Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Keteladanan dari Jokowi ( Biografi Jokowi )

under arsip:  Perkuliahan.com
Judul postingan : Keteladanan dari Jokowi ( Biografi Jokowi )  Bidang  postingan  : Keteladanan dan inspirasi dari sosok joko widodo alias jokowi next post :  manajemen dalam konteks pendidikan islam

BIOGRAFI JOKOWI
Biografi Ini disusun Guna Melengkapi Tugas Individu (Papper soft)
Mata Kuliah: Pengembangan dan Peningkatan Kualitas SDM MI/SD
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Sutrisno, M Ag
OLEH: WIJAYANTI WULAN SEPTI
PENDIDIKAN DASAR ISLAM (PGMI KONSENTRASI PAI) PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2013
JOKO WIDODO

A. Latar Belakang Masalah
Orang sukses adalah orang yang telah berhasil melewati tahapan tertentu yang merupakan buah yang dapat dipetik yang merupakan hasil dari suatu proses yang telah dilalui seseorang dengan disertai keuletan, ketekunan, dan  pengorbanan waktu, tenaga, maupun biaya. Seseorang dalam menempuh suatu keinginan atau cita-cita tertentu, maka untuk mewujudkannya memerlukan waktu dan proses. Keberhasilan atau kegagalan dalam menjalankan proses sangat ditentukan oleh kegigihan, semangat, motivasi, biaya yang diperlukan. Waktu yang diperlukan untuk menempuh suatu tahapan keberhasilan tergantung dari besar kecilnya keinginan dan cita-cita yang ingin dicapai. Sukses yang diraih dalam suatu tahapan tertentu bukanlah tujuan akhir, melainkan merupakan awal dari suatu keberhasilan. Keberhasilan awal merupakan dasar dan sebagai modal awal yang dapat dijadikan untuk mengapai tahapan sukses yang lebih besar.
Banyak tokoh-tokoh sukses dan apakah sebenarnya yang ada dibalik kesuksesan itu? Sebut saja Presiden RI, BJ. Habibi, Soekarno, Gusdur, alm.Uje, dan masih banyak lagi. Semua bisa dijadikan figur untuk memotivasi diri. Penulis tertarik pada sosok sederhana dan sangat luar biasa. Hal inilah yang mengantarkan saya merujuk pada sumber-sumber yang berkaitan dengan biografi Pak Jokowi. Belum lama saya mendengar nama Pak Jokowi. Tak lepas peran dari media, karena dari medialah ia menjadi lebih terkenal dan dikenal oleh dunia.
B. Biografi
Joko Widodo biasa disebut Jokowi, kelahiran Solo 21 Juni 1961 sebagai anak sulung pertama. Ia memiliki tiga saudara perempuan, yaitu Iid Sriantini, Idayati, dan Titi Ritawati. Ibunya bernama Sujiatmi kini tinggal di Jalan Plaret Raya RT 01 RW 17 Solo Jawa Tengah. Pada tahun 2000, Notomiharjo, bapak Jokowi meninggal. Semasa kecil hidupnya berpindah-pindah tempat tinggal. Jokowi hidup dalam suasana serba susah. Pernah di bantaran Kali Anyar, mengontrak rumah kecil di Kampung Cinde Rejo atau Kampung Randu Alas. Kali anyar terletak di utara kota Solo, di pinggiran Jalan Ahmad Yani. Dahulu, kali ini menjadi tempat bermain favorit Jokowi bersama teman-temannya. Karena tidak mampu membeli rumah, Notomiharjo terpaksa memboyong istri dan anak-anaknya untuk menetap sebagai penghuni liar di pasar kayu dan bambu Gilingan, yang berada di selatan bantaran Kali Anyar. Di sinilah Notomiharjo memulai usaha berjualan kayu gergajian untuk bahan baku perabot rumah tangga.
Kemiskinan adalah temannya yang paling akrab. Ia amat tahu bagaimana rasanya hidup miskin. Pengetahuan itu tentu tidak ia peroleh dari baca buku atau nonton TV, tetapi ia merasakan dan menjalaninya sejak kecil. Dengan kesulitan hidup yang dialami, ia berdagang, mengojek payung, dan jadi kuli panggul untuk mencari sendiri keperluan sekolah dan uang jajan. Saat anak-anak lain ke sekolah dengan sepeda, ia memilih untuk tetap berjalan kaki.
Bapaknya adalah seorang penjual kayu di pinggir jalan sehingga ia juga akrab dengan dunia perkayuan. Sebagai anak miskin, tentu ia juga harus bekerja membantu orang tuanya. Menggotong, memilih, mengumpulkan kayu, atau apa saja yang berhubungan dengan kayu yang dijual bapaknya. Mewarisi keahlian bertukang kayu dari ayahnya, ia mulai pekerjaan menggergaji di umur 12 tahun. Ia belajar bagaimana memperlakukan kayu gelondongan hingga balok-balok untuk dijadikan mebel. Tangannya sempat terluka terkena gergaji. Tetapi ia senang saja menjalaninya. Lama kelamaan ia pun terampil memainkan gergaji, membentuk kayu menjadi apa saja. Dalam sekejap, ia bukan hanya tahu atau bisa, melainkan mumpuni di bidang perkayuan.
Pendidikan Dasar Jokowi di SD Negeri 111 Tirtoyoso Solo, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Solo, SMA Negeri 6 Solo. Meskipun sempat gagal seleksi SMA favorit, dan hal itu menjadikan Jokowi tidak semangat belajar ditahun pertama SMA, namun mulai tahun kedua ia menunjukkan keseriusannya. Bahkan ia lulus sebagai juara umum. Lulus SMA ia masuk fakultas kehutanan jurusan Teknologi Kayu di UGM Yogyakarta. Adapun alasan Jokowi memilih jurusan tersebut karena ingin mengembangkan bisnis perkayuan keluarganya. Kesempatan ini dimanfaatkannya untuk belajar struktur kayu, pemanfaatan, dan teknologinya. Ia lulus tercepat, menyelesaikan studi ketika itu empat setengah tahun. Selepas kuliah, ia bekerja di BUMN. Kemudian Jokowi menikah dengan Iriana. Dari hasil pernikahannya dikaruniai tiga anak, yakni Gibran Rakabuming Raka, Kahiyang Ayu, dan Kaesang Pangarep. Jokowi memutuskan keluar dari BUMN dan memulai usaha di perusahaan mebel PT Roda Jati milik pamannya. Ia diberi tugas dibagian produksi, finishing, dan marketing. Ketika menjabat jadi manajer, ia tak pernah marah kepada bawahannya. Ia menegur bawahannya yang bersalah dengan cara mengajaknya makan gratis. Mereka tidak ditegur tetapi hanya didiamkan. Begitulah Jokowi memperlakukan setiap karyawannya yang bersalah. Dan terbukti cara tersebut dapat membuat jera.
Sukses bekerja di perusahaan pamannya, ia mecoba untuk bisnis sendiri. Ia mulai usaha dengan menjaminkan rumah kecil satu-satunya. Setiap usaha mesti terdapat kendala. Begitupula bisnis Jokowi. Jokowi terkena tipu oleh pembeli sehingga modalnya habis. Berbekal nasehat ibunda Jokowi dan rasa percaya dirinya, ia bertekad kuat mengawali lagi bisnis dari bawah. Berawal dari pinjaman modal dan bahan baku ia tekuni. Perlahan kerja keras Jokowi membuahkan hasil. Bisnisnya yang ia mulai di kios bambu berkembang pesat. Perusahaannya yang ia namai Rakabu kini menjadi perusahaan yang mengekspor mebel hampir disemua negara Eropa. Seiring dengan berkembangnya usaha tersebut membawanya bertemu Micl Romaknan orang Perancis, yang akhirnya memberinya panggilan yang populer hingga kini, Jokowi. Melihat pengaturan kota Eropa yang baik menjadikannya terinspirasi untuk diterapkan di Solo dan menginspirasinya untuk memasuki dunia politik. Ia ingin menerapkan kepemimpinan manusiawi dan mewujudkan kota yang bersahabat untuk penghuninya. Tahun 2005-2010 ia terpilih menjadi orang nomor satu di Solo.. Dengan berbagai pengalaman di masa muda, ia mengembangkan Solo yang buruk penataannya dan berbagai penolakan masyarakat untuk ditertibkan. Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan dan menjadi kajian di universitas luar negeri.
Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui slogan Kota Solo yaitu “Solo: The Spirit of Java”. Mottonya adalah “Solo masa depan adalah masa lalu Solo.” Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat. Taman Balekambang, yang terlantar semenjak ditinggalkan oleh pengelolanya, dijadikannya taman. Jokowi juga tak segan menampik investor yang tidak setuju dengan prinsip kepemimpinannya. Sebagai tindak lanjut branding ia mengajukan Surakarta untuk menjadi anggota Organisasi Kota-kota Warisan Dunia dan diterima pada tahun 2006. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi organisasi tersebut pada bulan Oktober 2008 ini. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran.
Pada tanggal 11 Juni 2004, Paku Buwono XII wafat tanpa sempat menunjuk permaisuri maupun putera mahkota, sehingga terjadi pertentangan antara kedua putranya, Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan (SDISKS) Paku Buwono XIII dan Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan. Selama tujuh tahun ada dua raja yang ditunjuk oleh kedua pihak di dalam satu Keraton. Konflik ini akhirnya mendorong campur tangan pemerintah Republik Indonesia dengan menawarkan dualisme kepemimpinan, dengan Paku Buwono XIII sebagai Raja dan KGPH Panembahan Agung Tedjowulan sebagai wakil atau Mahapatih. Penandatanganan kesepahaman ini didukung oleh empat perwakilan menteri, yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Pekerjaan Umum serta Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Namun konflik belum selesai karena beberapa keluarga keraton masih menolak penyatuan ini. Puncaknya adalah penolakan atas Raja dan Mahapatih untuk memasuki Keraton pada tanggal 25 Mei 2012. Keduanya dicegat di pintu utama Keraton di Korikamandoengan. Jokowi akhirnya berperan menyatukan kembali perpecahan ini setelah delapan bulan menemui satu per satu pihak keraton yang terlibat dalam pertentangan. Pada tanggal 4 Juni 2012 akhirnya Ketua DPR Marzuki Alie menyatakan berakhirnya konflik Keraton Surakarta yang didukung oleh pernyataan kesediaan melepas gelar oleh Panembahan Agung Tedjowulan, serta kesiapan kedua keluarga untuk melakukan rekonsiliasi.
Atas berbagai prestasinya, oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari “10 Tokoh 2008″. Kebetulan di majalah yang sama pula, Basuki Tjahaja Purnama, atau akrab dengan panggilan Ahok pernah terpilih pula dalam “10 Tokoh 2006″ atas jasanya memperbaiki layanan kesehatan dan pendidikan di Belitung Timur. Ahok kemudian akan menjadi pendampingnya di Pilgub DKI tahun 2012. Pada tanggal 12 Agustus 2011, ia juga mendapat penghargaan Bintang Jasa Utama untuk prestasinya sebagai kepala daerah mengabdikan diri kepada rakyat. Bintang Jasa Utama ini adalah penghargaan tertinggi yang diberikan kepada warga negara sipil.
Keberhasilan Jokowi memimpin Solo menarik perhatian berbagai kalangan. Kesuksesan pelajar Solo merakit mobil Esemka, menertibkan PKL, renovasi tujuh pasar di Solo, menjadikan Solo sebagai pusat musik dunia, mendamaikan Raja Surakarta, dan masih banyak lagi jasa-jasa Jokowi. Atas kesuksesan itulah warga Jakarta manaruh harap dan simpati terhadap sosok Jokowi. Ia disarankan agar mencalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Jokowi diminta secara pribadi oleh Jusuf Kalla untuk mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub DKI tahun 2012. Pada akhirnya pada 29 September 2012, KPUD DKI Jakarta menetapkan pasangan Jokowi – Ahok sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI yang baru untuk masa bakti 2012-2017 menggantikan Fauzi Bowo – Prijanto.
C. Penutup
Banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi ketika masa kepemimpinannya. Solo memiliki wali kota dan wakil wali kota yang berlatar belakang wong cilik. Hal inilah yang dapat membawa Kota Solo meningkat baik segi ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya dan lain sebagainya. Jokowi sosok pemimpin yang cerdas, tegas, berintegritas, meskipun kaya namun tetap jujur dan sederhana, peduli pada rakyat. Ia berhasil memindahkan PKL di Banjarsari dengan tanpa perlawanan. Cara Jokowi yang memanusiakan manusia patut dimiliki setiap pemimpin negeri ini. Bahkan ia tidak mengambil gajinya. Gajinya digunakan sepenuhnya guna kemakmuran rakyat Solo. Pantaslah kiranya ia mendapat berbagai penghargaan sebagai Wali Kota baik ditingkat nasional maupun internasional.
Sosok Jokowi yang secara postur tubuh tidaklah menyakinkan untuk melakukan suatu perubahan, akan tetapi semua telah terbukti. Berkat kerja kerasnya, Kota Solo menjadi lebih berkembang dan maju. Gaya kepemimpinannya membuat saya kagum. Dan ingin mengikuti jejaknya. Pemimpin yang prihatin akan keadaan rakyat, tidak hanya sekedar ucapan dan janji belaka, tetapi berbagai bentuk usaha ia lakukan. Keikhlasan untuk tidak mengambil gaji, sungguh mulia. Lain halnya petinggi-petinggi negara yang kurang mensyukuri nikmat. Belum puas menerima gaji, melakukan korupsi. Semua yang Jokowi lakukan untuk rakyat dan demi rakyat. Ia dapat dengan mudah mengajak pedagang kaki lima yang dulunya oleh wali kota sebelumnya susah diatasi. Tetapi karena strategi Jokowo yang memanusiakan manusia, semua membuahkan hasil. Semangat belajarnya pun ketika masih sekolah sangat bagus. Meski sempat putus asa karena tidak bersekolah sesuai impiannya, tetapi ia segera dapat bangkit dan menjadi lulusan terbaik. Kepandaiannya mengantarkan ia ke posisi yang terhormat, dan bisa bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Semangat, pantang menyerah, kerja keras, dermawan, peduli, tanggungjawab, pandai, wirausahawan, tidak sombong. Semoga kepribadian dan kepemimpinan pak Jokowi dapat memotivasi saya menuju jalan luas meraih kesuksesan. Amiin.

Daftar Pustaka
Domu D. Ambarita, dkk, Jokowi “Spirit Bantaran Kali Anyar”, PT Elex Media Komputindo. 2012.

http://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo

http://profil.merdeka.com/indonesia/j/joko-widodo/

http://biografi.rumus.web.id/biografi-jokowi-joko-widodo/

Category: Biografi Tokoh

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*