Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah Pondok Pesantren dan Masyarakat

Pesantren dalam Perubahan Masyarakat

Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : kurikulum pendidikan pesantren
data post: Perkuliahan.com. edition of : 184

Dalam makalah ini setidaknya untuk menjawab beberapa pertanyaan : apa pengaruh pesantren terhadap masyarakat, perubahan sosial dan ponpes, apa hubungan masyarakat indonesia dengan pondok pesantren, hubungan masyarakat dan pesantren di Indonesia?

Perubahan masyarakat terjadi setiap waktu berkenaan dengan proses tingkah laku anggota-anggota masyarakat (pedesaan ataupunkota).

Perubahan yang terjadi dalam masyarakat sangat mempengaruhi perkembangan budaya setempat. Adapun kehadiran pesantren di tengah-tengah masyarakat ikut memberikan macam-macam corak dalam masyarakat sekitarnya. Karena pada awal berdirinya pesantren telah didukung masyarakat sehingga perubahan yang terjadi di masyarakat pun akan melibatkan keberadaan pesantren.

Perubahan masyarakat berjalan secara kontinyu dan berkesinambungan.Adayang berubah secara cepat, ada juga yang berubah secara lambat sehingga terkesan statis. Memahami perubahan sosial sangat penting bagi masyarakat, terutama generasi muda yang sedang mengembangkan ilmu pengetahuan untuk siap menjadi pewaris perjuangan bangsa. Memang dalam kehidupan intelek dan juga hubungan antar masyarakat, ada prinsip-prinsip dasar yang hampir tidak mengalami perubahan. Perubahan tersebut bersifat menyempurnakan. Dari prinsip-prinsip dasar itu seperti aqidah atau pendidikan agama Islam (syariat, akhlak, dsb.)

Pendidikan Islam yang diterapkan di pesantren harus mampu mensikapi dapat memerangi dan mengatasi perubahan sosial dan kebudayaan yang ada di masyarakat. Pendidikan Islam yang bersumber dari Al-Quran, seyogyanyalah mampu melahirkan manusia yang mencapai kesuksesan di dunia dan akherat.

Pada tahun 2000 lalu sudah banyak orang Indonesia yang meramalkan pengaruh dan akibat dari pertambahan penduduk, perubahan struktur ekonomi dan sosial yang ditimbulkan dari adanya dikotomi ilmu pengetahuan, dekadensi moral sebagai akibat dari perkembangan ilmu dan teknologi.

Makin dinamisnya kebangkitan Islam yang akan menimbulkan berbagai perbedaan pemikiran, pendapat serta penafsiran yang akhirnya melahirkan berbagai masalah dan konflik sosial sebagai akibat perubahan zaman, sosial dan budaya.[1]

 

Peran pesantren dalam kultur masyarakat dapat mengarahkan tujuan perubahan itu ke masa depan yang lebih baik daripada kehidupan masyarakat sebelumnya sehingga perubahan masyarakat berpengaruh positif bagi pertumbuhan zaman, sosial dan budaya. Berangkat dari pesantren sebagai lembaga masyarakat yang berorentasi  kepada manusia yang sempurna dalam pandangan agama Islam, maka gejala ini dapat dirumuskan sebagai santrinisasi Islam.[2]

Karena kata santri memberi muatan kepada istilah pesantren sedangkan pesantren sendiri mengacu kepada ajaran Islam maka dapat diartikan juga sebagai penyantren – mengambil istilah dari Madura – membina manusia dengan nilai-nilai Islam.

Pesantren juga sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional dalam membentuk menusia muslim yang baik dan sholeh. Oleh karena itu lembaga pendidikan Islam ini berusaha untuk mewujudkan suasana yang melingkunginya dalam pesantren.[3] Hal ini dilihat dari unsur-unsur tradisi pesantren, apakah sifat khas lembaga ini masih bisa dipertahankan dalam lembaga pendidikan Islam modern tersebut.[4]

Pondok pesantren telah ada dan tumbuh di Indonesiadalam waktu yang panjang. Selama itu pula ia telah ikhlas dan tekun mengabdikan dirinya kepada masyarakat. Untuk masa mendatang peran pesantren masih dapat diperbesar dan diperluas sebagai lembaga pendidikan, lembaga ilmu pengetahuan dan lembaga sosial.[5]

Pengaruh globalisasi yang berdampak merusak moral manusia membuat dunia terasa menjadi kecil dan transparan. Hampir tidak ada rahasia suatu negara yang tidak diketahui oleh negara lain. Apa yang terjadi disuatu negara saat ini, hari ini juga diketahui oleh negara lain. Dunia benar-benar menjadi semakin kecil. Begitu dramatisnya kekuatan yang dihasilkan oleh globalisasi, sampai-sampai menjungkirbalikkan orientasi kehidupan dan orientasi lama menjadi baru.

Tantangan semacam itu adalah pengaruh tidak langsung dari pandangan dunia pesantren yang bercorak sufistik. Ketidakmampuan mengakses pengaruh budaya modern sebagai pijakan untuk memahami ajaran-ajaran Islam secara komprehensif dan didukung oleh tingkat kemiskinan sosial budaya masyarakat agraris yang relatif tinggi. Ketidakmampuan pesantren untuk mengakses pengaruh budaya modern membawa dampak terhadap paradigma Islam yang ditawarkannya.

Pemahaman mereka tentang teks-teks suci Al-Quran dan sunnah cenderung “kaku” dan kurang memperhatikan perkembangan ilmu-ilmu       modern.[6]

Kuntowijoyo berharap, pemahaman ajaran agama (Islam) hendaknya dijadikan sebagai sebuah proses yang di dalamnya terdapat makna-makna transendental diterjemahkan dalam praksis sosial. Dengan demikian melalui lembaga-lembaga yang memperjuangkannya, agama tidak akan meninggalkan dan lebih-lebih ditinggalkan masyarakatnya.[7]

 

Terjadinya transformasi masyarakatIndonesiadari masyarakat agraris menjadi masyarakat industrialis memunculkan berbagai macam jenis jabatan dan pekerjaan. Hal ini sering menimbulkan berbagai benturan antara nilai-nilai sosial yang sudah melekat di masyarakat dan nilai-nilai baru.

Globalisasi menyebabkan persaingan antar bangsa diberbagai bidang., baik politik, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Hanya bangsa-bangsa yang unggul dalam ekonomi dan penguasaan IPTEK saja yang bisa mengambil manfaat besar dari globalisasi ini.

Dari pesantren ingin selalu mengembangkan kurikulum pendidikan agar lebih unggul  bila dibanding dengan lembaga pendidikan lainnya. Dikatakan pesantren dapat mencapai kesejahteraan duniawinya sekaligus akhiratnya.



[1]Antisipasi pendidikan Islam dan perubahan sosial menjangkau tahun 2000, Soeroyo dalam Muslih Musa, Pendidikan Islam di Indonesia, PT Tiara Wacana Yogya,Yogyakarta, 1991, hlm. 43 – 45

[2]Ibid., hlm. 206

[3]Ibid., hlm. 15 – 18

[4]Ibid., hlm. 206

[5]Op. Cit., hlm. 94

[6]Mastuhu, Op. Cit.,  hlm. 130

[7]Septy Gumiandari, Transformasi Pesan Santri Vis-à-vis Hegemoni Modernitas dalam Pesantren Masa Depan, Pustaka Hidayah, Bandung, Cet. I, 1999, hlm. 117

Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : kurikulum pendidikan pesantren

Category: Artikel Islam

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*