Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah Pendidikan Akhlak

Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : ideologi  Pesantren
data post: Perkuliahan.com. edition of : 190
postingan ” Pendidikan Akhlak dalam Islam ” merupakan tulisan dari skripsi teman saya,dengan referensi yang berkesinambungan dan mengizinkan posting makalah tentang akhlak siswa / murid iniagar lebih bermanfaat untuk sesama, terutama agar memahami tentang  akhlak peserta didik.
 
Makalah Pendidikan Akhlak
sebelum pembicaraan lebih jauh mengenai pendidikan akhlak maka perlu kita pahami bersama bahwa pendidikan, dalam pandangan Islam adalah proses pengajaran dan pencerdasan yang seutuhnya. baik pendidikan spiritual, intelektual dan emosional. namun yang jadi pertanyaan, diantara tiga motif tersebut kira-kira lebih cenderung yang mana kalau kita lihat realita pendidikan Islam saat ini?

berikut defini yang kerap diungkapkan oleh para ahli pendidikan, khususunya pendidikan Islam. “Hakikat pendidikan Islam merupakan suatu usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) siswa atau generasi penerus melalui ajaran islam ke arah titik maksimal pertumbuhan dan perkembangannya.

kemudian dijelaskan juga bahwa Proses perkembangan kemampuan dasar dalam diri manusia mengandung empat esensi potensi dinamis, yaitu terletak pada keyakinan atau keimanan, ilmu pengetahuan, akhlak (moralitas) dan pengamalannya .[4] Proses kependidikan dalam Islam mengacu pada empat potensi tersebut dan ini menjadi tujuan fungsional pendidikan Islam sehingga tercapai tujuan akhir pendidikan yaitu manusia yang mukmin, mukhsin, dan mukhlisin, muttaqin yang berakhlak mulia.

dalam makalah / cuplikan ini Selanjutnya Ibnu Sina menyatakan dalam buku perbandingan pendidikan Islam karangan Ali Al – Jumbulati bahwa pendidikan Islam sangat memperhatikan segi akhlak yang menjadi fokus perhatian dari seluruh para pemikiran filsafat pendidikan yaitu mendidik anak dengan menumbuhkan kemampuan beragama yang benar. Oleh karena itu pendidikan agama menjadi landasan utama bagi pencapaian tujuan pendidikan akhlak. Pendidikan akhlak adalah segala-galanya serta kehidupan manusia adalah bergantung pada akhlak (tiada kehidupan tanpa akhlak).

Berlandaskan tujuan akhir pendidikan agama adalah tercapainya pendidikan akhlak yang luhur, maka di sinilah peran pendidikan dalam islam untuk membimbing, mengarahkan, membentuk siswa atau pelajar secara bertahap atau berangsur-angsur demi terwujudnya tujuan penciptaan manusia yaitu sebagai “abdun” (hamba Allah) dan sebagai “khalifah” (pemimpin) di bumi.

Terlihatlah dengan jelas dari pernyataan tersebut bahwa peran, tugas dan tanggung jawab pendidik untuk dapat mengantarkan siswanya mencapai tujuan pendidikan . Bimbingan dan pendidikan yang sangat efektif dalam pencapaian tujuan pendidikan adalah bimbingan yang dilakukan dalam keluarga . Keluarga dalam hal ini adalah orang tua yang mana merupakan peletak dasar dan utama bagi pendidikan selanjutnya serta orang tua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak .[5] Menjadi hal yang tidak boleh dilupakan pula bahwa dalam mendidik anak , seorang pendidik hendaknya memahami perkembangan siswanya yang meliputi perkembangan fisik, motorik, intelligensi, sensoris, linguistis, dan emosional serta yang paling urgen yaitu spiritualnya.[6] Manusia yang dilahirkan adalah dalam keadaan fithrah, terdiri atas kecerdasan, kemampuan, potensi, watak, dan motif. Menurut Al-Ghazali yang dikutip dalam buku Zaenuddin, dkk menyatakan bahwa : “Anak adalah suatu amanah dari Tuhan kepada kedua orang tuanya, hatinya suci bagaikan jauhar yang indah sederhana dan bersih, suci dari segala goresan dan bentuk, Ia masih menerima segala apa yang digoreskan kepadanya dan cenderung kepada setiap hal yang ditujukan kepadanya”. Setiap anak berpotensi untuk menjadi cerdas secara emosional, intelektual maupun spiritualnya, karena secara fitri manusia dibekali kecerdasan oleh Allah SWT dalam rangka mengaktualisasikan dirinya sebagai hamba (Abdun) danKhalifatullah di bumi. Selanjutnya, manusia mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengembangkan kecerdasannya secara optimal. Dalam konteks ini, peran pendidik sebagai orang tua kedua dari anak sangatlah penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan kecerdasan anakya. Seperti disebutkan diatas bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci, dalam hal ini Nabi Muhammad Saw bersabda:

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Artinya: “Dari Abu Hurairah berkata bahwasanya Nabi SAW bersabda : Semua anak-anak dilahirkan suci (fitrah), tetapi ibu bapaknyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi”.[7](HR. Muslim).

Dari uraian tersebut, maka peran dan tanggung jawab pendidik sebagai orang tua kedua terhadap anaknya adalah sangat penting dalam membimbing, mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan siswanya dan menanamkan pendidikan akhlak sebagai jiwa dari pendidikan Islam secara berangsur-angsur dan bertahap sampai tercapai tujuan pendidikan. Pendidik dan Orang tua sama-sama bertanggung jawab penuh demi masa depannya terutama dalam pembentukan kecerdasan (fitrah) baik intelligensi, emosional, terlebih lagi spiritual.

Sebagaimana yang tercantum dalam tujuan pendidikan Nasional sendiri yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan menusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan sehat serta jasmani, rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan, nampak sekali bahwa tujuan tersebut erat dengan nilai-nilai agama. Sementara pendidikan di Indonesia lebih menekankan aspek kognitifnya saja sehingga yang terjadi adalah dekadensi moral yang menjamur dikalangan anak-anak, remaja maupun dewasa dan terjadi ketimpangan ketiga aspek (kognitif, afektif, psikomotorik). Padahal masih ada nilai-nilai tertinggi yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya sebagai kebutuhan naluri manusia yaitu kecerdasan spiritual. Kecerdasan spiritual yang perlu ditanamkan dalam implementasi kurikulum pendidikan nasional bertujuan utamanya adalah mempersiapkan generasi baru yang nantinya dapat menginternalisasikan moral, budi pekerti (akhlak) yang baik dan sekaligus mampu menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Inilah objektivikasi kecerdasan spiritual dalam praktek kehidupan sehari-hari .[8]

Kecerdasan spiritual (yang dikenal dengan istilah SQ) menurut Danah Zohar dan Ian Marshal merupakan kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan prilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan hidup seseorang lebih bermakna dengan yang lain. Namun SQ pembahasannya baru sebatas tataran psikologi (biologi) semata, tidak bersifat transedental (ketauhidan), akibatnya masih dirasakan adanya kebuntuan, sedangkan Ary Ginandjar Agustian dalam bukunya ESQ, mengatakan bahwa kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap prilaku dan kegiatan melalui langkah-langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah, menuju manusia seutuhnya (Kamil) dan memiliki pola pemikirantauhidi (integralistik) serta berpotensi hanya kepada Allah .[9] Dan dalam bukunya Sukidi yang berjudul rahasia sukses hidup bahagidengan kecerdasan spiritual mengapa SQ lebih penting daripada IQ dan EQ ? beliau mengatakan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan hati dan budi pekerti, serta kecerdasan spiritual adalah membimbing Manusia untuk mendidik hati dan budi pekerti (akhlak) .[10] Oleh karena itu, memandang fitrah manusia yang dibekali oleh Allah SWT berupa kecerdasan (emosi, intelektual, dan spiritual) maka orang tua dan pendidik sebagai lembaga pendidikan utama dalam pembentukan dan pengembangan kecerdasan anak adalah sangat penting. Orang tua sebagai penanggungjawab atas kehidupan keluarga harus memberikan pendidikan Islam kepada anak-anaknya dengan menanamkan ajaran agama dan pendidikan akhlak sehingga anak akan menjadi pribadi yang tangguh dan bermoral, karena pendidikan akhlak yang diberikan dalam keluarga adalah peletak dasar bagi pendidikan selanjutnya bagi anak. Tegasnya keluarga atau lembaga adalah kontrol utama dalam pembinaaan dan pendidikan akhlak, akhlak luhur merupakan pondasi dan jaminan bekal untuk kesempurnaan Islam dalam pembinaan dan pengembangan pribadi manusia, yang mana fitrah terdapat pada setiap jiwa Manusia berupa kecerdasan dan akal. Dan akhlak akan terbentuk jika ada suatu latihan dan pembiasaan melalui proses waktu yang berlangsung terus menerus yaitu proses pendidikan. Sehingga dengan penanaman pendidikan agama yang benar maka potensi kecerdasan manusia akan terbentuk terutama kecerdasan spiritual, karena pembahasan dalam skripsi ini adalah hanya berkaitan dengan kecerdasan spiritual.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*