Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Ideologi Pesantren

postingan ” Ideologi Pesantren ” merupakan tulisan dari skripsi teman saya, izin publish darinya agar lebih bermanfaat.
Under arsip: Perkuliahan.com.
next post : prinsip pengelolaan kelas
data post: Perkuliahan.com. edition of : 178
 

Pengertian Ideologi Pendidikan Pesantren

Ideologi menurut kamus adalah kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup; paham, teori dan tujuan yang merupakan satu program.[1]

Menurut William F. O’neill dan juga yang dikutip dalam buku Prof. Abu Achmadi dalam buku Ideologi Pendidikan Islam “Ideologi adalah sistem yang dijadikan asas pendapat yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup, ideologi sifatnya mengarah pada aksi dan dalam pendidikan ideologi bermakna konsep cita-cita dan nilai-nilai yang secara eksplisit dirumuskan, dipercaya dan diperuangkan.”[2]

 

Pendidikan berasal dari kata “didik” kemudian mendapat imbuhan “pe-an”, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan berarti proses pengubahan sikap tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.[3] Dalam UU sisdiknas Th. 2003 yang dimaksud pendidikan ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.[4]

Sedangkan Pesantren berasal dari kata santri dan imbuhan “pe” di depan dan akhiran “an” yang berarti tempat tinggal atau asrama santri.[5] Sedangkan menurut istilah para ahli, pesantren adalah: sebuah asrama Islam tradisional di mana para santrinya tinggal bersama dan belajar di bawah bimbingan seorang atau guru, yang dikenal dengan kyai.[6] Senada dengan pengertian tersebut H.M. Arifin berpendapat:

“Pondok pesantren sebagai suatu lembaga Pendidikan Agama Islam yang tumbuh serta diakui oleh masyarakat sekitar, dengan sistem asrama di mana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajaran atau madrasah yang sepenuhnya di bawah kedaulatan dan leadhership seseorang atau beberapa orang kyai dengan ciri khas yang bersifat kharismatik serta independent dalam segala hal”.[7]

Menurut Manfred Ziemek, sebagaimana dikutip oleh Wahjoetomo menyebutkan bahwa kata pondok berasal dari funduq (Arab) yang berarti ruang tidur atau wisma sederhana, karena pondok memang merupakan tempat penampungan sederhana bagi para pelajar yang jauh dari tempat asalnya. Sedangkan kata pesantren berasal dari kata santri yang diimbuhi awalan pe- dan akhiran -an yang berarti menunjukkan tempat, maka artinya adalah tempat para santri. Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata sant (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.[8]

Sedangkan menurut Geertz, juga dikutip oleh Wahjoetomo, menjelaskan bahwa pengertian pesantren diturunkan dari bahasa India sastri yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis, maksudnya pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Geertz menganggap bahwa pesantren dimodifikasi dari pura Hindu.[9]

Dari beberapa penjelasan berbagai kata di atas, Disimpulkan dimaksudkan dengan ideologi pendidikan pesantren dalam penelitian ini adalah nilai-nilai yang ditransformasikan/dididikkan kepada santri oleh kyai, dalam hal ini penulis batasi pada kajian hukum-hukum Islam (fiqih) utamanya yang menyangkut hukum-hukum ibadah menurut aliran/madzhab tertentu.

Menurut Zamahsari Dhofier, ciri khas atau ideologi pendidikan pesantren sangat dipengaruhi oleh ideologi pendiri pesantren tersebut yang berfaham Ahlussunnha Wal Jamaah. Dan dalam kajian hukum-hukum Islam mengacu pada empat madzhab, dan penggunaan madzhab syafi’i sangat kentara dalam pesantren hal tersebut dapat dilihat dari kitab-kitab /kurikulum yang digunakan. Hal tersebut tidak bisa lepas dari faktor sejarah penyebaran Islam di Indonesia bahwa para Walisongo dalam praktek-praktek keagamaan “ibadah” menggunakan Madhab Syafi’i.[10]

Kemudian dipertegas lagi bahwa pada umumnya para kyai dibesarkan dan dididik dalam lingkungan pesantren yang memegang teguh faham Islam tradisional. Ketegasan para kyai memilih faham Islam tradisional ini secara jelas dapat dibuktikan dari kitab-kitab yang diajarkan dipesantren, hampir semua pondok pesantren yang ada di jawa merupakan pengikut faham Ahlussunnah Wal Jamaah dengan bepegang kepada tradisi sebagai berikut:

  1. Dalam bidang hukum-hukum Islam menganut ajaran-ajaran dari salah satu madzhab empat. Dalam praktek, para kyai adalah penganut kuat dari madzhab syafi’i.
  2. Dalam soal-soal tauhid, menganut ajaran Imam abu Hassan dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.
  3. Dalam bidang tasawwuf menganut dasar-dasar ajaran Imam Abu Qosim Al-Junaid.[11]

Kitab-kitab fiqih yang diajarkan di pondok pesantren berdasarkan penelitian Martin Van Bruinessen sebagian besar bercorak Syafi’i. Para santri memulai pelajarannya dengan rukun Islam yang lima dan peraturan ibadah dengan teks-teks yang sederhana seperti Safinah Al-Najah, Sullam Al-Taufiq, Al-Sitin Masalah, Mukhtasar oleh Ba-Fadl, dan Risalah karya Sayyid Ahmad Bin Zainal-Habsyi lalu mereka melanjutkan dengan mempelajari satu atau beberapa dari kitab fiqih berikut: Minhaj Al-Qawim-Al-Hawasyi Al Madaniyah, Fath Al-Qarib, Bajuri (syarah Fath Al-Qarib) Al-Iqna’ Bujairimi (syarah Al-Iqna’ , Al-Muharrar, Minhaj Al-Thalibin, Syarh Minhaj oleh Mahalli, Fath Al Wahbah, Tuhfah Al-Muhtaj, Fath Al-Mu’in [12](114)



[1] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, 2002,  hlm. 417

[2] Lihat William F. O’Neill, Op. Cit., hlm 33-34. Dan Achmadi, Ideologi Pendidikan Islam (Paradigma Humanisme Teodentris), Pustaka Pelajar, 2005, hlm. 9

[3] Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1995, hal. 232.

[4] UU RI No. 20 Th. 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Sinar Grafika, Jakarta, 2003, hlm. 5

[5] Zamakhsyari Dlofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai, AP3DS, Jakarta, 1984, hlm. 18.

[6] Ibid., hlm. 44.

[7] H.M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan, Bumi Aksara, Jakarta, 1995, hlm. 24.

[8]Wahjoetomo, Perguruan Tinggi Pesantren, Cet. I, Gema Insani Pers, Jakarta, 1997, hlm. 70.

[9]Ibid.

[10] Zamahsyari Dhofier, Op. Cit., hlm. 149

[11] Ibid., hlm. 149

[12] Martin Van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren Dan Tarekat, Mizan, Bandung, 1999, hlm. 114

Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas

apa PrinsipnPengelolaan Kelas
Under arsip: Perkuliahan.com.
next post :  Contoh Karangan Naratif ( Narrative) Bahasa Inggris SMA
data post: Perkuliahan.com. edition of : 177
apa prinsip umum dan kaedah dari pengelolaan kelas? berikut beberapa teori tentang pengelolaan kelas dari para ahli

 Prinsip-prinsip Pengelolaan Kelas

Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip pengelolaan kelas di sini adalah hal-hal yang dapat dijadikan pedoman atau pegangan guru di dalam mengelola, agar menjadi terarah dan efisien.

Dalam rangka memperkecil masalah gangguan dalam pengelolaan kelas, prinsip-prinsip pengelolaan kelas dapat dipergunakan, yaitu :

  1. Hangat dan antusias

Hangat dan antusias diperlukan dalam proses belajar mengajar. Guru yang hangat dan akrab dengan anak didik selalu menunjukkan atusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas.

  1. Tantangan

Penggunaan kata-kata tindakan, cara kerja atau bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang. Tambahan lagi akan dapat menarik perhatian anak didik dan dapat mengendalikan gairah belajar mereka.

  1. Bervariasi

Penggunaan alat atau media, atau alat bantu, gaya mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik akan mengurangi munculnya gangguan, meningkatkan perhatian anak didik. Apalagi bila penggunaannya bervariasi sesuai dengan kebutuhan. Kevariasian dalam penggunaan apa yang disebutkan di atas merupakan kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif dan menghindari kejenuhan.

  1. Keluwesan

Keluwesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik, serta menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif. Keluwesan pengajaran dapat mencegah munculnya gangguan seperti keributan anak didik, tidak ada perhatian, tidak mengerjakan tugas dan sebagainya.

  1. Penekanan pada hal-hal yang positif

Pada dasarnya dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif. Penekanan pada hal-hal yang positif yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap tingkah laku anak didik yang positif dari pada mengomeli tingkah laku yang negatif. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, dan kesadaran guru untuk menghindari kesalahan yang dapat mengganggu proses belajar mengajar.

  1. Penanaman disiplin diri

Tujuan akhir dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu, guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi guru harus disiplin dalam segala hal bila ingin anak didiknya ikut berdisiplin dalam segala hal.[1]

Seorang ahli dari Amerika Serikat bernama L. Gulick mengemukakan adanya 7 (tujuh) unsur administrasi seperti disebutkan dalam buku administrasi seperti disebutkan dalam buku “Administrasi Pendidikan” (1969 : 1). Sebagai landasan manajemen adalah :

a.    Perencanaan (planning).

b.   Pengorganisasian (organizing).

c.    Kepegawaian (staffing).

d.   Pengarahan (directing).

e.    Pengkoordinasian (coordinating).

f.    Pengawasan (controlling).

g.   Pelaporan (reporting).[2]

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam mengatasi masalah untuk membuat iklim kelas yang sehat dan efektif adalah sebagai berikut :

  1. Bila situasi kelas memungkinkan anak-anak belajar secara maksimal, fungsi kelompok harus diminimalkan.
  2. Manajemen kelas harus memberi fasilitas untuk mengembangkan kesatuan dan bekerjasama.
  3. Anggota-anggota kelompok harus diberi kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memberi efek kepada hubungan dan kondisi belajar atau kerja.
  4. Anggota-anggota kelompok harus dibimbing dalam menyelesaikan kebimbingan, ketegangan dan perasaan tertekan.
  5. Perlu diciptakan persahabatan dan kepercayaan yang kuat antar siswa.[3]

Thomas Gardon (1990 : 29) mengatakan bahwa hubungan guru dan siswa dikatakan baik apabila hubungan itu memiliki sifat-sifat atau prinsip-pinsip sebagai berikut :

a)       Keterbukaan, sehingga baik guru maupun siswa saling bersikap jujur dan membuka diri satu sama lain.

b)      Tanggap bilamana seseorang tahu bahwa dia dinilai oleh orang lain.

c)       Saling ketergantungan antara satu dengan yang lain.

d)      Kebebasan, yang memperbolehkan setiap orang tumbuh dan berkembang mengembangkan keunikannya, kreatifitasnya dan kepribadiannya.

e)       Saling memenuhi kebutuhan, sehingga tidak ada kebutuhan satu orang pun yang tidak terpenuhi.[4]

Prinsip-prinsip di atas memberikan hubungan positif interaksi edukatif antara guru dan siswa.



[1]Syaiful Bahri Djamarah, hlm. 208.

[2]Suharsimi Arikunto, hlm. 13.

[3]Syaiful Bahri Djamarah,  hlm. 239.

 

[4]Ibid, hlm. 240.