Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Pendidikan Seks dalam Keluarga

Judul postingan :  Makalah / cuplikan skripsi Pendidikan Seks dalam Keluarga
Bidang  postingan  :  sek dalam keluarga, pendidikan sex
next Post :  Makalah Perkembangan Kepribadian Siswa

Pendidikan Seks dalam Keluarga

  • 1.  Pengertian Pendidikan Seks

Secara garis besar pengertian pendidikan seks dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pendapat pertama menganggap bahwa pendidikan seks sama dengan penerangan tentang anatomi fisiologi seks manusia, tentang bahaya-bahaya penyakit kelamin dan sebagainya. Pendapat kedua mengatakan bahwa pendidikan seks sama dengan sex pay, hanya perlu diberikan kepada orang dewasa. Abdullah Nashih Ulwan mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan seks adalah :

“Masalah mengajarkan, memberi pengertian, dan menjelaskan masalah-masalah yang menyangkut seks, naluri dan perkawinan kepada anak sejak akalnya mulai tumbuh dan siap memahami hal-hal di atas”.[1]

Abdul Aziz El Quussy mengemukakan bahwa pendidikan seks ialah “pemberian pengalaman yang benar kepada anak, agar dapat membantunya dalam menyesuaikan diri di bidang seks dalam kehidupannya di masa depan”.[2]

Dan menurut DR. Sarlito Wirawan Sarwono, pendidikan seks adalah :

“Pendidikan seks bukanlah penerangan tentang seks semata-mata. Pendidikan seks sebagaimana pendidikan lain pada umumnya (Pendidikan Agama atau Pendidikan Moral Pancasila misalnya) mengandung pengalihan nilai-nilai dari pendidik ke subjek didik. Dengan demikian informasi tentang seks tidak diberikan secara “telanjang”, yaitu dalam kaitannya dengan norma yang berlaku dalam masyarakat, apa yang lazim dan bagaimana cara melakukannya tanpa melanggar aturan”.[3]

Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan seks adalah membimbing serta mengasuh seorang anak agar mengerti tinggi arti, fungsi dan tujuan seks, sehingga ia dapat menyalurkan ke jalan yang legal. Pendidikan seks yang disuguhkan kepada anak, bukanlah penerangan tentang seks semata-mata, tetapi dikaitkan dengan nilai-nilai yang sesuai dengan syari’at Islam. Sehingga mampu mengarahkan diri anak untuk lebih dekat dan mencintai Allah SWT.

 

2.   Dasar dan Tujuan Pendidikan Seks

  1. Dasar dilaksanakannya pendidikan seks

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala :

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حفِظُوْنَ. اِلاَّعَلىاُزْوَاجِهِمْ اَوْمَامَلَكَتْ اَيْمَانُهُمْ فَاِنَّهُمْ غَيْرَمُلُوْمِيْنَ فَمَنِ ابْتَغى وَرَاءَ ذلِكَ فَأُوْلئِكَ هُمُ اْلعَادُوْنَ (المؤمنون: 5-7)

Artinya  :   “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki: maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”

(Q.S. Al Mu’minun : 5-7).[4]

Dari ayat Al-Qur’an di atas dapat dipahami bahwa Al-Qur’an membicarakan perihal dan mengandung ajaran seksual dengan berbagai dimensinya. Ajaran ini perlu dipahami oleh manusia, baik laki-laki maupun perempuan agar mereka mengetahui mana yang diharamkan dan mana yang dihalalkan oleh syari’at Islam.

Hadis Nabi yang dapat dijadikan dasar pendidikan seks pada anak, antara lain :

مرواأولادكم بالصلاةوهم أبناءسبع سنين واضربوهم عليهاوهم أبناء عشرسنين وفرّقوابينهم فىالمضاجع

 (رواه أبوداود)   [5]

Artinya  :   “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat pada umur tujuh tahun dan pukullah mereka ketika umur 10 tahun bila meninggalkan shalat. Dan pisahkanlah tempat tidur mereka” (HR. Abu Daud).

Interpretasi yang bisa penulis kemukakan bahwa hadis tersebut memerintahkan “pemisahan tempat tidur” pada point terakhir adalah upaya untuk menanamkan kesadaran terhadap jenis kelamin. Inilah salah satu dasar pendidikan seks pada anak yang telah Nabi SAW ajarkan. Di mana pada saat anak mulai mengalami perubahan dirinya dari masa anak menuju alam pubertas, dia akan berhadapan dengan dunia yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Dunia yang penuh dengan gejolak yang harus mendapatkan pengendalian yang lebih khusus. Pengendalian yang hanya bisa ditangani dengan pola yang matang dan penuh perhitungan yang cermat, tanpa menimbulkan efek samping yang membahayakan anak. Diantaranya dengan memisahkan tempat tidurnya.

Tujuan pendidikan seks

Tujuan merupakan sesuatu yakni sesuatu yang ingin diwujudkan atau dihasilkan. Dalam dunia pendidikan tujuan merupakan salah satu faktor dari komponen pendidikan yang selalu menjadi dasar dalam melaksanakan apa yang telah direncanakan.

Tujuan diberikannya pendidikan seks adalah sebagai berikut :

  1. Menurut Dr. Sarlito Wirawan Sarwono

“Untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan seperti kehamilan yang tidak direncanakan, depresi dan perasaan berdosa”.[6]

 

  1. Menurut Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa dan Dra. Ny. Yulia Singgih D. Gunarsa, tujuan pendidikan seks adalah :

“Timbulnya sikap emosional yang sehat dan bertanggungjawab terhadap seks. Seks tidak dianggap sesuatu yang kotor, jijik, tabu, melainkan suatu fungsi yang penting dan luhur dalam kehidupan manusia. Pendidikan seks diharapkan mengurangi ketegangan-ketegangan yang timbul karena menganggap seks adalah sesuatu yang kabur, rahasia, mencemaskan bahkan menakutkan”.[7]

 

  1. Menurut E.H. Tambunan adalah :

“Untuk membangun tabiat memupuk kedewasaan yang bertanggungjawab”.[8]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan seks adalah untuk mendewasakan seorang anak baik secara fisik maupun psikis, terutama yang berkaitan dengan kehidupan seksnya dalam pengertian yang luas. Dengan demikian tujuan pendidikan seks berkaitan erat dengan tujuan pendidikan Islam. Pendidikan seks termasuk bagian pendidikan akhlak. Sedang pendidikan akhlak adalah cabang dari pendidikan Islam. Terlebih kalau ditarik dalam dataran tujuan menurut Al-Qur’an, maka tujuan pendidikan seks adalah untuk menjaga dan memelihara agar seseorang tidak terjerumus dalam lembah kenistaan, yaitu penyimpangan seks dalam berbagai bentuk.

 

3.  Materi Pendidikan Seks

Muhammad Nur Abdul Hafizh mengemukakan bahwa materi pendidikan seks adalah :

“ 1.   Membiasakan anak menundukkan pandangan mata dan menutup aurat.

2.   Membiasakan anak untuk meminta izin ketika masuk ke kamar orang tua.

3.   Memisahkan tempat tidur anak dengan saudaranya.

4.  Larangan tidur bertelungkup.

5.  Menjauhkan anak dari perbuatan zina”[9]

 

Sedangkan menurut Akhmad Azhar Abu Miqdad, mengutip pendapat Ayip Syafruddin, bahwa materi pendidikan seks adalah berisi pokok-pokok sebagai berikut :

“ 1.   Menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki dan jiwa feminitas pada anak perempuan.

2.   Mengenalkan mahramnya.

3.   Mendidik anak selalu menjaga pandangan mata.

4.   Mendidik agar tidak melakukan ikhtilat

5.   Mendidik agar tidak melakukan khalwat.

6.   Mendidik agar tidak melakukan jabat tangan atau bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya.

7.   Mendidik etika berhias.

8.   Mendidik cara berpakaian Islami.

9.   Memisahkan tempat tidur.

10. Mengenalkan waktu-waktu berkunjung dan tata tertibnya.

11. Mendidik agar menjaga kebersihan alat kelamin.

12. Khitan.

13. Haid”.[10]

 

Sedangkan menurut Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, mengutip pendapat Margarett Terry Orr materi pendidikan seks adalah :

“ 1.   Masalah-masalah yang banyak dibicarakan di kalangan remaja sendiri :

  1. Perkosaan
  2. Masturbasi
  3. Homo seksual
  4. Disfungsi seksual
  5. Eksploitasi seksual

2.   Kontrasepsi dan pengaturan kesuburan :

  1. Alat KB
  2. Pengguguran
  3. Alternatif-alternatif pengguguran

3.   N            ilai-nilai seksual :

  1. Seks dan hukum
  2. Seks dan media massa
  3. Seks dan nilai-nilai religi

4.   Perkembangan remaja dan reproduksi

  1. Penyakit menular seksual
  2. Kehamilan dan kelahiran
  3. Perubahan-perubahan pada masa puber
  4. Anatomi dan fisiologi
  5. Obat-obatan, alcohol dan seks

5.   Ketrampilan dan perkembangan sosial :

  1. Berkencan
  2. Cinta dan perkawinan

6.   Topik-topik lainnya :

  1. Kehamilan pada remaja
  2. Kepribadian dan seksualitas
  3. Mitos-mitos yang dikenal umum
  4. Kesuburan
  5. Keluarga berencana
  6. Menghindari hubungan seks”.[11]

 

Dari beberapa pendapat yang telah penulis utarakan pokok-pokoknya, memberikan sedikit gambaran tentang materi pendidikan seks atau muatan-muatan yang dianggap perlu untuk disampaikan dan ditanamkan pada anak.

Materi pendidikan seks hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak. Masalah materi pendidikan seks memang tidak mudah, bahkan sulit sekali menangkap secara kongkrit. Pernah sebuah buku mencoba menjelaskan tentang hal-hal yang berhubungan dengan seks dilengkapi dengan gambar-gambar organ tubuh manusia ditarik dari peredaran karena dianggap akan merusak mental kaum muda.

Oleh sebab itu, Akhmad Azhar Abu Miqdad menekankan “sebaiknya materi pendidikan seks ditambah dengan materi keagamaan atau keimanan sebagai tuntunan hidup”.[12] Karena dengan iman ini, seks akan dapat dikuasai dan disalurkan dengan baik.

 

4.   Metode Pendidikan Seks

Dalam pandangan filosofis pendidikan, metode adalah “merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan”.[13] Atau dengan kata lain, metode adalah suatu cara yang sistematis yang dipergunakan untuk mencapai tujuan.

Dalam menyampaikan pendidikan seks pada anak diperlukan teknik penyampaian yang sangat hati-hati. Oleh karena itu penyajian pendidikan seks memerlukan metode yang tepat, agar terarah dan mencapai sasaran yang sebenarnya, serta tidak mengarah pada hal-hal yang negatif. Untuk itu akan dikemukakan beberapa metode pendidikan seks.

Dan menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan, metode pendidikan seks adalah : “(a) Penyadaran (b) Peringatan (c) Ikatan”.[14]

Penyadaran yaitu upaya penerangan terhadap anak tentang beberapa hal yang membahayakan umat Islam khususnya dan umat manusia pada umumnya. Karenanya sejak dini para pendidik hendaknya berperan aktif memberikan kesadaran kepada putra-putri mereka agar seorang anak memahami, tanggap dan sadar benar akan larangan mengumbar syahwat, berbuat merusak dan hal-hal yang menimbulkan rangsangan.

Peringatan yaitu dengan memberikan gambaran (peringatan) bahaya yang akan muncul akibat liarnya hawa nafsu dan pelecehan terhadap nilai-nilai yang berlaku. Ia akan tumbuh di atas bentang yang kuat, akan mencegah dan menahan diri dari perbuatan keji yang diharamkan, akan mengikuti jalan Islam dalam akhlaknya dan tidak akan berpikir ingin memenuhi nalursi seks kecuali melalui jalan yang dihalalkan oleh syari’at Islam.

Metode ikatan yaitu orang tua memberikan ikatan pada anak terhadap keyakinan rohani, pemikiran, sosial dan aktivitas lainnya yang bermanfaat. Ikatan inilah yang akan membawa anak pada kondisi konstan dan kontinyu dalam menempuh kehidupan yang panjang ini. Apabila anak merasa terikat dengan ikatan aqidah, pemikiran, sosial, maka ia akan terdidik atas dasar taqwa bahkan akan memiliki benteng aqidah Ketuhanan yang akan menang melawan hawa nafsu, dan akan berjalan lurus di atas kebenaran dan petunjuk.

Keragaman metode pendidikan seks yang dikemukakan oleh para ahli akan memberikan khazanah kekayaan untuk dapat dievaluasi ketepatan masing-masing, mana metode yang paling sesuai.

 

5.   Urgensi dan Efektivitas Pendidikan Seks dalam Keluarga

Seks telah banyak dikenal orang, namun belum banyak yang memahaminya. Ini bisa dimengerti karena norma dan niliai yang berlaku dalam masyarakat kita belum memungkinkan untuk membicarakan secara terbuka : “Pendidikan seks masih dianggap tabu, urusan orang dewasa”.[15]

Pandangan demikian ada betulnya, terutama pada masa lampau di mana informasi-informasi tentang seks masih sangat terbatas. Namun pada masa sekarang, di mana informasi tentang seks lebih mudah diperoleh dan sangat banyak, maka usaha-usaha ke arah memberikan informasi yang benar harus digalakkan, terutama di dalam keluarga. Karena “keluarga sebagai lingkungan awal pertumbuhan anak harus diisi dengan hal-hal yang positif, sehingga dapat menjadi permulaan yang baik bagi pertumbuhannya”.[16]

Semakin tinggi dan kompleks kehidupan suatu masyarakat, tentu semakin sulit pula usaha anggota masyarakat tersebut untuk mendidik dan membina putra-putri mereka agar menjadi anggota masyarakat yang baik.

Sekarang masyarakat telah berada dalam masa transisi, di mana kemajuan dunia teknologi telah merubah struktur masyarakat dan juga pandangan hidupnya. Nilai-nilai moral mengalami pergeseran, sehingga apa yang dahulu dianggap dapat diterima, kini belum tentu demikian dan begitu sebaliknya.

Salah satu segi pergeseran moral tersebut adalah pergeseran dalam nilai moral seksual yang terjadi terutama di kalangan remaja. Nilai-nilai moral seksual yang dahulu oleh orang tua dianggap tabu atau bertentangan dengan norma-norma agama, tidak demikian lagi oleh sebagian kaum remaja. Dengan demikian, memberikan bimbingan dan penerangan seks kepada anak merupakan suatu yang sangat penting dan perlu.

Dengan adanya pendidikan seks dalam keluarga, maka seorang anak akan terhindar dari ekses-ekses negatif dalam kehidupan seksualnya.

Namun demikian, seringkali orang tua dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan, siapakah yang seharusnya atau sebaiknya memberikan bimbingan dan penerangan tentang seks ? Apakah orang tua yang dianggap dekat dengan anak, guru di sekolah psikolog, dokter atau para ahli yang dianggap lebih menguasai persoalannya ?

Membicarakan masalah seks adalah sesuatu yang sifatnya sangat pribadi, oleh karena itu dibutuhkan suasana yang akrab. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono berpendapat bahwa :

“Masalah seks adalah masalah yang sangat pribadi sifatnya, maka dari itu paling baik bila dibicarakan dengan orang yang sudah intim hubungannya. Dan orang yang paling intim hubungannya dengan anak tentu saja orang tua”.[17]

Keakraban lebih mudah diciptakan antara ibu dengan anak perempuannya atau antara ayah dengan anak laki-lakinya sekalipun tidak mustahil hubungan seperti yang dimaksud di atas dapat tercipta antara orang tua dengan anak yang berlawanan jenis kelamin.

Upaya pendidikan seks dalam keluarga yang paling efektif adalah dengan menciptakan situasi yang kondusif dalam pendidikan. Yaitu suatu keadaan di mana tindakan-tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik dengan hasil yang memuaskan.

Dalam pendidikan seks, peran orang tua sangat penting. Orang tua tidak perlu sungkan berdialog dengan anaknya mengenai berbagai masalah seks sepanjang Islam masih membahasnya dan disesuaikan dengan kebutuhan dan tahap perkembangan anak.

Dengan pendidikan seks yang baik, seorang anak tidak akan terjerumus dalam lembah kenistaan, yaitu penyimpangan seks dalam berbagai bentuk.



[1] DR. Abdullah Nashih Ulwan dan DR. Hassan Hathout, Op. Cit, hlm. 1.

[2] Prof. DR. Abdul Aziz El Quussy, Pokok-pokok Kesehatan Jiwa/Mental, Jilid I, terjemahan Dr. Zakiyah Daradjat, Bulan Bintang, Jakarta, 1984, hlm. 281.

[3] DR. Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologis Remaja, Grafindo Persada, Jakarta, 1993, hlm. 183.

[4] Prof. R.H.A. Soernarjo, SH, Op Cit, hlm. 526.

[5] Jalaluddin Abdurrahman bin Abi Bakar Assuyuti, Jamiusshaghir, Juz II, Darul Kutub, Beirut, t.th, hlm. 155.

[6] DR. Sarlito Wirawan Sarwono, Op Cit, hlm. 183.

[7] Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa dan Dra. Ny. Yulia Singgih D. Gunarsa, Op Cit, hlm. 96-97.

[8] E.H. Tambunan, Remaja Sahabat Kita, Indonesia Publishing House, Bandung, 1981, hlm. 151.

[9] Muhammad Nur Abdul Hafizh, Mendidik Anak Bersama Rasulullah, Al Bayan, Bandung, 1995, hlm. 254-260.

[10] Akhmad Azhar Abu Miqdad, Op Cit, hlm. 62-63.

[11] DR. Sarlito Wirawan Sarwono, Op Cit, hlm. 186.

[12] Akhmad Azhar Abu Miqdad, Op Cit, hlm. 14-15.

[13] Prof. H.M. Arifin, M.Ed, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1994, hlm. 97.

[14] DR. Abdullah Nashih Ulwan, Op. Cit, hlm. 46.

[15] Akhmad Azhar Abu Miqdad, Op Cit, hlm. 43.

[16] Drs. Bakir Yusuf Barmawi, MA, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam pada Anak, Dina Utama, Semarang, hlm. 11.

[17] Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, Menuju Keluarga Bahagia, Jilid 2, Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1982, hlm. 57.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*