Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

MAKALAH PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul Artikel /makalah :  MAKALAH PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Bidang  artikel /makalah  : tugas makalah , Makalah pendidikan

……………………………………………………………………………………………………………………………………………….

Pentingnya Sikap Belajar Siswa dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Dalam proses belajar mengajar, hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai siswa penting untuk diketahui oleh guru, sehingga guru dapat mengetahui apakah materi atau bahan yang disampaikan itu berhasil atau tidak. Sebab dari adanya belajar, diharapkan adanya perubahan-perubahan pada siswa baik dari segi pengetahuan, ketrampilan maupun perubahan dalam bentuk sikap siswa dalam kehidupan sehari-hari akibat dari hasil belajar itu.

Hal ini sebagaimana yang dituturkan oleh S, Nasution, bahwa “belajar membawa sesuatu perubahan pada individu yang belajar”. Pendapat itu tidak hanya


mengenai jumlah pengetahuan melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, minat, penyesuaian diri, pendeknya mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang.[1]

Menurut Ngalim Purwanto dalam bukunya “Psikologi Pendidikan” bahwa tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/ berfikir, ketrampilan, kecakapan, kesadaran, ataupun sikap.[2]

Sedangkan menurut Lestar Crow dan Alice Crow menuturkan bahwa “Belajar adalah hal memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuan dan berbagai sikap.[3]

Dari pengertian di atas dapat diambil pengertian bahwa dengan belajar itu, maka akan menimbulkan adanya perubahan-perubahan termasuk juga sikap dalam belajar seseorang itu yang berubah. Apakah setelah seseorang itu belajar sikapnya menerima atau menolak terhadap hasil yang disampaikannya. Dari hasil belajar dalam bentuk sikap akan nampak dalam bentuk kemauan, minat, perhatian dan perubahan perasaan dalam belajar. Sebab sikap dalam belajar itu sendiri adalah dapat dipelajari dan dapat diubah melalui proses belajar.

Selanjutnya sebagaimana yang telah penulis paparkan di atas bahwa sikap belajar seseorang itu ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif dalam menanggapi suatu obyek, termasuk dalam hal ini adalah tentang pelaksanaan pendidikan agama Islam.

Jika seseorang telah dididik oleh keluarganya dengan pendidikan agama sejak masih anak-anak dan ia dibiasakan hidup secara agama, tentu ketika tumbuh dan berkembang menjadi dewasa ia akan bersikap yang positif dalam arti menerima dan mengakui pendidikan agama Islam yang diajarkan di sekolah lanjutan khususnya di tingkat SLTA. Hal ini sebagaimana yang dituturkan oleh Zakiah Daradjat bahwa :

“Pendidikan agama di sekolah dasarpun, merupakan dasar pula bagi pembinaan sikap dan jiwa agama anak. Apabila guru agama di sekolah dasar mampu membina sikap positif  terhadap agama dan berhasil dalam membentuk pribadi dan akhak anak, maka untuk mengembangkan sikap itu pada masa remaja mudah dan si anak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai kegoncangan yang biasa terjadi pada masa remaja. Demikian pula sebaliknya apabila guru agama gagal melakukan pembinaan sikap dan jiwa agama pada anak di sekolah dasar, maka anak-anak akan memasuki masa goncangan pada masa usia remaja itu, dengan kegoncangan dan sikap yang tidak positif”.[4]

 

Dengan demikian jika si anak itu sejak kecil tidak pernah mendapatkan pendidikan agama Islam baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di sekolah atau sedikit pengalaman yang bersifat keagamaan, maka setelah ia tumbuh menjadi dewasa sikap, tindakan, kelakuan dan caranya menghadapi hidup tidak sesuai dengan ajaran agama. Hal ini lebih lanjut dijelaskan oleh Zakiah Daradjat dalam buku “Ilmu Jiwa Agama” bahwa :

“Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa-masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun. Seorang yang pada masa anak itu tidak mendapat didikan agama dan tidak pula mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama”.[5]

 

Untuk membuktikan uraian di atas itu, penulis mengadakan penelitian tentang siswa dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam di SMU Negeri 2 Blora yang siswanya terdiri dari MTs dan SMP. Sebagaimana dimungkinkan bahwa siswa MTs telah cukup banyak mendapatkan pendidikan dan pengalaman keagamaan di sekolah, sedangkan siswa yang berasal dari SMP rata-rata masih kurang. Berkenaan dengan itu, maka dimungkinkan adanya perbedaan sikap belajar di antara siswa tersebut terhadap pelaksanaan pendidikan agama Islam yang diberikan oleh guru pendidikan agama Islam di sekolah.

 

 

 

   

 

 

 

 


[1]Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, Jemmars, Bandung, 1986, hal. 39.

[2]Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Op. Cit, hal. 85.

[3]Lester Crow dan Alice Crow, Psychologi Pendidikan, Terj. Abd. Rachman Abror, Nur Cahaya, Yogyakarta, 1989, hal. 275.

[4]Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Op. Cit, hal. 73.

[5] Ibid., hal. 74.

 

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul Artikel /makalah :  MAKALAH PELAKSANAAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Category: Makalah Islami

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*