Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah Peran Guru PAI

Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : Pandangan Islam tentang Anak Usia dini
data post: Perkuliahan.com. edition of : 202
Makalah tentang pengertian dan seputar defiisi tentang guru pai / guru pendidikan agama islam

 

Menurut Zakiah Daradjat menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak orang tua.[3] Lebih lanjut ia menyatakan bahwa guru adalah seseorang yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang dapat memudahkan dalam melaksanakan peranannya membimbing muridnya. Ia harus sanggup menilai diri sendiri tanpa berlebih-lebihan, sanggup berkomunikasi dan bekerja sama dengan orang lain. Selain itu, perlu diperhatikan pula dalam hal mana ia miliki kemampuan dan kelemahan.[4] Pengertian semacam ini identik dengan pendapat Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan yaitu pendidik (guru) adalah orang dewasa yang bertanggungjawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik (siswa) dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Allah, kholifah di bumi, sebagai makhluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.[5] Pendapat ini didukung oleh Hadari Nawawi, yang menyebutkan bahwa guru adalah orang yang bekerja dalam bidang pendidikan dan pengajaran dan ikut bertanggungjawab dalam membantu anak-anak mencapai kedewasaan masing-masing.[6] Hal ini guru bukanlah sekedar orang yang berdiri di depan kelas an sich untuk menyampaikan materi pelajaran, namun harus ikut aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan perkembangan siswa untuk menjadi orang yang dewasa.

Di sisi lain Uzer Usman memberikan pengerian spesifik tentang guru yaitu sebagai jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Dengan kata lain, pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian khusus melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru.[7]

Jadi, guru bukanlah seseorang yang hanya bertindak mengajar di sembarang tempat, tetapi ditempat-tempat khusus dan juga guru berkewajiban mendidik siswa dengan mengabdikan dirinya untuk cita-cita mulia, yaitu mencapai tujuan pendidikan universal, sehingga fungsi / peranan guru menjadi sangat berat.

Sedangkan PAI didalam GBPP SMP dan SMU mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) kurikulum Tahun 1994 dinyatakan bahwa yang dimakud dengan pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam meyakini, memahami, menghayati dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan pengajaran dan atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dan hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.[8]

Jadi guru PAI merupakan orang yang melakukan kegiatan bimbingan pengajaran atau latihan secara sadar terhadap peserta didiknya untuk mencapai tujuan pembelajaran (menjadi muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara).[9]

  1. Fungsi Guru

Dalam proses belajar mengajar guru harus bisa memposisikan sesuai dengan status serta dengan profesinya. Hal ini dapat disesuaikan dan menerapkan dirinya sebagai seorang pendidik, seseorang dikatakan sebagai seorang guru tidak cukup tahu sesuatu materi yang akan diajarkan, tetapi pertama kali ia harus merupakan seseorang yang memang memiliki kepribadian guru dengan segala ciri tingkat kedewasaannya. Dengan kata lain bahwa untuk menjadi pendidik atau guru, seseorang harus berpribadi, mendidik berarti mentrasfer nilai-nilai pada siswanya. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari.oleh karena itu pribadi guru itu sendiri merupakan perwujudan dan nilai-nilai yang akan di transfer, maka guru harus bisa memfungsikan sebagai seorang pendidik ( tranfer of values ) ia bukan saja pembawa ilmu pengetahuan akan tetapi juga menjadi contoh seorang pribadi manusia.[10]

3.    Peran Guru

Pelaksanaan proses belajar mengajar (PBM) menuntut adanya berbagai peran untuk senantiasa aktif dan aktivitas interaksi belajar mengajar dengan siswanya.  peran guru dipandang strategis dalam usaha mencapai keberhasilan proses belajar mengajar apabila guru mau menempatkan dan menjadikan posisi tersebut sebagai pekerjaan profesional. Dengan demikian, guru akan disanjung, diagungkan dan dikagumi, karena perannya yang sangat penting diarahkan ke arah yang dinamis yaitu menjadi pola relasi antara guru dan lingkungannya, terutama siswanya.[11]

Mengenai  peran guru akan diuraikan beberapa pendapat, yaitu menurut Watten B. yang dikutip oleh Piet A. Sahertian, peran guru adalah sebagai tokoh terhormat dalam masyarakat sebab ia nampak sebagai orang yang berwibawa, sebagai penilai, sebagai seorang sumber karena ia memberi ilmu pengetahuan, sebagai pembantu, sebagai wasit, sebagai detektif, sebagai obyek identifikasi, sebagai penyangga rasa takut, sebagai orang yang menolong memahami diri, sebagai pemimpin kelompok, sebagai orang tua / wali, sebagai orang yang membina dan memberi layanan, sebagai kawan sekerja dan sebagai pembawa rasa kasih sayang.[12]

Sedang menurut Oliva,  peran guru adalah sebagai penceramah, nara sumber, fasilitator, konselor, pemimpin kelompok, tutor, manajer, kepala laboratorium, perancang program dan manipulator yang dapat mengubah situasi belajar.[13]

Sejalan dengan penadapat Oliva, Sardiman AM, menyatakan bahwa  peran guru adalah sebagai informator, organisator, motivator, direktor, inisiator, transmitter, fasilitator, mediator dan evaluator.[14] Lebih lanjut Sardiman menerangkan bahwa :

a.    Informator berarti guru harus melaksanakan cara-cara mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.

b.    Organisator berarti guru diharapkan mampu mengorganisasikan sedemikian rupa komponen-komponen yang berkaitan dengan kegiatan belajar mengajar sehingga dapat dicapai efektifitas dan efisiensi belajar pada diri siswa.

c.    Motivator berarti guru dituntut mampu merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk mengkomunikasikan potensi siswa, menumbuhkan aktivitas dan daya cipta (kreatif) sehingga akan terjadi dinamika di dalam proses belajar mengajar (PBM) sebagai usaha untuk meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa.

d.    Direktur berarti guru harus memberikan bimbingan dan pengarahan tentang kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang akan dicapai peranan ini akan menonjolkan jiwa kepemimpinan guru dalam menjalankan pekerjaan profesional.

e.    Inisiator berarti guru dipandang sebagai pencetus ide-ide kreatif dalam proses belajar yang dapat dicontoh oleh siswanya.

f.     Transmitter berarti guru bertindak sebagai penyebar kebijakan pendidikan dan pengetahuan dalam kegiatan belajar mengajar.

g.    Fasilitator berarti guru hendaknya memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar, misalnya dengan menciptakan suasana kegiatan belajar yang sedemikian rupa, serasi dengan perkembangan siswa sehingga interaksi belajar mengajar dapat berlangsung efektif.

h.    Mediator berarti guru diartikan sebagai penengah atau pemberi jalan untuk mengatasi kemacetan dalam kegiatan belajar mengajar siswa di samping penyedia media sekaligus mengorganisasikan penggunaan media.

i.     Evaluator berarti guru berhak menilai prestasi akademik dan prilaku sosial sebagai penentu berhasil atau tidaknya siswa dalam belajar. Evaluasi tidak hanya sebatas ekstrinsik saja, tetapi juga menyentuh aspek intrinsik yang diwujudkan dalam prilaku sehingga guru dalam menjatuhkan nilai akan lebih berhati-hati.

Sedangkan Syaiful Bahri Djamarah melengkapi beberapa pendapat di atas dengan menyatakan bahwa  peran guru adalah sebagai korektor, inspirator, informator, organisator motivator, inisiator, fasilitator, pembimbing, demonstrator, pengelola kelas, mediator, supervisor dan evaluator.[15] Lebih lanjut Djamarah memperjelas keterangan dengan memberikan penjelasan pada masing-masing  peran tersebut yaitu :

a.    Korektor berarti guru berhak menilai dan mengoreksi sikap, tingkah laku dan perbuatan siswa, sikap prilaku dan perbuatan ini dipengaruhi oleh nilai-nilai yang melekat pada diri siswa. Oleh karena itu guru harus dapat membedakan antara nilai yang baik dan nilai yang buruk, nilai yang baik guru harus mempertahankan dan nilai yang buruk harus direduksi dari jiwa dan watak siswa.

b.    Inspirator, berarti guru dituntut untuk memberikan petunjuk tentang bagaimana cara belajar yang baik, petunjuk tersebut dapat bertolak dari pengalaman atau pengetahuan yang telah didapat oleh guru sehingga mampu untuk memecahkan problematika yang dihadapi siswa.

c.    Informator, berarti guru harus memberikan informasi tentang perkembangan sains dan teknologi, selain sejumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan oleh guru. Informasi ini harus baik sehingga sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa.

d.    Organisator berarti guru memiliki kegiatan pengelolaan aktivitas akademik, menyusun tata tertib kelas, menyusun kalender akademik dan sebagainya. Semua diorganisasikan sehingga dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri siswa.

e.    Motivator berarti guru harus memotivasi siswa agar bergairah dan aktif dalam belajar. Untuk itu motif-motif yang melatar belakangi siswa dalam belajar harus dipacu sedemikian rupa sehingga mereka mampu belajar secara mandiri sesuai dengan kebutuhannya.

f.     Inisiator berarti guru menjadi pencetus ide-ide progresif dalam pendidikan sehingga prosesnya tidak ketinggalan zaman dan mengalami perkembangan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.

g.    Fasilitator, berarti guru menyediakan fasilitas belajar sehingga dapat tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan siswa dan memudahkan aktivitas belajar mereka.

h.    Pembimbing, berarti kehadiran guru di sekolah adalah untuk membimbing siswa menjadi manusia dewasa yang berprilaku secara mandiri, awalnya siswa tergantung pada bantuan guru karena kekurangmampuannya. Namun dengan bimbingan guru, rasa ketergantungan tersebut semakin berkurang dikarenakan tingkat kedewasaan telah berkembang sehingga nantinya mampu berdiri sendiri (mandiri) dalam belajar.

i.     Demonstrator berarti guru harus memperjelas penjelasannya melelui peragaan alat dan gerak-gerak ritme tubuh sehingga memudahkan pemahaman siswa, dengan demikian guru dapat membantu memperjelas pemahaman siswa sehingga diharapkan adanya kesejalanan antara keinginan guru dan pemahaman siswa dan diantara mereka tidak terjadi salah pengertian.

j.     Pengelolaan kelas, berarti guru berperan dalam mengelola proses pembelajaran. Ia hendaknya mengatur penempatan masing-masing siswa sesuai dengan proporsinya, menjadi dari kegaduhan dan membuat suasana kelas semakin menyenangkan sehingga aktivitas mengajar semakin optimal.

k.    Mediator, berarti guru harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup terhadap penggunaan berbagai jenis media pendidikan sebagai alat komunikasi yang efektif dalam proses belajar mengajar (PBM) sehingga dapat membantu memperjelas eksplanasi dan sebagai jalan pemecahan masalah.

l.     Supervisor, berarti guru harus membantu memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran. Untuk itu teknik-teknik supervisi harus dikuasai oleh guru sehingga akan membantu memperbaiki situasi dan kondisi belajar mengajar. Teknik-teknik tersebut dapat diperoleh melalui jabatan, pengalaman, pendidikan, kecakapan dan ketrampilan-ketrampilan yang dimilikinya serta sifat-sifat kepribadian yang menonjol.

m.   Evaluator, berarti guru bertugas menilai aspek-aspek instrinsik (kepribadian) dan ekstrinsik yang mengarah kepada pencapaian prestasi verbal siswa. Keduanya bermanfaat bagi perkembangan jiwa dan prilaku mereka dalam pencapaian prestasi yang optimal.

Jadi  peranan guru bukanlah bertindak yang hanya bertindak mengajar, tetapi haruslah sanggup bertindak sebagai korektor, inspirator, informator, motivator, fasilitator, pembimbing, demosntrator, pengelola kelas, mediator, supervisor, organisator, direktor ini sintora trans mitter, dan evaluator. Hal ini diperlukan sebagai bekal untuk pengabdian dirinya dalam meraih cita-cita mulia yaitu mencapai tujuan pendidikan universal.

3.    Kode Etik Guru

Guru di Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting dan tanggung jawab besar dalam mengembangkan program pendidikan yang terwujud dalam proses pembelajaran, oleh karenanya profesi guru dapat dipandang sebagai pekerjaan profesi yang menuntut profesionalisme dalam menjalankan fungsi dan perannya di lembaga pendidikan formal.

Sehubungan dengan pekerjaan profesional tersebut, guru pasti memerlukan pedoman atau kode etik agar dalam menjalankan profesinya sehingga dapat terhindar dari segala bentuk penyimpangan. Dengan demikian penampilan guru akan terarah dan berkembang dengan baik karena ia akan terus menerus memperhatikan dan mengembangkan profesinya. Setiap guru yang memegang status sebagai pendidik yang profesionalis akan selalu berpegang pada kode etik tersebut, sebab kode etik inilah yang merupakan salah satu ciri yang harus ada pada pekerjaan profesi.

Sedangkan pengertian kode etik profesi itu sendiri adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota di dalam melekasanakan tugas profesinya dan dalam hidupnya di masyarakat. Norma tersebut berisi petunjuk-petunjuk bagi para anggota profesi tentang bagaimana mereka melaksanakan profesinya dan larangan-larangannya.[16]

Berkaitan dengan profesi keguruan, penulis akan mengemukakan dua pengertian. Menurut UU No. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian pasal 28 menyatakan bahwa pegawai negeri sipil (PNS) mempunyai kode etik sebagai pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan di dalam dan di luar kedinasan. UU ini menjelaskan bahwa dengan adanya kode etik ini PNS termasuk guru sebagai aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat mempunyai pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugasnya dan dalam pergaulan hidup sehari-hari.[17] Sedangkan menurut pidato Ketua Umum PGRI pada Kongres PGRI XIII tanggal 21-25 Nopember 1973 di Jakarta, kode etik guru Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru.[18]

Untuk mengetahui tentang kode etik guru Indonesia, penulis akan mengungkapkan teks kode etik guru di Indonesia, yaitu :

a.    Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.

b.    Guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesinya.

c.    Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.

d.    Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar.

e.    Guru memelihara hubungan baik dengan orang tua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran serta dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.

f.     Guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.

g.    Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial.

h.    Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.

i.     Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.[19]

Jadi sangatlah jelas bahwa kode etik profesi keguruan diperlukan sebagai pedoman dan melaksanakan profesi keguruan dan diperlukan sebagai rambu-rambu atau peraturan agar guru tidak bertindak menyeleweng dari profesi guru, sehingga pelaksanaan profesi keguruan tetap mengacu pada kaidah-kaidah yang berlaku dan utamanya tidak bertentangan dengan tugas yang diembannya.



 

 [3]  Zakiah Daradjat (et. al), Ilmu Pendiidkan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1992, hal. 266

 [4]  Zakiah Daradjat, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1996, hal. 266

 [5]  Hamdani Ihsan dan Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Setia, Bandung, hal. 93

 [6]  Abbdudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam I, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, 1997, hal. 62

 [7]  Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2001, Cet. 13, hal. 5

 [8]   Muhaimin, Abdul Ghofur, Nur Ali Rahman, Strategi Belajar Mnegajar Penerapan dalam Pembelajaran Pendidikan Agama, CV. Citra Media, Surabaya, 1996, hlm. 1

 [9]  Ibid, hlm. 2

[10] Sardiman AM , Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Raja Grafindo persada, Jakarta, 2000, Cet 7, hal 135     

[11]  Dedi Supriadi, Mengangkat Citra dan Martabat Guru, Adicita Karya Nusa, Yogyakarta, 1999, Cet. 2, hal. 334

 [12]  Piet Suhertian, Profil Pendidik Profesional, Andi Offset,

[13]  Ibid., hal. 16

 [14]  Sardiman A.M, Op Cit, hal. 142-144

[15]  Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Reneka Cipta, Jakarta, 2000, hal. 43-48

 [16]  Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, Reneka Cipta, Jakarta, 1999, hal. 30

 [17]  Ibid., hal. 29

 [18]  Ibid., hal. 30

 [19]  Abd. Rachman Sholeh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Gemawindu Panca Perkasa, Jakarta, 2000, hal. 101

 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*