripsi harus ilmiah dan jelas, mulai dari latar belakang masalah, jenis penelitian, tinjauan pustaka dan sebagainya harus jelas ilmiah dan meyakinkan, namanya juga proposal alias permohonan maka harus bisa meyakinkan agar bisa di ACC.  Nanti setelah proposal di diajukan dan di sidangkan/ dimunaqosahkan serta di ACC, maka tahap selanjutny tinggal kita Nyusu / nulis skripsi, gampang to?? Gampang lah.. nulis skripsi juga cobalah dinikmati dan diseriusi, karena skripsi menjadi barometer kesarjanaan seseorang.  Berikut saya dapet contoh naskah Proposal skripsi dari temen, kebetulan sumber sudah agak kabur, tapi seridaknya contoh proposal skripsi ini bisa dijadikan pedoman sedikit, walaupun biasanya kampus juga sudah memberikan buku panduan Penyusunan Skrpsi kepada mahasiswanya, namun biasanya juga buruh contekan, hehe. Ya kan?

 

PENGAJUAN JUDUL SKRIPSI

 Judul Penelitian :

“STUDI ATAS POLA PENGEMBANGAN KURIKULUM PESANTREN SEBAGAI ALTERNATIF PENINGKATAN KWALITAS PENDIDIKAN DI PONDOK PESANTREN MAHASISWA IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA“

 

Latar Belakang Masalah

 

 Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda dan merupakan suatu wadah tempat penggodokan kader umat Islam yang telah tersebar di berbagai lapisan masyarakat. Keberadaan pesantren merupakan benteng umat Islam dari berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi bangsa Indonesia, sejak dari masa penjajahan hingga masa sekarang. Liku-liku perjuangan yang dilakukan oleh para alumninya mulai dari perjuangan melepaskan dari cengkeraman penjajahan, mengadakan revolusi, membentuk pemerintahan  yang berdaulat, melaksanakan pembangunan sampai pada akhirnya ikut berperan dalam mengadakan reformasi.

Kehadiran pesantren tidak dapat dipisahkan dari tuntutan umat. Karena itu, pesantren sebagai lembaga pendidikan selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitarnya, sehingga keberadaannya di tengah-tengah masyarakat tidak menjadi terasing. Dalam waktu yang sama segala aktivitasnya pun mendapat dukungan dan apresiasi dari masyarakat sekitarnya.1

Secara historis, pesantren tidak hanya identik dengan makna ke islaman, tetapi juga mengandung makna keaslian Indonesia (Indigeneous). Sebab, lembaga serupa pesantren sebenarnya sudah ada sejak masa Hindu – Budha.2 Sebelum Islam hadir, model pendidikan pesantren digunakan oleh pemeluk Hindu dan Buddha untuk mendidik calon-calon pendeta yang akan bekerja menyebarkan ajaran-ajaran agamanya. Ketika Islam datang sistem pendidikan dan pengajaran seperti itu ditiru oleh para muballigh dengan mengubah substansi ajarannya tanpa mengubah sistem yang telah ada. Karakteristik dasar yang diambil oleh pesantren Islam adalah siswa tinggal di asrama (pondok) dan menjalani kehidupan keagamaan bersama dengan guru (kiai) selama mereka menjalani  pendidikan.3

Sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, pesantren pada awal mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Dengan menyediakan kurikulum yang berbasis agama (religion-based curriculum), pesantren diharapkan mampu melahirkan alumni yang kelak diharapkan mampu menjadi figur agamawan yang demikian tangguh dan mampu memainkan dan membiasakan peran propetiknya pada masyarakat secara umum. Artinya, akselerasi mobilitas vertikal dengan penjajahan materi-materi keagamaan menjadi prioritas – untuk tidak mengatakan satu-satunya prioritas – dalam pendidikan pesantren. Akibatnya, pemberian ruang yang demikian besar pada ilmu-ilmu keagamaan telah menciptakan penghalang mental untuk melakukan perubahan di tubuhnya sendiri.

Padahal, di tengah gegap gempita dan kompetisi sistem pendidikan yang ada, pesantren-sebagai lembaga pendidikan tertua yang masih bertahan hingga kini-tentu saja harus sadar bahwa penggiatan diri melulu pada wilayah keagamaan tidak lagi memadai. Pesantren dituntut untuk senantiasa apresiatif sekaligus selektif dalam menyikapi dan merespon perkembangan. Pragmatisme budaya yang kian menggejala sejatinya bisa dijadikan pertimbangan lain bagaimana seharusnya pesantren mensiasati fenomena tersebut. Bukannya malah menutup diri, pesantren sejatinya membuka diri sekaligus menjajaki perubahan, dan pada saat yang sama, pesantren harus pro aktif dan memberikan ruang bagi perubahan.4

Apalagi dewasa ini, pesantren yang dulu dipandang sebelah mata oleh sebagian masyarakat, selalu berada di wilayah pinggiran, bahkan pernah dipandang sebagai simbol keterbelakangan, kekolodan, kebodohan, kejumudan, kekumuhan dan seterusnya, akhir-akhir ini banyak menjadi sorotan, baik yang datang dari dalam maupun luar Islam, bahkan dari luar negeri yang non Islam, yang bertujuan untuk mencari alternatif sistem pendidikan. Hal ini karena di dorong dari adanya suatu anggapan bahwa sistem pendidikan yang ada sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman, bahkan dirasa tidak benar sehingga perlu dicari sistem pengganti dan perlu dicobanya, dan hal itu dicari dalam pondok pesantren.5

Lebih-lebih pada saat ini, pesantren yang dulu hanya sebagai bagian dari sistem pendidikan Nasional, kini pemerintah sudah memberikan ruang khusus dan dimasukkan dalam sistem pendidikan Nasional. Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia NO: 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 30 ayat 4 yang berbunyi :

Pendidikan keagamaan berbentuk ajaran diniyah, pesantren, pasraman, pabhaja samanera, dan bentuk yang sejenis”.6

 

Dengan demikian pesantren yang dulu tidak pernah menginjak “rumah” negara, kini telah menjadi bagian dari keluarga yang sebenarnya. Hal ini juga menunjukkan bahwa pesantren pada saat ini lebih diakui dan diperhatikan oleh pemerintah. Hal ini diwujudkan dengan dibentuknya lembaga khusus yang mengurusi pesantren dari tingkat pusat hingga daerah yang bernama Dirjen Kepesantrenan.

Selain itu, perhatian pemerintah terhadap pesantren juga diwujudkan dalam keputusan bersama antara Menteri Pendidikan Nasional dan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor: 01 / U / KB / 2000 dan Nomor: MA / 86 / 2000, tentang Pondok Pesantren salafiyah sebagai pola wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun yang ditindak lanjuti dengan penerbitan petunjuk tekhnis penyelenggaraan program.7

Dari itu, pesantren pada saat ini dituntut untuk melakukan pembenahan-pembenahan. Salah satu hal yang harus menjadi perhatian yaitu kurikulum yang digunakan di pesantren. Selama ini kurikulum yang dipedomani oleh sebagian pesantren masih berkisar dalam masalah ilmu agama dan kitab kuning. Sebagian pemimpin-pemimpin pesantren masih cenderung mempertahankan dan atau kembali pada pola-pola lama (salaf ).  Mereka masih belum merasakan akan kebutuhan pengembangan pesantren dengan memasukkan materi pelajaran non-agama ke dalam kurikulum pesantren.

Hal itu menurut KH. Abdurrahman Wahid dapat dimengerti, karena setelah pelaksanaan pola pengembangan utama berupa pencampuran antara komponen-komponen agama dan non agama (kemudian disebut pelajaran umum) dalam kurikulum pesantren selama beberapa puluh tahun, tidak banyak hasil yang diperoleh, malah porsi komponen agama semakin lama semakin menurun dengan membawa akibat mentahnya lulusan yang dihasilkan oleh pesantren, tidak menjadi agamawan yang berpengetahuan agama yang mendalam, dan juga tidak menjadi ilmuan non-agama yang cukup tinggi kualitasnya. Yang terjadi adalah pembaruan (akulturasi) yang tidak memperlihatkan identitas yang jelas. Menghadapi kenyataan yang seperti ini, sebagian pemimpin pesantren-pesantren utama lalu cenderung untuk kembali pada “cara salaf”, dimana porsi pelayanan pada komponen-komponen non-agama dalam kurikulumnya hampir-hampir tidak ada.

Hal itu – masih menurut beliau – sebenarnya dapat membahayakan kelangsungan hidup pesantren di masa depan. Bagaimanapun juga, tuntutan untuk mengembangkan pengetahuan non-agama (pengetahuan umum) adalah kebutuhan nyata yang harus dihadapi para lulusan pesantren di masa depan. Kesalahan-kesalahan dasar dalam pengembangan komponen non-agama dalam kurikulum pesantren selama ini, hingga tidak mampu mendorong pengalaman pengetahuan agama yang mendalam bukanlah harus “diperbaiki “ dengan menghilangkan komponen non-agama itu sendiri dari kurikulum dan sistem pendidikan yang diterapkan di pesantren, karena tantangan masa depan “tokh” tidak hilang hanya dengan cara tersebut. Masa depan umat manusia, selain menuntut dimilikinya landasan berupa bekal rohani yang kuat, juga akan sangat ditentukan oleh penguasaan atas perkembangan pengetahuan dan tekhnologi.8

Di sisi lain, materi keagamaan yang merupakan materi pokok di pesantren juga masih cenderung kaku dan ekslusif. Hal itu karena kitab kuning yang merupakan pedoman pokok  dalam mengkaji keagamaan hanya lebih menekankan pada bidang fiqih, teologi, tasawuf dan bahasa. Fiqih ini pun biasanya hanya terbatas pada madzhab syafi’i dan kurang memberikan al ternatif pada madzhab-madzhab yang lain. Penunggalan kajian fiqih yang hanya menganut salah satu madzhab berakibat membelenggu kreatifitas berfikir dan membuat sempit pemahaman atas elastisitas hukum Islam. Sementara itu juga disinyalir bahwa madzhab syafi’i secara umum memberikan peluang yang minim kepada penjajahan wawasan rasional.9

Kemudian, fanatisme yang tinggi pada ajaran-ajaran sufisme dalam menimbulkan semangat mencapai “kebahagian duniawi” kurang diperhatikan. Kekayaan finansial dianggap menjadi penghalang dalam upaya mencapai kebahagian sejati. Konskwensinya, perekonomian dunia pesantren akhirnya menjadi “tidak menentu”.10

Kajian kebahasaan dalam kurikulum pesantren menempati posisi yang berlebihan pada aspek kognitif, sementara aspek afektif dan psikomotorik kurang terjelajahi semestinya. Kecerdasan pada nahwu – sharraf belum dapat dimanifestasikan dalam praktek-praktek komunikasi sosial yang efektif. Hal itu, setidak-tidaknya disebabkan penekanannya ditujukan semata-mata pada hafalan (tahfidz) ansich, dan tidak pada usaha bagaimana menerapkan kemampuan itu dalam struktur verbal kongkret.

Keadaan kurikulum pesantren yang demikian memberikan sebuah konsekwensi pada eksklusivisme pondok pesantren dari pemikiran lain, kecuali pemikiran yang dikembangkan oleh Madzhab Syafi’i, Asy’ari dan al Ghozali. Bahkan hampir-hampir ajaran Islam hanya dipahami sebagai ajaran yang menyangkut fiqih, teologi dan tasawuf yang dikembangkan oleh ketiga tokoh pemikir masa lampau itu.11

Sementara itu metodologi yang dipakai oleh pesantren masih kurang memadai. Seperti diketahui, pesantren mempunyai tradisi yang sangat kuat di bidang tranmisi keilmuan klasik. Namun, karena kurang adanya improfisasi metodologi, proses tranmisi itu hanya melahirkan penumpukan keilmuan.12 Martin Van Bruenessen menyatakan bahwa ilmu yang bersangkutan dianggap sesuatu yang sudah bulat dan tak dapat ditambah, hanya dapat diperjelas dan dirumuskan kembali.13

Hal senada juga diungkapkan oleh Dr. Noercholis Madjid yang dikutip oleh Abdurrahman Kasdi dalam Majalah Pesantren bahwa salah satu kelemahan dari pesantren adalah metodologi yang kurang memadai. Sampai batas-batas tertentu, pola pendidikan yang bersifat penalaran agak tersingkir, sedangkan pola yang bersifat dogmatis agak dominan. Akibatnya, kebiasaan berfikir rasional menjadi berkurang di dunia pesantren.

Sementara itu di tengah pergulatan masyarakat informasional, pesantren dipaksa memasuki ruang kontestasi dengan institusi pendidikan lainnya, terlebih dengan sangat maraknya pendidikan berlabel luar negeri yang menambah semakin ketatnya persaingan mutu out put (keluaran) pendidikan. Kompetisi yang kian ketat itu, memosisikan institusi pesantren untuk mempertaruhkan kualitas out put pendidikannya agar tetap unggul dan menjadi pilihan masyarakat, terutama umat islam. Ini mengindikasikan, bahwa pesantren perlu banyak melakukan pembenahan internal dan inovasi baru agar tetap mampu meningkatkan mutu pendidikannya.

Persoalan ini tentu saja berkorelasi positif dengan konteks pengajaran di pesantren. Dimana, secara tidak langsung mengharuskan adanya pembaharuan dalam pelbagai aspek pendidikan di dunia pesantren. Sebut saja misalnya kurikulum, sarana-prasarana, tenaga kependidikan (pegawai adminstrasi), guru, manajemen (pengelolaan), sistem evaluasi dan aspek-aspek lainnya dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren. Jika aspek-aspek pendidikan seperti ini tidak mendapatkan perhatian  yang proporsional untuk segera (dikembangkan), dan dimodernisasi, atau minimalnya disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat (social needs and demand), tentu akan mengancam survival pesantren di masa depan. Masyarakat akan semakin tidak tertarik dan lambat laun akan meninggalkan pendidikan ala pesantren, kemudian lebih memilih institusi pendidikan yang lebih menjamin kualitas out put-nya. Pada taraf ini, pesantren berhadap hadapan dengan dilema antara tradisi dan modernitas. Ketika pesantren tidak mau beranjak ke modernitas, dan hanya berkutat dan mempertahankan otentisitas tradisi pengajarannya yang khas tradisional, dengan pengajaran yang melulu bermuatan al Qur’an dan Hadits serta kitab-kitab klasiknya, tanpa adanya pembaharuan metodologis, maka selama itu pula pesantren harus siap ditinggalkan oleh masyarakat. Pengajaran Islam tradisional dengan muatan-muatan yang telah disebutkan di muka, tentu saja harus lebih dikembangkan agar penguasaan materi keagamaan anak didik (santri) bisa lebih maksimal, disamping juga perlu memasukkan materi-materi pengetahuan non-agama dalam proses pengajaran di pesantren.14

Dengan begitu, pengembangan pesantren disamping dituntut untuk  memasukkan pengetahuan non-agama ke dalam kurikulum pengajarannya, juga agar lebih efektif dan signifikan, praktek pengajaran di pesantren  harus menerapkan metodologi yang lebih baru dan modern. Sebab, ketika didaktik-metodik yang diterapkan masih berkutat pada cara-cara lama yang ketinggalan zaman alias kuno, maka selama itu pula pesantren sulit untuk berkompetisi dengan institusi pendidikan lainnya.

Selanjutnya berangkat dari beberapa pokok pikiran di atas tersebut, penulis sangat tertarik untuk mengangkat permasalahan tentang pengembangan kurikulum pesantren dalam penelitian ini dengan judul “ Studi atas Pola Pengembangan Kurikulum Pesantren sebagai alternatif peningkatan kualitas pendidikan di Pondok Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya “

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penelitian yang bersifat deskriptif ini akan memfokuskan pada permasalahan-permasalahan sebagai berikut :

  1. Bagaimana pola pengembangan kurikulum Pesantren sebagai alternatif  peningkatan kualitas pendidikan di Pondok Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya?
  2. Bagaimana sistem dan pelaksanaan pengembangan kurikulum Pondok Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya dalam meningkatkan kwalitas penididikannya ?

Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang melatar belakangi pengembangan kurikulum sebagai alternatif peningkatan kwalitas pendidikan.
  2. Untuk mengetahui pelaksanaan pengembangan kurikulum Pondok Pesantren Mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Metode Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, yang ingin menjelaskan dan mendeskripsikan temuan-temuan baru yang didapat dari lapangan.

 Daftar Pustaka

Hasan Basri, 2001,  Pesantren : Karakteristik dan unsur-unsur Kelembagaan, dalam Sejarah Pertumbuhan dan perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta,  Gramedia Widia Sarana Indonesia,

Syafi’I, Achmad , Noer, 2003, Pesantren : Asal Usul dan Pertumbuhan Kelembagaan,

Imdadun Rahmat, Pesantren Menjajaki Perubahan; dalam Majalah Pesantren, Edisi XI,

Zaini Wahid, 1995, Dunia Pemikiran Kaun Santri,  LKM, DIY.

UUD RI NO: 20 tahun 2003 20012003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanal,Citra Umbara, Bandung: Himpunan Peraturan Perundang-undangan Bidang Kependidikan, Novindo Pustaka Mandiri

El Chumaidy Ahmad, 2002,Membongkar Tradisionalisme Pesantren:  Sebuah Pilihan Sejarah, Edisi 06 Oktober

Malik A. Fajar, 1999, Reorientasi Pendidikan Islam,  Fajar Dunia,

Van Matin Bruenessen, 1999,  Kitab Kuning Psantren dan Tareka,  Bandung Mizan.

Wahid Marzuki et al, 1999., Pesantren Masa Depan: wacana pemberdayaan dan transformasi pesantren, Pustaka Hidayah.

 


1 Hasan Basri, Pesantren : Karakteristik dan unsur-unsur Kelembagaan, dalam Sejarah Pertumbuhan dan perkembangan Lembaga-lembaga Pendidikan Islam di Indonesia, (Gramedia Widia Sarana Indonesia, Jakarta,  2001), hlm: 101

2 Achmad  Syafi’I Noer, Pesantren : Asal Usul dan Pertumbuhan Kelembagaan, op cit,  hlm: 89

3 Imdadun Rahmat, Pesantren Menjajaki Perubahan; dalam Majalah Pesantren, Edisi XI, Januari 2003, hlm: 6

4 Ibid

5 Wahid  Zaini, Dunia Pemikiran Kaun Santri,  (LKM, DIY: 1995), hlm:85

6 UUD RI NO: 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasioanal, (Citra Umbara, Bandung: 2003), hlm: 20

7 Himpunan Peraturan Perundang-undangan Bidang Kependidikan, (Novindo Pustaka Mandiri Jakarta, 2001), hlm: 316

8 Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi esai-esai Pesantren,  (Lkis, Yogyakarta: 2001), hlm: 136 – 137

9 Marzuki Wahid  et al, Pesantren Masa Depan: wacana pemberdayaan dan transformasi pesantren, (Pustaka Hidayah, 1999), hlm: 212.

10 Ibid hlm: 213

11 Ibid

12 A. Malik Fajar, Reorientasi Pendidikan Islam,  (Fajar Dunia,1999), hlm:115

13 Matin Van Bruenessen,  Kitab Kuning Psantren dan Tareka,  (Mizan, Bandung, 1999),  hlm : 17

14 Ahmad El Chumaidy, Membongkar Tradisionalisme Pesantren:  Sebuah Pilihan Sejarah, Edisi 06 Oktober 2002, hlm 2

Under arsip: Perkuliahan.com.
Post title : Contoh Proposal Skripsi Tarbiyah