Makalah Tentang Intelegensi (Kecerdasan)

Perkuliahan.com, makalah psikologi umum dengan judul INTELIGENSI merupakan makalah yang dibuat guna memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliah Psikologi Umum, share untuk berbagi. semoga bermanfaat. next post Makalah Psikologi Belajar IQ EQ dan SQ.

“INTELEGENSI”

Oleh : Anisatul Mahmudah

  1. Latar Belakang

Di zaman modern saat ini, masyarakat umum mengenal inteligensi sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, ataupun kemampuan untuk memecahkan problem yang dihadapi. Gambaran tentang anak yang berintelegensi tinggi adalah gambaran mengenai siswa yang pintar, siswa yang selalu naik kelas dengan nilai baik, atau siswa yang jempolan di kelasnya. Bahkan Gambaran ini meluas pada citra fisik, yaitu citra anak yang wajahnya bersih, berpakaian rapi, matanya bersinar, atau berkacamata. Sebaliknya, gambaran anak yang berinteligensi rendah membawa citra seseorang yang lamban berfikir, sulit mengerti, prestasi belajarnya rendah, dan mulut lebih banyak menganga disertai tatapan mata bingung.

Pandangan awam sebagaimana digambarkan di atas, walaupun tidak memberikan arti yang jelas tentang inteligensi namun pada umumnya tidak berbeda jauh dari makna inteligensi sebagaimana yang dimaksudkan oleh para ahli. Adapun definisinya, makna inteligensi memang mendeskripsikan kepintaran dan kebodohan.

Pada umumnya, para ahli menerima pengertian akan inteligensi sebagaimana istilah tersebut digunakan oleh orang awam. Kekaburan lingkup konsep mengenai inteligensi menyebabkan sebagian ahli bahkan tidak merasa perlu untuk berusaha memberikan batasan yang pasti. Bagi mereka ini banyak diantara definisi yang telah dirumuskan ternyata terlalu luas untuk dapat disalahkan dan terlalu kabur untuk dapat dimanfaatkan.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apakah pengertian dari Inteligensi?
  3. Apa saja teori-teori dalam Inteligensi?
  4. Apa sajakah faktor yang mempengaruhi Inteligensi?
  5. Tujuan Penulisan
  6. Memenuhi tugas individu makalah dalam matakuliah Psikologi Umum.
  7. Memberikan sebagian wawasan ilmu pengetahuan mengenai Inteligensi dalam Psikologi.
  8. Memberi pengarahan terhadap pembaca dan masyarakat dalam bertindak sesuai dengan kemampuan atau Inteligensi yang dimiliki.

BAB II

KAJIAN TEORI

 INTELIGENSI

Thorndike, sebagai seorang tokoh koneksionisme mengemukakan pendapatnya bahwa “Intelligence is demonstrable in ability of the individual to make good responses from the stand point of truth or fact”. Orang dianggap inteligen apabila responsnya merupakan respons yang baik atau sesuai terhadap stimulus yang diterimanya. Untuk memberikan respons yang tepat, individu harus memiliki lebih banyak hubungan stimulus-respons, dan hal tersebut dapat diperoleh dari hasil pengalaman yang diperolehnya dan hasil respons-respons yang lalu.[1]

Terman memberikan pengertian inteligensi sebagai “….. the ability to carry on abstract thinking “. Terman membedakan adanya ability yang berkaitan dengan hal-hal yang kongkrit, dan ability yang berkaitan dengan hal-hal yang abstrak. Individu itu inteligen apabila dapat berpikir secara abstrak secara baik. Ini berarti bahwa apabila individu kurang mampu berpikir abstrak, individu yang bersangkutan inteligensinya kurang baik.[2]

Freeman memandang inteligen sebagai (1)capacity to integrate axperiences; (2) capacity to learn; (3)capacity to perform tasks regarded by psychologist as intelectual; (4) capacity to carry on abstract thinking”.[3]

Alfred Binet, seorang tokoh utama perintis pengukuran inteligensi yang hidup antara tahun 1857-1911, bersama Theodore Simon mendefinisikan intelegensi sebagai terdiri atas tiga komponen, yaitu (a)kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakan, (b)kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan , dan (c)kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocriticsm.[4]

Di tahun 1946, H.H. Goddard mendefinisikan inteligensi sebagai tingkat kemampuan pengalaman seseorang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang langusng dihadapi dan untuk mengantisipasi masalah-masalah yang akan datang.[5]

V.A.C. Henmon, salah seorang diantara penyusun Tes Inteligensi Kelompok Henmon-Nelson, mengatakan bahwa inteligensi terdiri atas dua macam faktor, yaitu (a)kemampuan untuk memperoleh pengetahuan, dan (b)pengetahuan yang telah diperoleh. Definisi ini agak bersesuaian maksudnya dengan definisi yang pernah diusulkan oleh Baldwin di tahun 1901 yang mengatakan inteligensi sebagai daya atau kemampuan untuk memahami.[6]

Edward Lee Thorndike (1913), seorang tokoh psikologi fungsionalisme yang hidup antara tahun 1874-1949, mengatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta.[7]

Di tahun 1941, George D. Stoddard menyebutkan inteligensi sebagai bentuk kemampuan untuk memahami masalah-masalah yang bercirikan (a)mengandung kesukaran, (b)kompleks, yaitu mengandung bermacam jenis tugas yang harus dapat diatasi dengan baik dalam arti bahwa individu yang inteligen mampu menyerap kemampuan baru dan memadukannya dengan kemampuan yang sudah dimiliki untuk kemudian digunakan dalam menghadapi masalah, (c)abstrak, yaitu mengandung simbol-simbol yang memerlukan analisis dan interpretasi, (d)ekonomis, yaitu dapat diselesaikan dengan menggunakan proses mental yang efisiendari segi penggunaan waktu, (e)diarahkan pada suatu tujuan,   yaitu bukan dilakukan tanpa maksud melainkan mengikuti suatu arah atau target yang jelas, (f)mempunyai nilai sosial, yaitu cara dan hasil pemecahan masalah dapat diterima oleh nilai dan norma sosial, dan (g)berasal dari sumbernya, yaitu pola pikir yang membangkitkan kreativitas untuk menciptakan sesuatu yang baru.[8]

David Wechsler, pencipta skala-skala inteligensi Wechslert yang sangat populer sampai waktu ini, mendefinisikan inteligensi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungannya dengan efektif.[9]

Walters dan Gardner pada tahun 1986 mendefinisikan inteligensi sebagai suatu kemampuan atau serangkaian kemampuan-kemampuan yang memungkinkan individu memecahkan masalah, atau produk sebagai konsekuensi eksistensi suatu budaya tetentu. Kemudian, Flynn (1987 dalam Baron 1996) mendefinisikan inteligensi sebagai kemampuan untuk berfikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar dari pengalaman.[10]

BAB III

PEMBAHASAN

 Pengertian Inteligensi

Berbicara mengenai inteligensi biasanya memang dikaitkan dengan kemampuan untuk memecahkan masalah, kemampuan untuk belajar, ataupun kemampuan untuk berpikir abstrak. Perkataan inteligensi dari kata Latin Intelligere yang berarti mengorganisasikan, menghubungkan atau menyatukan satu dengan yang lain (to organize, to relate, to bind together). Istilah inteligensi kadang-kadang atau justru sering memberikan pengertian yang salah, yang memandang inteligensi sebagai kemampuan yang mengandung kemampuan tunggal, padahal menurut para ahli inteligensi mengandung bermacam-macam kemampuan. Namun demikian, pengertian inteligensi itu sendiri memberikan berbagai macam arti bagi para ahli.

Batasan-batasan dari para ahli tersebut ternyata banyak selaras dengan konsepsi orang awam. Hal itu ditunjukkan oleh hasil penelitian Robert J. Sternberg yang mencoba melihat bagaimana pengertian orang kebanyakan mengenai inteligensi. Penelitian Sternberg mengambil sampel 61 orang mahasiswa yang belajar di Universitas Yale, 63 orang yang kebetulan sedang menunggu kereta api di Stasiun New Haven, dan 62 orang yang sedang berbelanja di sebuah pasar raya. Dalam kesimpulannya, Sternberg dan kawan-kawannya menemukan bahwa konsepsi orang awam mengenai inteligensi mencakup tiga faktor kemampuan utama, yaitu (a)kemampuan memecahkan masalah-masalah praktis yang berciri utama adanya kemampuan berpikir logis, (b)kemampuan verbal (lisan) yang berarti utama adanya kecakapan berbicara dengan jelas dan lancar, dan (c)kompetensi sosial yang berciri utama adanya kemampuan untuk menerima orang lain sebagaimana adanya.[11]

Dari temuan Sternberg, terlihat bahwa orang awam pun tidak saja menekankan makna inteligensi pada askpek kemampuan intelektual (kognitif) semata akan tetapi mementingkan pula aspek kemampuan sosial yang bersifat nonkognitif. Selanjutnya disimpulkan pula oleh penelitian tersebut bahwa orang cenderung lebih mengutamakan faktor kognitif daripada faktor-faktor nonkgnitif dalam menilai inteligensi orang lain maupun inteligensi diri sendiri.

Karakteristik umum inteligensi

Pemahaman terinci tentang pendekatan Sternberg terhadap inteligensi berada di luar lingkup, namun hasil kerjanya dapat diperoleh berbagai macam komponen yang diidentifikasikan oleh Sternberg cenderung bersifat teratur dan bekerja dalam kelompok yang secara kasar dapat diberi label sebagai berikut[12] :

  1. Kemampuan untuk belajar dan mengambil manfaat dari pengalaman
  2. Kemampuan untuk berpikir atau menalar secara abstrak
  3. Kemampuan untuk beradaptasi terhadap hal-hal yang timbul dari perubahan dan ketidakpastian lingkungan
  4. Kemampuan untuk memotivasi diri guna menyelesaikan secara tepat tugas-tugas yang perlu diselesaikan

Teori-teori Inteligensi

Menurut sudut pandang mengenai faktor-faktor yang menjadi elemen inteligensi, maka teori-teori inteligensi dapat digolongkan dalam paling tidak tiga golongan. Penggolongan pertama adalah teori-teori yang berorientasi pada faktor tunggal, yang kedua adalah teori-teori yang berorientasi pada dua faktor, dan yang ketiga adalah teori yang berorientasi pada faktor ganda. Walaupun demikian, uraian ringkas mengenai teori-teori inteligensi berikut tidak akan mengutamakan pengelompokan tersebut. Kita akan menyajikan setiap teori dibawah nama tokohnya masing-masing[13].

  1. Alfred Binet

Menurut binet, inteligensi merupakan sisi tunggal dari karakteristik yang etrus berkembang sejalan dengan proses kematangan seseorang.

  1. Edward Lee Thorndike

Menyatakan bahwa inteligensi terdiri atas beragai kemampuan spesifik yang ditampakkan dalam wujud perilaku inteligen. Oleh karena itu, teorinya dikategorikan ke dalam teori inteligensi faktor ganda.

  1. Charles E. Spearman

Pandangan Spearman (1927) mengenai inteligensi ditunjukkan dalam teorinya mengenai kemampuan mental yang popular dengan nama teori dua faktor.

  1. Louis Leon Thurstone & Thelma Gwinn Thurstone

Mereka memiliki pandangan mengenai inteligensi yang berbeda dari teori Thorndike, sekalipun teori mereka dapat juga digolongkan dalam teori faktor ganda.

  1. Cyril Burt

Ia mengatakan bahwa kemampaun mental terbagi atas beberapa faktor yang berbeda pada tingkatan-tingkata yang berbeda. Faktor tersebut adalah faktor umun, faktor-faktor kelompok besar, faktor-faktor kelompok kecil, dan faktor-faktor spesifik.

Selain itu masih banyak lagi teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli seperti, Philip Ewart Vernon, Joy Paul Guil ford, Halstead, Donald Olding Hebb, Raymond Bernard Cattel, Jean Piaget, Howard Gardner.

  1. Faktor yang Mempengaruhi Inteligensi

Intelegensi tiap individu cenderung berbeda-beda. Hal ini dikarenakan beberapa faktor yang mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi antara lain sebagai berikut:

  1. Faktor Bawaan atau Keturunan

Faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Batas kesanggupan atau kecakapan seseorang dalam memecahkan masalah, antara lain ditentukan oleh faktor bawaan. Oleh karena itu, di dalam satu kelas dapat dijumpai anak yang bodoh, cukup pintar dan sangat pintar, meskipun mereka menerima pelajaran dan pelatihan yang sama. Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

  1. Faktor Minat dan Pembawaan yang Khas

Faktor minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar,sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Intelegensi bekerja dalam situasi yang berlain-lainan tingkat kesukarannya. Sulit tidaknya mengatasi persoalan ditentukan pula oleh pembawaan.

  1. Faktor Pembentukan atau Lingkungan

Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Di sini dapat dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di sekolah atau pembentukan yang tidak direncanakan, misalnya pengaruh alam sekitarnya. Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti.

Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

  1. Faktor Kematangan

Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik mauapun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Oleh karena itu, tidak diherankan bila anak anak belum mampu mengerjakan atau memecahkan soal-soal matematika di kelas empat sekolah dasar, Karena soal soal itu masih terlampau sukar bagi anak. Organ tubuhnya dan fungsi jiwanya masih belum matang untuk menyelesaikan soal tersebut dan kematangan berhubungan erat dengan faktor umur.

Kecerdasan tidak tetap statis, tetapi cepat tumbuh dan berkembang. Tumbuh dan berkembangnya intelegensi sedikit banyak sejalan dengan perkembangan jasmani, umur dan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai (kematangannya).

  1. Faktor Kebebasan

Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.[14]

Kelima faktor di atas saling mempengaruhi dan saling terkait satu dengan yang lainnya. Jadi, untuk menentukan kecerdasan seseorang, tidak dapat hanya berpedoman atau berpatokan kepada salah satu faktor saja.

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Dari segi intelegensinya berbeda, maka individu satu dengan yang lain tidak sama kemampuanya dalam memecahkan suatu pesoalan yang dihadapi dan kecerdasan yang kreatif dapat menciptakan sesuatu sedangkan kecerdasan yang praktis dapat mengambil tindakan. Tingkat kecerdasan (intelegensi) seseorang dapat mempengaruhi hasil belajar namun tidak menjadi satu-satunya faktor yang mempengaruhi hasil belajar seseorang.

Saran

  1. Pendidik diharapkan semaksimal mungkin memfasilitasi perbedaan kecerdasan para peserta didik agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung efektif dan efisien.
  2. Guru harus bijaksana dalam menyikapi perbedaan kecerdasan para peserta ddik agar peserta didik mampu mencapai keberhasilan dalam belajar secara maksimal.
  3. Kepada orang tua diharapkan mengetahui dan memahami tingkat kecerdasan anaknya dan ikut berperan serta dalam membimbing peserta agar peserta didik dapat memanfaatkan kemampuan yang dimiliki.
  4. Kepada peserta didik diharapkan untuk belajar tekun dan terus meningkatkan kemampuan intelek.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  • Atkinson, Rita L., Ricardh C. Atkinson, 1996, Pengantar Psikologi Edisi Kedelapan Jilid 2, Jakarta : Erlangga.
  • Azwar, Saifuddin, 1996, Pengantar Psikologi Inteligensi, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
  • Walgito, Bimo, 1980, Pengantar Psikologi Umum, Yogyakarta : Andi.

[1] Prof. Dr. Bimo Walgito. Pengantar Psikologi Umum. Andi. Yogyakarta. 1980. Hal 192

[2] Ibid 1,

[3] Ibid 1,

[4] Drs. Saifuddin Azwar, MA. Pengantar Psikologi Inteligensi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.  Hal 5

[5] Ibid 4,

[6] Ibid 4,

[7] Drs. Saifuddin Azwar, MA. Pengantar Psikologi Inteligensi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.  Hal 6

[8] Ibid 7,

[9] Drs. Saifuddin Azwar, MA. Pengantar Psikologi Inteligensi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.  Hal 7

[10] Ibid 9,

[11] Drs. Saifuddin Azwar, MA. Pengantar Psikologi Inteligensi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.hal 6

[12] Rita L. Alkitson. Pengantar Psikologi Jilid 2. Erlangga. Jakarta. 1996. Hal 129

[13] Drs. Saifuddin Azwar, MA. Pengantar Psikologi Inteligensi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.hal 14-23

[14] Drs. Saifuddin Azwar, MA. Pengantar Psikologi Inteligensi. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.hal 72-88

 

..........

One comment on “Makalah Tentang Intelegensi (Kecerdasan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *