Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

ORANG TUA OTORITER DAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN SISWA

Under arsip:  Perkuliahan.com metered 2014. next post : Pengertian Proses Belajar Mengajar, orang tua otoriter dan pengaruh kepribadian seorang anak,

POLA ASUH ORANG TUA OTORITER DAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN SISWA

 

A.    Orang Tua Otoriter

  1. 1.      Pengertian Orang Tua Otoriter

Orang tua yang otoriter adalah sikap orang tua yang suka menghukum secara fisik, bersikap mengomando (mengharuskan atau memerintah anak untuk melakukan sesuatu tanpa kompromi), bersikap kaku (keras) dan cenderung emosional dan bersikap menolak.[1]

Zaman seperti sekarang ini masih ada orang tua yang memukul anaknya. Ada kalanya anak begitu menjengkelkan sampai orang tua kehilangan kesabaran dan memukul tangan atau bokongnya. Memang, sesekali memukul tangan tak akan merusak hubungan antara orang tua dengan anak, tapi pukulan tersebut tak meningkatkan disiplin yang ditegakkan atau hubungan dalam keluarga. Pukulan atau tamparan lebih memberi keuntungan dan hukuman kepada pelaku dari pada anak yang mengalaminya. Jika orang tua merasa bahwa memukul anak merupakan tindakan yang tepat, maka ia cenderung akan semakin sering melakukannya dan akan berkembang hubungan yang diwarnai dengan kebencian antara orang tua dan anak. Dan orang tua pun memberi contoh yang tak baik.[2]

Orang tua sering menganggap bahwa dirinya sebagai seorang polisi, polisi yang selalu menghukum bila ada yang bersalah. Menjadi polisi bagi anak merupakan tindakan salah tapi kaprah, salah karena tindakan itu sudah terlambat, anak sudah melakukan kesalahan baru diributkan. Kaprah karena tindakan ini paling sering dilakukan oleh kebanyakan orang tua, baik Ibu maupun ayah. Mereka baru bertindak ketika kesalahan telah dilakukan oleh anak, bukan mencegah, mengarahkan dan membimbing sebelum kesalahan terjadi.[3]

Pengertian di atas memberi gambaran bahwa orang tua otoriter adalah orang tua yang mempunyai karakter suka menghukum anak secara fisik, bertemperamen keras atau kaku sekehendak hati pada anak. Orang tua yang sewenang-wenang terhadap anak, tidak akan memberi peluang kepada anak, seolah-olah semuanya sudah diatur oleh orang tua. Hal demikian akan lebih menimbulkan banyak kebencian pada diri anak.

  1. 2.      Indikator Orang Tua Otoriter

Medidik anak adalah pekerjaan terpenting yang pernah diamanatkan kepada umat manusia. Tugas mulia, membentuk tabiat sebagian besar terletak di tangan orang tua. Dalam hal mendidik, orang tua harus waspada terhadap berbagai kesalahan yang tanpa sadar sering dilakukan.[4] Kendati tanggung jawab dalam mendidik anak itu besar, namun sebagian besar manusia mengabaikan masalah tanggung jawab ini, meremehkannya dan tidak mau memelihara (memperhatikan) masalah tanggung jawab ini secara serius, sehingga mereka menelantarkan anak-anak mereka, membiarkan persoalan pendidikan mereka.[5]

Kesalahan dalam mendidik anak itu bayak bentuk dan variasinya serta fenomenanya yang menyebabkan anak itu menyimpang dan menyeleweng, diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Tindakan Diktator

Tindakan-tindakan brutal dan membabi buta tidak pernah membawa berkat. Tindakan-tindakan diktator lebih banyak merusak dari pada membawa untung. Ayah-ibu yang biasa bertindak terlalu kasar kepada anak-anaknya bukanlah menolong anak itu tetapi merusak.[6]

Anak-anak yang dibesarkan di bawah disiplin yang terlalu keras akan mengalami susah, didikan kehalusan jiwa perlu bagi anak-anak.

Sebagai contoh, seorang anak bernama Ali akhirnya menjadi seorang yang nakal dan jahat. Ia dididik dengan tongkat besi. Ayahnya bersikap melatih bukan mendidik, segala peraturan yang dibuat ayahnya tidak dimengerti oleh Ali. Ali diperintahkan untuk memberikan hormat kepada ayahnya sebelum pergi sekolah dan sekembalinya. Cara penghormatan militer yang diharuskan itu bukannya menolong Ali tetapi malahan menimbulkan kedongkolan. Setelah dewasa Ali bagaikan seekor kuda lepas dari kandang, cenderung berbuat segala sesuatu menurut sekehendak hatinya

  1. Terlalu bersikap keras dan kasar dari yang sewajarnya

Misalnya memukul anak-anaknya dengan berlebihan apabila mereka melakukan kesalahan meskipun itu baru pertama kali ia lakukan, ataupun orang tua sering menegur mereka dengan keras dan memarahi mereka ketika mereka melakukan kesalahan kecil maupun besar, atau bentuk-bentuk kekerasan dan kekasaran yang lainnya.[7]

  1. Berdo’a jelek untuk sang anak

Ketika marah kepada sang anak, terkadang spontanitas keluar kata-kata yang tak pantas dari mulut orang tua, baik kutukan, makian atau bahkan keluar seuntai kalimat do’a dari mulut orang tua.[8]

Ada diantara orang tua yang mendo’akan buruk atas anak-anaknya hanya karena diantara mereka ada yang durhaka atau menentangnya, yang kedurhakaannya itu mungkin disebabkan oleh orang tuanya sendiri.

Kedua orang tua tidak menyadari bahwa do’a tersebut terkadang diucapkan pada waktu yang mustajab (do’a itu dikabulkan) sehingga do’a itu benar-benar menjadi kenyataan. Dengan demikian mereka menyesali perbuatannya itu selama-lamanya.[9]

Orang tua yang baik dan bijak tak pernah mendo’akan anaknya dengan do’a yang buruk, bahkan ketika anaknya sesat dan tercela, orang tua tersebut selalu mendo’akan dengan do’a kebaikan bagi anaknya di dunia dan di akhirat.[10] Ada orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya do’a itu bagaikan batu yang dilempar, ada kalanya mengenai sasaran dan ada kalanya tidak mengenai sasaran.

Alangkah tindak baik bila orang tua mendoakan sang anak dengan doa yang sesat dan tidak terpuji, karena jika kemudian Allah SWT mengabulkannya, maka keburukan tersebut akan terkena kepada orang tua tersebut, disebabkan sang anak tertimpa keburukan yang didoakan orang tua tadi. Bukankah lebih baik orang tua mendoakan kebaikan untuk sang anak, sehingga jika anaknya baik, maka kebaikan tersebut akan dirasakan oleh orang tua pula.[11]

  1. Menuruti segenap kemauan anak

Menuruti segala keinginan anak tidak baik. Mereka itu akan menjadi manja, sesudah dewasa sukar untuk mengontrol diri, karena segenap kemauannya selalu terpenuhi. Anak-anak semacam itu akan gampang kecewa atau putus asa kalau rencananya gagal. Mereka kurang tabah dan kurang sabar dalam mengalami berbagai cobaan hidup. Anak-anak pada umumnya ingin mencoba segala sesuatu, sudah pasti bahwa sebagian besar keinginan mereka itu tidak baik bahkan ada yang membahayakan. Itulah sebabnya orang tua yang bijaksana tidak akan mengabulkan semua keinginan anak.[12]

  1. Bersikap tidak adil

Anak-anak mungkin belum tahu bagaimana mengucapkan bahwa orang tuanya tidak adil, tetapi mereka mempunyai perasaan yang sangat halus. Mereka kecewa atas tindakan-tindakan yang tidak adil, kekecewaan kemudian menjelma menjadi keputusasaan. Setelah mereka mengalami putus asa, mereka tidak memperdulikan ancaman-ancaman hukuman lagi bahkan sifat-sifat pemberontak terpupuk dalam jiwanya.

Sebagai contoh, David marah sekali kepada ibunya karena tindakan yang tidak adil. Ia dihukum lebih berat dari adiknya yang sebenarnya membuat kesalahanlebih besar. Ibunya sudah menjatuhkan vonis sebelum lebih jelas duduk persoalannya.

  1. Mendidik anak dengan dimanja dan hidup tanpa aturan, membiasakan anak hidup mewah, congkak, royal dan bersuka ria.

Akibatnya anak tumbuh dan terbiasa dengan hidup mewah, egois dan hanya mementingkan dirinya sendiri. is tidak lagi mempunyai kepedulian terhadap orang lain, tidak pernah menanyakan tentang keadaan saudara-saudaranya sesama kaum muslim, serta tidak ikut merasakan kegembiraan dan kesedihan mereka.

Oleh karena itu, mendidik anak seperti ini akan merusak fitrah (naluri baiknya) melenyapkan keistiqamahan, serta membasmi kewibawaan dan keberaniannya.

  1. Menumbuhkan pada diri anak rasa kecil hati, takut, gelisah dan keluh kesah.

Sebagaimana yang kita perhatikan terhadap metode kita dalam mendidik, yaitu selalu menakut-nakuti mereka dengan hantu, penculik, setan, suara angin, dan sebagainya. Lebih buruk lagi bila kita menakut-nakuti mereka dengan gurunya, sekolahnya, atau dengan dokter, sehingga ia selalu dihantui rasa takut dari sesuatu yang semestinya tidak perlu ditakuti.

Mengancam seorang anak supaya mau bekerja juga tidak bijaksana, dia berbuat oleh karena takut, tetapi bukan karena keinginan hendak menurut. Adalah kesalahan besar mengancam seorang anak dengan hukuman kalu tidak menurut. Sebagian anak akan tergoda menimbang berat hukuman dengan berat tugas, lalu mengambil keputusan supaya lebih baik dihukum saja dari pada melakukan tugas berat itu. Anak kecil yang diancam tidak akan diberi kue (roti) kalau menyeberang jalan raya, besar kemungkinan anak tersebut lebih menyeberang jalan walaupun tidak mendapat kue (roti).[13]

  1. Kurangnya kasih sayang

Kadang-kadang tanpa disengaja orang tua kurang memberi kasih sayang. Mungkin juga orang tua sudah merasa memberikan kasih sayang, tetapi ternyata anak tidak merasa memperolehkasih sayang. Memang sulit untuk menentukan apakah sudah cukup kasih sayang yang diberikan atau belum. Perasaan tidak cukup disayangi ini akan menimbulkan akibat pada kepribadiannya.[14]

Hal itulah yang menyebabkan mereka berusaha mencari kasih sayang di luar rumah, dengan harapan agar ada orang yang dapat memberikan kasih sayang kepada mereka.

  1. Mendidik mereka atas hal-hal (perbuatan yang rendah, kata-kata yang jelek, dan akhlak yang tidak terpuji.

Sebagai contoh, orang tua memberi dorongan kepada mereka untuk gemar datang ke gelanggang olah raga jika di gelanggang itu ada percampuran antara laki-laki dan perempuan serta saling memperlihatkan aurat) mengekor/ meniru-niru orang kafir, membiasakan anak-anak perempuan memakai pakaian pendek, melontarkan kata-kata kasar, jorok, dan kotor yang disebabkan orang tua sering kali bahkan berulang-ulang, menggunakan kata-kata tersebut. Atau melalui panggilan anak-anaknya dengan julukan jorok, sehingga si anak terbiasa dengan panggilan-panggilan semacam itudan tidak lagi mau memperhatikan etika berbicara.

  1. Terlalu buruk sangka terhadap anak-anak

Ada sebagian orang tua yang buruk sangka terhadap anak-anaknya bahkania amat berlebihan dalam hal itu sampai keluar dari batas kewajaran. Misalnya menuduh niat anaknya dan sama sekali tidak percaya kepada mereka. Ia memberikan kesan kepada mereka bahwa ia akan memberikan hukuman kepada mereka setiap kali melakukan kesalahan kecil maupun besar tanpa mau memaklumi dan melupakan sedikitpun tentang kekeliruan dan kesalahan mereka.

Dari uraian di atas sebenarnya masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang dilakukan orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Orang tua sering tidak menyadari bahwa kesalahan dalam mendidik anak dapat menimbulkan berbagai reaksi, dan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak. Anak mungkin akan mudah goyah, tidak stabil emosinya, dan sulit untuk dikontrol. Sebagai orang tua yang baik, maka dalam mendidik anak lebih ditekankan pada pendidikan yang membimbing, mengarahkan meraka kepada hal-hal yang benar, dan sabar dalam mendidik dengan penuh kasih sayang dan perhatian.

3.    Pola Asuh Orang Tua Otoriter

Pola asuh otoriter cenderung tidak memikirkan apa yang akan terjadi di masa kemudian hari, fokusnya lebih masa kini. Orang tua atau pengasuh primer mengendalikan anak lebih karena kepentingan orang tua atau pengasuhnya untuk memudahkan pengasuhan.

Mereka menilai dan menuntut anak untuk mematuhi standar mutlak yang ditentukan sepihak oleh orang tua atau pengasuh, memutlakkan kepatuhan dan rasa hormat atau sopan santun. Orang tua atau pengasuh merasa tidak pernah berbuat salah.[15]

Orang tua mau menerima dan menyayangi anak asal anak tunduk mutlak pada perintah-perintah orang tua, dan menjauhi larangan-larangan tertentu. Anak juga harus sanggup menolak atau mengingkari dorongan, impuls, dan keinginan sendiri. perasaan keinginan dan kemampuan sendiri harus ditekan atau dibuang, karena ada larangan dan tekanan-tekanan orang tua.[16]

Orang tua sering tidak menyadari bahwa dikemudian hari anak-anaknya dengan pola pengasuhan otoriter mungkin akan menimbulkan masalah yang lebih rumit, meskipun anak-anak dengan pola pengasuhan otoriter ini memiliki kompetensi dan tanggung jawab cukupan, namun kebanyakan cenderung menarik diri secara sosial, kurang spontan dan tampak kurang percaya diri. Kebanyakan anak-anak dari pola pengasuhan otoriter melakukan tugas-tugasnya karena takut memperoleh hukuman.

Jika orang tua atau pendidik telah menggunakan pukulan atau kekerasan dalam mendidik seorang anak, maka sebenarnya dia telah menghilangkan kesempatan dalam mendidik dengan sebuah didikan yang benar, bahkan hal tersebut bukan merupakan bimbingan yang benar, tidak mengajak berfikir, dan tidak mengajak mengoreksi kebiasaan salah yang dilakukan sang anak, sehingga hasilnyapun nihil, walaupun sang anak nurut dikarenakan takut, walaupun sang anak mendengar bukan karena kewibawaannya sebagai pendidik yang benar tetapi karena takut akan pukulan dan kekerasaan, di belakang akan berkelekar dan akan timbul dendam atau ketidak hormatan sang anak terhadap orang tua tersebut. Dan tidak sedikit anak yang mendapatkan kekerasan dari orang tua, ketika berada di luar rumah mereka melampiaskannya dengan mabuk-mabukan atau bergaul dengan kesesatan karena merasa inilah jalan keluar dan yang terbaik bagi mereka.[17]

Dalam kondisi yang ekstrim, anak laki-laki dengan pola pengasuhan otoriter sangat mungkin memiliki resiko berperilaku anti sosial, agressif, impulsif dan perilaku-perilaku maladaptif lainnya. Anak perempuan cenderung menjadi tergantung (dependent) pada orang tua atau pengasuh primernya. Terdapat beberapa anak yang kemudian menjadi kriminal atau melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang wajar. Utamanya mereka yang selain terkondisi dalam pola otoriter ditambah dengan siksaan-siksaan atau deraan-deraan fisik (Physical abuse of children).[18] Pola pengasuhan seperti ini seringkali berulang-ulang pada generasi berikutnya (sekali lagi Intergeneration Transmission) yang berjalan dalam ketidaksadaran.



[1]Syamsu Yusuf LN, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2000, hlm. 51.

[2]Sylvia Rimm, Mendidik dan Menerapkan Disiplin Pada Anak Pra Sekolah, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2003, hlm. 85-86.

[3]Irawati Istadi, Mendidik dengan Cinta, Pustaka Inti, Jakarta, 2002, hlm. 17.

[4]Sarumpaet, Rahasia Mendidik Anak, Indonesia Publishing House, Bandung, 1973, hlm. 178.

 [5]Muhammad Al-Hamd, Kesalahan Mendidik Anak, Cet. IV, Geman Insani Press, Jakarta, 2001, hlm. 14.

[6]Sarumpaet, Op.cit, hlm. 172.

[7]Muhammad Al-Hamd, Op.cit, hlm. 19.

 [8]Fulex Bisyri, Op.cit, hlm. 64.

[9]Muhammad Al-Hamd. Op.cit, hlm. 31.

[10]Fulex Bisyri, Op.cit, hlm. 64.

 [11]Ibid, hlm. 32.

[12]Sarumpaet, Op.cit, hlm. 169.

[13]Ibid, hlm. 181.

[14]Singgih D. Gunarsa, Op.cit, hlm. 58.

[15]Ibid, hlm. 29.

[16]Kartini Kartono, Hygiene Mental, Mandor Maju, Bandung, 2000, hlm. 185.

[17]A. Fulex Bisyri, Ketika Orang Tua Tak Lagi Dihormati, Mujahid, Bandung, 2004, hlm. 59.

[18]G. Tembong Prasetya, Op.cit, hlm, 30.

 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*