Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

makalah Metode Kisah Dalam Mencapai Tujuan Pendidikan Islam

makalah Metode Kisah Dalam Mencapai Tujuan Pendidikan Islam

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : makalah Metode Kisah Dalam Mencapai Tujuan Pendidikan Islam

Bidang  postingan  : 

 

 

Makalah / Metode Kisah Dalam Mencapai Tujuan Pendidikan Islam

 Mari kuliah bersama dalam forum kuliah bebas di perkuliahan.com dengan tema : makalah Metode Kisah Dalam Mencapai Tujuan Pendidikan Islam

editorial asdir : Mizanto, S.Pd.I/ asst admin.

Dalam memahami pendidikan islam terutama dalam aspek aplikatif pengajaran kita membutuhkan metode dan strategi yang benar-benar jitu, karena aspek inilah yang nantinya berpengarus terhadap proses pembelajaran yang sifatnya simultan.

Pentingnya metode kisah jika dibandingkan metode lain adalah selain kemampuannya menyentuh aspek kognitif, juga efektif menyentuh aspek afektif, hal tersebut berpotensi membentuk aspek psikomotorik, yakni mengajak anak untuk berperilaku sesuai dengan apa yang dikisahkan, meniru perilaku baik dari pelaku yang dikisahkan setelah memahami dan menghayati isi kisah yang dipaparkan, kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Metode kisah merupakan salah satu metode pendidikan Islam yang diharapkan dapat mempengaruhi anak, terutama dalam penyucian, pengukuhan dan pembersihan jiwa yang merupakan tujuan utama dari pendidikan Islam. Dengan terealisasinya tujuan tersebut, maka masyarakat akan berperilaku luhur dan menjauhi segala kemungkaran serta perbuatan keji, sehingga tidak ada seorangpun yang berbuat aniaya terhadap orang tua dan seluruh anggota masyarakat. Mereka akan sama-sama menjalankan perintah Allah, berbuat makruf, menegakkan keadilan dan melakukan perbaikan serta kebajikan. Makna-makna tersebut tercantum dalam firman Allah SWT :

انّ الله يأ مر بالعدل والاحسان وايتائ ذى لقربىﺭﻛﻧﻣﻟﺍﻮ ﺈﺷﺤﻔﻟﺍ ﻥﻋﻰﻬﻧﻳﻮ والبغي يعظكم لعلّكم تذكّرون.(النحل : 90)

 

Artinya : “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”. (Q.S. An Nahl : 90).

 

Penjelasan di atas merupakan urgensi metode kisah secara umum. Secara khusus metode kisah dalam upaya mencapai tujuan pendidikan Islam, yaitu tujuan kognitif, afektif dan psikomorik, di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Supaya anak tidak menyekutukan Allah SWT.

Penanaman rasa keimanan sejak usia dini akan menjadikan anak mempunyai ajaran tauhid yang menjadi landasan dan pondasi bagi kepribadian mereka. Pendidikan yang utama dan pertama untuk dilakukan oleh seorang pendidik dan orang tua adalah pembentukan keyakinan kepada Allah SWT yang diharapkan dapat melandasi sikap, tingkah laku dan kepribadian anak.

Rasa keimanan yang ditanamkan oleh orang tua pada anak sejak usia dini akan menjadikan anak berpegang teguh pada suatu keyakinan, karena dengan keyakinan tersebut anak tidak akan mudah goyah bila ada yang mempengaruhi dan mengganggunya untuk melakukan perbuatan syirik atau menyekutukan Allah. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

وإذ قال لقمن لابنه وهو يعظه يبنيّ لاتشرك بالله قلى إن الشرك لظلم عظيم. ( لقمن : ١٣)

 

Artinya : “Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kedhaliman yang besar”. (Q.S. Luqman : 13).

 

Akidah dalam Islam meliputi keyakinan dalam hati tentang Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah, ucapan dengan lisan dalam bentuk dua kalimah syahadah, yaitu menyatakan tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, dan perbuatan yang dibuktikan dengan amal saleh. Akidah yang demikian itu mengandung arti bahwa dari orang yang beriman tidak ada rasa dalam hati atau ucapan di mulut dan perbuatan melainkan secara keseluruhan menggambarkan iman kepada Allah, yaitu tidak ada niat, ucapan, perbuatan yang dilakukan oleh orang beriman kecuali sejalan dengan kehendak Allah.

Penanaman kepercayaan kepada Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan, akan menjadikan anak merasa tenang dan tetap berpijak pada ajaran Islam, sehingga anak dapat menjalani kehidupan dengan mantap, tenang dan bahagia, karena anak akan selalu mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

2. Supaya anak bersyukur kepada Allah SWT.

Bersyukur adalah berterima kasih atas segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah, kemudian digunakan untuk beribadah kepada-Nya. Bersyukur kepada Allah SWT akan menambah kebaikan dan rizki, tetapi sebaliknya bila seseorang kufur terhadap nikmat yang diberikan-Nya, maka Allah akan menyiksanya. Allah berfirman :

ﻮﺇﺫﺗﺄﺫﻥ ﺭﺒﻛﻢ ﻮ لئن شكرتم لأزيد نكم ولئن كفرتم إن عذابي لشد يد.

(إبراهيم : ٧)

 

Artinya : “Dan ketika Tuhanmu menganugerahkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu dan jika kamu kufur sesungguhnya adzab-Ku amat pedih”. (Q.S. Ibrahim : 7).

 

Dari ajaran bersyukur kepada Allah SWT, orang tua wajib mengenalkan kepada anaknya siapakah Allah itu dan menjunjung-Nya sampai ajaran tauhid, yakni mengesakan Allah dengan segala macam keyakinan yang bersangkut paut dengan tauhid.

Tujuan dari ajaran bersyukur adalah agar anak mengenal dan mengerti siapa yang berjasa pada dirinya. Bila anak telah mengenal dan mengetahui bahwa yang berjasa itu adalah Dzat Yang Maha Pemurah yaitu Allah, maka anak itu akan bersyukur kepada Allah dengan mengesakan dan beribadah sesuai dengan ajaran agama Allah.

3. Supaya anak mempunyai keteguhan iman atau iman yang kuat.

Pendidikan Islam yang disampaikan dengan metode kisah yang ditanamkan sejak anak masih kecil, maka mendorong anak mempunyai rasa keyakinan yang kuat dan kokoh. Dengan landasan dan pondasi yang kuat dan kokoh, anak akan mempunyai rasa optimis dalam menjalankan kehidupannya karena jiwanya telah menyatu dengan tujuan hidupnya yaitu melakukan segala sesuatu hanya karena Allah. Dengan demikian maka penanaman rasa keimanan sejak kecil akan membentuk seseorang mempunyai iman yang kuat dan tidak mudah digoyahkan. Iman yang kuat akan berpeluang menumbuhkan perilaku yang sesuai dengan ajaran Allah SWT.

4. Supaya anak mempunyai jiwa sosial yang tinggi.

Dengan kisah-kisah atau cerita-cerita yang benar disampaikan kepada anak sejak kecil, maka anak akan terbiasa menjalankan adab sosial yang baik, mempunyai dasar-dasar psikis yang mulia yang bersumber pada akidah Islamiah yang abadi dan perasaan keimanan yang mendalam, dan di masyarakat nanti akan dapat bergaul dan beradab dengan baik, memiliki keseimbangan akal yang matang dan tindakan bijaksana.

Seorang pendidik, baik orang tua maupun guru, harus mengajarkan dan menanamkan jiwa sosial kepada anak sejak usia dini. Dengan menanamkan akidah dan akhlak yang baik pada diri anak sejak kecil, maka pada usia dewasa nanti ia akan mampu bergaul dengan orang lain di masyarakat dengan perangai yang baik dan lemah lembut, mencintai orang lain, tidak sombong, bertoleransi tinggi kepada temannya, suka menolong dan berakhlak mulia.

Agar fungsi di atas dapat terealisasikan dengan baik, tentunya guru harus memahami anak dan tingkat kecerdasannya. Dalam sebuah pendapat diungkapkan bahwa :

“Apabila anda hendak memupuk sikap taat ataupun yang lainnya, hendak terlebih dahulu anda mempelajari dunia anak dan pahamilah alam pikirannya. Apabila anda berjanji kepadanya, maka tunaikanlah dan sekiranya janji itu tidak dapat anda tunaikan maka jelaskanlah apa penyebabnya agar anak tidak hilang kepercayaannya terhadap anda”.

Pelajaran yang hendak disampaikan kepada anak hendaknya menyesuaikan kemampuan anak, sebab hal ini menjadi bahan pertimbangan apakah anak dapat menangkap apa yang akan diceritakan atau tidak. Bila anak dapat menerima apa yang disampaikan berarti tujuan pendidikan berpeluang besar akan dapat tercapai dan metode yang kita gunakan benar-benar berfungsi.

makalah Metode Kisah Dalam Mencapai Tujuan Pendidikan Islam

under arsip:  Perkulihan.com.

Fungsi UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003, Pendidikan Islam

Makalah / Artikel Tentang UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003  dalam Pendidikan Islam

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Makalah /Artikel Tentang Tujuan  dalam
Pendidikan Islam

Bidang  postingan  :  UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003  dalam Pendidikan Islam

Perkuliahan.com, dalam upaya menambah wacana dan  khasanah keilmuan pendidikan, terutama dalam Pendidikan Islam maka perkuliahan.com berusaha untuk berkontribusi dalam mewujudkanya. Melalui makalah dan artikel ringan diharapkan  bisa sedikit memberi warna dunia pendidikan, walaupun dalam postingan perkuliahan.com belum bisa diketegorikan sebagai wacana / artikel ilmiah atau sebagai makalah pendidikan, namun hidup harus optimis dan selalu melakukan hal yang paling mudah dan terbisa saat ini. (lagi pengen meramaikan Google dan  Yahoo he)

Serial postingan perkuliahan.com kali ini mengangkat beberapa materi yang terkait dan berkesinambungan dalam dimensi pendidikan Islam, diantaranya beberapa wacana kecil tentang, Pengertian Pendidikan Islam, Dasar Filosofis Pendidikan Islam,Tujuan  Pendidikan Islam, Metode Pendidikan Islam, Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam, Evaluasi Pendidikan Islam, Sosial Keagamaan, Dimensi Sosial Keagamaan, Peran Sosial Keagamaan dalam Pendidik Islam, Aplikasi  Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam, Pendidikan Islam dalam Perspektif  Sosial Keagamaan.

Selanjutnya memposting juga  mengenai hubungan strategis dalam keilmuan yang mendukung  yaitu wacana tentang, Hakekat Manusia dalam Perspektif Islam,  Kedudukan Manusia dalam Konteks Pendidikan Islam

………………

Fungsi  Strategis UU Sisdiknas No 20 Tahun 2003  dalam Pendidikan Islam

Oleh; Mizanto, S.Pd.I

( Universitas Sains Al-Qur’an ( UNSIQ ) Jawa Tengah di Wonosobo )

 

Kelembagaan  di suatu negara tanpa ditopang dengan konstitusi yang menagatur dan memayungi secara jelas dan kuata maka lembaga-lembaga tersebut kedudukanya sangat rapuh, terlebih ketika menyangkut hak-hak normatif  kelembagaan. Dan ini yang menjadi sorotan utama dalam membangun kelembagaan mislakan pendidikan Islam, karena dengan adanya perundang-undangan yang jelas dalam memperlakukan sistem pendidikan Islam, maka sudah jelas membantu dalam menata dan membenahi pendidikan yang sistematis.

Adanya UU Sisdiknas dalam usahanya memberikan sumbangan untuk menata dan memperbaiki pendidikan keagamaan di negri ini ternyata mempunyai 2 (dua) sisi yang bertentangan, kedua sisi ini antara golongan yang pro dan kontra terhadap UU Sisdiknas yang dianggap terlalu mengurusi dan ikut campur dalam urusan beragama siswa dan keluarga, bahkan dinilai dari mereka (yang kontra) ini merupakan agenda politik untuk merencanakan tujuan-tujuan tertentu yang bertujuan mereduksi hak personal, terlebih dengan keterlibatan pemerintah dalam mengatur dan menentukan pendidikan keagamaan siswa.

Menurut  pandangan orang-orang yang kontra terhadap UU Sisdiknas ini sebagaimana tulisan yang digagas dalam buku Membuka Jendela Pendidikan,  yang ditulis oleh Imam Tolhkah dan Ahmad Barizi disana  secara lugas menuliskan beberapa poin tentang gugatan-gugatan mereka (golongan kontra)  diantaranya pada poin 2 (dua) sebagai berikut:

“Bagi mereka yang kontra terhadap RUU Sisdiknas berpandangan bahwa anak didik, perlu atau tidak, memperoleh pelajaran agama sejatinya adalah hak anak dan hak keluarga. Negara menurut mereka, tidak berwenang terhadap keagamaan seseorang dan karena itu, tidak berhak mewajibkan pelajaran agama. Anak didik seharusnya hanya disarankan untuk memperoleh keterampilan supaya ia mampu menjalankan “tugas panggilan” sebagai manusia dan warga negara. Namun agama menurut Franz Magnis Suseno- bukan sebuah keterampilan, melaikan keyakinan, dan keyakinan bukan urusan negara”[1]

Alasan ini cukup masuk akal, terlebih sebagaiman dalam UU Sisdiknas yang dalam pasal 12 ayat 1 poin a, yang menjelaskan tentang pelajaran agama yang diajarkan oleh mereka guru agama yang seagama, yang dinilai mengkerdilkan wawasan multikulturalisme keagamaan, karena hanya mempelajari agamanya, sehingga dalam hidup berdampingan dimasyarakat yang multi agama maka akan sulit untuk hidup berdampingan dalam suasana yang toleran, karena tak pernah tau kebenaran agama orang lain, dan cenderung menganggap superioritas dalam beragama yang berlebihan, sehingga tidak bisa melihat keyakinan dan kepercayaan orang lain secara obyektif.

Adanya UU Sisdikas bukan sebagaimana ungkapan diatas bahwa seakan-akan pemerintah merampas hak-hak siswa, namun justru pemerintah akan mendampingi, memfasilitasi, dan mengejawantahkan hak keberagamaan mereka dalam bingkai undang-undang dan hukum yang berlaku.[2] Ini merupakan konstruksi kelembagaan yang sangat strategis, karena dengan adanya pengayoman hukum yang berlaku akan menjadikan sarana untuk mengaktualisasikan potensi dibawah naungan hukum dan perundang-undangan.

Kalau dicermati lebih detail lagi bahwa sebenarnya pemerintah ingin mengaktualisasikan ide dan gagasan untuk membangun peradaban yang dilandasi dengan kekuatan moral dan norma yang lebih fundamental melalui jalur agama,  yaitu dengan adanya penanaman keyakinan agama sejak dini pada generasi masa depan bangsa. Bukan ditafsirkan sebagaiman mereka yang kontra dan berpandangan negatif tentang UU Sisdiknas yang seakan-akan dijadikan legitimasi pemerintah untuk mengambil alih kebebasan hak asasi.

 



[1] DR. Imam  Tholkhah, dan Ahmad Barizi, MA, Opcit, hal.174- 175

[2] Ibid, hal 178

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Makalah /Artikel Tentang Tujuan  dalam
Pendidikan Islam