Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Review Pendidikan Multikultural

 

Judul postingan : “PENDIDIKAN MULTIKULTURAL”
Bidang  postingan  : REVIEW PEMIKIRAN TOKOH. 
next Post : Pengaruh makanan terhadap pembentukan karakter anak
Review
Oleh    : Mizanto
            : Program Magister  PPs UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA ( Dosen Pengampu M.Agus Nuryatno, MA. Ph.D )

 

Catatan Pendahuluan  M. Ainul Yaqin tentang

 

“PENDIDIKAN MULTIKULTURAL”

 

Pendidikan Multikultural merupakan konsep pendidikan yang berangkat dari kesadaran bersama untuk membenahi diri masa depan pendidikan Indonesia yang notanebenya merupakan Negara multikultur. Lalu seperti apa dan bagaimana pengertian  multikultural/pendidikan multikultural itu?  M.Ainul Yaqin memaparkan beberapa definisi, ruang lingkup dan beberapa hal terkait multikuluralisme dalam tulisanya dengan judul “ Pendidikan Multikultural”

 

Secara jelas Ainul Yaqin dalam cuplikan tulisanya lebih menekankan pada pembahasan seputar Kultur itu sendiri, dengan mengangkat ke permukaan tentang karakter dan spesifikasi tentang beberapa definisi yang  berkaitan dengan Multikultural,  seperti identifikasi tentang Kultur, Kultural dan Multikultural.  Namun dalam cupikan tulisanya beliau memulai dengan beberapa pertanyaan mendasar tentang Pendidikan Multikultural, dengan pertanyaan “ Mengapa Pendidikan Multikultural?” dari pertanyaan ini menjadi gambaran tentang latar belakang  pembahasan yang akan beliau paparkan.

 

Dari analisa akademis beliau cukup ilmiah  dalam memaparkan satu pendapat, terutama yang berkaitan tentang hokum sebab akibat dan kronologis. Dengan dimulai bahwa  Indonesia sebagai Negara yang mempunyai akar rumput yang heterogen sudah menjadi pengertian tersendiri bahwa Indonesia merupakan Bangsa “besar” besar disini bisa dimaknai dalam beberapa sudut pandang, Ainul Yaqin menegaskan bahwa Indonesia merupakan Negara Multikutural karena dari sosio-geografis Indonesia merupakan Negara yang cukup besar, dengan kurang lebih terdiri dari 13.000 Pulau dan lebih dari 200 juta jiwa dan 300 suku dan 200 bahasa yang berbeda.  Dari gambaran ini sudah cukup member pengertian seperti apa gambaran Negara yang terdiri dari “kultur” budaya  yang beraaneka ragam tersebut. Dan ini yang dejalaskan menurut Ainul, akan menimbulkan masalah dan persoalan  tersendiri. 

 

Beberapa kejadian yang timbul dari prediksi-prediksi yang sangat mungkin disebabkan dari Multikulturalisme ini beliau paparkan tentang beberapa konflik berdarah di negeri ini, misalkan pembunuhan terhadap masa pengikut PKI pada tahun 1965,kekerasan terhadap etnis china pada tahun 1988 dan lebih banyak lagi. Sehingga Ainul mempunyai pandangan untuk mencari solusi terhadap permasalahan yang telah dan akan timbul dari dan oleh sebab Multikultur ini. Diantaranya dengan pendekatan-pendekatan yang berdimensikan masa, misalkan bidang Pendidikan ekonomi, politik, social dan budaya. Berkaitan dengan ini khususnya bidang  pendidikan yang mau tidak mau menjadi garda depan penanaman pemahaman mendalam tentang kesadaran multikulturalisme di Indonesia. Sehingga konsep pendidikan di Indonesia tentunya harus dilandasi semangat toleransi dalam kebersamaan.

 

Dalam pembahasan selanjutnya Ainul merinci lebih detail tentang kultur  ditinjau dari berbagai aspek, dan beberapa mengacu pada pendapat para tokoh diantaranya pendapat Conrad P.Kottak yang mengatakan bahwa kultur mempunyai karakter-karakter khusus. Setidaknya ada Tujuh macam definisi dan karakteristik kultur yang Ainul jelaskan. Pertama, Kultur adalah suatu yang general dan spesifik sekaligus, Kedua kultur adalah sesuatu yang dipelajar, Ketiga kultur adalah sebuah symbol, Ke empat kultur dapat membentuk dan melengkapi sesuatu yang alami, Kelima kultur adalah sesuatu yang dilakukan  bersama-sama yang menjadi atribut bagi individu sebagai anggota dari kelompok masyarakat, keenam kultur adalah sebuah model, ketujuh kultur adalah sesuatu yang bersifat adaptif.  Dari ketuju identifikasi tentang kulur tersebut dalam tulisanya beliau merinci satu persatu dengan pembahasan yang sangat detail diserati contoh-contoh dari kehidupan nyata.

 

Kembali beliu menyunting pendapat dari Conrad P. Kottak tentang wilayah kultur yang dibagi kedalam tida wilayah, yaitu kultur nasional, kultur internasional dan sub-sub kultural. Dalam pembahasan ketiga pembagian kultur ini juga beliau mendefinisikan dan menguraikan secara lengkap dan detail misalkan dalam membahas tentang kultur internasional, beliau menggambarkan contoh terjadinya penggabungan dua kultur dan akulturasi kultur dengan difusi langsung dan difusi tidak langsung. Sedang dalam pembahasan tentang pembagian wilayah kultur yang ketiga yaitu sub-kultur beliau menjelaskan sub-kultur dengan pengertian bahwa sub-kultur adalah perbedaan karakteristik cultural dalam satu kelompok masyarakat, dengan contoh misalkan sub-kultur etnis, etnis jawa, sunda, Madura, Bali dan sebagainya.

 

Karakteristik kultur yang dijelaskan dalam artikelnya juga membahas tentang bagaimana proses-proses  kultur ini terlestari dan berkembang. Sehingga dalam pembahasan ini beliau menjelaskan tentang proses berkembangnya kultur disebutkan ada dua macam, yaitu inkulturasi dan Sosialisi, inkulturasi ini paparkan dengan ungkapanya “ semua orang dalam sebuah kelompok masyarakat mempunyai kultur sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Ini terjadi karena secara tidak langsung setiap individu pada tiap-tiap kelompok masyarakat akan menerima kultur yang diturunkan secara turun-temurun dari generasi ke generasi sehingga orang tersebut dapat memahami nilai-nilai yang berlaku dalam kelompoknya”.  Sedangkan yang proses transfer yang “Sosialisasi” merupakan proses pembelajaran secara social dalam kehidupan sehari-hari yang menyebabkan seorang dapat memahami norma-norma cultural yang berlaku di dalam kelompoknya.

 

Selain pembahasan Ainul tentang karakteristik dan wilayah-wilayah kultur ini beliau lebih lanjut menjelaskan tentang sikap-sikap yang menyebabkan konflik dan ketidak harmmonisan dalam kehidupan multicultural, sikap dan pandangan yang dimaksud adalah “etnosentrisme” dalam pembahasan etnosentrisme ini beliau mencontohkan tentang seseorang ang tinggal disuatu tempat yang berbeda kultur, kemudia dia menilai bahwa ditempat yang dituju ini kulturnya berbeda dengan kultur tempat asalnya, namun dari penilaian ini berpandangan bahwa kulturnya lebih baik daripada kulur tempat yang disinggahinya. Dan pandangan seperti inilah dikatakan sebagai etnosentrisme, dan ini sangat membahayakan. Kemudian selain etnosentrisme ada juga sikap Relatifisme Kultur, relatifisme kultur ini adalah sikap memandang bahwa tingkah laku dan adat istiadat yang ada pada kultur orang lain tidak dapat diukur dan dinilai menggunakan standar yang ada pada kultur lainya.

 

Selain adanya sikap Etnosentrisme dan Relatifisme Kultur ini ada lagi sikap yang berkaitan dengan hal  kultur ini yaitu Prejudis dan stereotip,  prejudis dan stereotip ini merupakan sikap-sikap perspektif dalam menilai dan mengukur sesuatu hal yang berkaitan dengan kulturalisme ini dari sudut pandang yang kurang bagus. Karena jika dinilai secara obyektif kedua model penilaian ini lebih cenderung pada asumsi subyektif terhadap sesuatu hal. Karena  prejudis ini merupakan penilaian akhir tanpa dilandasi dengan bukti-bukti terlebih dahulu, sehingga penilaian ini akan sangat mengganggu keharmonisan hubungan antar individu dan kelompok. Dalam pembahasan lebih lanjut terkait penyebab prejudis dan stereotip ini beliau membaginya dalam empat kategori yang semuanya dipaparkan secara detail disertai dengan contoh-contoh kejadian nyata.

 

Sebelum mengakhiri  tulisanya beliau melontarkan pendapatnya tentang unsure-unsur yang terkait dengan kultur ini yaitu “Diskriminasi”  diskriminasi ini merupakan sikap yang disebabkan karena ketidak adilan dalam bertindak dan menyikapi multikultur ini.  Dalam diskriminasi  secara umum dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu diskriminasi individu dan diskriminasi instititusional. Perbedaan diskriminasi  ini lebih pada peran subyektif pelaku diskriminasi itu sendiri, misalkan diskriminasi yang melibatkan individu satu pada individu lain maka itu disebut diskriminasi individu, sedang kalau sikap dan tindakan diskriminasi oleh system kelembagaan maupun instansi maka ini disebut diskriminasi institusional. Dan menurut beliau  diskriminasi dalam pendidikan merupakan masalah utama dan serius dalam Negara yang multikultur seperti Indonesia ini.

 

Di akhir tulisanya beliau memaparkan tentang pentingya multikulturalisme dalam pendidikan, dikarenakan Indonesia merupakan Negara multikultur maka konsep pendidikanya harus berwawasan multikultur. Multikulturalisme dikatakan merupakan bukan sesuatu yang baru, karena strategi pendidikan multicultural sejak lama telah berkembang di eropa, Amerika dan beberapa Negara maju.

 

 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*