Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Kondisi Sosial Historis Sebelum Turunya Al-Qur’an

Makalah Studi al Qur’an Teori dan Metodologi. UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA : 

Mizanto

 
By: Mizanto, PPs UIN SUKA.
Under arsip: Perkuliahan.com.

data post: Perkuliahan.com. edition of : 230 next post :  Pesantren dan Pendidikan Di Indonesia

MAKALAH

“KONTEKS SOSIAL HISTORIS BANGSA ARAB SEBELUM TURUNYA AL-QUR’AN”

Makalah diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah  “Studi Al-Qur’an Hadits Teori dan Metodologi”

 Dosen Pengampu : 1. Prof. DR.H. Nizar Ali, M.Ag 2. DR. H. Abd. Mustaqim, M.Ag.

1.      Latar Belakang

Untuk  mengetahui lebih dalam tentang al-Quran maka sangat perlu untuk    mengetahui tentang  konteks  kesejarahan seputar kitab agung  yang diturunkan kepada Nabi   Muhammad  SAW ini,  karena dalam hukum sebab akibat  setiap sesuatu takan terjadi kalau tidak ada sesuatu yang menyebabkanya terjadi. Dalam hal ini penulis akan memaparkan bagaimana al-Quran yang menjadi pedoman bagi umat  manusia ini harus diturunkan pada  Muhammad bin Abdullah yang hidup pada kira-kira abad ke 7 masehi. Saat dimana umat manusia pada beberapa kaum telah di turunkan kitab sekaligus utusan  untuk  pembawa risalah Tauhid kepada umat manusia, apakah turunya al-Quran  turun secara kebetulan atau memang diturunkan pada saat dan tempat yang tepat.

Dengan diturunkanya al-Quran di Jazirah Arab, pada abad ke-7 dan  dengan turun secara berangsur-angsur sebagaimana yang kita ketahui yaitu dengan kurun waktu hampir 23 Tahun, sehingga dari konteks sejarah, sosial dan geografis ini menjadi penting diketahui untuk bisa mengerti dan memahami dengan baik maksud dan tujuan al-Quran sebagaimana hukum sebab akibat. Sehingga perlu ditegaskan lagi bahwa mengetahui dan mempelajari tentang konteks social historis guna memahami al-Quran sangat diharuskan, karena dari pemahaman yang baik dan benar terhadap sejarah ini menjadikan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an bisa lebih obyektif.

2.      Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas agar pembahasan makalah ini bisa lebih fokus maka akan penulis beberapa rumusan masalah yang menjadi titik penekanan dalam pembahasan makalah ini yaitu:

  1. Bagaimana kondisi kehidupan  bangsa  Arab  sebelum turunya al-Qur’an?
  2. Kenapa al-Quran harus diturunkan di Jazirah Arab?

3.      Tujuan

Tujuan dari makalah ini untuk memberikan pemahaman kepada kita,  tentang bagaimana sejarah al-Quran diturunkan kepada umat manusia dengan berbagai dinamika berporos pada hikmah  yang sangat berharga untuk kita kaji dalam  memahami pesan al-Quran.

 II. PEMBAHASAN

A.    Kondisi  Tinjauan Sosial-Geografis   bangsa  Arab

Dalam mengembangkan kajian terhadap sejarah maka sangat diperlukan  pemahaman dari berbagai sudut pandang,dan bidang kajian dari berbagai lini, sehingga untuk memahami seperti apa kondisi sosial politik pada suatu daerah maka diperlukan pemahaman tentang kondisi geografis, karena naluri fisiologis dalam peradaban dan kebudayaan takan bisa terlepaskan. Sehingga untuk memahami kondisi bangsa arab, baik terlepas  dan tidaknya dengan kedatangan wahyu agung al-Quran maka sangat dibutuhkan pemahaman tentang kondisi geografis bangsa arab. Hal ini yang nantinya menjadi referensi untuk dijadikan tafsiran dan prediksi terhadap pesan-pesan al-Qur’an yang diturunkan di jazirah arab.

Kajian sejarah Islam  dalam buku yang ditulis oleh Prof. Dr. M.Abdul Karim, MA,MA  dijelaskan bahwa  Arab terletak pada jalur perdagangan yang sangat strategis yaitu terdapat empat jalur perdagangan internasional, sehingga arab mempunyai peranan yang sangat besar dalam  berpartisipasi langsung terhadap perdagangan di daerah arab (Karim, 2007:58). Beberapa sumber sejarah dan dari buku-buku yang menyebutkan tentang bangsa arab ini semuanya sepakat bahwa arab merupakan negara yang terkenal sebagai negara perdagangan dunia pada saat itu.

Menurut pakar sejarahwan dan para ahli dibidang sosio-geografis sepakat bahwa secara geografis, Jazirah Arab dibagi menjadi dua bagian. Pertama, jantung/ pusat  Arab, adalah wilayah yang berada di pedalaman. Kedua, sekitar Jazirah penduduknya adalah orang-orang kota. Kemudian pada Wilayah yang paling penting adalah Yaman di bagian selatan, Ghassan di sebelah utara, Ihsa` dan Bahrain di sebelah timur, dan Hijaz di sebelah Barat (Ahmad, 2003:24).  Sehingga semua sepakat bahwa  sebenarnya apa yang dimaksud dengan Arab di sini bukanlah daerah di mana penduduknya berbahasa Arab seperti Mesir, Sudan, Maroko, dan lain-lain tetapi hanya mencakup dua bagian daerah di atas. Sebelum Islam, Jazirah Arab dikelilingi oleh dua kekuatan besar dan berpengaruh yang selalu terlibat peperangan dan berebut pengaruh ke daerah sekitarnya, yaitu imperium Bizantium pewaris Rumawi sebagai representasi agama Nasrani dan kekaisaran Persia sebagai representasi agama Majusi. (Ahmad, 2003:25).

Dijelaskan bahwa letaknya yang strategis yaitu  dekat persimpangan ketiga benua, semenanjung Arab menjadi daerah yang paling  dikenal di berbagai kawasan . Dibatasi oleh Laut Merah ke sebelah barat, Teluk Persia ke sebelah Timur,  Lautan India ke sebelah selatan, Suriah dan Mesopotamia ke utara, dahulu merupakan tanah yang gersang tumbuh-tumbuhan di Pegunungan Sarawat yang melintasi garis pantai sebelah barat. Meski tidak banyak perairan, beberapa sumbernya terdapat di bawah tanah yang membuat ketenangan dan sejak dulu berfungsi sebagai urat nadi permukiman manusia dan kafilah-kafilah. (A’zami, 2003:15), dari gambaran ini menunjukan bagaimana keaadaan alam jazirah arab pada umumnya merupakan tanah yang kurang subur, dan dalam konteks sosio-geografis kita bisa mendeteksi pola kehidupan dan karakter masyarakat secara umum dengan melihat dari kondisi geografis pada suatu daerah.

Sehingga ketika kita melihat kondisi bangsa arab pada umumnya merupakan daerah yang kurang memanjakan penduduknya dalam memenuhi kebutuhan pokok terutama yang terkait dengan sumber makanan dari hasil alam,  walaupun disebutkan bahwa bangsa arab telah maju dalam perdagangan,  yang mengasumsikan bahwa bangsa arab mempunyai lahan pertanian namun hanya sedikit, sehingga fikus perekonomian lebih pada aspek perdagangan sehingga kegiatan ekspor-impor saat itu dibanding dengan bangsa dan kawasan lain . dikarenakan  tanah arab merupakan tanah gersang yang mana kebanyakan wilayahnya merupakan gurun tandus, yaitu gurun sahara yang tak bisa ditanami apapun, sehingga secara karakter dan pembawaan penduduk di jazirah arab mempunyai kecenderungan keras dan sedikit ketergantungan kepada alam.

Artikel di situs  monggominarak.blogspot.com yang  tak dicantumkan penulisnya dijelaskan beberapa hal terkait  pembagian bangsa arab, dengan kutipan panjang dari MAJ. Berg (1993: 12) menyatakan, Bangsa Arab pra-Islam yang  tinggal  di jazirah Arab yang sangat  luas  itu  dapat dibagi  ke  dalam dua kategori atau kelompok, yaitu  bangsa Arab yang menetap (Hadari) dan pengembara (Badui) di sekitar gurun pasir.

1.   Bangsa  Arab Hadari (menetap) adalah bagian  dari  strata yang sangat kuat. Suku terkemuka dan terkuat dari  kelom­pok  masyarakat  Hadari  ini adalah  suku Quraisy.  Suku Aristokrasi terkemuka ini sebagian besar tinggal di  kota Mekkah.  Dari berbagai suku yang hidup  pada  masa  Arab purbakala,  maka kaum Quraisy memperoleh  hak  istimewa sebagai  golongan  tertinggi  dalam masyarakat.   Mereka memiliki sumber prestise dan kekuasaan yang rapi.  Mereka merupakan  pelindung tempat suci, yakni  Ka’bah.  Mereka juga  kaum bangsawan beragama yang memperoleh  prestise pilitik dan kekayaan, di samping juga dalam dunia perdagangan internasional.

Dari segi status sosial, suku Quraisy menempati khirarchi tertinggi  dari  suku lainnya kecuali  kaum  Thaqiq  di Thaif,  karena mereka berada di bawah suku Quraisy.  Oleh MAJ.Berg  dikatakan, mereka ini menempatkan diri  sebagai suku terkemuka  dalam  hierarki  sosial  bangsa   Arab. Sementara  suku-suku non-Quraisy seperti,  Hudhayl,  Azd, Banu  Hanifah, Bakr bin Wa’il, Aws, dan Khazraj  memiliki status sosial yang rendah, mereka ini termasuk  suku-suku Arab non-Aristokratis (1993: 15)

2.   Suku  Nomadis (Badui) berada di bawah suku yang  menetap (Hadari). Mereka ini penduduk yang tinggal di  pedalaman. Sesuai  dengan kondisi alamnya yang gersang  dan  tandus, mereka  tinggal  tidak  menetap di  suatu  daerah  secara permanen tetapi  berpindah-pindah,  bahkan   perpindahan mereka  sangat  mobil. Guna  kelangsungan  hidup,  mereka berpindah-pindah untuk mencari makan terutama menggembala binatang  ternak, seperti kambing, biri-biri,  onta,  dan lainnya.

Bagaimanapun  masyarakat Badui hanya  memperoleh  sedikit kesempatan untuk meningkatkan moboilitas sosialnya;  suku ini  dibentuk  atas  dasar kekeluargaan di antara  para anggotanya.  Untuk  itu tiap suku dipimpin  oleh  seorang Syekh, bilamana  meninggal, maka salah seorang  di  antara mereka dipilih untuk menggantikannya.  (monggominarak.blogspot.com, 2012: 06  )

 

Melihat lebih jauh pada kondisi sosio-geografis bahwa semenanjung Arabia dihuni sejak lama dalam percatuan sejarah, walau ada pendapat yang mengatakan bahwa  sebenarnya penduduk teluk Persia telah membangun negara perkotaan, city-state, sebelum abad ketiga S.M. Para ilmuwan menganggap wilayah tersebut sebagai tempat kelahiran suku bangsa Semit, meski sebenarnya tak ada kata mufakat di antara mereka. Istilah Semit mencakup: Babilonia (pendapat Von Kremer, Guide, dan Hommel);2 semenanjung Arabia (Sprenger, Sayce, De Goeje, Brockelmann, dan lain-lain);3 Afrika (Noldeke dan lain-lain);4 Amuru (A.T. Clay);5 Armenia (John Peaters);6 bagian sebelah selatan semenanjung of Arabia (John Philby);7 dan Eropa (Ungnand).8 (A’zami, 2005:15),

Kemudian A’zami  menyebutkan untuk menguatkan argumenya dengan mengutip pendapat Phillip Hitti, dalam karyanya yang berjudul, Sejarah Bangsa Arab, disana disebutkan , “Kendati istilah semit muncul belakangan di kalangan masyarakat Eropa, hal tersebut biasanya dialamatkan pada orang-orang Yahudi karena yang terkonsentrasi di Amerika. Sebenarnya lebih tepat ditujukan pada penduduk bangsa Arab yang, lebih dari kelompok manusia lain, telah mendapat ciri bangsa Semit secara fisik, kehidupan, adat istiadat, cara berpikir dan bahasa orang-orang Arab masih tetap sama sepanjang pen­catatan sejarah. Dengan melihat kondisi seperti itu menandakan bahwa bangsa arab mempunyai satu kesejarahan , dan dari sini bisa diambil beberapa pengertian untuk bisa menilai dan menyimpulkan tentang kondisi sosial dan sosial geografis bangsa arab.

Dari sisi geografis bisa dipertimbangkan bahwa setelah dan sebelum al-Qur’an diturunkan tidak berpengaruh  pada kondisi geografis, namun hal ini berpengaruh terhadap penafsiran-penafsiran ayat yang secara tekstual menyampaikan tentang berbagai fenomena dan kejadian-kejadian geografis. Sehingga beberapa ayat al-Qur’an  harus ditafsirkan dengan pendekatan kontekstual historis ketika ayat-ayat al-Quran tersebut menyampaikan pesan-pesan tekstual yang perlu dipahami dengan cermat.

B.     Kondisi Sosio-Politik  Jazirah Arab sebelum Turunya al-Qur’an

Selain penting untuk memahami kondisi geografis jazirah Arab maka perlu juga mengetahui keadaan politik Arab pada saat sebelum al-Quran diturunkan. Karena kondisi sosial-geografis yang menyebabkan keadaan politik menjadi satu fenamonena tersendiri, sebagaimana hukum sosiologis, ketika bercampur dan bertemunya berbagai kultur dan budaya maka mengakibatkan  akulturasi dan asimilasi budaya atau juga sikap dan pola pokir, hal ini yang menimbulkan sikap politik bangsa di jazirah arab tersebut . hal ini bisa dinilai sejarah arab penduduknya mempunyai tradisi nomaden/ berpindah-pindah dari satu tempat ketempat yang lain terutama pada saat-saat tertentu. Hal ini sebagaimana  terlukis dalam al-Qur’an tentang kebiasaan salah satu suku bangsa arab yaitu suku Quraisy, dengan ayat yang artinya:

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy,

 (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah).

Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan”. (al-Qur’an, 106:1-4)

 

Sikap politik yang berkembang pada saat itu tak bisa terlepas dari kondisi masyarakat yang bercampur baur tersebut, disisi lain dengan adanya sikap yang tidak menetap tersebut maka banyak sekali kemungkinan konflik antar golongan yang disebabkan tindakan nomaden tersebut. Sehingga perselisihan yang membawa peperangan antar suku berlangsung dalam sekala besar-besaran di stepa-stepa jazirah tersebut.  Dari sudut pandang negara-negara adikuasa, Arabia merupakan kawasan terpencil dan ada yang mengatakan menjadi kawasan yang mengerikan, sekalipun memiliki posisi cukup penting sebagai kawasan penyangga dalam ajang perebutan kekuasaan politik besar antara Bizantiun dan Persia.

Nuansa politik pada saat itu Kekaisaran Bizantium dan Kekaisaran Romawi Timur dengan ibu kota Konstantinopel merupakan bekas Imperium Romawi dari masa klasik. Pada permulaan abad ke-7, wilayah imperium ini telah meliputi Asia kecil, Siria, Mesir dan sebagian daeah Itali serta sejumlah kecil wilayah di pesisir Afrika Utara juga berada di bawah kekuasaannya. (Pangabean, 2001:9).  Dalam cengkeraman dua kekuatan besar antar saingan berat Bizantium dalam perebutan kekuasaan di Timur Tengan adalah persia. Ketika itu, imperium ini berada di bawah kekuasaan dinasti Sasanid (sasaniyah). Ibu kota persia adalah al-Madana’in, terletak sekitar dua puluh mil di sebalah tenggara kota bagdad yang sekarang. Wilayah kekuasaannya terbentang dari Irak dan Mesopotamia hingga pedalaman timur Iran dewasa ini serta Afganistan. (Pangabean, 2001:9-10).

Menjadi ajang perebutan Kekuasaan kedua Imperium adidaya di atas memiliki pengaruh nyata terhadap situasi politik di Arabia ketika itu. kira-kira pada 512 M, kerajaan kristen Abisinia dengan dukungan penuh mungkin atas desakan Bizantium menyerbu serta menaklukkan dataran tinggi Yaman yang subur di barat daya Arbia. Memandang serbuan tersebut sebagai ancaman terhadap kekuasaannya, Dzu-Nuwas penguasa Arabia selatan pro persia bereaksi dengan membantai orang-orang kristen Najran yang menolak memeluk agama Yahudi. Peristiwa pembantaian ini , terjadi di sekitar 523, memiliki pengaruh traumatik terhadap keseluruhan jazirah Arab dan dirujuk dalam satu bagian al-Qur’an (85:4-8). Atas desakan dan dukungan  Bizantium , pada 525 Dzu Nuwas berhasil digulingkan dari tahtanya lewat suatu ekspedisi yang dilakukan orang-orang Abisinia. Tetapi, sekitar 575, dataran tinggi Yaman kembali jatuh ke tangan Persia. (Moenawar.Multiply.com, 2012: 06 )

Menjelang lahirnya Nabi Muhammad SAW, penguasaan Abisinia di Yaman  Abraham, atau lebih populer di rujuk dalam literatur Islam sebagai Abrahah melakukan invasi ke mekkah, tetapi gagal menaklukkan kota tersebut lantara epidemi cacar yang menimpa bala tentaranya, Ekpedisi ini- merujuk Alquran dala msurat 105 pada prinsipnmya memiliki tujuan yang seacar sepenuhnya bearda didlam kerangkapolitik internasional ketika itu. yaitu upaya Bizantyum untuk menyatukan suku-suku Arab dibawah pengaruhnya guna menantang Persia. sementara para sejarawan muslim menambahkan tujuan lain untuknya. Menurut mereka ekpedisi tersebut- terjadi kira-kira pada 552- dimaksudkan untuk menghancurkan Ka’bah dalam rangka menjadikan gereja megah di San’a, yang dibangun Abrahah, sebagai pusat ziarah pusat keagamaan di Arabia ( Pangabean,2001: 11)

Upaya kedua adikuasa imperium itu dalam rangka memperoleh kontrol politik atas Jazirah Arabia biasa dilakukan secara tidak lansung, seperti jalan dengan mendukung penguasa-penguasa kecildi perbatasan kawasan tersebut. Kontrol poltik Persia atas sejumlah kota kecil di pesisir timur dan selatan Arabia, misanya diperoleh dengan mendukung kelompok-kelompok pro-Persia didaerah-daerah tersebut. Suatu insiden yang terjadi di Mekkah sekitar 590  biasa nya dikaitkan dengan nama Utsman bin al-Huwairits  dapat  dilihat dengan upaya Bizantyum untuk memperoleh kontrol politik atas kota itu dengan membantu orang yang pro Bizantium ini menjadi pengusanya. Tetapi, orang-orang Mekkah tidak berminat untuk menjadi bawahan salah satu adikuasa dunia lantaran implikasi politiknya , dan orang dukungan Bizantyum itu dipaksa kabur dari kota mereka.

Dominasi politik  dan kekuasaan satu imperiaum dengan lainya saling kuat dan mendominasi satu sama lain. Dan permulaan abad ke 7, imperium Persia menuai  kemajuan berarti dalam upaya perluasa pengaruh politiknya pada 611M pasukanya  berhasil menaklukkan kota Raha, setelah itu kemudian bergerak ke selatan dan menundukkan satu demi satu wilayah Imperium Bizantium. Siria jatuh ke tangannya pada 613 M, menyusul Yerusalem pada 614 dan Mesir pada 617. Bahkan pada 626 pasukan Persia mengepung konstantinopel, meskipun berlangsunga Sangay singkat dan tidak membawa hasil. Namun, penjarahan Yerusalem yang dilakukan setelah suatu pemberontakan terhadap garnisun persia, pembantaian penduduk kota tersebut dan dibawa larinya benda yang dipandang sebagai salib suci, telah membangkitkan emosi keagamaan orang-orang Kristen di seluruh wilayah Imperium Bizantium. (Al-Azami, 2005:16) diceritakan bahwa kejadian ini tentunya sangat menguntungkan   penguasa tertinggi Bizantium ketika itu untuk menggalang kembali kekuatan meliternya. Setelah menghadapi orang-orang avar yang menyerang konstaltinopel dari utara, pada 622 M Heraclius memusatkan perhatia untuk menghadapi persia. suatu invasi yang berani ke Irak pada 627M.

Walaupun belatentara Bizantium segara ditarik mundur setelah penyerbuan itu, namun ketegangan-ketegangan yang muncul di dalam negeri persia, akibat peperangan berkepanjangan, mulai terasa. Kurang lebih setahun sebelumnya, Khusru II penguasa Persia waktu itu  dibunuh; dan penggantinya yang memiliki banyak musuh di dalam negeri lebih menginginkan perdamaian. peperangan akbar antara kedua Imperium adikuasa ini pun berakhir. Negosiasi penyerahan propinsi-propinsi Bizantium yang direbut Persia berjalan berlarut-larut hingga pertengahan 629 M. Akhirnya, pada penghujung tahun itu Heraclius kembali ke konstantinopel dengan kemenangan di tangan. (Al-Azami, 2005:18-21).

Perebutan kekuasaan yang berkepanjangan antara Bizantium dan Persia, seperti telah diutarakan, mendapat perhatian serius dari orang-orang ketika itu, sehingga latar belakang situasi sosial-politik sebelum turunya al-Qur’an ini menjadi satu fenomena yang sangat mencekam di kawasan arabia kala  itu, sehingga hal ini yang membutuhkan satu solusi yang tepat untuk menyelesaikan konflik yang berkepanjangan antar kekuatan imperium-imperium besar.

  1. C.    Keyakian dan Tradisi Masyarakat di Jazirah Arabia sebelum Turunya al-Qur’an

Selain kondisi sosial politik maka perlu juga mengamati tentang bagaimana keadaan keagamaan dan keyakinan  bangsa arab sebelum turunya Al-Qur’an/ menjelang masa kenabian Muhammad, Jazirah Arab tidak merasa akrab melihat semua bentuk reformasi keagamaan. Sebagaimana yang kita tahu bahwa bangsa arab sepeninggal Nabi Ibrahim AS, sejak berabad-abad penyem­bahan patung  berhala tetap tak terusik, bahkan penyembahan ka’bah  menjadi satu tradisi turun temurun yang diwarisi bangsa arab pra-turunya Al-Qur’an.

  Masa sebelum  turunya al-Qur’an  para pakar hampir sepakat mengatakan bahwa zaman  sebelum turunya al-Qur’an merupakan zaman jahiliyah,   Zaman ini terbagi atas dua periode, yaitu jahiliyah pertama dan jahilyah kedua. Jahilayah pertama meliputi masa yang sangat panjang, tetapi tidak banya yang bisa diketahui hal ihwalnya dan sudah lenyap sebagian besar masyrakat pendukungnya. Adapun jahiliyah kedua sejarahnya bisa diketahui agak jelas. Zaman jahiliyah kedua ini berlangsung kira-kira 150 tahun sebelum islam lahir (monggominarak.blogspot.com, 2012: ) .  dan  k ata jahiliyah bersal dari kata jahl  tetapi yang dimaksud disini bukan jahl lawan dari ‘ilm, melainkan lawan dari hilm. Dan pengertian hilm ini Al-Hilm yang dipaparkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam sebuah artikel di situs www.sites.google.com  mengatakan bahwa al-Hilm adalah seseorang mengendalikan dirinya ketika marah. Jika terkena marah dan dia dalam keadaan kuasa, maka dia berlaku hilm, tidak menghukum dan terburu-buru menghukum.

Sehingga pernyataan  tersebut bisa kita pahami bahwa secara fisikal bangsa Arab mempunyai kualitas otak yang tidak bodah dalam arti sempit, hal ini bisa dibuktikan dengan tradisi hafalan yang kuat dan tradisi membuat syair indah. Sehingga definisi jahiliyah ini dimaknai dari perspektif yang berbeda. Dan para pakar sepakat bahwa kebodohan yang dimaksud adalah kebodohan dalam arti khusus tentang keyakinan terhadap ketuhanan yang salah.

Kalau kita runtut bahwa keyakinan bangsa arab dulunya merupakan penganut ajaran Tauhid dari nabi Ibrahim, karena sebagian besar bangsa Arab mengikuti dakwah Isma’il a.s. yang menyeru kepada agama bapaknya, Ibrahim a.s yang intinya menyembah kepada Allah, mengesakan-Nya. Namun disebutkan bahwa lama kelamaan banyak diantara mereka yang melalaikan ajaran agama Isma’il meskipun begitu masih ada sisa-sisa tauhid dan beberapa syiar dari agama Ibrahim.  Dan dikisahkan dalam sirah nabawiyah bahwa  setelah sepeninggal Ismail tradisi keagamaan menjadi amburadul sampai suatu saat muncul Amr bin Luhay, pemimpin Bani Khuza’ah, Amr dikenal sebagai orang yang bijak, suka mengeluarkan sedekah, dan respek terhadap urusan-urusan agama. Karena sifat-sifatnya tersebut Amr menjadi dicintai semua orang dan mereka menganggapnya sebagai wali dan ulama besar yang disegani. Kemudian Amr mengadakan perjalanan ke Syam.  Di Syam beliau melihat penduduknya menyembah berhala dan menganggapnya sebagai suatu hal yang baik dan benar sebab menurutnya Syam adalah tempat para Nabi dan Rasul.

Kemudian dikisahkan bahwa Amr kembali ke Mekkah dengan membawa satu berhala bernama Hubal dan meletakkannya di dalam Ka’bah. Amr juga mengajak penduduk Mekkah untuk ikut menyembah berhala. Tindakan para penduduk Mekkah pun diikuti oleh orang-orang Hijaz karena mereka menganggap penduduk Mekkah adalah pengawas Ka’bah dan penduduk Tanah Suci. Tiga berhala paling besar diberi nama Manat (di tepi Laut Merah di Qudaid), Lata (di Tha’if) dan Uzza (di Wadi Nakhlah). Kemusyrikan semakin menyebar dan berhala-berhala kecil mulai bermunculan di setiap tempat di Hijaz. bahkan setelahnya  setiap kabilah dan di setiap rumah hampir pasti ada berhala dan patung.

Seperti yang kita tahu bahwa ketika Rasulullah SAW menaklukkan Mekkah di sekitar Ka’bah ada sekitar 360 berhala. Rasulullah SAW menghancurkan berhala-berhala itu hingga runtuh semua lalu memerintahkan agar berhala-berhala itu dikeluarkan dari masjid dan dibakar. Ini menandakan bahwa bangsa arab pada masa itu dalam posisi mencari sosok yang perlu diyakini untuk dijadikan Tuhan, namun ketika referensi untuk mencari kebenaran melalui jalan yang salah maka terjadilah penyembahan pada tuhan-tuhan yang salah. Ketika penyembahan terhadap para berhala-berhala tersebut diiringi dengan tradisi-tradisi yang perolehanya hampir serupa seperti penemuan tradisi untuk penyembahan terhadap berhala. dikisahkan bahwa beberap tradisi yang dijalankan bangsa arab kala itu banyak sekali diantaranya Upacara Penyembahan  Berhala. mereka juga mempunyai beberapa tradisi dan upacara penyembahan berhala yang mayoritas diciptakan Amr bin Luhay. Sementara orang-orang mengira bahwa yang diciptakan Amr adalah sesuatu yang baru dan baik serta tidak mengubah agama Ibrahim. Diantara upacara penyembahan berhala yang mereka lakukan adalah:

  1. Mengelilingi berhala dan mendatanginya, berkomat-kamit di hadapannya, meminta pertolongan ketika mengalami kesusahan, berdoa untuk memnuhi kebutuhan dengan penuh keyakinan bahwa berhala-berhala itu bisa memberikan syafaat di sisi Allah dan mewujudkan apa yang mereka kehendaki.
  2. Menunaikan ibadah haji dan thawaf di sekeliling berhala, merunduk dan sujud di hadapannya
  3. Bertaqarrub (mendekatkan diri) dengan menyajikan berbagai macam korban, menyembelih hewan piaraan, dan hewan korban demi berhala dan menyebut namanya
  4. Jenis taqarrub yang lain, mengkhususkan sebagian dari makanan dan minuman yang mereka pilih untuk disajikan kepada berhala dan juga dikhususkan begian tertentu dari hasil panen dan binatang piaraan mereka. Ada pula yang mengkhususkan sebagian lain untuk Allah
  5. Bernadzar memberikan sebagian hasil tanaman dan ternak untuk berhala-berhala
  6. Ada al-bahirah, as-sa’ibah, al-washilah, al-hami yang diperlakukan sedemikian rupa sebagai berhala. Pengertian pengeritian ini dijelaskan oleh Ibnu Ishaq:
    “Al-Bahirah :

anak as-saibah adalah anak onta betina yang telah beranak sepuluh yang semuanya betina dan sama sekali tidak mempunyai anak jantan. Onta ini tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diambil bulunya, dan susunya tidak boleh diminum kecuali oleh tamu. Jika kemudian melahirkan anak betina lagi maka telinganya harus dibelah. Setelah itu ia harus dilepaskan secara bebas bersama induknya yang juga harus mendapat perlakuan yang sama.
Al-Washilah:

adalah domba betina yang mempunyai 5 anak kembar yang semuanya betina secara berturut-turut. Domba ini bisa sebagai sarana taqarrub. Oleh karena itu mereka berkata,’Aku mendekatkan diri dengan domba ini.’ Tetapi jika setelah itu domba ini melahirkan anak jantan dan tidak ada yang mati maka domba ini boleh disembelih dan dagingnya dimakan.

 Al-Hami :

adalah onta jantan yang sudah menghamili 10 anak betina secara berturut-turut tanpa ada jantannya. Onta seperti ini tidak boleh ditunggangi, tidak boleh diambil bulunya, harus dibiarkan lepas dan tidak boleh dimanfaatkan untuk kepentingan apapun.” Karena itu Allah menurunkan ayat
Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahirah, sa’ibah, washilah dan hami. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan kebanyakan mereka tidak mengerti.” (Al Maidah: 103)
dan juga ayat “Dan mereka mengatakan, ‘Apa yang ada di dalam perut binatang ternak ini adalah khusus untuk pria kami dan diharamkan atas wanita kami,’ dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka pria dan wanita sama-sama boleh memakannya.” (Al-An’am: 139)  (cybermujahidah.wordpress.com, 2012: )

 

Dari kemunculan tradisi-tradisi yang bersumber dari penafsiran sebagaimana Amr bin Luhay menemukan inisiatif untuk menyembah berhala tersebut akhirnya menimbulkan tradisi dan kebudayaan lain. Karena ajaran tradisi penyembahan serta adat istiadat tersebut tanpa dilandasi aturan yang kuat sebagaimana intruksi wahyu dalam menyampaikan perintah dan membatasi-membatasi hal hal yang menyimpang dari peribadatan.

Sehingga pasca kenabian Muhammad SAW, banyak hadits-hadits yang secara tegas melarang melakukan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan ibadah dilakukan dengan mengada-ada, atau membuat model-model dalam beribadah, hal ini yang kita kenal dengan istilah Bid’ah, hal ini tiada lain sebagai antisipasi untuk mencegah terulangya sejarah. walaupun peluang penyimpangan terhadap ajaran agama ketika telah didasari dengan kitab suci yang dijamin keterpeliharaanya dari sepanjang masa, namun fakta tidak memungkiri ternyata sampai saat ini muncul berbagai aliran yang menyimpang dari al-Qur’an walaupun para aliran tersebut masih memakai payung Islam.

Kembali pada permasalahan bahwa ketika melihat kondisi masyarakat yang tak punya pegangan dan keyakinan yang kuat, maka datangya al-Quran sangatlah tepat, seperti ungkapan “gayung bersambut”.  Sehingga kedatangan Al-Qur’an secara logis siap diterima, walaupun kenyataan tak semudah yang dibayangkan.

  1. D.    Agama dan Keyakinan Keagamaan sebelum turunya al-Qur’an

Sebelum Islam datang yang ditandai dengan turunya wahyu al-Qur’an masyarakat arab, dengan ditandainya adanya  tradisi-tradisi penyembahan terhadap berhala juga ternyata kala itu juga telah berkembang agama-agama.  Yang dianut oleh penduduk arab kala itu. Hal ini sangat mungkin karena ajaran-ajaran agama sebelum Islam yang dibawa Rasulullah SAW, di kawasan jazirah arab telah ada agama-agama samawi sebagaimana yang juga dibicarakan dalam al-Qur’an.

Menurut sirah nabawiyah dijelaskan bahwa sebelum datangya Islam dengan ditandainya turunya wahyu al-Quran telah ada beberapa agama-agama yang dianut, yaitu Agama Yahudi, Masehi, Majusi, dan Shabi’ah. Dari ke empat agama agama tersebut sangat mungkin ada agama-agama lain yang berkembang di jazirah arab kala itu. Dari 4 (empat) agama  tersebut akan dijelaskan gambaran singkatnya sebagai berikut:

1. Yahudi

Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia Yahudi mempunyai 3 arti yaitu :

1 bangsa (yg berasal dr) Israel (Yakub); Ibrani;

2 agama orang Israel (yg berasal dr ajaran Nabi Musa a.s (KBBI, Kemdikbud,2012;11) sedangkan  Menurut Wikipedia : Yahudi adalah istilah yang merujuk kepada sebuah agama atau suku bangsa. Sebagai agama, istilah ini merujuk kepada umat yang beragama Yahudi. Berdasarkan etnisitas, kata ini merujuk kepada suku bangsa yang berasal dari keturunan Eber (Kejadian 10:21) (yang disebut “Ibrani”) atau Yakub (yang juga bernama “Israel”) anak Ishak anak Abraham (Ibrahim) dan Sara, atau keturunan Suku Yehuda, yang berasal dari Yehuda anak Yakub. Etnis Yahudi juga termasuk Yahudi yang tidak beragama Yahudi tetapi beridentitas Yahudi dari segi tradisi. (wikipedia.com)

Agama Yahudi adalah kombinasi antara agama dan suku bangsa. Kepindahan yahudi pada masa penaklukan bangsa Babilon dan Assyur di palestina yang mengakibatkan terhadap orang-orang Yahudi, penghancuran negeri mereka dan pemusnahan mereka di tangan Bukhtanashar pada tahun 587 SM. Banyak diantara mereka yang ditahan dan dibawa ke Babilonia. Sebagian diantara mereka ada yang meninggalkan Palestina dan pindah ke Hijaz. Mereka memempati Hijaz sebelah Utara. Dimulai dari pencaplokan bangsa Romawi terhadap Palestina pada tahun 70 M yang disertai dengan tekanan terhadap orang-orang Yahudi dan penghancuran Haikal-haikal mereka sehingga kabilah-kabilah mereka pindah ke Hijaz lalu
menetap di Yatsrib, Khaibar, dan Taima. Mereka mendirikan perkampungan Yahudi dan benteng pertahanan. Maka agama Yahudi tersebut menyebar di kalangan masyarakat Arab yang kemudian mereka juga mempunyai momen-momen politis
yang mengawali munculnya Islam. Saat Islam datang kabilah-kabilah Yahudi yang terkenal adalah Khaibar, Nadhir, Musthaliq, Quraizhah, dan Qainuqa.

Agama Yahudi sampai ke Yaman karena dibawa As’ad Abu Karib. Awalnya As’ad berperang di yatsrib dan memeluk agama Yahudi disana. Pulang ke Yaman As’ad membawa 2 pemuka Yahudi dari Bani Quraizhah sehingga agama Yahudi menyebar disana. Setelah As’ad meninggal dunia dan digantikan anaknya. Yusuf Dzu Nuwas, dia memerangi orang-orang Masehi dari penduduk Najran dan memaksa mereka masuk agama Yahudi. Karena mereka menolaknya maka Yunus membuat parit dan membakar mereka di dalam parit tersebut. Kisah tersebut termuat sebagian dalam Al Qur’an surat Al-Buruj.

2. Nasrani

“Nasara” “نصارى” (Bentuk Jamak dari Nasrani نصراني). Istilah dalam Qur’an yang merujuk kepada orang kristen. Contohnya, dalam surat Al-Baqarah (ayat 113) (wikipedia.com).  Agama Nasrani masuk ke jazirah Arab lewat pendudukan orang-orang Habasyah dan Romawi. Pendudukan orang-orang Habasyah yang pertama kali di Yaman tahun 340 M. Orang-orang Habasyah menduduki Yaman untuk mengembalikan kondisi karena tindakan Dzu Nuwas dan Abrahah memegang kekuasaan disana. Agama Masehi berkembang pesat dan sangat maju. Karena semangatnya untuk menyebarkan agama Masehi maka Abrahah mendirikan gereja di Yaman yang dinamakan Ka’bah Yaman. Abrahah ingin agar semua bangsa Arab berhaji ke gereja ini dan hendak menghancurkan Baitullah. Tapi seperti yang kita tahu, usahanya itu digagalkan Allah. Bangsa Arab yang memeluk agama Masehi dari suku-suku Ghassan, kabilah-kabilah Taglib, Thayyi’ dan yang berdekatan dengan Romawi. Bahkan ada sebagian raja Hirah yang memeluknya.

3. Majusi

Pengikut agama pemuja api di Persia  (KBBI),  Agama Majusi lebih banyak berkembang di kalangan orang-orang Arab yang berdekatan dengan orang-orang Persi. Agama ini juga pernah ebrkembang di kalangan orang Arab Iraq dan Bahrain serta wilayah-wilayah di pesisir Teluk Arab. Ada juga penduduk Yaman yang memeluk Majusi ketika bangsa Arab menduduki Yaman.

4. Shabi’ah

Agama Shabi’ah dianggap sebagai agama kaum Ibrahim Chaldeans. Agama ini berkembang di Iraq dan lain-lainnya.Banyak juga penduduk Syam yang memeluknya serta penduduk Yaman pada zaman dahulu. Setelah kedatangan agama-agama baru seperti Yahudi dan Nasrani, agama ini mulai surut. Tapi masih ada sisa-sisa para pemeluknya yang bercampur dengan para pemeluk Majusi atau yang berdampingan dengan mereka di masyarakat Arab serta Iraq di pinggiran Teluk Arab.

Agama-agama tersebut merupakan agama yang dianut bangsa arab sebelum kedatangan Islam. Agama-agama yang ada tersebut sudah disusupi penyimpangan dan hal-hal yang merusak dari ajaran agama yang pada saat awal mula kedatanganya, terutama agama-agama samawi. Orang-orang didaerah ka’bah mengaku beragama Ibrahim padahal sebenarnya keadaan mereka jauh dari perintah dan larangan syariat Ibrahim. Sedangkan orang Yahudi berubah menjadi orang yang sombong dan angkuh. Disebutkan juga bahwa pemimpin-pemimpin mereka menjadi sembahan selain Allah.

Dari agama-agama yang telah dicampuradukan dan telah rusak tersebut mereka membuat hukum di tengah manusia dan menghukum mereka menurut hawa nafsu mereka. Ambisi mereka hanya tertuju pada kekayaan dan kedudukan meskipun berakibat pada kekufuran. Kemudian Agama Nasrani, atau sekarang lebih dikenal dengan agama kristen menjadi agama paganisme yang sulit dipahami dan menimbulkan pencampuran antara Allah dan manusia. Semua bangsa Arab keadaan para pemeluknya sama dengan keadaan orang-orang musyrik. Walaupun Selain agama-agama tersebut juga ada agama yang disebut dengan agama Agama  Hanif: yang  mempertahankan  syari’at  Ibrahim, pemeluk  agama ini  termasuk Abd. Muthalib  kakek  Nabi Muhammad SAW. Dengan keadaan yang sangat memprihatinkan ini maka bangsa arab kala itu menjadi sangat tak terkendali.

III. PENUTUP

 

Puncak kemusyrikan dan kesalahan aqidah terjadi di jazirah arab, sedangkan sebelumnya wilayah tersebut  telah datang para  nabi dan rasul.  Jika dirunut dari sejarahnya bangsa  Arab adalah ras Semit yang tinggal di  sekitar jazirah  Arabia.  Bangsa Arab  purbakala  menurut para  peneliti  adalah  masyarakat terpencil sehingga sulit dilacak riwayatnya.  Daerah tanah Arab atau Jazirah Arab, atau semenanjung Arab itu, terletak disebelah barat daya Benua Asia. Sebelah utara berbatasan dengan negeri Palestina, perkampungan Badui Syam, dan negeri Irak. Daerahnya yang tandus sehingga sulit untuk lahan pertanian. Namun disisi lain sangat cocok untuk area perdagangan karena dilalui oleh jalur perdagangan internasional, sehingga kebanyakan masyarakat arab memenuhi kebutuhan ekonominya dari perdagangan.

Dari letak geografis jazirah arab tersebut, sangat memungkinkan untuk terjadinya akulturasi budaya dan lain-lain. Dari segi politik jazirah arab dihimpit dua imperium besar kala itu yaitu Bizantiun dan Persia. Sedang dari segi keyakinan beragama  bangsa Arab yang lahir sebelum Islam itu ada, yaitu diantaranya, Agama Nasrani, Agama Yahudi, Majusi, Shabi’ah dan beberapa mengikuti Agama hanif. Namun agama-agama yang mereka anut merupakan agama yang kebanyakan telah berubah dan rusak.

Dengan kondisi yang demikian parah maka sudah cukup untuk menjawab kenapa al-Quran harus diturunkan di Jazirah Arab. Karena selain karena beberapa berpendapat bahwa al-Qur’an sangatlah tepat diturunkan di arab, karena bahasa Arab mempunyai ketinggian sastra, bangsa arab menjadi bangsa yang sangat jahiliyah, dengan tradisi dan keyakinan yang sangat menyimpang dari sisi kemanusiaan.

IV. DAFTAR PUSTAKA

 Al-A’zami. M.M, The History of The Qur’anic Text From Revelation To Compilation (Sejarah Teks Al-Qur’an dari Wahyu Sampai Kompilasi), Jakarta : Gema Insani. 2005,

Hasan, Ibrahim Hasan, Sejarah dan Kebudayaan islam. ) Jakarta : Gema Insani 2002,

Pangabean, Samsul Rizal, Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an, Yogyakarta : FKBA, 2001.

Yatim Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1993

Al-‘Usayrī, Ahmad. Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003.

M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta : Bagaskara, cet. IV, 2012

Kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI. Depdikbud, Jakarta: ….

Sirah Nabawiyah Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri http://cybermujahidah.wordpress….

http://monggominarak.blogspot.com/2011/12/arab-pra-islam.html..

http://id.wikipedia.org…

Perkuliahan.com

TINJAUAN SEJARAH SEBELUM TURUNYA AL QUR’AN, keadaan bangsa arab sebelum islam, menjelang turunya al-qur’an

 

Category: Tugas Kuliah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*