Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

makalah Alat Evaluasi Pendidikan

Tes sebagai Alat Evaluasi Pendidikan

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan :

Tes sebagai Alat Evaluasi Pendidikan, lanjutan evaluasi  Pendidikan Islam

Bidang  postingan  :  sistem evaluasi pendidikan, alat pengevaluasian pendidikan, tekhnik evaluasi pendidikan

…………………………………………………………………………..

materi perkuliahan.com seri : 12

Tes Sebagai Alat Evaluasi Pendidikan

1.  Alat-alat (teknik) evaluasi pendidikan

Alat-alat evaluasi pendidikan yang juga dikenal lain yaitu “teknik evaluasi pendidikan “adalah segala macam alat atau aktivitas yang dapat dipergunakan dalam rangka melakukan kegiatan evaluasi dalam lapangan pendidikan.[1]

Secara garis besar alat-alat atau teknik evaluasi pendidikan itu dapat dibedakan ke dalam dua golongan yaitu :

a.      Teknik tes.


b.     Teknik non tes.[2]

Dalam kegiatan mengukur sebagai suatu tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam lapangan pendidikan, pada umumnya tertuang dalam bentuk tes. Dalam kaitan ini tekhnis tes adalah merupakan suatu teknik yang dipergunakan dalam evaluasi pendidikan dengan “tes” sebagai material alat ukurnya untuk menilai (mengevaluasi) bidang tertentu dalam pendidikan.

Sementara itu di samping tekhnis tes dikenal pula adanya teknik lain yang dapat dipergunakan dalam rangka evaluasi pendidikan, yaitu yang dikenal dengan teknik non-tes. Yang tergolong teknik non-tes adalah :

a.      Skala bertingkat (rating scale)

b.     Kuesioner (questionair)

c.      Daftar cocok (cheek list)

d.     Wawancara (interview)

e.      Pengamatan (observation)

f.      Riwayat hidup.[3]

 2.  Teknik tes sebagai salah satu alat ukur dalam bidang evaluasi pendidikan.

a.  Pengertian tes

Sebelum sampai pada uraian yang lebih jauh, maka akan diterangkan dahulu arti dari beberapa istilah-istilah yang berhubungan dengan tes ini :

1). Tes

Tes merupakan prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.

2). Testing

Testing merupakan saat pada waktu tes itu dilaksanakan. Dapat juga dikatakan testing adalah saat pengambilan tes.

3). Testee

Testee adalah merupakan responden yang sedang mengerjakan tes.

4). Tester

Tester adalah orang yang melaksanakan pengambilan tes terhadap responden.[4] Dengan kata lain, tester adalah subjek evaluasi (tetapi adakalanya hanya orang yang ditunjuk oleh subjek evaluasi untuk melaksanakan tugasnya).

Sedangkan tugas tester antara lain adalah :

a)     Mempersiapkan ruangan dan perlengkapan yang diperlukan.

b)     Membagikan lembaran tes dan alat-alat lain untuk mengerjakan.

c)     Menerangkan cara mengerjakan tes.

d)     Mengawasi responden mengerjakan tes.

e)     Memberikan tanda-tanda waktu.

f)      Mengumpulkan pekerjaan responden.

g)     Mengisi berita acara atau laporan yang diperlukan.

Sedangkan tes itu sendiri berasal dari bahasa Latin “testum” yang berarti alat untuk mengukur tanah. Dalam bahasa Prancis kuno kata tes berarti ukuran yang dipergunakan untuk membedakan antara emas dengan perak serta logam lainnya. Sedangkan Sumadi Suryabrata, mengartikan tes adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dan atau perintah-perintah yang harus dikerjakan, yang mendasarkan harus bagaimana testee menjawab pertanyaan-pertanyaan atau melakukan perintah-perintah itu, penyelidik mengambil kesimpulan dengan cara membandingkan dengan standar atau testee lainnya (Sumadi Suryabrata, 1984 : 22).

Dari kedua pengertian di atas dapat diambil pengertian, tes adalah alat pengukur berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang ditujukan kepada testee untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu. Atas dasar respon tersebut ditentukan tinggi rendahnya skor dalam bentuk kuantitatif selanjutnya dibandingkan dengan standar yang telah ditentukan untuk ditarik kesimpulan yang bersifat kuantitatif.[5]

Dalam kaitannya dengankegiatan belajar mengajar, maka yang dimaksud dengan tes hasil belajar adalah tes yangdipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru kepada murid-muridnya, atau dosen kepada mahasiswanya dalam jangka waktu tertentu.[6] Atau tes hasil belajar adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalamrangka menilai hasil belajar anak didik, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas (baik yang berupa pertanyaan-pertanyaan atau perintah-perintah) yang harus dikerjakan anak didik, sehingga menghasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi belajar yang dicapai anak didik ; nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai oleh anak-anak didik lainnya, atau dibandingkan dengan nilai standart tertentu.[7]

b. Fungsi tes dalam mengukur prestasi belajar siswa

Ditinjau dari segi kegunaan untuk mengukur kemampuan atau prestasi belajar siswa, maka tes dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

1). Tes Diagnostik.

2). Tes Formatif.

3). Tes Sumatif.[8]

Keterangan dari masing-masing tes adalah sebagai berikut :

1). Tes Diaagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian perlakuan yang tepat. Tes diagnostik juga digunakan untuk mengetahui sebab kegagalan peserta didik dalam belajar, oleh karena itu dalam menyusun butir-butir soal seharusnya menggunakan item yang memiliki tingkat kesukaran rendah.

      Tes diagnostik dapat juga digunakan untuk kepentingan lain sesuai dengan terapi yang ingin dilakukan terhadap peserta didik, antara lain adalah :[9]

a)     Diagnostik untuk kepentingan seleksi.

b)     Diagnostik untuk kepentingan pemilihan jabatan dan lapangan studi.

c)     Diagnostik untuk kepentingan psikoterapi.

d)     Diagnostik untuk kepentingan bimbingan dan penyuluhan dalam belajar.

2). Tes Formatif adalah tes untuk mengetahui sejauhmana siswa telah terbentuk setelah mengikuti suatu program tertentu. Tes formatif adalah tes yang digunakan untuk mengetahui atau melihat sejauhmana kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program pelajaran[10]

3). Tes Sumatif yaitu tes yang dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau sebuah program yang lebih besar. Tes sumatif ini dapat disamakan dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada tiap akahir semester, catur wulan atau akhir semester. Tes sumatif ini diarahkan kepada tercapai tidaknya tujuan-tujuan intruksional umum.

Sementara iu fungsi tes secara umum ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu :

1). Sebagai alat pengukur terhadap anak didik.

2). Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran.[11]

3.  Ciri-ciri tes yang baik

Sebuah tes yang bisa dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi persyaratan tes, yaitu memiliki :

a. Validitas.

b. Reliabilitas.

c. Objectivitas.

d. Praktikabilitas.

e. Ekonomis.[12]

Keterangan dari masing-masing ciri akan diberikan dengan lebih terperinci sebagai berikut :

a. Validitas

Artinya tes tersebut dengan secara tepat dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, atau tes yang dengan secara benar dapat mengungkap apa yang seharusnya diungkap. Sebuah tes disebut valid apabila tes tersebut dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur. Istilah “valid” sangat sukar dicari gantinya. Ada istilah baru yang mulai diperkenalkan, yaitu sahih, sehingga validitas diganti menjadi kesahihan. Walaupun istilah “tepat” belum dapat mencakup semua arti yang tersirat dalam kata “valid” dan kata “tepat” kadang-kadang digunakan dalam konteks yang lain, akan tetapi tambahan kata “tepat” dalam menerangkan kata “valid” dapat memperjelas apa yang dimaksud.

 

b. Reliabilitas

Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris, berasal dari kata asal reliable yang artinya dapat dipercaya. Sedangkan tes dapat dikatakan baik apabila ia memiliki daya keterpercayaan, yaitu terkandung pengertian bahwa tes tersebut bersifat stabil, memiliki sifat keajegan, konsisten. Artinya sebuah tes dikatakan dapat dipercaya jika memberikan hasil yang tetap apabila di teskan berkali-kali. Sebuah tes dikatakan reliabel apabila hasil-hasil tes tersebut menunjukkan ketepatan.[13]

c.  Objectifitas

Bahwa tes dikatakan baik apabila terhindar atau bebas dari pengaruh-pengaruh yang bersifat subyektif. Artinya, tes tersebut berjalan menurut apa adanya. Hal ini terutama dilihat dari segi cara pemberian skor dan penentuan nilai hasil tesnya. Atau sebuah tes dikatakan memiliki objectifitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjectif yang mempengaruhi. Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya.

d. Praktikabilitas

Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah mengadministrasiannya. Sedangkan tes yang praktis adalah tes yang :

1). Mudah dilaksanakan.

2). Mudah pemeriksaannya.

3).  Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/ diawali oleh orang lain.

e.  Ekonomis

Yang dimaksud ekonomis disini ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos/ biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.

 

 


[1]Anas Sudijono, Op.cit, hlm. 34.

 [2]Ibid, hlm. 34-35.

 [3]Suharsimi Arikunto, Op.cit, hlm. 26.

[4]Ibid, hlm. 53.

[5]Chabib Thoha, Op.cit, hlm. 44.

Tes sebagai Alat Evaluasi Pendidikan

under arsip:  Perkulihan.com.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*