Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah Islam, wanita istri BERKABUNG

Makalah Islam,  wanita istri  BERKABUNG

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Makalah Islam,  wanita istri  BERKABUNG

Bidang  postingan  : Makalah Islam,  wanita istri  BERKABUNG,  Hukum fiqih tentang berkabung dalam islam. hukum perempuan berkabung, landasan hadits tentang berkabung.apa hukum berkabung, bagaimana cara istri berkabung, hadits tentang berkabung, 

………………………………………………………………………………………………………………….

data post perkuliahan.com seri:  50

Makalah Islam,  wanita istri  BERKABUNG

 

A.    1.   Masa Pra-Islam

Sebagai agama pembebas, sedari awal Islam telah mengusung satu tugas suci, yaitu menghapus segala praktik diskriminasi dalam kehidupan umat manusia.  Islam datang membawa serta pesan profetik untuk menengakkan keadilan dalam bentuknya yang paling kongkrit. Misi pokok al-Quran diturunkan ialah untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan, termasuk diskriminasi seksual, warna kulit, etnis, dan ikatan-ikatan primordial lainnya. Semua watak diskriminatif yang berkembang subur dalam masyarakat Arab Jahiliyah pada masa itu senantiasa secara bertahap dieleminasi dan ditolak.

Salah satu upaya paling fundamental dari Islam adalah keputusannya untuk menyangkal pandangan diskriminatif terhadap manusia berdasarkan perbedaan jenis kelamin, dimana kaum perempuan sepanjang sejarah kemanusiaan dipandang tidak berharga dibandingkan lelaki. Kaum perempuan diposisikan tidak lebih dari sekedar mesin produksi manusia, bagaikan mesin foto kopi. Tidak jarang, mereka hanya dimanfaatkan sebagai alat pemuas kebutuhan biologis pria belaka. Mereka sering kali distereotipkan sebagai makhluk yang lemah, baik fisik, mental maupun nalar.

Dalam kondisi seperti itu, Islam datang mengubah paradigma hegemonik-tiranik tersebut menjadi paradigma yang lebih menghargai dan menghormati perempuan.  Islam, misalnya memberi hak kepada anak perempuan untuk mengajukan keberatan terhadap calon suami yang ditawarkan oleh walinya. Begitu juga, pernikahan bukanlah akad atau transaksi jual beli antara wali perempuan dan calon suami. Al-Quran menggambarkan hubungan suami – istri sebagai hubungan kemitraan yang saling menyempurnakan.[1]  

Bahkan, kemitraan dalam hubungan suami – istri dinyatakan al-Quran sebagai kebutuhan timbal-balik. Allah SWT. Berfirman (al-Baqarah (2) : 187) Istri-istri kamu adalah pakaian untuk kamu (para suami) dan kamu adalah pakaian untuk mereka. Lebih jauh dari itu, hubungan pernikahan merupakan hubungan cinta kasih antara dua insan yang berlawan jenis.[2]

Bukti lain dari marginalisasi dan dehumanisasi perempuan oleh masyarakat Arab pra-Islam adalah munculnya suatu tradisi yang dibebaskan terhadap kaum perempuan pasca – kematian sang suami.  Masyarakat Arab Pra-Islam telah secara sadis menerapkan apa yang dikenal dengan ’iddah” dan ”ihdad” (atau hidad). Yakni, suatu kondisi di mana kaum perempuan yang baru saja di tinggal mati oleh suaminya bahkan oleh anggota keluarganya yang lain, harus mengisolasi diri di dalam ruang terpisah selama setahun penuh.[3] Dalam masa pengasingan itu, perempuan tersebut tidak diperkenankan untuk memakai wewangian, memotong kuku, menyisir rambut, dan berganti pakaian. Dia akan diberi seekor binatang seperti keledai, kambing atau burung untuk dipakai menggosok-gosokkan kulitnya.  Di ilustrasikan dalam sebuah hadits, begitu busuknya bau badan perempuan yang ber-ihdad tersebut, sehingga tidak seorang pun berani menghampirinya, dan seandainya ia keluar ruangan dengan segera burung-burung gagak akan menyergapnya, karena bau buruk yang ditimbulkannya. Tradisi ini tidak berlaku bagi kaum laki-laki.[4]

Mayoritas intelektual dan sejarawan terutama di kalangan Islam berpendapat bahwa posisi perempuan pada masa pra-Islam sangat memprihatinkan, keberadaannya seperti tidak ada, tidak memiliki indepedensi, serta tidak mempunyai hak atas dirinya sendiri.[5]

Perlakuan bangsa-bangsa terhadap perempuan yang ditinggalkan mati suaminyapun sangat bervariasi, ada yang menganut nilai bahwa kesetiaan seorang istri terhadap suaminya setelah suami meninggal dunia ialah ia jangan terlihat lagi dengan kehidupan dunia karena itu, ia dibakar bersama jenazah suaminya, ada pula yang mengukur kesetiaan itu dengan pernikahan satu kali dalam kehidupan seorang perempuan, dengan kata lain, jika perempuan tersebut ditinggal mati suami maka dia tidak boleh menikah lagi.[6]

Dalam gramatika Arab lafal تحر adalah fi’il mudari’ yang artinya adalah mencegah, yaitu mencegah dari berhias dan memakai wewangian bagi kerabat atau istri orang yang meninggal dunia. Mencegah disini juga berarti mencegah melamar perempuan tersebut.

لا dalam hadits tersebut yang terletak sebelum lafad يحل adalah la nahi yang berarti mencegah yang berfungsi memberi makna ta’kid (penekanan) atas hal yang dilarang. Lafal la yahillu memberi isyarat bahwa berkabung lebih dari tiga hari untuk selain suami hukumnya haram, hal itulah yang banyak dilakukan istri-istri rasul dan sahabat.

Lafal tersebut memberikan petunjuk tentang batasan-batasan waktu berkabung bagi perempuan yang ditinggal mati suami atau kerabatnya, yakni maksimal empat bulan sepuluh hari bagi suami dan tiga hari untuk selain suami.  Dalam adab al-nabawi disebutkan tradisi inilah yang disinyalir dilaksanakan oleh para istri rasul, merekalah yang menjadi referensi penetapan tradisi Islam pada masa Nabi hidup.[7]

Berkabung di sini direpresentasikan dengan penggunaan lafal  تحر yang berarti mencegah, pencegahan didalam hadits-hadits tersebut dispesifikasikan dengan lafal-lafal setelahnya yaitu tidak boleh bercela dengan lafal لاتحكيحل  tidak boleh memakai wewangian dengan lafal لايطيب   serta tidak boleh memakai pakaian yang berwarna dengan lafal لاتنبس ثوبا مصبوغا keseluruhan hal yang tidak diperboleh tersebut berensi satu yaitu tidak boleh berhias, sebagaimana setelah dijelaskan, alasan tidak boleh berhias tersebut adalah karena bisa mengundang untuk nikah, padahal pada masa berkabung ini seorang perempuan juga melaksanakan masa iddah dan belum boleh menerima lamaran.[8]

Meskipun demikian dalam pelaksanaannya laranganya menggunakan alat-alat untuk berhias tidaklah mutlak, pada waktu-waktu tertentu terdapat jenis-jenis tertentu yang boleh dipakai, hal ini dijelaskan dengan menggunakan kata  وقدرخص yang artinya nabi memberi keringanan bagi muttahidah untuk memakai wewangian pada saat setelah suci dari haid, karena yang tidak diperbolehkan adalah alat yang dalam penggunaanya ditujukan untuk berhias, maka para ulama memberi keringanan memakai jenis alat yang tidak berfungsi untuk berhias tetapi berfungsi untuk pengobatan atau bersifat membersihkan. Begitu pula dalam pakaian, tidak semua pakaian warna tidak boleh dipakai, warna-warna tertentu boleh dipakai seperti warna hitam, karena warna tersebut identik dengan kesedihan, sedangkan alasan tidak boleh memakai pakaian berwarna adalah karena warna bisa menarik perhatian pandangan dan menyenangkan hati.[9]

2.      Masa Islam

Menghadapi tradisi sekarang ini, secara perlahan Islam melakukan perubahan-perubahan yang cukup mendasar.  Islam datang dengan mengupayakan adanya pengurangan waktu berkabung bagi seorang isteri, dan ini dilakukan tidak dengan cara-cara yang merendahkan atau menistakan diri perempuan. Sesuai dengan keterbatasan dan kesederhanaan piranti teknologis pada waktu itu dan pertimbangan etis – moral lainnya, dibuatlah suatu ketentuan ‘iddah, yaitu, masa menunggu bagi seorang perempuan yang baru berpisah dari suaminya, baik karena perceraian atau kematian untuk tidak menikah lagi sebelum melalui beberapa waktu tertentu.

Karena terbatasnya ruang yang tersedia, maka hendaknya memfokuskan diri pada bahasan di seputar iddah dan ihdah. Dalam pembahasan terlebih dahulu akan dikemukakan landasan normatif – doktrinal, termasuk perbincangan fuqaha seputar iddah dan ihdah, kemudian disusul dengan bahasan tentang problem etika dan sains modern yang dihadapinya.  Untuk menghindari munculnya pemahaman Islam (fiqh) yang hanya berorientasi pada dirinya sendiri, tanpa mempertimbangkan secara matang mengenai tepat atau tidaknya konsep fiqh tersebut untuk diterapkan pada tingkat praktis.

Secara etimologis, ihdad atau juga disebut hidad berarti mencegah dari memakai perhiasan. Dalam kosa kata Arab, ihdad berarti keadaan perempuan yang tidak menghias dirinya sebagai tanda perasaan berkabung atas kematian suaminya atau keluarganya.  Kalau bagi selain suami, ihdad hanya dilakukan sampai masa tiga hari. Dalam ajaran fiqh konvensional, ihdad hanya berlaku bagi istri yang ditinggal mati suaminya, dan tidak berlaku terhadap suami yang ditinggal mati istrinya.

Ihdad, dalam kitab-kitab kuning, selalu dinyatakan wajib dilakukan bagi istri yang suaminya wafat dengan tujuan menyempurnakan penghormatan terhadap suami dan memelihara haknya.[10]

Dalam hadits Ummi Salamah dikatakan : ”Terhadap perempuan yang ditinggal mati suaminya, janganlah ia memakai pakaian yang dicelup, jangan memakai perhiasan, jangan memakai pewarna wajah, dan jangan bercelak” (HR. Ahmad Ibn Hanbal, Abu Dawud dan an-Nasa’i).  Hadits yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan imam muslim yang berasal dari ummu ‘athiyah juga berisi larangan yang sama dengan hal di atas. Dinyatakan bahwa jika seorang istri yang ditinggal mati suaminya mengetahui bahwa ihdad wajib dilakukan selama masa iddah, namun ia tidak melakukannya, maka tindakannya termasuk mendurhakai Allah.

Menurut kitab-kitab fiqh konvensional, perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya atau keluarganya diharuskan melakukan ihdad dengan cara menjauhi hal-hal berikut : (1) memakai perhiasan cincin atau perak, (2) memakai pakaian yang terbuat dari sutera berwarna putih, (3) memakai pakaian yang berbau wangi (4) memakai pakaian yang dicelup dengan warna mencolok, misalnya warna merah atau kuning. Pada umumnya ahli fiqh menyatakan bahwa perempuan tersebut boleh memakai pakaian yang berwarna hitam.  Akan tetapi, menurut madzhab Maliki, pakaian yang berwarna hitam pun tidak boleh dipakai, kecuali jika dikalangan masyarakatnya warna hitam dipandang untuk mempercantik diri (5) memakai wewangian (parfum) pada tubuhnya, kecuali untuk keperluan menghilangkan bau tidak sedap pada kemaluannya sehabis haid.  Bahkan, madzhab Maliki berpendapat bahwa perempuan yang sedang melakukan ihdad tidak boleh melakukan pekerjaan yang berkait dengan wewangian, misalnya menjadi pembuat atau pedagang minyak wangi, (6) meminyaki rambut, baik minyak yang mengandung wewangian maupun tidak mengandung wewangian, (7) memakai celak, karena itu akan memperindah mata. Menurut ahli fiqh, jika bercelak untuk keperluan pengobatan boleh dilakukan pada malam hari, sedangkan pada siang hari tetap tidak dibenarkan. (8) mewarnai kuku dengan inai dan semua yang berkaitan dengan pewarnaan wajah.  Seluruh larangan ini didasarkan pada hadits riwayat Bukhari dan muslim ditambah dengan hadits an-Nasa’i dan Ahmad ibn Hanbal.[11]

Disamping itu, larangan lain dalam ihdad adalah larangan untuk keluar rumah, kecuali untuk keperluan tertentu dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan yang mendasar, seperti mencari nafkah.

Akan tetapi, iddah untuk mengetahui kondisi terakhir rahim perempuan agaknya tidak bisa dipertahankan lagi. Sebab, dengan kecanggihan teknologi modern sekarang, peralatan terhadap bagian terdalam rahim seorang perempuan bukanlah sesuatu yang sulit lagi untuk dilakukan.  Teknologi sudah dapat mendeteksi dengan sangat akurat dan valid tentang ada dan tidak adanya bibit atau benih dalam rahim perempuan. Jaminan akurat dari teknologi ini terus terang membuat kelompok agamawan ortodoksi-tradisional khawatir terhadap kemungkinan ditinggalkannya ketentuan ‘iddah ini.

Sesungguhnya disamping untuk mengetahui tentang positif dan negatifnya rahim, sesuai dengan struktur masyarakat Arab yang patriarchal, iddah pada saat diturunkannya telah berfungsi secara efektif sebagai upaya minimal untuk melindungi hak-hak perempuan pasca-perceraian dan kematian. Dalam batas waktu iddah itu, perempuan masih berhak untuk mendapat perlindungan ekonomi dan perlindungan sosial.  Perlindungan ini misalnya terlihat dari desakan al-Quran kepada suami untuk membuat wasiat khusus sebelum meninggal dunia untuk mempertahankan istrinya didalam rumahnya paling tidak selama satu tahun dan untuk nafkah hidupnya.

Allah SWT berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 240 : “Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantara kamu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah dari rumahnya.  Akan tetapi, jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu membiarkan mereka berbuat yang makruf terhadap diri mereka.”[12]

Dengan demikian, jika ayat ini dibaca dalam perspektif sosial yang berlaku pada saat itu, maka akan terlihat bahwa perlindungan khusus diambil untuk melindungi hak-hak perempuan yang waktu itu banyak yang terampas.

Bahkan, jika berpedoman pada konteks masyarakat Arab dalam era pra-Islam dan awal Islam, perlindungan semacam ini jelas sangat signifikan, karena dua hal : pertama, pada masa itu secara kultural perempuan memang tidak memperoleh hak apapun.  Kedua, dalam fakta obyektif dan realitas empiriknya, tidak banyak dijumpai (kecuali hanya sedikit saja) perempuan yang bekerja untuk mencari nafkah. Pada saat itu, secara ekonomis dan sosial istri memang berada dalam tanggung jawab suaminya.

Dalam kasus perceraian karena suami meninggal, iddah disamping untuk tujuan memperjelas status genetika juga dimaksudkan sebagai pernyataan sikap berkabung (ihdah). Tentu saja, berkabung yang perlu di jalani istri tidak boleh dijalani dengan cara-cara yang tidak manusiawi, seperti yang telah ditampilkan masyarakat Arab Jahiliyah yang melarang perempuan mu’taddah untuk menyisir rambut, memotong kuku, dan sebagainya. Dengan demikian, selama masa iddah-nya (4 bulan 10 hari), disamping perempuan tersebut harus membiarkan rahimnya tidak menampung benih baru, yang bersangkutan juga diminta untuk tidak mengekspresikan satu sikap yang mengesankan bahwa dirinya tidak sedang tertimpa musibah.

Dalam pemikiran ini, boleh jadi prinsip yang diletakkan dalam ihdad ini tidak untuk berkabung atas meninggalnya mendiang. Suami atau keluarga. Sebab, tanpa dikondisikan pun seorang istri atau suami yang ditinggal pasangan yang sangat mencintai dan menyayanginya tentu akan berkabung, bahkan bisa hingga beberapa tahun.  Dengan demikian, ihdad adalah kriteria kepantasan bagi mereka yang baru ditimpa musibah kematian.  Karena itu, maka baik istri maupun suami meski menjaga takaran kepantasan tersebut dengan tidak menunjukkan kepada publik suatu cita rasa bahagia dan senang dengan kematian mitra hidupnya itu.

Hadits-hadits tentang berkabung bagi perempuan yang ditinggal mati oleh suami dengan menggunakan lafal مرأة.  Dalam Mu’jam al-Mufahrasy lafal مرأة merupakan turunan dari lafal مرأى, berikut ini keretangan yang penulis peroleh dari al-Mu’jam al-Mufahrasy li alfazi al-hadits al-nabawi, tentang kitab-kitab yang memuat hadits-hadits berkembang bagi perempuan sebab ditinggalkan mati oleh suami:

1.      Kalimat باب احداد المرأة على غير زوجها على زوجها terdapat di dalam Sahih al-Bukhari bab jenazah dan Sunan al-Tirmizi bab cerai.[13]

2.      Kalimat فوق ثلث ايام لا تحو المرأة termuat dalam Sunan Abi Dawud bab cerai dan Musnad Ahmad bin Hambal hadits ke 8505

3.      Kalimat لا يحل لإمرأة تؤمن بالله واليوم الأخر أن تحد terdapat di dalam Sahih al-Bukhari bab jenazah dan cerai, Sahih Muslim bab cerai, Sunan Abi Dawud bab cerai, Sunan an-Nasa’i bab cerai, Sunan al-Darimi bab cerai, Muwata’ bab cerai, Musnad Ahmad bin Hambal hadits ke 239.

4.      Kalimat باب الطيب للمرأة عند عسلها terdapat di dalam Sahih al-Bukhari bab haid

5.      Kalimat باب النهى عن الزينة فى عدة terdapat dalam Sunan al-Darumi bab cerai

Sedangkan pada kita Miftah Kunuz al-Sunnah, penulis menggunakan tema berkabung (تحد) untuk menelusuri hadits berkabung bagi perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, dalam kitab trsebut hadits-hadits dalam penelitian ini termuat di dalam Sahih al-BukhariSahih Muslimi, Sunan Ibnu Majahsunan al-DarumiMuwata’ al-MalikSunan Abi DawudSunan al-TirmiziSunan an-Nasa’iTabaqat ibn Sa’idMusnad Ahmad bin Hambal.[14]

Setelah penulis melakukan pengumpulan hadits-hadits berkabung bagi perempuan karena ditinggal mati oleh suami, selanjutnya penulis mengklasifikasikan hadits-hadits tersebut ke dalam tema-tema yang sama.  Dari pengklasifikasian tersebut, hadits-hadits yang memuat tentang berkabung bagi perempuan karena ditinggal mati oleh suami, dapat dibagi menjadi tiga pokok sub tema yang terkandung pada berbagai riwayat.  Tiga sub tema tersebut adalah :

 

1.      Hadits yang membahas batal masa berkabung bagi perempuan yang tidak hamil maupun hamil

2.      Hadits yang menceritakan tidak boleh berhias bagi perempuan yang sedang berkabung

3.      Hadits yang menyatakan tempat masa berkabung

 

B.     Hadits yang Membahas Batas Berkabung bagi Perempuan yang Ditinggal Mati Suami

1.      Redaksi hadits tentang batas berkabung bagi perempuan yang tidak hamil

حدثنا يحيى بن يحيى وابو بكر بن ابى سيبة و كمر والناقد و زهير بن حرب (ولفظه ليحيى) قال يحيى أحبرنا وقال الآخرون حدثنا سفيان ابن عيينة عن زهرى عن عروة عن عائشة عن النبى صلى الله عليه وسلم قال لايحل لإمرأة تؤمن بالله واليوم الآخرات تحد على ميت فوق ثلاث الا على زوحها.

Artinya :

“Dari Yahya bin Yahya dan Abu Bakri bin Abi Syaibah dan Umar dan al-Naqid dan Zuhairu bin Harb (dan lafalnya dari Yahya), Yahya berkata mengkhabarkan pada kami dan yang lain, berkata pada suami Sufyan bin Uyainah dari al-Zuhri dari arwah dan Aisyah dari Nabi Saw bersabda; “Tidaklah halal bagi seorang perempuan yang beriman pada Allah dan hari akhir berkabung atas jenazah melebihi tiga hari kecuali untuk suaminya yaitu empat bulan sepuluh hari.”[15]

Istri yang ditinggal mati oleh suaminya padahal ia tidak dalam keadaan hamil maka iddahnya ialah empat bulan sepuluh hari.  Ketentuan ini meliputi baik istri itu pernah bercampur dengan suaminya atau belum, keadaan istri itu belum pernah haidh, masih berhaid, ataupun telah lepas haidh.  Ketetapan ini berdasarkan firman Allah surat al-Baqarah ayat 234, sebagai berikut:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya :

“Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri, hendaklah para istri itu menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.  Kemudian apabila telah habis iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat pada diri merka menurut yang patut.  Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

Menurut firman Allah ini istri yang ditinggalkan mati oleh suaminya setelah mengakhiri masa iddahnya dibolehkan berbuat sesuatu yang patut bagi dirinya sendiri semisal berhias, memakai wangi-wangian, bepergian, atau menerima pinangan.  Perhitungan bulan dalam iddah dibulatkan dengan 30 hari, sehingga empat bulan sepuluh hari berarti 130 hari.[16]

2.      Redaksi hadits tentang batas berkabung bagi perempuan hamil

حدثنا احمد بن منيع حدثنا حسين بن محمد حدثنا شيبان عن منصور, عن ابراهيم عن اسود, عن ابى السنابل ابن بعكك قال: وصعت سبيعة بعدوفاة روجها بثلاثة وعشرين يوما, او خمسة وعشرين يوما, فلما تعلت تشوفت للنكاح فانكر عليها ذلك فذكر ذلك للنبى صلى الله عليه وسلم فقال إن تفعل فقد حل اجلها.

Artinya:

“Dari Ahmad bin Mani’ dari Husain bin Muhammad dari Syaiban dari Mansur dari Ibrahim dari Aswad dari Abi al-Sanabil ibn Ba’kak berkata Subai’ah melahirkan kira-kira dua puluh tiga hari atau dua puluh lima hari setlah suaminya meninggal, setelah nifasnya selesai, dia merencanakan pernikahan kemudian hal tersebut diceritakan pada Nabi Saw, maka Nabi berkata: “Jika dia berbuat seperti itu, maka sesungguhnya batas, menunggunya setelah selesai.”

ثبت أن سبيعة ألاسلمية سالته وقد مات زوجها ووضعت حملها بعد موته. قالت: فافتا بن رسول الله  اكن قد حللت حين وضعت حملى وأمر بن بالتزويج ان بدالى.

Artinya :

“Ditetapkan bahwa Subai’ah al-Aslamiyah pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, dia ditinggal mati suaminya dan melahirkan kandungannya sesudah suaminya itu mati. Katanya: “Rasulullah Saw pernah berfatwa kepadaku, bahwa aku sudah boleh kawin lagi ketika aku telah melahirkan kandunganku.  Dan beliau menyuruh aku kawin lagi bila sudah nampak (ada orang yang cocok) untukku.[17]

Apabila istri yang ditinggal mati suaminya dalam keadaan hamil, melahirkan dalam waktu tidak sampai empat bulan sepuluh hari, mayoritas (jumhur) ulama, menurut Ibn Rusyd berpendapat bahwa masa iddah wanita tersebut adalah sampai melahirkan, meskipun selisih waktu kematian suami hingga ia melahirkan hanya setengah bulan atau kurang dari 130 hari.[18]

Dalam hal antara kdua ayat tersebut berlaku nasikh mansukh atau ‘am dan takhsis, maka yang kuat ialah bahwa iddah istri yang hamil itu adalah melahirkan kandungan.  Ketentuan ini didukung oleh turunnya surat at-Talaq yang lebih akhir daripada surat al-Baqarah, serta beberapa hadits yang menerangkan bahwa Subai’ah al-Aslamiyah melahirkan kandungan setelah empat bulan sepuluh hari setelah wafat suaminya, lalu ia memohon izin kepada Rasulullah Saw untuk kawin, kemudian beliau mengizinkannya. Sudah barang tentu meski diperbolehkan mengadakan akad nikah (perkawinan) dalam nifasnya namun suami tidak boleh mencampurinya sampai ia suci dari nifasnya itu.

Adapun hadits yang menerangkan hal tersebut di atas, adalah

عن عبيد الله ابن عبد الله أخبره عن أبيه أنه كتب إلى ابن الارقم ان يسأل سبيعة الاسلمية كيف افتاها النبي صلى الله عليه وسلم فقالت افتانى اذا وضعت ان انكع.

Artinya :

“Dari Ubaidillah bin Abdullah dari ayahnya bahwa ia menulis surat kepada Ibnu Arqam menanyakan kepada Subai’ah al-Aslamiyah bagaimana Nabi Saw memberi fatwa kepadaku bila saya sudah melahirkan supaya saya kawin.”[19]

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umi Salamah bahwa seorang perempuan dari Aslam namanya Subai’ah menjadi istri dari seseorang lalu suaminya itu meninggal ketika ia sedang hamil.  Ia kemudian dipinang oleh Abu As-Sanabil bin Bu’kuk, tapi dia menolak kawin dengannya.  Maka laki-laki itu berkata, “demi Allah, memang belum saatnya kamu kawin, sebelum menunggu dulu sampai akhir dari dua ketentuan (bersalin atau 4 bulan 10 hari).” Subai’ah pun menunggu hampir 10 malam lamanya, kemudian dia pun bernifaslah (bersalin).  Kemudian datang kepada Nabi, maka sabda beliau “kawinlah”[20]

 Iddahnya wanita yang ditinggal suami dalam keadaan hamil telah diperselisihkan oleh para ulama’. Segolong para sahabat Nabi dan beberapa ulama’ fiqh terkemuka berpendapat, bahwa wanita seperti ini hendaknya menunggu iddah yang terpanjang diantara dua ketentuan, apakah akan menunggu sampai melahirkan kandungannya, ataukah sampai 4 bulan 10 hari.  Mana diantara keduanya yang terpanjang, itulah yang dipilih.  Madzhab ini adalah madzhab yang dinisbathkan kepada sebagian sahabat Nabi, antara lain Abdullah bin Abbas.  Sedangkan segolongan yang lain berpendapat, iddahnya cukup sampai melahirkan, madzhab yang dinisbathkan kepada Abdullah bin Mas’ud.[21]

Jika yang diambil adalah madzhab yang pertama, maka itu merupakan kehati-hatian (ikhtiyath) yang sempurna dalam menunaikan nash-nash al-Quran al-Karim.  Sedang kalau yang dipakai itu madzhab yang kedua, maka itupun didukung oleh nash-nash yang cukup banyak dalam as-Sunnah yang keluar lewat jalur-jalur sanat yang sah, yang semuanya mendukung bahwa iddah wanita yang sedang hamil itu sampai dia melahirkan kandungannya,  baik setelah ia ditalak atau ditinggal mati suaminya.[22] 

Syarih Rahimullah berkata jumhur ulama’ dari kalangan salaf dan ahli-ahli fatwa berpendapat, bahwa orang yang hamil apabila ditinggal mati suaminya, bahwa iddahnya sampai ia melahirkan anaknya.  Hadits-hadits dan atsar-atsar sahabat dalam bab ini menegaskan, bahwa firman Allah “Dan perempuan-perempuan yang hamil, masa iddah mereka adalah sampai melahirkan anak mereka.  Itu bersifat umum meliputi semua jenis iddah. 

 

C.    1.   Hadits Perempuan tidak Boleh Berhias pada Masa Berkabung

حدثنا ادم بن أبى اياس حدثنا شعبة حدثنا حميد بن نافع عن زينب ابنة ام سلمة عن امها أن إمرأة توفى زوجها فخشوا عينبها فأتوا رسول الله صلى الله عليه وسلم فاستأ ذنوه فى الكحل فقال لا تكحل قد كانت احدا كن تمكث فى شراحلاسها أوشربيتها فإذا كان حول فمر كلب رمت ببعرة فلاحتى تمضى أربعة اشهر وعشر.

Artinya :

“Dari Adam bin Abi Iyas dari Syu’bah dari Humaid bin Naif dari Zainab anak perempuan Umi Salamah dari ibunya, ia berkata, “Ada seorang perempuan yang ditinggal mati suaminya sampai matanya sakit kemudian ia datang pada Rasul Saw kemudian minta izin untuk memakai celak.”  Kemudian Rasul berkata, “Jangan bercerlak sesungguhnya diantara kamu ada yang berdiam ditempat yang paling jelek atau rumahnya yang paling jelek.  Dan jika telah sampai satu tahun lewatlah seekor anjing dan dilempari kotoran, maka janganlah bercelak, sampai empat bulan sepuluh hari.”[23]

حدثنى عبد الله بن عبد الوهاب حدثنا حماد بن زيد عن ايوب عن حبصة عن ام عطية قالت كناننهى ان نحو على ميت فوق ثلاث الا على زوج اربعة اشهر وكشرا ولا تكتحل ولا نطيب ولا نلبس ثوبا مصبوغا الاثوب كصب وقد رخص لنا عند الطهر إذا اغتسلت احدانا من مجبضها فى نبذة من كسن أطفار وكنا ننهى اتباع الجناءن.

Artinya :

 “Dari Abdullah bin Abd. al-Wahab bin Zaid dari Ayyub dari Hafsah dari Ummi ‘Atiyah, dia berkata kami dilarang berkabung atas mayat di atas tiga hari kecuali untuk suami yaitu empat bulan sepuluh hari, dan tidak boleh bercerlak, tidak boleh memakai wewangian, tidak boleh memakai baju yang diwarnai, dan kami diberi keringanan oleh Nabi untuk memberi sedikit wewangian disela-sela jari, setelah suci dari haid, kami juga ilarang mengikuti mayit.”[24]

Dalam lafad لا تكتحل yang berarti tidak boleh memakai celak, sebagian ulama berpendapat, pencegahan disini tidak sampai pada tingkat keharaman, tapi bagi yang memilih jalur yang hati-hati, makna lafad tersebut adalah haram.  Jika bercelak tersebut karena terpaksa, maka agama Allah sangat mudah dijalankan, karena yang dimaksud keharaman disini mengecualikan konteks darurat (bahaya).  Pemaknaan darurat dalam hal tersebut adalah tidak memakai celak yang dipergunakan untuk berhias, yaitu celak yang tidak ada parfumnya.  Menurut Ibn Abdul al-Hakim, celak warna kuning tidak digunakan berhias, karena terlihat jelek.[25]

Dalam riwayat Ibnu al-Mawas dari Malik menyebutkan jika menginginkan memakai wewangian, maka boleh bercelak dengan wewangian tersebut, karena agama Allah sangatlah mudah dilaksanakan, diriwayatkan pula darinya bahwa boleh bercelak di malam hari dan menghapusnya pada siang hari dengan celak yang tidak mengandung wewangian.  Ketidakbolehan memakai kain yang diwarnai alasannya ialah karena warna bisa menarik perhatian pandangan dan menyenangkan hati. 

Dari Malik juga menyebutkan bahwa seorang wanita yang suaminya meninggal hendaklah meminyaki matanya dengan minyak zaitun dan minyak wijen dan yang sejenisnya sepanjang tidak ada parfum didalamnya dan tidak memakai permata, anting-anting, gelang kaki, atau semacamnya, ia juga hendaklah tidak memakai pakaian warna-warni, bergaris-garis kecuali itu adalah kain kasar, dan tidak memakai pakaian berwarna lain kecuali hitam, dan ia juga hendaknya tidak menghiasi rambunya dengan sesuatu selain daun seroja, atau yang lainnya sepanjang tidak mewarnai rambut.[26]

Selain itu, iapun tidak boleh keluar rumah tanpa suatu keperluan, kalau ia hendak keluar karena sesuatu keperluan, seperti untuk membeli kain, atau menjual sulaman, maka itu tidak boleh dilakukannya pada malam hari.  Dan dibolehkan bagi wanita yang ditinggal mati suaminya untuk keluar guna menunaikan hajat di waktu siang hari.[27]

Seorang istri yang ditinggal mati suaminya, bolehkah ia berdandan atau menghias diri atau apakah ia harus berkabung selama satu tahun seperti kebiasaan masyarakat penyembah berhala atau barang kali seperti pada zaman modern ini, istri sama sekali justru tidak berkabung untuk masa tertentu, lalu ia cukup berkabung seminggu atau tiga hari.  Setelah itu dia tampil dengan bebas dengan pakaian dan perhiasan yang mencolok tanpa terlihat bekas bela sungkawanya terhadap bekas suaminya yang baru saja meninggal.[28] 

Adapun ketentuan Islam mewajibkan kepada istri yang ditinggal mati oleh suaminya untuk berkabung selama 4 bulan 10 hari dan dalam masa itu istri tidak boleh keluar rumah di mana ia ditempatkan oleh suaminya dan begitu pula keluarga suami tidak boleh menyuruh dia keluar dari rumahnya sebelum jangka waktu berkabung  4 bulan 10 hari habis.  Jadi bukan 1 tahun seperti tradisi zaman jahiliyah atau juga seperti tradisi masyarakat barat yang tidak mengenal ketentuan masa berkabung seperti yang ditetapkan Islam. Dan harus diperhatikan oleh para wanita atau istri yang ditinggal mati suaminya, bahwa dalam masa berkabung tidak dibenarkan untuk berhias diri atau memakai perhiasan untuk menampilkan diri dengan dandanan yang tidak patut. 

Yang dimaksud dengan dandanan atau merias diri yang tidak patut ialah berhias diri seolah-olah ia menghadapi suaminya, sehingga dapat menarik perhatian lelaki lain.[29] 

2.       Hadits Perempuan Tinggal di Rumah Kerabat Suami[30]

حدثنا اسحق بن منصور أخبرنا روح عبادة حدثنا شبل عن ابن أبى اكبيع عن مجاهد والذين يتوفون منكم ويدرون ازواجا قال كانت هذه العدة تعتد عند اهل زوجها واحبا فأنزل الله والذين يتوفون منكم ويدرون وصيه لأزوجهم متاعا الى الحول غير اخراج فإخرجنا فلاجناح كليكم فيما فعلن فى انفسكم من معروف قال جعل الله لها تماح السنة سبعة اشهر وكشرين ليلة وصببة ان سأن سكنت فروصيتها وإن شأت خرجت وهو قول الله تعلى غتر إحراج فإن حرجنا فلا جناح كليكم فالعدة كماهى واجب عليها زعم ذلك عن مجاهد وقال عطأ عن ابن عباس نسخت هذه الآية عدتها عند اهلها وسكنت فى وصيتها وإن شأت خرجت لقول الله فلا جناح عليكم فيما فعلن فى أنفيكم قال عطأثم جا الميرات فنسع السكن فتعتدحيث شئت ولا سكنى لها.

Artinya:

“Dari Ishak bin Mansur dari Rawuh bin Abdullah berkata padaku Syiblun dari Ibn abi Najib dari Mujahid.”  Dan orang-orang yang Mati diantara kamu dan meninggalkan istri ia berkata maka baginya beriddah dikerabat suaminya adalah hal yang wajib, kemudian Allah menurunkan (ayat yang berbunyi) “dan orang-orang yang mati diantara kamu dan meninggalkan istri serta berwasiat kepada istrinya untuk tidak keluar (dari rumah suami) selama satu tahun, maka jika ia keluar maka tidak ada larangan bagi kalian atas hal-hal yang telah diperbuat pada diri mereka dari kebajikan, Mujahid berkata: “Allah menjadikannya genap satu tahun, dari tujuh bulan dan dua puluh malam sebagai wasiat, jika dia mau ia boleh menjalankan wasiat tersebut dan jika tidak mau ia boleh menjalankan wasiat tersebut dan jika tidak mau, maka ia pun boleh meninggalkan rumah, hal ini sesuai dengan firman Allah: “Tidak keluar jika mereka keluar maka tidak ada dosa bagi kalian,” sedangkan iddah sebagaimana juga diwajibkan kepadanya, itulah yang dimaksud mujahid, ‘Ata’ berkata dari mujahid dari Ibnu Abbas” ayat yang menerangkan tentang menjalankan masa iddah dikerabat suami maka beridahlah dimanapun ia menginginkan dengan firman Allah menghapus ayat yang berbunyi tidak boleh keluar,” kemudian ‘Ata’ berkata jika ia mau menjalankan wasiatnya namun ia pun boleh keluar, karena firman Allah “maka tidak ada dosa bagimu dari perbuatan mereka pada diri mereka, ‘Ata’ berkata, “Datanglah maka dihapuslah yang menyerukan tetap tinggal dan perempuan tersebut boleh tinggal dimanapun ia suka.”

وعن عكرمة عن ابن عباس فى قوله: “والذين يتوفون منكم ويذرون أزوجا وصية لأزواجهم متاعا الى الحول غير اخراج” نسخ ذلك باية الميراث بما فرض الله لها من الربع والثمن, ونسخ اجل الحول ان جعل اجلها اربعة اشهر وعشرا.

Artinya :

“Dan dari Akrimah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah “Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah dri rumahnya.”  (QS. 2: 240), (bahwa) ketentuan ini dinasakh oleh Ayatul mirats, yaitu bahwa Allah menentukan bagian istri yang ditinggal mati itu seperempat atau seperdelapan bagian (dari harta pusaka suami) dan masa setahun itu (juga) dinasakh, yaitu masanya dijadikan empat bulan sepuluh hari.  (HR. Nasa’i dan Abu Dawud).[31]

Syaikh berkata hadits Furaiah ini dijadikan dalil, bahwa perempuan yang ditinggal mati suaminya harus menghabiskan masa iddahnya di rumah dimana sampai kepadanya berita kematian suaminya tersebut dan ia tidak boleh keluar dari rumah itu ke rumah lainnya.  Begitulah pendapat segolongan shbat, Tabi’in, dan ulama angkatan berikutnya, juga Malik, Abu Hanifah, Syafi’i dan rekan-rekan mereka.  Dan ada riwayat yang membolehkan keluar dari rumah dari rumah tersebut kalau ada keperluan, diantara Abi Syaibah, yaitu bahwa bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya boleh datang ke rumah keluarganya pada siang hari.  Dan Abdurrazzaq meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa ia mempunyai seorang anak perempuan yang sedang beriddah karena ditinggal mati suaminya, lalu pada suatu hari ia datang ke rumah keluarganya pada siang masuk waktu malam maka ia diperintahkan pulang berumahnya sendiri.  Dan Sa’id bin Mansur meriwayatkan dari ali ra., bahwa Ali membolehkan berpindah rumah.  Selanjutnya ia berkata: Dan hadits Ibnu Abbas tersebut dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat, bahwa permpuan yang ditinggal mati suaminya tidak berhak memproleh tmpat tinggal, nafkah dan pakaian. Imam Syafi’i berkata: aku menghafal (keterangan) dari orang yang aku ridha kepadanya dari kalangan ulama’, bahwa nafkah dan Kiswah bagi perempuan yang ditinggal mati suaminya selama setahun itu telah dimansukh oleh ayat mirats dan ia berkata pula: bahwa menurut pendapat yang kami pilih, hendaknya para ahli waris dari suami yang meninggal itu memberikan tempat tinggal kepada istri al-marhum tersebut karena sabda Nabi Saw: “Hendaklah engakau tetap tinggal di rumahmu” itu menunjukkan wajibnya memberikan tempat tinggal kepada istri al-marhum di rumah suaminya, apabila si suami itu memang punya rumah.[32]

 


[1] KH. Husein Muhammad, Tubuh, Seksualitas, dan Kedaulatan Perempuan, (Yogyakarta : Rahima, 2002), hlm. 135-137

[2] Ibid

[3] Muhammad Ibn Idris asy-Syafi’iy, al-Umm, (Beirut : Dar al-Fikr, 1983), Juz V, hlm. 247

[4] al-Qurthuby, al-Jami’li Ahkam al-Quran, (Kairo : 1969), Juz II, hlm. 194

[5] Syafiq Hasyim, Hal-hal yang Tak Terpikirkan ; Tentang Isu-isu Keperempuan dalam Islam, (Bandung : Mizan, 2001), hlm. 19

[6] Yusuf al-Qardhawi, Fatwa-fatwa Kontemporer al-Qardhawi, terj. As’ad Yasin (Jakarta : Gema Insani Press, 1999), Jilid I, hlm. 630

[7] Muhammad Abdul Aziz al-Khulli, op.cit., hlm. 251

[8] Ibid.,

[9] Ibid.

[10] Abd ‘Al-bar an-Namiriy, al-Kafiy fiy ahl al-Madinah al-Malikiy, (Beirut : Dar al-Kutub, 1992), hlm. 294

[11] Al-Sy-Syawkaniy, Navl al-Awtar, (Mesir : Dar al-Kutub, 1993), Juz VI, hlm. 296

[12] Menurut Imam Syafi’i, ayat ini turun sebelum turunnya ayat-ayat tentang mawaris dalam Islam.  Ayat ini juga telah dinasakh oleh ayat 234 surat al-Baqarah dalam al-Quran.

[13] A.J. Wensinck, Al-Mu’jam Al-Mufahrasy li Alfazi Al-Hadits Al-Nabawi, (Biden: Ej. Brill, 1967), hlm. 187-192.

[14] A.J. Wensinck, Miftah Kunuz al-Sunnah, terj. M. Fuad Abdul al-Bej, (Mesir: Lajnah Tarjaah Dairah al-Ma’arif, 1993), hlm. 113.

[15] Abi Husain bin al-Husain Muslim bin Hujaj, Sahih Muslim, hadits no. 4924, (Beirut: dar al-Fikr, 1981), jilid 6, hlm. 204.

[16] Prof. Dr. Zakiah Darajat dkk., Ilmu fiqhi, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995), jilid II, hlm. 214.

[17] Al-Imam al-Jahl al-Hafidz aAbu Abdullah dkk., Fatwa-fatwa rasulullah saw., terj. S. Ziyad Abbas, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990), hlm. 71.

[18] Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, juz II, (Semarang: Usaha Keluarga, 1982), hlm. 72.

[19] Imam Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih Bukhari, jilid VII, terj. Ahmad Sunarto dkk., (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1993), hlm. 224-225.

[20] Ansyori Umar, Fiqh Wanita, (Semarang : CV. AS-Syifa’, 1982), hlm. 436

[21] Ibid., hlm. 438

[22] Ibid.

[23] Abu Abdillah Muhammad al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, hadits no. 4921, (Libanon: dar al-Fikr, t.th.), jilid 7, hlm. 186.

[24] Ibid, hadits no. 4933, hadits ini dianggap sahih oleh Ali al-Muttaqydin Khisam al-Din al-Sanadi, hlm. 694.

[25] Al-Karamani, Sohih Abi Abdillah al-Bukhari Bisyar al-Karamani, (Libanon : Dar al-Fikr, t.th), hlm. 240

[26] Ibnu al-Azali al-Maliki, al-Ridlat al-Akhwadi, Bi Syarh al-Tirmidzi, (Beirut : dar al-Kutub, al-Ilmiyah, t.th), Jilid V, hlm. 183 – 185

[27] Imam Malik Ibn Anas, Al-Muwatha’ Imam Malik Ibnu Anas, terj. Dwi Surya Atmaja (Jakarta : PT. Grafindo Persada, 1999), hlm. 327-328

[28] Drs. M. Thalib, Sunan Ibnu Majjah Kitabun Nikah dan Kitabuth Thalaq, (Solo : CV. Ramadhani, 1993), hlm. 179-180

[29] Ibid.,

[30] Abu Abdillah Muhammad al-Bukhari, op.cit., hlm. 187.

[31] Mu’ammal Hamidy dkk. Terjemahan Nailul Authar Himpunan Hadits-Hadits Hukum, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1374), hlm. 2429.

[32] Ibid, hlm. 2429-2430.

Makalah Islam,  wanita istri  BERKABUNG

under arsip:  Perkulihan.com.

Category: Artikel Islam
  • aswin says:

    bagus sekali

    February 1, 2012 at 14:40

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*