Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

contoh karya tulis, KARYA ILMIAH SMA, SMU, MA

 under arsip:  Perkulihan.com.

Judul Artikel /MATERI :  contoh karya tulis, KARYA ILMIAH SMA, SMU, MA

Bidang  artikel /makalah  : tugas sekolah, tugas karya tulis

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

contoh karya tulis, KARYA ILMIAH SMA, SMU, MA

BOROBUDUR SEBAGAI SITUS PENINGGALAN BANGSA INDONESIA

 

Karya Tulis

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Mengikuti

Ujian Akhir Sekolah Pada

Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sigaluh

Tahun Pelajaran 2010/2011

 Disusun oleh:

 

 

Nama              : Ismiyah Romandani

NIS                 : 2215

Nama              : Putri Abadiah

NIS                 : 2247

Kelas               : XII

Jurusan          : IPA 1

 

 

 

 

 

 

PEMERINTAH KABUPATEN BANJARNEGARA

DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA

SMA NEGERI 1 SIGALUH

2010/2011

PENGESAHAN

 

Karya tulis ini telah disetujui dan disahkan untuk memenuhi persyaratan dalam menempuh Ujian Akhir Sekolah di SMA Negeri 1 Sigaluh Banjarnegara tahun pelajaran 2010/2011 pada:

Hari                 :

Tanggal           :

Tempat            :           Sigaluh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengetahui:

 

Kepala SMA Negeri 1 Sigaluh                                   Guru Pembimbing

Drs. SUPRIYANTO, MM                                       Drs. HARSONO

       Nip. 196209141986011002

 


MOTTO

 

v  Tujuan adalah cita-cita yang memiliki batas waktu.

v  Kita hidup berdasarkan pilihan, bukan kesempatan.

v  Kita harus mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu.

v  Tidak ada pengganti untuk kerja keras.

v  Hidup memang sulit, dan tak selalu adil.

v  Kejujuran masih menjadi acuan utama dalam hidup.

v  Hidup lebih mudah bila kita mengetahui apa yang penting.

v  Sikap adalah sebuah pilihan terpenting yang pernah anda buat.

v  Hidup itu menyenangkan, luar biasa menyenangkan.

v  Sukses lebih dari sekedar menghasilkan uang.

v  Motivasi yang sebenarnya muncul dari dalam.

v  Kebiasaan adalah kunci sukses dalam bentuk apapun.

v  Bangunlah kehidupan berlandaskan rasa hormat.

v  Yang paling penting adalah menjadi orang baik.

v  Learn from yesterday, do best for today, and plan better for tomorrow.

v  Continuous improvement.

v  Don’t have hurt others.

v  Don’t forget to take a pray.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HALAMAN PERSEMBAHAN

 

Karya tulis ini dipersembahkan kepada:

  1. Bapak Drs. Supriyanto, MM selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Sigaluh yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk menyusun karya tulis ini.
  2. Bapak dan Ibu guru di SMA Negeri 1 Sigaluh tercinta yang telah membekali kami ilmu selama kami belajar di sekolah.
  3. Bapak Drs. Harsono selaku pembimbing.
  4. Wali kelas XII IPA 1.
  5. Ayah dan Ibu tersayang.
  6. Pembaca yang budiman.

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat  menyelesaikan karya tulis ini. karya tulis ini disususn untuk memenuhi dan melengkapi sebagai persyaratan pendidikan dalam menempuh Ujian Nasional (UN)

tahun pelajaran 2010/2011.

Dalam kesempatan ini kami ingin mengucapakan terima kasih kepada:

1. Ayah dan ibu yang telah memberi motivasi dan senantiasa mendoakan sehingga penulis      dapat menyelesaikan karya tulis ini.

2. Bapak Drs.Supriyanto, MM selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Sigaluh yang telah membantu sehingga karya tulis ini dapat tersusun dengan baik.

3. Bapak Drs.Harsono selaku pembimbing yang telah membantu dan membimbing kami dalam penyusunan karya tulis ini.

4. Teman-teman dan adik kelas kami yang tersayang yang membantu penulis dalam pembuatan karya tulis ini.

Kami menyadari sepenuhnya bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna, banyak sekali kekurangan, oleh karena itu kami sangat mengharap dukungan, kritik maupun saran dari pembaca. Kami berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat.

Demi kesempurnaan karya tulis ini kami sangat mengharapkan saran maupun kritik dari pembaca, sehingga dalam pembuatan karya tulis selanjutnya lebih baik.

Banjarnegara, Januari 2011

Penyusun

 

 

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN PENGESAHAN

HALAMAN MOTTO

HALAMAN PERSEMBAHAN

DAFTAR ISI

BAB I             PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
  2. Rumusan Masalah
  3. Tujuan Penelitian
  4. Segi peninjauan
  5. Metode Penulisan

BAB II                        PEMBAHASAN

A. SELUK BELUK BOROBUDUR

v  Keadaan Geografis

v  Nama Borobudur

v  Sejarah Borobudur

v  Struktur Borobudur

v  Relief Borobudur

v  Arca Borobudur

B. BOROBUDUR SEBAGAI SITUS PENINGGALAN BANGSA INDONESIA

v  Borobudur Adalah Situs Peninggalan Dunia

v  7 Keajaiban di Dunia

  1. TAHAP PEMBANGUNAN DAN PEMUGARAN BOROBUDUR

BAB III          PENUTUP

A. Simpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Alam memang selalu menyajikan keindahan dirinya untuk kita pandang. Dunia ini memang unik, dia selalu menyajikan panorama untuk kebutuhan manusia, hanya saja manusia masih kurang menjaga keindahannya. Sehingga tidak sedikit alam yang menjadi korban ketamakan dan keserakahan mereka. Borobudur yang terletak di Jawa Tengah tepatnya di kabupaten Magelang, bisa saja pupus keindahannya kalau kita mengabaikannya. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan merawat dan menjaga borobudur yang menjadi peninggalan bangsa Indonesia tersebut. Sehingga, kesadaran inilah yang menjadikan penulis mengangkat topik tentang “Candi Borobudur”.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah seluk beluk candi borobudur?
  2. Bagaimanakah posisi borobudur sebagai salah satu bangunan bersejarah di dunia?
  3. Bagaimanakah tahap pemugaran borobudur?

C. Tujuan Penelitian

  1. Menelusuri seluk beluk candi borobudur.
  2. Mengetahui hakikat borobudur di mata dunia.
  3. Mengetahui tahap-tahap pemugaran borobudur.

D. Segi Peninjauan

  1. Keunikan bentuk fisik Borobudur.
  2. Objek-objek yang ada di candi Borobudur.
  3. Referensi tentang sejarah dan mitos Borobudur.

E. Metode Penulisan

            Dalam penusunan karya tulis ini, penulis menggunakan metode sebgai berikut:

  1. Metode Heuristik

Pengumpulan data dengan cara menghimpun jejak-jejak masa lampau.

  1. Metode Verifikasi (Kritik Sumber)

Kegiatan meneliti sumber untuk menentukan validitas dan realibilitas sumber sejarah yang dikumpulkan, yaitu kegiatan meneliti sumber-sumber sejarah baik secara ekstren maupun intern.

  1. Metode Interpretasi

Terdiri atas analisis dan sintesis. Analisis yaitu menguraikan, menemukan fakta berdasarkan data yang diperoleh. Sedangkan sintesis yaitu menyatukan data yang terkumpul ditemukan fakta.

  1. Metode Histiografi

Menyampaikan dan menyajikan hasil interpretasi secara tertulis dalam bentuk karya sejarah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. SELUK BELUK BOROBUDUR

Keadaan Geografis

Borobudur adalah nama sebuah candi Budha yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Yang memiliki / -7.608; 110.204koordinat: 7°36′29″S 110°12′14″E / 7.608°LS 110.204°BT / -7.608; 110.204. Arsiteknya ialah Gunadharma dan selesai sekitar 800 TM. Jenis bangunannya berupa stupa dan candi.

Lokasi candi kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Dalam etnis Tionghoa, candi ini disebut juga 婆羅浮屠 (Hanyu Pinyin: pó luó fú tú) dalam bahasa Mandarin. (wikipedia Indonesia)

Nama Borobudur

Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya “gunung” (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan “para Buddha” yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi atau biara dan beduhur artinya ialah “tinggi”, atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti “di atas”. Jadi maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.

Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M. Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang disebut Bhūmisambhāra.  Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra Bhudhāra dalam bahasa sansekerta yang berarti “Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa”, adalah nama asli Borobudur.

Sejarah Borobudur

Strategisnya lokasi Candi Borobudur yang megah dan kokoh sudah banyak dituliskan oleh beberapa peneliti dan arkeolog (Sutanto, 2005). Tetapi banyak peneliti yang sampai dengan sekarang masih belum dapat memastikan kapan didirikannya Candi Borobudur. Tetapi perkiraan berdirinya candi tersebut didasarkan pada tulisan singkat yang dipahatkan diatas pigura relief-relief yang terdapat di kaki candi, yaitu kurang lebih pada akhir abad ke 8 sampai awal abad ke 9, atau sekitar tahun 800 Masehi.

Candi Borobudur berada dalam kerangka abad keemasan wangsa Syailendra, yakni antara abad 8  sampai dengan abad 9. Kejayaan ini ditandai dengan dibangunnya sejumlah besar bangunan candi-candi yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatra. Beberapa prasasti menunjukkan bahwa candi Borbudur merupakan ekspresi wangsa Syailendra untuk menjunjung tinggi dan mengagungkan agama Budha Mahayana.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa candi Borobudur dibangun pada saat masa kepemimpinan Raja dari wangsa Syailendra yang sangat terkenal, yaitu Samaratungga, sekitar tahun 800-an Masehi. Pada masa itu, pembangunan candi ini diyakini dengan menghiasi/menambahkan bebatuan pada wilayah perbukitan alami, sehingga Borobudur diyakini merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas bukit yang menjulang tinggi. Batu yang disusun menjadi candi tersebut merupakan batu andesit sebanyak 55.000 m3, dengan bangunan berbentuk limas yang berjenjang yang dilengkapi tangga naik di keempat sisinya. Pada masa pemerintahan Raja Samaratungga candi Borobudur digunakan sebagai pusat kegiatan religius dan pemujaan serta ziarah pada masa Raja Samaratungga. Selain itu, candi ini juga dikenal sebagai centre of knowledge dan pusat kebudayaan agama Budha Mahayana, serta pusat kehidupan dan perekonomian masyarakat pada era wangsa Syailendra.

Kejayaan Borobudur diyakini bertahan selama 150 tahun dan berangsur pudar dan cenderung mengalami kehancuran seiring dengan runtuhnya kejayaan wangsa Syailendra, yang digantikan oleh tumbuh dan berkembangnya era Kerajaan Mataram di tahun 930 (atau kira-kira abad ke 10).  Perubahan ini membawa dampak pada bergesernya pusat kebudayaan dan kehidupan masyarakat kearah timur, yaitu di Jogjakarta. Dampak lain pergantian kekuasaan ini adalah hancur dan rusaknya candi Borobudur, hingga pada akhirnya terlupakan dan hilang di telan masa.

Orang yang berjasa merestorasi dan mengangkat bangunan candi Borobudur dari kegelapan dan kepunahan adalah Sir Thomas Stanford Rafles pada tahun 1814. Rafles adalah seorang Letnan Gubernur Jenderal Inggris yang berkuasa menjajah Indonesia pada tahun 1811-1816. Usaha Rafles tersebut diteruskan oleh seorang Residen Kedu yang bernama Hartman, dengan melakukan pembersihan puing-puing dari kotoran tanah dan lumpur (tanah dan lumpur ini diyakini merupakan sisa lava dan erupsi lutusan salah satu Gunung berapi yang ada pada saat itu).

Struktur Borobudur

Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.

Sepuluh pelataran yang dimiliki Borobudur menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. Bagaikan sebuah kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau “nafsu rendah”. Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana. Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini menemukan banyak patung seperti ini.

Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand, Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk struktur Mandala. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.

Relief Borobudur

Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.

Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Adapun susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut.

 

 

 

Bagan Relief

Tingkat

Posisi/letak

Cerita Relief

Jumlah Pigura

Kaki candi asli - —– Karmawibhangga 160 pigura
Tingkat I - dinding a. Lalitawistara 120 pigura
——- - —– b. jataka/awadana 120 pigura
——- - langkan a. jataka/awadana 372 pigura
——- - —– b. jataka/awadana 128 pigura
Tingkat II - dinding Gandawyuha 128 pigura
——– - langkan jataka/awadana 100 pigura
Tingkat III - dinding Gandawyuha 88 pigura
——– - langkan Gandawyuha 88 pigura
Tingkat IV - dinding Gandawyuha 84 pigura
——– - langkan Gandawyuha 72 pigura
——– Jumlah ——– 1460 pigura

Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :

Karmawibhangga

Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir – hidup – mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.

Lalitawistara

Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti “hukum”, sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.

Arca Borobudur

Selain wujud buddha dalam kosmologi buddhis yang terukir di dinding, di Borobudur terdapat banyak arca buddha duduk bersila dalam posisi lotus serta menampilkan mudra atau sikap tangan simbolis tertentu.

Patung buddha dalam relung-relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung , baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Buddha di tingkat Rupadhatu. Pada bagian Arupadhatu (tiga pelataran melingkar), arca Buddha diletakkan di dalam stupa-stupa berterawang (berlubang). Pada pelataran melingkar pertama terdapat 32 stupa, pelataran kedua 24 stupa, dan pelataran ketiga terdapat 16 stupa, semuanya total 72 stupa. Dari jumlah asli sebanyak 504 arca Buddha, lebih dari 300 telah rusak (kebanyakan tanpa kepala) dan 43 hilang (sejak penemuan monumen ini, kepala buddha sering dicuri sebagai barang koleksi, kebanyakan oleh museum luar negeri).

Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus diantaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan. Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, dimana masing-masing arca buddha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Buddha pada pagar langkan kelima dan arca buddha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: Tengah atau Pusat. Masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Buddha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.

Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca buddha di Borobudur adalah:

 

Mudra

Melambangkan

Dhyani Buddha

Arah Mata Angin

Lokasi Mudra

Bhumisparsa mudra Memanggil bumi sebagai saksi Aksobhya Timur Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi timur
Wara mudra Kedermawanan Ratnasambhawa Selatan Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi selatan
Dhyana mudra Semadi atau meditasi Amitabha Barat Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi barat
Abhaya mudra Ketidakgentaran Amoghasiddhi Utara Relung di pagar langkan 4 baris pertama Rupadhatu sisi utara
Witarka mudra Akal budi Wairocana Tengah Relung di pagar langkan baris kelima (teratas) Rupadhatu semua sisi
Dharmachakra mudra Pemutaran roda dharma Wairocana Tengah Di dalam 72 stupa di 3 teras melingkar Arupadhatu

 

 

 

 

 

B. BOROBUDUR SEBAGAI SITUS PENINGGALAN BANGSA INDONESIA

Mungkin sebagian orang Indonesia maupun pembaca pernah diajarkan di sekolah bahwa candi borobudur adalah salah satu dari 7 keajaiban di dunia. Tetapi di dalam daftar “Wonders of the World” (keajaiban di dunia) dan “Seven Wonders of the World” (tujuh keajaiban di dunia),  tidak atau belum pernah sama sekali borobudur disebutkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban di dunia.

Fakta yang benar borobudur adalah salah satu “World Heritage Site” (Situs Peninggalan Dunia) yang diakui oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientifiec, and Cultural Organization) pada tahun 1991. UNESCO sendiri adalah suatu lembaga internasional yang berkiprah dalam bidang pendidikan, pengetahuan, dan kebudayaan yang didirikan di bawah naungan PBB. Badan dunia ini mencatat ada sekitar 850 bangunan peninggalan penting dari seluruh wilayah di dunia, dan borobudur merupakan salah satunya. Saat diadakan pemilihan  7 keajaiban dunia yang baru, UNESCO sendiri merasa kesulitan dalam memilih hanya 7 bangunan saja sebagai keajaiban dunia dari sekian banyak situs peninggalan. Agar berlangsung dengan baik, diterapakan sistem polling (pemungutan suara) dalam memilih 7 tempat tersebut pada 7 Juli 2007. Namun setelah hasil didapat, borobudur tidak termasuk salah satu dari  tujuh keajaiban dunia. Berikut adalah daftar dari tujuh keajaiban di dunia dari berbagai versi:

  1. Keajaiban Dunia Kuno
  2. Keajaiban Dunia Pertengahan
  3. Keajaiban Dunia Alami
  4. Keajaiban Dunia Bawah Air
  5. Keajaiban Dunia Modern
  6. 7 Keajaiban Dunia Baru
  • Tujuh Keajaiban Dunia Kuno

Pencetus awal daftar ini adalah Antipater Sidon, yang membuat daftar struktur dalam sebuah puisi (sekitar 140 SM).

  • “Aku telah melihat tembok Babilonia yang agung yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang, dan patung Zeus di Alfeus, dan taman-taman gantung, dan Kolosus Matahari, dan karya besar yang membangun piramida-piramida tinggi, serta kuburan yang besar dari Mausolus; namun ketika aku melihat rumah Artemis yang menjulang ke awan-awan, yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, ‘Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung.’” (Antipater, Greek Anthology IX.58)

 

  1. Colossus Rodos — patung Helios yang sangat besar, dibuat sekitar tahun 292–280 SM oleh Chures, sekarang Yunani.
  2. Taman Gantung Babilonia — dibuat oleh Nebukadnezar II, sekitar abad ke-8 SM–abad ke-6 SM, sekarang Irak.
  3. Mausoleum Mausolus — makam Mausolus, satrap Persia, Caria, dibuat pada tahun 353–351 SM, di kota Halicarnassus, sekarang Bodrum, Turki.
  4. Mercusuar Iskandariyah — mercusuar dibangun sekitar tahun 270 SM di pulauPharos dekat Alexandria pada masa pemerintahan Ptolemeus II oleh arsitek Yunani Sostratus, sekarang Mesir.
  5. Piramida Giza — dipakai sebagai makam untuk firaun Mesir Khufu, Khafre, dan Menkaure, sekarang Mesir. Dibangun pada dinasti ke-4 Mesir (sekitar 2575– sekitar 2465 SM)
  6. Patung Zeus — berada di Olympia, dipahat oleh pemahat Yunani Fidias, kira-kira 457 SM sekarang Yunani.
  7. Kuil Artemis — 550 SM, di Efesus, sekarang Turki.

Sejarawan Herodotus, orang pintar Callimachus dari Kirene (kira-kira 305 SM – 240 SM), teknisi Filon dari Bizantium telah membuat daftar yang lebih awal namun tulisan-tulisan ini tidak ada yang terselamatkan, kecuali hanya sebagai referensi.

Keajaiban Dunia Pertengahan

Setelah keruntuhan peradaban kuno, ingatan akan keajaiban dunia kuno yang hancur perlahan menghilang. Kaum cerdik-pandai dan filsuf meninjau ulang dan menulis kembali daftar keajaiban, menghilangkan yang lama dan menggantikannya dengan “yang baru dibuat” sementara kisah mereka menyebar. Setelah beberapa abad sebuah konsensus muncul dalam bentuk daftar Tujuh Keajaiban Pikiran Pertengahan:

  1. Katakombe Kom el Shoqafa
  2. Colosseum
  3. Tembok Besar China
  4. Hagia Sophia
  5. Menara miring Pisa
  6. Menara porselen Nanjing (Nanjing, Cina)
  7. Stonehenge (Skotlandia, Britania Raya)

Keajaiban alam

Sama dengan daftar keajaiban dunia lainnya, tidak ada kesepakatan akan daftar tentang keajaiban alam dunia. Salah satu dari daftar keajaiban dunia alami disusun oleh CNN:

  1. Grand Canyon
  2. Great Barrier Reef
  3. Pelabuhan Rio de Janeiro
  4. Mount Everest
  5. Northern Lights
  6. Volkano Paricutín
  7. Air terjun Victoria

Keajaiban bawah air

Meskipun keajaiban dunia bawah laut adalah keajaiban dunia alami dan tidak dibuat oleh manusia; keajaiban di bawah ini bisa berada di dalam laut, di bawah permukaan laut, atau dikelilingi oleh perairan.

  1. Karang Penghalang Belize
  2. Deep-Sea Vents
  3. Kepulauan Galapagos
  4. Karang Penghalang Besar
  5. Danau Baikal
  6. Laut Merah Utara
  7. Palau

Keajaiban modern

Banyak orang sudah menyusun daftar Keajaiban dunia modern (Sekarang). Daftar yang paling umum adalah:

  1. Terowongan Channel (Britania Raya dan Perancis)
  2. Menara CN (Toronto, Kanada)
  3. Empire State Building (New York, Amerika Serikat)
  4. Jembatan Golden Gate (San Francisco, AS)
  5. Dam Itaipu (Brazil dan Paraguay)
  6. Borobudur (Indonesia)
  7. Terusan Panama (Panama)

7 Keajaiban baru

Sebuah projek tentang 7 keajaiban dunia secara luas. Pada tanggal 7 Juli 2007 terpilih 7 Keajaiban dunia baru dengan suara terbanyak yaitu:

Keajaiban

Simbol

Lokasi

Tembok Besar Tiongkok Perlindungan, Terus Menerus Republik Rakyat Cina
Petra Teknik, Perlindungan Jordan
Patung Kristus Penebus Penerimaan, Keterbukaan Rio de Janeiro, Brazil
Machu Picchu Komunitas, Dedikasi Cuzco, Perú
Chichén Itzá Pemujaan, Ilmu Pengetahuan Yucatán, Mexico
Colosseum Kesenangan, Penderitaan Roma, Italy
Taj Mahal Cinta, Hasrat Agra, India
Piramida Giza

(Kandidat Kehormatan, karena satu-satunya dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno yang masih ada)Tidak Punah, KeabadianKairo, Mesir

(http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuh_Keajaiban_Dunia)

C. TAHAP PEMBANGUNAN BOROBUDUR

  • Tahap pertama

Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

  • Tahap kedua

Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

  • Tahap ketiga

Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

  • Tahap keempat

Ada perubahan kecil seperti pem buatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

Ikhtisar waktu proses pemugaran Candi Borobudur

Teras tertinggi setelah restorasi Van Erp. Stupa utama memiliki menara dengan chattra (payung) susun tiga.

  • 1814 – Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa, mendengar adanya penemuan benda purbakala di desa Borobudur. Raffles memerintahkan H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan, berupa bukit yang dipenuhi semak belukar.
  • 1873 – monografi pertama tentang candi diterbitkan.
  • 1900 – pemerintahan Hindia Belanda menetapkan sebuah panitia pemugaran dan perawatan candi Borobudur.
  • 1907 – Theodoor van Erp memimpin pemugaran hingga tahun 1911.
  • 1926 – Borobudur dipugar kembali, tapi terhenti pada tahun 1940 akibat krisis malaise dan Perang Dunia II.
  • 1956 – Pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO. Prof. Dr. C. Coremans datang ke Indonesia dari Belgia untuk meneliti sebab-sebab kerusakan Borobudur.
  • 1963 – Pemerintah Indonesia mengeluarkan surat keputusan untuk memugar Borobudur, tapi berantakan setelah terjadi peristiwa G-30-S.
  • 1968 – Pada konferensi-15 di Perancis, UNESCO setuju untuk memberi bantuan untuk menyelamatkan Borobudur.
  • 1971 – Pemerintah Indonesia membentuk badan pemugaran Borobudur yang diketuai Prof.Ir.Roosseno.
  • 1972 – International Consultative Committee dibentuk dengan melibatkan berbagai negara dan Roosseno sebagai ketuanya. Komite yang disponsori UNESCO menyediakan 5 juta dolar Amerika Serikat dari biaya pemugaran 7.750 juta dolar Amerika Serikat. Sisanya ditanggung Indonesia.
  • 10 Agustus 1973 – Presiden Soeharto meresmikan dimulainya pemugaran Borobudur; pemugaran selesai pada tahun 1984
  • 21 Januari 1985 – terjadi serangan bom yang merusakkan beberapa stupa pada Candi Borobudur yang kemudian segera diperbaiki kembali. Serangan dilakukan oleh kelompok Islam ekstremis yang dipimpin oleh Husein Ali Al Habsyi.
  • 1991 – Borobudur ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO. (Kompas, 2000)

BAB III

PENUTUP

 

A. Simpulan

Dengan terselesaikannya karya tulis ini, berarti penulis telah menyelesaikan salah satu syarat guna mengikuti Ujian Nasional di SMA Negeri 1 Sigaluh. Dari uraian yang telah disampaikan dalam karya tulis ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Untuk pertama kalinya Candi Borobudur diketahui dari naskah negara kertagama karya Mpu Prapanca pada tahun 1365 M, disebutkan tentang Biara di Budur. Setelah kian lama tidak terawat Candi Borobudur tertutup tanah dan bebatuan dari Gunung Merapi. Atas berkat Raffles dan Cornelius Candi Borobudur tersebut ditampakkan seperti dahulunya. Banyak para ahli yang menafsirkan nama Candi Borobudur, namun sebagian besar mengatakan bahwa Borobudur berasal dari kata Boro dan Budur. Bhara berarti Vihara dan Budur merujuk pada nama tempat. Candi Borobudur teletak di sebelah selatan Gunung Tidar tepatnya di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah.
  2. Candi Borobudur merupakan salah satu “World Heritage Site” yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia yang harus dilestariakan oleh seluruh masyarakat Indonesia agar tidak hilang pesonanya.
  3. Pemugaran Candi Borobudur dilakukan pada massa pemerintahan Raffles maupun Residen Hartman juga dilakukan oleh Theodarus Van Erp. Bangunan Candi Borobudur berbentuk limas berundak. Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2, tersusun dari 55.000 m3 dan terdiri dari 2 juta potongan batu alam. Ukuran batunya rata-rata 25 cm x 10 cm x 15 cm. Berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Sedangkan tinggi Candi Borobudur dahulunya 42 m dari permukaan tanah sampai ujung stupa. Namun sekarang tinggal 34,5 m.

B. Saran

1.  Kita sebagai generasi muda harus menadi generasi penerus bangsa dengan cara giat belajar dan berlatih supaya menjadi siswa – siswi yang terampil dan bertaqwa
2.  Kita sebagai warga negara harus menjaga dan melestarikan bdaya bangsa dengan          memelihara tempat – tempat bersejarah sebagai peninggalan nenek moyang kita
3.  Penulis berharap dengan berkembangnya kebudayaan barat di harapkan pada rekan      generasi muda mampu memilih dan menilia budaya yang masuk dan berusaha        mempertahankan kebudayaan bangsa sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Moertjipto.1993.Candi Pawon dan Mendut.Yogjakarta:Kanisius
  2. Drs. R. Soetarno. 1998. Aneka Candi Kuno di Indonesia. Solo
  3. Soeharsono.1969.Petunjuk Singkat Untuk Banguanan Suci Borobudur.Yogjakarta:Taman Siswa Yogjakarta
  4. (http://id.wikipedia.org/wiki/Tujuh_Keajaiban_Dunia)

 

Category: Tugas Sekolah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*