Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah Perkembangan Kepribadian Siswa

Judul postingan : Perkembangan Kepribadian Siswa 
Bidang  postingan  :Pendidikan dan Psikologis, kepribadian dan pembelajaran
next Post :  Bagaimana Cara Berpidato yang baik dan benar

A. Perkembangan Kepribadian Siswa

1. Pengertian Perkembangan Kepribadian

Kepribadian adalah sebuah konsep yang sangat sukar dimengerti dalam psikologi, meskipun istilah ini digunakan sehari-hari. Kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak (ma’nawiyah), sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan. Misalnya dalam menghadapi setiap persoalan atau masalah, baik yang ringan maupun yang kuat.[1]

Orang awam dengan mudah mengatakan bahwa seseorang itu punya kepribadian baik, kuat dan menyenangkan, sedangkan ada pula orang yang mengatakan bahwa mempunyai kepribadian lemah, tidak baik atau buruk dan sebagainya. Sehingga dengan kata lain pribadi atau kepribadian itu dipakai untuk menunjukkan adanya ciri-ciri khas yang ada pada seseorang.

Karena tiap-tiap kepribadian adalah unik, maka sukar sekali dibuat gambaran yang umum tentang kepribadian. Yang dapat kita lakukan adalah mencoba mengenal seseorang dengan mencoba mengetahui struktur kepribadiannya. Struktur kepribadian ini dapat diketahui melalui pemeriksaan terhadap sejarah hidup, cita-cita dan perasaan-perasaan yang dihadapi seseorang. Pandangn konvergensi mengatakan kepribadian seseorang pada suatu saat (misalnya pada saat sedang diperiksa) adalah produk (hasil) dari suatu proses yang dimulai pada saat orang itu lahir dengan membawa bakat-bakatnya yang berlangsung terus melalui pengalaman sampai pada saat tersebut.[2] Dalam pemeriksaan psikologis, kita mencoba untuk menganalisis dan membuat kesimpulan-kesimpulan dari riwayat hidup seseorang melalui wawancara dan hasil psikotesnya, sehingga kita dapat mencoba mengenal seseorang dengan baik dan tepat.

Untuk mengetahui lebh jelas bagaimana perkembangan kepribadian manusia, ada beberapa ahli yang berpendapat tentang perkembangan kepribadian yaitu sebagai berikut :

  1. Freud berpendapat bahwa kepribadian sebenarnya pada dasarnya telah berbentuk pada akhir tahun kelima dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar itu.[3] kesimpulan yang demikian itu diambilnya atas dasar pengalaman-pengalamannya dalam melakukan psikoanalisis. Freud beranggapann bahwa kanak-kanak adalah ayahnya manusia (the child is the father of man).

Dalam menyelidiki masa anak-anak ini, Freud tidak langsung menyelidiki, akan tetapi membuat rekonstruksi atas dasar ingatan orang dewasa mengenai masa kanak-kanaknya. Kepribadian itu berkembang dalam hubungan dengan 4 macam sumber tegangan pokok, yaitu :

1)      Proses pertumbuhan psikologis.

2)      Frustasi.

3)      Konflik.

4)      Ancaman.

Dari 4 sumber tegangan mengalami peningkatan ketegangan, maka orang harus terpaksa belajar cara baru untuk mereduksi tegangan tersebut. Belajar yang menggunakan cara baru dalam mereduksi ini adalah yang disebut sebagai perkembangan kepribadian.

  1. Jung dalam pembahasannya tentang perkembangan kepribadian, dia lebih suka berbicara tentang perkembangan umat dan manusia. Orang-orang menuju ke taraf yang lebih sempurna.[4] Jung yakin bahwa manusia selalu maju atau mengejar kemajuan, dari taraf perkembangan yang kurang sempurna ke taraf yang lebih sempurna. Juga manusia sebagai jenis makhluk selalu menuju taraf diferensiasi yang lebih tinggi. Adapun tujuan yang harus ditempuh itu dapat disimpulkan sebagai aktualisasi diri yang berarti diferensiasi sempurna dan saling hubungan selaras seluruh aspek kepribadian manusia.
  2. Menurut Lewin hakekat perkembangan adalah perubahan-perubahan tingkah laku (behavioral changes).[5]

1)      Perkembangan berarti perubahan di dalam variasi tingkah laku.

2)      Perkembangan berarti perubahan dalam organisasi dan struktur tingkah laku.

3)      Perkembangan berarti bertambah luasnya arena aktivitas.

4)      Perkembangan berarti makin terdiferensiasinya tingkah laku.

5)      Perkembangan berarti perubahan dalam taraf realitas.

6)      Perkembangan berarti diferensiasi dua stratifikasi.

  1. Menurut Murphy usaha utamanya adalah untuk merumuskan hipotesis-hipotesis yang cukup tepat namun cukup merangkum mengenai bagaimana kepribadian itu berkembang.[6]

Murphy menggambarkan perkembangan itu di dalam fase-fase perkembangan.[7] Secara garis besar ada 3 fase perkembangan yaitu :

1)      Fase keseluruhan tanpa diferensiasi, individu berbuat lebih sebagai keseluruhan terhadap keseluruhan situasi. Hal ini dapat disaksikan pada babi.

2)      Fase diferensiasi, fungsi-fungsi khusus mengalami diferensiasi dan muncul dari keseluruhan.

3)      Fese integrasi, fungsi-fungsi yang sudah mengalami diferensiasi itu diintegrasikan dalam suatu unitas yang berkoordinasi dan terorganisasi.

Dalam pengertian itu perkembangan kepribadian, dapat dikatakan bahwa suatu perkembangan kepribadian adalah perubahan jiwa dalam hal ini adalah perilaku seseorang secara terus menerus dengan mengalami berbagai kekurangan atau menjadikan lebih sempurna di dalam kehidupan individu sesuai dengan berjalannya masa.

  1. 2.      Proses Perkembangan Kepribadian

Sebelum membahas tentang proses perkembangan kepribadian, maka terlebih dahulu penulis jelaskan tentang pengertian perkembangan dan pengertian kepribadian.

  1. Perkembangan

Berarti masalah perkembangan sering kali tidak dapat dilepaskan dari masalah pertumbuhan. Keduanya memang memiliki kesamaan dan ada hubungannya. Suatu pertumbuhan pada akhirnya akan “selesai” semua organisme mencapai fisik murni, namun perkembangan berlangsung terus menerus sepanjang hayat.

Dengan demikian, maka perkembangan adalah merupakan suatu proses terjadinya perubahan-perubahan psikologis (sifat-sifat khas) secara terus menerus menuju ke suatu arah yaitu organisasi atau struktur tingkah laku pada tingkat integrasi yang lebih tinggi melalui proses belajar.[8]

  1. Kepribadian

Mendefinisikan kepribadian sebenarnya bukan hal yang mudah karena kepribadian merupakan sesuatu yang abstrak. Disini penulis akan mencoba untuk mengemukakan beberapa pengertian kepribadian sebagai berikut :

1)   G.W. Allport berpendapat “Personality is the dynamic organization within the individual of those psychophycal sistem, that determines his unique adjusment to his environment”. Artinya : personaliti itu adalah suatu organisasi psichophysis yang dinamis dari pada seseorang yang menyebabkan ia dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.[9]

2)      May berpendapat bahwa “kepribadian adalah suatu aktualisasi dari proses hidup dalam seorang individu yang bebas, terintegrasi dalam masyarakat dan memiliki satu perasaan cemas dalam batin, yang berhubungan dengan religiusitas.[10]

3)      Pengertian kepribadian menurut Withington adalah “Kepribadian adalah keseluruhan tingkah laku seseorang yang diintegrasikan, sebagaimana yang nampak pada orang lain. Kepribadian ini bukan hanya yang melekat dalam diri seseorang tetapi lebih merupakan hasil dari pada suatu pertumbuhan yang lama suatu kulturil.[11]

4)      Kepribadian adalah dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik (khas) dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungannya.[12]

Dari uraian tentang pengertian kepribadian di atas dapat disimpulkan bahwa kepribadian yaitu suatu organisasi yang unik (khas) pada diri setiap individu yang ditentukan atau dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan dan lingkungan, sehingga menjadi penentu atau pengaruh tingkah laku.

  1. Tentang Proses Perkembangan Kepribadian

Perkembangan kepribadian seseorang mengalami suatu tahapan-tahapan yang diawali dari struktur fisik yang tumbuh dan berkembang. Bersamaan dengan itu berkembang pula tingkat kecerdasan atau kebodohan psikis individu menentukan penyesuaian diri di lingkungan kepemilikan bakat akan mempengaruhi tendensi bertingkah laku.[13]

Hal yang bisa mempengaruhi proses perkembangan kepribadian adalah dari adanya emosi kepribadian yang berhubungan dengan kejiwaaan seseorang. Di samping itu adanya lingkungan sebagai pembentuk pola tingkah laku, juga pengaruh rumah serta pengalaman di sekolah. Adapun kepribadian adalah tingkah laku yang berarti moral alam diri seseorang yang dapat mencerminkan baik suatu individu. Dapat dikatakan bahwa kepribadian individu itu berakar pada kemampuan fisik dan psikisnya karena faktor-faktor biologis itu berinteraksi dengan pengaruh sosial atau lingkungan, kemudian terjadi pola kepribadian dengan tingkah laku diatur atau ditentukan oleh adanya kekuatan ciri-ciri tertentu.[14]

Proses diartikan sebagai runtutan perubahan yang terjadi dalam perkembangan sesuatu. Adapun maksud proses dalam perkembangan anak adalah tahapan-tahapan perubahan yang dialami seorang anak baik jasmaniah maupun rohaniah.[15]

Proses perkembangan kepribadian anak adalah :

1) Pendidikan langsung yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku sebagai pribadi yang sudah dan benar atau baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya dan hal yang penting adalah keteladanan itu sendiri.

2)   Identifikasi yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku seseorang yang menjadi idolanya.

3)   Proses coba-coba (trial and error) yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral semacam coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikan.[16]

Dalam proses pembentukan kepribadian seorang remaja, hal yang paling mempengaruhi adalah sekolah. Pentingnya sekolah dalam memainkan peranan didiri siswa dapat dilihat dari realita sekolah sebagai tempat yang harus dihadiri setiap hari. Sekolah memberi pengaruh kepada anak secara dini seiring dengan masa perkembangan konsep diri, anak-anak menghabiskan waktu lebih banyak di sekolah dari pada di rumah. Di samping itu sekolah memberi kesempatan siswa untuk meraih sukses serta memberi kesempatan pertama kepada anak untuk menilai dirinya dan kemampuannya secara realistik.[17]

Adapun proses perkembangan kepribadian sebagai runtutan atau tahapan awal dalam pencapaian sempurnanya jiwa yang dilakukan dengan menilai dari pembentukan akhlak terlebih dahulu yang mewujudkan ketaqwaan terhadap Tuhan.

  1. 3.      Aspek-aspek Kepribadian

Para pakar ilmu jiwa mengatakan bahwa aspek kepribadian manusia ada tiga yaitu kejasmanian, aspek kejiwaan dan aspek keharmonisan yang luhur.[18]

  1. Aspek Kejasmanian

Meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar.

1)   Yang dikerjakan oleh lesan, seperti membaca Al-Qur’an, mempelajari ilmu yang bermanfaat dan mengerjakannya.

2)   Yang dikerjakan oleh anggota tubuh lain, seperti berbakti kepada orang tua, memnuhi kebutuhan, sholat, puasa, menetapkan suatu berdasarkan musyawarah, memenuhi peraturan, menghormati orang lain dan sebaginya.

  1. Aspek kejiwaan

Meliputi aspek-aspek yang tidak dapat dilihat dan tidak ketahuan dari luar. Seperti : mencintai Allah SWT dan Rosul, mencintai dan memberi karena Allah SWT, ikhlas dalam beramal, sabar tidak sombong, pemaaf, tidak mendendam, tawadhu’ dan lain-lain.

  1. Aspek kerohanian yang luhur

Meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filsafat hidup dan kepercayaan, meliputi sistem nilai-nilai yang telah meresap di dalam kepribadian yang mengarah dan memberi corak sebuah kehidupan individu. Bagi yang beragama aspek inilah yang menentukan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Yoesoef Noessyirwan (1978) menganalisis kepribadian ke dalam empat daerah bagian atau aspek, yaitu :

a.    Vitalitas sebagai konstanta dari semangat hidup pribadi.

b.   Temperamen sebagai konstanta dari warna dan corak pengalaman pribadi serta cara bereaksi dan bergerak.

c.    Watak sebagai konstanta dan hasrat, perasaan dan kehendak pribadi mengenai nilai-nilai.

d.   Kecerdasan, bakat, daya nalar sebagai konstanta kemampuan pribadi.[19]

  1. 4.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Kepribadian

Andi Mappiare mengatakan bahwa kepribadoian terbentuk dari tiga faktor yaitu pembawaan (hereditas), lingkungan dan citra diri (self concept).[20]

  1. Pembawaan (hereditas)

Pembawaan ialah segala sesuatu yang telah dibawa oleh anak sejak lahir, baik yang bersifat kejiwaan maupun yang bersifat keturunan.[21] Anak merupakan warisan dari sifat-sifat pembawaan orang tuanya yang merupakan potensi tertentu.

Beberapa ahli ilmu pengetahuan menekankan pentingnya faktor keturunan ini bagi pertumbuhan fisik, mental maupun sifat kepribadian yang diinginkan.[22]

1)      Pertumbuhan fisik

Seorang anak yang kuat dan sehat lebih beruntung dibanding dengan anak yang kecil dan ringkih, ia lebih banyak mengikuti aktivitas-aktivitas sesuai dengan tahap perkembangannya. Kegiatan-kegiatan tersebut memberikan pengalaman baginya yang merupakan modal dasar bagi perkembangannya.[23] Sedangkan seorang anak yang struktur tubuhnya lebih atau kurang dari temannya, misalnya terlalu gemuk, terlalu tinggi, terlalu pendek, terlalu kurus akan menjadi objek gangguan dan cemoohan tema-teman, hal tersebut dapat mempengaruhi pembentukan sikap dan kepribadiannya.

2)      Kemampuan mental dan bakat khusus

Seorang anak yang pandai pada umur yang muda sudah dapat mengenal hubungan antara dirinya dan benda-benda lingkungannya. Sesuai dengan cara bagaimana seorang anak sejak kecil dianjurkan untuk mengadakan penyesuaian yang pantas, maka ia juga akan cepat mengerti bentuk penyesuaian yang tepat yang seimbang dengan masa kematangan dan tuntutan yang dihadapinya.

  1. Lingkungan

Faktor lingkungan yang ikut mempengaruhi terbentuknya kepribadian terdiri dari lingkungan bersifat sosial dan lingkungan fisik.

Yang dimaksud lingkungan sosial ialah lingkungan yang terdiri dari sekelompok individu (group) interaksi antara individu tersebut menimbulkan proses sosial dan proses ini mempunyai pengaruh yang penting dalam perkembangan pribadi seseorang dengan pendidikan lingkungan sosial yang disebut pergaulan erat dengan seseorang berupa tingkah laku, sikap, mode pakaian atau cara berpakaian dan sebagainya.

Lingkungan fisik (alam) mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pribadi seseorang. Yang dimaksud lingkungan alam disini adalah segala sesuatu yang ada di sekitar anak selain individu dan benda-benda kebudayaan antara lain keadaan geografis dan klimatologis. Anak yang dibesarkan di daerah pantai akan lain dengan anak yang dibesarkan di daerah pegunungan.

Meskipun kebudayaan mempunyai pengaruh terhadap kepribadian seseorang, namun kadar pengaruhnya berbeda menurut umur dan fase pertumbuhan.

Faktor lingkungan yang paling berperan dalam perkembangan kepribadian adalah rumah, sekolah dan teman sebaya.[24]

1)   Rumah

Rumah adalah lingkungan pertama yang berperan dalam pembentukan kepribadian. Bebrapa sifat lingkungan rumah yang memungkinkan anak membentuk sifat-sifat kepribadian adalah kesediaan orang tua menerima anak sebagai anggota keluarga, adanya sikap demokratis, keadaaan ekonomis yang serasi, penyesuaian yang baik antara ayah dan ibu dalam pernikahan dan penerimaan sosial para tetangga terhadap keluarga.

Keadaan rumah yang sederhana, bersih, rapi, dimana anak mendapat makanan yang sehat dan anggota keluarga bersikap sedemikian rupa, sehingga memberi rasa aman kepada anak, inilah yang akan membantu perkembangan kepribadian anak ke arah terbentuknya kepribadian yang harmonis dan wajar.

2)      Sekolah

Sekolah adalah tempat dimana anak dapat belajar dan menimba ilmu. Lingkungan sekolah yang bersih, rapi akan membantu anak belajar dengan tenang dan nyaman. Disamping itu hubungan antara siswa dengan guru, dan hubungan antara siswa dengan lingkungan sekolah lainnya perlu dijaga karena hal tersebut dapat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak.

3)      Teman sebaya

Baik di sekolah maupun di luar sekolah kepribadian anak banyak dipengaruhi oleh teman sebayanya. Dalam lingkungan sekolah anak belajar bermain dengan anak lain, belajar bekerjasama dengan anak lain. Anak dan remaja berusaha mencapai realisasi diri melalui keberhasilan, ia harus melebihi hasilnya sendiri untuk dapat maju dan harus dapat menyayangi orang lain juga. Cara-cara yang memberikan keberhasilan dalam persaingan dalam hubungan dengan teman sekolah, akan dipakainya dalam kompetisi selanjutnya. Kebiasaan ini akan berlangsung terus dalam integrasi kepribadian pada masa dewasa.[25]

Dari kedua faktor di atas, faktor lingkungan dan keturunan sangat berpengaruh bagi perkembangan kepribadian anak. Faktor keturunan pada umumnya lebih kuat pengaruhnya pada tingkat bayi, sedang faktor lingkungan lebih besar pengaruhnya apabila insan telah meningkat dewasa.[26]

  1. Citra diri (self concept)

Faktor yang tidak kalah penting dalam memahami perkembangan kepribadian anak ialah self concept (citra diri) yaitu kehidupan kejiwaan yang terdiri atas perasaan, sikap pandang, penilaian, dan anggapan yang semuanya akan terpengaruh dalam keputusan tindakan sehari-hari.

Seseorang dengan citra dirinya menilai dirinya sendiri dan menilai lingkungan sosial.[27] Moral sebagian standart yang muncul dari agama dan lingkungan sosial, memberi konsep-konsep yang baik dan buruk, patut dan tidak patut secara mutlak, akan tetapi seseorang tidak begitu saja menerima melainkan dipertentangkan dengan citra diri yang dimilikinya.

Pengaruh lingkungan dan pembawaan dalam terbentuknya kepribadian seseorang, keduanya saling berkait dan melengkapi satu sama lain tanpa mengabaikan self concept yakni bagaimana seseorang menggunakan potensi yang dimiliki danlingkungannya, karena self concept mempunyai pengaruh yang besar untuk menginterprestasikan kuatnya daya pembawaan dan kuatnya daya lingkungan.

Terbentuknya kepribadian seseorang membutuhkan waktu yang panjang, berangsur-angsur dan kontinue dari bayi hingga mati. Pembentukan sekaligus pembinaan kepribadian individu haruslah terus menerus dibentuk dan dibina secara baik dan wajar menuju kepribadian yang ideal. Untuk mencapai kepribadian yang ideal diperlukan lingkungan yang kondusif dan menuntut adanya kesediaaan, keterbukaan individu terhadap gagasan pengalaman-pengalaman baru.

B.     Hubungan Antara Pola Asuh Orang Tua Otoriter dengan Perkembangan Kepribadian Siswa

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.[28]

Berdasarkan peneltiian yang dilakukan oleh Hirschi dan Selvin (1967) sebagaimana dikutip oleh Dadang Hawari menujukkan bahwa kepribadian orang tua sangat mempengaruhi perkembangan jiwa anak. bila salah seorang atau kedua oang tua mempunyai kelainan kepribadian orang tua mempunyai kelainan kepribadian, maka presentase kenakalan anak akan jauh lebih tinggi daripada kalau kedua orang tua tidak mempunyai kelainan kepribadian.[29]

Pola tingkah laku pikiran dan sugesti ayah ibu dapat mencetak pola yang hampir sama pada anak-anak. Oleh karena itu, tradisi, kebiasan sehari-hari, sikap hidup, cara berfikir dan filsafat hidup keluarga itu sangat besar sekali pengaruhnya dalam proses pembentuk tingkah laku dan sikap anggota keluarga terutama anak-anak. sebab tingkah laku orang tua itu mudah sekali menular kepada anak-anak, khususnya mudah dioper oleh anak-anak puber dan adolensens yang jiwanya belum stabil dan tengah mengalami banyak gejolak batin.[30]

Misalnya, temperamen ayah yang agresif meledak-ledak, suka marah-marah, sewenang-wenang, tidak hanya akan mentransformasikan efek temperamennya saja, akan tetapi juga menimbulkan iklim yang mendemoralisir secara psikis di tengah keluarga. Jika anak diperlakukan oleh kedua orang tuanya dengan perlakuan yang kejam, didikan dengan pukulan yang keras atau sekedar penghinaan dan ejekan, maka yang akan timbul ialah reaksi negatif yang tampak pada perilaku dan akhlak anak.[31] Mereka yang dibesarkan dengan disiplin militer yang keras, besar kemungkinan akan tumbuh dengan kepribadian kaku dan keras.[32]

Perkembangan kepribadian anak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor yang berasal dari dalam misalnya: faktor-faktor yang berhubungan dengan konstitusi tubuh, struktur tubuh dan keadaan fisik, koordinasi motorik, kemampuan mental dan bakat khusus dan emosionalitas. Sedangkan faktor dari luar adalah lingkungan seperti ; rumah, sekolah dan teman sebaya.

Berdasarkan pemikiran di atas jelaslah bahwa pola asuh orang tua otoriter mempunyai hubungan dan berpengaruh kuat terhadap perkembangan kepribadian siswa.

 

Untuk Fotnote tersambung dari postingan sebelumnya yaitu : ORANG TUA OTORITER DAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN SISWA



[1]Zakiah Daradjad, Kepribadian Guru, Bulan Bintang, Jakarta, 1978, hlm. 13.

[2]Ahmad Fauzi, Psikologi Umum, CV. Pustaka Setia, Bandung, 1999, hlm. 164.

[3]Sumadi Suryabrata, Psikologi Kepribadian, Rineka Cipta, Jakarta, 1982, hlm. 140.

[4]Ibid, hlm. 177.

[5]Ibid, hlm. 270.

[6]Ibid, hlm. 350.

[7]IKIP Semarang, Psikologi Perkembangan, Semarang, IKIP Semarang Press, 1989, hlm. 7.

[8]Syamsu Yusuf LN, Op.cit, hlm. 8.

[9]Agus Sujanto, Psikologi Kepribadian, Bumi Aksara, Jakarta, 1989,hlm. 11.

 [10]Ina Sastrowardoyo, Teori Kepribadian, Bumi Aksara, Jakarta, 1991, hlm. 36.

[11]Dakir, Dasar-Dasar Psikologi, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1993, hlm. 143.

[12]WA. Gerungan, Psikologi Sosial,  PT. Eresco, Bandung, 1988, hlm. 26.

 [13]Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1999, hlm. 233-235.

[14]Ibid, hl. 238.

[15]Ibid, hlm. 48.

 [16]Syamsu Yusuf LN, Op.cit, hlm. 134.

[17]Ibid, hlm. 95.

[18]Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1986, hlm. 67.

[19]Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, Sinar Baru, Bandung, 1991, hlm. 69.

[20]Andi Mappiare, Psikologi Remaja, Usaha Nasional, Surabaya, 1982, hlm. 67.

 [21]Agus Sujanto, Psikologi Kepribadian, Bumi Aksara, Jakarta, 1999, hlm. 5.

 [22]Tim Dosen FIP IKIP Malang, Pengantar Dasar-Dasar Kepribadian, Usaha Nasional, Surabaya, 1981, hlm. 108.

[23]Singgih D. Gunarsa, Op.cit, hlm. 70.

[24]Ibid, hlm. 75.

[25]Ibid, hlm. 78.

[26]Omar Al-Toumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1979, hlm. 137.

[27]Andi Mappiare, Op.cit, hlm. 68.

[28]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 1996, hlm. 35.

[29]Dadang Hawari, Psikiater Al-Qur’an Ilmu Kedokteran Jiwa dan Kesehatan Jiwa, PT. Dana Bhakti Primayasa, Yogyakarta, 1997, hlm. 196.

[30]Kartini Kartono dan Jenny Andari, Hygiene Mental dan Kesehatan Mental dalam Islam, Mandor Maju, Bandung, 1989, hlm. 167.

[31]Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak dalam Islam, Pustaka Amani, Jakarta, 1992, hlm. 134.

 [32]Trawadi Istadi, Op.cit, hlm. 16.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*