Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

makalah ILMU PENYAKIT MATA , KERATITIS

makalah ILMU PENYAKIT MATA , KERATITIS

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan/title post  : makalah ILMU PENYAKIT MATA , KERATITIS

Bidang  postingan  : makalah ILMU PENYAKIT MATA , KERATITIS, artikel tentang keratitis, makalah Keperawatan, makalah kesehatan, makalah kedokteran. (makalah dalam postingan perkuliahan.com telah linkable to others post, dengan tips support google to post title : Askep

 

for : key search : apa yang dimaksud KERATITIS,  makalah tentang penyakit KERATITIS, askep tentang KERATITIS, penanganan dan pengobatan KERATITIS

………………………………………………………………………..

bank data materi perkuliahan.com seri : 37

ILMU PENYAKIT MATA

KERATITIS

 Radang kornea biasanya diklasifikasikan dalam lapis kornea yang terkena, seperti keratitis superfisial san interstitial atau profunda.

Keratitis dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti kurangnya air mata, keracunan obat, reaksi alergi terhadap yang diberi topikal, dan reaksi terhadap konjungtivitis menahun.

Keratitis akan memberikan gejala mata merah, rasa silau, dan merasa kelilipan.

Pengobatan dapat diberikan antibiotika, air mata buatan, dan sikloplegik.

 KERATITIS PUNGTALA

Keratitis yang terkumpul didaerah membran Bowman, dengan infiltrat berbentuk bercak-bercak halus.

KP ini disebabkan oleh hal yang tidak spesifik san dapat terjadi pada moluskum kontagiosum, akne rosasea, herpes simplek, herpes zoster, blefaritis, keratitis neuroparalitik, infeksi virus, vaksinia, trakoma dan trauma radiasi, dry eyes, trauma, lagoftalmos, keracunan obat seperti neomisin, tobramisin, dan bahan pengawet lainnnya.

Kelainan ini dapat berupa :

·       Keratitis pungtata epitel.

·       Keratitis pungtata.

Pada konjungtivitis vernal dan konjungtivitis atopik ditemukan bersama-sama papil raksasa.

Pada trakoma, pemfigoid, sindrome Stevens Johnson dan pasca pengobatan radiasi dapat ditemukan bersama-sama dengan jaringan parut konjungtiva.

Keratitis pungtata biasannya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala kelainan konjungtiva, ataupun tanda akut, yang biasanya terjadi pada dewasa muda.

 KERATITIS PUNGTATA SUPERFISIAL

Keratitis pungtata superfisial membuktikan gambaran seperti infiltrat halus bertitik-titik pada permukaan kornea.

Merupakan cacat halus kornea superfisial berwarna hijau bila diwarnai flurosein.

Keratitis pungtata superfisial dapat disebabkan sindrom dry eye, keratopati logoftalmos, keracunan obat topikal (neomisin, tobramisin, ataupun obat lainnya) sinar ultraviolet, trauma kimia ringan, dan pemakaian lensa kontak.

Pasien akan mengeluh sakit, silau, mata merah, dan rasa kelilipan.

Pasien diberi air mata buatan, tobramisin tetes mata, dan sikloplegik.

KERATITIS PUNGTATA SUBEPITEL

Keratitis yang terkumpul di daerah membran Bowman. Pada keratitis ini biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihat gejala keleinan konjungtiva, ataupun tanda akut, yang biasanya terjadi pada dewasa muda.

 

KERATITIS MARGINAL

Keratitis marginal merupakan infiltrat yang tertimbun pada tepi kornea sejajar dengan limbus.

Penyakit infeksi lokal kunjungtiva dapat mengakibatkan keratitis kataral atau keratitis marginal ini. Keratitis marginal kataral biasanya terdapat pada pasien setengah umur dengan adannya blefarokonjungtivitis.

Bila tidak diobati dengan baik maka akan mengakinatkan tukak kornea. Biasanya bersifat rekuren, dengan  kemungkinan terdapat streptokokus pneumonie, Hemophilus aegepty, Moraxella lacunata, dan esrichia. Infiltrtat dan tukak  yang terlihat diduga merupakan timbunan komplek antigen-antibiodi.

Penderita akan mengeluh sakit, seperti kelilipan, lakrimasi, disertai fotofobia berat.

Pada mata akan terlihat blefarospasme pada satu mata, injeksi konjungtiva, infiltrat atau ulkus yang memanjang, dangkal unilateral dapat tunggal atau multipel, sering disertai neovaskularisasi dari arah limbus.

Bila tidak diobati dengan baik maka akan mengakibatkan tukak kornea. Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika yang sesuai dengan penyebab infeksi lokalnya dengan steroid dosis ringan. Pada pasien dapat diberikan vitamin B dan C dosis tinggi. Pada kelainan yang indolen dilakukan kauterisasi dengan listrik atatupun AgNO3 dipembuluh darahnya atau dilakukan flep konjungtiva yang kecil.

Penyulit yang terjadi berupa jaringan parut pada kornea  yang akan mengganggu pengelihatan atau ulkus meluas dan menjadi lebih dalam.

Keratitis marginal trakomatosa merupakan keratitis dengan pembentukan membran pada kornea atas. Keadaan ini akan membentuk pannus, berupa keratitis dengan neovaskularisasi.

KERATITIS INTERSTISIAL

Keratitis yang ditemukan pada jaringan kornea yang lebih dalam. Pada keratitis interstisial akibat lues kongenital didapatkan neovaskularisasi dalam, yang terlihat pada usia 5-20 tahun pada 80% pasien lues. Keratitis interstisialis dapat terjadi akibat alergi atau infeksi spiroket kedalam stoma kornea dan akibat tuberkulosis.

Keratitis interstisial merupakan keratitis nonsupuratif profunda disertai neovaskulerisasi. Keratitis ini juga disebut juga keratitis parenkimkosa.

Biasanya akan memberi keluhan fotofobia, lakrimalis, dan menurunya visus. Pada keratitis interstisial maka keluhan bertahan seumur hidup.

Seluruh kornea keruh sehingga iris sukar dilihat. Permukaan kornea seperti permukaan kaca. Terdapat injeksi siliar disertai dengan serbukan  pembuluh kedalam sehingga memberikan gambaran merah kusam atau apa yang disebut “salmon patch” dari Hutchinson. Seluruh kornea dapat berwarna merah ceri.

Kelainan ini biasanya bilateral. Pada keadaan yang disebabkan tuberkulosis biasanya unileteral.

Pada keratitis yang disebabkan oleh sifilis kongenital biasanya ditemukan tanda-tanda sifilis kongenital lain, seperti hidung pelana (sadle nose) dan trias Hutchinson, dan pemeriksaan serologik yang positif terhadap sifilis. Pada keratitis yang disebabkan oleh tuberkolusis terhadap gejala tuberkuosis lainnya.

Pengobatan keratitis profunda tergantung pada penyebabnya. Pada keratitis diberikan sulfas atropin tetes mata untuk mencegah sinekia akibat terjadinya uveitis dan kortikosteroid tetes mata.

Keratitis profunda dapat juga terjadi akibat trauma, mata terpajan pada kornea dengan daya tahan rendah.

 KERATITIS BAKTERIAL

Setiap bakteri seperti staphylokokus, streptokokus, pseudomonas, dan enterobakteriaceae dapat menyebabkan keratitis bakterial.

Pengobatan keratitis dapat diberikan pada keratitis bakterial dini.

Biasanya pengobatan dengan dasar sebagai berikut :

Gram (-)

Gram (+)

Tobramisin

Cefalozin

Gentamisin

Vancomyxin

Polimiksin

Basitrasin

                                                                                                           

Biasanya pengobatan diberikan setiap 1 jam.

Sikloplegik diberiakan untuk istirahat mata.

 

KERATITIS JAMUR

Biasanya dimulai dengan suatu rtuda paksa pada kornea oleh ranting pohon, daun dan bagian tumbuh-tumbuhan.

Jamur yang dapat menyebabkan keratitis adalah fusarium, cephalocheparium, dan vulvularia. Pada masa sekarang infeksi jamur bertambah dengan pesat dan dianggap sebagai akibat sampingan pemakaian antibiotik dan kortikosteroid yang tidak tepat.

Keluhan mulai timbul setelah 5  hari rudapaksa atau 3 minggu kemudian. Pasien akan mengeluh sakit mata yang hebat,berair, dan silau.

Pada mata akan terlihat infiltrat yang berhifa dan satelit bila terletak didalam stroma. Biasanya disertai dengan cincin endotel dengan plaque dan hipopion. Tampak tukak yang jelas dan menonjol ditengah tukak nampak bercabang-cabang, dengan endotelium plaque, ganbaran satelit pada kornea, dan lipatan descement.

Sebaiknya diagnostik dibuat dengan p[enmeriksaan mikroskopik dengan KOH10% terhadap kerokan kornea yang menunjukkan adanya.

Sebaiknya pasien dengan infeksi jamur dirawat dan diberi pengobatan natamisin 5% setiap 1-2 jam saat bangun atau anti jamur lain seperti miconazol, amfoterisin, nistatin, dan lain-lain. Diberikan sikloplegik disertai obat oral anti glaukoma bila terjadi peningkatan tekanan intra okuler. Bila tidak berhasil diatasi maka dilakukan keratoplasti.

Penyakit yang dapay terjadi adalah endoftalmitis.

 KERATITIS VIRUS

Keratitis pungtata siperfisial memberi gambaran seperti infiltrat halus bertitik-titik pada dataran depan kornea yang dapat terjadi peda penyakit pada penyakit herpes simplek, herpes zoster, infeksi virus, vaksinia, dan trakoma.

Keratitis yang terkumpul didaerah membran Bowman. Pada keratitis ini biasanya terdapat bilateral dan berjalan kronis tanpa terlihatnya gejala kelainan konjungtiva,  ataupun tanda akut.

 

KERATITIS HERPETIK

Keratitis herpetik disebabkan oleh herpes simplek dan herpes zoster.

Yang disebabkan herpes simplek dimagi dalam 2 bentuk yaitu epitel dan stromal. Hal yang murni epitelial adalah dendritik dan stromal adalah diskiformis. Biasanya infeksi herpes simplek ini berupa campuran epitel dan stroma. Perbedaan ini perlu akibat mekanisme kerusakannya berbeda. Pada yang epitelial kerusakan terjadi akibat pembelahan virus didalam sel epitel, yang akan mengakibatkan kerusakan sel dan membentuk tukak kornea superfisial,. Stroma diakibatkan reaksi imunologik tubuh pasien sendiri terhadap virus yang menyerang. Antigen (virus) dan antibodi (pasien) bereaksi didalam stroma korneadan menarik sel leukosit dan sel radang lainnya. Sel ini mengeluarkan bahan proteolitik untuk merusak antigen (virus) yang akan juga merusak jaringan stroma disekitarnya. Hal ini sangat berkaitan dengan pengobatan dimana pada yang epitelial dilakukan terhadap virus dan pembelahan dirinya sedang pada yang keratitis stromal dilakukan pengobatan menyerang virus dan reaksi radangnya.

Pengobatan :

IDU merupakan obat antiviral yang murah, bersifat tidak stabil. Bekerja dengan menghambat sintesis DNA virus dan manusia, sehingga bersifat toksis untuk epitel normal dan tidak boleh dipergunakan lebih dari 2 minggu. Terdapat dalam larutan 1% dan diberikan setiap jam. Salep 0,5% diberikan setiap 4 jam.

Vidarabin sama dengan IDU, akan tetapi hanya terdapat dalam bentuk salep.

Triflurofimidin (TFT) sama dengan IUD, diberikan 1% setiap 4 jam.

Acyclovir. Bersifat selektif terhadap sintesis DNA virus. Dalam bentuk salep 3% yang diberikan setiap 4 jam. Sama efektif dengan anti virus lain akan tetapi dengan efek samping yang kurang.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah. Vol. 3. EGC : Jakarta.

Mansjoer, Arif, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Ed. 3. Jilid 1. Media Aesculapius : Jakarta.

Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : edisi 3. Jakarta : EGC.

 

Carpenitto, Lynda Juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. EGC : Jakarta.

Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal – Bedah : volume 2. Jakarta : EGC.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*