Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah Pemikiran Imam Ghazali

Makalah Pemikiran Imam Ghazali 
Under arsip:  Perkuliahan.com.  
Post title : Makalah Pemikiran Imam Ghazali
Post  Category   : Makalah Pemikiran Imam Ghazali , pemikiran imam dozali dalam pendidikan islam, etc. data post: perkuliahan.com edition of : 118
 

Latar Belakang Pemikiran al-Ghazali

 Membicarakan pemikiran seorang tokoh senantiasa harus dihubungkan dengan keadaan yang mengelilinginya, sebab al-Ghazali adalah bagian dari sejarah pemikir Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, situasi dan kondisi yang berkembang ikut menentukan perkembangan arahnya. Dari pemikiran yang dituangkan

al-Ghazali, orang semakin mengakui bahwa al-Ghazali adalah seorang figur pemikir muslim yang selalu menarik untuk dibicarakan. Banyak karyanya yang diteliti dan dijadikan bahan kajian oleh kalangan muslim maupun non muslim. Al-Ghazali adalah ahli pikir yang diteliti. Hal itu dapat disaksikan pada keterangan mengenai dirinya dalam bagian pengantar dari Munqidz Nun adz-Dzalal yaitu : “Sejak masa mudaku, sejak aku menginjak masa baligh, sebelum usia 20 tahun hingga kini dalam  usiaku 50 tahun, senantiasa aku mengarungi gelombang lautan ma’rifat yang maha dalam, aku mengarunginya sedalam-dalamnya tanpa mengenal lelah, semua kegelapan aku tembus, segala kerumitan aku hadapi dan aku senantiasa menyelidiki benar-benar setiap akidah dan setiap golongan, aku berusaha sekerasnya untuk mengungkapkan semua rahasia mazhab mana yang palsu, mana yang mengikuti sunnah dan mana yang tidak mengikuti sunnah (bid’ah).

“Tidak aku tinggalkan seorang ahli kebatinan kecuali setelah aku mengetahui tentang kebatinannya”.

“Tidak seorangpun ahli dhahir kecuali setelah aku mengetahui kedhahirannya”.

“Tidak seorang ahli filsafatpun sebelum aku memahami maksud dari filsafatnya.”

“Tidak seorang ahli theologipun kecuali aku berusaha sekerasnya untuk ku pelajari ilmu theologinya dan cara berdebatnya sampai sedalam-dalamnya.”

“Tidak seorang sufipun kecuali aku selidiki segala rahasia yang ada pada tasawufnya”.

“Tidak seorang ahli ibadahpun kecuali harus kucari hasil yang diperoleh dari ibadahnya itu”.

“Tidak seorang zindiq (seorang kafir yang pura-pura beriman) pun kecuali setelah aku selidiki dirinya agar aku waspada terhadap sebab-sebab penyelewengan dan kezindiqkannya.[1]

Atas dasar yang dikatakan al-Ghazali itu kemudian al-Ghazali diserang keraguan yang tajam atas seluruh pengetahuan yang ada selama ini didalam diri beliau. Keraguan tersebut bersifat menyeluruh dan umum selama 2 bulan. Akan tetapi keraguan itu akhirnya sirna, tentunya hal itu bukan karena membuat dalil atau pembicaraan, tetapi karena nur ilahi yang dipancarkan Allah dalam hatinya.[2]

Banyak penguasa dan kepala suku datang kepada imam al-Ghazali untuk mendapatkan fatwa dalam perkata teologi dan soal mengurus negara. Ratusan ulama, pejabat kekhalifahan dan bangsawan yang berkuasa menghadiri perkuliahan beliau yang disampaikan dengan penuh pemikiran, argumen dan alasan, kebanyakan bahan perkuliahan dicatat oleh Sayyid bin Faris dan Ibn Lubban, keduanya mencatat kira-kira 183 bahan perkuliahan yang lalu dikumpulkan dalam satu kitab yang bernama Majalis-i Ghazzaliyah.[3]

Kemudian al-Ghazali berpaling kepada usaha untuk meraih ketinggian spiritual. Keadaan dari alasan yang menuntun pikirannya berpaling kepada usaha tersebut ditulis dalam bukunya Munqidz min adz-Dzalal (lepas dari kesesalan), dia adalah pengikut Imam Syafi’i dalam usia mudanya, tetapi di Bagdad beliau bergaul dengan banyak orang dari berbagai mazhab fiqh, pemikiran, dan gagasan Syi’i, Sunni, Zindiqi, Majusi, Theolog skolastik, Kristen, Yahudi, Atheis penyembah api dan penyembah berhala. Mereka sering bertemu dan adu argumentasi dan berdebat. Ini berpengaruh pada pikiran beliau, sehingga seluruh kehidupannya berubah total dan beliau mulai mencari kebenaran dengan penalaran yang bebas gagasan lainnya surut dan beliau mulai hidup dalam keraguan dan kegelisahan. Dan beliau cenderung pada sufisme. Diilhami oleh gagasan tersebut beliau meninggalkan kedudukan terpandangnya di Baghdad, mengenakan pakaian sufi dan menyelinap meninggalkan Baghdad di suatu malam pada tahun 488 H.[4]

Kemudian al-Ghazali pergi ke Damaskus, lalu mengasingkan diri dalam sebuah kamar masjid dan dengan penuh kesungguhan melakukan ibadah, tafakur, dan zikir. Disini beliau menghabiskan waktu selama dua tahun dalam kesendirian dan kesunyian.[5]

Pada waktu masa hidup al-Ghazali adalah masa munculnya aliran-aliran pemikiran di tengah-tengah masyarakat Islam. Aliran-aliran itu berpijak dari beraneka ragam permasalahan yang tumbuh di tengah-tengah majemuknya pemeluk agama Islam. Diantaranya adalah berkembangnya faham rasional di kalangan theology sebagai akibat dimulainya penterjemahan buku-buku asing (Yunani) dan sebagai dampaknya yang sangat menonjol adalah lahir golongan filosof yang berbendera filsafatnya cenderung mengembangkan teori-teori Plato, Aristoteles dan Neo Platonisme. Dan disisi lain berkembang pula aliran bathiniyah.[6]

Aliran theology, filsafat dan bathiniyah pada masa al-Ghazali lahir masih sangat dominan, sehingga al-Ghazali sebagai pribadi yang senantiasa haus akan ilmu pengetahuan cenderung mempelajari ketiga aliran tersebut dengan seluruh ajarannya.[7]

Penguasaannya terhadap ketiga aliran tersebut menyebabkan al-Ghazali, ahli bidang itu dengan memunculkan karya-karyanya pada setiap bidang tentang faham itu yang bersifat kritik dan centikatif developmental. Finalisasi dari evolusi pemikirannya muncullah skeptisisme dalam dirinya sebagai dampak penelitiannya terhadap hakekat yang diajarkan oleh ketiga aliran itu. Secara jelas, al-Ghazali menjelaskan dalam karyanya “Al-Munqidz min adz-Dzalal (Pembebasan dari kesesatan).[8]

Demikianlah yang melatarbelakangi pemikiran al-Ghazali, yang pada akhirnya beliau dengan cermat melakukan suatu “sintetik Islami” terhadap aliran-aliran yang muncul pada massanya, sehingga beliau mampu tampil dengan teori-teori sendiri tentang kebenaran yang selalu dikaitkan pada ajaran Islam. Puncak pemikirannya adalah lahirnya karya terbesar yakni “Ihya Ulumuddin” sebagai suatu upaya besar dalam rangka kritik terhadap aliran-aliran itu adalah karena terdorong oleh gejala berkecamuknya pikirannya bebas waktu itu yang banyak membuat orang meninggalkan ibadah.

Pengetahuan tentang pembedaan pendapat dan perdebatan ushuluddin dan ushul fiqh, ilmu mantiq, ilmu hikmah dan filsafat.  Semua pengetahuan itu beliau kaji dengan sungguh-sungguh. Al-Ghazali juga mempelajari ucapan tokoh-tokoh dari masing-masing disiplin ilmu tersebut dan menyanggah pemikiran mereka serta membatalkan pengakuan dan dakwaan mereka.  Imammul Haramain sendiri kemudian menjuluki beliau sebagai bahrun mughriq (lautan yang menenggelamkan).

Setelah Imamul Haramain wafat pada tahun 478 H (1805 M) al-Ghazali pergi ke Askar untuk mengunjungi Wasir Nizamul Mulk yang majelisnya banyak dikunjungi alim ulama dan menjadi tempat singgah para musaffir, di masjid itu beliau berdebat dengan sejumlah ulama terkemuka dan berhasil menundukkan mereka, beliau menyampaikan pemikiran beliau sehingga akhirnya menghormat dan mengakui kedalaman ilmu beliau.  Sejak saat itu nama beliau membumbung tinggi dan menjadi buah pembicaraan di berbagai pelosok kota.[9]  Menurut As-Subkhi di Baghdad beliau mendapat penghormatan yang menyerupai penghormatan untuk orang suci, melebihi kehormatan untuk para pejabat kerajaan menteri-menteri bahkan raja-raja Abdul Ghofir al-Farizi yang hidup sezaman dengan beliau berkata “al-Ghazali menjadi imam di Khurasan kemudian di Iraq”.  Demikian keadaan beliau telah mencapai puncak kemuliaan.  Dunia mendatanginya dengan tunduk dan hina dengan berbagai kekayaan dengan berbagai benda yang membagkitkan syahwat, dengan menawarkan ketenaran, kedudukan dan kekuasaan sehingga diceritakan tentang bagaimana tingkah para pembesar dan pejabat negara yang mencoba mendekati beliau, bagaimana mereka mencintai dan melayani beliau dan bagaimana beliau berpaling dan tidak mempedulikan ucapan mereka.  Imam al-Ghazali merasa senang dengan semua kenikmatan ini. Namun masa-masa megah ini ternyata tidak berlangsung lama, karena dalam hati beliau timbul perasaan muak terhadap kenikmatan, kemegahan dan kemuliaan yang baru saja diraihnya.  Lalu beliau memilih hidup zuhud dan uzlah.  Kalau beliau dulu berada dalam kemewahan duniawi, sekarang beliau mendekatkan diri kepada Allah.  Kalau dulu beliau berlenggang di taman kenikmatan material kini al-Ghazali berlari dan berhijrah kepada Tuhannya.

Namun kegemaran membahas dan meneliti berbagai pengetahuan, juga pemikirannya yang tajam dan berani ini akhirnya mengantarkan kepada keraguan atas apa yang ia lihat, dengar, baca, dan juga atas apa yang ia utarakan dan yakini.  Konon keraguan ini sangat parah dan berlangsung selama dua bulan.  Dari penelitian beliau yang ekstensif ini beliau mendapati bahwa berbagai golongan yang saling berbeda ini masing-masing menganggap bahwa hanya golongannya saja yang paling selamat, dan masing-masing merasa puas dengan pemikiran mereka.  Lalu beliau merenungkan golongan mana sesungguhnya yang benar dan mana yang sesat.  Kemudian al-Ghazali mendapatkan metode yang paling gamblang dan mudah untuk menilai kelompok yang benar dan yang salah yaitu dengan memberikan batasan-batasan dan melakukan pengelompokan-pengelompokan. Lalu al-Ghazali membagi menjadi empat kelompok : al-Mutakallimun (para teolog), al-Batiniah, al-Falasifa dan as-Syufiyah.[10]

Semua madzab-madzab itu dikritik dengan keras dan tajam oleh Imam al-Ghazali, beliau menulis banyak kitab untuk menyanggah mereka, kemudian beliau memusatkan tenaga dan perhatiannya pada tarekat sufiyah. [11]  Tarekat sufiyah merupakan tarekat ilmu dan amal.[12]  Tarekat sufiyah tidak akan sempurna hanya dengan ilmu bahkan ilmu merupakan aspek terkecil dibandingkan berbagai aspek yang lainnya adapun aspek yang menyampaikan manusia kepada Tuhannya dan keyakinan adalah aspek amali.  Tarekat ini menuntut usaha dan perhatian penuh kepada Allah ta’ala, membutuhkan pengalihan perhatian dari harta, kedudukan, kemasyhuran, publisitasi dan reputasi serta memerlukan khalwat lama maupun singkat, agar penempuhan tarekat ini dapat sepenuhnya membaktikan diri kepada Allah.[13]

Jadi pemikiran al-Ghazali muncul sebagai usaha untuk mengembangkan aliran-aliran kedangkalannya dengan pemahaman ilmu Islam.[14]

 


[1] Imam Hujjatul Islam Abi Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Munqidz min adz-Dzalal, (Beirut – Libanon : al-Maktabah al-Su’baniyyah, t.th), hlm. 24-25.

[2] Abdul Halim mahmud, Hal Ihwal Tasawuf Analisa Tentang al-Munqidz min Adz-Dzalal (Penyelamat dari Kesesatan), (Indonesia : Darul Ihya, t.th), hlm. 43.

[3] Imam al-Ghazali, Misykat al –Anwar wa Mishfat al-Asraar, (Beirut : al-Mazra’at Binaayat al-Imaan, t.th), hlm. 12-13

[4] Ibid., hlm. 13

[5] Ibid.

[6] M. Bahri Ghazali, Konsep Ilmu Menurut al-Ghazali, Suatu Tinjauan Psikologik Pedagogik, (t.tp : Ilmu Jaya, 1991), cet. 1, hlm. 25-27

[7] Ibid., hlm. 27

[8] Ibid.

[9] Imam al-Ghazali, Ayuha al-Walad Duhai Anakku . . . Wasiat al-Ghazali untuk Murid Kesangannya, terj. Abu Abdillah al-Khusaini, (Solo : Pustaka Zawiyah, 2005), hlm. 65

Under arsip:  Perkuliahan.com.  
Post title : Makalah Pemikiran Imam Ghazali

Category: Makalah Islami

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*