Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Definisi Pendidikan Islam

Definisi Pendidikan Islam
Under arsip:  Perkuliahan.com.
Post title :Definisi Pendidikan Islam
Post  Category   :  apa pengertian dan definisi pendidikan islam
 berikut mari kita simak materi perkuliahan.com tentang definisi pendidikan islam, dari sebuah cuplikan skripsi hasil karya sobatnya perkuliahan.com semoga bermanfaat.
data post: perkuliahan.com edition of : 109

Definisi dan Pengertian Pendidikan Islam

Pendidikan dan manusia merupakan suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena pendidikan hanya untuk manusia dan manusia menjadi manusia karena adanya pendidikan. Untuk itu akan dikaji pengertian pendidikan itu dari dua aspek yaitu aspek etimologis dan  aspek terminologis.

Menurut mu’jam (Kamus) kebahasaan sebagaimana dikutif Ramayulis, kata  tarbiyat memiliki tiga akar kebahasaan,[1] yaitu:

a.                                 :yang memiliki arti tambah (zad) dan berkembang (nama). Pengertian’ini didasarkan atas Q.S. al-Rum ayat 39.

b.                                  :yang memiliki arti tumbuh (nasya’) dan menjadi besar (tara ra’a).

c.                               : yang memiliki arti memperbaiki (ashalaha), menguasai urusan, memelihara, merawat, menunaikan, memperindah, memberi makan, mengasuh, tuan, memiliki, mengatur dan menjaga kelestarian dan eksistensinya.[2]

Pada masa sekarang istilah yang populer dipakai orang adalah tarbiyah, karena menurut Athiyah Abrasyi tarbiyah adalah term yang mencakup keseluruhan kegiatan pendidikan. la adalah upaya yang mempersiapkan individu untuk kehidupan yang lebih sempurna etika, sistimatis dalam berpikir, memiliki ketajaman intuisi, giat dalam berkreasi, memiliki toleransi pada yang lain, berkompetensi dalam mengungkap bahasa lisan dan tulis, serta memiliki beberapa keterampilan.[3] Sedangkan istilah yang lain merupakan bagian dari kegiatan tarbiyah. Dengan demikian maka istilah pendidikan Islam disebut Tarbiyah Islamiyah

Kata pendidikan juga ditemukan dalam  bahasa Arab, yang biasa digunakan kata-kata;  tarbiyah, ta’alim, ta’dib. Menurut Abdur  Rahman An Nahlawi,[4] kata tarbiyah ditemukan dalam tiga akar kata yaitu: pertama, raba – yarbu, yang artinya bertambah  dan berkembang. Ini di dasarkan kepada  surat Ar Rum: 39. kedua, rabiya-yarba,’ artinya tumbuh dan berkembang. Ketiga, rabba-yarubbu, berarti memperbaiki, mengurusi kepentingan, mengatur, menjaga,  dan memperhatikan.

Imam Baidowi; ar-Rab itu bermakna tarbiyah, yang makna lengkapnya adalah menyampaikan. sesuatu hingga mencapai kesempurnaan.[5] Menurut Ar Raqib Al Ashfahani, ar Rab, berarti tarbiyah yang makna lengkapnya adalah menumbuhkan perilaku demi perilaku serta bertahap hingga mencapai batasan kesempurnaan.[6] Menurut Abdurrahman Al-Bani mengambil konsep pendidikannya dari akar kata ar Rabb. Ia  menyatakan bahwa dalam pendidikan itu tercakup tiga unsur berikut yaitu menjaga dan memelihara anak, mengembangkan bakat dan potensi anak sesuai dengan  kekhasan masing-masing, mengarahkan potensi dan bakat agar mencapai kebaikan dan kesempurnaan; dan seluruh proses di atas dilakukan secara bertahap sesuai dengan konsep “sedikit demi sedikitnya” Al Baidowi atau perilaku demi perilakunya Ar Raghib.

Kata Ta’lim menurut Abdul Fatah Jalal,[7] lebih luas jangkauannya dan lebih umum dari kata tarbiyah. Pentingnya kata ta’lim bagi seluruh umat manusia dapat dilihat dalam surat Al Baqarah: 151. Juga kata ta’lim mencakup aspek pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku yang baik, sebagaimana dalam surat  Yunus ayat 5. Akan tetapi kata ta’lim menurut Al Attas  berarti hanya pengajaran. Dengan kata  lain ta’lim hanya sebagian dari pendidikan.

Kata Ta’lim menurut Al Attas[8] lebih tepat sebab tidak terlalu sempit sekadar mengajar saja, dan tidak meliputi makhluk-makhluk lain selain manusia. Jadi ta’’dib sudah  meliputi kata ta’lim dan tarbiyah. Selain daripada itu kata ta’dib itu erat hubungannya dengan kondisi ilmu dalam Islam yang termasuk dalam isi pendidikan. Ada beberapa alasan yang dikemukakan oleh Al Attas mengapa kata ta’dib sudah termasuk di dalamnya ta’lim dan tarbiyah.[9] Menurut tradisi ilmiah Bahasa Arab istilah Ta’dib mengandung tiga unsur: pengembangan ilmiah, ilmu dan amal. Iman adalah pengakuan yang realisasinya harus berdasarkan ilmu. Iman tanpa ilmu  adalah bodoh. Sebaliknya ilmu harus dilandasi iman. Ilmu tanpa iman adalah  sombong dan akhirnya iman dan ilmu diharapkan mampu membentuk amal.

Kalau tidak diwujudkan dalam bentuk amal, lemahlah ilmu dan iman itu Ibarat  pohon yang tidak berbuah, niscaya ditinggalkan orang karena kurang bermanfaat.

Dalam kerangka pendidikan, istilah ta’dib mengandung arti: ilmu, pengajaran  dan penguasaan yang baik. Tidak ditemui  unsur penguasaan atau pemilikan terhadap objek atau anak didik, di samping tidak pula menimbulkan interpretasi mendidik makhluk selain manusia, misalnya binatang dan tumbuh-tumbuhan. Karena menurut konsep Islam yang bisa bahkan harus dididik hanyalah makhluk manusia. Dan akhirnya, Al Attas menekankan pentingnya pembinaan tata krama, sopan  santun, adab dan semacamnya atau secara tegas “akhlak yang terpuji” yang  terdapat hanya dalam istilah ta’dib. Dengan tidak dipakainya konsep ta’dib untuk menunjukkan kegiatan pendidikan, telah berakibat hilangnya adab sehingga melunturkan citra keadilan dan kesucian.  Menurut Al Attas, keadaan semacam itu bisa membingungkan kaum muslimin,  sampai-sampai tak terasa pikiran dan cara hidup sekuler telah menggeser berbagai konsep Islam di berbagai segi kehidupan termasuk pendidikan.

Setelah diberikan pengertian mengenai  pendidikan secara etimologis, baik berasal dari bahasa Inggris maupun yang berasal dari  bahasa Arab, maka kajian selanjutnya adalah pendapat-pendapat mengenai pengertian  pendidikan dari segi terminologis. Pendapat-pendapat tersebut antara lain:

Zahara Idris yang dikutif Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati telah mengumpulkan definisi pendidikan menurut para tokoh pendidikan.[10] Ahmad D.Marimba memberi pengertian pendidikan sebagai bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.[11]

Syaiful Bahri Djamarah, memberi pengertian juga, pendidikan adalah usaha sadar dan bertujuan untuk mengembangkan kualitas manusia. Sebagai suatu kegiatan yang sadar akan tujuan, maka dalam pelaksanaannya berada dalam suatu proses yang berkesinambungan dalam setiap jenis dan jenjang pendidikan.[12] Sedangkan dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar anak didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[13]

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk mewujudkan manusia seutuhnya dengan selalu mengembangkan potensi yang ada pada setiap anak didik. Semuanya bermuara kepada manusia, sebagai suatu proses pertumbuhan dan perkembangan secara wajar dalam masyarakat yang berbudaya. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa pendidikan adalah suatu proses alih generasi, yang mampu mengadakan transformasi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan budaya  kepada generasi berikutnya agar dapat menatap hari esok yang lebih baik.

Adapun pendidikan Islam  dapat dijelaskan sebagai berikut:

Menurut Arifin, pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang bersifat progresif menuju ke arah kemampuan optimal anak didik yang brlangsung di atas landasan nilai-nilai ajaran Islam.[14] Sementara Achmadi memberi pengertian, pendidikan Islam adalah segala usaha untuk memelihara dan mengembangkan fitrah manusia serta sumber daya manusia yang ada padanya menuju terbentuknya manusia seutuhnya (insan kamil) sesuai dengan norma Islam.[15]

Abdur Rahman Saleh memberi pengertian juga tentang pendidikan Islam yaitu usaha sadar untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak dengan segala potensi yang dianugrahkan oleh Allah kepadanya agar mampu mengemban amanat dan tanggung jawab sebagai khalifah Allah di bumi dalam pengabdiannya kepada Allah.[16] Menurut Abdurrahman an-Nahlawi, pendidikan Islam adalah penataan individual dan sosial yang dapat menyebabkan seseorang tunduk taat pada Islam dan menerapkannya secara sempurna di dalam kehidupan individu dan masyarakat. Pendidikan Islam merupakan kebutuhan mutlak untuk dapat melaksanakan Islam sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Berdasarkan makna ini, maka pendidikan Islam mempersiapkan diri manusia guna melaksanakan amanat yang dipikulkan kepadanya. Ini berarti, sumber-sumber Islam dan pendidikan Islam itu sama, yakni yang terpenting, al-Qur’an dan Sunnah Rasul.[17]

Dilihat dari konsep dasar dan operasionalnya serta praktek penyelenggaraannya, maka pendidikan Islam pada dasarnya mengandung tiga pengertian:

Pertama,  pendidikan Islam adalah pendidikan menurut Islam atau pendidikan Islami, yakni pendidikan yang difahami dan dikembangkan dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah. Dalam pengertian yang pertama ini, pendidikan Islam dapat berwujud pemikiran dan teori pendidikan yang mendasarkan diri atau dibangun dan dikembangkan dari sumber-sumber dasar tersebut atau bertolak dari spirit Islam.

Kedua, pendidikan Islam adalah pendidikan ke-Islaman  atau pendidikan agama Islam, yakni upaya mendidikkan agama Islam  atau ajaran dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan hidup) dan sikap hidup seseorang. Dalam pengertian yang kedua ini pendidikan islam dapat berwujud (1) segenap kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk membantu seorang atau sekelompok peserta didik dalam menanamkan dan/menumbuhkembangkan ajaran Islam dan nilai-nilainya; (2) segenap fenomena atau peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya adalah tetanamnya dan/atau tumbuhkembangnya ajaran Islam dan nilai-nilainya pada salah satu atau beberapa pihak.[18]

Ketiga, pendidikan Islam adalah pendidikan dalam Islam, atau proses dan praktik penyelenggaraan pendidikan yang berlangsung dan berkembang dalam realitas sejarah umat Islam. Dalam pengertian ini, pendidikan Islam dalam realitas sejarahnya mengandung dua kemungkinan, yaitu pendidikan Islam tersebut benar-benar dekat dengan idealitas Islam/atau mungkin mengandung jarak atau kesenjangan dengan idealitas Islam.[19]

Walaupun istilah pendidikan Islam tersebut dapat dipahami secara berbeda, namun pada hakikatnya merupakan satu kesatuan dan mewujud secara operasional dalam satu sistem yang utuh. Konsep dan teori kependidikan Islam sebagaimana yang dibangun atau dipahami dan dikembangkan dari al-Qur’an dan As-sunnah, mendapatkan justifikasi  dan perwujudan secara operasional dalam proses pembudayaan dan pewarisan serta pengembangan ajaran agama, budaya dan peradaban Islam dari generasi ke generasi, yang berlangsung sepanjang sejarah umat Islam.[20]

Kalau definisi-definisi itu dipadukan tersusunlah suatu rumusan pen-  didikan Islam, yaitu:

Pendidikan Islam ialah mempersiapkan dan menumbuhkan anak didik atau individu manusia yang prosesnya berlangsung secara terus-menerus sejak ia lahir sampai meninggal dunia. Yang dipersiapkan dan ditumbuhkan itu meliputi aspek jasmani, akal, dan ruhani sebagai suatu kesatuan tanpa mengesampingkan salah satu aspek, dan melebihkan aspek yang lain. Persiapan dan pertumbuhan itu diarahkan agar ia  menjadi manusia yang berdaya guna dan berhasil  guna bagi dirinya dan bagi umatnya, serta dapat  nwmperoleh suatu kehidupan yang sempurna.

 



[1] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2002), hlm. 2.

[2] Karim al-Bastani et.all, al-Munjid fi Lughat wa’Alam, (Bairut: Dar al-Masyriq, 1975), hlm 243-244.

[3] Muhammad Athiyah al-Abrasyi, Ruh al-Tarbiyat wa-al Ta’lim, (Saudi Arabiya: Dar al-Ihya’, tth), hlm. 7,  14.

[4] Abdurrahman an-Nahlawi, Pendidikan Islam  di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press,1995), hlm. 20.

[5] Ibid, hlm. 20.

[6] Ibid

[7] Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta:Grafindo, 1985), hlm.5.

[8] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam, (Bandung: Mizan Anggota IKAPI, 2003), hlm. 164.

[9] Ibid

[10] Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan,  (Jakarta:  Rineka Cipta, 2001), hlm. 69-70

[11] Ahmad D.Marimba,  Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung:  PT al-Ma’arif, 1998), hlm. 20.

[12] Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif,  (Jakarta:  Rineka cipta, 200)   hlm. 22.

[13] Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003, (Jakarta: BP.Cipta Jaya, 2003), hlm. 4. (DEPDIKNAS, 2003: 163)

[14] M.Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2003), hlm. 4.

[15] Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam, (Yogyakarta:  Pustaka Pelajar, 2005),  hlm. 28-29

[16] Abdur Rahman Saleh, Pendidikan Agama dan Keagamaan, Visi, Misi dan Aksi, (Jakarta: PT Gemawindu Pancaperkasa, 2000),  hlm. 2-3.

[17] Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metoda Pendidikan Islam dalam Keluarga, di Sekolah dan di Masyarakat, (Bandung: CV.Diponegoro, 1996), hlm. 41.

[18] Muhaimin, Wacana Pengembangan Pendidikan Islam,  Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004   hlm. 23-24.

[19] Ibid

[20]Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam di Sekolah, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 30.

Under arsip:  Perkuliahan.com.

Post title :Definisi Pendidikan Islam

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*