Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

makalah PERANAN dan fungsi TASAWUF

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul Artikel /makalah :  makalah PERANAN dan fungsi TASAWUF

Bidang  artikel /makalah  : tugas makalah  pendidikan, artikel pendidikan dan guru

……………………………………………………………………………………

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM III PERANAN TASAWUF DAN FUNGSI

 Oleh:

Handi Candra K.P

Dosen Pengampu:

M. Sukarjo, H., Drs., M. Ag.

  Program Studi Tehnik Arsitektur Tahun 2008 – 2009 Fakultas Tehnik Dan Ilmu Komputer

Universitas Sains Al Qur’an Di Wonosobo

 

Puji syukur kami panjatkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugrahkahkan kepada kami anugrah berupa kenikmatan dan keehatan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami denagan sebaik – baiknya.

Esensial tasawuf sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Namun tasawufsebagai ilmu keislaman yang merupakan hasil dari kebudayaan Islam sebagaimana bentuk dari ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti fiqh, dan ilmu tauhid.

Namun diIndonesia sendiri baru dikenal kira – kira pada abad ke – 13. Sejalan dengan masuknya islam ke Indonesia. Pada masa itu pulalah mulai berkembang kelompok-kelompok masyarakat Islam.

Diahir kata sebagai insan kami tak luput dari kehilafan, kekurangan dalam penyusunan makalah kami, maka kami memohon maaf yang sebesar – besarnya dan bila berkenan mengharapan pula adanya kritik dan saran dari para pembaca sekalian.

 

Wassalamu’alaikum wr.wb

 

II. PEMBAHASAN   

 Esensi tasawuf telah ada sejak masa Rasulullah SAW. Namun tasawuf sebagai ilmu keislaman yang merupakan hasil dari kebudayaan Islam sebagaimana bentuk dari ilmu-ilmu keislaman lainnya, seperti fiqh, dan ilmu tauhid. Pada masa Rasulullah SAW belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat Nabi SAW.

Secara etimologis, kata tasawuf berasal dari bahasa Arab, yang diperdebatkan asal atau akar katanya. Ada yang mengatakan dari shuf ( صوف ) yang artinya wol kasar, shafa ( صفى ), yang artinya bersih dan suci, shoff ( صفّ ), yang artinya barisan, karena orang yang salat di barisan pertama mendapatkan kemulyaan dan pahala.

Secara terminologis banyak ulama yang mengemukakan definisi tasawuf. Namun yang jelas ia berarti keluar dari sifat-sifat tercela menuju ke sifat-sifat terpuji melalui proses binaan yang dikenal dengan istilah riyadlah (latihan) dan mujahadah (bersungguh-sungguh). Sedangkan menurut Prof. Dr. HM Amin Syukur, inti tasawuf ialah kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung antara manusia dengan Tuhannya.2 Tasawuf di sini adalah usaha bagaimana seseorang membersihkan jiwanya, membersihkan jiwa atau roh dengan jalan menghilangkan sifat-sifat buruk. Apabila tasawuf berpangkal dari konsep bahwa kejahatan berpangkal dari nafsu, maka tasawuf bereaksi positif dengan penyucian jiwa dengan melalui mujahadah dan riyadlah.


    1 Prof. Dr. H.M. Amin Syukur, MA., Menggugat Tasawuf, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
2002, hlm. 1
2 Ibid., hlm. 3
3 Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal, Penyembuhan Dengan Dzikir & Do’a, Cendekia
Jakarta, 2003, hlm. 3.9

 

Kemudian Karena di dalam diri manusia terdapat dimensi rohani yang meliputi Hati, Roh, Nafsu, dan Akal (dalam bahasa Arab, qolb, ruh, aql, dan nafs). Pada istilah keempat ini sudah sering muncul dalam tasawuf, kajian tasawuf tak lepas dari pengetahuan tentang keempat istilah ini, yang termasuk dalam dunia kerohaniahan sering dipelajari oleh kaum sufi. Tetapi belum banyak kaum sufi dan ulama yang mengetahui secara mendetail tentang istilah ini karena arti nama-nama tersebut satu sama lain agaknya amat sulit dan rumit untuk dibedakan, karena itu di sini akan diuraikan terlebih dahulu akanpengertian nama-nama tersebut.

1. Qolb

Pertama, definisi qolb secara fisik adalah daging sanubari (al-lahm assanubari), daging khusus yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di rongga dada sebelah kiri yang berisi darah hitam kental.5 Itulah sumber nyawa dan tambangnya. Selain manusia yang mempunyai hati hewan pun mempunyai hati yang dapat mengetahuinya dengan panca indra

pengelihatan. Adapun qalb dalam arti psikis dalam pengertian lathifah rabbaniyyah ruhaniyyah, sesuatu yang halus yang memiliki sifat ketuhanan dan keruhaniahan. Halus maksudnya ialah mengemukakan sifat keadaannya, dimana kita bisa merasa sedih, duka, kesal, gembira, kagum, hormat, benci, marah, cinta, inilah yang merupakan hakeka dari manusia, yang dapat menerima pengetahuan, dapat beramal sekaligus menjadi obyek perintah dan larangan dari Allah. Jika fisik memiliki indra lahir, maka rohani memiliki indra batin. Dengan indra batin itulah, diri kita melihat yang tak dapat dilihat oleh pengelihatan lahir, karena ia berkaitan erat dengan hati yang bertubuh. Keduanya berhubungan seperti hubungan itu menyerupai hubungan sifat

 (aradh) dengan tubuh (jisim) hubungan antara sifat dengan disifati (mauhuf)

atau hubungan pemakai alat dengan alatnya. Orang yang senantiasa menyucikan batinnya, niscaya hatinya akan bersih dan indra batinnya akan

lebih tajam. Hati dari arti kedua inilah yang menjadi tumpuan dan pandangan dari Tuhan. Tuhan hanya memperhatikan hati, karena hati itulah yang menjadi hakekat manusia. Karakter seseorang berbeda dengan yang lain karena mempunyai hati yang berbeda. Perbedaan itulah yang menyebabkan

perbedaan manusia dalam tingkah laku dan perbuatannya dan akan membedakan peringkat manusia dihadapan Tuhan. Dalam diri kita, kita dapat

mengenal macam-macam kondisi qolb (hati), ketika hati sehat, hati mati, hati

sakit. Menurut Imam Al-Ghazali, pertama hati yang shahih (sehat) bisa menjadikan manusia selalu (salim) selamat. Dalam hati yang sehat ini manusia mempunyai hal-hal kebaikan, dengan selalu mensyukuri nikmat-Nya. Mempunyai iman yang kokoh, tidak hidup serakah, hidupnya tentram, khusu’ dalam ibadah, banyak melakukan dzikir sehabis shalat, jika melakukan kelalaian selalu langsung sadar, dan di dalam dirinya selalu diliputi perbuatan baik. Serta bila salah selalu langsung bertaubat. Inikah yang diinginkan oleh Allah, dan kita akan mudah dekat dengan-Nya. Kedua, hati yang mayyit (mati), hati ini kaku keras, yang membawa pada sifat-sifat yang jelek, sehingga banyak melakukan dosan, dalam dirinya. Selalu mengingkari nikmat Allah, iman yang mendorong untuk kebaikan itu tipis dan terkadang imannya kosong, selalu dikuasai hawa nafsu, berburuk sangka, tingkah lakunya selalu menyimpang dari norma-norma agama, egois, keras kepala, selalu ingin menang, dari perbuatan dosa-dosa yang dilakukan, maka akan jauh dari Allah.Ketiga, hati yang maridl (sakit), dalam hati ini ada campuran antara sehat dan mati, yang di dalamnya ada iman, ada ibadah, ada pahala, tetapi ada kemaksiatan dan perbuatan dosa kecil atau besar. Seperti hatinya yang tidak tenang (gelisah), suka marah, tidak pernah punya rasa puas, susah menghargai orang lain, penderitaan lahir batin, tidak bahagia.

2. Ruh

Ruh (nyawa) dalam arti jasmani. Roh adalah tubuh halus (jisim lathif)

yang bertempat tinggal di kepala.9 Sumbernya adalah lubang hati yang bertubuh, lalu tersebar dengan perantaraan urat-urat nadi dan darah yang memanjang ke segala bagian tubuh yang lain dan mengalir ke dalam tubuh, dengan meancarkan cahaya ke seluruh tubuh manusia. Roh ini erat hubungannya dengan jantung, dimana ia beredar bersama peredaran darah,

sehingga kalau detak jantung sudah berhenti maka berhenti pula roh itu. Roh dalam tubuh manusia membanjirinya cahaya hidup, perasaan, pengelihatan, pendengaran dan penciuman, pancaran cahayanya membawa kehidupan kepada manusia ia ibarat lampu di dalam rumah yang menerangi seluruh sudut rumah. Adapun roh dalam arti psikis adalah mengetahui dan merasa (al-lathifah al’alimah al-mudrika minal insan) bahwa roh urusan Tuhan. Karena Tuhanlah yang memberi pancaran cahaya untuk tubuh manusia. Dengan demikian, roh merupakan motor penggerak dalam pendekatan diri kepada Tuhan. Menurut kaum sufi, roh adalah penggerak ke arah kebaikan pada umumnya.

3. Nafs

Nafs dalam arti jasmani, nafs adalah kekuatan hawa nafsu amarah yang terletak dalam perut manusia dan merupakan sumber bagi timbulnya akhlak tercela. Nafs menurut kaum sufi dapat dibagi atas tiga peringkat. Pertama, Al-Nafs Al-Imarah bi Al-Su adalah nafsu yang memerintah atau mengajak kepada kejahatan. Kedua, al-nafs al-lawwamah (nafsu yang menyesali). Karena setiap kali kita melakukan dosa ada rasa penyesalan atas perbuatan dosa. Ketiga, al-Nafs al-Muthma’innah. Ketika nafsu itu telah dapat ditundukkan sepenuhnya, maka ia akan membawa ketenteraman bagi kehidupan.

persoalan nafs telah dibahas dalam kajian filsafat, psikologi dan juga ilmu tasawuf. Dalam diri manusia jiwa mengalami kehidupan melalui akal, roh dalam tubuh. Tanpa mengkonsentrasikan akal, tubuh tidak mampu berperan sebagai kendaraan jiwa, dan tubuh adalah kendaraan bagi jiwa, mudahnya, akal adalah kendaraan jiwa, dan tubuh adalah kendaraan akal. Banyak orang meyakini bahwa otaklah yang berfikir, hatilah yang merasakan. Tetapi kenyataannya, akal memampukan akal untuk berfikir dengan kongret, hati dan fisik memampukan hati, faktor perasaan, agar merasakan dengan jelas. Jiwa berdiri terpisah sebagai cermin yang padanya semua aktivitas akal dan tubuh direfleksikan. “Setiap jiwa dilahirkan untuk suatu tujuan, dan cahaya tujuan itu telah menyala di dalam jiwa itu. Psikologi sufi mencakup sebuah model jiwa manusia yang di dasari oleh prinsip. Jiwa memiliki tujuan aspek atau dimensi, mineral, nabati, hewani. Pribadi ihsani dan jiwa rahasia serta maha rahasia, masing-masing kita memiliki tujuan tingkat kesadaran. Tasawuf bertujuan agar ketujuh tingkat kesadaran ini dapat bekerja secara seimbang dan selaras. Banyak sistem psikologi dan spiritual yang hanya menekankan kepada fungsi satu atau dua tingkat kesadaran tersebut. Di dalam tasawuf, keseimbangan emosi dan hubungan yang sehat dan menyehatkan adalah samapentingnya dengan kesehatan spiritual dan jasmani. Tujuannya adalah hidup sepenuhnya di dunia tanpa merasa terikat kepadanya atau melupakan sifat dasar diri kita dan tujuan spiritual kita.

4. Aql

Aql dalam arti jasmani, sebagai hati jasmani, sebagai pengetahuan tentang hakekat segala keadaan. Maka akal ibarat dari sifat-sifat ilmu yang tempatnya terdapat dalam hati.

Aql dalam arti psikis ada dua pengertian, pertama akal sebagai pengetahuan tentang hakekat segala keadaan, kedua yang memperoleh pengetahuan batin. Meskipun demikian, sementara sufi menempatkan akal identik dengan (perasaan batin).

Aql yang kedua adalah anugerah besar dari Tuhan kepada manusia karena tidak ada sesuatu pun yang melampauinya dalam memberi manfaat dan faedah bagi manusia. Istilah qolb, roh, nafs dan aql dalam pengertian jasmani berbeda, sedangkan dalam arti psikis banyak terdapat persamaan, pengertian pertama, qolb berarti hati jasmani, roh berarti nyawa jasmani yang sangat lembut, nafs berarti hawanafsu dan sifat pemarah, serta aql berarti ilmu. Adapun dalampengertian psikis dari keempat istilah itu bersamaan artinya yakni jiwa

manusia yang bersifat lembut, rohani dan rabbani, tetapi manusia dalam

pengertian fisik tidak kembali kepada Allah setelah hancur badan. Dan psikis

akan kembali kepada-Nya setelah hancurnya badan.

Kemudian jika kita melihat sejarah  proseses Islamisasi yang ada di Indonesia sendiri, proses islamisasi terjadi pada saat tasawuf menjadi corak pemikiran dominan didunia Islam. Umumnya, sejarawan Indonesia mengemukakan bahwa meskipun Islam telah datang ke Indonesia sejak abad ke-8 M., namun sejak abad ke-13 M islam telah di kenal masyarakat pada masa itu. Pada masa itu pulalah mulai berkembang kelompok-kelompok masyarakat Islam. Hal ini bersamaan dengan periode perkembangan organisasi-organisasi thariqat2.

Agaknya hal ini yang menyebabkan kuat dan berkembangnya ajaran tasawwuf dengan organisasi thariqatnya di Indonesia. Dapat dikatakan bahwa sukses dari penyebaran Islam di Indonesia berkat aktivitas para pemimpin thariqat. Tidak dapat disangkal bahwa Islam di Indonesia adalah islam versi tasawauf3.

Tasawuf dan thariqat pernah menjadi kekuatan politik di Indonesia. Tasawuf dan thariqat mempunyai peranan yang penting memperkuat posisi Islam dalam negara dan masyarakat, serta pengembangan lingkungan masyarakat lebih luas. Beberapa peran itu diantaranya:

1.  peranan sebagai faktor pembentuk dan mode fungsi negara.

2. Sebaga petunjuk beberapa jalan hidup pembangunan masyarakat dan    ekonomi

3. Sebagai benteng pertahanan menghadapi kolonialisasi Eropa

4. Peran tasaawwuf dan thariqat yang

 


1 Tasawuf merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari cara seseorang barada sedekat mungkin dengan Allah swt. Kaum orientaalis Barat, menyebutnya sufisme, dan bagi meraka kata sufisme khusus untuk mistisme dalam Islam. Lihat : Harun Nasution. Falsafat danMistisme dalam Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1973), hlm, 56.

2 Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta : LP3S. 1985), hlm, 140. Thariqat berarti jalan raya (road) atau jalan kecil (gang, path). Kata thariqat secara bahasa dapat juga berarti metode, yaitu cara yang khusus mencapai tujuan. Secara terminologi, istilah kata thariqat bersarti jalan yang harus ditempuh oleh seorang sufi dalam mendekatkan diri kepada Allah swt. Kemudian digunakan untuk menunjuk suatau metode psikologi moral untuk membimbing seseorang mengenal Tuhan. Lihat Mirce Aliade (ed.) The Encyclopedia of

Islam (New York: Macmilan Publishing Co., 1987). Vol. 4, hlm. 342.

3 Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Islam di Indonesia Abad ke -19 (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 173.

4 Johan H. Meuleman, “The Role of Islam in Indonesian and Algerian History; .A Comparative Analysis”, Makalah. (t,t.,th.), hlm, 4-5; bandingkan dengan G.W.J. Drewes, New Light on the Coming of Islam to Indonesia, BKI, (Brigdragen tot de taal-,land- en -volkunde),

.s-Gravenhage-Martinus Nijhoff, 1968.

5 Sartono Kartodirdjo, Pemberontakan Petani Banten 1888. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1984), hlm.211-225.

 

lebih menonjol adalah di bidang politik. Menurut Sartono Kartodirjo, thariqat pada abad ke-19 M., menunjukkan peranan penting, berkembang menjadi golongan kebangkitan paling dominan. Walaupun pada mulanya thariqat merupakan gerakan kebangkitan agama, thariqat berangsur menjadi kekuatan politik keagamaan, bahkan menjadi alat paling efektifuntuk mengorganisasikan gerakan keagamaan dan doktrinisasi cita-cita kebangkitan kembali.

Hal yang wajar apabila dalam perkembangan dakwah Islam selanjutnya6 tasawwuf dan thariqat mempunyai pengaruh besar dalam berbagai kehidupan sosial, budaya danpendidikan yang banyak tergambar dalam dinamika dunia pesantren (pondok).7 Padaumumnya tradisi pesantren bernafaskan sufistik, karena banyak ulama berafiliasi dengan thariqat. Mereka mengajarkan kepada pengikutnya amalan sufistik. Kondisi semacam ini mempermudah tumbuh dan berkembangnya organisasi-organisasi thariqat yang berkembang di duinia Islam.

Di Indonesia sendiri banyak sekali thariqat yang berkembang dan tersebar di berbagai daerah. Abubakar Aceh menyebutkan, di Indonesia terdapat sekitar 41 ajaran thariqat.10 Sedangkan Nahdhatul Ulama (NU) melalui Jam’iyah Thariqat Mu’tabaroh Al-Nahdhiyyah-nya(11)11 mengatakan, jumlah thariqat di Indonesia yang diakui keabsahannya (mu’tabaroh) sampai saat ini ada 46 thariqat.12 Hal ini menunjukkan thariqat yang berkembang di Indonesia, bahkan di dunia Islam banyak sekali jumlahnya.

Asy-Sya’rani, dalam Mizan al-Kubra, misalnya, menyebutkan bahwa jumlah thariqat dalam syari’at Nabi Muhammad saw., terdapat 360 jenis thariqat.13 Hal ini dimungkinkan karena, sebagaimana akan dilihat nanti, thariqat adalah cara mendekatkan diri kepada Allah swt., sekaligus merupakan amalan keutamaan (fadho’il al-‘amal) dengan tujuan memperoleh rahmat Allah swt.

 

 

 

 

 

Ada dua bentuk thoriqot yang berkembang di Indonesia: thariqat lokal, yakni ajaran thariqat yang didasarkan pada amalan-amalan guru tertentu seperti Thariqat Wahidiyah di Jawa Timur, dan thariqat yang merupakan cabang dari gerakan sufi internasional seperti Di antara thariqat-thariqat yang berkembang di Indonesia yang merupakan cabang dari gerakan sufi internasional adalah :

  1. Thariqat Qadiriyah yang didirikan oleh Syekh Abd al-Qadir al-Jailani (470-561H.),
  2. Thariqat Naqsabandiyah didirikan oleh Baha’ Naqsaband al-Bukhori (717-791 H.),
  3. Thariqat Syaziliyah yang didirikan oleh Abu al-Hasan al-Syazili yang berasal dari Syaziliyah, Tunisia, (w. 686 H.),
  4. Thariqat Rifa’iyah yang didirikan oleh Syeh Akhmad al-Rifa’i (W. 578 H.), 5.
  5. Thariqat Suhrawardiyah yang didirikan oleh Abu Najib al-Suhrawardi (490-565 H.),
  6. Thariqat Tijaniyah. Tijaniyah adalah nama yang dinisbahkan kepada Syeh Abu al-Abbas Ahmad Ibn Muhammad at-Tijani yang lahir pada tahun 1150 H., di ‘Ain Madi Aljazair, dari pihak ayahnya keturunan Hasan Ibn Ali Ibn Abi Thalib14, sedangkan kata At-Tijani diambil dari suku yang bernama Tijanah dari pihak ibu.


   

1.  Zamakhsyari Dhofier, “Pesantren dan Thoriqot” dalam Jurnal Dialog,”Sufisme di Indonesia” (Jakarta: Balitbang Agama, Departemen Agama RI, Maret 1978), hlm. 9-22. Lembaga tersebut adalah nama untuk tempat santri atau siswa belajar mengaji. Lihat Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,

2.  Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 677.

3.  Martin van Bruinessen, Kitab Kuning: Pesantren dan Thariqat (Bandung: Mizan, 1955), hlm. 20.

gerakan tarikat Qadiriyah, dan Naqsabadiyah, lihat Martin Van Bruinessen. Thariqat Naqsabandiyah di Indonesia (Bandung: Mizan, 1992), hlm. 16.

4.  Abu Bakar Aceh, PengantarIlmu Thariqat (Solo: Ramadani, 1992), hlm. 303; lihat juga Fu’ad Su’adi, Hakikat Thariqat Naqsabandiyah (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1993), hlm. 12.

5.  Lihat Idaroh ‘Aliyah Thariqah Mutabarah Nahdiyah (Semarang: Toha Putra, t.th), hlm. 37.

6.  Lihat al-Sya’rani. Mizan al-Kubra ( Mesir: dar al-Ma’riah, 1343 H.), juz I. hlm. 30.

 

 

 

Syekh Ahmad at-Tijani dikenal di dunia Islam melalui ajaran thariqatnya yang sampai sekarang tersebar di 18 negara di antaranya:

Kerajaan Maroko, Pakistan, Tunisia, Mauritania, Sinegal, Perancis,  Amerika, Cina dan Indonesia.

Tharikat Tijaniyah masukke Indonesia pada awal abad ke-20 M., pada masa awal kehadirannya, penyebaran thariqat Tijaniyah terpusat di Cimahi Bandung yang dikembangkan oleh Syekh Usman Dhamiri, di Cirebon dikembangkan dari Pesantren Buntet melalui K.H. Anas dan K.H. Abbas, di Probolinggo Jawa Timur dikembangkan melalui K.H. Khazin Syamsul Mu’in, di Madura oleh K.H. Jauhari Khatib, dan di Garut dikembangkan oleh K.H. Badruzzaman.

Sampai sekarang ajaran tarikat Tijaniyah telah berkembang di beberapaprovinsi diantanya diindonesia :                                                                                          Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Bali, NTT, Kalimantan, Lampung dan Sulawesi. Khusus di Jawa Barat tarikat Tijaniyah telah menembus hampir ke seluruh kabupaten atau kota.

Sejarah hidup Syekh Ahmad at-Tijani terbagi dalam beberapa periode :

(1). Kanak-kanak (sejak lahir (1150 M) – usia 7 tahun

          (2). periode menuntut ilmu (usia 7 tahun – belasan tahun

          (3). periode sufi (usia 21 – 31 tahun)

              (4).  periode al-Fath al-Akbar (tahun 1196 H.)

  (5). periode pengangkatan sebagai wali al-khatm (tahun 1214 H.).

Pada bulan Muharam 1214 H. mencapai alQuthbaniyal al-Udzma, dan pada tanggal 18 Shafar 1214 H. mencapai wali al-Khotmul wal-Maktum.


  1. 1.        Lihat A. Fauzan Fathullah, Sayyidul Auliya; Biografi Syekh Ahmad at-Tijani dan Thoriqoh at-Tijaniyyah (Pasuruan: t.pn), 1985 hlm. 52-64, lihat juga Ikyan Badruzzaman, Syekh Ahmad at-
  2. 2.        Tijani dan Perkembangan Thoriqot Tijaniyyah di Indonensia (Garut: Zawiyyah Thoriqot Tijaniyyah, 2007), hlm. 7).
  3. 3.        G.F. Pijper menyebutkan bahwa thariqat Tijaniyah muncul di Pulau Jawa pada tahun 1928 M., lihat G.F. Pijper, Fragmenta Islamica; Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam di Indonesia Awal Abad XX (Jakarta: UI-Press, 1980), hlm. 81-82.

 

Ia adalah ulama dari Cimahi Bandung dan diangkat sebagai muqaddam oleh syekh ‘Ali bin ‘Abdulah al-Thayyib. Ia adalah muqaddam thariqatTijaniyah Pesantren Buntet, Cirebon. Pendiri pondok pesantern Nahdatuth Thalibin, Blado Wetan, Probolinggo. Pendiripondok Pesantren     al – Amin, Madura.

Pada tanggal 23 Desember 1985, di Maroko diselenggarakan Muktamar Thariqat Tijaniyah dan dihadiri utusan dari 16 negara, termasuk utusan dari Indonesia yang diwakili oleh K.H. Baidhowi (sesepuh muqoddam = pemuka thariqat Tijaniyah Indonesia) dan K.H Badri Masduqi (Muqoddam Thariqat Tijaniyah, Probolinggo).

Ada tiga jenis wirid tarekat Tijaniyah yakni: wirid lazimah, wirid wadzifah, dan wirid hailalah. Secara umum tiga jenis wirid ini mengembangkan metode istigfar, shalawat, dan dzikir. Metode istighfar dimaksudkan untuk membangun kesadaran insaniyah, tentang bahayanya perbuatan maksiat yang menimbulkan dosa. Metode shalawat dimaksudkan untuk membangun kesadaran pentingnya memiliki idola (uswatun hasanah) dalam melakukan taqorub kepada Allah swt. Sedangkan metode dzikir membangun saluran

langsung rahmat Allah swt.

Dzikir-dzikir Tijaniyyah merupakan karya seorang sosiolog yang sudah barang tentu penyajian materi dzikir dan amalan thariqat Tijaniyah disampaikan secara sederhana sesuai dengan kondisi pemahaman masyarakat umum. Tentu saja buku ini merupakan sumbangan berharga terhadap upaya sosialisasi pendahuluan dalam memahami ajaran dzikir dalam kaitan dengan ajaran tarekat Tijaniyah.

III.KESIMPULAN

 Esensi tasawuf telah ada sejak masa Rasulullah SAW . sedangkan definisi tasawuf sendiri menurut para ulamak ia lah  keluar dari sifat-sifat tercela menuju ke sifat-sifat terpuji melalui proses binaan yang dikenal dengan istilah riyadlah (latihan) dan mujahadah (bersungguh-sungguh). Sedangkan menurut Prof..

Kemudian tasawuf mulai dikenal diIndonesia pada mula abad ke – 13 sejalan dengan masuknya islam diIndonesia. Jumlah aliran Tasawuf yang ada diIndonesia sendiri kurang lebih dikatakan sekitar 41/46 aliran.

IV.  DAFTAR PUSTAKA

Inayat Khan Haazrat , The Heart of Sufism, Terjemahan Andi Haryadi, PT. Remaja Rosda Karya, Bandung, 2002, hlm. 240

 

Frager Robert, Hati, Diri, Jiwa (Psikologi Sufi untuk Transformasi), Terjemahan Hasmiyah Rauf, Serambi, Jakarta, hlm. 32

 

Dr. Mir. Valiuddin, Zikir Dan Kontemplasi dalam Tasawuf, Pustaka Hidayah, Bandung, 2002, hlm. 123. hlm. 158

 

Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Islam di Indonesia Abad ke -19 (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hlm. 173.

 

Dofier Zamkhsyari, “Pesantren dan Thoriqot” dalam Jurnal Dialog,”Sufisme di Indonesia” (Jakarta: Balitbang Agama, Departemen Agama RI, Maret 1978), hlm. 9-22.

  • aswin says:

    saya sangat setuju, apabila kurikulum pembelajaran islam dimasukkan kedalam sekolah Agama dan juga Sekolah Umum karena dalam proses perkembangan fisikis dan psikologi anak tidak hanya ditanamkan ilmu pengetahuan yang bersifat eksat tetapi juga harus ditanamkan akhlakul karimah bagi anak. apalagi sekarang ini sudah merebaknya teknologi-teknologi canggih yang menyebabkan orang tua tidak dapat memberikan tindak penyaring terhadap perkembangan akhlak anak.

    February 1, 2012 at 14:39

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*