Makalah Memahami Perilaku Belajar

 Perkuliahan.com, postingan kali ini menyajikan makalah psikologi umum dengan judul asli “Memahami Belajar ” ditulis oleh PETHIT ASRIYATI, yang merupakan teman kelas PGMI UIN Suka, semoga makalah yang diposting ini bermanaat buat pembaca.shared by doc. Anisatul Mahmudah, next post Makalah Tentang Intelegensi (Kecerdasan)

” Memahami Belajar “

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Istilah belajar dan pembelajaran merupakan suatu istilah yang memiliki keterkaitan yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain dalam proses pendidikan. Pembelajaran sesungguhnya merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar siswa belajar. Untuk itu harus dipahami, bagaimana siswa memperoleh pengetahuan dan kegiatan belajarnya. Jika guru dapat memahami proses pemerolehan pengetahuan, maka guru akan dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi siswanya.[1]

Pembahasan antara belajar dan pembelajaran terletak pada penekanannya. Pembahasan masalah belajar lebih menekankan bahasan tentang siswa dan proses yang menyertai dalam rangka perubahan tingkah lakunya. Adapun pembahasan mengenai pembelaran lebih menekankan pada guru dalam upayanya untuk membuat siswa dapat belajar.

Bahwa realitas hidup manusia menunjukkan yaitu individu tidak pasif saja menghadapi berbagai kekuatan di alam sekitarnya. Ia harus secara aktif memberi reaksi-reaksi kepada stimuli dan di dalam aktivitasnya inilah dia harus belajar.

Belajar itu bukanlah hanya melatih kekuatan otot-otot dan urat saraf, lebih daripada soal memperkuat. Perbuatan-perbuatan belajar adalah aktivitas baru dan menambah pengetahuan dan kecakapan baru. Tetapi tidak semua aktivitas baru adalah belajar. Karena masalah belajar merupakan masalah yang penting di dalam psikologi dan psikologi pendidikan, maka banyaklah pendapat dan teori-teori belajar yang dikembangkan olah para ahlinya yang bersangkutan.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang akan dikaji dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :

  1. Apa pengertian belajar ?
  2. Apa konsep dasar dalam belajar yang terdiri atas pengertian belajar, cirri-ciri perilaku belajar, factor-faktor yang mempengaruhi belajar, dan motivasi belajar?
  3. Apa saja teori-teori belajar dalam pandangan psikologi

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengrtian Belajar

Belajar  adalah bentuk kegiatan manusia baik jasmaniah maupun rohaniahnya untuk mengembangkan tingkah laku secara kuantitatif maupun kualitatif supaya dapat menguasai sejumlah pengetahuan dan kecakapan[2]. Belajar selalu menghendaki dan kemauan serta tindakan-tindakan yang teratur. Belajar itu bertitik tolak dari hal-hal yang telah diketahui dan dikuasai menuju kepada hal-hal yang belum dikuasai dan belum diketahui supaya menjadi tahu dan menguasainya.

  1. Konsep Dasar Belajar
  • Pengertian belajar

Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Santrock dan Yussen (1994) mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relative permanen karena adanya pengalaman. Reber (1988) mendefinisikan belajar dalam dua pengertian. Pertama belajar sebagai proses memperoleh pengetahuan dan kedua belajar sebagai perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujiud perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi yang relative permanen karena adanya interaksi individu dengan lingkungannya.

Ciri-Ciri Perilaku Belajar

Tidak semua semua tingkah laku dikategorikan sebagai aktivitas belajar.[3] Adapun tingkah laku yang dikategorikan sebagai perilaku belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Perubahan tingkah laku terjadi secara sadar

Suatu perilaku digolongkan sebagai aktivitas belajar apabila perilaku menyadari terjadinya perubahan tersebut atau sekurang-kurangnya merasakan adanya suatu perubahan dalam dirinya misalnya menyadari pengetahuan bertambah.

  1. Perubahan bersifat kontinu dan fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan dan tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan selanjutnya akan berguna bagi kehidupan atau proses belajar selanjutnya. Misalnya jika seorang anak belajar membaca, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca. Perubahan ini akan berlangsung terus sampai kecakapan membacanya menjadi lancar dan cepat.

  1. Perubahan bersifat positif dan aktif

Perubahan tingkah laku merupakan hasil dari proses belajar apabila perubahan-perubahan itu bersifat positif dan aktif. Dikatan positif apabila perilaku senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.

 

Makin banyak usaha belajar yang dilakukan maka makin baik dan makin banyak perubahan yang diperoleh. Perubahan belajar besifat aktif berarti bahwa perubahan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri. Oleh karena itu, perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan sendirinya karena dorongan dari dalam tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar.

  1. Perubahan bersifat permanen

Misalnya kecakapan seorang anak dalam bermain sepeda setelah belajar tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimiliki bahkan akan makin berkembang kalau terus dilatih.

  1. Perubahan dalam belajar bertujuan

Perubahan tingkah laku dalam belajar mensyaratkan adanya tujuan yang akan dicapai oleh pelaku belajar dan terarah kepada perubahantingkah laku yang benar-benar disadari. Misalnya seorang yang belajar mengetik, sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik. Dengan demikian perbuatan belajar yang dilakukan senantiasa terarah kepada tingkah laku yang ditetapkannya.

  1. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Jika seseorang belajar sesuatu, sebagai hasilnya ia akan mengalami perubahan tingkah laku secara menyeluruh dalam sikap, ketrampilan.

  • Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Terdapat dua faktor yang mempengaruhi belajar yaitu : Faktor internal meliputi faktor jasmaniah dan faktor psikologis. Faktor jasmaniah meliputi  kesehatan dan cacat tubuh, sedangkan faktor psikologis meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kelelahan.

Faktor ekstern yang berpengaruh dalam belajar meliputi faktor keluarga dapat meliputi bagaimana cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi kelurga, pengertian orang tua dan latar belakang kebudayaan. Faktor sekolah meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi antar siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. Serta faktor masyarakat dapat berupa kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, bentuk kehidupan dalam masyarakat, dan media massa.

  • Motivasi Belajar

Motivasi belajar memegang peran yang sangat penting dalam pencapaian prestasi belajar. Motivasi menurut Wlodkowsky (dalam Prasetya dkk, 1985) merupakan suatu kondisi yang menyebabkan perilaku tertentu dan yang memberi arah dan ketahanan pada tingkah laku tersebut. Motivasi belajar yang tinggi  tercermin dari ketentuan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses meskipun dihadang oleh berbagai kesulitan.

Motivasi yang tinggi dapat menggiatkan aktivitas belajar siswa.[4] Motivasi tinggi dapat ditemukan dalam sifat perilaku  siswa antara lain :

  1. Adanya kualitas keterlibatan siswa dalam belajar yang sangat tinggi.
  2. Adanya perasaan dan keterlibatan efektif siswa yang tinggi dalam belajar.
  3. Adanya upaya siswa untuk senantiasa memelihara agar senantiasa memiliki motivasi belajar tinggi.

 

  1. Teori-Teori Belajar

Banyak teori belajar yang dapat digunakan oleh para guru untuk berbagai keperluan belajar dan proses pembelajaran. Ada tiga pandangan psikologi utama yang akan diuraikan yaitu pandangan psikologi Behavioristik, Kognitif, dan Humannistik.

  • Teori Belajar Behavioristik
  1. Edward Erward Lee Thorndike (1874-1949)

Seorang pendidik dan psikolog Amerika, menurutnya belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organism untuk berbuat sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan stimulus dan respon, perlu adanya kemampuan untuk memilih respon yang tepat serta melalui percobaan-percobaan dan kegagalan- kegagalan terlebih dahulu. Bentuk belajar paling dasar dari belajar adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu.

Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor psikologi pendidikan.[5]

Thorndike mengemukakan bahwa terjadinya asosisai antara stimulus dan respon ini mengikuti hukum-hukum berikut:

  1. Hukum kesiapan (law of readiness) yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat
  2. Hukum latihan (law of exercise) yaitu semakin sering suatu tingkah laku dilatih, maka asosiasi tersebut akan semakin kuat.
  3. Hokum akibat (law of effect) yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat apabila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya memuaskan.

Dalam perjalanan penyampaian teorinya, Thorndike mengemukakan revisi hokum belajar antara lain:

  1. Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
  2. Hukum akibat direvisi. Dikatakannya bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
  3. Syarat utama terjadinya hubungan antara stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
  4. Akibat suatu perbuatan dapat menular (spread of effect) baik pada bidang lain maupun pada individu lain.

 

  1. Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936)

Seorang psikolog dari Ryazan Rusia, karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikologi behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Galnds (1902) dan Conditioned Reflexes (1927).

Classic Conditioning (pengkondisian klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap air liur anjing, di mana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.[6]

Pavlov mempelajari proses produksi air liur pada anjing, sebagai bagian dari penelitian tentang pencernaan. Diantara prosedur yang dilakukan Pavlov adalah dengan membuat lubang di pipi anjing dan memasukkan sebuah tabung yang dapat menampung air liur yang dihasilkan oleh kelenjar liur agar volume liur tersebut dapat diukur. Selama penelitiannya tentang produksi air liur ini, salah satu mahasiswanya menyadari sesuatu yang kebanyakan orang akan menganggapnya sebagai sebuah pertanyaan yang tidak penting. Setelah seekor anjing dibawa ke laboratorium selama beberapa kali, anjing tersebut terlihat mulai menghasilkan liur sebelum makanan diletakkan di mulutnya. Terciumnya makanan tersebut ternyata dapat membuat mulut anjing basah dengan air liurnya. Respons-respons ini jelas bukan sesuatu yang sifatnya diturunkan, melainkan diperoleh melalui pengalaman.[7]

Pada awalnya Pavlov menganggap kejadian ini sebagai sekresi air liur yang mengganggu. Namun dengan cepat dia menyadari bahwa kejadian tersebut merupakan fenomena penting, yang membuat Pavl      ov percaya dan akhirnya menjadi dasar bagi proses belajar pada manusia ataupun hewan (Pavlov 1927).[8]

  • Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang yang mendasarinya yaitu :

  1. Mementingkan pengaruh lingkungan
  2. Mementingkan bagian-bagian
  3. Mementingkan peranan reaksi
  4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
  5. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
  6. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
  7. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan

Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigm behaviorisme akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh.

 

 

Guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dengan cara sendiri atau melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara bertingkat dari yang sederhana sampai pada tingkat yang kompleks. Tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu pencapaian keterampilan  tertentu.

Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Kesalahan harus segera diperbaiki, pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi sebuah kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik adalah terbentuknya suatu perilaku yang diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi didasari atas perilaku yang tampak.

 

  1. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990)

Beberapa prinsip belajar Skinner antara lain :

  1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.
  2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
  3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
  4. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktivitas sendiri.
  5. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman.
  6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variable rasio reinforce.
  7. Dalam pembelajaran digunakan [9]

Skinner menganggap “reward” (penghargaan) atau “reinforcement” (penguatan) sebagai factor terpenting dalam proses belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal dan mengontrol tingkah laku. Skinner membagi dua jenis respon dalam proses belajar yaitu :

  • Respondents : respon yang terjadi karena stimulus khusus, misalnya Pavlov.
  • Operants : respon yang terjadi karena situasi random.

Perbedaan antara Pavlov’s classical conditioning dan Skinner’s operant conditioning adalah dalam classical conditioning, akibat-akibat suatu tingkah laku itu. Reinforcement tidak diperlukan karena stimulusnya menimbulkan respon yang diinginkan.[10]

  1. Robert Gagne (1916-2002)

Kontribusi terbesar dari teori instruksional Gagne dikenal sebagai “9 kondisi Instruksional”

  1. Gaining attention
  2. Inform leaner of objectives
  3. Stimulate recall of prerequisite learning
  4. Present new material
  5. Provide guidance
  6. Elicit performance
  7. Provide feedback about correctness
  8. Assess performance
  9. Enhance retention and recall[11]
  10. Albert Bandura (1925- masih hidup sampai sekarang)

Teori belajar sosial Bandura menunjukkan pentingnya proses mengamati dan meniru perilaku, sikap dan reaksi emosi orang lain. Teori Bandura menjelaskan perilaku manusia dalam konteks interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara kognitif, perilaku, dan pengaruh lingkungan.[12]

 Teori Belajar Kognitif

Pendekatan psikologi kognitif menekankan arti penting proses internal mental manusia. Tingkah laku manusia yang tampak, tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mental. Semua bentuk perilaku termasuk belajar selalu didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.[13]

Semua orang telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Menurut teori ini proses belajar akan berjalan dengan lancar apabila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersinambung) secara tepat dan serasi dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Jadi, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seoarang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terpisah-pisah, melainkan melalui proses yang mengalir, bersambung sambung dan menyeluruh.

 

Misalnya : ketika seseorang membaca suatu bahan bacaan, maka yang dibacanya bukan huruf-huruf yang terpisah melainkan kata, kalimat atau paragraf yang kesemuanya seolah menjadi satu, mengalir, dan menyerbu secara total bersamaan. [14]

  1. Teori Gestalt

Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar Gestalt. Peletak dasar teori Gestalt adalah Max Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya diikuti oleh Koffka (1886-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insigth pada simpanse. Penelitian-penelitian ini menumbuhkan psikologi Gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur, dan pemetaan dalam pengalaman. Konsep penting dalam psikologi Gestalt adalah insight yaitu pengamatan mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian di dalam situasi permasalahan. Insight sering dihubungkan dengan pernyataan aha.

Esensi dari teori psikologi Gestalt adalah bahwa pikiran adalah adalah usaha-usaha untuk menginterpretasikan sensasi dan pengalaman-pengalaman yang masuk sebagai keseluruhan yang terorganisir berdasarkan sifat-sifat tertentu dan bukan sebagai kumpulan unit data yang terpiash-pisah. Para pengikut Gestalt berpendapat bahwa sensasi atau informasi harus dipandang secara menyeluruh, karena apabila dipersepsi secara terpisah maka strukturnya tidak jelas. Penemuan struktur terhadap sensasi diperlukan untuk dapat memahaminya dengan tepat kemudian menyusun kembali informasi sehingga membentuk struktur baru menjadi lebih sederhana sehingga lebih mudah dipahami.[15]

 

  • Teori Belajar Konstruktivistik

Teori ini merupakan pengembangan lebih lanjut dari Gestalt. Perbedaannya pada Gestalt – permasalahan yang dimunculkan berasal dari pancingan eksternal sedangkan konstruktivistik- permasalahan muncul dibangun dari pengetehuan yang direkonstruksi sendiri oleh siswa. Teori ini sangat percaya bahwa siswa mampu mencari sendiri masalah, menyusun sendiri pengetahuannya melalui kemampuan berpikir dan tantangan yang dihadapinya, menyelesaikan dan membuat konsep mengenai keseluruhan pengalaman realistik dan dalam satu bangunan utuh.[16]

  • John Dewey (1856-1952)

Sebagai filosof dan banyak menulis mengenai pendidikan, dikenal sebagai Bapak konstruktivisme. Idenya digunakan sebagai dasar metode konstruktivisme dan Discovery learning. Ia mengemukakan bahwa belajar tergantung pada pengalaman dan minat siswa sendiri dan topik dalam kurikulum seharusnya saling terintegrasi. Belajar harus bersifat aktif, langsung terlibat, berpusat pada siswa, (SCL= Student-Centered Learning) dalam konteks pengalaman social. Kesadaran social menjadi tujuan dari semua pendidikan. Belajar membutuhkan keterlibatan antara siswa dan kerjasama tim dalam mengerjakan tugas. Guru bertindak sebagai fasilitator, mengambil bagian sebagai anggota kelompok dan diadakan kegiatan diskusi dan reviu teman. Dewey menyarankan penggunaan media teknologi sebagai sarana belajar. Konsep-konsep Dewey sudah banyak dipakai di Indonesia terutama untuk pembelajaran di perguruan tinggi.

  • Jean Piaget (1896-1980)

Menurut Piaget, pikiran manusia mempunyai struktur yang disebut skema atau skemata yang sering disebut struktur kognitif. Dengan menggunakan skema seseorang mengadaptasi dan mengkoordinasi lingkungannya sehingga terbentuk skema yang baru, yaitu melalui proses asimilasi dan akomodasi yang disebut pengetahuan. Proses belajar terdiri dari 3 tahapan yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan).

  1. Asimilasi

Asimilasi adalah proses penyatuan informasi baru ke struktur kognitif yang telah ada ke dalam pikiran siswa. Suatu pengetahuan baru dikenalkan kepada seseorang dan pengetahuan itu cocok dengan skema yang telah dimilikinya maka pengetahuan itu akan diadaptasi sehingga terbentuklah pengetahuan baru. Proses ini merefleksikan perubahan kuantitatif pada skema disebut sebagai pertumbuhan (growth).

  1. Akomodasi

Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif pada situasi yang baru. Proses restrukturisasi skema yang sudah ada sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru yang tidak dapat secara langsung diasimilasikan pada skema tersebut. Hal ini, dikarenakan informasi baru tersebut berbeda atau sama sekali tidak cocok dengan skema yang telah ada. Jika informasi baru, benar-benar tidak cocok dengan skema yang lama, maka akan dibentuk skema baru yang cocok dengan informasi itu. Pada akomodasi terjadi proses belajar yang baru dan merefleksikan perubahan kualitatif pada skema yang disebut perkembangan (development).

  1. Disequilibrium dan Equlibibrium

Yaitu penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Proses akomodasi dimulai ketika pengetahuan baru yang dikenalkan itu tidak cocok dengan struktur kognitif yang sudah ada maka akan terjadi disequilibrium,kemudian struktur kognitif tersebut direstrukturisasi kembali agar dapat disesuaikan dengan pengetahuan baru atau terjadi equilibrium, sehingga pengetahuan baru dapat diakomodasi dan selanjutnya diasimilasikan menjadi pengetahuan skema baru.

Ketiga proses ini merupakan aktivitas secara mental yang hakikatnya adalah proses interaksi antara pikiran dan realita. Impilkasi pandangan Piaget dalam praktek pembelajaran adalah guru hendaknya menyesuaikan proses pembelajaran yang dilakukan dengan tahapan-tahapan kognitif yang dimiliki anak didik. Karena tanpa penyesuaian proses pembelajaran dengan perkembangan kognitifnya, guru maupun siswa akan mendapatkan kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Misalnya mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang Pancasila kepada siswa kelas dua SD, tanpa ada usaha untuk mengkonkretkan konsep-konsep tersebut tidak hanya percuma, akan tetapi justru semakin membingungkan siswa dalam memahami konsep yang diajarkan.

  • Jerome Brunner (1915- )

Seorang psikolog Amerika Serikat yang banyak memberikan kontribusi pada psikologi kognitif dan toeri belajar kognitif pada psikologi pendidikan. Menurutnya belajar adalah proses yang bersifat aktif terkait dengan ide Discovery learning yaitu siswa berinteraksi dengan lingkungannya melalui eksplorasi dan manipulasi obyek, membuat pertanyaan dan menyelenggarakan eksperimen. Teori ini menyatakan bahwa cara terbaik bagi seseorang untuk memulai belajar konsep dan prinsip dalam siswa adalah dengan mengkonstruksi sendiri konsep dan prinsip yang akan dipelajari itu. Hal ini perlu dibiasakan sejak anak-anak masih keceil.

Teori belajar ini sangat membebaskan siswa untuk belajar sendiri disebut bersifat discovery (belajar dengan cara menemukan). Karena teori ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan sehingga desain yang berulang-ulang disebut sebagai kurikulum spiral Bruner. Kurikulum spiral ini menuntut guru untuk memberi materi perkuliahan setahap demi setahap dari yang sederhana sampai kompleks di mana suatu materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi daalam materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya berulang-ulang sehingga tidak terasa siswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh.

  • Lev Vygotsky (1896-1934)

Seorang filosof Rusia yang idenya berperan penting dalam budaya, interaksi sosial dan peranan bahasa dalam perkembangan kognitif. Ia dipengaruhi oleh Pavlov dan beranggapan bahwa perkembangan secara langsung dipengaruhi oleh perkembangan social. Istilah yang sering digunakan adalah (dampak social, scaffolding, and zone of promixal development (ZDP)).

Konstruktivisme social yang dikembangkan oleh Vygotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan social maupun fisik. Penemuan dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Inti konstruktivis Vygotsky adalah interaksi antara aspek internal dan eksternal yang penekanannya pada lingkungan social dalam belajar.

  • Teori Belajar Humanistik

Behaviorisme Versus Humanistis

Dalam menyoroti masalah perilaku, ahli-ahli psikologi behavioral dan humanistis mempunyai pandangan yang berbeda dikenal sebagai freedom determination issue. Para behaviorist memandang orang sebagai makhluk reaktif yang memberikan responnya terhadap lingkungannya. Pengalaman lampau dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Sebaliknya para humanis berpendapat bahwa setiap orang itu menentukan perilaku mereka sendiri. Mereka bebas dalam memilih kualitas hidup mereka, tidak terikat oleh lingkungannya.[17]

  • Tokoh-tokoh Hunanistis
  • Arthur Combs (1912 – 1999)

Combs dan kawan-kawan menyatakan bahwa apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Selanjutnya Combs mengatakan bahwa perilaku buruk itu sesungguhnya tidak lain hanyalah ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya.[18] Apabila guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu, hal ini sesungguhnya berarti siswa tidak mempunyai motivasi umtuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru. Apabila guru itu memberikan aktivitas yang lain, mungkin siswa akan memberikan reaksi yang positif. Para ahli humanistik melihat adanya dua bagian pada learning yaitu pemerolehan informasi baru dan “personalisasi” informasi pada individu.

Combs berpendapat bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar apabila subjek matter-nya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal “arti” tidaklah menyatu pada subjek matter itu; dengan kata lain di individualah yang memberikan arti tadi kepada subjek matter tersebut. Sehinnga yang penting adalah bagaimana caranya membawa si Siswa untuk memperoleh “arti bagi pribadinya” dari subjek matter itu; bagaimana siswa itu menghubungkan subjek matter dengan kehidupannya. (Principles of Instruction Design” oleh Robert M. Gayne dan Leslie J. Briggs, hal 212).

  • Abraham Maslow

Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal yaitu:

  1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang,
  2. Kekuatan untuk melawan atau menolak hambatan untuk berkembang.

Maslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis.[19]

Being Need
Self actualization
Esteem Needs
Belonging Needs
Safety Needs
Physiological Needs
Deficit Needs

 

  • Carl Rogers

Dalam bukunya “Freedom of Lear” (Kebebasan Belajar), ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistic yang penting yaitu :

  • Manusia itu mempunyai kemampuan untuk belajar secara alami.
  • Belajar yang signifikan terjadi apabila subject matter dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksudnya sendiri.
  • Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri, dianggap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
  • Tugas-tugas belajar yang mengancam diri adalah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
  • Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
  • Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
  • Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
  • Belajar atas inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siwa seutuhnya, baik baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
  • Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreatifitas lebih mudah dicapai apabila siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengeritik dirinya sendiri dan penilaian diri orang lain merupakan cara kedua yang penting.
  • Belajar yang paling berguna secara sosial din dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam dirinya sendiri mengenai proses perubahan itu.[20]

 

 

 

 

KESIMPULAN

  1. Pengertian Belajar

Belajar dilakukan untuk mendapatkan hal-hal yang baru untuk memperkuat hal-hal yang telah dimiliki dan hal yang baru diperoleh. Dengan hal baru itu individu dapat mencari solusi terhadap masalah-masalah yang sedang dihadapi (Problem solving). Sehingga to study adalah belajar untuk medapatkan pengetahuan-pengetahuan dan kecakapan yang baru, sedangkan to learn by hard adalah cara untuk menghafalkan sesuatu yang sedang dipelajari.

  1. Teori-Teori Belajar

Ada tiga aliran yang muncul pada masa perkembangan psikologi pendidikan yaitu :

  • Psikologi behavioristik
  • Psikologi kognitif, dan
  • Psikologi humanistis

REFERENSI

Walgito, Bimo. (2004). Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi.

Sugihartono, dkk.. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press.

Fauzi, Ahmad. (1997). Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia.

Dalyono, M. (2007). Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Latipah, Eva. (2012). Pengantar Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : PT Pustaka Insan Madani

Bahri Djamara, Syaiful. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.

[1] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan. UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 74

[2] Ki Fudyartanta.Psikologi Umum I dan II.Pustaka Pelajar.Yogyakarta.2011. Hal 267

[3] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 74 – 76

[4] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 78

[5] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 92

[6] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 94

[7] Eva Ltifah. Pengantar Psikologi Pendidikan.PT Pustaka Insan Madani (Yogyakarta : 2012) Hal 71

[8] Eva Ltifah. Pengantar Psikologi Pendidikan. PT Pustaka Insan Madani (Yogyakarta : 2012) Hal 71

[9] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 99

[10] M.Dalyono.Psikologi Pendidikan.Rineka Cipta.(Jakarta : 2007) Hal 32-33

[11] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 100

[12] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 101

[13] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 104-105

[14] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 104-105

[15] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 106

[16] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 107

[17] M.Dalyono.Psikologi Pendidikan.Rineka Cipta.(Jakarta : 2007) Hal 44

[18] M.Dalyono.Psikologi Pendidikan.Rineka Cipta.(Jakarta : 2007) Hal 45

[19] Sugihartono, dkk.. Psikologi Pendidikan.UNY Press (Yogyakarta : 2007) Hal 118-119

[20] Drs. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Bina Aksara, Jakarta, 1987, hal 129.

..........

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *