Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah Konsep Dasar Manajemen Pendidikan

Konsep Manajemen Pendidikan Terbaru
 under arsip:  Perkuliahan.com
Judul postingan : konsep dasar manajemen  Pendidikan Islam 
Bidang  postingan  :  manajemen pendidikan islam next post : Beasiswa s1 s2 s3 Brunei darussalam

_________________________________

 ” Konsep Dasar Manajemen Pendidikan “

oleh : Abd. Malikil Muluk*

  1. Pengertian Manajemen Pendidikan

Istilah manajemen memiliki banyak arti tergantung pada kecenderungan orang yang mengartikannya. Dalam bidang pendidikan, istilah manajemen sekolah atau madrasah seringkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah, bahkan dalam berbagai kesempatan istilah manajemen dan administrasi sering digunakan dalam term yang sama.[1] Hal ini didasarkan pada fungsi pokok yang sama antara manajemen dan administrasi.[2]

Sebelum dipaparkan lebih jauh mengenai manajemen berbasis madrasah, perlu kiranya kami bahas definisi manajemen dalam maknanya yang umum, karena manajemen madrasah tidak bisa dilepaskan dari definisi intinya (Grand Theory) yang berupa manajemen.

Manajemen yang dalam bahasa inggris berupa management atau “managing” yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pengurusan, pengelolaan, ketatalaksanaan, kepemimpinan, pengendalian, penyelenggaraan maupun penanganan.[3]

Dalam bukunya yang berjudul Management, Peter P. Schoderbek mengatakan “Management is a process of achieving organizational goals through others”.[4]

Manajemen adalah proses pencapaian tujuan-tujuan secara terorganisir melalui (kerjasama) dengan orang lain.

17

 

 

Adapun rumusan manajemen menurut Haughton sebagaimana dikutip oleh Mutthawi’ (1996) adalah sebagai berikut:

“إن الإدارة هي الإصطلاح الذي يطلق على التوجيه والرقابة ودفع القوى العاملة إلى العمل في المنشأة”.[5]

Yang dimaksud dengan manajemen adalah suatu aktivitas yang melibatkan proses pengarahan, pengawasan dan pengerahan segenap kemampuan untuk melakukan suatu aktivitas dalam suatu organisasi.

 

Dari berbagai definisi di atas, dapat ditarik suatu pengertian bahwa yang dimaksud dengan manajemen pendidikan madrasah adalah segala usaha untuk memberikan kewenangan kepada madrasah dan guru untuk mengatur pendidikan dan pengajaran, merencanakan, mengorganisasi, mengawasi, mempertanggungjawabkan, mengatur serta memimpin sumber daya insani serta sarana dan prasarana untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan madrasah.[6]

Pemahaman manajemen sebagaimana yang disebutkan di atas secara implisit selaras dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Turmudzi dari Ibnu Umar yang berbunyi:

حدثنا قتيبة بن سعيد حدثنا ليث وحدثنا محمد ابن رمح حدثنا الليث عن نافع عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال كلكم راع ومسؤول عن رعيته فالإمام راع ومسؤول عن رعيته والرجل راع أهله ومسؤول عن رعيته والمرأة راعية في بيت زوجها ومسؤولة عن رعيتها والخادم راع في مال سيده ومسؤول عن رعيته والرجل راع في مال أبيه ومسؤول عن رعيته وكلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته (رواه مسلم)[7]

Dikhabarkan kepada kita dari Qatibah Ibn Sa’id, dikhabarkankepada kita dari List dan dikhabarkan kepada kita dari Muhammad Ibn Ramh dan dikabarkan kepada kita dari al-List dari Naafi’ dari Ibnu ‘Umar bahwasannya Nabi Muhammad sesungguhnya beliau bersabda: “Masing-masing kamu adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Dan seorang imam adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang lelaki juga pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang wanita juga seorang pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Dan pembantu juga pemimpin bagi harta tuannya dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Dan seorang laki-laki juga pemimpin bagi harta orang tuanya dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Serta setiap orang juga pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya”. (H. R. Muslim).

 

Hadist di atas mengandung pengertian bahwa masing-masing individu memiliki tanggung jawab dan kewenangan sendiri-sendiri. Dalam bidang pendidikan, kewenangan serta tanggung jawab tersebut harus didistribusikan kepada pihak terkait dalam lingkup yang lebih mikro guna mencapai tujuan pendidikan. Dan inilah pelajaran yang dapat diambil dari adanya kebijakan otonomi dan desentralisasi pendidikan.

Terkait dengan hal tersebuit administrasi pendidikan mempelajari cara pengelolaan (manajemen) baik yang menyangkut pelaksanaan manajemen maupun pekerjaan-pekerjaan operatif-opratif dalam lembaga-lembaga pendidikan yang telah ditentukan. Manajemen sekolah merupakan salah satu bidang atau dari satu bagian manajemen pendidikan yang dilaksanakan di sekolah, sehingga secara sederhana dapat dikemukakan bahwa manajemen pendidikan adalah segala kegiatan yang dijalankan disekolah agar tercapai tujuan pendidikan di sekolah.[8]

  1. Dasar dan Tujuan  Manajemen Pendidikan

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, pada umumnya para ahli memiliki kesamaan dalam mendefinisikan manajemen pendidikan yang secara umum memiliki dasar dan tujuan.

Manajemen akan tercapai dengan baik apabila didasarkan atas asas atau landasan yang tepat. Adapun pelaksanaan administrasi (manajemen) pendidikan di Indonesia ada dua macam azas atau dasar yaitu:

  1. Azas idiil

Pelaksanaan system manajemen pendidikan yang dianut oleh negara Indonesia yaitu sistim pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan pancasila dan UUD 45. karena pada hakekatnya adalah manajemen pendidikan subtansi dari sistem pendidikan secara luas.[9]

Sebagi tinjak lanjut dari dasar tersebut sistem pendidikan perlu diwadahi melalui sistem pendidikan nasional sebagai satu keseluruhan yang terpadu dari semua kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional.[10]

  1. Azas operasional

Sebagaimana telah diketahui dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional telah tercantum dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003, sehingga dewasa ini telah mengalami pembaharuan, upaya pembaharuan itu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan ditingkat sekolah.

Untuk merealisasikan tujuan tersebut pemerintah memerlukan empat strategi pokok sebagai dasar dan tujuan manajemen pendidikan yaitu: pemerataan kesempatan pendidikan, relevansi pendidikan, kualitas pendidikan, dan efesiensi pengelolaan / manajemen pendidikan.[11]

Dari uraian di atas, azas atau dasar bukanlah hukum atau dogma, tetapi hanya sebagai hipoksis yang harus diterapkan secara fleksibel, praktis, relevan, dan konsisten agar dapat mengurangi atau menghindari kesalahan-kesalahan dalam menjalankan pekerjaannya. Dengan demikain diharapkan agar sekolah dalam pengelolaan program pendidikan agar lebih mandiri dan mampu menentukan arah pengembangannya sesuai dengan kondisi dan tuntutan lingkungan masyarakat, dengan kata lain sekolah harus mampu mengembangkan program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

  1. Bentuk-bentuk Manajemen Pendidikan

Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Secara garis besar bentuk manajemen pendidikan berdasarkan ruang lingkupnya meliputi manajemen pendidikan makro, mezzo dan mikro.[12]

Manajemen pendidikan yang bentuknya makro adalah manajemen yang pengelolaannya dijalankan oleh lembaga tingkat nasional seprti departemen, derektorat jendral dan direktorat.

Adapun manajemen pendidikan yang berbentuk mezzo adalah manajemen pendidikan yang berlaku ditingkat daerah atau wilayah, seperti kantor pendidikan wilayah dan kopertis atau kopertais.

Sedangkan manajemen pendidikan yang makro adalah manajemen pendidikan di lembaga yang paling dasar, pendidikan menengah dan tinggi.

  1. Fungsi, Tujuan dan Manfaat Manajemen Pendidikan

Para ahli pendidikan memiliki kesamaan dalam mendefinisikan manajemen yang secara umum mengandung empat fungsi manajemen. Keempat fungsi tersebut adalah perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pengarahan dan pengawasan (controlling).[13]

  1. Perencanaan (planning)

Perencanaan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses pemikiran dan penentuan semua aktivitas yang akan dilakukan pada masa yang akan datang dalam rangka mencapai tujuan.[14]

Fungsi ini menimbulkan implikasi bahwa tahap pertama yang harus dilakukan dalam perencanaan adalah menyusun langkah-langkah untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Diantara fungsi perencanaan yang dimaksud meliputi: penetapan tujuan dan standar, penentuan aturan dan prosedur, pembuatan rencana dan peramalan apa yang akan terjadi di masa datang.[15]

  1. Pengorganisasian (organizing)

Pengorganisasian merupakan keseluruhan proses pengelompokan semua tugas, tangung jawab, wewenang dan komponen dalam proses kerja sama sehingga tercipta suatu sistem kerja yang baik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[16]

 

  1. Fungsi Pengarahan

Fungsi pengarahan adalah fungsi yang berkenaan dengan pemberian stimulasi kepada anggota organisasi untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan rencana. Fungsi pengarahan ini meliputi menciptakan suatu iklim dengan kombinasi yang baik dan situasi yang kondusif untuk memimpin dan memotivasi orang-orang secara efektif.[17]

  1. Pengawasan (controlling)

Fungsi pengawasan atau pengendalian adalah fungsi yang harus dilaksanakan manajer untuk memastikan bahwa anggota melakukan aktivitas yang akan membawa organisasi ke arah tujuan yang telah ditetapkan. Pelaksanaan fungsi ini akan melahirkan implikasi bahwa manajer perlu menentukan standar kinerja anggota organisasi, mengatur kinerja yang sedang berjalan, membandingkan kinerja dengan standar yang telah ditetapkan dan mengambil tindakan apabila ditemui penyimpangan.[18]



[1] Donald E. Orlosky, et. al., Educational Administration Today, (London : Charles E. Merrill Publishing Company and A Bell & Howell Company, 1984), hlm. 3.

[2] Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah Konsep Strategi dan Implementasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2002), hlm.19

[3] Harbangan Siagian,  Manajemen Suatu Pengantar, (Semarang: Satya Wacana, 1993), hlm. 9.

[4] Peter P. Schoderbek, et. al.,Management, (London: Harcourt Brace Jovanovich Publishers, 1988), hlm. 8.

[5] Ibrahim Ihsmat Mutowi’, Al-Ushul al-Idariyah Li al-Tarbiyah, (Riad: Dar al-Syuruq, 1996), hlm. 13

[6] Mulyasa, Manajemen berbasis Sekolah Konsep Strategi dan Implementasi, op. cit., hlm. 21.

[7] Imam Muslim, Sahih Muslim, (Bandung: Penerbit Dahlan, tt,), Juz II, hlm. 125.

[8] Tim Pengembangan MKDK, Administrasi Pendidikan, (Semarang: IKIP Semarang Press, 1991),  Cet. 3, hlm. 4.

[9]Ibid, hlm.5.

[10]Muwardi Sutedjo, et.al.., Kapita Selekta Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Direktorat jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1996), hlm. 8.

[11] Tim Pengembangan MKDK, lok.cit, serta lihat dalam Undang-undang Dasar  Negara RI Tahun 1945.

[12]Supandi Kartamihardja dan Rustana Ardiwinata, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Departemen Agama, Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam, 1998), cet. 7. hlm. 5-6.

[13] I.G. Wursanto, Dasar-Dasar Manajemen Umum, (Jakarta: Pustaka Dian, 1986), Cet III, hlm. 20.

[14] Ibrahim Bafadal, Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasa dari Sentralisasi Menuju Desentralisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), Cet I, hlm. 42.

[15] Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Keagamaan, Manajemen Madrasah Mandir, (Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, 2003), Cet III, hlm. 5.

[16] Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Keagamaan, Konsep Dasar Manajemen Madrasah Mandiri, (Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, 2003), Cet III, hlm. 15.

[17] Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Keagamaan, Manajemen Madrasah Mandiri, (Jakarta: Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan, 2003), Cet III, hlm. 6.

[18] Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Manajemen Madrasah Mandiri, ibid., hlm. 8.

* Penulis Skripsi ( diambil dari cuplikan skripsinya)