Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Pembelajaran dengan Metode Sorogan

Efektivitas Metode Sorogan

Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : Unsur dan ruang lingkup pondok pesantren
data post: Perkuliahan.com. edition of : 184

Dala tulisan ini akan dijelaskan beberapa pengertian tentang metode sorogan,  sedikit prolog bahwa metode sorogan merupakan metode pembelajaran tradisional khas  dipesantren yang sampai sekarang masih exsis . dalam tulisan dari penelitian tentang metode pengajaran sorogan yang diposting Perkuliahan.com. ini merupakan hasil tulisan penelitian skripsi, dengan referensi buku pesantren. dalam artikel ini setidaknya untuk menjawab beberapa pertanyaan tentang metode sorogan : apa yang disebut metode sorogan? , bagaimana melakukan pengajaran dengan metode sorogan?, kriteria metode sorogan?, apa definisi pembelajaran dengan metode sorogan sejarah metode ini.

Pengertian Metode Sorogan

Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang metode sorogan beberapa peneliti menjelaskan diantaranya :

Menurut Zamakhsyari Dhofier metode sorogan adalah “sistem pengajian yang disampaikan kepada murid-murid secara individual”.[1]

Mastuhu mengartikan metode sorogan adalah “Belajar secara individual di mana seorang santri berhadapan dengan seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya”.[2]

Dalam buku sejarah pendididkan Islam dijelaskan, metode sorogan adalah “metode yang santrinya cukup men-sorog-kan (mengajukan) sebuah kitab kepada kyai untuk dibacakan di hadapannya.[3]

Menurut Dr. Manfred Ziemak metode sorogan adalah : “Pelajaran individual atau kelompok kecil dalam setudi dasar”.[4]
Menurut Karel A. Seenbrink metode sorogan adalah : “pengajaran individual”.[6]M.H Chirzin menjelaskan metode sorogan adalah : “Santri menghadap guru seorang demi seorang dengan membawa kitab yang akan dipelajarinya”.[5]

Dari pengertian-pengertian tentang metode sorogan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa metode sorogan adalah : Cara penyampaian bahan pelajaran dimana kyai atau ustazd mengajar santri seorang demi seorang secara  bergilir dan bergantian, santri membawa kitab sendiri-sendiri. Mula-mula kyai mebacakan kitab yang diajarkan kemudian menterjemahkan kata demi kata serta menerangkan maksudnya, setelah itu santri disuruh membaca dan mengulangi seperti apa yang tela dilakukan kyai, sehingga setiap santri menguasainya.

 

Teknik Penerapan Metode Sorogan

Metode sorogan yang biasa disebut dengan  pengajaran individual ini memberikan kebebasan kepada para santri (siswa) sekaligus, untuk mengikuti pelajaran menurut prakarsa dan perhitungan sendiri, menentukan bidang dan tingkat kesukaran buku pelajaranya sendiri serta mengatur intensitas belajar menurut kemampuan menyerap dan memotifasinya sendiri.

Dalam pengajaran yang memakai metode sorogan ini kadang ada pengulangan pelajaran ataupun pertayaan yang dilakukan oleh kedua pihak dan setiap pelajaran biasanya dimulai dengan bab baru. Semua pelajaran ini diberikan oleh kyai atau pembantunya yang disebut badal    (pengganti) atau qori’ (pembaca) yang terdiri dari santri senior. Kenaikan kitab ditandai dengan bergantinya kitab yang dipelajari. Sedangkan evaluasi dilakukan sendiri oleh santri yang bersangkutan, apakah ia cukup menguasai bahan yang telah dipelajari dan mampu mengikuti pengajian kitab berikutnya.

Dalam mengikuti pelajaran santri mempuyai kebebasan penuh baik dalam kehadiran, pemilihan pelajaran, tingkat pelajaran, dan sikapnya dalam mengikuti pelajaran. Tentang hal ini Abdurrahman Wahid juga mengemukakan hepotesa bahwa : “sistem pendidikan di pesantren pun memiliki watak mandiri seperti itu, bila dilihat secara keseluruhan. Bermula dari pengajaran sorogan”.[7] Jadi dapat dipahami bahwa metode sorogan memiliki hubungan (korelasi) terhadap pembentukan sikap mandiri, khususnya kemadirian santri dalam belajar.

Dari uraian di atas maka dapat disebutkan peranan metode sorogan dalam pengajian kitab kuning antara lain :

Sebagai dasar bagi santri untuk memperluas pengetahuan sendiri.

Penunjang belajar dalam sistem klasikal.

Memberi kebebasan kepada santri untuk mengikuti pelajran menurut prakarsa dan perhitungan  sendiri.

Teknik penyampaian materi dalam  metode sorogan adalah sekelompok santri satu persatu secara bergantian menghadap kyai, mereka  masing-masing membawa kitab yang akan dipelajari, disodorkan kepada kyai. Kyai membacakan pelajaran yang berbahasa Arab, kalimat demi kalimat kemudian menterjemakan dan menerangkan maksudnya, santri menyimak ataupun ngesahi (memberi harkat dan terjemah) dengan memberi catatan pada kitabnya, kemudian santri disuru membaca dan mengulangi sepersis mungkin seperti yang dilakukan kyainya, serta mampu menguasainya.

Sistem ini memungkinkan seorang guru mengawasi dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai pelajarannya.

Pelaksanaan pengajaran dengan menggunakan metode sorogan akan tersusun kurikulum individual yang sangat fleksibel dan sesuai dengan kebutuhan pribadi seorang santri sendiri.[8] Dengan demikian metode sorogan merupakan bentuk pengajaran yang dapat memberikan kesempatan kepada seluruh santri untuk belajar secara mandiri berdasarkan kemampuan masing-masing individu. Dan kegiatan ini setiap santri dituntut mengerjakan tugasnya dengan kemampuan yang mereka miliki sendiri. Oleh karenanya kyai atau ustadz harus mampu memahami dan mengembangkan strategi dalam proses belajar mengajar dengan pendekatan individu. implikasi dari kegiatan belajar ini guru harus banyak memberikan perhatian dan pelayanan secara individual, bagi siswa tertentu guru harus dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan taraf kemampuan siswa.

Berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa kemampuan dasar atau kemampuan potensial (intelegensia dan bakat) seseorang berbeda satu dengan yang lainya. Tidak ada individu memiliki intelegensia yang sama dalam berbagai  bidang. Hakikatnya setiap santri (siswa) berbeda secara individual, baik dalam prestasi belajar maupun kemampuan potensialnya. Oleh sebab itu guru harus mampu memahami dan mengembangkan strategi belajar mengajar dengan pendekatan individual, disamping memungkinkan setiap siswa dapat belajar dengan kemampuan potensialnya, juga dapat menguasai setiap bahan pelajaran secara penuh.[9]

Kegiatan belajar mengajar secara individual dapat melatih santri untuk terbiasa lebih aktif dalam belajar dengan kesadaran dan rasa tanggung jawab untuk mencari, menemukan, memecahkan masalah dan menerapkannya dengan situasi yang baru dengan semangat dan gairah yang tinggi. Keberhasilan kegiatan belajar mandiri tidak akan tercapai dengan sendirinya melainkan harus diusahakan semaksimal mungkin dengan cara proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan keaktifan belajar santri.

Kelemahan dan Kelebihan Metode Sorogan

Kelemahan metode sorogan

Bila dipandang dari segi waktu dan tenaga mengajar kurang efektif, karena membutukan waktu yang relatif lama apalagi bila santri yang belajar sangat banyak  akan membutukan waktu yang sangat panjang dan  banyak mencurahkan tenaga untuk  mengajar.

Banyak menuntut kesabaran, kerajinan, ketekunan,  keuletan, dan kedisiplinan pribadi seorang kyai (ustadz). Tanpa ada sifat-sifat tersebut di atas, maka proses pembelajaran dengan menggunakan metode sorogan tidak akan tercapai secara maksimal.

Sistim sorogan dalam pengajaran ini merupakan bagian yang paling sulit dari keseluruhan sistim pendidikan Islam tradisional.[10]

Kelebihan metode sorogan

Kemajuan individu lebih terjamin karena setiap santri dapat menyelesaikan program belajarnya sesuai dengan kemampuan individu masing-masing, dengan demikian kemajuan individual tidak terhambat oleh keterbelakangan santri yang lain.

Memungkinkan perbedan kecepatan belajar para santri, sehingga ada kompetisi sehat antar santri.

Memungkinkan seorang guru mengawasi dan membimbing secara maksimal kemampuan seorang murid dalam menguasai pelajarannya.

Memiliki ciri penekanan yang sangat kuat pada pemahaman tekstual atau literal.[11]

5) Sistim ini terbukti sangat efektive sebagai taraf pertama bagi seorang santri untuk belajar ilmu agama.

 



[1] Selebihnya lihat Zamachsari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, LP3ES., Jakarta, 1983., halaman 28

[2] Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren, INIS., Jakarta, 1994, halaman 61

[3] Drs. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1995, halaman 26.

[4] Dr. Manfred Ziemek, Pesantren dan Perubahan Sosial, P3M., Jakarta,  1986,  halaman 68.

[5] M.H Chirzin, Agama, Ilmu, dan pesantren, dalam M. Dawam Raharjo, Pesantren dan Pembaruan, LP3ES., Jakarta, 1985, halaman 88.

[6] Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah,  Dharma Aksara Putra, Jakarta, 1986, halaman 14.

 

[7]Abdurrahman wahid, Menggerakkan Tradisi, LkiS., Yogyakarta, 2001, halaman 104

[8] Ibid.

[9] Drs. Muhamad Ali, Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung, 1987, halaman 94

[10] Dhafier, Op.Cit., halaman  28

[11] Sa’id Aqiel Siradj et.al., Pesantren Masa Depan, Pustaka Hidayah, Bandung, 1999, halaman 281

Efektivitas Metode Sorogan

Under arsip: Perkuliahan.com.

Category: Artikel Islam

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*