Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Manfaat dan Mudharat Pergaulan Siswa Antar Jenis

 

Pergaulan Siswa Antarjenis

  1. Pengertian Pergaulan Antarjenis

Pengertian pergaulan menurut Anton M. Moeliono adalah : “Kehidupan bermasyarakat”.[1] Dan menurut Drs. Alex Gunur, bergaul berarti : “Mengadakan kontak, hubungan atau komunikasi dengan manusia lain, baik secara langsung maupun tidak langsung”.[2]

Dari dua pengertian di atas dapat disimpulkan yang dimaksud dengan pergaulan adalah : Kehidupan bermasyarakat yang diwujudkan dengan mengadakan kontak, hubungan atau komunikasi dengan manusia lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan demikian yang dimaksud dengan pergaulan siswa antarjenis adalah : Kehidupan bermasyarakat yang diwujudkan dengan mengadakan kontak, hubungan atau komunikasi antarjenis secara langsung maupun tidak langsung.

  1. 2.      Pentingnya Pergaulan pada Masa Remaja

Setiap manusia lahir ke dunia ini langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup. Yakni di tengah keluarga atau masyarakat. Tak ada satupun manusia yang dapat luput dari pergaulan hidup tersebut. Dan di tengah-tengah masyarakat itulah seorang dapat hidup dan berkembang baik fisik maupun mentalnya.

Anak adalah generasi penerus yang di masa depannya akan menjadi anggota masyarakat secara penuh dan mandiri. “Oleh karena itu seorang anak sejak kecil harus sudah mulai belajar bermasyarakat, agar kelak mampu menjalankan fungsi-fungsi sosialnya”.[3] Masyarakat adalah tempat hidup anak sebagai individu yang memberikan kemungkinan kepada anak untuk menjadi maju dan berkembang.

“Masyarakat adalah wadah dan wahana pendidikan, media kehidupan manusia yang beragama menyangkut suku, agama, kegiatan kerja, tingkat pendidikan, sosial, ekonomi dan sebagainya ….. manusia sejak kanak-kanak hingga dewasa terlibat sebagai warga masyarakat bangsanya”.[4]

 

Karena anak lahir, dibesarkan dan dididik dalam masyarakat, maka pertumbuhannya pun secara langsung dan tidak langsung dipengaruhi oleh lingkungan sosial di masa anak itu hidup bermasyarakat.

Semua remaja senang bergaul, baik dengan teman sejenis maupun dengan lawan jenis. Keinginan bergaul ini timbul dari dorongan-dorongan yang terjadi sejalan dengan perkembangan sosial remaja yang terus banyak menyesuaikan diri dan mencari pengalaman. Pergaulan mutlak perlu dan sangat menguntungkan perkembangan anak. Pergaulan menuntut lebih banyak belajar dari pengalaman orang lain.[5]

Sebagaimana umumnya, setiap remaja suka berkumpul dengan remaja lainnya. Mereka berkumpul, berkelompok untuk mencari pengalaman, bertukar pengalaman satu sama lain. keinginan berkumpul dan berkelompok itu semakin kuat bilamana remaja semakin meningkat usia. Dan suatu ketika berkelompok yang dilakukan remaja tidak hanya dengan teman sejenis, melainkan dengan remaja lain jenis.

 

  1. 3.      Etika Pergaulan Antarjenis Menurut Islam

Pergaulan antarjenis pada remaja adalah merupakan tuntutan alami, dengan demikian perlu adanya batas-batas yang mengatur pergaulan remaja antarjenis. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Aturan permainan dalam pergaulan harus tetap menurut norma dan etika yang berlaku.

Ada beberapa pengertian etika, menurut Drs. Alex Gunur : “Etika berarti pengetahuan tentang moral atau kesusilaan atau pengetahuan tentang ukuran perilaku atau tingkah laku manusia”.[6]

Menurut Prof. Dr. Ahmad Amin :

“Etika, sesuatu ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh setengah manusia kepada lainnya dan menunjukkan jalan untuk melaksanakan apa yang harus diperbuat”.[7]

Sebagaimana telah disebutkan, mengenai pengertian pergaulan antarjenis, yaitu : kehidupan bermasyarakat yang diwujudkan dengan mengadakan kontak, hubungan atau komunikasi antarjenis baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam mengadakan komunikasi antarjenis secara langsung, tentu saja harus memperhatikan aturan-aturan bagaimana cara berpakaian ketika bergaul dengan lain jenis kelamin. Maka pada bagian ini akan dibahas mengenai etika pergaulan antarjenis dan etika berpakaian menurut Islam.

Pergaulan bebas yang tidak mengenal batas akan membawa kerusakan moral dan merosotnya budi pekerti. Berikut ini penulis akan membahas etika pergaulan yang perlu diperhatikan oleh pria dan wanita, menurut syari’at Islam.

Pandangan mata terhadap lawan jenis secara psikologis dapat memunculkan dorongan seksual, dan dorongan seksual ini senantiasa menuntut untuk dipenuhi, sehingga bagi orang yang tidak beriman bisa mengambil jalan pintas guna memuaskan tuntutan seksualnya yang bergejolak. Oleh karena itu perlu ditanamkan tentang manfaat menjaga dan bahaya mengumbar pandangan mata. Dikatakan oleh Abdullah Nashih Ulwan bahwa :

 

“Di antara ajaran terpenting yang perlu diprioritaskan dan diperhatikan oleh para pendidik adalah menerapkan etika memandang sejak usia mumayyiz sehingga anak mengetahui mana yang boleh dipandang dan mana yang tidak boleh. Hal ini akan memperbaiki dan meluruskan moralnya pada saat ia mencapai usia baligh”.[8]

 

Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia, adalah tertarik kepada lawan jenis kelaminnya. Namun kalau fitrah tersebut dibiarkan bebas tanpa kendali, justru akan merusak kehidupan manusia dan akan menimbullkan dampak psikologis yang negatif. Firman Allah dalam surat An-Nur ayat 30-31 :

قُلْ لِلْمُؤْمِنتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصرِهِمْ وَيَحْفَظُوْافُرُوْجَهُمْ ذالِكَ أَزْكىلَهُمْ إِنَّ الله َخَبِيْرٌبِمَايَصْنَعُوْنَ. وَقُلْ لِلْمُؤْمِنتِ يَغْضُضْنَ مِنْ اَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ وَلاَيُبْدِيِنَ زِيْنَتَ هُنَّ اِلاَّمَاظَهَرُمِنْهَا (النور: 30-31)

Artinya  :   “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman : Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) nampak darinya”

(Q.S. An-Nur: 30-31).[9]

 

Dari dua ayat tersebut di atas dapat kita simpulkan bahwa Allah memerintahkan bagi setiap hamba-Nya, baik laki-laki maupun wanita, agar selalu menjaga pandangan matanya.

Abdullah Nashih Ulwan menyatakan, “pergaulan antara putra-putri pada usia puber mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap akhlak, ilmu, ekonomi, tubuh dan emosi”.[10] Maka Islam mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang tidak ada ikatan mahram, untuk menjaga kesucian jiwa dan mencegah dari perbuatan-perbuatan maksiyat.

Etika berpakaian adalah : ukuran baik dan buruk, moral atau kesusilaan yang harus dipatuhi dalam berpakaian.

Sebelum penulis mengemukakan tentang etika berpakaian yang Islami, terlebih dahulu penulis kemukakan tentang pengertian aurat.

Aurat ialah : “Bagian-bagian badan yang mempunyai daya tarik amat kuat antar kelamin”.[11] Atau “Bagian anggota yang tak layak dilihat orang, atau tak layak terlihat dan nampak kepada orang lain”.[12]

Menutup aurat di dalam Islam diperintahkan kepada laki-laki maupun perempuan. Firmah Allah SWT dalam surat Al A’raf ayat 26 :

Batas aurat yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut :

“ 1.   Aurat laki-laki dengan laki-laki adalah antara pusar dan lutut.

2.   Aurat perempuan dengan perempuan lain, bila keduanya muslimah adalah antara pusar dan lutut.

3.   Aurat muslimah dengan perempuan kafir, menurut satu pendapat adalah semuanya, kecuali muka dan telapak tangan, dan menurut pendapat lain adalah semua anggota badannya.

4.   Aurat perempuan dengan muhrimnya adalah selain muka, dua tangan, kepala, leher, dan dua tumir”.[13]

 

Setelah mengetahui batas aurat tersebut, penulis akan membahas tata cara berpakaian Islami.

Syari’at Islam memberikan ketetapan dengan tuntunan yang pasti tentang wajib berbedanya busana laki-laki dan wanita, serta melarang jenis yang satu menyerupai jenis lainnya. Hal ini berdasarkan hadits yang telah diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a :

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّىاللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ اْلمَرْ أَةِ يُلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ (رواه أبوداود)[14]

 

Artinya : “Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki”

(H.R. Abu Daud).

 

Islam telah menetapkan suatu kriteria khusus untuk kaum wanita dengan busana tertentu yang membedakannya dengan kaum laki-laki. Demikian juga dengan kaum laki-laki : Islam telah memberikan kriteria khusus dengan busananya yang khas baginya, sehingga membedakan dengan wanita.

Allah SWT menurunkan perintah memakai jilbab bukan untuk mempersempit kaum. Akan tetapi agar aurat mereka tertutup. Dengan demikian, identitas keislaman mereka mudah dikenal dan akan terlindungi, yakni tidak akan diganggu. Menurut Drs. Mustaghfiri Asror : “Apabila seorang wanita berpakaian lengkap menutup aurat, pasti tidak ada orang yang berani mengganggu”.[15]

Berkaitan dengan pakaian orang laki-laki Islam tidak memberikan batasan-batasan tertentu, tetapi memberikan batasan terhadap aurat laki-laki dan memerintahkan untuk menutupnya. Sebagaimana telah dikemukakan di muka aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut, sehingga pakaian yang wajib dikenakan oleh laki-laki adalah yang menutup bagian tubuh antara pusar dan lutut. Selain itu tidak wajib baginya untuk menutupnya.

Dalam berpakaian, agama Islam memberikan batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar. Akan tetapi “agama Islam tidak menghalangi daya cipta dan cita rasa, corak bentuk dan potongan terbaru atau terbagus”.[16] Asalkan pakaian itu selaras dan menjaga keluhuran akhlak dan budi manusia.



[1] Anton M. Moeliono, dkk, Loc. Cit.

[2] Drs. Alex Gunur, Etika Sebagai Dasar dan Pedoman Pergaulan, Nusa Indah, Flores, 1975, hlm. 23.

[3] Drs. Bakir Yusuf Barmawi, Op Cit, hlm. 31.

[4] Drs. H. Thohir, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1998, hlm. 15-16.

[5] E.H. Tambunan, Op Cit, hlm. 138.

[6] Drs. Alex Gunur, Op Cit, hlm. 11.

[7] Prof. Dr. Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), Bulan Bintang, Jakarta, 1983, hlm. 3.

[8] DR. Abdullah Nashih Ulwan, Op Cit, hlm. 4.

[9] Prof. R.H.A. Soenarjo, SH, dkk, Loc. Cit.

[10] DR. Abdullah Nashih Ulwan, Op Cit, hlm. 46.

[11] H. Ahmad Azhar Basyir, MA, Op. Cit, hlm. 13.

[12] Akhmad Azhar Abu Miqdad, Op. Cit, hlm. 102.

[13] Abdullah Nashih Ulwan, Op. Cit, hlm. 21.

[14] Abu Daud, Op. Cit, hlm. 63.

[15] Drs. Mustaghfiri Asror, Emansipasi Wanita dalam Syari’at Islam, Toha Putra, Semarang, 1983, hlm. 134.

[16] K.H.E. Abdurrahman, Risalah Wanita, Sinar Baru Algensinso, Bandung, 1991, hlm. 171.

Category: Artikel Islam

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*