Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Skripsi Tentang Kenakalan Remaja

Post title : Skripsi Tentang Kenakalan Remaja
Post  Category   : Dengan maraknya tawuran antar pelajar , maka perlu satu evaluasi tentang permasalahan ini, terlebih pelajar merupakan generasi yang diharapkan dimasa depan menjadi aktor perubahan untuk memperbarui nasib bangsa yang masih diambang kehancuran. institusi pendidikan seharusnya segera berbenah diri melalui evaluasi kajian terhadap kenakalan remaja. skripsi dan penelitian tentang kenaklan remaja seharusnya tidak cuma menjadi tumpukan pustaka, namun penelitian, kajian dan skripsi tentang kenakalan remaja harus di bumikan menjadi obat bagi generasi yang sedang sakit. berikut contoh proposal tentang kenakalan remaja yang telah di publikasikan. semoga mnjadi contoh dan perbandingan / sebagai kajian pustaka
data post: perkuliahan.com edition of : 199
next post: Faktor-Faktor yang mempengaruhi Kenakalan Remaja

Proposal Skripsi tentang Kenakalan Remaja

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Masalah remaja adalah suatu masalah yang sebenarnya sangat menarik untuk dibicarakan, lebih-lebih pada akhir-akhir ini, telah timbul akibat negatif  yang sangat mencemaskan yang akan membawa kehancuran bagi remaja itu sendiri dan masyarakat pada umumnya. Di mana-mana, orang sibuk memikirkan remaja dan bertanya apa yang di maksud dengan remaja, umur berapa anak atau orang dianggap remaja? Apa kesukaran atau masalahnya? Bagaimana mengatasi kesukaran tersebut?  Mengapa remaja menjadi nakal dan bagaimana cara menanggulanginya? Inilah yang menjadi masalah penting dari sekian masalah remaja.

Persoalan remaja selamanya hangat dan menarik, baik di negara yang telah maju maupun di negara terbelakang, terutama negara yang sedang berkembang. Karena remaja adalah masa peralihan, seseorang telah meninggalkan usia anak-anak yang penuh kelemahan dan ketergantungan tanpa memikul sesuatu tanggung jawab, menuju kepada usia dewasa yang sibuk dengan tanggung jawab penuh. Usia remaja adalah usia persiapan untuk menjadi dewasa yang matang dan sehat. Kegoncangan emosi, kebimbangan dalam mencari pegangan hidup, kesibukan mencari pegangan hidup,  kesibukan mencari bekal pengetahuan dan kepandaian untuk menjadi senjata dalam usia dewasa merupakan bagian yang dialami oleh setiap remaja.

Remaja pada hakikatnya sedang berjuang untuk menemukan dirinya sendiri, jika dihadapkan pada keadaan luar atau lingkungan yang kurang serasi penuh kontradiksi dan labil, maka akan mudahlah mereka jatuh kepada kesengsaraan batin, hidup penuh kecemasan, ketidakpastian dan kebimbangan. Hal seperti ini telah menyebabkan remaja-remaja Indonesia jatuh pada kelainan-kelainan kelakuan yang membawa bahaya terhadap dirinya sendiri baik sekarang, maupun di kemudian hari.[1]

Menurut Prof. M. Arifin istilah kenakalan remaja merupakan terjemahan dari kata juvenile delinquency yang dipakai di dunia Barat. Istilah ini mengandung pengertian tentang kehidupan remaja yang menyimpang dari berbagai pranata dan norma yang berlaku umum. Baik yang menyangkut kehidupan bermasyarakat, tradisi, maupun agama, serta hukum yang berlaku. Lebih jelasnya pengertian kenakalan tersebut mengandung beberapa ciri pokok, sebagai berikut:

  1. Tingkah laku yang mengandung kelainan-kelainan berupa perilaku atau tindakan yang bersifat a-moral, a-sosial atau anti sosial.
  2. Dalam perilaku atau tindakan tersebut terdapat pelanggaran terhadap norma-norma sosial, hukum, dan norma agama yang berlaku dalam masyarakat.
  3. Tingkah/perilaku, perbuatan serta tindakan-tindakan yang betentangan dengan nilai-nilai hukum atau undang-undang yang berlaku yang jika dilakukan oleh orang dewasa hal tersebut jelas merupakan pelanggaran atau tindak kejahatan (kriminal) yang diancam dengan hukuman menurut ketentuan yang berlaku.
  4. Perilaku, tindakan dan perbuatan tersebut dilakukan oleh kelompok usia remaja. [2]

Menariknya masalah ini untuk diteliti adalah karena masalah remaja sangat meresahkan orang tua, masyarakat, bahkan negara, mengingat apa yang dilakukan oleh remaja saat ini sangat membahayakan masyarakat dan berdampak pada kepentingan orang banyak.

Meskipun cara penanggulangan kenakalan remaja telah diulas oleh  para ahli namun kenyataannya sampai saat ini kebrutalan remaja tidak makin berkurang kalau tidak boleh dikatakan bertambah dalam frekuensi yang makin mengkhawatirkan. Namun demikian untuk menanggulangi kenakalan remaja tidak seharusnya berhenti mengungkapkan gagasan baru karena tiada suatu penyakit yang tidak ada obatnya. Untuk itulah peneliti hendak menganalisis cara penanggulangan juvenile delinquency menurut Prof. M.Arifin dan Prof. Zakiah Daradjat dihubungkan dengan kemitraan orang tua.

Sebabnya meneliti konsep pemikiran Prof. M. Arifin dan Prof. Zakiah Daradjat bukanlah berarti pendapat lain kurang baik melainkan karena pemikiran kedua tokoh itu tentang juvenile delinquency belum banyak yang meneliti terutama dalam paradigma komparasi. Adapun alasan meneliti tentang kemitraan orang tua adalah karena adanya fenomena hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan remaja telah lama menjadi kekhawatiran masyarakat di berbagai belahan dunia. Ada suatu asumsi yang masih perlu diuji keabsahannya bahwa orang tua dan para remaja berada dalam pertentangan yang lebih sering terjadi pada bangsa-bangsa modern dibandingkan dengan kurun waktu yang lalu. Padahal para remaja memiliki persamaan dengan orang tua dalam politik, moral, selera makanan, dan pakaian. Namun entah mengapa, dalam hubungannya dengan orang tua, pertentangan lebih dominan mewarnai hubungan mereka.[3]

Berdasarkan uraian di atas, mendorong peneliti mengangkat tema ini dengan judul “Kemitraan Orang Tua dalam Menanggulangi Juvenile Delinquency Menurut Prof. M. Arifin dan Prof.Zakiah Daradjat”.

B.     Alasan Pemilihan judul

Juvenile delinquency merupakan dua kata yang lazimnya diartikan kenakalan remaja. Masalah kenakalan remaja bukan saja persoalan nasional bahkan internasional. Banyak pakar yang memberi perhatian terhadap kenakalan remaja di antara tokoh yang banyak menaruh perhatian terhadap problematika remaja adalah M.Arifin dan Zakiah Daradjat.

Alasan memilih judul di atas adalah karena masalah remaja telah mengakibatkan timbulnya kecemasan orang tua, masyarakat bahkan negara. Karenanya perlu ada penelitian tentang apa sebenarnya yang menjadi faktor terjadinya kenakalan remaja dan bagaimana cara menanggulanginya.

C.    Penegasan Istilah

  1. Kemitraan Orang Tua

Hubungan kemitraan (partnership), yaitu suami melakukan peran publik dan domestik, artinya kendatipun suami berperan utama sebagai pencari nafkah, dalam hal-hal urusan rumah tangga yang menjadi pekerjaan istri, suami mampu melakukannya. Pola hubungan partnership dalam keluarga menempatkan hubungan suami istri secara wajar dan seimbang. Suami istri mendapatkan hak yang sama dalam mengelola rumah tangga. Dalam pola hubungan partnership dapat diterapkan pada keluarga yang suami dan istrinya sama-sama mencari nafkah.

Pola hubungan kemitraan lebih ditekankan pada sikap dalam pembagian peran mendidik anak. Hal ini karena peran-peran domistik dalam rumah, telah banyak bergeser kepada pembantu rumah tangga. Demikian pula dalam hal pengambilan keputusan, suami dan isteri dapat berdiskusi secara argumentatif mengenai masalahnya. Pada suatu saat, suami sebagai pengambil keputusan dan pada saat yang lain isterilah yang mengambil keputusan yang diambil dalam pola hubungan kemitraan ini saling mempertimbangkan kebutuhan dan keputusan masing-masing. Dengan demikian, perkembangan individu dalam pola hubungan partnership sangat diperhatikan.

Di lain pihak, hubungan kemitraan bisa dilakukan dengan sama-sama melakukan inisiatif secara wajar dan seimbang antara suami dan isteri. Suami dituntut bertanggung jawab atas inisiatif yang dikeluarkannya dan demikian pula sebaliknya bagi isteri. Hal ini dilakukan karena suami dan isteri adalah teman baik yang satu sama lain saling mendukung dan membutuhkan. Dengan kata lain hubungan kemitraan yaitu hubungan yang seimbang antara suami isteri serta bergerak dalam bentuk yang lentur, suami suatu waktu bisa berperan sebagai isteri dan sebaliknya isteri bisa berperan sebagai suami yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

  1. Kemitraan Orang Tua dengan anak

Fenomena hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan remaja telah lama menjadi kekhawatiran masyarakat diberbagai belahan dunia. Ada suatu asumsi yang masih perlu diuji keabsahannya bahwa orang tua dan para remaja berada dalam pertentangan yang lebih sering terjadi pada bangsa-bangsa moderen dibandingkan dengan kurun waktu yang lalu. Padahal para remaja para remaja memiliki persamaan dengan orang tua dalam politik, moral, selera makanan dan pakaian. Namun entah mengapa dalam hubungannya dengan orang tua, pertentangan lebih dominan mewarnai hubungan mereka.[4]

Banyak perspektif yang berusaha menjelaskan terjadinya ketegangan antara orang tua dan remaja. Mulai dari analisis menurunnya dominasi orang tua dan hilangnya wibawa institusi pendidikan beserta gurunya. Suatu hubungan orang tua dengan anak akan harmonis manakala mencerminkan hubungan kemitraan. Hubungan tersebut ditandai oleh kesadaran masing-masing dalam menunaikan hak dan kewajibannya secara timbal balik.

  1. Juvenile Delinquency

Term juvenile delinquency dikemukakan oleh sarjana dalam rumusan yang bervariasi namun substansinya sama. Kartini Kartono misalnya menyatakan juvenile delinquency (juvenilis=muda, delinquency dari delincuare=jahat, durjana, pelanggar, nakal) ialah anak-anak muda yang selalu melakukan kejahatan,  antara lain dilatar belakangi untuk mendapatkan perhatian, status sosial dan penghargaan dari lingkungannya.[5] Dengan demikian juvenile delinquency ialah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang.[6]

Peter Salim mengartikan juvenile delinquency adalah kenakalan anak remaja yang melanggar hukum, berperilaku anti sosial, melawan orang tua, berbuat jahat, sehingga sampai diambil tindakan hukum. Sedang juvenile delinquent adalah anak remaja yang ditandai dengan  juvenile delinquency.[7]

John M. Echols dan Hassan Shadily menterjemahkan juvenile delinquency sebagai kejahatan atau kenakalan anak-anak atau anak muda atau muda-mudi.[8]

Dalam Ensiklopedi Umum dijelaskan juvenile delinquency adalah pelanggaran hukum atau moral yang dijalankan individu di bawah umur, biasanya pelanggaran ringan (pencurian, penipuan, perusakan dan sebagainya), akan tetapi ada pula termasuk berat (perkosaan, pembunuhan dan sebagainya).[9]

Simanjuntak dengan pendekatan kriminologi, mengartikan juvenile delinquency sebagai perbuatan dari tingkah laku yang merupakan kegiatan perkosaan terhadap norma hukum pidana dan pelanggaran terhadap kesusilaan yang dilakukan oleh para juvenile delinquency.[10]

Dengan mengkaji rumusan-rumusan di atas, maka pada intinya secara sederhana juvenile delinquency dapat diterjemahkan kenakalan remaja.

D.     Pokok Permasalahan

Permasalahan merupakan penjabaran dari tema sentral masalah menjadi beberapa sub-masalah yang spesifik, yang dirumuskan berupa  kalimat tanya.[11]

  1. Apakah yang dimaksud juvenile delinquency ?
  2. Apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya juvenile delinquency?
  3. 3.      Bagaimanakah pentingnya kemitraan orang tua dalam menanggulangi juvenile delinquency menurut Prof. M.Arifin dan Prof. Zakiah Daradjat?

E.     Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian merupakan usaha dalam memecahkan masalah yang disebutkan dalam perumusan masalah. Karena itu tujuan penelitian ini sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui hal ikhwal juvenile delinquency
  2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya Juvenile delinquency.
  3. Untuk mengetahui relevansinya kemitraan orang tua dalam menanggulangi juvenile delinquency menurut Prof. M.Arifin dan Prof. Zakiah Daradjat.

Adapun manfaat penelitian dapat ditinjau dari dua aspek

  1. Secara teoritis, tulisan ini diharapkan dapat menambah khazanah kepustakaan Fakultas Tarbiyah, setidak-tidaknya sebagai pelengkap kajian kenakalan masalah remaja. Selain itu sebagai syarat akhir untuk memperoleh gelar sarjana strata 1 (S1) dalam bidang ilmu dakwah.
  2. Secara praktis, apakah dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

F.     Tinjauan Pustaka

Sepanjang pengetahuan peneliti, ditemukan adanya beberapa hasil penelitian yang mencoba mengungkapkan permasalahan di atas antara lain:

Pertama, skripsi yang disusun oleh Ali Mahhrus (3197031 Tahun 2003) yang berjudul: ”Prof.Zakiah Daradjat tentang Pembinaan Moral dan Agama bagi Remaja. Kesimpulan yang dapat diambil dari skripsi ini yaitu kenakalan anak dan remaja merupakan persoalan yang sangat kompleks dan disebabkan oleh bermacam-macam faktor. Maka dalam penanggulangannya diperlukan bermacam-macam usaha, antara lain yang terpenting adalah usaha preventif, agar kenakalan itu dapat dibendung dan tidak menular kepada anak yang masih baik. Tentu saja usaha represif dan rehabilitasi pun perlu diperhatikan, agar anak yang nakal dapat diperbaiki dan kembali hidup sebagai anggota masyarakat yang baik. Dalam semua usaha itu, peranan agama dan pembinan moral sangat penting, karena agama memberikan pedoman dan peraturan yang pasti serta dipatuhi dengan sukarela atas dorongan dari dalam diri sendiri bukan karena paksaan dari luar.

Kedua, skripsi yang disususun oleh Encep Idrus (1197011 Tahun 2002) yang berjudul: “Konsep Pembinaan Remaja menurut Pemikiran  Prof.Zakiah Daradjat ”.

Kesimpulan skripsi ini dapat diungkap sebagai berikut :

  1. Pertumbuhan seorang remaja sangat ditentukan oleh bagaimana cara keluarga membina anak remaja itu. Seorang yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga yang penuh cinta kasih dan perhatian maka kecenderungan anak itu mencintai dan mengasihi sesamanya. Sebaliknya remaja yang hidup dalam keluarga yang penuh dengan dendam, kebencian, kekerasan dan masa bodoh, maka remaja itu akan menjadi anak yang cenderung asosial, amoral dan merugikan orang lain.
  2. Dalam membina remaja harus melakukan berbagai pendekatan terutama pendekatan agama menjadi syarat mutlak. Namun demikian agar agama tidak terkesan pemaksaan, maka pendekatan psikologis harus turut dilibatkan

Ketiga, skripsi yang disusun oleh Yusuf (3197106 Tahun 2003) berjudul: ”Upaya Dakwah Islam dalam Menanggulangi Tindak Kekerasan dan Perilaku Amoral di Kalangan Remaja ( Study Kasus Pada Remaja di Kecamatan Ciamis Kabupaten Bogor)”.

Temuan dari skripsi ini dapat diungkap sebagai berikut :

  1. Dakwah Islam dalam menanggulangi tindak kekerasan dan perilaku amoral di kalangan remaja tidak cukup dengan lisan saja melainkan  suri tauladan sangat mempengaruhi remaja dalam berperilaku. Dewasa ini terjadi ketimpangan antara ucapan dengan perbuatan, sehingga remaja mengalami kesulitan dalam mencari tokoh anutan untuk berperilaku.

2.   Untuk menanggulangi tindak kekerasan dan perilaku amoral, maka dakwah Islam harus lebih dikembangkan dengan arif dan bijaksana dalam arti dapat menyentuh hati sanubari remaja. Namun demikian karena remaja sosok manusia yang sangat sensitif, maka dakwah ada baiknya tidak bersifat menggurui. Itulah yang diharapkan masyarakat, khususnya remaja di Kecamatan Ciamis Kabupaten Bogor.

Keempat, skripsi yang disusun oleh Siti Maimunah (3197048 Tahun 1996) dengan judul “Metode Bimbingan dan Penyuluhan Agama Islam terhadap Remaja di Kecamatan Dempet Kabupaten Demak”.

Temuan dari skripsi ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan agama terhadap remaja, harus menggunakan metode yang bervariasi, karena boleh jadi metode yang satu kurang pas sementara metode yang lain bisa mengena dan efektif.
  2. Bimbingan dan penyuluhan agama Islam terhadap remaja di Kecamatan Dempet Kabupaten Demak dalam metodenya mulai disesuaikan dengan kebutuhan remaja yang terus berubah demikian cepatnya. Sehingga efektifitas bimbingan dan penyuluhan mulai terasa, terbukti misalnya remaja mulai menggemari masjid, mengunjungi perpustakaan meskipun kecil dan angka kenakalan remaja pun turun secara perlahan.

Dari keempat skripsi di atas, fokus perhatiannya hanya pada satu tokoh dan lokasi. Judul skripsi yang pertama dan kedua hanya menyoroti satu tokoh. Judul skripsi yang ketiga, fokusnya hanya menggambarkan peristiwa atau fenomena satu lokasi kecamatan yang belum merepresentasikan keseluruhan populasi (universe) sehingga belum bisa menggeneralisasikan keseluruhan remaja. Judul skripsi keempat, hanya berpijak pada satu lokasi kecamatan, sehingga belum bisa dijadikan parameter dalam pengertian remaja keseluruhan. Di samping itu objek remaja dalam arti umum, bukan unsur delinquencynya. Sedangkan skripsi yang peneliti susun ini hendak mengungkap analisa para ahli secara keseluruhan meskipun pada akhirnya fokus bahasan akan bermuara pada pemikiran Prof. M. Arifin dan Prof.Zakiah Daradjat, namun pendekatan komparatif akan menjadi prioritas dengan harapan hasilnya dapat merefleksikan temuan yang valid dan reliabel serta holistik.

G.    Metodologi Penelitian

Dalam metode penelitian ini, peneliti akan mengetengahkan: sumber data, teknik pengumpulan data, dan metode analisis data, dengan harapan penulisan skripsi dapat dipertanggung-jawabkan sebagai karya ilmiah, dengan rincian sebagai berikut:

 

  1. Sumber-sumber Data

Sumber data penulisan skripsi terdiri dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Sebagai sumber primernya, peneliti menggunakan karya-karya ilmiah yang disusun Prof.M.Arifin dan Prof.Zakiah Daradjat yang berhubungan dengan kenakalan remaja. Sedang sebagai data sekunder digunakan kepustakaan lainnya yang membahas masalah juvenile delinquency.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Sebagai teknik pengumpulan datanya, digunakan teknik kepustakaan.[12] Dalam menganalisis sejumlah buku, peneliti memilah-milah antar kepustakaan yang memiliki otoritas keilmuan dan kepustakaan yang hanya dijadikan sebagai pelengkap atau penunjang, setelah itu antara kepustakaan satu dengan  lainnya dibandingkan guna dicari persamaan dan perbedaan. Dari perbandingan dapat dilakukan telaah kritis tentang kelemahan dan kelebihan masing-masing teori yang pada akhirnya dapat dianalisis secara kritis tentang konsep mana yang masih relevan dengan dinamika masyarakat dalam konteksnya dengan pendidikan.

  1. Metode Analisis Data

Sebagai  metode analisis data digunakan metode sebagai berikut:

  1. Metode Deskriptif, yaitu sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki, dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang, berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya.[13] Dengan metode deskriptif dimaksudkan bahwa pemikiran Prof.M.Arifin dan Prof.Zakiah Daradjat dalam hal juvenile delinquency akan dipaparkan sebagaimana adanya. .
  2. Metode Komparatif, yaitu dengan membanding-bandingkan antara pendapat Prof.M.Arifin dan Prof.Zakiah Daradjat dengan penulis-penulis lainnya, guna dicari persamaan dan perbedaan.

H.    Sistematika Penulisan

Agar  penelitian ini dapat mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan, maka disusun sedemikian rupa secara sistematis yang terdiri dari lima bab,  masing-masing memperlihatkan titik berat yang berbeda namun dalam satu kesatuan.

Bab kesatu berisi pendahuluan, merupakan gambaran umum secara global namun holistik dengan memuat: latar belakang, penegasan istilah, pokok permasalahan, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan  pustaka, metode penelitian dan sistematika penulisan.

Bab kedua berisi Kemitraan orang tua dalam menanggulangi  juvenile delinquency meliputi: pengertian kemitraan orang tua, batasan remaja dan perkembangannya, pengertian  juvenile delinquency dan masalahnya, faktor-faktor terjadinya juvenile delinquency dan kemitraan orang tua dalam penanggulangan  juvenile delinquency.

Bab ketiga berisi konsep Prof.M.Arifin dan  Prof. Zakiah Daradjat tentang juvenile delinquency meliputi: konsep  Prof.M.Arifin tentang juvenile delinquency ( biografi dan karya Prof. M.Arifin, konsep Prof. M.Arifin tentang juvenile delinquency, menganggulangi juvenile delinquency menurut  Prof. M.Arifin). Konsep Prof. Zakiah Daradjat tentang juvenile delinquency (biografi dan karya Prof.Zakiah Daradjat, konsep Prof.Zakiah Daradjat tentang juvenile delinquency, menanggulangi juvenile delinquency menurut Prof. Zakiah Daradjat)

Bab keempat berisi analisis  dan pembahasan yang meliputi : analisis penanggulangan konsep Prof. M.Arifin dan Prof. Zakiah Daradjat tentang juvenile delinquency; analisis upaya penanggulangan juvenile delinquency menurut Prof. M.Arifin dan Prof.Zakiah Daradjat.

Bab kelima merupakan penutup berisi kesimpulan, saran-saran dan kata penting.

 


[1] Zakiah Daradjat, Perawatan Jiwa untuk Anak-anak, Cet 2, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 356.

[2] M.Arifin, Pedoman Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan Agama, Cet 5, (Jakarta: PT.Golden Trayon Press, 1994), hlm. 79-80

[3] Pernyataan ini didasarkan pada tulisan Kinsley Davis, The Sociology of Parent Youth Conflic sebagai dikutip oleh Willian J. Goode dalam, The Family, Terj. Laila Honoum, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), hlm. 160.

[4] Pernyatan ini didasarkan pada tulisan Kingsley Davis, The Sociology of Parent Youth Conflik sebagaimana dikutip oleh William J. Goode dalam, The Family, Terj Laila Hanoum, Bumi aksara, 1995 hlm.160.

[5] Kartini Kartono, Patologi Sosial 3: Gangguan-gangguan Kejiwaan, Ed, 2 (Jakarta: CV Rajawali, 2002),  hlm. 209.

[6] Kartini Kartono, Patologi Sosial 2: Kenakalan Remaja, Cet 5, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2003), hlm. 6.

[7] Peter Salim, Salim Ninth Collegiate English Indonesia Dictionary, Cet 3, (Modern English Press, 1987), hlm. 321.

[8] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Enggris Indonesia, Cet. 21, (Jakarta: PT. Gramedia , 1995), hlm. 339, 172.

[9] Yayasan Dana Buku Franklin, Ensiklopedi Umum, Cet 2, (Jakarta: Dina Utama, 1985), hlm. 241.

[10] Simanjuntak, Pengantar Kriminologi dan Patologi Sosial, (Bandung: Transito, 1977), hlm. 292.

[11] Didi Atmadilaga, Panduan Skripsi, Tesis, Disertasi, (Bandung: CV. Pioner Jaya, 1997), hlm. 87.

[12] Sutrisno Hadi,  Metodologi Research, Cet. 32, Jilid 1, (Yogyakarta: Andi, 2001), hlm. 9.

[13] Hadari Nawawi, Mimimartini, Penelitian Terapan, Cet. 11, (Yogyakarta: Gajah Mada Universiti Press, 1996), hlm. 73., CF. Sutrisno Hadi, op. cit, hlm. 3.

Category: Contoh Proposal

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*