Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Proposal Skripsi konsep al-qur’an berbakti pada orang tua

konsep al-qur’an tentang
birrul walidain dan implikasinya
TERHADAP pendidikan ANAK DALAM KELUARGA

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh
Gelar Sarjana Strata Satu (S.1) dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)

Disusun Oleh
SALBIYAH HS
NIM : 1306 076
 
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)
Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ)
Jawa Tengah di Wonosobo
2009

_–________________________________________

I.             JUDUL   :  KONSEP AL-QUR’AN TENTANG BIRRUL WALIDAIN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA

II.          LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam upaya mencapai pendidikan yang sebaik-baiknya, pemerintah Indonesia memiliki fungsi dan tujuan pendidikan yang dinyatakan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan nasional, yang berbunyi sebagai berikut :
“Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”[1]

Atas dasar fungsi dan tujuan pendidikan Nasional tersebut di atas, jelaslah bahwa pendidikan merupakan faktor yang amat penting. Begitu pula dengan pendidikan agama pun mempunyai peran yang sangat penting dalam membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa serta mempunyai akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari-hari baik dalam keluarga maupun dalam bermasyarakat.
Pada saat ini generasi muda kita telah mengalami krisis moral, krisis akhlaq. Banyak dimuat berita-berita di koran-koran dan di majalah-majalah tentang kejadian-kejadian yang menimpa generasi muda kita.
Kita menyadari bahwa kedua orang tua adalah jembatan perantara bagi kelahiran kita ke dunia, tanpa perantaraan mereka tak mungkin terdapat keturunan, dan tak mungkin kita ada.
Dalam kehidupan sehari-hari mereka berusaha dengan segenap kemampuan : mengasuh, mendidik serta memelihara anak-anaknya agar menjadi keturunan yang baik.
Adalah kenyataan, seorang ayah mencari nafkah untuk biaya hidup, merawat, mengasuh dan mendidik kita, tidak lain harapan mereka agar anak-anaknya menjadi manusia berguna bagi agama, nusa dan bangsa.
Tegasnya, jerih payah mereka adalah untuk kepentingan anak-anaknya. Hal inilah yang menuntut penghargaan anak-anak, penghargaan dalam arti penghormatan dan rasa terima kasih secara wajar. Kita yakin, orang tua tidak akan meminta ganti rugi, atau perhitungan atas biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan anak, mereka hanya ingin melihat hasil yang baik dari kesuksesan yang diraih oleh anak-anaknya.[2]
Namun, pada zaman sekarang ini banyak pemuda remaja yang tidak memperhatikan masalah berbakti kepada kedua orang tua dan beranggapan bahwa hal itu bukan suatu keharusan dan tidak penting bagi mereka. Bahkan mereka memutuskan hubungan sanak famili atau kerabat yang telah digariskan oleh Allah untuk mengembangkannya. Tidak jarang mereka memperlakukan kedua orang tua dengan kelakuan kasar dan perkataan yang tidak baik.
Banyak berita-berita memuat di surat-surat kabar, majalah-majalah dan televisi tentang anak membunuh orang tuanya hanya hal sepele. Bila hidup kita dipenuhi dengan kejelekan yang melampaui batas maka hubungan sesama manusia akan pudar dan tali pengikatnya terputus sehingga sahabat-sahabat tak ubahnya seperti orang asing.
Setiap hari hampir setiap surat kabar menunjukkan kepada kita beberapa kasus besar di seputar hal itu yang telah menimpa keluarga muslim. Juga dalam kehidupan sehari-hari masih banyak kita jumpai di masyarakat, perbuatan-perbuatan yang memperlakukan kedua orang tua dengan tidak baik, terutama kepada ibunya, karena ibunya sudah tinggal sendiri (ditinggal mati suaminya). Padahal mereka orang-orang yang kehidupannya berkecukupan, yang seharusnya mereka merawat dan memberikan segala kebutuhan dan menanggung kehidupan ibunya bukan menelantarkannya. Juga mereka orang-orang yang berpengalaman, tentang agama juga cukup tetapi mereka tidak memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan tentang berbakti kepada kedua orang tua.
Dengan banyaknya fenomena yang terjadi di masyarakat dan pengalaman penulis, maka penulis ingin mengangkat tulisan ini dengan judul “KONSEP AL-QUR’AN TENTANG BIRRUL WALIDAIN DAN IMPLIKASINYA terhadap PENDIDIKAN ANAK dalam keluarga”.

III.       PENEGASAN ISTILAH
Sebelum penulis membahas lebih lanjut tentang judul skripsi ini, maka untuk menghindari perbedaan persepsi dalam memahami judul tersebut, perlu kiranya penulis kemukakan penegasan istilah dari judul “Konsep Al-Qur’an tentang Birrul Walidain dan Implikasinya terhadap Pendidikan Anak Dalam Keluarga.”
Penegasan istilah tersebut adalah sebagai berikut :

Konsep
Konsep artinya pengertian pendapat (paham), rancangan cita-cita yang dipikirkan. Maksudnya adalah paham yang berasal dari suatu aliran, agama, suku, atau golongan. Dalam hal ini adalah agama.[3]
Al-Qur’an
Al-Qur’an menurut Prof. TM. Hasby Ash-Shiddieqy : Al-Qur’an menurut istilah ialah wahyu yang diterima oleh Malaikat Jibril dari Allah SWT, dan disampaikan kepada Rasulullah Muhammad SAW yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun, yang diturunkan berangsur-angsur lafaz dan maknanya, yang dinukilkan dari Muhammad SAW, kepada kita untuk umatnya dengan jalan mutawatir, dan tertera dengan sempurna dalam mushaf baik lafazhnya, maupun maknanya sedang membacanya diberi pahala, karena membaca Al-Qur’an dihukumkan suatu ibadat.[4]
Birrul walidain
Birrul walidain terdiri dari dua kata, birru dan al walidain. Birru atau al birru artinya kebajikan (penjelasan al birru dalam Surat Al-Baqarah ayat 77). Al walidain artinya dua orang tua atau ibu bapak.
Jadi Birrul walidain adalah berbuat kebajikan kepada kedua orang tua.[5]
Implikasi
Implikasi artinya k.b. keadaan terlibat, keterlibatan tindakan ikut campur, yang termasuk berimplikasi k.k. mempunyai hubungan keterlibatan.[6]
Pendidikan
Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup. Dengan kata lain, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi berlangsung pula di luar kelas. Pendidikan bukan bersifat formal saja, tetapi juga mencakup pula yang non formal.[7]
Anak
Anak atau disebut anak didik adalah makhluk yang sedang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrah masing-masing mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke arah titik optimal kemampuan fitrahnya.[8]
Keluarga
Keluarga (kb) adalah orang-orang yang menjadi penghuni rumah, seisi rumah, bapak beserta ibu dan anak-anaknya; satuan kekerabatan yang mendasar dalam masyarakat.[9]
 
IV.       RUMUSAN PERMASALAHAN
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis ingin mengemukakan beberapa permasalahan yang akan penulis angkat dalam menulis proposal yang berjudul : “Konsep Al-Qur’an tentang Birrul walidain dan Implikasinya terhadap Pendidikan Anak  dalam Keluarga.”
Beberapa permasalahan tersebut antara lain :
Bagaimana konsep Al-Qur’an tentang birrul walidain?
Bagaimana implikasi terhadap pendidikan anak dalam keluarga?
 
V.          TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui konsep Al-Qur’an tentang birrul walidain.
Untuk mengetahui implikasi birrul walidain terhadap pendidikan anak dalam keluarga.
 
VI.       KAJIAN PUSTAKA
A.    Pengertian Birrul walidain
Istilah birrul walidain berasal langsung dari Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah riwayat disebutkan, Abdullah Ibn Mas’ud – seorang sahabat Nabi yang terkenal, bertanya kepada Rasulullah SAW tentang amalan apa yang paling disukai oleh Allah SWT, beliau menyebutkan; Pertama, shalat tepat pada waktunya; kedua birrul walidain dan ketiga jihad fi sabilillah. Lebih lengkapnya sebagai berikut;
عن ابن عبد الرحمن عبد الله ابن مسعود رضي الله عنه قال: سألت النبي b : أي العمل أحب إلى الله تعالى؟ فال: الصلاة على وقتيها، قلت: ثم أي : قال: بر الولدين قلت ثم أي؟ الجهاد في سبيل الله (متفق عليه)
Artinya :    “Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman ‘Abdullah Ibn Mas’ud ra, dia berkata : Aku bertanya kepada Nabi SAW : Apa amalan yang paling disukai oleh Allah SWT? Beliau menjawab : “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi : “Kemudian apa?” Beliau menjawab : “Birrul walidain.” Kemudian aku bertanya lagi, seterusnya apa?” Beliau menjawab : “Jihad fi sabilillah” (H.R. Muttafaqun ‘alaih).
 
Pengertian “Birrul walidain” terdiri dari dua kata, yaitu : birru dan al walidain. Birru atau al-biru artinya kebajikan. Al walidain artinya dua orang tua atau ibu bapak. Jadi birrul walidain adalah berbuat kebajikan kepada kedua orang tua.[10]
Semakna birrul walidan, Al-Qur’an menggunakan istilah ihsan (wabil walidaini ihsana), seperti yang terdapat antara lain dalam Surat Al-Isra’ ayat 23 :
4Ó|Ós%ur y7•/u‘ žwr& (#ÿr߉ç7÷ès? HwÎ) çn$­ƒÎ) Èûøït$Î!ºuqø9$$Î/ur $·Z»|¡ômÎ) 4… (الاسراء : 23)
Artinya :  “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Q.S. Al-Isra’, 17 : 23)
 
Abu Bakar Al Anbari berkata : Kalimat al qadla (القضاء) dalam ayat tersebut tidak berarti mengharuskan, tapi ia dimaksudkan sebagai perintah dan kewajiban. Dari segi bahasa lafaz al-qadla (القضاء) berarti memutuskan sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Firman Allah (وبالوالدين احسانا) adalah berbuat kebaikan dan menghormat, Ibnu Abbas berkata : “Janganlah kamu mengibaskan pakaianmu agar mereka tidak terkena debu olehnya.”[11]
 
B.     Kedudukan Birrul walidain
Birrul walidain menempati kedudukan yang istimewa dalam ajaran Islam. Ada beberapa alasan yang membuktikan hal tersebut, antara lain :
Perintah ihsan kepada ibu bapak diletakkan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an langsung sesudah perintah beribadah hanya kepadanya semata-mata atau sesudah larangan mempersekutukan-Nya. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 83 : Artinya    :           “Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil yaitu : “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak …” (Q.S. Al-Baqarah, 2 : 83)[12]
Artinya   :  “Sembahlah olehmu Allah, janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Dan berbuatlah baik kepada kedua orang tuamu …” (Q.S. An-Nisa’, 4 : 36)[13]
 
Allah SWT mewasitkan umat manusia untuk berbuat ihsan kepada ibu bapak. Allah berfirman : Artinya   :           “Kami wasiatkan (wajibkan) kepada umat manusia supaya berbuat kebaikan kepada kedua orang tua, ibunya telah mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.” (Q.S. Al-Ahqaf, 46 : 15)[14]
 
Allah meletakkan perintah berterima kasih kepada ibu bapak langsung sesudah perintah berterima kasih kepada Allah SWT. Allah berfirman : Artinya  :           “Dan Kami perintahkan kepada manusia (supaya berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang semakin lemah, dan menyusukannya dalam dua tahun. Bersyukurkan kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Q.S. Luqman, 31 : 14)[15]
 
Rasulullah SAW meletakkan Birrul walidain sebagai amalan nomor dua terbaik sesudah shalat tepat pada waktunya, dan lebih diutamakan dari pada jihad dan hijrah.
Sudah seharusnya orang tua mendapat perlakuan yang baik dari anaknya. Islam memandang bagian ini lebih utama (didahulukan daripada jihad dan hijrah). Dalam hadits diterangkan :
عن عبد الله بن عمر رضى الله عنهما قال : جاء رجل يستاء دن النبى b  في الجهاد ا فقال : أحي والداك؟ قال : نعم. قال : ففيها فجاهد! (أخرباه فو الصححين) 
Artinya   :  “Seorang lelaki datang kepada Nabi SAW, dan minta izin untuk berjihad. Rasulullah berkata kepadanya : “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Dia menjawab : “Ya” Rasulullah bersabda : “Berjihadlah kepada keduanya (berbakti kepada mereka)”.[16]
 
Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: أتى رجل نبي الله فقال: يا نبي الله، ما تأمرني؟ قال: بر أمك. ثم عاد، فقال: بر أمك. ثم عاد، فقال: بر أمك. ثم عاد الربعة، فقال: بر أباك (رواه البخاري ومسلم)
Artinya   : “Dari Abi Hurairah ra. berkata, pada suatu waktu ada seorang laki-laki menghadap pada Nabi Muhammad SAW dengan berkata, ya Nabiyallah apakah yang engkau perintahkan kepadaku?” Nabi bersabda: Berbaktilah pada ibumu”, orang tersebut mengulang sampai tiga kali, Nabi tetap bersabda: “Berbaktilah kepadamu”. Kemudian laki-laki tersebut mengulang pertanyaan untuk keempat kalinya, Nabi menjawab: “Berbaktilah kepada bapakmu”. (H.R. Bukhari Muslim)[17]
 
C.    Bentuk-bentuk Birrul walidain
Banyak cara bagi seorang anak untuk dapat mewujudkan Birrul walidain tersebut, antara lain sebagai berikut :
Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan, baik masalah pendidikan, pekerjaan, jodoh maupun masalah lainnya. Tentu dengan catatan penting; selama keinginan dan saran itu sesuai dengan ajaran Islam. Apabila bertentangan atau tidak sejalan dengan ajaran Islam, anak tidaklah punya kewajiban untuk mematuhinya, bahkan harus menolaknya dengan cara yang baik, seraya berusaha meluruskannya. Hal demikian sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an: Artinya :            “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik….”.(Q.S. Luqman (31):15)
 
Juga sesuai dengan penegasan dari Rasulullah SAW bahwa:
لا طاعة في معصية الله، إنما الطاعة في المعروف (رواه المسلم)
Artinya: “Tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah, ketaatan hanyalah semata dalam hal yang Makruf”. (H.R. Muslim)[18]
Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh rasa terima kasih dan kasih sayang atas jasa-jasa keduanya yang tidak mungkin bisa dinilai dengan apapun. Ibu yang mengandung dengan susah payah dan penuh penderitaan. Ibu yang melahirkan, menyusui, mengasuh, merawat dan membesarkan. Bapak yang membanting tulang mencari nafkah untuk ibu dan anak-anaknya. Bapak yang menjadi pelindung untuk mendapatkan rasa aman. Allah SWT berwasiat kepada kita untuk berterima kasih kepada ibu bapak sesudah bersyukur kepada-Nya; seperti yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 14.
Banyak cara untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tua, antara lain memanggilnya dengan panggilan yang menunjukkan hormat, berbicara kepadanya dengan lemah lembut, tidak mengucapkan kata-kata kasar (apalagi kalau mereka berdua sudah lanjut usia), pamit kalau meninggalkan rumah (kalau tinggal serumah), memberi kabar tentang keadaan kita dan menanyakan keadaan keduanya lewat surat atau telepon (bila tidak tinggal serumah). Allah berfirman :
Artinya:     “Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. (Q.S. Al-Isra’:17:23)[19]
 
Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil. Misalnya sebelum berkeluarga dan mampu berdiri anak-anak membantu orang tua (terutama ibu) mengerjakan pekerjaan rumah, dan setelah berkeluarga atau berdiri sendiri membantu orang tua secara finansial, baik untuk membeli pakaian, makanan minuman, apalagi untuk berobat. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa betapapun banyaknya engkau mengeluarkan uang untuk membantu orang tuamu tidak sebanding dengan jasanya kepadamu.
Dalam hadits Nabi Muhammad SAW :
لا يجزي ولد والده إلا أن يجده مملوكا فيشتريه فيعتقه (رواه مسلم)
Artinya :    “Tidak dapat seorang anak membalas budi kebaikan ayahnya, kecuali jika mendapatkan tertawan menjadi hamba sebaya, kemudian ditebus dan dimerdekakannya”. (H.R. Muslim)
 
Mendoakan ibu bapak semoga diberi oleh Allah SWT ampunan, rahmat dan lain-lain sebagainya. Allah SWT menukilkan dalam Al-Qur’an doa Nabi Nuh memintakan keampunan untuk orang tuanya, dan perintah kepada setiap anak untuk memohonkan rahmat Allah bagi orang tuanya.
Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah; “Wahai tuhanku, kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Q.S. Al-Isra’:17:24)
 

Setelah orang tua meninggal dunia, birrul walidainmasih bisa diteruskan dengan cara :

Menyelenggarakan jenazahnya dengan sebaik-baiknya.
Melunasi hutang-hutangnya.
Melaksanakan wasiatnya.
Meneruskan silaturahmi yang dibinanya di waktu hidup.
Memuliakan sahabat-sahabatnya.
Mendoakannya.[20]
Seorang laki-laki Bani Salimah datang bertanya kepada Rasulullah SAW:
يا رسول الله، هل بقي من بر أبوي شيء أبرهما بعد موتها؟ قال: نعم، الصلاة عليهما والاستغفار لهما وإنفاذ عهدهما من بعدهما وصلة حم ألتي لا توصل إلابهما واكرام صديقهما (رواه أبو دود)
Artinya: “Ya Rasulullah, sesuatu kebaikan yang masih dapat saya kerjakan untuk ibu bapak saya sesudah keduanya meninggal dunia? Rasulullah menjawab: “Ada, yaitu: menshalatkan jenazahnya, memintakan ampunan baginya, menunaikan janjinya, meneruskan silaturrahimnya dan memuliakan sahabatnya”. (H.R. Abu Daud)[21]
 
Ketika kedua orang tua telah meninggal dunia/wafat status anak tetap berlangsung sampai kapan pun hingga anak itu meninggal dunia. Oleh karena itu anak wajib berbuat baik, hormat dan taat, meskipun orang tua telah meninggal dunia, dengan cara melakukan hubungan silaturrahim dengan orang yang dikenal dan dicintai (sahabat) orang tua semasa hidupnya. Sabda Rasulullah SAW
إن من ابر البر أن يصل الرجل أهل ود أبيه بعد أن يولي 
(رواه بخاري و مسلم)
Artinya :    “Sesungguhnya perbuatan yang lebih baik adalah orang laki-laki yang menghubungi (bersilaturrahmi) dengan orang yang menjadi kecintaan ayahnya (orang tua) sesudah meninggal dunia”. (H.R. Bukhari dan Muslim)[22]
 
Dengan isyarat hadits tersebut, berarti berbuat baik hormat dan taat kepada orang tua yang telah meninggal dunia tidak harus datang ke kubur, atau ke makamnya, meskipun ziarah kubur itu diperbolehkan manakala membawa manfaat bagi kita untuk senantiasa mengingat mati, ingat kehidupan akhirat, sehingga mendorong seseorang untuk selalu berbuat baik. Nabi Muhammad SAW bersabda :
فمن أراد أن بزور القبور فليرو رها فنها تذكرا لاخرة  (رواه مسلم)
Artinya: “Siapa saja yang ingin mengunjungi kuburan, ziarahlah, maka hal itu mengingatkan engkau pada akhirat. (H.R. Muslim)[23]
 
Perlu diingat, hadits tersebut menyatakan tentang kebolehan ziarah kubur yang bersifat umum, tidak hanya kepada kedua orang tua yang telah wafat, tetapi untuk semua orang yang ada di kuburan siapa saja bagi kaum muslim, dan perlu diperhatikan untuk berbuat baik, hormat dan menaati kedua orang tua yang telah meninggal itu bukan harus berarti membangun kuburannya dengan pembangunan yang permanen, yang menelan banyak biaya dan menggunakan tanah lebih luas.
Cara yang selanjutnya untuk menghormati dan berbuat baik terhadap orang tua yang telah wafat adalah dengan doa, agar dikasihi, diampuni segala dosa-dosanya dan ditempatkan di sisi-Nya, karena doa anak yang baik dan saleh akan bermanfaat bagi kedua orang tuanya, dan doa anak itu termasuk amal yang tidak putus dari orang tua yang dilakukan selama hidupnya. Sabda Rasulullah SAW :
إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له (رواه مسلم)
Artinya: “Jika manusia itu mati, maka putuslah amalnya, kecuali 3 macam. 1. sedekah jariyah. 2. ilmu yang bermanfaat. 3. anak saleh (baik) yang mendoakan kepada kedua orang tuanya”. (H.R. Muslim)
 
VII.    METODE PENULISAN
Dalam penulisan proposal ini penulis menggunakan metode sebagai berikut :
Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam proposal ini adalah metode library research atau studi kepustakaan, yakni mengumpulkan dan menelaah buku-buku kepustakaan yang ada relevansinya dengan judul penulisan.
Metode Analisis Data
Dari hasil pengumpulan data yang berkaitan dengan Birrul walidain, maka analisis data menggunakan metode antara lain :
Metode Induktif
Berpikir induktif adalah proses logika yang berkaitan dari data empirik melalui observasi menuju kepada suatu teori.
Metode Deduktif
Berpikir deduktif adalah proses pendidikan yang berangkat dari kegemaran umum melalui suatu fenomena atau teori yang menggeneralisasikan kebenaran tersebut pada suatu peristiwa atau data tertentu yang berciri sama dengan fenomena yang bersangkutan.
 
VIII. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI
Untuk memudahkan isi proposal, maka dalam penulisan proposal akan disusun dengan sistematika sebagai berikut :
Bagian Muka
Bagian Tengah
Bagian Akhir
Adapun bagian-bagian tersebut dijabarkan sebagai berikut :
Bagian Muka
Bagian ini berisikan halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar dan daftar isi.
Bagian Tengah
Bagian ini merupakan bagian inti atau isi dari skripsi yang terbagi dalam bab-bab sebagai berikut :
BAB I       :  Pendahuluan
                     Menjelaskan latar belakang penulisan, dilingkupi dengan penegasan istilah, alasan pemilihan judul, permasalahan, tujuan penelitian proposal, metode penulisan dan sistematika penulisan proposal.
BAB II      :  A.  Pendidikan anak dalam keluarga
Meliputi pengertian dan unsur-unsur pendidikan keluarga dalam Islam.
                     B.  Konsep Al-Qur’an tentang birrul walidain
Meliputi pengertian birrul walidain, kedudukan birrul walidain dan bentuk-bentuk birrul walidain.
BAB III    :  Laporan penelitian mengkaji surat Al-Isra’ ayat 23, meliputi tafsir dan pengertiannya.
BAB IV    :  Analisis konsep Al-Qur’an tentang birrul walidain, meliputi analisis konsep pendidikan anak dalam keluarga dan analisis konsep Al-Qur’an tentang birrul walidain dan implikasinya terhadap pendidikan anak dalam keluarga.
BAB V      :  Penutup, meliputi kesimpulan dan saran-saran.
Bagian Akhir
Terdiri dari daftar kepustakaan, lampiran-lampiran dan daftar riwayat pendidikan penulis.
 
 
 
 
Abdul Hamid, K.H.A.                               –  Pedoman Da’wah, Penerbit Menara Kudus, 1977.
Dirjen Pembinaan Kelembagaan                –  Materi Pokok Aqidah Akhlak I PPG/
Agama Islam dan UT 1998                           2461/4SKS, Modul 7 – 12.
Emzul Fajri, Ratu Aprilia Senja                  –  Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Difa Publisher, Edisi Revisi.
Imam Ibnul Jauzi                                        –  Birrul walidain, Darul Ilmu al-Munawar Asy-Syamsiah, Madinah Al-Munawarah, Cet. I, 1993.
M. Natsir, Pemimpin Besar yang Cinta      –  Serial Khutbah Jumat Majalah Bulanan
Persatuan                                                       No. 142, April 1993, Jakarta.
UURI No. 20 Tahun 2003                         –  Sistem Pendidikan Nasional.
Kitab Suci Al-Qur’an                                 –  Al-Qur’an dan Terjemah, Juz 1 – 30.
Departemen Agama RI
Moh. Rifai, Drs.                                         –  Khutbah Teladan, CV. Toha Putra, Semarang.
Yunahar Ilyas, Drs. H., Lc., M.A.,             –  Kuliah Akhlaq, LPPI Yogyakarta, 2002, Pustaka Pelajar Offset.
Zuhairini, dkk., Dra.                                   –  Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara kerja sama dengan Dirjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama.
 
 
 
DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS
 
 
Nama                                 :    SALBIYAH HS
NIM                                  :    1306 076
Tempat, Tanggal Lahir      :    Jakarta, 27 Oktober 1958
Jenis Kelamin                    :    Perempuan
Alamat                              :    Jl. S. Jalatunda RT. 02 / 03 Pekasiran, Batur, Banjarnegara
Pendidikan                        :    1.     MI Al-Choiriyah Jakarta
                                                      Lulus tahun 1972
                                               2.     MTs Al-Choiriyah Jakarta
                                                      Lulus tahun 1975
                                               3.     PGAN 4 Th Yogyakarta
                                                      Lulus tahun 1977
                                               4.     PGAN 6 Th Yogyakarta
                                                      Lulus tahun 1979
                                               5.     Diploma II Fakultas Tarbiyah
                                                      IAIN Walisongo Semarang
                                                      Lulus tahun 1999
                                               6.     Semester VIII Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo
 
Wonosobo, 21 Juli 2008
Penulis
 
 
SALBIYAH HS
NIM : 1306 076
 

 DAFTAR ISI
 
 
HALAMAN JUDUL
HALAMAN NOTA PEMBIMBING
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN MOTO
HALAMAN PERSEMBAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I       PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penegasan Istilah
Rumusan Permasalahan
Tujuan Penelitian
Metode Penelitian
Sistematika Penulisan Skripsi
BAB II      KONSEP AL-QUR’AN TENTANG BIRRUL WALIDAIN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA
A.  Konsep Islam Tentang Pendidikan Anak dalam Keluarga
Pengertian
Unsur-unsur
                  B.  Konsep Al-Qur’an tentang Birrul Walidain
Pengertian Birrul Walidain
Kedudukan Birrul Walidain
Bentuk-bentuk Birrul Walidain
BAB III    Laporan Penelitian Mengkaji Surat Al-Isra’ Ayat 23
Tafsir
Pengertian
Asbabun Nuzul
BAB IV    Analisis Konsep Al-Qur’an tentang Birrul Walidain
Analisis Konsep Pendidikan Anak dalam Keluarga
Analisis konsep Al-Qur’an tentang Birrul Walidain dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Anak dalam Keluarga
BAB V      Penutup
Kesimpulan
Saran-saran
Kata penutup
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
LAMPIRAN – LAMPIRAN
DAFTAR ISI PROPOSAL
 
 
Halaman
HALAMAN JUDUL………………………………………………………………………………………. i
LEMBAR PENGESAHAN…………………………………………………………………………….. ii
DAFTAR ISI (PROPOSAL)………………………………………………………………………….. iii
JUDUL­­ PROPOSAL……………………………………………………………………………… 1
LATAR BELAKANG MASALAH…………………………………………………………. 1
PENEGASAN ISTILAH………………………………………………………………………… 3
RUMUSAN PERMASALAHAN……………………………………………………………. 4
TUJUAN PENELITIAN………………………………………………………………………… 5
KAJIAN PUSTAKA……………………………………………………………………………… 5
METODE PENELITIAN……………………………………………………………………… 14
VIII. SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI……………………………………………….. 14
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
 
 LEMBAR PENGESAHAN
 
 
Pada hari               , tanggal                          , telah diseminarkan proposal skripsi saudara :
Nama                :  Salbiyah HS
NIM                  :  1306076
Judul Skripsi   :  KONSEP AL-QUR’AN TENTANG BIRRUL WALIDAIN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA
Proposal ini telah dipandang layak dan memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke tahap penelitian dan penyusunan skripsi dengan judul tersebut di atas.
 
 
                                                                               Wonosobo,     Agustus 2008
Mengetahui
                       Pembimbing I                                             Pembimbing II
                                 
 
   Fatkhurohman Al-Munawar, M.Pd.                       Maryono, M.Pd.
 
Dekan Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
 
 
Drs. H. Arifin, M.Pd.I.


[1] Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
[2] Drs. Moh. Rifai, Khutbah Jumat, Penerbit CV. Toha Putra, Semarang, 1979, hal. 53.
[3] W.J.S. Poerwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1985.
[4] Drs. A. Fudhali dan Drs. Mashuri Sirojudin Iqbal, Pengantar Ilmu Tafsir, Penerbit Angkasa, Bandung, 1987, hal. 3.
[5] Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Kuliah Akhlaq, LPPI UMY Yogyakarta, Pustaka Pelajar Offset, 2002, hal. 147 – 148.
[6] Em Zulfajri, Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, hal. 374.
[7] Drs. Zuhairini, dkk., Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1994, hal. 149.
[8]
[9] Em Zulfajri dan Ratu Aprilia Senja, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, hal. 45.
[10] Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Op.Cit., hal. 147 – 148.
[11] Imam Ibnul Jauzi, Birrul walidain, Darul Ilmu Al Munawar Asy-Syamsiah, Madinatul Munawarah, 1993, Cet. I, hal. 31 – 32.
[12] Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Op.Cit., hal. 48.
[13] K.H. A. Abdul Hamid, Pedoman Da’wah, Menara Kudus, 1977, hal. 130.
[14] Ibid, hal. 130.
[15] Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Op.Cit., hal. 149.
[16] Imam Ibnu Jauzi, Op.Cit., hal. 39.
[17] K.H. Abdul Hamid, Op. Cit., hal. 130.
[18] Drs. H. Yunahar Ilyas, LC. M.A., Op. Cit., hal. 152.
[19] Ibid, hal. 155.
[20] Ibid, hal. 156.
[21] Ibid, hal. 157.
[22] Drs. Nanang Qorib, Serial Khotbah Jum’at, Majalah Bulanan, Pen. Ikatan masjid Indonesia, 1978, hal. 111.
[23] Ibid, hal. 112.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*