Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Pengembangan Kompetensi Profesional Guru PAI

Pengembangan Kompetensi Profesional Guru PAI

 under arsip:  Perkuliahan.com.

Judul postingan :Pengembangan Kompetensi Profesional Guru PAI/  PENDIDIKAN ISLAM

Bidang  postingan  : Pengembangan Kompetensi Profesional Guru PAI, Kompetensi guru agama, guru pendidikan agama yang profesional.

……

data post. perkuliahan.com seri : 73

Pengembangan Kompetensi Profesional Guru PAI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

1.   Pengembangan kompetensi guru pendidikan agama Islam

Pengembangan profesional guru dimaksudkan untuk memenuhi tiga kebutuhan yang sungguhpun memiliki keragaman yang jelas, terdapat banyak kesamaan. Pertama, kebutuhan sosial untuk meningkatkan kemampuan sistem pendidikan yang efesien dan manusiawi, serta melakukan adaptasi untuk penyusunan kebutuhan-kebutuhan sosial. Kedua, kebutuhan untuk menemukan cara-cara untuk membantu staf pendidikan dalam rangka mengembangkan pribadinya secara luas. Ketiga kebutuhan untuk mengembangkan dan mendorong keinginan guru untuk menikmati dan mendorong kehidupan pribadinya.[29]

Yang berkewajiban mengembangkan profesi para pendidik yaitu sebagaimana yang tercantum baik pada profesi, kode etik maupun pada peranan pendidik, yakni pendidik itu sendiri sesudah itu baru oleh organisasi profesi pendidikan. Sebab pendidik itu sendiri paling bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri, termasuk terhadap profesinya, atau dapat pula dia lakukan bersama teman-temannya yang memiliki spesialisasi sama.

Tujuan dari perkembangan guru menurut F. Mc Nergrey dan Carol A adalah:

”The goal of teacher development is to support of classroom teachers in their performance of various tasks. The more tasks teachers can accomplish, the bette persons and profesionals they likely to become”.[30]

 Untuk mencapai tingkat profesionalisme, treatmen manajemen menurut Castetter terdiri atas perencanaan, rekrutmen, seleksi, pelantikan (induktion), penilaian (apprasial) pengembangan, kompensasi, tawar menawar, pengamanan dan kontinuitas. Pada intinya dapat dibagi pada dua besaran kegiatan yakni perencanaan, rekrutmen, seleksi dan pengangkatan di satu sisi, serta pembinaan yang meliputi pembinaan dan pengembangan pada segi lain.[31]

Pembinaan dan pengembangan bertolak dari kebijakan mengembangkan kemampuan profesional ketenagaan guna meningkatkan mutu layanan akademik dan non akademik. Pembinaan dan pengembangan tersebut meliputi program latihan jabatan, studi lanjut gelar, studi lanjut non gelar, pertemuan pertemuan ilmiah, penataran dan loka karya, bimbingan senior–yunior, pengembangan melalui kegiatan penelitian, pengembangan melalui kegiatan pengabdian dan penugasan-penugasan.[32]

 

 2.  Model Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agam Islam

Dalam rangka meningkatkan kemampuan profesional guru, maka pelayanan supervisi memegang peranan penting dalam hubungannya dengan usaha meningkatkan kualitas pendidikan, baik para pendidik maupun lulusan sistem pendidikan.

Supervisi dalam pembinaan profesional guru dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan ketrampilan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya sehari-hari disekolah, yaitu mengelola proses belajar mengajar dengan segala aspek pendukungnya, sehingga berjalan dengan baik supaya tujuan PBM khususnya dan tujuan pendidikan dasar umumnya tercapai secara optimal.[33]

Metode pembinaan yang dilaksanakan oleh supervisor dalam rangka pengembangan guru adalah:

a.      Pembinaan dilingkungan sendiri

b.     Pembinaan dilingkungan daerah

c.      Pembinaan dilingkungan guru bidang studi sejenis

d.     Pembinaan di bidang administrasi[34]

Dalam melaksanakan supervisi dapat dipergunakan teknik-teknik sebagai berikut:

a.      Teknik yang bersifat individu (perorangan)

1)     Kunjungan kelas

2)     Observasi kelas

3)     Percakapan pribadi

4)     Saling mengunjungi kelas

5)     Menilai diri sendiri

b.     Teknik yang bersifat kelompok

1)     Orientasi terhadap guru baru

2)     Rapat guru

3)     Studi kelompok antar guru

4)     Diskusi kelompok

5)     Tukar menukar pengalaman[35]

Pengembangan tenaga kependidikan yang efektif dilakukan dengan menerapkan beberapa model. Berdasarkan hasil studi (Librari Research) yang dilakukan Crandall mengemukakan model-model efektif pengembangan profesional guru :

a.      Model monitoring, yaitu para praktisi guru berpengalaman merilis pengetahuannya atau melakukan aktivitas mentor kepada praktisi yang kurang berpengalaman.

b.     Model ilmu terapan atau model ” dari teori ke praktik”, yaitu berupa penautan antara hasil-hasil riset yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan praktis.

c.      Model inkuiri atau model reflektif, yaitu mereka harus aktif menjadi peneliti seperti membaca, bertukar pendapat, melakukan observasi, melakukan analisis kritis, dan merefleksikan pengalaman praktis mereka sekaligus meningkatkannya.[36]

Menurut Piet A Sahertian ada beberapa model atau pola pengembangan profesi keguruan,[37] di antaranya :

a.      Pola Ink Blot

Ciri-ciri khusus pada pola Ink Blot:

1)     Penatar berasal dari sekolah tertentu

2)     Penatar bersal dari sekolah lain

3)     Sesudah ditatar maka petatar tadi diharapkan menjadi penatar baru, bertugas menatar guru dari sekolah lain dan seterusnya.

b.     Pola Cell

Kalau dalam pola Ink Blot digunakan sekolompok guru dari satu sekolah sebagai penyebar hasil penataran, maka di dalam pola cell guru-guru yang telah ditatar secara individual diharapkan menjadi sumber penyebar hasil-hasil pentaran secara berarti.

Ciri-ciri pola cell antara lain:

1)     Penatar merupakan tim yang sudah dibentuk dan tidak harus berasl dari satu sekolah tertentu

2)     Penatar dipilih dari guru-guru yang memenuhi syarat dan bukan hanya dari satu sekolah

3)     Sesudah ditatar, petatar akan menjadi penatar secara individua. Demikian seterusnya, jadi penatarnya berubah-ubah.

c.      Pola Mobile Team

Yaitu sumber pola penyebaran yang tim penyebarannya bergerak secara mobile dari satu tempat ke tempat yang lain untuk melaksanakan penataran.

Ciri-ciri pola mobile team ini antara lain:

1)     Tim penatar dibentuk secara tetap dan bergerak secara mobile dari satu tempat ke tempat lain untuk melaksanakan penataran

2)     Penatar adalah guru-guru di tempat penataran dan tidak harus dari satu sekolah, tapi dapat dari beberapa sekolah.

d.     Pola kunjungan Berkomentar

Yang dimaksud dengan kunjungan berkomentar ialah kujungan guru-guru ke sekolah pusat. Untuk melaksanakan pola ini perlu direncanakan secara matang apa yang akan diobservasi dan dipersiapkan pula siapa yang akan diwawancarai.

Ciri-ciri pola kunjungan berkomentar adalah:

1)     Ada objek yang dikunjungi untuk diobservasi dan dipelajari

2)     Petatar / guru secara berkelompok mengunjungi sekolah pusat

3)     Petatar / guru boleh dari beberapa sekolah

4)     Hasil kunjungan dibahas oleh petatar, mana yang dapat diterapkan dan mana yang tidak dapat diterapkan.[38]

Bentuk-bentuk peningkatan profesi keguruan secara garis besar sebagai berikut:

a.      Peningkatan profesional secara individual:

1)     Peningkatan melalui penataran

a)     Penataran melalui radio ( siaran radio pendidikan)

b)     Penataran diselenggarakan oleh Proyek Pelita Depdikbud

c)     Penataran tertulis seperti yang diselenggarakan oleh pusat pengembangan penataran guru yang berpusat di Jl. Dr. Cipto Bandung

2)     Peningkatan profesi melalui belajar sendiri

3)     Peningkatan profesi melalui media massa

b.     Peningkatan profesi keguruan melalui organusasi profesi.[39]

Di Indonesia, sesungguhnya telah ada wahana yang digunakan untuk meningkatkan profesionalisme guru, misalnya PKG (Pusat Kegiatan Guru), dan KKG (Kelompok Kerja Guru) yang memungkinkan para guru untuk berbagi pengalaman dalam memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kegiatan mengajarnya.

Adapun bentuk-bentuk kegiatan peningkatan melalui organisasi profesi antara lain berupa:

a.      Diskusi kelompok

b.     Ceramah ilmiah

c.      Karyawisata

d.     Buletin organisasi[40]

Tugas utama organisasi profesi bertalian dengan pengembangan profesi pendidik adalah mengkoordinasi kesempatan yang ada untuk meningkatkan profesi, menilai tingkat profesionalisme pendidikan, mengawasi pelaksanaan pendidikan dan perilaku pendidikan sebagai seorang profesional dan menjatuhkan sanksi terhadap mereka yang melanggar kode etik profesi pendidikan.[41]

Setiap program kerja organisasi profesi keguruan disusun dengan menggunakan alur kerja sebagai berikut:

Pertama, adakan kajian secara teoritis dan empiris yang mantap untuk mendiskripsikan kebutuhan pengembangan diri serta profesionalitas para guru, baik yang bersifat kuratif ( remidial; pembenahan atau perbaikan ), preservatif ( membina serta mempertahankan eksistensi dan kecakapan kerja yanbg terstandar ), maupun yang bersifat preventif ( antisipatif; menjawab tantangan yang diduga akan muncul sebagai akibat perkembangan iptek dan kebutuhan masyarakat yang semakin modern )

Kedua,  daftar kebutuhan pengembngan diri guru serta profesionalitasnya, yang telah dipolakan dengan mempertimbangkan prioritas setiap satuan kebutuhan ( hasil kerja tahap pertama ), perlu dimantapkan dengan meminta konfirmasi dan atau persetujuan dari para ahli di bidang keguruan dan para guru yang mengenali dengan baik tuntutan profesinya serta yang berhasil dalam kerjanya. Penyelesaian tahap kedua ini umumnya ditempuh dengan menyelenggarakan seminar, lokakarya dan konsultasi.

Ketiga, perumusan program kerja secara definiif, penggandaan penyebarluasan , dan pengarsipannya.[42]

 

3.  Upaya Pengembangan Kompetensi Profesional Guru Agama Islam

Mengingat peranan stategis guru dalam setiap upaya peningkatan mutu relevansi dan efesiensi pendidikan, maka pengembangan profesional guru merupakan kebutuhan.

Untuk meningkatkan mutu suatu profesi, khususnya profesi keguruan , dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan melakukan penataran, lokakarya, pendidikan lanjutan, pendidikan dalam jabatan, studi perbandingan dan berbagai kegiatan akademik lainnya.[43]

Upaya peningkatan profesi guru di indonesua sekurang-kurangnya menghadapi dan memperhitungkan empat faktor yaitu, ketersediaan dan mutu calon guru, pendidikan pra jabatan dan peranan organisasi profesi.[44]

Dalam rangka meningkatkan mutu, baik mutu profesional maupun mutu layanan, guru harus pula meningkatkan sikap profesionalnya. Pengembangan sikap profesional ini dapat dilakukan baik selagi dalam pendidikan prajabatan maupun setelah bertugas (dalam jabatan).

Usaha pengembangan profesi tenaga kependidikan, khususnya guru, meliputi:[45]

a.      Program pre-service education

Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang pemerintah telah mengusahakan berbagai lembaga yang menata usaha perbaikan mutu guru, diantaranya diadakan pembaharuan pendidikan guru dengan ditetapkan suatu pola pembaharuan sistem pendidikan tenaga kependidikan ( PPSPTK ).

Selain itu juga ada program akta mengajar. Program ini diberikan kepada mereka yang berasal dari fakultas non keguruan untuk memperoleh kemampuan mengajar pada berbagai tingkatan sosial.

b.     Program in-service education

Bagi mereka yang sudah memiliki jabatan guru dapat berusaha meningkatkan profesinya melalui pendidikan lanjutan. Dikatakan in-service education bila mereka sudah menjabat dan kemudian mengikuti kuliah lagi. Dari sisi ini LPTK mempunyai fungsi in-service.

Program ini adalah suatu usaha yang memberi kesempatan kepada guru-guru untuk mendapatkan penyegaran yang membawa guru-guru kearah up-to date.

Yang jelas pemahaman terhadap pengertian in-service harus dilihat dari fungsinya terhadap subjek didik. Kalau lembaga pendidikan guru difungsikan untuk meningkatkan mereka yang sudah punya jabatan dan bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan dan peranannya, maka lembaga itu berfungsi in-service.

c.      Program in-service training

Pada umumnya yang paling banyak dilakukan ialah melalui penataran. Ada tiga macam penataran:

1)     Penataran penyegaran, yaitu usaha peningkatan kemampuan guru agar sesuai dengan kemajuan iptek serta memantapkan kemampuan tenaga kependidikan tersebut agar dapat melakukan tugas sehari-hari nya dengan lebih baik. Sifat penataran ini memberi kesegaran sesuai dengan perubahan yang terjadi.

2)     Penataran peningkatan kualifikasi, yaitu usaha peningkatan kemampuan guru sehingga mereka memperoleh kualifikasi formal tertentu sesuai dengan standar yang ditentukan.

3)     Penataran penjenjangan adalah suatu usaha meningkatkan kemampuan guru sehingga dipenuhi persyaratan suatu pangkat atau jabatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam bukunya H A R Tilaar ada sebuah  matrik yang menunjukan profesionalisasi profesi guru yang menggambarkan profil guru profesional abad 21 beserta proses pembinaannya baik sebelum maupun sesudah menyelesaikan program pre-service di dalam lembaga pre-service itu sendiri sebagai suatu program yang terintegrasi dan kontinum.[46]

Profil

Proses Pembinaan

Pra Seleksi

Lembaga

Pre-Service

Lembaga

in-Service

1.     Memiliki kepribadian yang potensial secara fisik dan psikis dapat dikembangkan sehingga dapat mebimbing peserta didik

2.     Memiliki dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi yang kuat

3.     Menguasai penerapan metodologi yang efektif sehingga membangkitkan minat peserta didik

4.     Dapat mengembangkan profesi guru/profesionalisasi guru secara berkesinambungan

Seleksi masuk

 

 

 

 

 

 

 

 

Seleksi masuk program profesi guru dari fakultas ilmu keguruan

 

Seleksi mengikuti program pengembangan kepribadian dalam asrama

Menyelesaikan program S1 non kependidikan

Mengikuti program praktek / teknis yang intensif di lapangan (sekolah)

Sertifikasi profesi guru kerjasama dengan organisasi profesi

Lembaga in service yang berasrama

Pembinaan pengembangan ilmu murni oleh fakultas non pendidikan

Pengelolaan yang terintegrasi antara LPTK dengan lembaga in-service

Program yang berkesinambungan dan sertifikasi program oleh LPTK, kerjasama dengan organisasi profesi

 

Ada sejumlah cara dan tempat mengembangkan profesi pendidikan, yaitu:

a.      Dengan belajar sendiri dirumah

b.     Belajar diperpustakaan khusus untuk pendidik

c.      Dengan cara membentuk persatuan pendidik sebidang studi atau yang berspesialisasi sama dan melakukan tukar menukar pikiran atau diskusi dalam kelompoknya masing-masing.

d.     Mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah dimanapun pertemuan itu diadakan selama masih dapat dijangkau oleh pendidik.

e.      Belajar secara formal dilembaga-lembaga pendidikan

f.      Mengikuti pertemuan organisasi profesi pendidikan

g.     Ikut mengambil bagian dalam kompetisi-kompetisi ilmiah.[47]

 

Upaya-upaya pemerintah yang dapat dikategorikan sebagai usaha peningkatan kemampuan profesional guru:

a.      Program pascasarjana, yaitu usaha peningkatan terhadap kualifikasi tenaga pengajar diperguruan tinggi

b.     Pengelolaan pengadaan tenaga kependidikan, yang dilakukan dengan dua usaha, yaitu:

1)     Usaha penunjang pembinaan pendidikan, yaitu peningkatan kegiatan pelayanan pada tingkat pusat terhadap setiap lembaga penyelenggara pendidikan, serta adanya hubungan timbal balik antara pihak penghasil dan pemakai tenaga guru demi peningkatan mutu lulusan

2)     Usaha pengurusan lulusan, yang berkenaan dengan pengangkatan, penempatan, dan pemberhentian.

c.      Proyek Pengembangan Pendidikan Guru ( P3G ), yang memusatkan perhatiannya kepada usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan guru, usaha-usaha yang dilakukan oleh P3G adalah:

1)     Menyelenggarakan penataran lokakarya

2)     Menyediakan sarana-sarana penting berupa pembanguanan Pusat Sumber Belajar ( PSB )

3)     Menyusun makalah-makalah yang dapat dijadikan penunjang kurikulum.

Pendidikan Guru Berdasarkan Kompetensi ( PGBK ), dilandasai oleh suatu rasionalisasi tentang mengapa dan bagaimana sebaiknya performance / penampilan guru dilaksanakan dalam memenuhi spesifikasi tertentu

………………………………..

[29] Sudarwan Danim, Op.Cit., hlm. 51[30] Robert F. MC Nergney dan Carol A, Carrier, Teacher Development, (New York; Mac Millan, 1981), hlm. 22[31] Sanusi Uwes, Manajemen Pengembangan Mutu Dosen, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 15[32] Ibid., hlm. 104[33] Soebagio Atmodiworio, Manajemen Pendidikan Indonesia, (Jakarta; Ardadizya Jaya, 2000), hlm. 202[34] Ibid., hlm. 203[35] Oemar Hamalik, Administrasi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum, (Bandung; Mandar Maju, 1992), hlm. 169[36] Sudarwan Danim, Op.Cit., hlm. 45[37] Piet A Sahertian, Profil Pendidikan Profesional, hlm. 72-78[38] Piet A sahertian, Profil Pendidik Profesional, hlm. 72-78[39] B. Suryobroto, Manajemen Pendidikan di Sekolah, (Jakarta; Rineka Cipta, 2004), hlm. 191[40] Ibid., hlm. 192[41] Made Pidarta, Op.Cit., hlm. 282[42] A. Samana, Profesionalisme Keguruan; Kompetensi dan Pengembangannya, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 101[43] Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta; Rineka Cipta, 1999), hlm. 46[44] Syafruddin Nurdin, Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum, (Jakarta; Ciputat Pers, 2002), hlm. 24[45] Piet A Sahertian, Profil Pendidikan Profesional, (Yogyakarta: Abdi Offset, 1994), hlm. 67[46] H.A.R. Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, dalam Perspektif Abad 21, ( Magelang: Tera Indonesia, 1999), hlm. 300[47] Made Pidarta, Op.Cit., hlm. 282

Pengembangan Kompetensi Profesional Guru PAI

 under arsip:  Perkuliahan.com.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*