Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

MUHAMMAD ‘ATHIYAH AL-ABRASYI TENTANG PENDIDIKAN ISLAM

Makalah MUHAMMAD ‘ATHIYAH AL-ABRASYI TENTANG  Pendidikan Islam

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Makalah MUHAMMAD ‘ATHIYAH AL-ABRASYI TENTANG PENDIDIKAN  ISLAM

Bidang  postingan  :  Pendidikan Islam,tujuan dari pendidikan Islam menurut atiyah al abrasi, tujuan pendidikan dalam  islam menurut athiyah, tujuan pi,pemikiran muhammad athiyah tentang pendidikan islam, pendidikan islam menurut muhammad athiyah , konsep al abrasyi tentang pendidikan islam

Perkuliahan.com, dalam upaya menambah wacana dan  khasanah keilmuan pendidikan, terutama dalam Pendidikan Islam maka perkuliahan.com berusaha untuk berkontribusi dalam mewujudkanya. Melalui makalah dan artikel  diharapkan  bisa sedikit memberi warna dunia pendidikan, dalam hal ini makalah dari muhammad athiyah tentang pendidikan Islam.

arsip ddata perkuliahan.com : seri 32

A.     Latar Belakang

Kemajuan suatu bangsa bisa dilihat pada apresiasi negara pada dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, sementara pendidikan tidak bisa terlepas dari hasil pemikiran para tokoh.

Islam sebagai agama dunia yang membentang luas dari Afrika Utara sampai Asia Tenggara, kira-kira + 43 negara dengan mayoritas muslim dan kira-kira 20 negara minoritas non-muslim.[1]

Pendidikan adalah sesuatu yang sangat urgen untuk dijadikan upaya peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Kaum intelektual telah mengamati bahwa salah satu karakter khas peradaban Islam adalah perhatian yang serius tentang pencarian terhadap berbagai cabang ilmu, pada awal era modern, para pemikir dan pemimpin Islam telah menyadari pentingnya pendidikan sebagai upaya untuk memajukan umat, terutama untuk menghadapi hegemoni sosial ekonomi dan kebudayaan Barat.[2]

Pendidikan Islam dalam perkembangan mengalami pasang surut, dasar-dasarnya tertata rapi sejak Nabi Muhammad Saw membawa risalahnya Al-Quran yang mulia dan terealitasi dalam tradisi yang praktis dan cukup baik. namun perkembangan yang signifikan terjadi pada abad pertengahan, di mana konteks Islam dalam budaya Yunani mulai terjadi, Islam yang sudah menjadi semakin indah yang filsafatnya berkembang pesat pada masa itu. Namun sebagai hal yang wajar seiring dengan perputaran dunia kebudayaan Islam seolah ikut berputar 180 derajat di bawah Barat.

Kini dalam zaman teknologi para pemikir dan ilmuan Islam memformulasikan kembali keilmuan dalam Islam termasuk ilmu pendidikan Islam dengan bercermin dari budaya asli ke budaya baru.

Dinamika sistem kehidupan internasional dalam abad ke-21 ini berjalan sangat cepat dan semakin cepat, kompleks serta simultan, seringkali dinamika itu mengejutkan lain terjadi di luar dugaan atau perhitungan akal, scary but true, menakutkan tetapi benar. Karakteristik dinamika kehidupan masyarakat informasi sebagai pengganti masyarakat industri yang telah berakhir pada tahun 1989 bersama runtuhnya Tembok Berlin yang kemudian menjadi simbol dunia tanpa batas.[3]

Apabila memperhatikan arah pendidikan modern pada abad ke-20 ini serta mempelajari pula prinsip-prinsip, metode-metode serta sistem-sistemnya kita melihat bahwa dalam hal pendidikan, berabad sebelumnya Islam telah menyuarakan banyak prinsip dan metode penting yang berguna dalam pendidikan memberikan masukan dalam kebangkitan mental dan pembentukan akhlak.

Pendidikan Islam mempunyai pengaruh besar dalam kebangkitan segala macam pendidikan, yang sebelumnya dipetik dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam agama dan budi pekerti dan diutamakan pula segi kemanusiaan sosial dan kerjasama, seperti persaudaraan, kemerdekaan, persamaan, keadilan dan kesempatan yang sama di samping kesatuan rohaniyah di antara seluruh umat Islam.

Ungkapan tentang “Pintu pendidikan terbuka seluas-luasnya bagi siapa saja yang berkeinginan untuk belajar agama dan lain-lain, kapan saja dan di mana saja”. Itulah demokrasi yang hakiki di dalam pendidikan dan pengajaran yang diungkap oleh Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi dalam prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam atau التربية الاسلامية وفلا سفتها. [4]

Dewasa ini, kita telah memiliki perkembangan pada berbagai bidang, ilmiah dan kebendaan. Akan tetapi, sangatlah disayangkan bahwa kita belum sampai bertingkat spiritual dan akhlak yang tinggi seperti umat Islam pada zaman kejayaan dulu. Dari itu sesungguhnya sangat membutuhkan pemikiran dibidang rohani, pembentukan akhlak yang mulia sehingga kita dapat menegakkan kembali keagungan dan kebesaran Islam di masa lalu.

Dalam kitab “التربية الإسلامية وفلاسفتها” karya Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasyi diterangkan bahwa jiwa dari pendidikan Islam ialah pendidikan moral dan akhlak.

Berangkat dari fenomena di atas penulis mencoba untuk mengkaji lebih mendalam mengenai konsep ‘Athiyah Abrasyi tentang pendidikan dan akhlak dalam Islam.

Sarjana pendidikan yang satu ini, memang diakui keberadaannya dikalangan pendidikan khususnya pendidikan Islam. Beliau banyak dikenal oleh para ahli dalam bidang pendidikan, dimana karya-karya beliau atau catatan (peninggalan) beliau banyak dipakai sebagai rujukan.

Meskipun demikian beliau telah banyak dikenal oleh masyarakat dunia pendidikan yang kritis dalam menyikapi realita dari fenomena-fenomena masyarakat yang beraneka ragam. Selain itu beliau juga salah satu guru besar pada Fakultas Darul Ulum, Cairo University, Kairo.[5]

Beliau termasuk tokoh pendidikan yang memang tergolong ahli dalam bidangnya, karena beliau memiliki daya analisis yang dalam dan teknik penyajiannya tergolong baru sehingga beberapa karyanya banyak diterbitkan oleh penerbit-penerbit kenamaan Kairo.

2.      Konsep Pendidikan Islam menurut ‘Athiyah al-Abrasyi

a.       Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan, karena dari kehidupan itulah yang bisa membedakan antara kehidupan manusia yang dialami oleh hewan.

Pendidikan secara umum (formal maupun non formal) pada dasarnya merupakan kebutuhan yang primer dengan manusia, baik secara individu maupun sebagai warga negara, yang menuju kearah terbentuknya kepribadian yang utama.[6]

Dalam hal ini segenap anggota masyarakat pendidikan Islam mengizinkan adanya ilmu pendidikan yang relevan dan mampu menampakkan diri sebagai kekuatan kultural Islam yang berarti dan proporsional, sesuai dengan nature-nya, seperti al-Quran yang diperlukan dengan sikap ilmiah.[7]

Dan dalam masyarakat Islam, istilah yang digunakan untuk pendidikan adalah tarbiyah (تربية), ta’lim, (تعليم) ta’dib (تأذيب).[8] Dan sekarang berkembang secara umum di dunia Arab adalah tarbiyah ternyata masih merupakan masalah khilafiyah, (kontroversial)[9]

Pengertian pendidikan Islam menurut ‘Athiyah  dalam kitab at-Tarbiyah al-Islamiyah Wafalasifatuha adalah :

أن التّربية الإسلامية تتمثل فيها المبادئ (الديمقراطيه) من الحرية والمساواة وتكافؤ الفرص فى التعليم, من غير تفرقه فى طلبه بين الموسرين والمعدمين, وأن المسلمين كانوا يعدون طلب العلم فريضة دينية, وواجبا روحيا, لاوسيلة لغرض مادي, ويقبلون عليه بقلوبهم وعقولهم ويطلبونه برغبة قوية من تلقاء أنفسهم, وكثيرا ماكانو يقومون برحالات طويلة شاقة فى سبيل تحقيق مسألة علميّة دينيّة.[10]

Sesungguhnya pendidikan Islam itu meliputi prinsip-prinsip (demokrasi), yaitu kebebasan, persamaan, dan kesempatan yang sama dalam pembelajaran, dan untuk memperolehnya tidak ada perbedaan antara si kaya  dan si miskin, sesungguhnya mencari ilmu bagi mereka merupakan suatu kewajiban dalam bentuk immateri, bukan untuk tujua materi (kehendak), dan menerima ilmu itu dengan sepenuhnya hati dan akal mereka, dan mencarinya dengan keinginan yang kuat dari dalam dirinya, dan mereka banyak melaksanakan perjalanan panjang dan sulit dalam rangka memecahkan masalah-masalah agama.

Pernyataan ‘Athiyah di atas menunjukkan bahwa pendidikan Islam itu merupakan sesuatu yang memang dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat secara umum dan menyeluruh, karena prinsip-prinsip yang ada pada kenyataannya dapat menjadikan kehidupan ini lebih bahagia baik di dunia maupun di akhirat.

Pendidikan Islam disini pada kenyataannya memang telah banyak memberikan pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat pendidikan, tidak hanya terbatas pada pendidikan Islam saja, namun, menjadikan pendidikan Islam ini berkembang di dunia pendidikan modern dewasa ini.

Hal ini dikarenakan pendidikan Islam terutama menurut ‘Athiyah memang merupakan disiplin ilmu yang memiliki dasar dan tujuan yang jelas, relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat di dunia.

Pendidikan Islam memang sangat ideal untuk dilaksanakan di dalam dunia pendidikan. Dan lapangan dari pendidikan Islam telah menembus berbagai dimensi kependidikan, baik bentuk, orientasi, sikap, maupun volume kurikulum yang selalu dipengaruhi oleh pengaruh eksternal dan internal umat Islam, yang dilancarkan untuk melakukan perubahan pandangan, pikiran dan tindakan umat Islam dalam menghadapi kemajuan zaman dan tantangannya.[11]

Pengaruh yang ditimbulkan dari pendidikan Islam ini sangat besar sekali dalam kebangkitan di segala macam pendidikan, yang sebelumnya dipetik dari prinsip-prinsip yang terdapat dalam agama dan budi pekerti dan diutamakan pula segi kemanusiaan, sosial, dan kerjasama, seperti persaudaraan, kemerdekaan, keadilan, dan kesempatan, yang sama, disamping kesatuan rohaniah seluruh umat Islam.[12]

Manusia selain sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial, dimana manusia memiliki banyak kelebihan daripada makhluk lainnya. Sebagai makhluk individu manusia membutuhkan perkembangan kemandirian secara individu (himself), dan sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan perkembangan kemasyarakatan (human relation)[13]

Oleh sebab itu, manusia dalam usahanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan di atas, manusia memerlukan sesuatu yang sifatnya menyeluruh atau mencakup semua daya pada jiwa manusia.[14]

Selain itu, manusia adalah makhluk-makhluk “animal educable” artinya manusia adalah makhluk yang dapat dididik, dan menurut Langeveld, manusia adalah “animal education” artinya manusia itu harus dididik, dan manusia adalah “home educandos” artinya manusia adalah yang bukan saja harus didik tetapi juga mendidik, sehingga pendidikan bagi manusia merupakan suatu keharusan yang mutlak atau manusia memang harus memperoleh pendidikan.[15]

Dan mendidik merupakan sifat yang has pada manusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Immanuel Kant yang dikutip oleh Suwarno, yang mengatakan : “Manusia hanya dapat menjadi manusia secara pendidikan”.[16]  Sehingga manusia yang tidak didik tidak dapat menjadi manusia dalam arti sebenarnya.

Pendidikan disini merupakan bimbingan dan pimpinan yang secara sadar oleh si pendidik terhadap si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[17] Dan ini melalui proses belajar, dimana pengertian belajar menurut Clifford T. Morgan dan Richard A. King adalah : “learning may be defined as any relatively permanent change in behavior which occurs as a result of experience or practice”.[18]

Dalam ajaran Islam, kepribadian yang utama adalah akhlak, dimana manusia memiliki akhlak yang utama sebagai manusia yang sempurna (insan kamil) sesuai dengan al-Quran dan al-Sunnah.  Pendidikan ini merupakan salah satu disiplin ilmu yang berkembang, tidak statis karena berhubungan dengan kebutuhan manusia yang selalu mengikuti perkembangan zaman.

Dan ajaran Islam berisi ajaran tentang sikap dan tingkah laku pribadi masyarakat, menuju kesejahteraan hidup perorangan dan bersama, sehingga pendidikan Islam merupakan individu dan juga pendidikan masyarakat.[19]

3.      Dasar-dasar Pendidikan Islam

Pendidikan Islam sebagai suatu disiplin ilmu yang cukup berpengaruh besar dalam dunia pendidikan dikarenakan memiliki dasar-dasar yang jelas dan relevan dalam kehidupan dan juga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan pendidikan, secara penuh dan total.

Dasar ini merupakan kajian dari bagaimana yang menjadi sumber kekuatan berdirinya bangunan itu yang berfungsi untuk menjadi bangunan tersebut untuk tetap kokoh berdiri.

Dan dalam pendidikan Islam, dasar-dasar itu dijadikan sebagai jaminan, sehingga pendidikan memiliki sumber keyakinannya, yang menuju ke arah tujuan dapat terlihat jelas, tidak mudah disimpangkan oleh pengaruh-pengaruh luas.[20]

Oleh karena itu, dalam kitab al-Tarbiyah al-Islamiyah wa Fasilifatuha (terj) ‘Athiyah menyebutkan bahwa dasar-dasar pendidikan Islam adalah sebagai berikut :

a.       Tidak ada batasan umur untuk mulai belajar

b.      Tidak ditentukan lamanya seorang anak di sekolah

c.       Berbedanya cara yang digunakan dalam memberikan pelajaran

d.      Dua ilmu jangan dicampuradukkan

e.       Menggunakan contoh-contoh yang dapat dicapai dengan panca indra untuk mendekatkan pengertian pada anak-anak

f.        Memperhatikan pembawaan anak-anak dalam beberapa bidang mata pelajaran sehingga mereka dengan mudah dapat mengerti

g.       Memulai dengan pelajaran Bahasa Arab kemudian pelajaran Al-Quran al-Karim

h.       Perhatian terhadap pembawaan insting anak-anak dalam pemikiran bidang pekerjaan

i.         Permainan dan hiburan

j.        Mendidik perasaan[21]

4.      Tujuan Pendidikan Islam

Setiap usaha pasti memiliki tujuan yang akan dicapai yang merupakan titik pangkal melanjutkan kegiatan-kegiatan kejenjang selanjutnya.

Dalam pendidikan, tujuan merupakan jawaban dari pertanyaan kemana arah pendidikan akan dibawa?. Sehingga tujuan ini membawa manusia kearah cita-cita tertentu.[22]

Di sini, pendidikan Islam juga memiliki tujuan-tujuan seperti disiplin ilmu lainnya, dan menurut ‘Athiyah tujuan pendidikan Islam ini merupkan satu kesatuan yang utuh dalam pendidikan Islam. Oleh karena itu, tujuan-tujuan pendidikan Islam menurut ‘Athiyah adalah sebagai berikut :

a.       Pendidikan yang berakhlak

b.      Memperhatikan Kepentingan Ilmu Agama dan Ilmu Umum

c.       Memperhatikan Segi-segi Manfaat

d.      Mempelajari Ilmu untuk perkembangan itu sendiri

e.       Pendidikan kejuruan, kesenian pertukangan

5.      Konsep Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi tentang Pendidikan Akhlak dalam Islam

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata akhlak diartikan sebagai budi pekerti atau kelakuan.  Kata akhlak walaupun terambil dari Bahasa Arab (yang biasa diartikan tabiat, perangai kebiasaan, bahkan agama), namun kata seperti itu tidak ditemukan dalam al-Quran.[23]

Menurut ‘Athiyah tujuan utama dari pendidikan Islam ialah pembentukan akhlak dan budi pekerti yang sanggup menghasilkan orang-orang yang bermoral, laki-laki maupun perempuan, memiliki jiwa yang bersih, kemauan keras, cita-cita yang benar dan akhlak yang tinggi, mengetahui arti kewajiban dan pelaksanaannya, menghormati hak-hak manusia, mengetahui perbedaan buruk dengan baik, memilih salah satu fadhilah, menghindari suatu perbuatan yang tercela, dan mengingat Tuhan dalam setiap pekerjaan yang mereka lakukan.[24] Ketika Allah hendak memuji nabi-nabinya, Allah SWT berfirman :

 

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (القلم :   )

Sesungguhnya engkau memiliki moral dan akhlak yang tinggi. (al-Qalam : 4)

 

Tujuan dari pendidikan moral dan akhlak dalam Islam  ialah membentuk orang-orang yang bermoral baik, keras kemauan, sopan dalam bicara dan mulai dalam tingkah laku dan perangai bersifat bijaksana, sempurna sopan beradab, ikhlas, jujur, dan suci. Jiwa dari pendidikan Islam ialah pendidikan dan moral dan akhlak.[25]

a.       Pendidikan budi pekerti di masa anak-anak

Seperti ungkapan Ibnu Jauzi menulis dalam bukunya At-Tarbiyah ar-Ruh (pengobatan jiwa), yang dikutip penulis dalam buku at-Tarbiyah al-Islamiyah karya ‘Athiyah, sebagai berikut :

Pembentukan yang utama ialah diwaktu kecil, apabila seseorang anak dibiarkan melakukan sesuatu (yang kurang baik) sehingga telah menjadi kebiasaannya, sukarlah meluruskannya, “Artinya : pendidikan budi pekerti yang tinggi, wajib dimulai di rumah, dalam keluarga, sejak kecil, dan jangan membiarkan anak-anak tanpa pendidikan, bimbingan, dan petunjuk-petunjuk. Bahkan, sejak kecil ia harus dididik sehingga tidak terbiasa dengan adat dan kebiasaan yang tidak baik.  Bila dibiarkan saja, tidak diperhatikan, tidak di bimbing, ia akan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik, sehingga sukarlah mengembalikannya dan memaksakannya untuk meninggalkan kebiasaan tersebut. Ringkasnya pemeliharaan lebih baik daripada perawatan.[26]

 

b.      Metode pendidikan akhlak (moral) dalam Islam

Menurut ‘Athiyah, untuk pendidikan moral dan akhlak dalam Islam, terdapat beberapa metode atau cara, antara lain sebagai berikut :

1)      Pendidikan secara langsung, yaitu dengan cara mempergunakan petunjuk, tuntunan, nasehat, menyebutkan manfaat dan bahayanya sesuatu.

Diantara kata-kata berhikmat, wasiat-wasiat yang baik dalam bidang pendidikan moral dan akhlak anak-anak, menurut ‘Athiyah disebutkan sebagai berikut :

·        Sopan santun adalah warisan yang terbaik

·        Budi pekerti yang baik adalah teman sejati

·        Mencapai kata mufakat adalah pemimpin yang terbaik

·        Ijtihad adalah pandangan yang menguntungkan

·        Akal adalah harta yang paling bermanfaat

·        Tidak ada bencana yang lebih besar daripada kejahilan

·        Tidak ada lawan yang lebih terpercaya daripada musyawarah

·        Tidak ada kesunyian yang lebih buruk daripada mengagungkan diri sendiri.[27]

2)      Pendidikan akhlak secara tidak langsung, yaitu dengan cara sugesti. Seperti mendiktekan sajak-sajak yang mengandung hikmat kepada anak-anak, mencegah mereka dari membaca sajak-sajak yang kosong.

3)      Mengambil manfaat dari kecenderungan dan pembawaan anak-anak dalam rangka pendidikan akhlak. Sebagai contoh, mereka (siswa) meniru ucapan-ucapan orang-orang yang berhubungan erat dengan mereka (guru). Oleh karena itu filosof-filosof Islam mengharapkan agar setiap guru berhias dengan akhlaknya yang baik, mulia, dan menghindari setiap yang tercela.[28]

 

D.    Simpulan

Dunia pendidikan yang digeluti ‘Athiyah adalah dunia pendidikan Islam yang telah lama berkecimpung di Mesir pusat ilmu pengetahuan dalam agama Islam.  Pendidikan Islam ini oleh ‘Athiyah diuraikan secara sistematis dari zaman ke zaman baik dari segi prinsip, metode, kurikulum dan sistem pendidikan modern di dunia barat. Selain itu keahlian yang dimiliki ‘Athiyah telah menjelaskan posisi Islam mengenai Ilmu pendidikan dan pengajaran yang berdasarkan al-Quran dan Hadits serta fungsi masjid, institut, lembaga-lembaga, perpustakaan, seminar-seminar dan gedung-gedung pertemuan dalam dunia Islam, sejak zaman keemasannya sampai ke zaman kita sekarang.

Islam menyerukan adanya kemerdekaan, persamaan, dan kesempatan yang sama antara si kaya dan si miskin dalam bidang pendidikan dan mewajibkan setiap muslim pria dan wanita untuk menuntut ilmu.  Pada dasarnya pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi individu sebagai manusia sehingga hidup secara optimal baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakat serta memiliki nilai-nilai moral dan sosial sebagai pedoman hidup.  Dengan demikian pendidikan memegang peranan penting dalam menentukan hitam putihnya manusia dan akhlak menjadi standar kualitas manusia, artinya baik buruknya akhlak merupakan salah satu indikator berhasil atau tidaknya pendidikan.

 

E.     Penutup

Alhamdulillah dengan segala keterbatasan penulis, Allah tetap memberikan limpahan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan kemampuan, bimbingan, arahan, dan bantuan dari berbagai pihak yang membantu penulisan ini.

Kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT, sementara kekurangan itu ada pada diri penulis.  Alhamdulillahi rabbil ‘alamin


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al-Abrasyi, Muhammad ‘Atiyah, at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falaisatuha, Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, 1975, Cet. III.

________________, Dasar Pendidikan Islam, terj. H. Butami A. Gani dan Djohar Bahry, dari Judul asli At-Tarbiyah al-Islamiyah, Bandung : Bulan Bintang, 1970.

_________________, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, terj. Abdullah Zaky al-Kaaf, dari judul Asli At-Tarbiyah al-Islamiyah, Bandung : Pustaka Setia, 2003.

Al-Attas, M. Najib, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam, Bandung: Mizan Media Utama, 1998.

Dakir, Dasar-dasar Psikologi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1993.

Daradjat, Zakiah, et.all, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2000), Cet. 4.

Djuwaeli, Irsyad, Pembaruan Kembali Pendidikan Islam, Jakarta : Karsa Utama Mandiri dan  PB. Mathlo’ul Anwar, 1998.

Esposito, John L., Dinamika Kebangunan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1987.

Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung : al-Ma’arif, 1981, Cet. 5

Mastuhu., Menata Ulang Perekonomian Nasional dalam Abad 21, Safiria Unsania Press, 2004.

Morgan, Clifford T. and Richard A. King, Introduction to Psychology, Tokyo : MC. Graw – Hill Kogaskusha, Ltd, 1971.

Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Quran (Tafsir Maudlui atas Pelbagai Persoalan Umat), Bandung : Mizan, 2003.

Suwarno, Pengantar Umum Pendidikan, Jakarta : Aksara Baru, 1992.

 


[1] John L. Esposito, Dinamika Kebangunan Islam, (Jakarta: Rajawali Press, 1997), hlm. 1.

[2] M. Najib al-Attas, Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan Media Utama, 1998), hlm. 144.

[3] Mastuhu., Menata Ulang Perekonomian Nasional dalam Abad 21, (Safiria Unsania Press, 2004), hlm. 9.

[4] M. ‘Athiyah Al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2003), hlm. 19.

[5] M. Athiyah al-Abrasyi, Dasar Pendidikan Islam, terj. H. Butami A. Gani dan Djohar Bahry, dari Judul asli At-Tarbiyah al-Islamiyah, (Bandung : Bulan Bintang, 1970), hlm. 9

[6] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung : al-Ma’arif, 1981), Cet. 5, hlm. 19. Dan terbentuknya kepribadian yang utama yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan adanya dasar dan tujuan dalam proses pendidikan disamping adanya unsur-unsur lainnya yang ada dalam pendidikan.

[7]Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Fafasifatuha, (Kairo : Isa al-Babi al-Halabi, 1975), cet. 3, hlm. 29-30

[8] Tiga Itislah di atas merupakan istilah-istilah  yang berdasarkan etimologi bahasa, dimana tarbiyah merupakan upaya sadar akan pemeliharaan, pengembangan seluruh potensi diri manusia, sesuai fitrahnya dan perlindungan menyeluruh terhadap hak-hak dan kemanusiaannya, dan ta’lim mengesankan proses pemberian ilmu  pengetahuan dan penyadaran akan fitrah dan tugas-tugas kemanusiaannya yang diwujudkan seorang dalam kehidupan nyata, sedangkan ta’dzib mengesankan proses pembinaan kepribadian dan sikap moral (Afektif) dan etika dalam hidupnya.  Lihat Irsyad Djuwaeli, Pembaruan Kembali Pendidikan Islam, (Jakarta : Karsa Utama Mandiri dan  PB. Mathlo’ul Anwar, 1998), hlm. 4

[9] Ibid., hlm. 34

[10] ‘Atiyah al-Abrasyi, at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falaisatuha, (Kairo: Isa al-Babi al-Halabi, 1975), Cet. III, hlm. 29-30

[11]Irsyad Djuwaeli, op.cit., hlm. 101-102

[12] Muhammad ‘Athiyah al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, terj. Abdullah Zaky al-Kaaf, dari judul Asli At-Tarbiyah al-Islamiyah, (Bandung : Pustaka Setia, 2003), hlm. 8

[13]Dakir, Dasar-dasar Psikologi, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1993), hlm. 3

[14] Ibid., hlm. 1. Menurut teori Trichotomi oleh N. Tanes, ada 3 daya pada jiwa manusia, yakni adanya fikiran, daya perasaan, dan daya kemauan

[15] Suwarno, Pengantar umum Pendidikan, (Jakarta : Aksara Baru, 1982), hlm. 39

[16] Ibid., hlm. 40

[17] Ibid., hlm. 3 Lihat Penjelasan lebih lanjut pada Ahmad D. Marimba, loc.cit

[18] Clifford T. Morgan  and Richard A. King, Introduction to Psychology, (Tokyo : MC. Graw – Hill Kogaskusha, Ltd, 1971), hlm. 63

[19] Zakiah Daradjat, et.all, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2000), Cet. 4, hlm. 28

[20] Ahmad D. Marimba, op.cit., hlm. 41

[21] Muhammad “Athiyyah al-Abrasyi, op.cit. hlm191-198

[22] Suwarno, op.cit., hlm. 41

[23] M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran (Tafsir Maudlui atas Pelbagai Persoalan Umat), (Bandung : Mizan, 2003), hlm.253

[24] M. ‘Athiyah al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam, terj. At-Tarbiyah al-Islamiyah wa Falasifatuha, oleh Abdullah Zaky al-Kaaf, (Bandung : Pustaka Setia, 2003), hlm. 113

[25] M. Athiyah al-Abrasyi, Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam, terj. At-Tarbiyah… Ibid., hlm. 114

[26] Ibid., hlm. 116

[27] Ibid., hlm. 116-117

[28] Ibid., hlm. 118

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*