Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah mawaris / hukum waris dalam Islam

 under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Makalah mawaris / hukum waris dalam Islam

Bidang  postingan  : makalah ilmu waris /mawaris

……

setelah sebelumnya mempostting tentang makalah penangkal BAHAYA keilmuawan dalam islam akhirnya yaitu  mengenai pemahaman yang lemah tentang hadits, dengan memposting HADITS PALSU  apa dan seperti apa,sekarang giliranya memposting tentang ilmu mawaris,karena ilmu MAWARIS ini merupakan ilmu keislaman yang bisa dikatakan hampir punah.. dalam makalah ini dijelaskan apa pengertian mawaris, hukummawaris, ketentuan warisan dalam islam, baca aja semoga bermanfaat..amin

………………..

I. PENDAHULUAN

Mawaris atau pembagian harta warisan merupakan salah satu cabang ilmu islam yang cukup kompleks. Hal ini mengingat betapa sensitifnya ilmu ini. Karena kekacauan pembagian harta waris sering terjadi perselisihan antar keluarga. Untuk itulah islam mengatur urusan ini secara mendetail.

Dalam al-qur’an dasar-dasar ilmu ini dijelaskan secara gamblang dan spesifik, tidak seperti kebanyakan ayat quran lainnya yang berbicara secara general. Hikmah dibalik itu semua adalah adanya penekanan akan pentingnya ilmu ini. Oleh karena itu, studislam kali ini akan membahas mengenai ilmu ini, ilmu fiqih mawaris

I. PEMBAHASAN

 

A. Mawaris Dalan Islam

1. Pengertian

Menurut bahasa mawaris adalah bentuk jama’ dari kata mirosun, yang berarti hal warisan. Sedangkan menurut istilah adalah perpindahan berbagai hak dan kewajiban tentang kekayaan orang meninggal dunia kepada orang lain yang masih hidup.

Ilmu yang mempelajari hal waris lebih populer disebut faroid, yaitu ilmu yang mempelajari tentang siapa yang mendapaatkan warisan, siapa yang tidak mendapatkan, kadar yang diterima oleh tiap-tiap ahli waris, dan bagaimana cara pembagiannya.

2. Sebab-sebab Seseorang Mendapatkan Harta Waris.

a. Nasab atau adanya hubungan darah atau keturunan (Q.S. An Nisa’ {4} : 7).

b. Mushoharoh, yaitu adanya ikatan pernikahan yang sah. Misalnya suami atau istri.

c. Al Wala’ yaitu seseorang yang memerdekakan budak.

Sabda Rasul : Artinya : Sesungguhnya hak wala’ (kekerabataan) itu untuk orang yang memerdekakan ( H.R. Bukhori Muslim).

d. Hubungan sesama Muslim, yaitu jika yang meninggal tidak memiliki ahli waris sebagaimana yang telah ditentukan oleh syari’ah.

3. Hal-hal Dapat Membatalkan Hak Waris Seseorang.

a. Pembunuh. Orang yang membunuh keluarganya tidak mendapatkan bagian harta pusaka dari orang yang dibunuhnya. Sabda Rasul :

Artinya : Orang yang membunuh tidak dapat mewarisi orang yang dibunuhnya (H.R. Nasai’i )

b. Hamba sahaya ( Status budak). Firman Allah :

Artinya : seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun.( Q.S. An Nahl {16} : 75) .

c. Berbeda agama ( kafir ). Rasulullah bersabda yang artinya : “ Tidak mewarisi orang Islam akan orang yang bukan Islam. Demikian pula orang yang bukan Islam tidak dapat mewarisi orang Islam” ( H.R. Jama’ah ).

4. Ahli Waris

Secara keseluruhan ahli waris yang mendapatkan harta pusaka ada 25 orang, yang terdiri dari 15 orang dari pihak laki-laki dan 10 orang dari pihak perempuan.

a. Pihak laki-laki :

1). Anak lakilaki

2). Cucu laki-laki dari anak laki-laki

3). Ayah

4). Kakek dari pihak ayah

5). Saudara laki-laki sekandung

6). Saudara laki-laki seayah

7). Saudara laki-laki seibu

8).. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sekandung ( keponakan)

9). Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah

10). Saudara laki-laki ayah yang sekandung ( paman )

11). Saudara laki-laki ayah se ayah

12). Anak lai-laki saudara ayah yang laki-laki sekandung

13). Anak laki-laki saudara ayah yang laki-laki seayah

14). Suami

15). Lali-laki yang memerdekakan budak.

 

Jika lima belas orang tersebut di atas masih ada semuanya, yang diprioritaskan ada tiga , yaitu ;

1). Ayah,

2) Anak laki-laki

3) Suami.

b. Pihak Perempuan :

1) Anak perempuan

2) Cucu perempuan dari anak laki-laki

3) Ibu

4) Nenek dari pihak ayah

5) Nenenk diri pihak ibu

6) Saudara perempuan sekandung

7) Saudara peremmpuan seayah

8) Saudara peremouan seibu

9) Istri

10) Perempuan yang memerdekakan budak

Jika Sepuluh orang masih ada semua, maka yang diprioritaskan ada lima yaitu :

1). Istri

2). Anak perempuan

3). Cucu perempuan dari anak laki-laki

4). Saudara perempuan sekandung

Jika dua 25 orang masih ada semua, maka yang diprioritaskan adalah sebagai perikut :

1). Ibu

2). Ayah

3). Anak laki-laki

4). Anak perempuan

5). Suami atau istri

 

5. Pembagian Ahli Waris.

A. Ahli waris yang mendapatkan bagian tertentu (Furudhul Muqoddaroh)

Bagian-bagian waris yang telah ditentukan oleh Al Qur’an adalah : 1/2, 1/4, 1/8, 2/3, 1/3, 1/6.

 Ahli waris yang mendapatkan 1/2 adalah :

a). Anak perempuan, apa bila sendirian tidak bersama saudara.

b). Saudara perempuan tungal yang sekandung

c). Cucu perempuan, jika tidak ada anak perempuan

d). Suami, Jika tidak ada anak atau cucu.

 Ahli waris yang mendapatkan bagian 1//4. yaitu :

a). Suami, jika ada anak atau cucu

b). Istri, jika tidak ada anak atau cucu.

 Ahli waris yang mendapatkan bagian 1/8 adalah ;

Istri, jika suami meninggalkan anak atau cucu.

 Ahli waris yang mendapatkan bagian 2/3 adalah :

a). Dua anak perempuan atau lebih, jika tidak ada anak laki-laki.

b). Dua cucu perempuan atau lebi dari anak laki-laki, jika tidak ada anak perempuan.

c). Dua saudara perempuan atau lebih yang sekandung

d). Dua orang saudara perempuan atau lebih yang seayah, jika tidak ada saudara perempuan yang sekandung.

 Ahli waris yang mendapatkan bagian 1/3 adalah :

a). Ibu, apabila yang meniggal tidak meninggalka anka atau cucu dari anak laki-laki dan tidak ada saudara.

b). Dua orang saudara atau lebih, dari saudara yang seibu, baik laki-laki maupun perempuan.

 Ahli waris yang mendapatkan bagian 1/6 adalah :

a). Ibu, apabila yang meninggal mempuanyai anak atau cucu dari anak laki-laki atau saudara lebih dari satu.

b). Ayah, jika yang meninggal mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki.

c). Nenek, jika yang meninggal sudah tidak ada Ibu

d). Cucu perempuan dari pihak anak laki-laki, baik sendirian atau lebih, jika bersama anak perempuan.

B. Ahli waris ashobah

Ahli waris ashobah adalah ahli waris yang memperoleh bagian berdasarkan sisa harta pusaka setelah dibagikan ahli waris yang lain. Ahli waris ashobah dapat menghabiskan semua sisa harta pusaka. Ashobah dibagi menjadi tiga yaitu :

1. Ashobah binafsih, yaitu ahli waris yang mejadi ashobah dengan sendirinya, yaitu :

a). Anak laki-laki

b). Cucu laki-laki dari anak laki-laki

c). Ayah

d). Kakek dari pihak ayah

e). Saudara laki-laki sekandung

f). Saudara laki-laki seayah

g). Anak laki-laki saudara laki-laki sekandung

h). Anak laki-laki dari saudara laki-laki seayah

i). Paman sekandung dari ayah

j). Panan seayah dari ayah

k). Anak laki-laki sekandung dari ayah

l). Anak laki-laki paman seayah dari ayah

2. Ashobah bil ghoiri, ahli waris yang menjadi ashobah karena sebab ahli waris yang lain mereka adalah :

1). Anak perempuan, jika bersama saudara laki-laki.

2). Cucu perempuan, jika bersama cucu laki-laki

3). Saudara perempuan sekandung , jika bersama saudara laki-laki.

4). Saudara perempuan seayah, jika bersama saudara laki-laki seayah

3. Ashobah Ma’al ghoiri, ahli waris yang menjadi ashobah jika bersama ahli waris yang lain, yaitu :

a). Saudara perempuan sekandung seorang atau lebih, jika bersama anak atau cucu perempuan.

b). Saudara perempuan seayah seorang atau lebih, jika bersama anak atau cucu perempuan yang seayah.

 

Contoh perhitungan waris .

Pak Yumnu meninggal dunia, Ia meninggalkan ahli waris , seorang istri, Ibu, Ayah, satu anak laki-laki, dua anak perempuan dan tiga orang saudara laki-laki. Harta peninggalannya Rp. 12. 400.000,-, hutang sebelum meninggal Rp. 100.000,-, wasiat Rp. 100.000,- dan biaya perawatan jenazah Rp. 200.000,- . Berapa bagian masing-masing?

Jawab :

Harta peninggalan Rp. 14.400.000,-

Kewajiban yang dikeluarkan :

1. Hutang Rp. 100.000,-

2. Wasiyat Rp. 100.000,-

3. Biaya perawatan Rp. 200.000,-

Jumlah Rp. 400.000,-

Harta waris Rp. 14.400 – Rp. 400.000 = Rp. 12.000.000,-

Ahli waris :

1. Istri = 1/8

2. Ibu = 1/6

3. Ayah = 1/6

4. Anak Laki-laki = Ashobah binafsih

5. Anak perempuan = Ashobah bil ghoiri

6. Saudara laki-laki = mahjub

a. Istri 1/8 =3/24 x Rp. 12.000.000 =Rp. 1500.000,-

b. Ayah 1/6 =4/24 x Rp. 12.000.000 =Rp. 2.000.000,-

c. Ibu 1/6 =4/24 x Rp. 12.000.000 =Rp. 2.000.000,-

 

Jumlah =Rp. 5.500.000,-

 

Sisa =Rp. 12.000.000 – Rp. 5.500.000,- =Rp. 6.500.000,-

Anak laki-laki = 2:1 = 2/3 x 6.500.000,- =Rp. 4.333.000

Anak perempuan 1/3 x 6.500.000 =Rp. 2.166.000

 

B. Hukum Waris Adat dan Hukum Positif

1. Hukum waris adat

Hukum waris adat erat hubungannya dengan sifat dan bentuk kekeluargaan. Di Indonesia terdapat tiga bentuk kekeluargaan yaitu :

a. Patrilinial, yaitu jalur keturunan ada pihak laki-laki. Oleh karena itu hak waris pun hanya berlaku phak laki-laki saja. Sistem ini berlaku pada masyarakat daerah Batak, Ambon, Irian Jaya dan Bali.

b. Matrilinial, yaitu jalur keturunan ada pada pihak perempuan atau ibu. Karena itu yang berhak atas waris pun hanya anak perempuan. Sisitem ini berlaku pada masyarakat Minagkabau

c. Parental, yaitu jalur keturunan ada antara aqyah dan ibu punya peran yang sama. Karena itu warisasan pun laki-laki maupun perempuan memperoleh bagiannya. Sistem ini berlaku sebagian besar masyarakat Indonesia.

 

2. Hukum waris positif

Di Indonesia ada dua sistem penyelesaian waris, yaitu pertama, menggunakan KUH Perdata, Buku I dari pasal 830 hingga pasal 1130.Kewenangannya ada pada Pengadilan Negeri. Kedua,UU No. 7 th. 1989. Undang-undang ini khususnya berlaku bagi umat Islam dalam menyelesaikan pewarisan. Wewenagnya ada di pihak Pengadilan Agama. Adapun peranan Pengadilan Agama adalah :

a. Menentukan para ahli waris

b. Menentukan harta peniggalan

c. Menentukan bagian masing-masingahli waris

d. Pelaksana dalam pembagian harta peninggalan tersebut.

Pada dasarnya sebagian pasal Undang-undang No. 7 tahun 1989 , merupakan implementasi dari hukum Islam, misalnya :

a. Bab III Pasal 176 – 182, tentang ketentuan para ahli waris ( dzawil furud ).

b. Pasal 173.3 Bab II, terhalangnya hal waris bagi pembunuh untuk menerima harta waris dari yang terbunuh.

c. Pasal 171 Bab I, Jika orang yang meninggal tidak mempunyai ahli waris, maka harta bendanya masuk ke Baitul Mal dan dipergunakan untuk kepentinga umat Islam.

 

 

 

III. DAFTAR PUSTAKA

 

muwafiq.co.cc,asetsukses.com,nyumbangkaya.com,mahasanjufri.tk

belajarwaris.blogspot.com, Blog Studi Islam.com

under arsip:  Perkulihan.com.

Makalah mawaris / hukum waris dalam Islam, download Makalah mawaris , hukum waris dalam Islam, apa yang dimaksud mawaris, 

 

Category: Makalah Islami
  • WAHYU WIDODO says:

    maaf mohon di koreksi, batas waktu sholat is’ya overlaping dengan sholat shubuh.

    October 28, 2012 at 16:33

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*