Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah Metode Kisah dalam Pendidikan Islam

Makalah Metode Kisah dalam Pendidikan Islam
Under arsip:  Perkuliahan.com. 
Post title : Makalah Metode Kisah dalam Pendidikan Islam,
Post  Category   : Makalah Metode Kisah dalam Pendidikan Islam,  metode cerita dalam pengajaran dan pendidikan islam etc. data post: perkuliahan.com edition of : 117
 

Pelaksanaan Metode Kisah dalam Proses Pendidikan Islam 

 Dalam mendidik anak diperlukan suatu metode yang sesuai. Dalam hal ini guru sebelum menggunakan metode harus benar-benar mempertimbangkan berbagai hal yaitu baik materi, metode maupun tujuan pendidikan Islam, sehingga tujuan pendidikan Islam dapat terwujud dengan baik.

Metode kisah sebagai salah satu metode pilihan yang digunakan dalam proses pendidikan anak dalam Islam dengan harapan dapat untuk menyampaikan materi, sesuai dengan kemampuan dan perkembangan jiwa anak, sehingga dapat dicapai suatu tujuan yang dikehendaki tersebut.

Dalam pendidikan Islam bagi anak pelaksanaan metode kisah tidak akan terlepas dari pertimbangan sebagai berikut :

 1.      Tingkat Perkembangan Anak

Pelajaran yang disampaikan kepada anak hendaknya menyesuaikan kemampuan anak, sebab hal ini menjadi bahan pertimbangan apakah anak dapat menangkap apa yang akan diceritakan atau tidak. Bila anak dapat menangkap apa yang disampaikan, salah satunya berarti materi yang disampaikan sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Untuk menerapkan metode ini, diharapkan pendidik mengetahui tingkat perkembangan anak, yang dalam hal ini dapat diketahui melalui dari tingkat usia atau kemampuan anak. Dalam psikologi pendidikan dijelaskan tentang tingkat perkembangan dan beberapa bobot materi yang akan disampaikan, khususnya yang berkaitan dengan materi pendidikan agama.[1]

Adapun pemetaan tentang masa perkembangan yang terkait dengan bobot materi pendidikan agama yang disampaikan adalah :

a.       Masa 0 – 3 tahun

Sejak usia 0-3 tahun, pengetahuan anak tentang Tuhan baru diperoleh dari orang tua dan masa ini merupakan pendidikan awal dari orang tua atau awal pengenalan pendidikan agama kepada anak. Kisah atau cerita pada usia ini belum begitu dimengerti oleh anak, sebab anak belum dapat memahami secara penuh tentang apa yang disampaikan oleh orang tua.

b.      Masa 3 – 5 tahun

Konsep tentang Tuhan mulai diperoleh melalui kisah-kisah atau cerita-cerita atau pengalaman, karena anak dalam masa ini selalu ingin mengetahui segala sesuatu yang dilihatnya. Kisah yang sangat berperan tersebut harus dapat dimanfaatkan oleh orang tua untuk memupuk keimanan pada diri anak.

c.    Masa 6 – 12 tahun

Pada umur ini anak mulai berkembang inteligensinya secara pesat; anak ingin mengetahui segala sesuatu dan berfikir secara logis. Pada usia ini, kisah atau cerita yang disampaikan kepada anak harus terfokus dan sesuai dengan perkembangan inteligensinya.

d.   Masa 13 – 19 tahun

Masa ini merupakan masa pertumbuhan anak yang sangat cepat, sehingga kadang-kadang membuat anak bingung dalam mengambil sikap atau tingkah laku, dan dalam masa ini anak memerlukan perhatian yang lebih. Pada masa pertumbuhan anak sangat membutuhkan cerita yang terarah dan orang tua diharapkan selalu berada di sisinya pada saat ia mempunyai banyak problematika.[2]

Dari perkembangan di atas, masa penerapan metode kisah dapat dimulai ketika anak berumur tiga tahun ke atas, tatkala anak sebelumnya telah dikenalkan kepada Tuhan. Kemudian ke atasnya merupakan penanaman lanjut tentang Ketuhanan dan yang lainnya, seperti melaksanakan shalat, melaksanakan perbuatan-perbuatan yang baik dan lain sebagainya. Dari sini metode kisah sangat berperan dalam menumbuhkembangkan jiwa keagamaan anak, sehingga anak kelak dapat mengenal Tuhan dan ajaran-ajaran-Nya dengan baik dan benar.

2.   Tujuan yang Hendak Dicapai

Metode kisah atau cerita sangat efektif dalam pencapaian tujuan pendidikan Islam sebab dalam cerita memberikan kisah pelajaran kepada anak didik untuk senantiasa berfikir mengekspresikan sikap, serta terampil berperilaku sesuai dengan kandungan yang diharapkan oleh isi cerita atau kisah. Tujuan metode kisah pada aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik, yang perwujudannya sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan oleh Rasulullah yang di antaranya berkaitan dengan masalah akidah, ibadah dan masalah muamalah.[3]

Menurut Moeslichatoen manfaat metode kisah di antaranya sebagai berikut :

a.       Mengkomunikasikan nilai-nilai budaya.

b.      Mengkomunikasikan nilai-nilai sosial.

c.       Mengkomunikasikan nilai-nilai keagamaan.

d.      Menanamkan etos kerja, etos waktu, etos alam.

e.       Membantu mengembangkan fantasi anak.

f.       Membantu mengembangkan dimensi kognitif anak.

g.      Membantu mengembangkan dimensi bahasa anak.[4]

Sesuai dengan manfaat tersebut di atas, bercerita mempunyai tujuan yaitu untuk memberikan informasi, menanamkan nilai-nilai sosial, nilai-nilai moral, nilai-nilai keagamaan serta pemberian informasi tentang lingkungan fisik dan lingkungan sosial.[5] Dalam mencapai tujuan tersebut, guru senantiasa diharapkan dapat mengaplikasikan metode kisah sesuai dengan tujuan yang dikehendaki sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

3.   Materi yang Disampaikan

Materi atau bahan pelajaran yang harus disampaikan oleh guru kepada anak didik untuk mencapai suatu tujuan pendidikan yang diinginkan, yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik harus sesuai dengan ajaran Islam. Guru harus pandai-pandai menyampaikan materi dengan baik sesuai dengan taraf perkembangan anak, meskipun dalam hal ini tidak terlepas pula  dari peran serta guru, orang tua, dan masyarakat, juga metode yang digunakan.

Agar materi pelajaran dapat diserap oleh anak, sehingga anak yang didambakan orang tua menjadi muslim yang baik, maka orang tua dan guru diharapkan tahu akan tahapan materi pendidikan anak.

Tahap pertama, sejak anak lahir dari usia 0 sampai usia 20 tahun, ketika anak tumbuh dewasa dan akan mulai meninggalkan rumah, hendaknya dia dibiasakan tinggal dan hidup dengan ajaran yang sesuai dengan ajaran Islam.

Tahap kedua, adalah tahap cerita dan tradisi. Ketika usia anak menginjak 3 tahun, orang tua mulai membuka medan yaitu dengan daya khayal dan niat baik untuk mengungkapkan berbagai kisah atau cerita yang terdapat dalam Al-Qur’an, hadis, dan buku-buku tentang kisah atau cerita maupun yang lainnya. Dari sini merupakan awal pembentukan moral anak hingga anak tahu tentang apa yang harus dilakukannya.

Tahap ketiga, menginjak usia 10 tahun merupakan awal penerapan kewajiban beragama bagi anak. Adapun tanggung jawab orang tua adalah menanamkan sikap dan gemar menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Dan tahap keempat, usia 15 tahun mulailah ditanamkan pengertian jihad. Jihad yang dimaksud adalah dalam pengertian umum yaitu bekerja keras atau bersungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu pekerjaan.[6]

Di antara materi yang perlu diterapkan dengan metode kisah adalah materi yang berkaitan dengan masalah akidah, misalnya larangan menyekutukan Allah, materi yang berkaitan dengan masalah ibadah, misalnya shalat, zakat dan puasa, kemudian materi yang berkaitan dengan masalah muamalah, misalnya larangan riba dan serta materi yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang ada dalam Al-Qur’an seperti kisah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan lain sebagainya, yang banyak memberikan teladan dan pelajaran hidup dalam rangka pengamalan ajaran agama.

Sedangkan mengenai materi pelajaran dan metode pengajaran yang sesuai merupakan faktor penting dalam keterbukaan dan kesediaan anak untuk belajar. Cukuplah bahwa penggunaan kata-kata sukar dan samar dalam mengajar anak didik membaca dan menulis atau menggunakan metode yang gersang dalam mengajar, akan memalingkan anak dari materi pelajaran, serta menimbulkan kebosanan dalam diri mereka. Lain halnya jika diajarkan kepada mereka kata-kata yang biasa dan tepat melalui penyampaian materi dengan metode kisah.[7]

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan menurut Zakiah Daradjat, dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak didik yaitu :

a.       Agar dalam bicara kepada anak didik dengan susunan kata yang sesuai dengan tingkat mereka, hendaknya diajuhkan penggunaan kata-kata yang samar, yang memerlukan penjelasan yang cukup sebelum disampaikan kepada anak didik.

b.      Pendidik menghubungkan topik pelajaran baru dan pengalaman-pengalamannya dengan apa yang telah telah dicapai anak didik sebelum pengalaman-pengalaman dan informasi-informasi.

c.       Hendaknya pendidik menonjolkan hubungan antara bermacam materi dan berbagai pengertian satu sama lain.

d.      Hendaknya pendidik menjaga agar menjadikan setiap pelajaran mengandung berbagai pengalaman dan kegiatan yang sesuai dengan bakat dan berbagai kepentingan anak didik.[8]

 4.      Ketrampilan Guru

Sebagaimana tujuan di atas terutama dalam rangka memberikan pengalaman belajar dan untuk mencapai tujuan pengajaran, misalnya tentang pemberian informasi atau menanamkan nilai-nilai moral, nilai-nilai sosial dan nilai-nilai keagamaan, guru harus pandai-pandai mengaitkan materi yang telah dipilih. Tema tersebut harus ada kedekatannya dengan kehidupan anak dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Tema juga harus menarik dan memikat perhatian anak.

Guru dalam bercerita hendaknya mampu dan trampil menerapkan langkah-langkah sebagai berikut :

a.       Mengkomunikasikan tujuan dan materi dalam kegiatan bercerita, misalnya tujuan bercerita menanamkan nilai-nilai keagamaan, materi cerita tentang Nabi Yusuf.

b.      Mengatur tempat duduk anak dan menetapkan bahan atau alat bantu apa yang diperlukan.

c.       Merupakan pembukaan dalam bercerita, tugas guru adalah menggali pengalaman anak dalam kaitan dengan materi.

d.      Merupakan pengembangan cerita yang dituturkan guru, guru menyajikan fakta-fakta yang berkaitan dengan kehidupan anak.

e.       Setelah lancar bercerita, maka guru menetapkan rancangan cara-cara bertutur yang dapat menggetarkan perasaan anak dengan cara memberikan gambaran tentang materi yang disampaikan.

f.       Merupakan langkah penutup, kemudian guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan denga materi tersebut. Dan pada langkah ini dapat diterapkan metode lain sesuai dengan apa yang menjadi kemampuan guru.[9]

Bercerita dalam proses menerapkan metode kisah, keterampilan guru sangat berpengaruh terhadap kemauan anak dalam mendengarkan isi cerita atau kisah. Guru harus dapat mamanfaatkan segala sesuatu yang ada, misalnya dengan menggunakan anggota badan dalam mengekspresikan sebuah kisah ataupun dengan yang lainnya sesuai dengan keterampilan yang dimiliki seorang guru, sehingga pesan dari isi cerita atau kisah dapat dipahami oleh nalar anak didik, dan dapat menyentuh perasannya.

5.   Sarana yang Dipakai

Dalam bercerita, maka sarana yang dipakai seharusnya disesuaikan dengan bentuk atau kisah cerita yang dituturkan guru. Pada dasarnya ada tiga sarana yang bisa digunakan guru dalam hal ini yaitu bercerita dengan menggunakan ilustrasi gambar, bercerita dengan membaca buku atau majalah dan bercerita dengan menggunakan papan flannel.

Dalam menggunakan sarana tersebut guru harus menyesuaikan sarana yang dipakai dengan materi yang disajikan, misalnya ketika bercerita tentang Nabi Yusuf AS, maka sarana yang digunakan adalah buku atau majalah yang berkaitan langsung dengan kisah tersebut.[10]

Jadi jelaslah bahwa sarana yang dipakai dalam penerapan metode kisah yang didasarkan pada nilai-nilai agama yang terkandung dalam Al-Qur’an, hadis dan buku kisah atau cerita Keislaman sangatlah penting dalam pembentukan pribadi dan memperkuat pendirian anak.

Setelah mempertimbangkan kelima aspek di atas yaitu tingkat perkembangan anak, tujuan yang hendak dicapai, materi yang disampaikan, ketrampilan guru, sarana yang dipakai dalam rangka menerapkan metode kisah dalam pendidikan anak, maka terapan kongkritnya dari proses pembelajaran dalam menyajikan bahan kisah dengan cara bertatap muka di hadapan anak-anak, adalah sebagai berikut :

1.      Memberikan pengantar pengajaran

Sebelum guru berkisah, perlu menyusun rencana fokus yang maksudnya untuk menarik perhatian anak-anak agar menyimak bahan kisahan. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengenalkan tokoh-tokoh. Namun yang terpenting yaitu melakukan dialog dengan pertanyaan dan lebih baik apabila ada media audio visual, seperti film, gambar-gambar, slide dan sejenisnya.

2.      Menyajikan bahan pengajaran

Kisah yang disajikan oleh guru harus dipilih secara matang berdasarkan pada bahan pelajaran. Kisah tersebut dapat berbentuk episode atau secara kronologis dari mulai awal sampai akhir dari sebuah kisah. Yang penting nantinya dalam penerapan kisah tersebut benar-benar dapat menyentuh kebutuhan kognitif, afektif dan psikomotorik anak. Untuk menciptakan komunikasi, cara-cara pengajaran kisah dapat diurut seperti menyuruh anak membaca teks kisah atau membaca ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian guru menjelaskan isi kisah dari ayat dibaca dan guru mendialogkannya dengan anak-anak.

  1. Menutup acara berkisah

Dalam menutup acara berkisah, guru senantiasa menyampaikan pujian dan terima kasih kepada anak-anak dan menghendaki untuk berkisah pada waktu lain yang ditentukan. Apabila hubungan berkisah tersebut ada hubungannya dengan pemberian penilaian, maka untuk mengukur tingkat pemahaman anak ajukanlah beberapa pertanyaan terhadap bahan kisah yang telah disajikan tersebut.

Dalam setiap penyajian pengajaran kisah ini, guru harus senantiasa melibatkan anak mulai sejak awal berkisah hingga berakhirnya kegiatan tersebut. Adapun cara yang lebih mudah adalah dengan menyapa atau menanyakan sesuatu kepada anak-anak, sebagai contoh tatkala guru berkisah tentang Nabi Yusuf, maka guru bertanyalah kepada anak-anak, siapakah yang mempunyai nama sama dengan Yusuf ?, siapakah yang mempunyai saudara, kakak ataupun adik namanya sama dengan Yusuf ?, bagaimana perasaan anak-anak bila diperlakukan seperti halnya Nabi Yusuf ?

Kemudian hubungkanlah pertanyaan dengan pengalaman Yusuf, misalnya tentang mimpinya, tanyakanlah apakah anak-anak juga pernah bermimpi ?, mintalah anak-anak untuk bercerita tentang mimpinya ?, tanyakanlah apa mimpi Yusuf pada waktu masih kecil itu ?, adakah di antara anak-anak yang pernah bermimpi serupa Yusuf ?, akhirilah dengan sebuah nilai, misalnya tentang mimpi itu. Mimpi Yusuf adalah sebuah wahyu sebagai ciri pokok Kenabian, sedangkan mimpi kita adalah bukan sebuah wahyu.[11]

Demikianlah aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan guru dalam kegiatan berkisah yang meliputi pemberian pengantar, menyajikan dan menutupnya. Metode kisah atau bercerita yang diterapkan guru dalam praktek pembelajaran sangat berpengaruh terhadap kemauan anak dalam mendengarkan isi cerita atau kisah yang disajikan. Guru harus dapat memanfaatkan dan menerapkan  semaksimal mungkin aspek-aspek yang ada hubungannya dengan kegiatan berkisah dengan sebaik mungkin.

 


[1]Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan; Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hlm. 177-180.

[2]Loc.cit.

 [3]Ali Syawakh Ishaq, Metodologi Pendidikan Al-Qur’an dan Sunnah, Terj. Asmu’i Saliha Zakhsyari, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1995, hlm. 89.

[4]Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak-kanak, Rineka Cipta, Jakarta, 1999, hlm. 26-27.

 [5]Ibid., hlm. 171.

[6]Ibnu Musthafa, Keluarga Islam Menyongsong Abad 21, Al-Bayan, Bandung, 1993, hlm. 101.

[7]Zakiah Daradjat, Kepribadian Guru, Bulan Bintang, Jakarta, 1982, hlm. 25.                 

 [8]Ibid, hlm. 25.

 [9]Moeslichatoen, Op.cit., hlm. 179 – 180.

[10]Ibid, hlm. 177.

[11]Ibid. hlm. 121-122.

Under arsip:  Perkuliahan.com. 
Post title : Makalah Metode Kisah dalam Pendidikan Islam,

  • budiono says:

    terima kasih artikelnya, sangat bermanfaat.

    March 24, 2012 at 03:40

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*