Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Makalah dan Artikel Dimensi Sosial Keagamaan

Makalah dan Artikel Dimensi Sosial Keagamaan

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Makalah dan Artikel Dimensi Sosial Keagamaan

Bidang  postingan  :  Pendidikan Islam

Melanjutkan postingan berikutnya tentang Makalah dan Artikel Dimensi Sosial Keagamaan

 Perkuliahan.com, dalam upaya menambah wacana dan  khasanah keilmuan pendidikan, terutama dalam Pendidikan Islam maka perkuliahan.com berusaha untuk berkontribusi dalam mewujudkanya. Melalui makalah dan artikel ringan diharapkan  bisa sedikit memberi warna dunia pendidikan, walaupun dalam postingan perkuliahan.com belum bisa diketegorikan sebagai wacana / artikel ilmiah atau sebagai makalah pendidikan, namun hidup harus optimis dan selalu melakukan hal yang paling mudah dan terbisa saat ini. (lagi pengen meramaikan Google dan  Yahoo he)

Serial postingan perkuliahan.com kali ini mengangkat beberapa materi yang terkait dan berkesinambungan dalam dimensi pendidikan Islam, diantaranya beberapa wacana kecil tentang, Pengertian Pendidikan Islam, Dasar Filosofis Pendidikan Islam,Tujuan  Pendidikan Islam, Metode Pendidikan Islam, Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam, Evaluasi Pendidikan Islam, Sosial Keagamaan, Dimensi Sosial Keagamaan, Peran Sosial Keagamaan dalam Pendidik Islam, Aplikasi  Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam, Pendidikan Islam dalam Perspektif  Sosial Keagamaan.

…………………….

Dimensi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

Oleh : Mizanto, S.Pd.I

( Universitas Sains Al-Qur’an ( UNSIQ ) Jawa Tengah di Wonosobo )

 

Agama merupakan alat legitimasi atas realitas kehidupan sosial masyarakat yang efektif (Berger), dan ungkapan Johan Efendi (1978:13) yang dikutip oleh Dadang Kahmad, yang mengatakan bahwa agama pada suaatu waktu memproklamirkan perdamaian, jalan menuju keselamatan, persatuan dan persaudaraan, namun pada waktu yang lain menampakan dirinya sebagai suatu yang dianggap garang dan menyebar konflik,bahkan tak jarang serti dicatat dalam sejarah menimbulkan peperangan.[1]

Demikian dua ungkapan yang cukup ekstrim mengenai agama dalam masyarakat, tapi ungkapan itu tidak serta merta menjadi sesuatu yang berlebihan jika melihat kondisi agama saat yang dibuat menjadi  sistem yang rigit. Misalnya dalam komentar tentang agama mengenai lembaga gereja yang mengundang karl mark memberikan statement  bahwa “agama adalah candu” tak terpungkiri juga dalam Islam, ketika agama hanya dijadikan legitimasi dan alat untuk memperkuat “status quo” seseorang maka agama hanya menjadi bomerang dan hanya sebuah sistem pengkotak-kotakan yang kaku, begitupun ketika agama mengajarkan kekerasan maka pengikutnyapun tidak segan-segan memakai kekerasan sebagai bentuk tindakan suci untuk mengeksekusi setiap permasalahan.

Kajian menarik mengenai agama-agama besar di dunia dan masyarakat/pemeluknya, yaitu ada sebuah kajian ilmiah  oleh orang berkebangsaan Inggris yaitu Richard Allen Greene, editor The CNN Wire. yang kebetulan beberapa hari lalu penulis bisa membaca data  hasil penelitianya yang disajikan di koran Republika, dalam artikel yang ditulis oleh tokoh agamawan dan akademisi yang tak asing lagi, yaitu Azyumardi Azra rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dari yang penulis baca mengenai penelitian dengan kemasan menggunakan survei dengan landasan pertanyaan, Agama apakah kekuatan untuk kebajikan atau tidak, survei tersebut  merupakan survey  global @dvisor yang bertajuk “views on globalisation and faith,” survei itu sendiri dilakukan ipsos MORI  di 24 negara pada april 2011 dengan melibatkan hampir 20 ribu  responden dengan berdasarkan agama, kristianai (katolik dan protestan di 19 negara) islam di 3 negara( indonesia arab saudi da turki) hindu (india)  buddhis (cina jepang dan korea selatan) berikut cuplikan naskah dari analisis survei tersebut.

“Survei itu menemukan tingkat keyakinan kaum Muslimin pada pentingya agama sangat tinggi  bahwa Islam sangat penting dalam kehidupan mereka yaitu 94 % ( di Arab Saudi 100 %) Indonesia 99 %  dan Turki 86 %) selanjutnya  adalah para penganut Hindu  India (86 %) dan Kristiani  (66%) lebih jauh, 61 % kaum Muslimin di ketiga negara, percaya  Islam sebagai satu-satunya  ajalan kebenaran menuju keselamatan  sedangkan kalangan penganut Hindu  hanya 26 % dan Nasrani secara keseluruhan  19 %

Sebaliknya 22% Muslim secara keseluruhan  juga berpendapat  para penganut agama lain boleh jadi pula  dapat mencapai keselamatan, menemukan kebenaran,  atau masuk surga  melalui agama masing-masing. Sejumlah 22 % Kristiani juga pendapat sama , Buddhis hanya 15% dan penganut Hindu tertinggi dengan 29%, pandangan ini terkait dengan pengetahuan tentang agama lain dan para penganutnya. Muslim10 % secara keseluruhan punya kenalan agama lain, dan para penganutnya, 6% Nasrani,  Budhis 5 % dan Hindu 19%”[2]

 

Dari penelitian tersebut mengindikasikan bahwa pemeluk-pemeluk agama mempunyai pegangan keyakinan yang kuat, yang berpengaruh terhadap tingkah dan sikap hidup seseorang dalam masyarakat, sehingga perbincangan tentang  hubungan  sosial  keagamaan, menjadi satu perbincangan yang sangat menarik, bahkan tak pernah basi, karena tema ini selalu berkembang  sesuai dengan perubahan dan perkembangan zaman.

Dalam berbagai kesempatan hubungan sosial keagamaan menjadi bahan kajian yang sedang disorot tajam,  bahkan dalam berbagai kesempatan  kegiatan analisis sosial keagamaan ini didanai oleh pemerintah, dengan bentuk yang lebih memasyarakat yaitu kegiatan research/penelitian-penelitian ilmiah tentang hubungan sosial keagamaan, biasanya penelitian-penelitian sejenis di backup oleh kalangan akademisi, sebut; dosen dan mahasiswa.

Membicarakan hubungan sosial dan keagamaan perlu juga mencermati tentang konsep  pluralitas dan multikulturasi dalam masyarakat, karena untuk membina hubungan sosial di negara yang heterogen perlu adanya upaya serius untuk menjadikan perbedaan-perbedaan tersebut menjadi kesatuan yang utuh, saling mengerti secara bijak untuk saling melengkapi dan memahami bersama tentang perbedaan dan keberagaman tersebut. Begitupun di Indonesian dengan bermacam-macam suku, budaya, agama, dan bahasa memerlukan adanya sistem masyarakat dan pemerintahan yang bisa berdampingan, menaungi dan mewadahi keberagaman tersebut.

Sosial dan Agama, dua komponen kata yang mempunyai ikatan makna yang dalam,  kajian sosiologi dan antropologipun tiada lepas dari membahas tentang dua hal tersebut. Begitu juga dalam hal pendidikan, terutama di negara yang heterogen seperti halnya Indonesia ini, pendidikan harus mampu menjembatani dan memediasi  keberagaman tersebut, yaitu dengan cara-cara yang humanis melalui pendekatan analisis sosio-historis, dan pendekatan-pendekatan itu sangat tepat  jika penyaluranya melalui pendidikan, karena pendidikan dalam teori maupun prakteknya terbukti telah mampu memperkuat sistem-sistem kultural kemasyarakatan, baik yang diformulasikan dengan konsep-konsep sistemik maupun naturalistik.

Sebagaimana Arifin dalam mengutip ungkapan Prof.Thomson sebagai berikut: “Education is concerned with the problem of individual  and society, is indeed, by some defined as the process of fitting the individual to take his place in society.[3] dari ungkapan Thomson tersebut, setidaknya bisa diambil kesimpulan dari pendapatnya  bahwa, pendidikan sebagai media memproses individu untuk belajar lebih memahami dirinya dan masyarakat, hal ini sangat penting  karena individu tersebut memang  bagian dari masyarakat. Sehingga adanya proses pendidikan yang bersifat kelembagaan harus memahami sepenuhnya hal ini, karena nantinya seorang individu baru tersebut, setelah melewati dan berproses dalam pendidikan mau tidak mau akan dikembalikan kedalam masyarakat. Dalam  kaitan pendidikan, proses dan literasi ini memunculkan adanya cabang kajian baru yang sering dikenal dengan istilah sosiologi pendidikan.

Kembali membuka wacana tentang konsep sosial keagamaan yang lebih kritis, sebagaimana wacana tentang perubahan sosial dan reaktualisasi keagamaan yang sedang berlanjut saat ini, penting dicermati oleh semua pihak sebagai bagian dari subyek dan obyek perubahan-perubahan tersebut, karena problem sosial kemasyarakatan tampak semakin rapuh, kepekaan  dan kepedulian para tokoh masyarakat dan agamawan harus lebih ditingkatkan mengenai hubungan sosial dan keagamaan, hal ini sejalan juga dengan keprihatinan pemerintah mengenai hubungan keagamaan yang kurang harmonis, pernah disampaikan baru-baru ini sebagai himbuan kepada masyarakat oleh menteri agama Surya Dharma Ali, “Peran pemerintah dan tokoh, pemuka, maupun organisasi keagamaan tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling melengkapi, terutama dalam mengantisipasi gejolak bernuansa agama di tengah masyarakat.”[4]

Sehingga Islam seharusnya mampu menjadi teladan sebagai agama damai, karena sumber pokok ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits nabi sangat menganjurkan dan menuntut umatnya untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, Namun prinsip dan doktrin Islam tersebut tak cukup hanya dijadikan  sebagai referensi yang statis, karena untuk mempresentasikan konsep Islam tersebut dibutuhkan pemikiran dan tindakan nyata secara radikal dan sosial aplikatif  yang komprehensif, dalam rincinya dikatakan oleh Amir Machum bahwa hubungan sosial tidak terdiri dari hubungan antar individu dengan individu, tapi lebih dari itu yaitu hubungan antar peranan. Para aktor hanya mewakili peranan sosial mereka.[5] Salah satu lini untuk menegakan dan membuat Islam itu tetap jaya dan aplikatif tentunya adalah sisi pendidikan dan pengajaran Islam yang tepat, sesuai cita-cita dan konsep Rasullulah, yang  dalam aplikasi akademis, telah  dikenal dengan konsep keteladanan.

 

 



[1] Dr. H. Dadang Kahmad, Op.Cit, hal. 147.

[2] Prof.DR.Azyumardi Azra, Pentingnya Agama, Republika, kamis 4 agustus 2011, kol.3

 

[3] Arifin M.Ag, Pendidikan Sebagai Pendorong dan Penunjuk Arah Perubahan Sosial, dalam buku Konfigurasi Politik Pendidikan Nasional,Pustaka Fahima, Yogyakarta, 2007, hal 110.

[4] Waspada Online, Hindari Konflik Sosial Keagamaan,diambil pada 24 Juli 2011 dari http://waspada.co.id/index.php/hindari konflik sosial keagamaa.

[5] Mohammad Sobary, Kesalehan Sosial, LKis, Yogyakarta, 2007 hal.79

uppo�on(q��}an>[4] Prof. HM.Arifin, M.Ed.Op.Cit. hal. 33

 

[5] Dr. Muhmidayeli, M.Ag.et.al, Membangun Paradigma Pendidikan Islam,Program Pasca Sarjana UIN Suska Riau, Pekanbaru,2007, hal.215.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*