Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Hakekat dan Manfaat Zakat Fitrah/ zakat fitri

Judul postingan : Hakekat dan Manfaat Zakat Fitrah/ zakat fitri
Bidang  postingan  : CONTOH  teknis lomba, (perkuliahan.com)
next Post :  Bagaimana Cara Berpidato yang baik dan benar

ZAKAT FITRI / ZAKAT FITRAH

perlu kita ketahui bersama sebagai umat islam untuk lebih mengetahui dan mengkaji lebih dalam terhadap amalan dan peribadatan yang sering kita lakukan hanya sekedar menjadi semacam tradisi dan rutinitas, sehingga dari yang kita lakukan akan terasa hampa dan kering. berikut beberapa wacana tentang zakat fitrah yang sering kita laksanakan menjelang idul fitri, perkuliahan.com mengutip dari sebuah artikel tanpa sumber dalam format .doc yang saya pub dengan harapan lebih bisa manfaat.
Zakat Fitrah / Zakat fitri adalah mengeluarkan makanan yang biasa dijadikan sebagai bahan makanan pokok di suatu negeri; dan bagi masyarakat muslim Indonesia adalah beras, sebanyak kurang lebih 2,5 kg, yang dibagi dan diperuntukkan untuk para fuqara dan masakin sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri. Nama lain dari Zakat Fitrah / Zakat fitri ini antara lain, zkat shaum, sadaqah fitri, sadaqah Ramadhan, zakat al-abdan, dan sadaqah al-ru’us. Zakat ini disyari’atkan pertama kali pada tahun kedua Hijrah.
Rasulullah saw. mewajibkan Zakat Fitrah / Zakat fitri pada bulan Ramadhan sebagai penyucian diri bagi orang yang berpuasa dari perbuatan fakhsya yang mungkin dilakukannya saat berpuasa. Zakat Fitrah / Zakat fitri dianggap sebagai penambal celah-celah bolong yang terjadi pada waktu berpuasa, sebagaimana halnya sujud sahawi dapat dianggap sebaga ipenambal celah-celah bolong karena lupa ketika shalat. Zakat Fitrah / Zakat fitri juga merupakan usaha untuk mencegah orang-orang fakir dan miskin dari meinta-minta pada Hari Raya, sekaligus menumbuhkan perasaan gembira bagi mereka, merasakan keagungan Islan, kedermawanan sosial, dan pengakuan kemanusiaan mereka.
Dalam hadis disebutkan:
فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر طهرة للصايم من اللغو والرفث وطعمة للمساكين فمن اداها قبل الصلاة فهى زكاة مقبولة, ومن اداها بعدالصلاة فهى صدقة من الصدقات.
Rasulullah Saw. mewajibkan Zakat Fitrah / Zakat fitri untuk mensucikan orang yang puasa dari perbuatan iseng dan ucapan yang tidak baik, disamping untuk memberi makan orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘Id maka dianggap zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya sesudah shalat ‘Id maka dianggap sedekah biasa seperti sedekah-sedekah yang lain.

Zakat adalah salah satu rukun Islam dan berfungsi sebagai tiang pokok ajaran Islam. Di dalam al-Qur’an cukup banyak disebutkan perintaqh zakat serangkai dengan perintah shalat. Sebanyak 16 kali kata اقيمواالصلاة berulang dalam al-Qur’an, 8 kali di antaranya digandengkan dengan kata اتواالزكاة. Oleh karena itu, paling tidak, dipahami bahwa kewajiban zakat setara kuatnya dengan hukum perintah shalat. Misalnya saja, Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 43:
واقيمواالصلاة واتواالزكاة واركعوامع الراكعين
Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’
Jadi, zakat hendaknya dapat membangun dan menciptakan kesadaran untuk tidak sekedar memberi, tetapi diharapkan lebih dari itu. Ia harus menjadi mitra bagi kaum dhu’afa yang biasanya sering dikesampingkan hak-hak mereka untuk memperoleh keadilan sosial. Lagi pula, pemberian ala kadarnya yang bergaya sinterklas justru semakin mengukuhkan suatu bentuk kesadaran imitasi yang membuat mereka bersifat pasrah pada nasib buruk dan berprilaku menunduk-nunduk.
Memang risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. adalah untuk mengatur hidup dan kehidupan manusia di dunia, bukan untuk menjauhi dan mengingkari dunia. Misi yang dibawa Nabi Muhammad justru untuk mendorong, memotivasi, dan bahkan memerintahkan agar umat manusia mencari dan menggali karunia Allah yang tersedia di alam raya ini, untuk kemudian dimanfaatkan dan dinikmati. Sebagaimana firman Allah di dalam QS. Al-Qashash (28): 73:
ومن رحمته جعل لكم اليل والنهار لتسكنوا فيه ولتبتغوا من فضله ولعلكم تشكرون.
Dan sebagian dari rahmat Allah itu (adalah) menjadikan bagi kalian malam untuk beristirahat dan siang untuk berusaha, agar memperoleh karunia-Nya, dan mudah-mudahan kalian bersyukur (kepada-Nya).
Akan tetapi, patut dihargai bahwa disamping manusia didorong untuk mempunyai gairah dalam berusaha mencari dan menggali segala pemberian Allah yang dibentangkan di bumi ini untuk meningkatkan taraf hidupnya, Allah Swt. juga mengutuk karunia Allah itu hanya dinikmati oleh segelintir atau sebagian mahluk-Nya, sedangkan sebagian yang lain tidak mendapat bagian dan kesempatan untuk menikmatinya. Akibatnya, timbullah jurang pemisah antara golongan yang kuat dengan kekayaan yang melimpah ruah dan tidak memperoleh tingkat hidup yang layai untuk memenuhi persyaratan minimal baig kehidupan manusia. Dalam hal ini, Allah SWT. mengaskan di dalam QS. ALHUMAZAH (104): 1-4:
ويل لكل همزة لمزة . الذى جمع مالا وعدده . يحسب أن ماله أخلده . كلا لينبزن فى الحطمة
Celakalah bagi pengumpat dan penista (pencela); yang menumpuk-numpuk harta benda dan menghitung-hitungnya; Ia mengira harta bendanya itu akan kekal memlihara dia; Tidak! Sekali-kali tidak Ia (benar-benar) akan dilemparkan ke dalam neraka Hurthamah.
Begitu pula, didalam QS. At-Takatsur (102) : 1-3:
ألهاكم التكاثر . حتى زرتم المقابر . كلا سوف تعلمون
Kamu telah dilalaikan dalam perlombaan memperbanyak harta benda; sehingga kalian masuk ke liang kubur; jangan begitu, (Sebab) nanti kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian)
Melalui ayat-ayat di atas, sesungguhnya Allah telah memperingatkan agar manusia tidak membuat bencana bagi dirinya sendiri dengan cara menumpuk-numpuk harta bagi diri dan kelompoknya. Tanpa ada pembagian pendapatan secara merata. Mereka tidak sadar bahwa penumpukan kekayaanya itu dilakukan dengan daa upayanya untuk kebahagiaannya sendiri, tanpa memperlihatkan nasib orang lain
Banyak ayat Al-Qur’an yang memerintahkan pembagian rezeki secara merata, seperti ditegaskan di dalam QS. AL-Isra’ (17): 26:
وءات ذا القربى حقه والمسكين وابن السبيل ولا تبذر تبذيرا
Berikan haknya para kerabat (keluarga terdekat), orang-orang miskin dan orang-orang yang kehabisan dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan harta secara boros (yang tidak ada gunanya)
Dalam pada itu, kewajiban mengeluarkan zakat merupakan pembagian kembali pendapatan yang diperoleh dari usahanya untuk di berikan kepada kaum fakir dan miskin.
Tegasnya, zakat, tidak terkecuali bahkan utamanya Zakat Fitrah / Zakat fitri, harus memiliki fungsi sosial cultural, yakni ditemukannya juga suatu cara untuk meningkatkan kesejahteraan umat. Kita tidak hanya memandang pemanfaatan kaum dhu’afa, tetapi secara sedikit demi sedikit, dalam bulan suci Ramadhan social masyarakat. Dengan mengelauarkan zakat, insya Allah kesejahteraan umat bisa merata dan keadilan sicial masyarakat dapat terwujud, karena kedua belah pihak saling mengisi.