Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Kemandirian dalam belajar

Kemandirian dalam belajar

Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : Unsur dan ruang lingkup pondok pesantren
data post: Perkuliahan.com. edition of : 186

dalam makalah sederhana ini membahasa tentang apa dan bagaiamana belajar mandiri.

Pengertian kemandirian

           Kemandirian merupakan suatu sikap, dan sikap merupakan suatu yang dipelajari, sikap yang dalam bahasa Inggris disebut Attitude ini oleh Dr. Gerungan diyatakan sebagai berikut: “Sebagai sikap dan kesedian bereaksi terhadap suatu hal”.[1] Artinya bahwa kita tidak dilahirkan dengan dilengkapi sikap-sikap, tetapi sikap-sikap itu tumbuh bersama-sama dengan pengalaman yang kita peroleh. Jadi dapat disimpulkan bahwa kemandirian itu tidaklah terjadi dengan begitu saja, namun sikap ini tertanam pada seorang anak secara bertahap seirama  dengan perkembangan dan lingkungannya.

Sedangkan pembentukan attitude tidak terjadi dengan sendirinya atau dengan gambaran saja, pembentukannya senantiasa berlangsung dalam interaksi   manusia dan berkenaan dengan objek tertentu.

Charles schaeffer mengistilahkan sikap mandiri dengan berdiri diatas kaki sendiri atau otonom, yang didefinisikan sebagai:

“Keinginan untuk menguasai dalam mengendalikan tindakan-tindakan    sendiri dan bebas dari pengendalin dari luar. Tujuannya ialah untuk    menjadi seorang manusia yang ngatur diri sendiri. Seorang manusia yang berdiri diatas kaki sendiri mengambil inisiatif, mengatasi sendiri kesulitan-kesulitan dan melakukan hal-hal untuk dan oleh dirinya sendiri.” [2]

 

Sementara itu Dr. Zakiyah Darajat yang mengemukakan mandiri dengan istilah berdiri sendiri, memberikan definisi sebagai berikut :

Berdiri sendiri yaitu kecenderungan anak untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya tanpa minta tolong  kepada orang lain, juga mengukur kemampuan untuk mengarahkan kelakuannya tanpa tunduk pada orang lain,biasanya anak yang dapat berdiri sendiri lebih mampu memikul tanggung jawab dan pada umumnya mempunai emosi yang stabil.[3]

 

Dari beberapa definisi diatas, dapat penulis tarik kesimpulan bahwa kemandirian belajar pada hakekatnya adalah kecenderungan anak untuk melaksanakan kegiatan belajar bebas dari pengendalian pihak luar, dengan kesadaran bahwa belajar adalah tugas dan tanggung jawabnya.

 

Ciri-ciri Kemandirian Belajar.

Ciri-ciri kemandirian belajar siswa antara lain dapat disebutkan sebagai berikut :

Inisiatif

Inisiatif berasal dari kata bahasa Inggris yaitu : “ Initiative “ yang berarti ikhtiar atau prakarsa. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kemauan siswa dalam berusaha untuk mencapai suatu yang diinginkannya. Ibrahim bin Ismail mengemukakan prinsip kemandirian belajar sebagai berikut :

لاَبُدَ مِنَ اْلجَدِّ وَاْلمُوَاطَبَةِ وَاْلمُلاَزِمَةِ لِطَآلَبِ اْلعِلْمِ15    

[4] Artinya: ( Bagi seorang pelajar ) harus mempuyai kesungguhan yang tetap dan bertekun dan kontinu dalam menuntut ilmu.

Jadi seorang siswa dapat dikatakan mandiri dalam belajar apabila siswa itu mempuyai kemauan dan inisiatif sendiri.

Kedisiplinan

Kedisiplinan dapat diartikan  sebagai latihan baik dari watak dengan maksud supaya segala perbuatan selalu mentaati tata tertib.[5] Sedang menurut James Drever, kedisiplinan semula sinonim dengan education ( pendidikan ) dalam pemaknaan modern pengertiannya adalah : kontrol terhadap kelakuan baik oleh suatu kekuasaan luar maupun individu sendiri.[6] Sedangkam menurut Henry Clay Lindgren mendefinisikan disiplin sebagai “Control by enforcing obedience or orderly conduct”[7]. Artinya kontrol dengan pemaksaan ketaatan atau sikap yang teratur.

Berdasarkan pengertian di atas maka kedisiplinan dapat diartikan sebagai kesungguhan lahir dan batin serta ketatan dan kepatuhan untuk melaksanakan tata tertib serta aturan-aturan yang berlaku. 

Anak yang disiplin akan bertindak sukarela terhadap apa yang ia lakukan dengan tetap memperhatikan rangkaian peraturan dan tata tertib yang membatasi apakah kelakuannya itu diterima atau tidak,  sehubungan dengan hal ini, Dr. S. C. Utami Munandar mengatakan bahwa : “ Ciri-ciri kemandirian belajar siswa adalah adanya ketekunan, kerajinan, keuletan, keaktifan, inisiatif, disiplin, kepatuhan, kerapian, kemandirian, dan kebebasan.” [8]

Kreativitas

Anak yang kreatif menandakan bahwa ia mempuyai tingkat kemandirian yang tinggi, menurut Dr. S. C. Utami Munandar “Beberapa ciri kepribadian yang kreatif yang erat hubungannya dengan kemandirian antara lain : bebas dalam berpikir, senag mencari pengalaman baru, dapat memulai sendiri sesuatu ( inisiatif ), bebas memberikan pendapat, dan  tidak mau menerima pendapat begitu saja.[9]

Tidak minder atau malu  untuk berbuat

Minder atau rendah diri merupakan kondisi psikis yang ditandai dengan perasaan takut, pesimis, menjaukan diri dari pertemuan dengan orang lain,   merasa tidak mampu, kurang merasa percaya diri, dan merasa hina. Orang yang merasa minder atau rendah diri, sering kali menimbulkan kesulitan tidak hanya pada dirinya sendiri tetapi juga pada orang lain. Mereka mudah tersinggung, sering salah paham, sulit bertanggung jawab, dan tidak mampu melaksanakan sesuatu yang sebenarnya mampu ia laksanakan.

Melihat permasalahan minder ini tidak ada alternatif lain bagi para pendidik dewasa ini  termasuk orang tua, kecuali memberikan motifasi pada anak agar mempuyai kepercayaan diri yang tinggi supaya anak-anak tumbuh dan terdidik atas keterbukaan yang sempurna, keberanian atas batas-batas kesopanan, kehormatan, toleransi, dan mandiri. Kalau tidak, maka keberanian itu akan berbalik menjadi rasa tidak tahu malu dan kurang ajar terhadap oarang lain.

Sehingga, apabila menjumpai anak yang mempuyai rasa minder serta renda diri, maka para guru atau orang tua harus memberikan motivasi kepada anak tersebut agar mampu beraktivitas, baik dalam kelompok maupun perorangan, harus juga mampu membangkitkan rasa percaya diri anak agar tidak minder untuk berbuat sesuatu.

Keberanian mengambil resiko

Dalam proses kematangan ada kalanya berlangsung secara alamiah ada pula melalui rangsangan dari luar. Setelah anak mencapai masa kematangan, akan terbukti dengan adanya keberanian dalam mengambil resiko atau mau bertanggung jawab terhadap segala akibat yang ia lakukan.

Keberanian mencoba dan melakukan sesuatu yang belum perna dilakukan serta berani menanggung resiko yang ada, akan menumbuhkan rasa tanggung jawab. Anak yang mempuyai rasa tanggung jawab akan melakukan segala sesuatunya dengan sungguh-sungguh baik dilihat maupun tidak dilihat, baik dinilai maupun tidak dinilai oleh orang lain.

Kemampuan proyektif

Proyektif berarti mewujudkan atau mempraktikkan dalam hal ini yang dimaksud adalah kemauan untuk mempraktikkan sesuatu yang telah dipelajari. Tindakan semacam ini penting sekali, karena akan melatih kemandirian.

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian Belajar

Pada garis besarnya, faktor-faktor yang mempengaruhi kemadirian belajar dapat dikelompokkan menjadi dua faktor, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Faktor intern

Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak, faktor ini meliputi :

Intelegensi

Untuk memberikan pengertian tentang intelegensi J. P. Chaplin yang disadur oleh Drs. Slamento merumuskan sebagai berikut :

“Intelegensi itu adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu : kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui atau menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahu relasi dan mempelajari dengan cepat.” [10]

 

Intelegensi berpengaruh besar terhadap kemajuan belajar, dalam situasi yang sama, siswa yang mempuyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempuyai intelegensi rendah.

Minat

Hilgard memberikan rumusan tentang minat sebagaimana di kutip oleh Drs. Slamento “ interest is persisting tendency to pay attention to and enjoy some activity or content “ ( Artinya : minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan menyenangi beberapa kegiatan atau isi kegiatan).

Minat besar sekali pengaruhnya terhadap terciptanya kemandirian belajar anak. Kegiatan yang diminati seseorang akan diperhatikan terus yang disertai dengan rasa senang, sehingga dengan adanya minat yang besar ini akan menimbulkan dorongan untuk lebih mengenal dan mendalam tanpa harus diperintahkan oleh orang lain.

Motif

Menurut Sumadi Suryabrata, “Motif adalah keadaan pribadi orang yang mendorong individu untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu guna mencapai suatu tujuan”.[11] Jadi dapat dikatakan bahwa motif merupakan dasar yang sangat esensial bagi seluruh tingkah laku manusia. Dalam hal ini Dr. W.A Gerungan menegaskan “Tanpa motifasi orang tidak berbuat apa-apa, tidak akan bergerak”.[12]

Dengan demikian menjadi cukup jelas bahwa motifasi siswa dalam belajar mempuyai  pengaruh yang besar terhadap kegiatan belajarnya. Siswa yang mempuyai motifasi kuat, dimungkinkan akan lebih tekun, rajin, dan mandiri dalam belajar.

Bakat

Menurut Hilgard, sebagaimana dikutip oleh Slameto, bakat atau aptitude adalah : “ The capacity to learn “.[13] Dengan kata lain bakat adalah : kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu baru terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.

Bakat sangat mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat dalam belajarnya. Dan ini akan menjadikan anak lebih mandiri dalam belajar.

Kematangan

Kematangan adalah “suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru”.[14] Kematangan belum berarti anak dapat melaksanakan secara terus menerus, untuk itu diperlukan latihan-latihan dan pelajaran. Dengan kata lain, anak yang sudah siap atau matang belum dapat melaksanakan kecakapanya sebelum belajar. Belajarnya akan lebih berhasil jika anak sudah matang atau siap.

Konsep diri

Konsep diri adalah persepsi keseluruhan yang dimiliki seseorang mengenahi diri sendiri . Menurut Burn, sebagaimana dikutip oleh Drs. Slameto menjelaskan bahwa “The self concept  refers to conection of ettitudes and beliefs we hold abaut ourselves”.[15] (Artinya: Konsep diri adalah hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri ).

Definisi tersebut jika dihubungkan dengan masalah kemandirian belajar, memberikan pengertian suatu pengertian bahwa sikap dan pandangan positif individu terhadap kemampuan dirinya akan meningkatkan kemandiriannya.

 

Faktor Ekstern

Faktor Keluarga

Keluarga merupakan suatu unit  sosial yang terdiri dari seorang suami dan seorang istri atau dengan kata lain keluarga adalah “orang yang mempuyai kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat”.[16] Sedangkan M. Quraish Shihab mendifinisikan kelurga sebagai “Umat kecil” yang memiliki pimpinan dan anggota, mempuyai pembagian tugas dan kerja serta hak dan kewajiban bagi masing-masing anggota.[17] Diantara  tugas keluarga dalam hal ini orang tua adalah memperbaiki adab dan pengajaran anak-anaknya dan menolong mereka membina aqidah yang betul dan agama yang kukuh. Begitu juga dengan menerangkan kepada mereka prinsip-prinsip dan hukum-hukum agama dan melaksanakan upacara-upacara agama dalam waktu yang tepat dan cara yang betul, juga ia harus menyiapkan peluang dan suasana yang praktis untuk mengamalkan nilai-nilai agama dan akhlak dalam kehidupan, orang tua juga berkewajiban untuk memberikan contoh yang baik dan tauladan yang saleh atas segala yang diajarkannya .[18]  Dengan demikian  kelurga merupakan lingkungan  pertama yang dijumpai seorang anak, serta suatu lembaga yang pertama membentuk sikap, watak, pikiran, dan prilaku anak. Dalam lingkungan kelurga ini anak-anak memperoleh didikan dan bimbingan serta contoh-contoh yang dapat membentuk keperinadiannya dikemudian hari.

Keadaan keluarga yang meliputi antara lain cara orang tua mendidik, reaksi antara anggota keluarga, keyakinan struktur keluarga, dan keadan ekonomi kelurga merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap seluruh perkembangan dan pertumbuhan anak, baik fisik maupun psikisnya.

Jauh sebelum pakar pendidikan merumuskan masalah ini, Nabi Muhammad saw telah menyatakan dalam sabdanya sebagai berikut :

حَدَثَنَا اْلقَعْنَبِيُّ عَنْ مَالِكٍ, عَنْ اَبِي الزِّنَادِ, عَنْ الاَعْرَجِ عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  “كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَي اْلفِطْرَةِ, فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ, . . .  30

[19]   Artinya : “Bercerita kepada saya al-Qo’naby dari Malik dari al-Zanad dari al-A’raj dari Abi Hurairah ia telah berkata: Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak itu Yahudi dan Nasroni, …”. ( H.R. Abu Daud)

Pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas bahwa anak secara kodrati dilahirkan dalam keadan fitrah. Maka keluarganya-lah yang membesarkannya, yang menjadikan dia baik atau buruk.        Dalam keluarga, orang yang paling bertanggung jawab memberikan bimbingan dan pendidikan kepada anak adalah orang tua anak itu sendiri. Untuk memberikan apa yang terbaik maka orang tua harus memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan masalah pendidikan dan pengembangan anak. Kebutuhan akan pendidikan ini dianggap penting karena sebagaiman diungkapkan oleh Clara R. Pujijogyanti bahwa :

“Cara orang tua memenuhi kebutuhan fisik anak ( misalnya kebutuhan makan, minum, pakaian, dan tempa tinggal ) dan kebutuhan psikologis anak ( misalnya rasa aman, rasa kasi sayang, dan penerimaan ) merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap seluruh perkembangan kepribadian anak”.[20]

Disamping itu, sebagaimana kita maklumi bahwa kalangan sosial ekonomi menengah dan atas pada umumnya adalah mereka yang umumnya mempuyai latar belakang pendidikan yang tinggi. Sedangkan status sosial ekonomi akan ikut berpengaruh terhadap terbentuknya sikap mandiri anak. Dalam hal ini Pudjijogyanti menjelaskan :

“Pada umumnya orang tua dari kelas sosial ekonomi menengah dan tinggi akan menekankankemandirian, memberitingkat aspirasi yang tinggi, mendukung dan memberian perhatian, memberikan kasih sayang pada anak mereka. Sedangkan orang tua  dari sosial ekonomi  yang rendah  lebih menekankan  pada pemberian hukuman aspirasi yang rendah dan memberi  sedikit  perhatian dan kasih sayang”.[21]

 

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa latar belakang keluarga yang baik,  tentunya akan dapat mengarahkan dan membina anak untuk dapat belajar dengan baik.  Termasuk mengarahkan anak kepada sikap mandiri dalam belajar.

Faktor Sekolah

Setelah anak dididik di dalam lingkungan keluarga oleh orang tuanya dan mungkin oleh anggota keluarga yang lain, maka seiring dengan usia yang makin bertambah selanjutnya anak akan memasuki  Sekolah yang mempuyai pengertian sebagai bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran.[22]  Sekolah merupakan pendidikan yang kedua dalam kehidupan seseorang setelah keluarga. Seluruh perangkat sekolah yang meliputi antara lain: Guru, kurikulum, disiplin sekolah,  kegiatan ekstra kulikuler, relasi antar siswa, sarana dan prasarana yang dimiliki dan lain sebagainya,dan diharapkan dapat memerankan sesuai dengan fungsinya yaitu :

Meneruskan, mempertahankan dan mengembangkan kebudayaan suatu masyarakat, melalui kegiatan ikut membentuk keperibadian anak-anak agar menjadi manusia dewasa yang berdiri sendiri di dalam kebudayaan dan masyarakat sekitarnya.[23]

 

Dengan demikian sekolah mempunyai pengaruh yang basar  terhadap terbentuknya kemandirian siswa khususnya dalam   belajar.  Kajian yang dilakukan Ryans juga menunjukkan adanya hubungan yang positif antara perilaku produksi sesuai dengan prilaku guru. Sejalan dengan penelitian Ryans tersebut, Spaulding menunjukkan pula bahwa : “Konsep dari siswa dapat ditingkatkan menjadi positif apabila guru mampu mempuyai sikap menyatu dalam berinteraksi dengan siswa dan dalam mendukung belajar siswa”.[24] Dari kajian tersebut lebih lanjut Clara R. Pudjijogyanti menjelaskan “Konsep diri yang positif siswa, yaitu prilaku diri, tidak cemas, menghargai, dan cinta belajar”.[25]

Demikian tidak kala pentingnya menciptakan reaksi dengan baik antara siswa, karena hal ini juga mempuyai pengaruh terhadap belajar siswa, kelengkapan sarana sekolah misalnya alat pelajaran yang dipakai guru pada saat mengajar, dipakai pula oleh siswa untuk menerima bahan pelajaran yang  diberikan kepada siswa, jika siswa mudah menerima pelajaran dan menguasainya maka ia akan lebih giat dan maju dalam belajar.

Jadi jelas bahwa sekolah dan segala perlengkapannya berpengaruh dan berperan vital dalam menumbuh kembangkan keperibadian anak, termasuk terhadap terbentuknya sikap mandiri anak dalam belajar.

Faktor Masyarakat

Masyarakat juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kemandirian belajar siswa, karena masyarakat adalah “pergaulan hidup manusia ( sehimpunan manusia yang hidup di suatu tempat dengan ikatan-ikatan yang tertentu ) “.[26] Pengaruh itu terjadi karena anak itu berada dalam lingkungan masyarakat.                Kegiatan anak dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi jika terlalu banyak kegiatan yang diikuti, maka justru akan dapat mengganggu pelajarannya.

Disamping kegiatan dalam masyarakat, mass media turut berpengaruh dalam belajar anak seperti, TV, radio, surat kabar, majalah, dan lainnya. Mass media yang baik akan membantu anak dalam belajar, sedangkan mass media yang jelek akan mengganggu kosenterasi anak dalam belajar, sehingga hasil belajar anak juga jelek.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengaruh teman bergaul akan lebih cepat masuk dalam jiwa anak. Teman bergaul yang baik akan berpengaruh baik pada anak, misalnya dalam belajar kelompok, ini akan membantu anak dalam mencapai keberhasilan belajar.

Bentuk kehidupan masyarakat di sekitar anak juga berpengaruh terhadap belajar anak. “Masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang tidak terpelajar, mempuyai kebiasaan yang tidak baik, akan berpengaruh sekali terhadap keberhasilan belajar siswa, bahkan akan mengakibatkan kehilangan semangat dalam belajar”.[27] Siswa yang ingin berhasil dalam belajarnya hendak mampu mencari jalan terbaik untuk dirinya yaitu memilih teman yang baik, bersih dari lingkungan yang mengganggu, memilih alat bantu belajar yang mendukung keberhasilan belajarnya dan juga mampu menciptakan suasana belajar yang baik dan benar.

Dengan demikian pengaruh lingkungan masyarakat terhadap pembentukan pribadi individu termasuk di dalamnya pembentukan sikap mandiri pada diri seseorang. Jadi jelas bahwa lingkungan masyarakat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap mandiri pada diri seseorang khususnya anak didik.

 



[1] Dr.W.A.Gerungan Dipl. Psych, Psikologi sosial, Eresco, Bandung, 1996, halaman 149.

[2] Charles Scaeffer, Ph.d., Bagaimana membimbing Anak secara Efektif,Terj. Dr.R.Tusman Sirait, Restu Agung, Jakarta, 1987, halaman 59.

[3] Dr. Zakiyah Darajat, Perawatan Jiwa untuk Anak-anak. Bulan Bintang, Jakarta 1982, halaman 130.

[4] Ibrahim bin Ismail, Ta’lim Muta’alim, Al Ma’arif, Surabaya, t.t., halaman 23

[5] W. J. S. Poerwadarminto, KUBI., Balai Pustaka, Jakarta, 1981, halaman 735

[6] James Drevar, Kamus Psikologi, Terj. Nancy Simanjuntak, Bina Aksara, Jakarta, 1986, halaman 110

[7] Henry Clay Lindgren, Psychologi In The Classroom, Jhon Wiley & Sons., INC., New York, 1960, halaman  305

 

[8] Dr. S. C. Utami Munandar, Pemanduan Anak Berbakat, Rajawali, Jakarta, 1982, halaman  45.

[9] Ibid., halaman  44.

 

 

[10] Drs. Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi, Rineka Cipta, Jakarta, 1995, halaman  56.

[11] Drs. Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D., Psikologi Pendidikan, Rajawali, Jakarta, 1990, halaman  70.

[12] Dr. W. A. Gerungan, Op. Cit., halaman  144.

[13] Drs. Slameto, Op. Cit., halaman 57.

[14] Ibid., halaman 58

[15] Ibid., halaman 182

[16] Drs. Peter Salim dan Teni Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontamporer, Modern English Press, Jakarta, 1991,  halaman  697

[17] Dr. M. Quraish Shihab, MA., Membumikan Al-Qur’an, Mizan, Bandung, 1998, halaman 255

[18] Prof. Dr. Hasan Lagulung, Manusia dan Pendidikan, Al-Husna Zikra, Jakarta, 1995, halaman 384

 

[19] Abi Daud Sulaiman Ibnu Al-Asy‘ats Al-Sajistany, Sunan Abi Daud, Juz IV, Daar Al-Fikr, Beirut, t.t., halaman  240.

[20] Clara R. Pudjijogyanti, Konsep Diri Dalam Pendidikan, Arcan, Jakarta, 1995, halaman  29.

[21] Ibid., halaman  39.

[22] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1985, halaman  889.

[23] DR. H. Hadari Nawawi, Organisasi Sekolah Dan Pengolaan Kelas, Tema Baru, Jakarta, 1989, halaman 27.

[24] Pujijogyanti, Op.Cit., halaman 65.

[25] Ibid., halaman  69.

 

[26] W. J. S. Purwodarminto, Op.Cit., halaman  636.

 

[27] Drs. Slameto, Op.Cit., halaman 71.

Kemandirian dalam belajar

Under arsip: Perkuliahan.com.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*