Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Peran Keluarga Dalam Membentuk Perilaku Anak

under arsip:  Perkulihan.com.
Judul Artikel /makalah :  makalah Pola Pembinaan Keagamaan  terhadap anak, dengan judul peran keluarga dalam membentuk perilaku dan keagamaan anak
Bidang  artikel /makalah  : tugas makalah  pendidikan, artikel pendidikan dan orang tua dan anak, 

TANGGUNG JAWAB KELUARGA DALAM  MENDIDIK PERILAKU KEBERAGAMAAN ANAK

 

Keluarga merupakan salah satu faktor yang penting bagi keberhasilan pendidikan anak, terutama mendidik perilaku beragama anak. Keluarga juga mempunyai tanggung jawab dalam memberikan perhatian pada perkembangan jiwa anak secara utuh. Salah satu konsekuensinya adalah, bahwa dalam memberikan perhatian pada perkembangan fisik anak, hendaklah disertai pertimbangan yang menjamin perkembangan non fisik anak. Penyediaan makan semisal, anak-anak hendaklah diberikan makanan yang baik-baik, tidak hanya dari sudut kesehatan, tetapi juga dari sudut syari’ah (                                    ). Makanan yang baik dari sudut pandang kesehatan akan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam bidang fisik, sedangkan makanan yang halal diperlukan untuk menjamin perkembangan kepribadian dan jiwa anak.[1] Karena setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, orang tualah yang mempunyai peran dalam pembentukan perilaku anak, khususnya perilaku beragama anak. Sebagaimana hadits Rosulullah SAW :

[2]

 

Artinya : Dari Abu Hurairah r.a. katanya : Rasulullah SAW bersabda tiap-tiap anak di lahirkan dengan keadaan putih bersih maka dua Ibu bapaknya yang meng-Yahudikan, atau me-Nasranikan atau me-Majusikan (HR. Bukhari)

Keunggulan manusia atas manusia yang lain, tidaklah dibedakan atas jenis kelamin. Anak perempuan dan anak laki-laki dalam Islam diakui dan diberikan perhatian yang sama. Islam juga mengajarkan agar anak laki-laki dan perempuan diberi kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan pendidikan sesuai dengan potensi, bakat dan minat masing-masing. Secara edukatif-metodologis, mengasuh dan mendidik anak, khususnya dilingkungan keluarga, memerlukan kiat-kiat/ metode yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.[3]

Dengan demikian, suatu perkembangan kepribadian dan jiwa anak yang baik, sangat berpengaruh terhadap perilaku anak, terutama perilaku keberagamaan anak. Dalam hal ini, akan diuraikan tanggung jawab keluarga dalam mendidik perilaku keberagamaan anak yang menyangkut tentang amalan diniyah atau ibadah.

  1. 1.      Ibadah

Secara umum ibadah berarti bakti manusia kepada Allah SWT, karena didorong dan dibangkitkan oleh aqidah tauhid, dan ibadah itulah merupakan tujuan hidup manusia.[4]Allah berfirman :

 

 

Artinya : “ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (ibadah) kepada-Ku ”     (Q.S. Adh – Dhariyat ayat: 56) [5]

Menyembah Allah SWT berarti semata-mata memusatkan penyembahan kepada Alllah SWT, tidak ada yang disembah dan mengabdikan diri selain kepada-Nya. Pengabdian diri berarti penyerahan mutlak dan kepatuhan sepenuhnya secara lahir dan batin bagi manusia kepada kehendak Ilahy. Semua dilakukan dengan kesadaran, baik bagi orang – seorang dalam masyarakat maupun secara bersama-sama dalam hubungan garis tegak lurus dengan kholiqnya, juga dalam garis mendatar, yakni dengan sesama manusia

1.1. Pengertian

Ibadah merupakan hakekat dan tujuan hidup manusia. Adapun definisi ibadah telah dirumuskan oleh majlis tarjih Muhammadiyah sebagai berikut:

 

Artinya: “ Ibadah adalah bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Alllah, dengan mentaati segala perintah-perintah-Nya, menjauhi segala larangan-larangan-Nya dan mengamalkan segala yang diizinkan-Nya.

Ibadah ada yang umum dan ada yang khusus;

  1. 1.    Yang umum ialah segala amalan yang diizinkan Alllah SWT.
    1. 2.    Yang khusus ialah apa yang telah ditetapkan Allah SWT akan perincian-perincian-Nya, tingkat dan cara-caranya yang   tertentu ”.[6]

Dari pengertian diatas, disebutkan bahwa ibadah ada dua macam; khusus dan umum, atau dengan kata lain ibadah mahdhoh dan ibadah qhoiru mahdhoh. Ibadah mahdhoh maksudnya ibadah yang telah ditentukan oleh Allah SWT akan segala perincian-perinciannya, tingkat dan cara-caranya yang tertentu sesuai dengan syari’at Islam (khusus). Sedangkan ibadah qhoiru mahdhoh maksudnya adalah ibadah yang diluar ketentuan syari’at Islam, tetapi dianjurkan atau diizinkan oleh Allah. contoh: muamalah dan lain-lain. Namun pada kesempatan ini, hanya akan dibahas tentang sholat, puasa, berbakti kepada orang tua dan shodaqoh.

1.2.Sholat

Sholat menurut bahasa berarti do’a.[7] Alllah berfirman :

 

 

Artinya : “ Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka” ( At – Taubah ) [8]

Sedangkan menurut istilah berarti suatu sistem ibadah yang tersusun dari beberapa perkataan dan laku perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam berdasar atas syarat-syarat dan rukun-rukun tertentu”.[9]

 

 

[10]

Artinya : “ Perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam dengan beberapa syarat khusus ”.

Sholat hukumnya fardhu a’in atas tiap-tiap muslim yang telah baliqh. Adapun sholat dibagi menjadi dua, yakni sholat fardhu dan sholat sunnah. Sholat fardhu ada lima, yakni:

  1. Sholat Shubuh, terdiri atas 2 rakaat; waktunya mulai terbit fajar kedua hingga terbit matahari.
  2. Sholat Dhuhur, terdiri atas 4 rakaat; waktunya mulai dari setelah cenderung matahari dari pertengahan langit sampai bayang-bayang satu tonggak telah sama dengan panjangnya.
  3. Sholat ‘Ashar, terdiri atas 4 rakaat; waktunya mulai ketika dhuhur berakhir sampai terbenam matahari.
  4. Sholat Maghrib, terdiri atas 3 rakaat; waktunya mulai dari terbenam matahari hingga hilangnya teja merah.
  5. Sholat ‘Isya’, terdiri atas 4 rakaat; waktunya mulai hilangnya teja merah di barat sampai terbit fajar kedua.[11]

Selain sholat lima waktu, diwajibkan pula melakukan sholat jum’at untuk sekali se-jum’at atas kaum laki-laki, sedang bagi perempuan tidaklah wajib atasnya, tapi tidak boleh dihalangi bila mereka ingin melakukan sholat jum’at.[12]

Selain sholat fardhu yang telah disebutkan diatas, masih ada lagi beberapa macam sholat sunah, yaitu sholat-sholat yang dianjurkan. Antara lain; sholat sunah rowatib, yang dikerjakan disekitar sholat-sholat wajib lima waktu, baik sebelum maupun sesudahnya. Selain sholat sunah rowatib ada juga yang disebut sholat tahajut, yang dikerjakan lewat tengah malam. Ada juga yang disebut sholat tarowih, yaitu sholat malam pada bulan Ramadhan. Sholat witir, yaitu sholat sunnah yang jumlah rakaatnya selalu ganjil, yang waktunya sesudah mengerjakan sholat ‘Isya’ sampai fajar, dan masih banyak sholat sunah yang lain.[13]

Ibadah sholat merupakan salah satu ibadah yang telah diatur dan ditetapkan waktunya. Dalam sholat mengandung suatu maksud yang besar, diantaranya yaitu melatih dan membiasakan hidup teratur serta berdisiplin, sehingga dalam mengarungi kehidupan itu akan terarah. Nilai lain yang terkandung adalah mendidik untuk bermasyarakat, memperteguh persatuan dan kebersamaan. Dengan sholat juga dapat menjadi benteng pertahanan yang kuat, yaitu dapat mencegah perbuatan yang keji dan mungkar, Allah berfirman:

 

 

 

Artinya : “ Dan tegakkanlah sholat, karena sholat itu mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar ” ( Al – Ankabut: 45 )[14]

Dari sini, kita dapat memahami bahwa Islam mempersatukan atau mementingkan program pengembangan kepribadian rohani manusia. Mereka yang senantiasa menunaikan sholat, akan  mempunyai kontak dengan Allah yang merupakan pusat segala wujud seperti halnya pilot ang senantiasa memiliki hubungan dengan kontrol-room.[15]

Ibadah sholat,  ditinjau dari kesehatan mental, maka sholat mempunyai fungsi dalam langkah pengobatan, pencegahan dan pembinaan. Dengan sholat orang akan memperoleh pula kelegaan bathin, karena ia merasa Allah mendengar, memperhatikan dan menerima munajadnya, sehingga ia dapat menjadikan sholat sebagai pengobatan jiwa.[16]

Kalau dengan sholat dapat diperoleh khikmah ketenangan jiwa, setiap kali orang menunaikan sholat, setiap kali itu pula ia memperoleh ketenangan jiwa. Bila sedikitnya lima kali sehari semalam, maka tidak ada lagi perasaaan yang menekan dan tidak ada lagi permasalahan yang menumpuk. Sedangkan bila ditinjau dari segi pembinaan, setiap kali orang mengerjakan sholat berarti setiap kali itu pula ia membina jiwa, sehingga akan tertanam perasaan jiwa yang tenang dan lega, serta rasa disiplin (taat) dan gairah dalam hidup. Semakin banyak dan khusu’ orang melakukan sholat, semakin suci dan bersihlah hatinya dari dosa-dosa dan semakin girang dan tenanglah jiwanya, serta semakin cinta dan dekatlah dirinya kepada Allah SWT, karena sholat adalah permata hati orang Islam.[17]

Hubungannya dengan keluarga, orang tua mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menanamkan pada diri anak tentang sholat sedini mungkin. Dengan begitu akan tertanam pada diri anak rasa tanggung jawab, dalam hal penyembahan atau pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya. Dengan sholat juga akan tumbuh dalam diri anak rasa kedisiplinan. Sedang hubungannya dengan perkembangan jiwa, diharapkan dengan sholat akan tumbuh dalam diri anak suatu kepribadian dan jiwa yang agamis (Islami).

1.3. Puasa

Puasa merupakan bentuk suatu ibadah penyucian diri, sebab selain menahan diri dari makan dan minum, juga menjauhkan diri dari perbuatan maksiat. Puasa menurut bahasa ialah menahan diri dari sesuatu dan meninggalkan sesuatu.[18]

Adapun pengertian puasa adalah menahan makan dan minum dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sidiq hingga terbenam matahari yang diawali dengan niat.[19] Allah berfirman :

 

 

 

Artinya : “Hai sekalian orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang dahulu (sebelum kamu) supaya kamu bertaqwa”     ( Al – Baqarah: 180 )[20]

Puasa ada dua macam, yakni puasa fardhu dan puasa sunnah. Puasa fardhu yaitu puasa pada bulan Ramadhan, yakni puasa yang diwajibkan bagi orang-orang dewasa/ baliqh seperti yang telah dijelaskan oleh ayat diatas. Sedangkan puasa sunah diantaranya; puasa enam hari dalam bulan syawal, puasa senin-kamis, puasa pada bulan Sya’ban, puasa bulan Arofah kecuali bagi orang-orang yang sedang melakukan ibadah haji, dan puasa tengah bulan (13, 14 dan 15) dari tiap-tiap bulan Qomariyah (Hijriyah).[21]

Menurut Zakiah Darodjat, bahwa puasa dapat meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Dengan keimanan dan ketaqwaan yang dimiliki dapat menolongnya, sehingga mampu melakukan puasa seperti yang telah diperintahkan Allah SWT dan dapat menjauhi dari larangan-larangan yang dapat membatalkan puasa. Selain dapat meningkatkan iman dan taqwa, puasa juga dapat meningkatkan penghayatan dan pengamalan agama.[22]

Ibadah puasa,  ditinjau dari kesehatan mental dapat berfungsi dalam pengobatan, pencegahan dan pembinaan. Dengan puasa, orang akan memperoleh ketenangan jiwa. Bila orang sering melaksanakan puasa, maka akan jauhlah ia dari sifat jahat dan semakin terkendali, serta kuatlah benteng pertahanan dirinya. Sedangkan ditinjau dari segi pembinaan, berarti setiap kali ia berpuasa maka saat itu pula ia membina jiwa dengan sifat yang baik dan meningkatkan pengendalian diri.[23]

Dengan demikian selain anak perlu diberikan pendidikan tentang sholat, anak juga perlu untuk diberikan pendidikan tentang puasa. Karena dengan puasa dapat membina jiwa dan  juga dapat menciptakan pengendalian diri dari perilaku-perilaku jahat dan menyimpang.

1.4. Berbakti kepada orang tua

Birrul walidain merupakan suatu keharusan bagi setiap anak, terutama kepada ibu. Karena ibu telah mengandung, melahirkan dan membesarkan dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan balasan sedikitpun dari anaknya. Dalam peribahasa dikatakan: “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang penggala”. Maksudnya  bahwa kasih sayang seorang ibu tak terhingga, sedangkan kasih sayang seorang anak terhadap orang tuanya, kadang terbatas, bahkan ada yang tidak sama sekali.

Birrul walidain merupakan ibadah yang bersifat horisontal/ hubungan antara manusia dengan makhluk yang lain (manusia). Dalam hal ini, yaitu kewajiban bagi anak untuk berbakti, mengabdi dan menghormati kedua orang tuanya. Dorongan dan kehendak berbuat baik kepada orang tua telah menjadi salah satu akhlak yang mulia (mahmudah) dan harus tertanam sedemikian rupa, sebab pada hakekatnya ayah dan ibulah yang paling besar jasanya kepada setiap anak-anaknya.[24] Allah berfirman:

 

 

 

Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada  ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” ( Q.S. Al – Isra’ : 23 )[25]

Allah selain mewajibkan kepada manusia untuk menyembah kepada-Nya, juga Dia menganjurkan kepada manusia untuk selalu berbuat baik kepada kedua orang tua, dalam hal ini sebagai anak, diwajibkan untuk mengabdi dan menghormati kepada kedua orang tua kita dengan sebaik-baiknya. Karena ayah dan ibu (orang tua), dalam keluarga mempunyai peranan penting dalam mendidik anak-anaknya, dengan adanya birrul walidain, dapat menciptakan keluarga yang harmonis, terpancar kdamaian dan ketentraman hidup seluruh anggota keluarga. Yang pada akhirnya suasana kehidupan keluarga akan terjamin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan bagi anak yang bersifat kejiwaan.

1.5. Shodaqoh

Manusia disamping sebagai makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa adanya bantuan dari orang lain. ini semua dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, dimana satu sama lain saling membutuhkan. Hubungan tersebut dapat diwujudkan dalam saling tolong menolong dan berbuat kebaikan. Dalam hal ini, shodaqoh merupakan bentuk perwujudan dari sifat tolong menolong tersebut, shodaqoh juga merupakan suatu ibadah yang sifatnya membantu kepada orang lain yang sedang membutuhkan. Dalam alqur’an disebutkan:

 

 

 

Artinya : “Ambillah dari sebagian harta sedekah (zakat), untuk membersihkan serta menghapus kesalahan mereka” ( At Taubah: 103 )[26]

Shodaqoh, disini mempunyai maksud yang hampir sama dengan zakat, yakni memberikan sebagian harta kita untuk membantu kepada orang yang membutuhkan yakni fakir miskin dan yang lainnya. Dimana shodaqoh mempunyai fungsi untuk dapat membersihkan serta menghapus dosa-dosa atau kesalahan-kesalahan manusia.

Bila pada diri anak sudah ditanamkan tentang arti shodaqoh dan manfaat-manfaatnya, diharapkan akan tertanam pada diri anak sifat sifat sosial yang tinggi dan rasa saling menyayangi kepada sesamanya. Dimana shodaqoh merupakan salah satu bentuk perwujudan dari sifat saling tolong menolong kepada sesama, terutama kepada orang yang benar-benar membutuhkan akan bantuan dari orang-orang yang lebih mampu. Shodaqoh juga merupakan suatu bentuk dari ibadah yang bersifat horisontal atau mendatar yaitu hubungan manusia dengan manusia yang lain. Oleh karenanya, tanamkanlah sedini mungkin pendidikan tentang shodaqoh, karena akan sangat bermanfaat bagi kehidupan sehari-harinya yang tidak terlepas dari kehidupan bermasyarakat.

1.6. Perilaku Keberagamaan Remaja

Perilaku sama halnya dengan moral, dimana keduanya adalah suatu masalah yang menjadi perhatian orang dimana saja, baik dalam lingkungan masyarakat yang telah maju maupun dalam lingkungan masyarakat yang terbelakang sekalipun. Jika dalam suatu lingkungan masyarakat sudah banyak orang yang rusak moral/ perilakunya, maka akan goncanglah keadaaan masyarakat tersebut.[27]

Bahkan dengan tegas James Drever dalam bukunya A Dictionary of Psicology, mendefinisikan perilaku adalah sebagai berikut: “ Behaviour the total response, motor, and glandular which an organism makes to any situatioan with which it is faced “.[28]

Yang artinya; tingkah laku adalah respon, tanggapan keseluruhan dari motor dan kelenjar yang diberikan suatu organisme kepada situasi yang dihadapinya.

Sedangkan menurut Mursal H.M. Taher, perilaku keberagamaan adalah tingkah laku yang didasarkan atas kesadaran tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa, semisal aktivitas keagamaan.[29]

Dengan demikian perilaku merupakan unsur yang penting dalam kehidupan manusia, karena untuk mewujudkan insan kamil, haruslah didasari dari awal kelakuan yang mulia (mahmudah). Suatu bangsa dikatakan makmur, selain masalah perekonomian, juga ukuran suatu bangsa diukur oleh perilaku dari rakyatnya.

Dalam hal ini, tugas bagi orang tua untuk memberikan pendidikan bagi anak tentang keagamaan sebaik mungkin, karena akan sangat berpengaruh sekali pada perilaku keberagamaan anak dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku keberagamaan yang dimaksudkan adalah segala aktivitas yang didasarkan pada nilai-nilai agama, baik yang bersifat mahdhoh maupun qhoiru mahdhoh.

Adapun mengenai faktor-faktor yang mampu untuk mempengaruhi perilaku keberagamaan remaja (anak), disini akan dikemukakan secara sederhana tentang faktor-faktor tersebut, yaitu:

a. Faktor internal

Yaitu faktor-faktor yang terdapat didalam diri pribadi manusia, faktor tersebut adalah:

1)      Pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi merupakan suatu hal yang sudah barang tentu pernah dialami oleh setiap manusia, bukan hanya pernah dialami oleh manusia dewasa, akan tetapi anak-anak juga pernah mengalaminya. Menurut Zakiah darodjat, berpendapat tentang pengalaman pribadi anak, yaitu; “sebelum anak masuk sekolah, telah banyak pengalaman yang diterimanya dirumah, orang tua serta seluruh anggota keluarga, juga teman sebaya. Menurut peneliti ahli ilmu jiwa, terbukti bahwa semua pengalaman yang dilalui orang sejak lahir merupakan unsur-unsur dalam pribadinya. [30]

Pengalaman pribadi yang dimaksud yakni pengalaman beragama, karenanya perlu ditanamkan sedemikian rupa pada diri manusia , yakni sejak dalam kandungan.[31] Hal ini penting, karena sangat mempengaruhi pada  nantinya bagi pembentukan suatu pribadi yang agamis.

2)      Pengaruh Emosi

Dalam perilaku keberagamaan, emosi mempunyai suatu pengaruh yang cukup besar. Menurut Zakiah Darodjat mengemukakan pendapatnya yakni; bahwa sesungguhnya emosi memegang peranan yang penting dalam sikap dan tindakan agama. Tidak ada satu sikap atau tindak agama seseorang yang dapat dipahami, tanpa mengindahkan emosinya. [32]

b. Faktor eksternal

Yaitu faktor-faktor yang berasal bukan dari diri pribadi manusia, melainkan berasal dari orang lain atau lingkungan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah:

1)   Pengaruh orang tua

Pendidikan dilingkungan keluarga merupakan peletakan dasar bagi perkembangan anak untuk selanjutnya, baik dilingkungan sekolah (pendidikan formal), maupun dilingkungan didalam masyarakat luas (pendidikan non-formal).[33]

Dalam keluarga, haruslah tercipta hubungan timbal balik dalam pendidikan, sebab mengingat bahwa keluarga, dalam hal ini yaitu orang tua berperan penting dalam penetuan keberhasilan anak-anaknya dan dapat juga orang tua bisa dijadikan suri tauladan bagi anak-anaknya. Oleh karenanya, orang tua haruslah benar-benar bersungguh-sungguh dalam mendidik anak, khususnya pendidikan agama,  yang pada akhirnya akan sangat berpengaruh sekali pada perilaku keberagamaan anak tersebut.

2)   Pengaruh Guru

Guru merupakan orang pertama setelah orang tua yang dapat mempengaruhi perilaku dan kepribadian anak, jadi faktor yang terpenting bagi seorang guru adalah kepribadiannya.[34]

Oleh karenanya sebagai seorang guru, khususnya guru agama hendaknya mempunyai suatu kepribadian yang dapat mencerminkan ajaran agama, yang akan diajarkan kepada anak-anak didiknya. Laku dan sikapnya dalam kebiasaan-kebiasan baik  haruslah sesuai dengan ajaran agama dan juga hendaklah menyenangkan dan tidak kaku.[35]

3) Pengaruh Teman Sebaya

Teman sebaya juga mempunyai pengaruh  yang sangat besar bagi anak, terutama pada usia remaja. Karena ingin diterima oleh teman-teman, ia haruslah meniru lagak lagu, cara bicara, cara bergaul, sikap dan perilaku teman-temannya dalam satu sikap dan perilaku teman-temannya dalam satu kelompok.[36]

Dengan demikian, orang tua mempunyai peranan yang besar dalam mengatur dan mengarahkan pergaulan anak-anaknya. Namun ketika orang tua telah memberikan bekal yang cukup kepada anak-anaknya tentang pendidikan agama, kiranya dengan pendidikan agama tersebut dapat menjadi benteng pada diri anak dari kemungkinan-kemungkinan negatif dari luar, terutama pengaruh dari teman sebaya yang dapat mempengaruhi sikap dan perilaku, khususnya perilaku beragama anak.

Adapun hal-hal yang juga tidak kalah pentingnya, yaitu tentang penanaman perilaku dari keberagamaan tersebut. Penanaman tersebut dapat dilakukan melalui pendengaran, penglihatan dan perilaku. Penanaman ini tidak langsung dapat dilakukan  dengan secara singkat, akan tetapi melalui proses dan juga membutuhkan waktu, serta membutuhkan beberapa metode-metode yang tepat.

Abdullah Nasikh Ulwan mengemukakan pendapatnya, bahwa untuk menanamkan tingkah laku dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode sebagai  berikut, yakni keteladanan, adat kebiasaan, nasehat, memberi perhatian dan juga memberikan hukuman ketika anak tersebut melakukan kesalahan.[37] Dengan menggunakan metode-metode tersebut, diharapkan dapat tercipta tingkah laku yang mulia, yang pada akhirnya dapat mencerminkan akhlakul karimah dan dapat dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun bila kita lihat kenyataan yang ada suatu keluarga yang masih lengkap (tidak adanya kasus perceraian), dalam menanamkan atau mendidik perilaku beragama, kadang kurang sesuai yang diharapkan. Apalagi ketika adanya kasus perceraian, rasanya sulit untuk dapat memberikan suatu perhatian yang cukup bagi anak, lebih-lebih apabila kedua orang tuanya tersebut sibuk dengan urusan-urusan sendiri-sendiri. Hal ini sangatlah berpengaruh bagi keberhasilan dari penanaman akan perilaku keberagamaan tersebut sesuai yang diharapkan. Dari sini, penulis hendak melakukan penelitian, apakah ada suatu tingkat perbedaan tentang perilaku beragama antara anak dalam asuhan ayah dengan anak dalam asuhan ibu.

2. Tanggung Jawab Keluarga Cerai

Perceraian mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak. Heteringthon mengadakan suatu penelitian terhadap anak-anak usia 4 tahun pada saat kedua orang tua bercerai. Peneliti ingin menyelidiki apakah kasus perceraian akan membewa dampak bagi anak dibawah usia 4 tahun dan diatas usia 4 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kasus perceraian akan membawa trauma pada setiap tingkat usia anak meski dengan kadar yang berbeda. Setiap usia anak dalam menyesuaikan diri dengan situasi baru, memperlihatkan cara-cara dan penyesuaian berbeda. Kelompok anak yang belum berusia sekolah pada saat perceraian terjadi, ada kecenderungan untuk menyalahkan diri, bila ia menghadapi berbagai masalah.[38]

Ketika anak menginjak usia remaja,anak mulai memahami seluk beluk perceraian. Mereka memahami, akibat apa yang bakal terjadi dari peristiwa perceraian. Hetherington mengungkapkan, jika perceraian dalam keluarga terjadi pada saat anak-anak menginjak usia remaja, mereka akan mencari ketenangan entah di tetangga, sahabat atau teman sekolah.[39]

Melihat fenomena yang terjadi pada diri anak, ketika mereka hidup dalam keluarga yang tidak utuh (keluarga cerai), akan mempengaruhi dalam perkembangan nak, baik fisik maupun psikis, juga akan mempengaruhi perkembangan pendidikan pada umumnya terutama pendidikan agama anak, yang pada akhirnya akan mempengaruhi dalam perilaku beragama anak dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

2.1.Pendidikan Agama

Menurut Drs. A. D. marimba, “Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menjadi terbentuknya kepribadian yang utama”.[40]

Sedangkan menurut John Dewey, “Education means just a proces of leading or bringig up”.[41]

“ Pendidikan yang tepat maksudnya adalah proses dari memimpin atau mengasuh”.

Agama disini yang dimaksudkan yakni agama Islam, “jadi pendidikan agama adalah usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam mendidik agar mereka sesuai dengan ajaran Islam”.[42]

Didalam UU no. 2 tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 39 ayat 2 dalalm penjelasannya dinyatakan bahwa: pendidikan agama merupakan usaha sadar untuk memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME sesuai dengan ajaran agama yang dianut oleh peserta didik yang bersangkutan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan  kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat  untuk mewujudkan persatuan nasional.[43]

Dengan demikian, pendidikan agama (Islam) selain untuk mendidik anak supaya sesuai dengan ajaran agama Islam, juga memperkuat iman dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang maha Esa, serta hubungan antar umat beragama, bai, se agama maupun dengan agama yang lain, sehingga akan terwujud persatuan dan kesatuan nasional yang telah dicantumkan dalam UUSPN no.2 tahun 1989.

 

Adapun peranan keluarga dalam menanamkan pendidikan agama Islam sangatlah dibutuhkan, karena keluarga merupakan peletakan dasar bagi pendidikan anak, khususnya pendidikan agama, yang pada akhirnya akan sangat berpengaruh terhadap perilaku keberagamaan anak, yang kesemuanya tidaklah terlepas dari peranan orang tua. Adapun  tanggung jawab orang tua kepada anak-anaknya, diantaranya  dalam hal pendidikan bimbingan dan pemeliharaan anak. Yang diharapkan dengan pelaksanaan tanggung jawab tersebut, akan menciptakan sosok manusia yang mempunyai kepribadian yang utuh.[44]

2.2. Tanggung jawab Orang Tua Sebagai Pendidik, Pembimbing dan Pemelihara Anak

Keluarga merupakan pengelompokan primer yang terdiri dari sejumlah kecil orang, karena hubungan semenda dan sedarah. Keluarga dapat berbentuk keluarga inti, yakni; ayah, ibu dan anak. Setiap anak yang diturunkan kedunia, selalu dilahirkan melalui orang tua dengan proses reproduksi. Orang tua ditugasi oleh Allah, pemilik segala yang ada, untuk mendidik anak-anaknya.[45]

Orang tua selain mempunyai tugas untuk menjaga anak-anaknya, juga sebagai pendidik, pelindung dan pemelihara anak-anaknya. Dalam hal ini kaitannya dengan pendidikan agama anak, yang dimaksudkan supaya dengan pendidikan agama, dapat mempengaruhi dalam perilaku beragama anak, sehingga anak mempunyai perilaku dalam kesehariannya sesuai dengan yang telah diajarkan dalam pendidikan agama. adapun untuk lebih jelasnya akan diuraikan sedikit tentang peran orang tua sebagai pendidik, pelindung dan pemelihara pendidikan agama anak dibawah ini.

2.2.1. Orang Tua Sebagai Pendidik

Orang tua dalam keluarga memiliki keistimewaan bagi anaknya. Pendidikan dalam keluarga merupakan pendidikan yang awal dan juga sempurna dilihat dari segi sifat maupun tempatnya. Hal itu seperti yang dikatakan oleh  Ki Hajar Dewantoro yang dikutip oleh Umar Tirtahardja dan La Sula, mengatakan:

“Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan pendidikan kearah pembentukan pribadi yang utuh, tidak saja bagi kanak-kanak, tetapi juga bagi remaja. Peran orang tua dalam keluarga sebagai penuntun, sebagai pengajar dan sebagai pemberi contoh”.[46]

Keluarga merupakan suatu tempat yang tepat untuk mengadakan proses pendidikan bagi anak-anak. Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa keluarga itu tempat yang sempurna untuk mengadakan pendidikan, baik dari sifatnya ataupun wujudnya, untuk melangsungkan pendidikan kearah pembentukan pribadi yang utuh, tidak saja bagi anak-anak, tetapi juga bagi remaja. Orang tua juga mempunyai fungsi yakni sebagai penuntun, pendidik dan pemberi contoh kepada anak-anaknya.

2.2.2. Orang tua sebagai  pembimbing dan pemelihara

Sebagai pemelihara, orang tua dalam membimbing dan mendidik anaknya hendaknya memberikan pelindungan yang sempurna. Adapun tanggung jawab orang tua dalam pemberian bimbingan dan pemeliharaan, sekurang-kurangnya dilaksanakan dalam rangka untuk:

  1. Memelihara dan membesarkan anak. Ini merupakan bentuk yang paling sederhana dari tanggung jawab setiap orang tua dan merupakan dorongan alami untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia.
  2. Melindungi dan menjamin kesamaan, baik jasmani maupun rohani dari berbagai gangguan penyakit dan dari penyelewengan kehidupan dari tujuan hidup yang sesuai dengan falsafah hidup dan agama yang dianutnya.
  3. Memberi pengajaran dalam arti luas sehingga anak memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan yang luas.
  4. Membahagiakan anak, baik di dunia dan di akhirat sesuai dengan pandangan dan tujuan hidup muslim.[47]

Dari beberapa penjelasan diatas, bahwa orang tua mempunyai tanggung jawab yang penting dalam kehidupan anak-anaknya, karena mengingat waktu waktu anak lebih banyak digunakan untuk berkomunikasi dengan lingkungan keluarga, terutama orang tuanya. Oleh karenanya, sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk selalu memelihara keluarganya, terutama anak-anaknya, terutama dalam memberikan pendidikan (agama) sehingga anak akan mempunyai jiwa yang baik yang pada akhirnya akan menciptakan perilaku yang mulya (akhlakul mahmudah). Sehingga mereka akan selamat dari segala perbuatan yang dapat membahayakan bagi dirinya sendiri maupun bagi diri orang lain.

Demikianlah sedikit gambaran tentang peran atau tanggung jawab dari orang tua dalam mendidik, membimbing dan memelihara anak-anaknya. Adapun ketika dalam keluarga, terjadi adanya kasus perceraian, tentulah antara ayah dan ibu akan berpisah. Anak terserah akan mengikuti siapa, akan ikut ibu atau ikut ayah. Dibawah ini akan diuraikan tentang cara pengasuhan anak dalam keluarga yang terjadi kasus perceraian, baik anak dalam asuhan ayah maupun anak dalam asuhan ibu, kaitannya dengan perilaku beragama anak di desa Banyurip Ageng, kec. Pekalongan Selatan, kota Pekalongan.

 

2.3. Peranan Ayah

Dalam hal ini akan diuraikan tentang keberadaan anak yang hidup atau dalam asuhan ayah setelah terjadinya kasus perceraian.

Ayah, merupakan salah satu unsur yang penting dalam keluarga. Ada ayah yang terlalu keras dan mengekang si anak dalam gerak geriknya. Dia menuntut kepatuhan dari anak-anaknya dengan cara menakut-nkuti atau mengancam, tanpa memperhatikan perasaan dan kebutuhan si anak. Bapak yang seperti ini dianggap tidak wajar. Tidak jarang anak-anaknya menjauh dan tidak mematuhinya, hal tersebut dapat berakibat kepada semangat belajar si anak, kadang-kadang ia gagal dalam belajar.[48]

Ada pula bapak yang berlaku sebaliknya, dia membiarkan anak-anaknya tumbuh dan berkembang tanpa hambatan, anaknya diberinyasemua fasilitas yang dapat disediakannya, sehingga anaknya tidak mendapat bimbingan dari bapaknya.[49]

Namun ada pula bapak yang bersikap tegas dalam pendidikan anaknya. Dia adalah bapak yang mendidik anak-anaknya dengan cara yang masuk akal dan logis.dia dapat memahami segala persoalan dan kebutuhan anaknya, kalau perlu ia tegas melarang apa yang dipandangnya tidak baik. Pada umumnya bapak yang seperti ini banyak menggunakan persuasi dan dorongan, bukan perintah. Jika ia menghukum anaknya atas suatu kesalahan, hukumannya seimbang dengan kesalahan yang dibuatnya. Remaja yang mempunyai bapak seperti ini biasanya amat menjaga aturan-aturan atau ketentuan bapaknya. Dia memahami nasihat bapaknya. Jika dilanggarnya dia sendiri yang akan rugi. Biasanya remaja yang hidup pada keluarga seperti ini, sayang dan hormat kepada bapaknya, dia berani mengungkapkan perasaan dan pendapatnya.[50]

Namun ketika ayah dan ibu dalam situasi perceraian, adanya kecenderungan sikap yang berbeda pada ayah dan ibu. Ayah dalam cara pengasuhan anak, ia malah lebih cenderung bersikap ramah, tawa ria dan memberikan kebebasan pada anak-anaknya[51]

Dari beberapa uraian tentang peran ayah dalam mengasuh anak, menurut hemat penulis  tipe dari ayah yang tegas dalam pendidikan anaknya adalah yang paling tepat dan baik. Namun jika terjadi adanya kasus perceraian, dimana anak akan ikut pada salah satu orang tuanya, dimana anak dalam asuhan ayah, ia akan cenderung bersikap dinamis dan memberikan kebebasan kepada anak-anaknya, sehingga anak tidak merasa merasa nyaman dan tenteram. Dengan demikian diharapkan berhasil dalam pendidikannya, terutama pendidikan anak. Yang pada akhirnya akan mempengaruhi dalam perilaku beragama anak dalam kehidupan sehari-harinya.

Ayah yang tegas dalam mendidik dan memberikan kebebasan dalam mengasuh anaknya, akan menjadikan anak merasa tidak takut dalam segala perbuatannya, tentunya yang bersifat positif. Kaitannya dengan perilaku beragama anak, sangatlah berpengaruh, karena anak merasa dirinya diperhatikan dan mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya dalam urusan pendidikan, terutama pendidikan agama.

 

2.4. Peranan Ibu

Dalam hal pengasuhan anak, ada ibu yang kurang memperhatikan anaknya yang sudah remaja. Anaknya dibiarkannya tanpa bimbingan, pendidikan dan pengawasan atau pengawasan itu dilimpahkan kepada pembantunya.[52] Ibu yang seperti ini boleh jadi ia tidak mempunyai waktu untuk memperhatikan anaknya karena dia sibuk bekerja di luar rumah.

Ibu yang baik memberikan perhatian yang cukup terhadap anaknya. Ia dapat memperhatikan, membimbing dan mendorong anaknya kepada hal yang baik tanpa ikut campur tangan dalam urusan pribadi anak.[53]

Namun ketika terjadi kasus perceraian dalam keluarga, seorang ibu menjadi kurang memperlihatkan kasih sayang kepada anak-anaknya, khususnya terhadap anak laki-laki, suatu sikap yang berbeda sebelum perceraian ibu memperlakukan putranya lebih keras, memberikan tugas disertai ancaman dan mendidik anakpun tidak sistematis serta bersifat memaksa.sikap iibu pada waktu ini bagaikan “ berteriak sekuat-kuatnya tanpa memperhatikan lingkungan sekitar, bagai berteriak dipadang lepas tanpa memperdulikan reaksi negatif maupun positif pada anaknya “.[54]

Dari uraian tentang pengasuhan seoang ibu terhadap anaknya, terjadi adanya perubahan sikap dalam diri ibu ketika terjadi adanya kasus perceraian. Sebelum adanya perceraian ibu cenderung akan memberikan bimbingan, perhatian dan pengawasan kepada anaknya. Namun ketika terjadi kasus perceraian ibu akan mempunyai sikap yang kurang dalam memberikan perhatian dan juga kurang dalam memperlihatkan kasih sayang kepada anaknya, terutama anak laki-laki.

Dengan demikian, kaitannya dengan pendidikan agama anak, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada perilaku beragama anak akan menjadi kurang baik, karena anak merasa kurang adanya perhatian, bimbingan dan pendidikan dari ibu. Adapun yang terjadi dalam hal pengasuhan anak oleh ayah dan oleh ibu dalam keluarga cerai, ternyata ada tingkat perbedaan dalam perilaku beragama anak tersebut.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdullah Nasikh Ulwan, Dr. , Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Asy syifa’, Semarang, 1981

 

Abdul Rohman Aljaziri, Kitab Fiqh Ali Mazhidul Arbaah, juz I, Al Maktabah at Tarbiyo, Al Kubro

 

A. D. Marimba, Drs. , Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al Ma’arif, Bandung  1989

 

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia,  UUSPN, Sistem Pendidikan Nasional, CV. Aneka Ilmu, Semarang, 1989

 

Fuaddin TM, M.Ed, Drs. , Pengasuhan Anak dalam Keluarga Islam, Lembaga kajian Agama dan Jender, Solidaritas Perempuan dan The Asia Foundation, tt,

 

Hasmi Ash shidiqiy Prof. DR. TM, Pedoman Puasa, Bulan Bintang, Jakarta, 1983

 

Hasan Langgulung, Prof. , Manusia dan Pendidikan, Pustaka Al Husna, Jakarta, 1996

 

Imam Abi Abdullah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn Al-Mughirah Ibn Bardajah Al-Bukhari Al-Jaifi , Sahih Bukhari, Dar- al –kutub al-ilmiyah, Bairut, Libanon, 1992

 

John Dewey, Democrasy and Education an introduction to the phylosopy of education, New York, tt

 

James Drever, A Dictionary of psycology, Penguin Books, Britan, 1952

 

Mursal Taher HM, Drs , Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan, Al Maarif, Bandung, 1997

 

Mukhsin Qira’ati, Pancaran Cahaya Sholat, Hidayah, tt

 

Nasirudin Razak, Drs , Dienul Islam, Cet VII, Al Ma’arif, Bandung, 1984

 

Sudarsono SH, Drs. ,  Sepuluh Aspek Agama Islam, I, Rineka Jaya, jakarta, 1984

 

Sunaryo, R.H.A.S.H., Prof. , Alqur’an dan Terjemahannya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Alqur’an 1998

 

 

Sikun Prof., Mutiara-mutiara Pendidikan, Erlangga, Jakarta,1987

 

Umar Tirtahardja, Pengantar Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 2000

 

Yahya Jaya, MA, DR. , Spiritualisasi Islam, Ruhama, Jakarta,1994

 

Zakiyah Daradjat, Prof. Dr. , Puasa meningkatkan Kesehatan Mental, Ruhama, Jakarta, 1996

 

_______________________ , Kepribadian Guru, Bulan Bintang, Jakarta, 1980

 

_______________________ , Pendidikan Agama dalam Kesehatan Mental,  Bulan Bintang, Jakarta, 1982

 

________________________ , Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1970

 

 

________________________, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996.

 

_______________________,  Remaja Harapan dan Tantangan, Ruhama, Jakarta, 1995

 

Zuhairini Drs. H , dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama, Cet VIII, Biro Ilmiyah Fakkultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, Malang, 1983

 



1 Drs. Fuaddin TM, M.Ed, Pengasuhan Anak dalam Keluarga Islam, Lembaga kajian Agama dan Jender, Solidaritas Perempuan dan The Asia Foundation, tt, tk, hal. 28

 

[2]Imam Abi Abdullah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn Al-Mughirah Ibn Bardajah Al-Bukhari Al-Jaifi , Sahih Bukhari, Dar- al –kutub al-ilmiyah, Bairut, Libanon, 1992, hlm 413

3 Drs. Fuaddin TM, M. Ed, Op. Cit,  hal. 30

 

4 Drs Nasirudin Razak, dienul Islam, Cet VII, Al Ma’arif, Bandung, 1984, hal. 44.

 

5 Prof. R.H.A. Sunarjo, S.H., Alqur’an dan Terjemahannya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Alqur’an, hal. 862

 

6   Drs. Nasiruddin Razak, Op. Cit, hal. 47

7   Ibid, hal. 178

 

8   Prof. R.H.A. Sunarjo, S.H., Op. Cit, hal. 298

 

9  Drs. Nasiruddin Razak, Op. Cit, hal. 178

 

[10] Abdul Rohman Aljaziri, Kitab Fiqh Ali Mazhidul Arbaah, juz I, Al Maktabah at Tarbiyo, Al Kubro, hal. 878

 

[11]  Drs. Nasiruddian Razak, Op. Cit, hal. 178-179

 

12  Ibid

 

13 Ibid, hal. 180

 

14  Prof. R.H.A.Sunarjo, S.H., Op. Cit, hal. 635

 15 Mukhsin Qira’ati, Pancaran Cahaya Sholat, Hidayah, tt, tk, hal. 64

 

16 DR. Yahya Jaya, MA, Spiritualisasi Islam, Ruhama, Jakarta,1994, hal. 95

 

17 Ibid

 18 Prof. DR. TM Hasmi Ash shidiqiy, Pedoman Puasa, Bulan Bintang, Jakarta, 1983, hal. 53

 

 19 Drs. Sudarsono SH, Sepuluh Aspek Agama Islam, I, Rineka Jaya, jakarta, 1984, hal. 91

 

 20 Prof. R.H.A. Sunarjo, S.H., Op. Cit, hal. 44

 

21 Drs Sudarsono SH, Op. Cit, hal. 94

 22 Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Puasa meningkatkan Kesehatan Mental, Ruhama, Jakarta, 1996, hal.    11

 

23 Dr. Yahya jaya, Op. Cit, hal. 97-98

 24 Drs. Sudarsono, op. Cit, hal. 210

 

 25 Prof. R.H.A. Sunarjo, S.H., Op. Cit,  hal.

26 Prof. R.H.A., S.H. Sunarjo, Op. Cit, hal. 297

 

[27] Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Peranan Agama dalam kesehatan Mental, Gunung Agung, Jakarta, tt, hal. 63

 28 James Drever, A Dictionary of psycology, Penguin Books, Britan, 1952, hal. 28

 

29 Drs Mursal Taher H. M, Kamus Ilmu Jiwa dan Pendidikan, Al Maarif, Bandung, 1997,     hal. 121

30  Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Kepribadian Guru, Bulan Bintang, Jakarta, 1980, hal. 11

 

31  Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Pendidikan Agama dalam Pembinaan Mental,  Bulan Bintang, Jakarta, 1982, hal.114

 

32 Prof. Dr. Zakiah Daradjad, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1970,  hal. 77

33 Frof. Sikun , Mutiara-mutiara Pendidikan, Erlangga, Jakarta,1987, hal. 47

 

34  Prof. Dr. Zakiah daradjat, Kepribadian Guru, Op. Cit, hal. 46

 

35 Ibid, hal. 16

 

36  Prof. Dr. Zakiah daradjat, Ilmu Jiwa Agama, hal. 88

37 Dr. Abdullah Nasikh Ulwan, Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam, Asy syifa’, Semarang, 1981, hal. 2

38 Drs. Save M Dagun, Psikologi Keluarga (Peranan Ayah Dalam Keluarga), Rineka Cipta,  Yokyakarta, tt,  hal.  147.

 

39 Ibid, hal. 48

40 Drs. A. D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al Ma’arif, bandung,   hal. 19

 

41John Dewey, Democrasy and Education an introduction to the phylosopy of education, New York, tt, hal. 10

 

42 Drs. H Zuhairini dkk, Methodik Khusus Pendidikan Agama, Cet VIII, Biro Ilmiyah Fakkultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, Malang, 1983, hal.

 

43 UUSPN, Sistem Pendidikan Nasional, Aneka Ilmu, Semarang,1989, hal. 7

[44] Prof. Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, Pustaka Al Husna, Jakarta, 1996, hal. 358

 

45 Prof. Sikun Pribadi, M.A., Ph. D.,  Mutiara – Mutiara Pendidikan, Erlangga, Jakarta, 1987, hal. 46.

[46] Umar Tirtahardja, Pengantar Pendidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 2000, hal.  169.

47 Dr. Zakiah Daradjat,  dkk,  Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996,  hal.  38

 

[48] Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Remaja Harapan dan Tantangan, Ruhama, Jakarta, 1995, hal. 21-22.

 

[49] Ibid.

 

[50] Ibid, hal. 22-23.

 

[51] Drs. Save M. Dagun, Op. Cit, hal. 151.

[52]Prof. Dr. Zakiah Daradjat, Op. Cit, hal. 23

 

[53] Ibid

 

[54] Drs. Save M. Dagun, Op. Cit, hal. 151

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*