Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

MAKALAH KONSEP WAHYU DALAM AL- QUR’AN

 under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan :MAKALAH  KONSEP WAHYU DALAM AL- QUR’AN

Bidang  postingan  : makalah Qur’an hadits

……

berikut postingan Perkulihan.com.   makalahMAKALAH  KONSEP WAHYU DALAM AL- QUR’AN yang di share dari  makalah ketika kuliaha dahulu dan diambilberbagai sumber, semoga bermanfaat

 MAKALAH  KONSEP WAHYU DALAM AL- QUR’AN

I. PENDAHULUAN

 

Al-Quran adalah “Kalam Allah” yang bernilai mukjizat, yang diturunkan kepada “pungkasan” para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan malaikat Jibril AS yang tertulis pada mashahif. Diriwayatkan kepada kita dengan mutawatir. Membacanya terhitung ibadah. Diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Naas. Al-Quran adalah sebagai tata kehidupan umat dan petunjuk bagi makhluk. Ia merupakan tanda kebenaran Rasulullah SAW, merupakan bukti yang jelas atas kenabian dan kerasulanya.

Oleh karena keagungan dan kepentingan Al-Quran bagi umat manusia maka diperlukan pemahaman yang berdasar dari Rasulullah SAW dan riwayat yang disampaikan oleh para sahabat dan tabi’in RA. Sehingga Syeikh Muhammad Ali Ash-Shabuni menekankan bahwa pemahaman terhadap Al-Quran bukan sekadar menyibak tabir tersembunyi dari makna wahyu ilahi atau menyingkap rahasia dan khasanah-Nya. Tetapi untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada hamba menuju penghambaan kepada Allah SWT, untuk Mempertemukanindividu dan masyarakat dengan Dzat-Nya yang maha Agung .


 

Mengawali pembahasan Al-Quran sebagai kumpulan wahyu Allah SWT, saya nukilkan kata-kata Imam Az-Zarqani dalam kitabnya Manahilul Irfan, “Sungguh ada sebagian orang berpendapat bahwa Jibril datang kepada Nabi membawa makna Al-Quran, kemudian Rasulullah sendiri yang menyusun redaksinya dalam bahasa arab. Ada pula yang berpendapat bahwa lafal dari Jibril, sedangkan Jibril menerima dalam bentuk makna saja dari Allah SWT. Pendapat tersebut bertentangan dengan Al-Quran, hadits, dan ijmak, lebih remeh dari tinta yang dibuat mengutarakanya dan itu hanya akan menjerumuskan kaum muslimin saja . Masih banyak lagi pendapat dari para ahli pikir yang menyesatkan umat. Sebagai dasar dalam memahami Al-Quran perlu kita kaji pemahaman tentang konsep wahyu. Berangkat dari pemahaman konsep wahyu yang benar, insyaAllah akan selamat dalam memahami Al-Quran.

 

 

 

 

 

 

 

 

II. PEMBAHASAN

 

A. Penertian Al-Qur’an dan Wahyu

a. Apa itu Al Qur’an?

Muhammad Ali Ash Shobuny dalam kitab “At-Tibyaan fii Uluumil Qur’an” menyatakan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah yang tiada bandingannya (mu’jizat),yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW penutup para nabi dan rasul, dengan perantaraan malaikat Jibril as, ditulis dalam mushaf-mushaf yang disampaikan kepada kita secara mutawatir. Mempelajarinya merupakan ibadah, dimulai dari surat Al Fatihah dan ditutup dengan surat An Naas.

Definisi ini menurut beliau telah disepakati para Ulama dan Ahli Ushul. Dalam kitab yang sama beliau juga mengungkapkan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah yang lafazh dan maknanya dari Allah SWT. Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya yang berjudul Syakhshiyyah Islamiyyah jilid I, menyebutkan bahwa Al Qur’an adalah lafazh yang diturunkan kepada Muhammad SAW bersama makna yang ditunjukkannya. Karena itu beliau menyatakan bahwa makna saja tidak dapat dikatakan sebagai Al Qur’an. Demikian pula lafazh tanpa makna, sebab lafazh yang dibuat dan disusun tiada lain adalah untuk mengungkapkan makna tertentu.

Lafazh Al Qur’an adalah lafazh bahasa Arab yang gaya pengungkapannya sangat indah, fasih dan baligh. Tiada satu kalimat pun yang susunannya menyimpang dari kaidah bahasa Arab. Bahkan kepastian bahwa Al Qur’an berbahasa Arab telah dijelaskan oleh Allah SWT sendiri melalui firmanNya dalam QS Yusuf : 2 :

“Sesungguhnya Kami menurunkan berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya”.

Demikian pula firmanNya dalam Al Qur’an surat Fushilat : 3, Az Zumar : 28, Asy Syuura : 7 dan Az Zukhruf : 3

 

b. Apa itu Wahyu?

 

Wahyu berasal dari kata arab asli (bukan kata serapan asing ke dalam bahasa arab) al-wahy. Kata tersebut berarti suara, api dan kecepatan. Di samping itu ia juga mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Al-wahy selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara tersembunyi dan dengan cepat. Tetapi kata itu lebih dikenal dalam arti “apa yang disampaikan Allah SWT kepada Nabi-Nabi-Nya.

Dalam kata wahyu dengan demikian terkandung pengertian penyampaian firman Allah SWT kepada manusia pilihan-Nya (Nabi) agar diteruskan kepada umat manusia untuk dijadikan pegangan hidup. Dalam Islam wahyu atau firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW terkumpul semuanya dalam Al-Quran .

 

B. Konsep Wahyu Dalam Al-Qur’an

 

Pertama, kata wahyu tidak dapat selalu berarti “wahyu”, namun sangat tergantung dengan obyek dan subyek-nya, dan kedua, wahyu disampaikan oleh Allah dengan tiga model, wahyu yang tanpa perantara, wahyu yang disampaikan dari balik tabir, dan wahyu yang disampaikan dengan keiukut-sertaan “penyampai wahyu”. Yang menjadi pertanyaan adalah; sebenarnya dalam bentuk apa, Allah menyampaikan wahyu pada model pertama?

Pertanyaan ini menjadi urgen, karena model kedua dan ketiga secara hipotesa-definitif dinilai tertentu dan terbatas. Model kedua adalah model penyampaian wahyu dalam kasus musa.

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku.” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman (al-A’raf, 143).

Ayat di atas, menggambarkan komunikasi langsung dengan redaksi wakallamahu rabbuhu (dan Tuhannya telah berfirman langsung kepadanya). Sebagaimana spesifikasi redaksi ini pada ayat berikut:

إنا أوحينا إليك كما أوحينا إلى نوح والنبيين من بعده، وأوحينا إلى إبراهيم وإسماعيل وإسحاق ويعقوب والأسباط وعيسى وأيوب ويونس وهارون وسليمان وآتينا داود زبورا، ورسلا قد قصصناهم عليك من قبل ورسلا لم نقصصهم عليك وكلم الله موسى تكليما

Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu (hai Muhammad) sebagaimana telah kami wahyukan kepada Nuh dan Para Nabi setelahnya. Dan Kami telah wahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, (yaitu) Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan kepada Daud Kami berikan Zabur. (Kami telah pula mengutus) Rasul-rasul yang telah Kami kisahkan kepadamu dahulu, dan Rasul-rasul (lainnya) yang tidak Kami kisahkan kepadamu. Dan (ketahuilah) Allah telah berbicara langsung dengan Musa (an-Nisa’, 163-164)

Jika diperhatikan, dalam ayat ini, al-Qur’an menggunakan redaksi khusus untuk sebutan wahyu model kedua pada kasus musa (wakallama Allahu musa taklima), berbeda dengan redaksi pada model wahyu yang disampaikan pada Nabi dan Rasul yang lain.

Gambaran komunikasi langsung juga tampak ketika al-Qur’an mencerikatakan proses wahyu itu dengan redaksi kata kerja “qala” (berkata). Bentuk kata ini, adalah permintaan, pertanyaan, dan mungkin pernyataan pada pertama kali. Dan pada setelahnya adalah respon, jawaban dan mungkin tanggapan. Redaksi khusus yang digambarkan al-Qur’an pada kasus musa dengan analisa ini, menjadi justifikasi bahwa model kedua adalah spesifikasi wahyu untuk musa seorang. Kecuali kemudian teori ini dimentahkan dengan model wahyu yang pertama, dimana wahyu disampaikan sama sekali tanpa perantara, yang juga berarti bahwa Allah berkomunikasi langsung dengan Rasulnya.

Sedangkan wahyu model ketiga, adalah spesifikasi model wahyu yang digunakan untuk membentuk “kitab suci”. Sebagaimana al-Qur’an yang ditegaskan diturunkan dengan keikut-sertaan Jibril sebagai pembawa wahyu dalam proses tanzil-nya.

وإنه لتنزيل رب العالمين، نزل به روح الأمين، على قلبك لتكون من المنذرين، بلسان عربي مبين

Dan sesugguhnya al-Qur’an itu bernar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dibawa turun oleh malaikat jibril , kedalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah satu di antara mereka yang bertugas memberi peringatan, (diturunkan) dengan bahasa arab yang jelas (asy-Syu’ara, 192-194)

Ayat di atas adalah definisi utuh al-Qur’an tentang dirinya sebagai Kitab yang sengaja diturunkan Allah Swt, kepada Nabi Muhammad Saw, dengan perantara Jibril Sang Pembawa wahyu, dengan memakai bahasa Arab yang jelas, untuk kemudian menjadi sumber primer dalam tugas kerasulan. Artinya sekali lagi secara hipotesa-definitif, al-Qur’an disampaikan hanya dengan model wahyu yang ketiga ini.

Keterbatasan wahyu model ketiga, dapat terlihat dalam kasus haditsu al-ifki (berita bohong), disaat orang-orang munafik menyebarkan desas-desus tuduhan perbuatan tidak senonoh kepada Aisyah binti Abu Bakar ra, istri Rasul Saw. Dalam keadaan itu, wahyu justru tidak kunjung turun selama satu bulan.

Hal yang sama, terjadi disaat Nabi merindukan perintah untuk mengganti kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitu Allah Ka’bah. Al-Qur’an menceritakan;

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.

Taqallubu al-wajhi yang dilakukan Nabi menunjukkan betapa ia menantikan turunnya wahyu itu. Dan menurut laporan, wahyu itu turun setelah masa penantian selama kurang-lebih satu setengah tahun.

Bandingkan juga dengan tertundanya wahyu dimasa-masa pertama turun wahyu. Setelah Jibril menyampaikan ayat pertama di Gua Hira’, wahyu kemudian putus selama tiga tahun. Selain tiga realita di atas, sebagai justifikasi bahwa al-Qur’an ternyata adalah wahyu yang sama sekali bukan otoritas Nabi Muhammad Saw, sebagai penerima wahyu. Namun sepenuhnya wewenang tak terbatas Allah Tuhan semesta alam. Juga dapat dibuktikan dengan redaksi yang menunjuk pada pengertian perintah, larangan dan teguran kepada diri Nabi.

Sebagai respon dari realitas yang sedang bergerak saat proses turunnya, sebagaimana dalam kajian asbabu an-nuzul, wahyu banyak menggunakan redaksi perintah kepada Nabi, untuk menyampaikan wahyu Allah sebagai respon realitas itu. Sebagai contoh dalam kasus ini;

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfa`at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa`atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir (al-Baqarah, 219).

Bandingkan juga dengan kasus yang diceritakan ayat berikut;

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfa’at kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan. (‘abasa, 1-11)

Dalam analisa bahwa Rasul tidak bertindak apapun kecuali atas ketentuan wahyu yang turun kepadanya, sebagai kesimpulan dari ayat; wa maa yantiqu anil hawaa, in huwa illa wahyun yuwha “dan tidalah yang diucapkannya bersumner dari hawa nafsu, ucapan itu tida lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (an-najm, 3-4), bahwa Rasul tidak mempunyai otoritas untuk berijtihad dalam segala tindakannya. Yang menjadi pertanyaan adalah dualisme wahyu dalam kasus teguran di atas.

Disaat yang sama dan dalam kondisi yang sama pula, turun kepada Rasul dua wahyu sekaligus yang sama sekali kontradiktif. Wahyu pertama membuat Rasul berkeinginan untuk tidak mempedulikan Abdullah ibn Ummi Maktum yang datang kepadanya untuk meminta pengajaran Agama, dengan tetap mengedepankan komunikasinya dengan para Pembesar Quraisy, dengan harapan agar mereka mau mengikuti dan menguatkan bangunan Islam yang sedang ia bangun. Tindakan ini diambil tentu berdasarkan wahyu yang turun kepadanya, walaupun tidak diabadikan dalam al-Qur’an (dengan model wahyu yang pertama yang tanpa perantara). Sedangkan wahyu yang kedua, yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an, adalah teguran yang malah “menyalahkan” tindakan Rasul itu.

Lalu di manakah letak kompromi urgensi antara keduanya?. Secara teoritik, sebenarnya dapat disimpulkan bahwa wahyu pertama terpisah dengan wahyu yang kedua, artinya ketiga model wahyu di atas terpisah satu sama lain. Sebagaimana dalam peristiwa Bani Ubairiq yang menyampaikan laporan palsu kepada Nabi mengenai kasus pencurian. Mereka menuduh seseorang di luar golongan Bani Ubairiq untuk melindungi pencuri sebenarnya yang dari golongan mereka. Dengan kredibelitas sebagai keluarga yang dikenal keislaman dan kebaikannya, Bani Ubairq mendapatkan kepercayaan Rasul dalam kasus ini. Sehingga kemudian turun ayat

…, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (an-Nisa’, 105)

Subhi Shalih menyimpulkan bahwa Rasul memisahkan pengalaman pribadi yang hanya berupa dugaan-dugaan dengan masalah Agama yang ma’lum bi dharurah, qat’i dan tidak dapat duganggu-gugat. Sebagaimana dalam kasus “mengawinkan pohon kurma” (talqih an-nakhl) yang dilakukan sahabat agar dapat berbuah baik. Pada awalnya Rasul menggap itu tidak perlu dilakukan, sehingga sahabat menghentikan kegiatannya, namun hal itu membuat buah kurma menjadi tidak baik. Mengetahui hal tersebut Rasul menegaskan;

Jika itu adalah urusan dunia kalian, maka terserah kalian. Namun jika mengenai agama kalian maka konsultasikan padaku (ibn majah, no hadits; 2462).

Karena itu, ulama merumuskan bahwa antara wahyu model pertama dengan model ketiga sama sekali terpisah. Karena Rasul hanyalah manusia dengan spesifikasi sebagai penerima wahyu. Apa yang disampaikan kepadanya, itulah yang ia lakukan. Dengan tidak menafikan sifat basyariyahnya sebagai manusia yang dapat lupa atau salah. Tindakan Rasul secara dzahir tidak dapat dibenarkan seluruhnya bila bertentangan dengan doktrin yang qat’i. Sebagaimana Hadits Dzi al-yadain; bahwa Rasul pernah shalat ‘ashar bersama para sahabat, kemudia ia salam setelah rakaat kedua. Dzu al-yadain bertanya; “apakah anda menqashar shalat atau lupa?”, Rasul menjawab “aku tidak mengqashar shalat dan tidak lupa”, dzu al-yadain menyahut kembali; “anda telah lupa”, Rasul bertanya kepada para sahabat “benarkah yang dikatakan dzu al-yadain?”, mereka menjawab “ya!”, kemudian Rasul meneruskan dua rakaat sisanya bersama sahabat dengan dilanjutkan dengan sujud sahwi.

Hanya saja, memang Rasul adalah manusia yang kesalahannya akan diluruskan dengan sebuah mekanisme luar biasa, sehingga pada akhirnya akan membentuk Agama yang sempurna (al-yauma akmaltu lakum diynakum). Artinya walaupun terlihat kontradiktif, namun sebenarnya tiga model wahyu itu adalah mekanisme pembentukan Agama yang setiap detail peristiwanya adalah ajaran dan tuntunan yang sempurna. Kasus teguran atas kesalahan yang dilakukan Rasul, adalah bentuk realitas seorang utusan Allah dengan sejuta hikmah. Inilah posisi yang sebenarnya dari wahyu model pertama itu.

 

 

Penjelasan tentang cara terjadinya komunikasi antara Allah SWT dengan para Nabi, dijelaskan oleh Al-Quran sendiri. Salah satu ayat dalam surat As-Syura menjelaskan;

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ اللَّهُ إِلَّا وَحْيًا أَوْ مِن وَرَاء حِجَابٍ أَوْ يُرْسِلَ رَسُولًا فَيُوحِيَ بِإِذْنِهِ مَا يَشَاء إِنَّهُ عَلِيٌّ حَكِيمٌ

Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. QS. as-Syura (42) : 51

Ayat diatas menjelaskan cara-cara penurunan wahyu dari hadirat Allah SWT. Kadang-kadang Allah SWT memasukan sesuatu ke dalam relung hati nabi SAW, lalu dia meyakini bahwa sesuatu itu berasal dari Allah SWT, sebagaimana diterangkan dalam sahih Ibnu Hibban bahwa Nabi bersabda; “ Ruhul qudus menghembuskan ke dalam relung hatiku bahwa suatu jiwa itu tidak akan mati sehingga rezeki dan ajalnya telah sempurna, oleh karena itu bertaqwalah kepada Allah dan perbaguslah sikap ketika mengajukan permohonan kepadaNya” Jadi ada tiga cara, pertama, melalui jantung hati seseorang dalam bentuk ilham, kedua, dari belakang tabir sebagaimana yang terjadi kepada Nabi Musa dan ketiga , melalui utusan yang dikirimkan dalam bentuk malaikat, misalnya Dia menurunkan malaikat Jibril AS dan malaikat lainya kepada Nabi kita Muhammad SAW dan kepada para Nabi lain .

 

Firman Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW adalah dalam bentuk ketiga, dan itu ditegaskan oleh ayat-ayat Al-Quran. Al-Quran sampai kepada Nabi SAW dengan perantaraan aminul wahyi (Jibril AS) membawanya dari Rabbul Izzah SWT. Jibril hanyalah menyampaikanya saja kepada Rasulullah. Allah ‘Azza wa Jalla yang menurunkan kitab-Nya yang suci itu kepada Nabi terakhir dengan perantaraan Aminul waahyi (Jibril), kemudian Jibril mengajarkanya kepada Rasulullah SAW dan beliau menyampaikanya kepada umatnya.

Allah ‘Azza wa Jalla memberikan sifat kepada Jibril sebagai Aminul Waahyi karena dia menyampaikanya kepada Rasulullah sebagaimana dia mendengarnya dari Allah . Dia telah berfirman dalam kitab suci-Nya;

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

ذِي قُوَّةٍ عِندَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ

مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ

Sesungguhnya Al-Quran perkataan pesuruh yang mulia (Jibril) yang mempunyai kekuatan di sisi (Tuhan) yang mempunyai Arsy lagi mempunyai derajat, yang diikuti di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. QS. At-Takwir: 19-21 Allah memberikan sifat kepada Jibril dengan Aminul wahyi juga tersebut dalam firman-Nya; Dalam surat As-Syu’ara dijelaskan;

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Dan sesungguhnya Al Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam,

QS. asy-Syu’ara (26) : 192 نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ

dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), QS. asy-Syu’ara (26) : 193 عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, QS. asy-Syu’ara (26) : 194 بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

dengan bahasa Arab yang jelas. QS. asy-Syu’ara (26) : 195 Allah Ta’ala memeberitahukan ihwal kitab yang diturunkan kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad SAW “sesungguhnya ia,” yakni Al-Quran, “diturunkan oleh Tuhan semesta alam” yang mewahyukan kepadamu. “ia dibawa oleh ar-Ruh al-Amin,” yaitu Jibril AS,”ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” Jibril menurunkan Al-Quran ke dalam hatimu dalam keadaan selamat dari penambahan dan pengurangan agar kamu memperingatkan manusia denganya akan siksa dan adzab Allah SWT bagi orang yang menyalahi dan mendustakanya, serta kamu menyampaikan berita gembira, denganya, kepada orang-orang yang beriman dan mengikuti Al-Quran. “Dengan bahasa arab yang jelas.” Yakni, Kami menurunkan Al-Quran dengan bahasa arab ragam resmi yang sempurna dan komprehensif, agar ia jelas, mematahkan dalil, menegakkan hujjah, dan menjadi dalil bagi penerima hujjah Dalam surat An-Nahl disebutkan;

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. QS. an-Nahl (16) : 102

Selanjutnya dalam surat Al-Baqarah dijelaskan;

قُلْ مَن كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللّهِ مُصَدِّقاً لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

Katakanlah:” Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.

QS. al-Baqarah (2) : 97 Ayat-ayat ini dengan jelas menggambarkan bahwa Firman Allah SWT sampai kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS sebagai utusan Allah SWT, jadi bukan melalui ilham atau belakang tabir. Adapun hakikat kalam yang diturunkan adalah kalam Allah, ini juga disebut dalam ayat;

وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى الْقُرْآنَ مِن لَّدُنْ حَكِيمٍ عَلِيمٍ

Sesungguhnya engkau (ya Muhammad) menerima Al-Quran dari sisi Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha berilmu. QS. An-Naml: 6 Ketika ayat turun, Nabi SAW sungguh-sungguh menghafalkanya, sehingga membacanya selalu diulang bersama Jibril dalam rangka menjaga Al-Quran. Beliau khawatir kalau sampai melupakan atau menyia-nyiakanya. Kemudian Allah SWT memerintahkanya untuk diam saja sewaktu dibacakan oleh Jibril AS. Allah menjamin hendak menetapkanya dalam dadanya. Maka Nabi tidak lagi tergesa-gesa atau memayahkan diri dalam sesuatu yang telah menjadi urusan-Nya. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya;

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

Maka maha tinggi Allah, raja yang sebenarnya. Maka janganlah kamu bersegera (membaca) Al-Quran, sebelum habis wahyunya kepadamu. Katakanlah, ‘Ya Tuhanku! Tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.

QS. Thaha: 114

Adapun Allah SWT menjamin Nabi pasti hafal, ini juga tersebut dalam ayat;

َا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ

Janganlah engkau (ya Muhammad) menggerakan lidahmu dengan Al-Quran supaya bersegera membacanya (ketika dibacakan Jibril kepada engkau). Sesungguhnya Kami akan menghimpunkanya dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaanya dalam lidahmu. Maka apabila Kami bacakan dia (dengan perantara Jibril), maka ikutilah bacaanya. Kemudian kami menerangkanya (sehingga engkau mengerti).

QS. Al-Qiyamah: 16-17

Adapun Jibril menerima Al-Quran dari Allah adalah dengan cara mendengarkan. Manakala ia mendengar ayat-ayat itu, maka akan membawanya turun untuk disampaikan kepada Rasulullah. Imam Baihaqi RA berpendapat dalam kitabnya bahwa makna firman Allah; إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Quran pada malam Qodar (malam mulia dari taqdir)

QS. Al-Qodr: 1 Maksudnya adalah “ Kami perdengarkan kepada malaikat, Kami pahamkan ia kepadanya, dan Kami turunkan ia dengan apa yang ia dengar”. Yakni Jibril menerima Al-Quran dari Allah dengan cara mendengarkanya .

 

III. KESIMPULAN DAN PENUTUP

 

Dalam analisa bahwa Rasul tidak bertindak apapun kecuali atas ketentuan wahyu yang turun kepadanya, sebagai kesimpulan dari ayat; wa maa yantiqu anil hawaa, in huwa illa wahyun yuwha “dan tidalah yang diucapkannya bersumner dari hawa nafsu, ucapan itu tida lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya (an-najm, 3-4), bahwa Rasul tidak mempunyai otoritas untuk berijtihad dalam segala tindakannya. Yang menjadi pertanyaan adalah dualisme wahyu dalam kasus teguran di atas.

Disaat yang sama dan dalam kondisi yang sama pula, turun kepada Rasul dua wahyu sekaligus yang sama sekali kontradiktif. Wahyu pertama membuat Rasul berkeinginan untuk tidak mempedulikan Abdullah ibn Ummi Maktum yang datang kepadanya untuk meminta pengajaran Agama, dengan tetap mengedepankan komunikasinya dengan para Pembesar Quraisy, dengan harapan agar mereka mau mengikuti dan menguatkan bangunan Islam yang sedang ia bangun.

Tindakan ini diambil tentu berdasarkan wahyu yang turun kepadanya, walaupun tidak diabadikan dalam al-Qur’an (dengan model wahyu yang pertama yang tanpa perantara). Sedangkan wahyu yang kedua, yang kemudian diabadikan dalam al-Qur’an, adalah teguran yang malah “menyalahkan” tindakan Rasul itu.

Semoga Tulisan ini bisa bermanfaat untuk semua amin. Dan tentunya banyak kesalahan dan kurang tepat dalam penyusunan makalah ini, oleh karenanya kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan dari semua pihak.

 

 

 

 

 under arsip:  Perkulihan.com.

MAKALAH  KONSEP WAHYU DALAM AL- QUR’AN,KONSEP WAHYU DALAM AL- QUR’AN, pengertian wahyu dalam al-quran

 

 

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*