Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Nilai Dalam Pendidikan Islam

Landasan Nilai Dalam Pendidikan Islam
Under arsip:  Perkuliahan.com.
Post title :Landasan Nilai Dalam Pendidikan Islam
Post  Category   : Landasan Nilai Dalam Pendidikan Islam
 data post: perkuliahan.com edition of : 105

Landasan Nilai Dalam Pendidikan Islam

baiklah dalam kuliah kita bersama perkuliahan.com kali ini akan membahas tentang pendidikan islam, fokusnya tentang Landasan nilai dalam pendidikan Islam, Sistem nilai atau sistem moral yang dijadikan kerangka acuan yang menjadi rujukan cara berperilaku lahiriah dan rohaniah manusia muslim ialah nilai dan moralitas yang diajarkan oleh agama Islam sebagai wahyu Allah, yang diturunkan kepada utusan-Nya yaitu Nabi Muhammad saw.

Nilai dan moralitas Islami adalah bersifat menyeluruh, bulat dan terpadu, tidak terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang satu sama lain berdiri sendiri. Suatu kebulatan nilai dan moralitas itu mengandung aspek normatif (kaidah, pedoman) dan operatif (menjadi landasan amal perbuatan).

Nilai-nilai dalam Islam mengandung dua kategori arti dilihat dari segi normatif, yaitu baik dan buruk, benar dan salah, hak dan batil, diridhai dan dikutuk oleh Allah SWT. Sedang bila dilihat dari segi operatif, nilai tersebut mengandung lima pengertian kategori yang menjadi prinsip standardisasi perilaku manusia, yaitu sebagai berikut: [1]

1.      Wajib atau fardu, yaitu bila dikerjakan orang akan mendapat pahala dan bila ditinggalkan orang akan mendapat siksa Allah.

2.      Sunat atau mustahab, yaitu bila dikerjakan orang akan mendapat pahala dan bila ditinggalkan orang tidak akan disiksa.

3.      Mubah atau jaiz, yaitu bila dikerjakan orang tidak akan disiksa dan tidak diberi pahala dan bila ditinggalkan tidak pula disiksa oleh Allah dan juga tidak diberi pahala.

4.      Makruh, yaitu bila dikerjakan orang tidak disiksa, hanya tidak disukai oleh Allah dan bila ditinggalkan, orang akan mendapatkan pahala.

5.      Haram, yaitu bila dikerjakan orang akan mendapat siksa dan bila ditinggalkan orang akan memperoleh pahala.

Kelima nilai kategorial yang operatif di atas berlaku dalam situasi dan kondisi biasa. Dan bila manusia dalam situasi kondisi darurat (terpaksa), pemberlakuan nilai-nilai tersebut bisa berubah. Sebagai contoh pada waktu orang berada dalam situasi dan kondisi kelaparan karena tidak ada makanan yang halal, maka orang diperbolehkan memakan makanan yang dalam keadaan biasa haram, seperti daging babi, anjing, bangkai, dan sebagainya.

Nilai-nilai yang tercakup di dalam sistem nilai Islami yang merupakan komponen atau subsistem adalah sebagai berikut.

a.       Sistem nilai kultural yang senada dan senapas dengan Islam.

b.      Sistem nilai sosial yang memiliki mekanisme gerak yang berorientasi kepada kehidupan sejahtera di dunia dan bahagia di akhirat.

c.       Sistem nilai yang bersifat psikologis dari masing-masing individu yang didorong oleh fungsi-fungsi psikologisnya untuk berperilaku secara terkontrol oleh nilai yang menjadi sumber rujukannya, yaitu Islam.

d.      Sistem nilai tingkah laku dari makhluk (manusia) yang mengandung interrelasi atau interkomunikasi dengan yang lainnya. Tingkah laku ini timbul karena adanya tuntutan dari kebutuhan mempertahankan hidup yang banyak diwamai oleh nilai-nilai yang motivatif dalam pribadinya.[2]

Perlu dijelaskan bahwa apa yang disebut “nilai” adalah suatu pola normatif yang menentukan tingkah laku yang diinginkan bagi suatu sistem yang ada kaitannya dengan lingkungan sekitar tanpa membedakan fungsi-fungsi bagian-bagiannya.[3] Nilai lebih mengutamakan berfungsinya pemeliharaan pola dari sistem sosial.

Sedangkan pengertian “norma” di sini ialah suatu pola yang menen- tukan tingkah laku yang diinginkan bagi suatu bagian (unit) atau kelompok unit yang beraspek khusus dan yang membedakan dari tugas-tugas kelompok lainnya.[4]

Nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki, disenangi dan tidak disenangi. Jadi sesuatu yang dianggap bernilai jika taraf penghayatan seseorang itu telah ampai pada taraf kebermaknanaannya nilai tersebut pada dirinya. Sehingga sesuatu bernilai bagi diri seseorang belum tentu bernilai bagi orang lain. Nilai itu sangat penting dalam kehidupan ini, serta terdapat suatu hubungan yang penting antara subyek dengan obyek dalam kehidupan ini.[5]

 


[1] H.M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta, Bumi Aksara, 2003), hlm. 126

[2] Ibid

[3] Ibid, hlm. 127.

[4] Ibid, hlm. 128

[5] Mansur Isna, Diskursus Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2001), hlm. 98.

………………….

Landasan Nilai Dalam Pendidikan Islam

Under arsip:  Perkuliahan.com.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*