Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

makalah tentang guru Memberi Penguatan dan motivasi belajar

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul Artikel /makalah :  makalah tentang guru  Memberi  Penguatan belajar

Bidang  artikel /makalah  : tugas makalah  pendidikan, artikel pendidikan dan guru

………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

makalah tentang guru  Memberi  Penguatan belajar

Guru Memberi  Penguatan

Penghargaan mempunyai pengaruh positif dalam kehidupan manusia sehari-hari begitu juga dengan siswa, dengan memberikan penghargaan akan mendorong seseorang memperbaiki tingkah laku serta meningkatkan kegiatan usahanya, dan hal tersebut diasumsikan jarang dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar.

Dengan memberikan penghargaan kepada siswa seorang guru dapat dikatakan secara langsung telah memberikan perhatian yang tersendiri bagi siswa yang bersangkutan dan hal tersebut akan mampu membangkitkan dan mempertahan motivasi untuk lebih berprestasi. Disamping itu dengan memberikan penghargaanatau penguatan akan mampu mengontrol atau mengubah sikap yang mengganggu ke arah tingkah laku belajar yang lebih produktif dan tentunya memberikan semangat emosional tersendiri bagi siswa.

 

1.   Pengertian Keterampilan Memberi Penguatan

Ada beberapa pendapat tentang pengertian keterampilan memberi penguatan diantaranya adalah :

a.       JJ. Hasibuan mendefinisikan memberikan penguatan diartikan dengan tingkah laku guru dalam merespons secara positif suatu tingkah laku tertentu  siswa yang memungkinkan tingkah laku tersebut timbul kembali.[1]

b.      Moh Uzer Usman menerangkan arti keterampilan memberi penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik 9feed back) bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi. Atau penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningktkan kemunkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut”.[2]

c.       Made Pidarta menyebutkan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah “Penguatan terhadap individu-individu sehingga dia konsisten dengan tingkah lakunya yang sudah baik serta meningkatkannya menjadi lebih baik”.[3]

d.      A. Mursal dan H.M. Taher menjelaskan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah “Suatu alat pendidikan yang diberikan kepada murid sebagai imbalan terhadap prestasi belajar yang dicapai”.[4]

e.       Sudirman menerangkan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah “Alat pendidikan refresif yang menyenangkan untuk membina tingkah laku yang dikehendaki dengan memberikan pujian, hadiah, tanda penghargaan, pemberian kesempatan untuk melakukan aktivitas yang disenangi oleh siswa”.[5]

f.       Toenlioe mengemukakan bahwa keterampilan memberi penguatan adalah “Pemberian respon terhadap suatu tingkah laku dengan maksud untuk mendorong berulang kembalinya tingkah laku yang direspon tersebut”.[6]

Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa keterampilan memberi penguatan merupakan suatu alat pendidikan yang menyenangkan berupa pujian, hadiah dan tanda penghargaan yang bertujuan untuk memperkuat tingkah laku anak didik yang sudah baik, sukses dalam belajar serta berprestasi yang diberikan sebagai imbalan atas prestasinya. Sehingga, prestasi atau tingkah laku yang baik itu dapat dipertahankan dan ditingkatkan serta akan berulang di masa yang akan datang.

2.   Pembagian Keterampilan memberi penguatan

Dalam kaitannya dengan teori keterampilan memberi penguatan (penguatan) dikenal 2 macam penguatan, yaitu :[7]

a)       Keterampilan memberi penguatan positif (penguatan positif)

Menurut Dalyono keterampilan memberi penguatan positif merupakan penyajian stimulus yang dapat meningkatkan probabilitas suatu respon. [8] Hal ini berarti pemberian sesuatu sebagai stimulus untuk meningkatkan tingkah laku yang sudah terjadi. Pengertian ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Dimyati, yaitu mengartikan keterampilan memberi penguatan sebagai suatu stimulus tertentu yang menyenangkan ditunjukkan atau diberikan sesudah perbuatan dilakukan.[9]

Sedangkan menurut Siti Partini keterampilan memberi penguatan positif adalah suatu penguatan terhadap tingkah laku yang baik yang diberikan berupa pujian, hadiah, tanda penghargaan.[10]

Diantara pendapat yang telah dikemukakan diatas, sebenarnya tidaklah terdapat perbedaan-perbedaan yang prinsipil, hanya saja terdapat variasi dalam pengungkapannya. Maka dari berbagai pendapat tersebut, dapat diambil suatu pengertian bahwa keterampilan memberi penguatan adalah suatu tindakan menyenangkan yang berupa pujian, hadiah untuk memperkuat suatu tingkah laku yang sudah baik dengan harapan tingkah laku tersebut dapat ditingkatkan serta berulang dimasa yang akan datang.

Keterampilan memberi penguatan positif diberikan pada respon yang baik atau yang sesuai dengan harapan, misalnya bila siswa mendapat skor yang tinggi ia berhak menerima pujian, hadiah dan tanda penghargaan. Hal ini sebagai penguat atas tingkah laku siswa yang baik agar siswa yang bersangkutan tetap konsisten dengan tindakannya yang sudah baik itu serta frekuensinya berulang dimasa yang akan datang.

b)      Keterampilan memberi penguatan negatif (penguatan negatif)

Beberapa ahli yang mendefinisikan tentang keterampilan memberi penguatan negatif diantaranya adalah Made Pidarta yang mengemukakan bahwa keterampilan memberi penguatan negatif adalah setiap stimulus yang perlu dihilangkan untuk memantapkan respon yang terjadi. Misalnya tugas yang terlalu berat perlu dihilangkan agar siswa tetap rajin belajar dan pengertian ini dapat diartikan bahwa seorang pendidik sebaiknya menghindari tindakan yang membebani atau memberatkan siswa, karena tindakan ini akan menyebabkan anak didik membenci guru sehingga siswa tidak mempunyai motivasi untuk belajar pelajaran yang diajarkan guru.[11]

Menurut Dalyono keterampilan memberi penguatan diartikan sebagai pembatasan stimulus yang tidak menyenangkan apabila dihentikan akan mengakibatkan probalitas respon.[12] Pengertian yang dikemukakan ini mengandung makna mengenai tindakan guru yang sifatnya tidak menyenangkan murid semisal celaan, sebaiknya dihilangkan karena celaan ini bukannya mendatangkan kebaikan namun akan menimbulkan suatu tindakan yang kurang baik dari seorang siswa.

Bila seorang guru mendapati seseorang yang berbuat tidak baik, tidak perlu memberikan respon yang kurang menyenangkan semisal celaan atau hukuman. Namun untuk membuat anak jera hendaknya para pendidik atau guru menggunakan cara-cara yang dapat menjauhkan anak melakukan perbuatan yang tidak baik dengan menggunakan pendekatan kekeluargaan serta berbentuk persuasif. Apabila seorang pendidik ingin mencegah anak berbuat buruk lebih baik menggunakan cara dengan membiasakan mereka seolah-olah tidak diperhatikan (metode ta’rudh) bukan dengan cara langsung menegurnya dengan keras atau kasar (metode tasrich).[13] Bahkan mereka sebaliknya diperlakukan dengan kasih sayang, karena dengan demikian anak tidak akan selalu berbuat buruk. Menurut Al-Ghozali sebagaimana dikemukakan oleh Abdul Futuh, et.al, menegur secara keras akan mengakibatkan rasa takut dan menimbulkan keberanian menyerang orang lain atau melawan serta mendorong timbulnya keinginan untuk tetap melakukan pelanggaran.[14]

Sedangkan cara yang mendorong untuk ke arah pengertian (metode ta’ridh) atau cara persuasif akan membuat anak cenderung ke arah mencintai kebaikan, dan berfikir kreatif dalam memahami suatu kejadian. Oleh karena itu dengan cara ini anak akan dapat mengambil faedah dari kegemaran berfikir kritis terhadap suatu makna dalam setiap kejadian, bahkan mereka akan senantiasa mencintai ilmu beserta sebab-sebab timbulnya ilmu itu.

Dampak emosional yang sangat menekan jiwa anak akibat hukuman menimbulkan efek yang tidak menyenangkan dan hal ini juga akan menyebabkan perasaan anak didik menjadi beku.

Keterampilan memberi penguatan negatif seperti celaan tugas yang memberatkan anak didik, hendaknya para pendidik dapat menghindarinya. Hal yang perlu dilakukan adalah memberikan dorongan kepada anak dengan pujian dan penghargaan jika anak melakukan perbuatan yang baik. Apabila anak didik berbuat salah, pendidik pura-pura tidak memperhatikan anak tersebut sampai ia merasa malu sendiri dan berusaha untuk menutupi apa yang ia lakukan. Karena hal itu akan menyadarkan dirinya tentang  apa yang ia lakukan, akhirnya ia tidak berani lagi mengulangi perbuatan yang kurang baik itu. Jika ia masih mengulangi perbuatan tersebut guru bisa memberikan peringatan. Namun hukuman sebaiknya tidak sering diberikan karena hal itu akan menjadikan anak menganggap remeh terhadap hukuman serta menjadikan hatinya tidak lagi mampu dinasehati dengan perkataan bahkan dengan hukumanpun masih tidak berhasil. Serta akan menjadikan anak menyepelekan hukuman yang diberikan.

3.   Bentuk-Bentuk Keterampilan memberi penguatan

Keterampilan memberi penguatan sebagai penguatan terhadap tingkah laku siswa yang sudah baik. Hal ini dapat diberikan berupa materi dan non materi. keterampilan memberi penguatan positif berbentuk materi yang diberikan dengan bentuk-bentuk benda atau barang. Sedangkan keterampilan memberi penguatan positif yang berbentuk non materi dapat diberikan berupa kata-kata pujian serta gerakan tubuh dan lain-lain.

Namun untuk lebih jelasnya dalam pembahasan tentang bentuk keterampilan memberi penguatan positif ini maka di bawah ini akan diklasifikasikan sebagai berikut :

a). Keterampilan memberi penguatan berbentuk non materi

Yang termasuk keterampilan memberi penguatan positif berbentuk non materi diantaranya adalah :

1). Keterampilan memberi penguatan verbal (penguatan positif verbal)

Penguatan verbal merupakan penguatan yang berupa komentar yang diucapkan oleh guru karena tingkah laku siswa yang baik atau berhasil dalam belajar. Komentar ini berupa kata-kata pujian, dukungan yang dipergunakan untuk menguatkan tingkah laku siswa yang sudah baik.[15]

Pujian sebagai bentuk penguatan verbal yang diberikan kepada anak didik menunjukkan bahwa seorang pendidikan berkenan dan menghargai perbuatan serta prestasi yang telah dicapai anak didik. Pujian merupakan suatu penguatan yang paling mudah untuk dilaksanakan, karena hanya berupa kata-kata sugesti seperti baik, betul, benar dan lain-lain. Dapat juga berupa kalimat misalnya hasil pekerjaanmu baik sekali. Pujian sebagai bentuk motivasi ekstrinsik harus diberikan secara tepat dan dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan meningkatkan semangat belajar serta sekaligus akan membangkitkan siswa. Hal ini sesuai dengan hukum sebab-akibat dari Torndike sebagaimana disampaikan oleh Sardiman yaitu tentang hubungan stimulus respon akan menjadi kurang erat atau lenyap kalau disertai oleh rasa tidak senang.[16] Jadi pujian, dorongan perlu diberikan secara bijaksana dan secara tepat karena pujian akan mempengaruhi serta dapat mewujudkan tujuan karena pujian dan dorongan dapat menghapus rasa minder atau rasa takut pada anak didik.

2). Keterampilan memberi penguatan non verbal

Penguatan non verbal merupakan penguatan yang berbentuk gerakan tubuh serta mimik muka yang cerah. Diantara penguatan non verbal adalah :[17]

a). Penguatan berupa mimik muka dan gerakan tubuh

Penguatan ini dapat diberikan dengan senyuman, acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam dan lain-lain.

Keterampilan memberi penguatan yang mudah dan ringan untuk diberikan namun lebih dari itu, seyuman, tepuk tangan dan lain-lain dapat menunjukkan besarnya rasa cinta dan sayang serta perhatian pendidik terhadap anak didik.

Sikap cinta dan penerimaan yang baik dari pendidik akan lebih membekas  dalam diri anak, sekaligus akan menimbulkan rasa pecaya diri dan rasa tenang dalam jiwa anak didik serta anak akan berkembang sesuai dengan potensi yang ada.

b). Penguatan dengan cara mendekati

Penguatan dengan cara mendekati bisa dilakukan seorang guru dengan mendekati secara fisik kepada siswa sebagai bentuk perhatian dan rasa tertariknya seorang guru terhadap keberhasilan siswa, contohnya dengan mendekati atau berjalan di dekat siswa, dan lain-lain.

c). Penguatan dengan sentuhan

Guru dapat menyatakan persetujuan dan penghargaan terhadap usaha dan penampilan siswa dengan menepuk bahu siswa, berjabat tangan, merangkul dan lain-lain. Hal ini bisa menjadikan pendidik lebih dakat dengan anak didik.

b.   Keterampilan memberi penguatan Berbentuk Materi

Keterampilan memberi penguatan berbentuk materi dapat diberikan berupa barang atau benda yang ada relevansinya dengan kebutuhan pendidikan, selain itu juga dapat berupa tanda penghargaan. Keterampilan memberi penguatan ini dapat berbentuk:

1.   Hadiah

Yang dimaksud dengan hadiah adalah pemberian yang berbentuk barang seperti alat-alat tulis, bea siswa dan lain-lain kepada anak didik yang berhasil berbeuat baik atau berprestasi dalam belajar. Hadiah ini dapat menjadi motivasi yang dapat membangkitkan semangat bagi yang menerima hadiah tersebut. Namun kadang hadiah dapat merusak jiwa anak didik bilamana hadiah yang diberikan tersebut dapat membelokkan pikiran dan jiwa mereka dari tujuan yang sebenarnya.

Maka seorang guru dalam memberikan hadiah harus bertindak bijaksana dan diberikan secara tepat.

Hadiah diinterpretasikan sebagai bentuk penghargaan diri secara realistis yaitu nilai realistis seorang pendidik terhadap kinerja anak sebagai bukti penerimaan dirinya dalam berbagai ukuran norma yang ada, dan dapat dihayati oleh anak didik. Hal demikian akan menghilangkan perasaan tertekan dan frustasi pada diri anak. Konsistensi anak didik untuk dapat berkembang bebas sesuai dengan potensi pribadi dengan penuh rasa percaya diri.

Apabila hadiah diberikan secara tidak tepat akan berdampak negatif pada diri anak. Karena pikiran anak akan lebih tertumpu pada hadiah yang diberikan dari pada tindakan yang dilakukan. Ketika kegiatan belajar anak hanya bergantung pada ada atau tidaknya hadiah, justru akan mematikan inisiatif dan kreatifitas anak didik. Karena aktualisasi diri anak dilakukan manakala ada hadiah.

2). Tanda penghargaan

Tanda penghargaan sebagai penguat tingkah laku siswa dapat berupa simbol apakah itu berbentuk benda atau tulisan yang ditujukan kepada siswa sebagai penghargaan terhadap suaatu penampilan, tingkah laku atau penghargaan atas hasil kerja siswa. Penguatan tanda (tolen keterampilan memberi penguatan) yang berbentuk tulisan misalnya kometar tertulis terhadap pekerjaan siswa, ijazah, sertifikat, tanda piagam dan lain-lain. Penguatan tanda juga dapat diaktulisasikan dengan memberikan benda misalnya bintang, piala medali dan lain-lain.[18]

3). Pemberian angka atau nilai

Angka atau nilai yang baik sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Nilai yang baik bagi siswa merupakan motivasi yang kuat. Banyak siswa belajar hanya untuk mencapai nilai yang baik pada raport. Namun demikian perlu diingat oleh guru bahwa pencapaian angka yang baik itu belum merupakan hasil belajar yang sejati atu hasil belajar yang bermakna.

Oleh karena itu langkah selanjutnya yang ditempuh oleh pendidik adalah bagaimana cara memberikan angka dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan sehingga tidak sekedar kongkrit saja tetapi psikomotorik dan afeksinya yang tercapai.

4.       Prosedur dalam Pelaksanaan Keterampilan memberi penguatan

Supaya keterampilan memberi penguatan dapat memberikan hasil yagn optimal, maka dalam penggunaan keterampilan memberi penguatan perlu diperhatikan beberapa prosedur dalam pemberian keterampilan memberi penguatan diantaranya adalah :[19]

a.       Pemberian keterampilan memberi penguatan sebaiknya diberikan dengan kehangatan dan keantusiasan.

Kehangatan dan keantusiasan guru dapat tercermin dari mimik muka yang ceria dan kedekatan guru terhadap siswa. Hal ini dapat menandakan rasa kasih sayang dan perhatian guru terhadap murid. Ini bisa dilakukan ketika guru memberikan penguatan terhadap tingkah laku siswa. Keterampilan memberi penguatan ini dilakukan sebagai wujud penghargaan diri kepada anak yaitu pemenuhan kebutuhan akan harga diri yang akan membawa perasaan percaya diri, sehingga dapat memotivasi siswa untuk aktif belajar.[20] Kehangatan dan keantusiasan dalam pemberian keterampilan memberi penguatan dapat menjadikan keterampilan memberi penguatan lebih efektif.

b.      Pemberian keterampilan memberi penguatan harus bermakna

Agar setiap pemberian penguatan menjadi efektif, maka harus dilaksanakan pada situasi dimana siswa mengetahui adanya hubungan antara pemberian penguatan terhadap tingkah lakunya dan melihat, bahwa itu sangat bermanfaat. Pendidik bisa memberitahukan bahwa mereka akan memperoleh hadiah, pujian, ataupun tanda penghargaan manakala anak didik tersebut dapat mencapai prestasi belajar yang baik.

Hal ini bisa menjadi motivasi bagi mereka. Namun perlu diingat bahwasannya anak didik jangan terlalu dimanja, sebab kalau perbuatan itu hanya karena hadiah semata-mata, maka akhirnya anak didik akan berbuat atau bekerja apabila diberi hadiah.

c.       Hindari Pemberian Keterampilan memberi penguatan Negatif

Respon yang negatif dari guru yang berupa komentar bernada menghina, ejekan, kata-kata kasar, sindiran dan yang sejenisnya perlu dihindarkan karena akan mematahkan semangat siswa untuk mengembangkan dirinya. Respon yang negatif akan berdampak tidak baik terhadap psikologis anak didik. Anak didik tidak boleh terlalu sering dihardik atau dicela, karena lama-kelamaan dia menjadi kebal celaan dan hardikan serta tidak ada yang membekas didalam hatinya, sehingga anak tidak mampu dinasehati lagi.

Selain prosedur pemberian keterampilan memberi penguatan yang telah dikemukakan di atas, Nana Sudjana juga mejelaskan prosedur yang harus ditempuh dalam pemberian keterampilan memberi penguatan antara lain :

a)      Menentukan jenis tingkah laku yang dikehendaki, atau menentukan tujuan pemberian keterampilan memberi penguatan.

b)      Menganalisa kemampuan tingkah laku.

c)      Mengidentifikasi hadiah yang sesuai dengan setiap komponen tingkah laku.

d)     Memberikan keterampilan memberi penguatan secara tepat sesuai dengan kebutuhan.[21]

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian penguatan ialah guru harus yakin bahwa siswa akan menghargainya dan menyadari akan respon yang diberikan guru. Pemberian penguatan dapat dilakukan pada saat :

a)      Siswa memperhatikan guru.

b)      Siswa sedang belajar mengerjakan tugas.

c)      Bekerja dengan kualitas yang baik, baik itu dari segi kerapian ketelitian, keindahan dan mutu materi.

d)     Bekerja secara mandiri dalam artian perkembangan pada pengarahan diri sendiri mengelola tingkah laku sendiri dan mengambil inisiatif kegiatan sendiri. [22]

5.   Syarat-syarat Pemberian Keterampilan memberi penguatan

Dalam pelaksanaan pemberian penguatan yang diberikan untuk memotivasi anak didik terdapat beberapa persyaratan sehingga pemberian keterampilan memberi penguatan dapat dilaksanakan secara efektif dan tepat sasaran. Diantara syarat-syarat pemberian keterampilan memberi penguatan adalah :

a.       Untuk memberi keterampilan memberi penguatan yang mendidik perlu sekali guru mengenal anak didik dan tahu menghargai dengan tepat

b.      Keterampilan memberi penguatan yang diberikan hendaknya tidak menimbulkan rasa cemburu atau iri hati kepada anak yang lain. Mengingat keterampilan memberi penguatan hanya diperuntukkan bagi anak didik yang memiliki kemampuan/ prestasi dan berprilaku sesuai dengan kesepakatan sosial. Dari sini dapat diartikan bahwa ada “double standard” pilih-pilih dalam pemberian reward. Sedangkan semua anak didik membutuhkan keterampilan memberi penguatan sebagai bentuk penghargaan dan penerimaan diri anak didik oleh pendidik sesuai dengan batas kemampuannya. Pemberian keterampilan memberi penguatan yang tidak tepat dapat diasumsikan oleh anak didik lain sebagai bentuk pengistimewaan anak tersebut. Hal ini menyebabkan anak didik lain merasa tidak diakui keberadaannya, banyak kekurangan serta tidak memiliki kemampuan untuk dikembangkan. Implikasinya anak menjadi rendah diri, sehingga menghambat kreativitas anak.

c.       Keterampilan memberi penguatan hendaknya tidak terlalu sering diberikan. Terlalu sering memberikan keterampilan memberi penguatan akan menjadikan hilang arti keterampilan memberi penguatan itu sebagai alat pendidikan.

 

 

 

 

d.      Pendidik harus berhati-hati memberikan keterampilan memberi penguatan jangan sampai keterampilan memberi penguatan itu berubah fungsinya sebagai “upah” dari hasil jerih payahnya. [23]

6.   Tujuan Pemberian Keterampilan memberi penguatan

Keterampilan memberi penguatan sebagai salah satu teknik pendidikan yang sering dipergunakan dalam pendidikan, mengandung tujuan atau makna dalam pelaksanaanya. Keterampilan memberi penguatan harus mampu menjadikan anak didik berkembang sesuai dengan fitrahnya, bukan perbudakan otoritas pendidik pada diri anak yang mematikan. Dalam jaringan paedagodis harus berupaya membuat anak mau dan dapat belajar atas dorongan sendiri untuk mengembangkan bakat, pribadi dan potensi secara optimal. Namun selain motivasi dari diri sendiri seorang anak didik juga memerlukan motivasi ekstrinsik yang salah satunya adalah motivasi dari seorang guru.

Pemberian keterampilan memberi penguatan merupakan motivasi ekstrinsik yang diberikan guru. Hal ini merupakan salah satu tujuan pemberian keterampilan memberi penguatan. Untuk lebih jelasnya akan dirinci lebih detail tentang tujuan pemberian keterampilan memberi penguatan diantaranya adalah :

a.    Meningkatkan perhatian siswa dan membantu siswa belajar bila pemberian penguatan digunakan secara selektif.

b.      Memberi motivasi kepada siswa.

c.    Dipakai untuk mengontrol atau mengubah tingkah laku siswa yang menggangu dan meningkatkan cara belajar yang produktif.

e.        Mengembangkan kepercayaan diri siswa untuk mengatur diri sendiri dalam pengalaman belajar.

d.    Mengarahkan terhadap pengembangan berfikir yang berbeda dan pengambilan inisiatif yang besar.[24]

 


[1]JJ. Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2002, hal. 58.

[2]Moh Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, PT. Remaja Rosda Karya,  Bandung, 2002, hal. 80.

[3]Made Pidarta, Landasan Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal. 203.

[4]A. Mursal dan H.M. Taher, Kamus Ilmu Jiwa dan pendidikan, PT. Al-Ma’arif, Bandung, 1979, hal. 50.

[5]Sudirman, Ilmu Pendidikan, Remaja Rosda Karya, Bandung, 1992, hal. 329.

[6]A. Toenlioe, Teori dan Praktek Pengelolaan Kelas, Usaha Nasional Cece Wijaya, Surabaya, hal. 47

[7]Made Pidarta, Landasan Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal. 204.

[8]Dalyono, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal. 162.

[9]Dimyati, Op. Cit, hal. 124.

[10]St. Patini Sudirman, Psikologi Pendidikan Pendidikan, Yogyakarta IKIP, 1991, hal. 76.

[11]Made Pidarta, Op. Cit, hal. 204.

[12]Dalyono, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, hal. 163.

[13]Ali Al Jumbulati Abdul Futuh Al Tuwarisi, Perbandingan Pendidikan Islam, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, hal. 145.

[14] Ibid, hal. 145.

[15] Saiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi edukatif, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2000, hal. 102.

[16] Sardiman A.M., Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, PT Raja Grafindo Persada, jakarta, 2000, hal. 206.

[17]Saiful Bahri Djamarah, Op. Cit, hal. 102.

[18] M. Basyruddin Usnab, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, hal. 10.

[19]J.J. Hasibuan Ibrahim, A.J.E. Toenlioe, Proses Belajar Mengajar Ketrampilan Dasar Mikro, Bandung, Remaja Karya, 1988, hal. 59.

 

[20]Jamaluddin Ancok, Membangun Paradigma Psikologi Islam,  Press, Yogyakarta, 1994, hal. 78.

[21]Nana Sudjana, Teknologi Pengajaran, Sinar Baru, Bandung, hal. 38.

[22]Syaiful Bahri Djamaroh, Guru dan Anak Didik, Rineka Cipta, 2000, hal. 101.

[23]Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan (Teoritis dan Praktis), Remaja Rosda Karya, Bandung, 1988, hal. 231.

 

[24]Made Pidarta, Landasan Kependidikan (Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia), Rineka Cipta, 1997, hal. 268.

 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*