Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Larangan Sombong dalam Islam

Larangan Sombong dalam Islam
Under arsip:  Perkuliahan.com.
 Post title : Larangan Sombong dalam Islam
  Post  Category   : Larangan-larangan dalam Islam, Mudhorot dari perbuatan sombong
 next post :  Cara mendapatkan Beasiswa
  data post: perkuliahan.com edition of : 110

Larangan Sombong dalam Islam

 

Kembali jumpa   lagi dalam forum bebas Merdeka, tentunya dalam universitas bebas, yaitu  forum kuliah  Perkuliahan.com. kali ini kita akan belajar bersama tentang ” Sombong” apa itu sombong?, kenapa dilarang sombong? nah itu nanti bisa dijawab setelah kita bersama menyimak dan belajar artikel tentang sombong / kesombongan dibawah ini.

1.      Definisi sombong

Kesombongan sebagaimana didefinisikan oleh Rasulullah Saw, adalah “melecehkan orang lain dan menolak kebenaran”.[1] Apabila setiap orang saling melecehkan maka tidak akan ada lagi penghormatan kepada orang lain, tidak ada lagi kewibawaan orang lain, tidak ada lagi sopan santun terhadap orang lain.

2.      Hakikat sifat sombong

Sifat sombong dibagi menjadi 2 yaitu kesombongan batin dan kesombongan dzahir. Kesombongan batin adalah kesombongan yang terdapat dalam jiwa (hati) sedangkan kesombongan dzahir adalah kesombongan yang dilakukan anggota tubuh. Kesombongan batin lebih berbahaya dari pada kesombongan dzahir, karena tingkahlaku seseorang merupakan akibat dari apa yang terjadi di hatinya.

Kesombongan itu bermuara dari keinginan untuk mendapatkan kepuasan diri dan cenderung untuk memperlihatkan kepada orang lain (yang disombongkan). Oleh karena itu kesombongan memerlukan dua hal yaitu orang yang sombong (mutakabbir bihi) dan orang yang disombongkan (mutakabbir ‘alaih).

3.      Pembagian sifat sombong

Pihak yang disombongi (mutakabbir ‘alaih) adalah Allah, Rasulullah, dan manusia. Sesungguhnya Allah menciptakan manusia dengan cenderung melakukan kezaliman dan kebodohan, terkadang ia sombong terhadap manusia, dan terkadang sombong terhadap Allah. Sombong dari pihak yang disombongi (mutakabbir ‘alaih) dibagi menjadi tiga bagian:

1)      Sombong kepada Allah

Ini merupakan kesombongan yang paling buruk dan ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang bodoh dan membangkang, seperti kisah Raja Namrud atau orang yang mengaku dirinya Tuhan seperti Raja Fir’aun, juga seperti orang-orang bodoh lainnya. Fir’aun dengan kesombongannya berkata “aku adalah Tuhan kalian yang paling tinggi”. Dengan penolakan bahwa dirinya adalah hamba Allah (manusia biasa).

Allah berfirman:

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang Rasul (Muhammad) itu kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhan mu, maka berimanlah kamu, itulah yang lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (maka kekafiran itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguhnya apa di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah. Dan adalah Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana”. (an-Nisaa (4) : 170).[2]

2)      Sombong kepada para Rasul

Kesombongan seperti ini kadang memalingkan pikirannya yang jernih sehingga terpuruk kepada gelapnya kebodohan, hingga mereka menolak seruan para Rasul dengan mengira bahwa mereka lebih berhak menjadi Nabi dan Rasul dari pada mereka yang telah diangkat oleh Allah sebagai Rasul.

3)      Sombong terhadap manusia

Manusia ini selalu memuliakan dirinya sendiri dan menganggap orang lain hina, tidak mau mematuhi orang lain, ingin selalu berada di atas orang lain, meremehkan dan merendahkan orang lain.

Dalam sebuah Hadits disebutkan:

كُلُّ صَعَّارَمَلْعُوْنَ

“Setiap orang yang sombong itu terkutuk” (tafsir Qurthubi 14/70).

Ash-sha’aar, orang yang sombong, karena dia hanya memperlihatkan pipinya dan memalingkan wajah dari orang lain. (an-nihayah, ibnul atsir, bab sha’ara).

Makna ayat menurut al-qurthubi ialah “janganlah kamu palingkan mukamu dari orang-orang karena sombong terhadap mereka, merasa besar diri, dan meremehkan mereka”.[3]

Disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

وَلَا تُصَعِّرْ

“Dan janganlah kamu memalingkan ….”  (Qs. Luqman  18).

Ash-sha’r artinya berpaling. Makna asalnya adalah suatu penyakit yang menyerang tengkuk unta atau bagian kepalanya sehingga persendian lehernya terlepas dari kepalanya, kemudian diserupakanlah dengannya seorang lelaki yang bersikap sombong.[4]

Ibnu katsir mengatakan : “janganlah engkau bersikap sombong dengan meremehkan hamba-hamba Allah SWT dan memalingkan mukamu dari mereka bila mereka bicara denganmu”.[5]

Demikianlah menurut ibnu ‘abbas dan sejumlah ulama lainnya. Makna yang dimaksud ialah hadapkanlah wajahmu ke arah mereka dengan penampilan yang simpatik dan menawan. Apabila orang yang paling muda diantara mereka berbicara denganmu, dengarkanlah ucapannya sampai menghentikan pembicaraannya. Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Saw.[6]

4.      Sebab Sombong

Seorang tidak akan sombong kecuali yang suka memuliakan diri. Dan seseorang tidak akan memuliakan dirinya sendiri kecuali meyakini bahwa ia memiliki sifat-sifat yang sempurna. Semua itu berkaitan dengan urusan agama dan dunia. Yang berkaitan dengan agama, yaitu amal dan perbuatan. Sedangkan yang berkaitan dengan dunia, yaitu keturunan (nasab), kecantikan, kekuatan, harta, dan banyak teman. Tujuh faktor ini merupakan sebab timbulnya sifat sombong.[7]

 


[1] Said Hawa, Tazkiyatun Nafsi,  Intisari Ihya Ulumuddin, (Jakarta : Pena Pundi Aksara, 2005), hlm. 244

[2] Depag RIAl-Quran dan Terjemahnya, (Semarang : Asy-Syifa’, 2000), hlm. 83

[3] Jamal ‘Abdur Rahman, Tahapan Mendidik Anak, (Bandung, Irsyad Baitus Salam, 2005), hlm. 344

[4] Sa’id Hawa, op.cit., hlm. 247

[5] Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, (Surabaya : Bina Ilmu, 1988), hlm. 118

[6] Jamal Abdur Rahman, op.cit., hlm. 118

[7] Sa’id Hawa, op.cit., hlm. 252
* dari dari kutipan skripsi abah
Under arsip:  Perkuliahan.com.
 Post title : Larangan Sombong dalam Islam

Category: Dapur Umum

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*