Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Puisi Karya Chairil Anwar (1)

Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar (1)

 under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Puisi Karya Chairil Anwar (1)

 untuk seri kedua bisa dilihat di kumpulan puisi chairil anwar 2

Bidang  postingan  : Puisi Puisi hebat Indonesia, kumpulan sajak dan puisi,  puisi karya sastrawan Indonesia.

data post. perkuliahan.com seri : 49

Perkuliahan.com kali ini mempersembahkan sebuah kumpulan puisi putra bangsa yaitu Bung Chairil Anwar,  pendekar puisi kelahiran Medan Chairil Medan, 26 Juli 1922 dan Wafat Jakarta, 28 April 1949. (Untuk  Riwayat Hidup Chairil Anwar Bisa dilihat di sini ( Biografi Chairil Anwar )   dalam postingan rilisan perkuliahan.com Puisi Karya Chairil Anwar (1)  ini memuat beberapa puisi terbaik chairil anwar  yaitu :

  1. Puisi karya Chairil Anwar : PRAJURIT JAGA MALAM
  2. Puisi karya Chairil Anwar : MALAM
  3. Puisi karya Chairil Anwar : KRAWANG-BEKASI
  4. Puisi karya Chairil Anwar : DIPONEGORO
  5. Puisi karya Chairil Anwar : PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
  6. Puisi karya Chairil Anwar : AKU
  7. Puisi karya Chairil Anwar : PENERIMAAN
  8. Puisi karya Chairil Anwar : HAMPA
  9. Puisi karya Chairil Anwar : DOA
  10. Puisi karya Chairil Anwar : SAJAK PUTIH
  11. Puisi karya Chairil Anwar : SENJA DI PELABUHAN KECIL
  12. Puisi karya Chairil Anwar : CINTAKU JAUH DI PULAU
  13. Puisi karya Chairil Anwar : MALAM DI PEGUNUNGAN
Untuk Melihat Puisi Karya Choiril Anwar yang  lainya tersaji di : Puisi Karya Choiril Anwar (2)

……………….

CINTAKU JAUH DI PULAU  ( Puisi karya Chairil Anwar) 
Cintaku jauh di pulau, 
gadis manis, sekarang iseng sendiri 

Perahu melancar, bulan memancar, 
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar. 
angin membantu, laut terang, tapi terasa 
aku tidak ‘kan sampai padanya. 

Di air yang tenang, di angin mendayu, 
di perasaan penghabisan segala melaju 
Ajal bertakhta, sambil berkata: 
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,” 

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh! 
Perahu yang bersama ‘kan merapuh! 
Mengapa Ajal memanggil dulu 
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?! 

Manisku jauh di pulau, 
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri. 
……………………………..

MALAM DI PEGUNUNGAN 

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin, 
Jadi pucat rumah dan kaku pohonan? 
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin: 
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

…………………………………………

PRAJURIT JAGA MALAM 

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
…………………………………………..

MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? –
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
…………………………………..

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
………………………………………..

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

………………………………………
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
……………………………………………….
AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi


…………………………………
PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
……………………………………….

HAMPA

kepada sri

Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

…………………………..

DOA

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

…………………………………………….
SAJAK PUTIH

Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di hitam matamu kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku

Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama kau darah mengalir dari luka
Antara kita Mati datang tidak membelah…
………………………………………………………

SENJA DI PELABUHAN KECIL
buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap 


…………………………………………..

Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar (1)

 under arsip:  Perkulihan.com.

Category: Seni dan Sastra

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*