Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Skripsi Efektivitas Pembelajaran di Sekolah

 Under arsip:  Perkuliahan.com. Post title :Proposal Skripsi efektifitas  Pendidikan,  Contoh Proposal Skripsi Pendidikan tentang pengarus prestasi belajar pendidikan dan keberhasilan mata plajaran 
Post  Category   : skripsi efektifitas 
data post: perkuliahan.com edition of : 203 next post : Contoh Proposal Skripsi Pendidikan Tentang Prestasi Belajar

Skripsi Efektivitas Belajar Mengajar

  1. Pengertian Efektivitas

Efektif adalah “berhasil guna”.[1]

Efektif adalah “tepat sasaran”.[2]

Efektivitas adalah : ketepatgunaan atau menunjang tujuan.[3]

Dari pengertian tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud efektivitas adalah sejauh mana suatu kegiatan itu berhasilguna dan tepat sasaran.

  1. Kriteria Efektivitas
    1. Kurikulum

Dari pendapat para ahli pendidikan, kurikulum mempunyai beberapa pengertian diantaranya:

Kurikulum adalah “niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru disekolah”.[4]

Kurikulum adalah “segala pengalaman pendidikan yang diberikan oleh sekolah kepada seluruh anak didiknya, baik dilakukan di dalam sekolah maupun di luar sekolah”.[5]

Kurikulum secara tradisional diartikan “sebagai mata pelajaran yang dianjurkan di sekolah”.[6]

Kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan, karena kurikulum adalah arcle of intruction dimana di dalam kurikulum itu tergambar secara jelas dan terencana bagaimana dan apa saja yang harus terjadi dalam belajar mengajar .

Menurut M. Arifin kurikulum adalah segala mata pelajaran yang dipelajari dan semua pengalaman yang harus diperoleh serta semua kegiatan yang dilakukan oleh anak didik. Dengan demikian kurikulum harus didesain berdasarkan pada pemenuhan kebutuhan manusia didik dan isinya terdiri dari pengalaman yang sudah teruji kebenarannya, pengalaman yang edukatif, eksperimental, dan adanya rencana dan sasaran tertentu.[7]

  1. Daya Serap

Daya Serap terdiri dari dua suku kata, tiap kata tersebut mempunyai pengertian sendiri-sendiri, yaitu:

Daya artinya “kemampuan untuk melakukan sesuatu atau bertindak”.[8]

Daya artinya “kemampuan, kekuatan, upaya untuk melakukan usaha”.[9]

Sedangkan kata serap artinya mendalam benar-benar.[10]

Dari pengertian tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa daya serap adalah kemampuan atau kekuatan untuk mencerna dan menguasai secara mendalam penyajian bahan pelajaran yang telah diterima oleh anak didik.

Untuk itu sebelum mengembangkan perencanaan pengajaran guru terlebih dahulu perlu melakukan telaah terhadap perkembangan aspek kognitif, dan intelektual siswa-siswi untuk dijadikan sebagai dasar dalam merencanakan pengetahuan baru yang dirancang secara tepat.

  1. Prestasi Belajar

Prestasi Belajar mempunyai arti “apa yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar”.[11]

Prestasi belajar adalah “pernyataan hasil belajar yang diwujudkan dalam bentuk nilai”.[12]

Menurut pengertian yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan lazimnya diajarkan dengan nilai yang diberikan oleh guru.

Sejalan dengan pengertian di atas maka taraf prestasi belajar merupakan bukti penguasaan terhadap suatu mata pelajaran yang diwujudkan dengan bentuk nilai tes atau angka rapot.

Prestasi belajar bisa menjadi salah satu pedoman untuk mengetahui tercapai tidaknya suatu tujuan. Maka tujuan pendidikan dapat digunakan untuk melihat keberhasilan atau prestasi siswa-siswi  setelah ia melaksanakan proses pendidikan. Ini artinya siswa-siswi  dianggap berprestasi apabila ia dapat mencapai tujuan tersebut. Berdasarkan tujuan prestasi pendidikan, prestasi pendidikan dapat terwujud dalam bermacam-macam corak seperti: sikap sosial homat menghormati, berakhlak mulia, taat menjalankan ibadah disertai dengan keimanan dan ketakwaan dan lain-lain. Prestasi ada yang berdasarkan ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.

  1. Kompetensi Guru

Dari segi pengertian, Kompetensi mempunyai arti kemampuan yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan mulai dari yang sederhana sampai dengan yang komplek.[13]

Guru sebagai pemimpin anak didik dalam kegiatan belajar mengajar dituntut memiliki keahlian dan profesionalisme dalam bidang pengajaran. Dengan keahlian dan profesionalisme tersebut diharapkan bisa memberikan banyak perubahan positif pada anak. Sebab banyak guru yang telah bertahun tahun mengajar tetapi sebenarnya kegiatan yang dilakukannya tidak banyak memberikan aspek perubahan positif dalam kehidupan anak didiknya, sebaliknya ada juga guru yang relatif baru, namun telah memberikan kontribusi konkrit kearah kemajuan dan perubahan positif dalam diri anak didik.

Menurut pasal 7 UU 14/2005 tentang guru dan dosen dijelaskan bahwa profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

  1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.
  2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwan, dan akhlaq mulia.
  3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas.
  4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas.
  5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.
  6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan  prestasi kerja.
  7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.
  8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dan memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan keprofesionalan guru.

Implementasi profesionalisme tersebut berupa rasa tanggung jawab sebagai pengelola belajar (manajer of learning), pengarah belajar (director of learning), dan perencana masa depan masyarakat (planner of the future society). Dengan tanggung jawab ini, pendidik memiliki tiga fungsi, Yaitu:

  1. Fungsi intruksional yang bertugas melaksanakan pengajaran.
  2. Fungsi edukasional yang bertugas mendidik peserta didik agar mencapai tujuan pendidikan.
  3. Fungsi manajerial yang bertugas memimpin dan mengelola proses pendidikan. [14]

Dengan tiga fungsi di atas, seorang pendidik terutama dalam konsepsi Islam, dituntut untuk memiliki kompetensi yang dapat digunakan untuk melaksanakan tugasnya. Kompetensi sendiri merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya.

Menurut Ahmad Sabri, ada sepuluh (10) kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru agar dapat melaksanakan pofesi keguruannya, yaitu:

  1. Menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum maupun bahan pengayaan/penunjang bidang studi.
  2. Mengelola program belajar mengajar yang meliputi:
    1. Merumuskan tujuan intruksional.
    2. Mengenal dan menggunakan prosedur intruksional yang tepat.
    3. Melaksanakan program belajar mengajar.
    4. Mengenal kemampuan anak didik.
    5. Mengelola kelas meliputi:
      1. Mengatur tata ruang kelas untuk pelajaran.
      2. Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi.
      3. Penggunaan media atau sumber, meliputi:
        1. Mengenal, memilih, dan menggunakan media.
        2. Membuat alat bantu yang sederhana.
        3. Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar.
        4. Menggunakan micro teaching untuk unit program pengenalan lapangan.
        5. Menguasai landasan-landasan pendidikan
        6. Mengelola interaksi-interaksi belajar mengajar.
        7. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pelajaran.
        8. Mengenal dan menyelenggarakan fungsi layanan dan program bimbingan dan penyuluhan.
        9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.
        10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran. [15]

Selain kompetensi praktis operasional, dalam konsepsi pendidikan Islam, seorang guru juga harus memiliki beberapa kompetensi yang lebih filosofis fundamentalis. Dalam kompetensi jenis ini, setidaknya ada tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu:

  1. Kompetensi personal religius, yaitu memiliki kepribadian berdasarkan Islam. Di dalam dirinya melekat nilai-nilai yang dapat ditransinternalisasikan kepada peserta didik, seperti: jujur, adil, suka musyawarah, disiplin, dan lain-lain.
  2. Kompetensi sosial religius, yaitu memiliki kepedulian terhadap persoalan-persoalan sosial yang selaras dengan ajaran Islam. Sikap gotong royong, suka menolong, egalitarian, toleransi, dan sebagainya merupakan sikap yang harus dimiliki pendidik yang dapat diwujudkan dalam proses pendidikan.
  3.  Kompetensi profesional religius, yaitu memiliki kemampuan menjalankan tugasnya secara profesional yang didasarkan atas dasar ajaran Islam.[16]

Untuk mendukung pelaksanaan kompetensi tersebut, seorang guru perlu mengembangkan berbagai keadaan yang kondusif bagi terwujudnya proses dan hasil pembelajaran. Beberapa keadaan yang dimaksud adalah:

  1. Keteladanan/Percontohan

Keteladanan atau percontohan merupakan suatu upaya untuk memberikan contoh perilaku yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran .

Pemberian teladan atau contoh harus dilakukan oleh seluruh pegawai yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan yang meliputi guru, kepala sekolah, dan stake holder lainnya, pengawas, dan juga staf tata usaha. Dalam hal ini guru merupakan orang yang paling utama dan pertama yang berhubungan dengan anak didik. Baik buruknya perilaku guru apalagi guru agama akan dapat mempengaruhi secara kuat terhadap siswanya. Oleh karena itu keteladanan guru menjadi sesuatu yang mutlak untuk dilakukan, sebab guru yang baik akan menjadi contoh yang baik bagi anak didiknya.

  1. Pÿÿ62 eÿÿÿÿ7ndisiplinan

Pendisiplinan sebagai salah satu upaya pendidikan pada dasarnya merupakan upaya menciptakan keadaan yang dapat mempengaruhi dan mengarahkan anak didik untuk senantiasa menaati peraturan yang ditetapkan oleh sekolah. Untuk itu guru agama dan seluruh pegawai secara bersama-sama dan serempak dituntut mampu memberikan contoh sebagai sosok yang berdisiplin yang senantiasa berperilaku sesuai aturan atau tata tertib sekolah.

  1. Pembiasaan

Pembiasaan merupakan upaya yang dilakukan dalam membiasakan anak didik untuk berperilaku atau bertindak sesuai dengan tujuan pembelajaran atau tujuan sekolah. Dalam kaitan ini sekolah harus memerankan diri sebagai pusat dan pelaku kebudayaan. Sekolah dituntut memasyarakatkan, menanamkan, dan membangun nilai kebiasaan positif yang bermanfaat bagi kehidupan mereka kelak di masyarakat.

  1. Pengondisian lingkungan.

Pengondisian lingkungan pada dasarnya merupakan upaya merekayasa keadaan lingkungan sekolah sedemikian rupa sehingga menjadi keadaan yang mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Hal ini dapat diwujudkan melalui pewarnaan suasana yang berada di sekolah, baik lingkungan internal sekolah maupun lingkungan eksternal sekolah. [17]

  1. B.     Pembelajaran
    1. Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah “suatu upaya membelajarkan atau suatu upaya mengarahkan aktivitas belajar”.[18]

Pembelajaran menurut Degeng (1993) adalah “upaya untuk membelajarkan siswa”.[19]

Pembelajaran adalah “proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan”. [20]

Dari pengertian tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa pembelajaran adalah upaya guru untuk mengarahkan anak didik belajar.

  1. Dasar-dasar dan Tujuan Pembelajaran
    1. Dasar-dasar Pembelajaran

Dasar manusia dalam menjalankan aktivitas pembelajaran dapat dipandang dari tiga aspek, yaitu: Pertama Filosofis, yaitu berdasarkan hakekat manusia. Kedua Religius, yaitu berdasarkan kaidah-kaidah agama. Ketiga Yuridis, yaitu berdasarkan hukum yang berlaku.

  1. Dasar Filosofis

Setiap manusia yang normal mempunyai sifat ingin tahu yang merupakan potensi yang dibawa sejak lahir. Hal ini merupakan pandangan kemanusiaan yang menyebutkan bahwa manusia adalah animal edukandum (binatang yang harus mendidik dan dididik). Maka dengan pendidikan inilah manusia menuju pada humani (proses menuju manusia).

  1. Dasar Religius

Dasar Religius adalah dasar yang bersumber dari ajaran agama, baik dari Al Qur’an atau Hadits. Kegiatan belajar mengajar dalam Islam sangat dianjurkan, bahkan merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk mempelajari dan mengajarkan ilmu-ilmu agama.

Allah SWT. berfirman:

Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.[21] (Al Mujadalah:11)

Allah SWT. berfirman:

Artinya: Katakanlah! Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. [22] (Az  Zumar: 9)

Rosulullah SAW. bersabda:

Artinya: Didiklah anak-anak kalian karena sesungguhnya mereka itu dijadikan untuk menghadapi masa yang berlainan dengan masa kalian ini. [23]

Rosulullah SAW. bersabda:

Artinya: Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim.[24] (H.R. Ibnu Abdid Dar)

  1. Dasar Yuridis

Dasar yuridis ini adalah dasar yang bersumber pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pancasila adalah sumber hukum. Pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas azas-azas yang termaktub dalam pancasila, undang-undang dasar Republik Indonesia dan atas dasar kebudayaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu sebagai dasar ideal dalam melakukan kegiatan belajar dan pengajaran adalah senantiasa harus berdasarkan pancasila. Kemudian secara konstitusional disebutkan dalam UUD ’45 pasal 31 ayat 1, bahwa tiap-tiap warga berhak mendapatkan pengajaran.[25]

  1. Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran mempunyai pengertian pernyataan tentang hasil pembelajaran apa yang diharapkan.[26]

Tujuan pendidikan (pembelajaran) adalah suatu yang hendak dicapai dengan kegiatan atau usaha pendidikan. [27]

Dari definisi tersebut maka tujuan dari pembelajaran adalah harapan yang dicapai setelah usaha itu dilakukan.

Kegiatan pembelajaran harus mempunyai tujuan, karena setiap kegiatan yang tidak mempunyai tujuan akan berjalan meraba-raba, tak tentu arah tujuannya. Tujuan yang jelas dan berguna akan membuat orang lebih giat, terarah dan sungguh-sungguh. Segala daya dan upaya pembelajaran harus di pusatkan pada pencapaian tujuan itu. Bahan pelajaran, metode dan teknik pelaksanaan kegiatan pembelajaran, sarana dan alat yang digunakan harus dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran  dengan efektif dan efisien. Karena itu tujuan pembelajaran harus berfungsi sebagai:

  1. Titik pusat perhatian dan pedoman dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
  2. Penentu arah  kegiatan
  3. Titik pusat perhatian dan pedoman dalam menyusun rencana kegiatan pembelajaran.
  4. Bahan pokok yang akan dikembangkan dalam memperdalam dan memperluas ruang lingkup pengajaran.
  5. Pedoman untuk mencegah atau menghindari penyimpangan kegiatan. [28]
  6. Ciri-ciri Pembelajaran yang Efektif

Suatu kegiatan bisa dibilang efektif atau tidak efektif, begitu pula  pembelajaran ada yang dikatakan efektif atau tidak efektif. Prof. Dr. S. Nasution, MA. merangkum pembelajaran yang efektif sebagai berikut:

  1. Guru mulai dan mengakhiri pelajaran tepat pada waktunya.
  2. Guru berada terus dalam kelas dan menggunakan sebagian besar dari jam pelajaran untuk mengajar dan membimbing pelajaran.
  3. Guru memberi ikhtisar pelajaran lampau sebelum mulai pelajaran.
  4. Guru mengemukakan tujuan pelajaran pada permulaan pelajaran.
  5. Guru menyajikan pelajaran baru, langkah demi langkah, dan memberi latihan akhir tiap langkah.
  6. Guru memberi latihan praktis yang mengaktifkan semua siswa.
  7. Guru memberi bantuan siswa khususnya pada latihan permulaan.
  8. Guru banyak mengajukan pertanyaan dan berusaha memperoleh jawaban dari semua atau sebanyak siswa untuk mengetahui pemahaman tiap siswa.
  9. Bersedia mengajarkan kembali apa yang belum dipahami siswa.
  10. Guru memantau kemajuan siswa, memberi balikan yang sistematis dan memperbaiki tiap kesalahan.
  11. Guru mengadakan review atau ulangan tiap minggu secara teratur.
  12. Guru mengadakan evaluasi berdasarkan tujuan yang telah dirumuskan.
  13. C.    Bahasa Arab
    1. Pengertian Bahasa Arab

Bahasa Arab terdiri dari dua suku kata yang mempunyai arti sendiri-sendiri sebagai berikut:

Bahasa adalah sistim lambang-lambang berupa bunyi yang digunakan oleh segolongan masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan interaksi.[29]

Bahasa adalah suara-suara yang diungkapkan setiap kaum tentang beberapa tujuan mereka.[30]

Bahasa adalah suara-suara yang diungkapkan setiap kaum tentang maksud-maksud mereka. [31]

ÇááÛÉ: ÃáÝÇÙ íÚÈÑ ÈåÇ ßá Þæã Úä ãÞÇÕÏåã.

Sedangkan Arab berarti bangsa Arab atau penduduk negeri Arab. [32]

Menurut Al Allamah Jauhari menjelaskan Arab adalah suatu generasi manusia dan mereka adalah penduduk kota.[33]

Arab adalah suatu generasi manusia yang negaranya terletak di semenanjung jazirah sebelah timur laut tengah. [34]

 

Dari pengertian tersebut bisa diambil kesimpulan bahwa bahasa Arab adalah suara-suara yang diungkapkan oleh orang Arab tentang beberapa tujuan mereka.

  1. Dasar-dasar dan Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab
    1. Dasar-dasar Pembelajaran Bahasa Arab

Adapun yang menjadi dasar pembelajaran bahasa Arab adalah:

  1. Al Qur’an

 

Artinya: Sesungguhnya kami menurunkanya berupa Al Qur’an dengan bahasa Arab agar kamu memahaminya.[35] (Q.S. Yusuf: 2)

  1. Hadits

Hadits Rosulullah riwayat Abdul Hamid Yahya dia berkata: Aku mendengar Rosulullah bersabda: Pelajarilah bahasa Arab karena bahasa Arab menambah (ketajaman) daya nalar.[36]

  1. Filosofis

Bahasa Arab secara konkrit dan faktual merupakan bahasa yang sangat familier dengan kehidupan sehari-hari. Bahasa yang ditanamkan Minal Mahdi Ilal Lahdi  bahkan sampai hidup lagi.

  1. Tujuan Pembelajaran Bahasa Arab

Mengingat urgensi bahasa Arab dalam agama maupun dalam kehidupan sehari-hari, maka bahasa Arab haruslah dilestarikan dan dipelihara eksistensinya dengan mempelajari dan mengajarkannya kepada putra-putri kita bahkan segenap lapisan masyarakat karena dibalik bahasa tersebut terkandung harta simpanan yang sangat berharga sekali berupa pengetahuan, dengan beberapa tujuan tertentu menurut kebutuhan, baik tujuan pembelajaran secara umum maupun tujuan pembelajaran secara khusus.

  1. Tujuan pembelajaran bahasa Arab secara umum seperti:
    1. Menjaga pertumbuhan anak didik tetap senantiasa dalam suasana yang Islami.
    2. Menumbuhkan dan memperkuat iman.
    3. Menanamkan cinta kepada Allah  dan Rosul-Nya.
    4. Membekali dan memperkaya ilmu agama.
    5. Mempersiapkan dan membekali anak hidup dan khidmah di tengah masyarakat.
    6. Tujuan pembelajaran bahasa Arab secara khusus seperti:
      1. Mengembangkan skill berbahasa meliputi:
        1. mendengarkan
        2. membaca
        3. dialog
        4. menulis
        5. Struktur kalimat
        6. Khot Imla’

Adapun pada hakekatnya tujuan pembelajaran bahasa Arab biasanya lebih menekankan agar anak didik berhasil mempunyai kemampuan berbahasa Arab. Dimana kemampuan tersebut meliputi kemampuan menyimak (mendengarkan), berbicara, membaca, dan menulis dengan menggunakan bahasa Arab.

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Pembelajaran Bahasa Arab:

Keberhasilan pembelajaran bahasa Arab tentu tidak lepas dari faktor yang mempengaruhiya diantaranya adalah metode dan teknik pengajaran. Selain faktor tersebut masih ada faktor penunjang lain, antara lain:

  1. Fasilitas fisik.

Fasilitas fisik ini meliputi misalnya:

  1. Ruang belajar yang jumlahnya memadai  berdasarkan setiap ruang kelas sebaiknya memuat hanya maximum 30 orang pelajar.
  2. Ruang tata usaha, ruang pengajar, dan ruang perpustakaan yang semua itu diperlukan bagi kelancaran kerja untuk pelaksanaan pengajaran baik yang menyangkut administrasi ataupun mempermudah dan membantu kegiatan pengajaran itu sendiri.
  3. Alat-alat peraga yang diperlukan oleh pelaksanaan aural-oral approach dalam rangka mentrapkan metode baru yakni all in one sistem. Alat-alat tersebut misalnya film projektor, overhead projektor, tranparancies, slide projektor, record changer, film strip, alat-alat pengukur volume suara, tape recorder, piringan hitam , wall charts (bagan dinding), language laboratory, (laboratorium bahasa), dan closed circuit television, yaitu pesawat televisi dengan jangkauan untuk luas daerah tertentu.
  4. Texbook.

Texbook yang sesuai dengan tujuan dan metode pengajaran seperti yang telah digariskan, sebaiknya sudah tersedia lengkap sebelum program pengajaran dimulai. Selanjutnya sewaktu-waktu adalah perlu texbook tersebut ditinjau kembali untuk disempurnakan  dan disesuaikan dengan kebutuhan yang selalu berubah dalam jangka waktu tertentu.

  1. Pengajar (guru) yang qualifiied.

Pelaksana program pengajaran bahasa adalah para pengajar bahasa  yang kwalitasnya sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan suatu metode yang dianggap sudah baik. Karena itu pengadaan pengajar yang qualified (berkelayakan) mutlak perlu, baik melalui program latihan, penataran atau pendidikan khusus dan yang semacamnya.

  1. Tujuan yang jelas.

Betapapun baik dan sempurna suatu metode pengajaran yang dipergunakan, dan meskipun tersedia tenaga-tenaga pengajar yang berkelayakan, tetapi apabila tujuan program pengajaran bahasa tidak jelas, maka tidak terjamin hasil yang dicapai dapat memuaskan. Dari itu tujuan dari program pengajaran bahasa harus digariskan secara jelas dan difahami oleh semua fihak yang terlibat dalam pelaksanaan pengajaran bahasa.

  1. Lingkungan yang favourable.

Pengaruh lingkungan terhadap perasaan dan pemikiran seseorang adalah suatu hal yang tak dapat diungkiri, baik lingkungan itu berupa pergaulan manusiawi yang dibentuk oleh sikap mental dan alam pikiran masyarakat sekeliling orang itu ataupun berupa keadaan tempat di mana ia itu hidup dan atau belajar. Mengingat hal tersebut, lingkungan yang menyenangkan dan membantu (Favourable) merupakan faktor yang dapat menunjang keberhasilan pengajaran bahasa.

  1. Pengaturan penyelenggaraan yang baik.

Pembagian tugas yang baik dan pengaturan waktu yang terkoordinir bagi pelaksanaan masing-masing tugas adalah merupakan faktor yang besar  pula pengaruhnya sebagai faktor penunjang keberhasilan program  pengajaran bahasa.

 



[1] DEPDIKBUD, KBBI, (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), Cet. Ke-2, hal. 219

[2] Khazin Khalif, dan A. R. Elhan, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Karya Ilmu, tt.) hal. 111

 [3] Pius A. Partanto, M. Dahlan Al Barri, Kamus Populer, (Yogyakarta : Arkola, 1994), hal. 128

 [4] Nana Sujana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2005), hal. 3

[5] B. Suryobroto, Manajemen Pendidikan Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), Cet. ke-1, hal. 32

[6] Sa’dullah Fattah, Pengembangan Kurikulum, (Jakarta: Universitas Satyagama, 2007), hal. 1

 [7] Departemen Agama RI, Kendala Mutu Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: 2001), hal.15

[8] Pius A. Partanto, M. Dahlan Al Barri, Kamus Ilmiah Populer, Op Cit,  hal. 94

[9] DEPDIKBUD, KBBI, Op Cit, hal. 188

 [10] Ibid, hal. 428

 [11] Tohirin, Psikologi Pembelajaran PAI, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), Cet. Ke-1, hal. 140

 [12] Ws. Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1983), hal. 161

[13] Muslam, Pengembangan Kurikulum PAI, (Semarang: PKPI2, 2004), Cet. Ke-3, hal. 69

[14] Ngainun Naim, Achmad Patoni, Materi Penyusunan Desain Pembelajaran PAI, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), Cet. ke-1, hal. 13

[15] Ibid, hal. 14 – 15

 [16] Ibid, hal. 15

[17] Ibid, hal. 16 -17

[18] Tohirin, Psikologi Pembelajaran PAI,  Op Cit, hal. 7

  [19] Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran,  (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), Cet. ke-2, hal. 2

  [20] DEPDIKBUD, KBBI, Op. Cit, hal. 13

[21] Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al Qur’an Dept. Agama RI, 1981/1982), hal. 911

[22] Ibid, hal. 747

 [23] Muhammad Athiyyah Abrasyi, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hal. 46

 [24] Sayyid Ahmad Al Hasyimi, Muhtarul Ahaditsin Nabawiyyah Wal Hikamil Muhammadiyah, (Beirut : Darul Kutubil Ilmiah, 1990),Cet. ke-12, hal.98

 [25] UUD ’45 Dengan Penjelasannya, (Semarang : Sari Agung, tt), hal. 29

 [26] Hamzah B. Uno, Perencanaan Pembelajaran, Op Cit, hal. 19

 [27] Zakiah Darajat, dkk., Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1996), Cet. ke-1, hal. 72

[28]  Zakiah Darajat, dkk., Metodologi Pengajaran Agama Islam, Op Cit., hal. 73

[29] Departemen Agama RI, Pedoman Pengajaran Bahasa Arab pada PTAI IAIN, (Jakarta: Proyek Pengembangan Sistem Pendidikan Agama Dept. Agama RI,1976), hal. 19

[30] Ibrohim Anis dkk., Al Mu’jamul Wasith, (Kairo: Darul Ma’arif, 1972), Cet. Ke-2, hal.831

 [31] Syaikh Musthofa Al gholayini, Jami’ud Durusil Arobiyah, (Beirut: Darul Kutubil Ilmiah, 2000),  hal. 7

 [32] A. Warson, Al Munawir Kamus Arab Indonesia Terlengkap, (: Pustaka Progresif, ), Cet. ke-2, hal.912

 [33] Imam Muhammad bin Abi Bakar, Muhtarus Shihah, (Beirut: Darul Kutubil Ilmiah, 1994), Cet. ke-1,  hal. 381

 [34] Al Munjid Fillughoti Wal A’lam, (Beirut: Darul Masyriq, 1973), Cet. ke-26, hal. 495

[35] Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, Op Cit, hal. 348

[36] Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajaranya, (Jakarta: Pustaka Pelajar, 2004), Cet. ke-2, hal. 7

Category: Sekripsi

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*