Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Pengertian Pondok Pesantren

            Pengertian Pondok Pesantren

Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : kurikulum pendidikan pesantren
data post: Perkuliahan.com. edition of : 182

 Berikut definisi dan pengertian pondok pesantren menurut para ahli, dan apa yang didefinisikan disini merupakan hasil dari tulisan penelitian kepustakaan. jadi untuk pengertian dan definisinya merupakan rangkuman dari para penulis tentang pondok pesantrten.

Pondok Pesantren dalam penyelenggaraan pendidikannya berbentuk asrama yang merupakan komunitas khusus di bawah pimpinan kyai dan dibantu oleh ustadz yang berdomisili bersama-sama santri dengan masjid sebagai pusat aktivitas belajar mengajar, serta pondok atau asrama sebagai tempat tinggal para santri dan kehidupan bersifat kreatif, seperti satu keluarga.[1]

Adastatemen yang sinonim dengan pesantren, antara lain : pondok, surau, dayah dan lainnya. Tepatnya istilah Surau terdapat di Minangkabau, Penyantren di Madura, Pondok di Jawa Barat dan Rangkang di Aceh.[2]

Ziemek mengatakan, kata pondok berasal dari kata funduq (Arab) yang berarti ruang tidur atau wisma sederhana, karena pondok merupakan tempat penampungan sederhana bagi pelajar yang jauh tempat tinggalnya, sedangkan kata pesantren berasal dari kata santri. Atau gabungan dari suku kata sant (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan  manusia baik-baik.[3]

Pondok pesantren merupakan satu bentuk pendidikan  keislaman yang melembaga di Indonesia. Kata pondok (kamar, gubug, rumah kecil) dipakai dalam bahasa Indonesia dengan menekankan pada kesederhanaan bangunan.[4]

Dalam perkembangannya, menampakkan keberadaan sebagai lembaga pendidikan  Islam yang mumpuni, di dalamnya didirikan sekolah, baik secara formal maupun nonformal, bahkan sekarang pesantren mempunyai trend baru dalam rangka memperbaharui sistem yang selama ini digunakan yaitu :

(a)Mulai akrab dengan metodologi kegiatan modern.

(b)Semakin berorientasi pada pendidikan fungsional, artinya terbuka    atas perkembangan di luar dirinya.

(c)Diversifikasi program dan kegiatan makin terbuka dan        ketergantungannyapun absolut dengan kyai sekaligus dapat membekali para santri dengan berbagai pengetahuan di luar mata pelajaran agama, maupun ketrampilan yang diperlukan di lapangan kerja.

(d)Dapat berfungsi sebagai pusat pengembangan masyarakat.[5]

  Imam Bawani mengungkapkan:

Pondok (asrama) merupakan bukti tradisional suatu pesantren. Maka suatu pesantren dikatakan lembaga pendidikan Islam tradisional jika memiliki pondok atau asrama santri yang berstatus mukim. Kecenderungan untuk  berkelana dalam menuntut ilmu dan menetap di sebuah tempat dimana seorang guru berada, merupakan tradisi yang menyatu dengan ulama masa lalu.[6]

Pengertian-pengertian di atas sudah representatif tetapi konvensional, apalagi tahun 1996-an semarak dengan pesantren-pesantren

kilat. Fenomena ini apabila dikomparasikan dengan muatan definisi di atas

kurang valid. Sebab terdapat instrumen-instrumen yang dalam definisi tersebut tidak terpenuhi. Jadi definisi yang bisa mewakilkan untuk  terminologi pesantren dalam konotasi konvensional dan kontemporer adalah suatu komunitas ulama/ kyai, guru, serta santri atau murid, dalam lingkungannya yang berupa  pesantren atau asrama, masjid, atau gedung-gedung, sebagai tempat pendidikan  yang mengajarkan dan mengajarkan ajaran Islam. Sifat organisasi ini bila permanen (dalam waktu relatif lama) atau insidental (sebentar) seperti pesantren kilat, kehidupannya bersifat kolektif (menyatu seperti keluarga), integritas pesantren dapat independen dan bisa dependen serta menyatu dengan kehidupan sosial masyarakatnya.

Dari pengertian di atas, pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan  Agama Islam, dengan sistem asrama yang di dalamnya berisikan sekurang-kurangnya tiga unsur pokok yaitu : kyai, sebagai pengasuh sekaligus pengajar, santri yang belajar dan masjid sebagai tempat beribadah dan sentral kegiatan.



[1]Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan  Pesantren, INIS,Jakarta, 1994, hlm. 6

[2]Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Mizan, Bandung, 1995, hlm. 17

[3]Ziemek, Loc. Cit. , Lihat juga Zamakhsyari Dhofier , Op. Cit , hlm. 18

[4]Soedjoko Prasodjo, Profil Pesantren , LP3ES, Jakarta, 1974,  hlm . 11

[5]Rusli Karim, Pendidikan Islam di Indonesia, dalam Transformasi Sosial Budaya (Editor: Muslih Musa) , Hasbullah , Kapita Selekta Pendidikan Islam , PT. RajaGrafindo Persada,Jakarta, 1999,  hlm. 58

6Al Syaikh Muhammad Al Khudori Beik,  Tarikh Al Tasyri’ Al-Islami,  Mesir : Math ba’ah Al Sa’adah, 1954, hlm. 230 – 261. Dalam Imam Bawani, Pesantren Tradisional, Al-Ikhlas ,Surabaya , 1983,  hlm. 129

Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : kurikulum pendidikan pesantren 

Category: Artikel Islam

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*