Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Hukum Perempuan berkabung ketika ditinggal mati suami

Hukum Perempuan berkabung ketika ditinggal mati suami

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Hukum Perempuan berkabung ketika ditinggal mati suami

Bidang  postingan  :  Hukum fiqih tentang berkabung dalam islam. hukum perempuan berkabung, landasan hadits tentang berkabung.apa hukum berkabung, bagaimana cara istri berkabung, hadits tentang berkabung, apa yang dilarang dalam islam tentang  berkabung

………………………………………………………………………………………………………………….

data post perkuliahan.com seri 49.

TINJAUAN HADITS-HADITS TENTANG

PEREMPUAN BERKABUNG

 

Hadits-hadits tentang berkabung bagi perempuan yang ditinggal mati oleh suami dengan menggunakan lafal مرأة.  Dalam Mu’jam al-Mufahrasy lafal مرأة merupakan turunan dari lafal مرأى, berikut ini keretangan yang penulis peroleh dari al-Mu’jam al-Mufahrasy li alfazi al-hadits al-nabawi, tentang kitab-kitab yang memuat hadits-hadits berkembang bagi perempuan sebab ditinggalkan mati oleh suami:

1.      Kalimat باب احداد المرأة على غير زوجها على زوجها terdapat di dalam Sahih al-Bukhari bab jenazah dan Sunan al-Tirmizi bab cerai.[1]

2.      Kalimat فوق ثلث ايام لا تحو المرأة termuat dalam Sunan Abi Dawud bab cerai dan Musnad Ahmad bin Hambal hadits ke 8505

3.      Kalimat لا يحل لإمرأة تؤمن بالله واليوم الأخر أن تحد terdapat di dalam Sahih al-Bukhari bab jenazah dan cerai, Sahih Muslim bab cerai, Sunan Abi Dawud bab cerai, Sunan an-Nasa’i bab cerai, Sunan al-Darimi bab cerai, Muwata’ bab cerai, Musnad Ahmad bin Hambal hadits ke 239.

4.      Kalimat باب الطيب للمرأة عند عسلها terdapat di dalam Sahih al-Bukhari bab haid

5.      Kalimat باب النهى عن الزينة فى عدة terdapat dalam Sunan al-Darumi bab cerai

Sedangkan pada kita Miftah Kunuz al-Sunnah, penulis menggunakan tema berkabung (تحد) untuk menelusuri hadits berkabung bagi perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya, dalam kitab trsebut hadits-hadits dalam penelitian ini termuat di dalam Sahih al-BukhariSahih Muslimi, Sunan Ibnu Majahsunan al-DarumiMuwata’ al-MalikSunan Abi DawudSunan al-TirmiziSunan an-Nasa’iTabaqat ibn Sa’idMusnad Ahmad bin Hambal.[2]

Setelah penulis melakukan pengumpulan hadits-hadits berkabung bagi perempuan karena ditinggal mati oleh suami, selanjutnya penulis mengklasifikasikan hadits-hadits tersebut ke dalam tema-tema yang sama.  Dari pengklasifikasian tersebut, hadits-hadits yang memuat tentang berkabung bagi perempuan karena ditinggal mati oleh suami, dapat dibagi menjadi tiga pokok sub tema yang terkandung pada berbagai riwayat.  Tiga sub tema tersebut adalah:

A.    Hadits yang membahas batal masa berkabung bagi perempuan yang tidak hamil maupun hamil

B.     Hadits yang menceritakan tidak boleh berhias bagi perempuan yang sedang berkabung

C.     Hadits yang menyatakan tempat masa berkabung

 

A.    Hadits yang Membahas Batal Berkabung bagi Perempuan yang Ditinggal Mati Suami

1.      Redaksi hadits tentang batas berkabung bagi perempuan yang tidak hamil

حدثنا يحيى بن يحيى وابو بكر بن ابى سيبة و كمر والناقد و زهير بن حرب (ولفظه ليحيى) قال يحيى أحبرنا وقال الآخرون حدثنا سفيان ابن عيينة عن زهرى عن عروة عن عائشة عن النبى صلى الله عليه وسلم قال لايحل لإمرأة تؤمن بالله واليوم الآخرات تحد على ميت فوق ثلاث الا على زوحها.


Artinya :

“Dari Yahya bin Yahya dan Abu Bakri bin Abi Syaibah dan Umar dan al-Naqid dan Zuhairu bin Harb (dan lafalnya dari Yahya), Yahya berkata mengkhabarkan pada kami dan yang lain, berkata pada suami Sufyan bin Uyainah dari al-Zuhri dari arwah dan Aisyah dari Nabi Saw bersabda; “Tidaklah halal bagi seorang perempuan yang beriman pada Allah dan hari akhir berkabung atas jenazah melebihi tiga hari kecuali untuk suaminya yaitu empat bulan sepuluh hari.”[3]

Istri yang ditinggal mati oleh suaminya padahal ia tidak dalam keadaan hamil maka iddahnya ialah empat bulan sepuluh hari.  Ketentuan ini meliputi baik istri itu pernah bercampur dengan suaminya atau belum, keadaan istri itu belum pernah haidh, masih berhaid, ataupun telah lepas haidh.  Ketetapan ini berdasarkan firman Allah surat al-Baqarah ayat 234, sebagai berikut:

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا فَإِذَا بَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya :

“Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri, hendaklah para istri itu menangguhkan dirinya (beriddah) empat bulan sepuluh hari.  Kemudian apabila telah habis iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat pada diri merka menurut yang patut.  Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

Menurut firman Allah ini istri yang ditinggalkan mati oleh suaminya setelah mengakhiri masa iddahnya dibolehkan berbuat sesuatu yang patut bagi dirinya sendiri semisal berhias, memakai wangi-wangian, bepergian, atau menerima pinangan.  Perhitungan bulan dalam iddah dibulatkan dengan 30 hari, sehingga empat bulan sepuluh hari berarti 130 hari.[4]

2.      Redaksi hadits tentang batas berkabung bagi perempuan hamil

حدثنا احمد بن منيع حدثنا حسين بن محمد حدثنا شيبان عن منصور, عن ابراهيم عن اسود, عن ابى السنابل ابن بعكك قال: وصعت سبيعة بعدوفاة روجها بثلاثة وعشرين يوما, او خمسة وعشرين يوما, فلما تعلت تشوفت للنكاح فانكر عليها ذلك فذكر ذلك للنبى صلى الله عليه وسلم فقال إن تفعل فقد حل اجلها.

Artinya:

“Dari Ahmad bin Mani’ dari Husain bin Muhammad dari Syaiban dari Mansur dari Ibrahim dari Aswad dari Abi al-Sanabil ibn Ba’kak berkata Subai’ah melahirkan kira-kira dua puluh tiga hari atau dua puluh lima hari setlah suaminya meninggal, setelah nifasnya selesai, dia merencanakan pernikahan kemudian hal tersebut diceritakan pada Nabi Saw, maka Nabi berkata: “Jika dia berbuat seperti itu, maka sesungguhnya batas, menunggunya setelah selesai.”

ثبت أن سبيعة ألاسلمية سالته وقد مات زوجها ووضعت حملها بعد موته. قالت: فافتا بن رسول الله  اكن قد حللت حين وضعت حملى وأمر بن بالتزويج ان بدالى.

Artinya :

“Ditetapkan bahwa Subai’ah al-Aslamiyah pernah bertanya kepada Rasulullah Saw, dia ditinggal mati suaminya dan melahirkan kandungannya sesudah suaminya itu mati. Katanya: “Rasulullah Saw pernah berfatwa kepadaku, bahwa aku sudah boleh kawin lagi ketika aku telah melahirkan kandunganku.  Dan beliau menyuruh aku kawin lagi bila sudah nampak (ada orang yang cocok) untukku.[5]

Apabila istri yang ditinggal mati suaminya dalam keadaan hamil, melahirkan dalam waktu tidak sampai empat bulan sepuluh hari, mayoritas (jumhur) ulama, menurut Ibn Rusyd berpendapat bahwa masa iddah wanita tersebut adalah sampai melahirkan, meskipun selisih waktu kematian suami hingga ia melahirkan hanya setengah bulan atau kurang dari 130 hari.[6]

Dalam hal antara kdua ayat tersebut berlaku nasikh mansukh atau ‘am dan takhsis, maka yang kuat ialah bahwa iddah istri yang hamil itu adalah melahirkan kandungan.  Ketentuan ini didukung oleh turunnya surat at-Talaq yang lebih akhir daripada surat al-Baqarah, serta beberapa hadits yang menerangkan bahwa Subai’ah al-Aslamiyah melahirkan kandungan setelah empat bulan sepuluh hari setelah wafat suaminya, lalu ia memohon izin kepada Rasulullah Saw untuk kawin, kemudian beliau mengizinkannya. Sudah barang tentu meski diperbolehkan mengadakan akad nikah (perkawinan) dalam nifasnya namun suami tidak boleh mencampurinya sampai ia suci dari nifasnya itu.

Adapun hadits yang menerangkan hal tersebut di atas, adalah

عن عبيد الله ابن عبد الله أخبره عن أبيه أنه كتب إلى ابن الارقم ان يسأل سبيعة الاسلمية كيف افتاها النبي صلى الله عليه وسلم فقالت افتانى اذا وضعت ان انكع.

Artinya :

“Dari Ubaidillah bin Abdullah dari ayahnya bahwa ia menulis surat kepada Ibnu Arqam menanyakan kepada Subai’ah al-Aslamiyah bagaimana Nabi Saw memberi fatwa kepadaku bila saya sudah melahirkan supaya saya kawin.”[7]

 

[1] A.J. Wensinck, Al-Mu’jam Al-Mufahrasy li Alfazi Al-Hadits Al-Nabawi, (Biden: Ej. Brill, 1967), hlm. 187-192.

[2] A.J. Wensinck, Miftah Kunuz al-Sunnah, terj. M. Fuad Abdul al-Bej, (Mesir: Lajnah Tarjaah Dairah al-Ma’arif, 1993), hlm. 113.

[3] Abi Husain bin al-Husain Muslim bin Hujaj, Sahih Muslim, hadits no. 4924, (Beirut: dar al-Fikr, 1981), jilid 6, hlm. 204.

[4] Prof. Dr. Zakiah Darajat dkk., Ilmu fiqhi, (Yogyakarta: PT. Dana Bhakti Wakaf, 1995), jilid II, hlm. 214.

[5] Al-Imam al-Jahl al-Hafidz aAbu Abdullah dkk., Fatwa-fatwa rasulullah saw., terj. S. Ziyad Abbas, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1990), hlm. 71.

[6] Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid, juz II, (Semarang: Usaha Keluarga, 1982), hlm. 72.

[7] Imam Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih Bukhari, jilid VII, terj. Ahmad Sunarto dkk., (Semarang: CV. Asy-Syifa’, 1993), hlm. 224-225.

Hukum Perempuan berkabung ketika ditinggal mati suami

under arsip:  Perkulihan.com. / next: pembinaan keagamaan anak

Category: Artikel Islam
  • budi says:

    Semarang,23 Januari 2012

    Kepada Yth :
    Bapak/Ibu Warga Negara Indonesia
    Di tempat

    Perihal : Meminta sumbangan seiklasnya untuk menyelamatkan wakil kita yaitu Beliau-beliau Anggota DPR RI Komisi I yang diketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi supaya tidak dianggap “PENGECUT”.
    ANGGOTA DPR RI KOMISI I MENANGANI PERTAHANAN DAN KEAMANAN DALAM NEGERI ,INTELIJEN,LUAR NEGERI, KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

    Dengan hormat,
    Bersama surat ini saya Budi Kurniawan alamat Progo III/37 Semarang,no hp 081808357588.,sebelumnya meminta maaf bila ada kesalahan dan ketidak sopanan dalam penulisan surat ini.Adapun permohonan saya melalui surat ini adalah meminta bantuan seiklasnya untuk mengajukan GUGATAN PERBUATAN MELAWAN HUKUM di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terhadap Beliau-beliau Anggota-anggota DPR RI Komisi I yang di ketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi yang beralamat kantor di Jl.Gatot Subroto Jakarta Pusat10270.
    Saya,Budi Kurniawan yang akan mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum.Adapun identitas lengkap saya adalah :
    • Budi Kurniawan,beralamat di Jalan Progo III No.37 RT 006/RW 001 Kelurahan Mlatibaru Kecamatan Semarang Timur,Semarang disebut sebagai_ _ _ _ PENGGUGAT
    Dengan ini saya Budi Kurniawan adalah sebagai PENGGUGAT.Dengan ini PENGGUGAT hendak mengajukan Gugatan Perbuatan Melawan Hukum terhadap:
    • Bapak Mahfudz Siddiq,Msi sebagai Ketua Anggota DPR RI Komisi I yang beralamat kantor di Gedung DPR RI Jl Jendral Gatot Subroto Jakarta 10270 selanjutnya disebut_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ TERGUGAT I
    • Bapak Drs Agus Gumiwang Kartasasmita sebagai Wakil Ketua Anggota DPR RI Komisi I yang beralamat kantor di Gedung DPR RI Jl Jendral Gatot Subroto Jakarta 10270 selanjutnya disebut_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ TERGUGAT II
    • Bapak TB Hasanuddin SE,MM sebagai Wakil Ketua Anggota DPR RI Komisi I yang beralamat kantor di Gedung DPR RI Jl Jendral Gatot Subroto Jakarta 10270 selanjutnya disebut_ _ _ _ _ _ _ _TERGUGAT III
    • Bapak H. Haryono Isman,S.IP sebagai Wakil Ketua Anggota DPR RI Komisi I yang beralamat kantor di Gedung DPR RI Jl Jendral Gatot Subroto Jakarta 10270 selanjutnya disebut_ _ _ _ _ _ _ TERGUGAT IV
    Saya Budi Kurniawan meminta sumbangan seiklasnya karena saya belum bekerja.Adapun total untuk persidangan tersebut total kurang lebih Rp.1.500.000 (satu juta lima ratus rupiah).Disini di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat bisa secara prodeo atau tidak bayar,tetapi fasilitas tersebut untuk orang miskin/tidak mampu.Disini saya juga telah dibantu oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,jadi saya tidak berani berbohong.
    Adapun gugatan saya Budi Kurniawan pernah menulis surat kepada KAPOLRI bahwa bila Beliau-beliau Anggota DPR RI Komisi I yang diketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi tidak dapat diproses secara hukum, Beliau-beliau Anggota DPR RI Komisi I yang diketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi akan disebut “PENGECUT”.Disini saya Budi Kurniawan juga pernah meminta bantuan dan bimbingan kepada KAPOLRI supaya Beliau-beliau Anggota DPR RI Komisi I yang diketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi tidak dianggap “PENGECUT”.Disini Beliau-beliau Anggota DPR RI Komisi I yang diketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi telah dapat diajukan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat secara Perdata.
    Saya Budi Kurniawan juga telah menulis surat kepada Badan Kehormatan DPR RI dan Ketua DPR RI untuk DOA BERSAMA,agar Beliau-beliau Anggota DPR RI Komisi I yang diketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi dapat di proses secara hukum,bila Beliau-beliau Anggota DPR RI Komisi I yang diketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi tidak dapat diproses secara hukum maka Beliau-beliau Anggota DPR RI Komisi I yang diketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi akan disebut “PENGECUT”.
    Saya Budi Kurniawan meminta sumbangan seiklasnya untuk menolong Beliau-beliau Anggota DPR RI Komisi I yang diketuai oleh Bapak Mahfudz Siddiq Msi supaya tidak dianggap “PENGECUT”.
    Disini saya Budi Kurniawan mengucapkan banyak terima kasih atas perhatiannya dan saya meminta maaf sebesar-besarnya.Terima kasih.Tuhan Memberkati

    • Yang meminta sumbangan ini adalah saya sendiri yaitu Budi Kurniawan.
    • Surat ini saya tinggal untuk para pemberi sumbangan untuk tanda terima bahwa saya tidak berbohong.

    TERIMA KASIH

    Hormat saya

    Budi Kurniawan

    February 10, 2012 at 05:55

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*